Never Ever After [Prolog]

Never Ever After

Author : Bella Jo

Main Cast : Key SHINee as Keyx | Liana Jo (OC)

Support Cast : Onew SHINee as Lucifer | Vera Zoldieck (OC) | Henry SJ as Henry | etc…(find it by yourself^^)

Length : sekuel

Genre : romance, action, fantasy, tragedy, supernatural, adventure

Rating : PG-15

Summary : Masalahnya bukanlah aku yang rapuh atau tidak, tapi angin yang tak hanya dapat melindungi  namun juga bisa menghancurkan…

Prolog

Sinar cerah mentari menembus celah hijau dedaunan. Suara gemerisik ranting bersenandung diterpa angin tajam. Sebilah pedang panjang menari-nari bersama gugur daun, diiring gerak lincah pisau pendek. Tapak kaki melangkah tegas, menghujam deras tanah kering beralaskan lumut dan dedaunan. Pekikan tertahan terdengar, bersama suara desahan nafas dan udara yang berebut mencari jalan keluar. Peluh mengalir dalam titik-titik air garam, membasahi kulit yang melapisi aktifitas pembakaran lemak tubuh.

Di sudut lain sepasang mata menatap gerak itu dengan kedua iris coklatnya. Bibirnya tersenyum manis, menyemangati tanpa kata. Yang melihat balas tersenyum, puas dengan dukungan bisu itu. Sebuah tarikan nafas kembali diambil. Gadis yang hanya melihat gerak tarung itu membaringkan diri perlahan di bawah rindang pepohonan. Daun-daun coklat mengalasi tubuhnya, menciptakan suara gemerisik yang indah terdengar.

“Na, apa kau yakin tidak mau ikut berlatih denganku?” tanya si gadis yang satu, tangannya memegang pedang panjang di kanan dan pisau pendek di kiri. Dahinya dibasahi banjir peluh, begitu pula dengan pakaian hitam yang ia kenakan. Rambut hitam panjangnya yang terikat menjulang mulai lengket dengan tubuh bersama keringat sebagai perekat. Ia menopang tubuhnya sekilas dengan bilah pedang yang ia bawa, sementara paru-paru sibuk menukarkan karbondiksida dengan oksigen yang baru.

Gadis yang ditanya hanya tersenyum. “Tidak,“ ucapnya, “aku sudah cukup berlatih sampai tahun lalu. Sekarang giliranmu, Ver. Biarkan aku bermanja-manja dalam peluk angin…”

“Tidak lucu kalau aku hanya berlatih sendiri…”

“Lucu karena kau melakukannya setiap hari.”

Gadis bernama Vera itu mengerucutkan bibirnya sekilas, merasa kesal dengan perilaku sahabatnya yang susah diatur. Ingin sekali ia menarik gadis itu begitu saja lalu menyodorkan pedang yang ia pegang padanya. Toh, pedangnya sekarang masih bukan pedang warisan keluarga yang harus dijaga dengan menukarkan jiwa sekalipun.

“Liana, hentikanlah tingkahmu yang seperti kucing pemalas itu dan berlatih bersamaku!” paksanya lagi.

“Never,” jawab Liana pendek, “Never for ever after…”

Vera mendecak pelan dan kembali melanjutkan aktifitas awal. Liana kembali menyunggingkan senyum saat melihatnya. Perlahan ia memejamkan kedua matanya dan menarik nafas panjang, membiarkan aroma kayu dan cemara masuk ke dalam rongga hidungnya. Dan ia semakin merasa dimanja dalam peluk angin.

“Kau tahu kenapa aku sangat suka berbaring di hutan seperti ini, Ver?” tanyanya setelah berapa lama. Matanya masih terpejam, tak membiarkan cahaya memasuki celah kelopaknya. Di tengah tarikan nafas, Vera menyahut, “Kenapa?”

“Karena aku ingin sekali merasakan sentuhan lembut seseorang yang dengan hati-hati, lembut, sekaligus posesif seperti sentuhan angin. Seperti sentuhan seorang kekasih yang merindukan pasangannya, namun takut sentuhannya dapat menyakiti. Seakan hendak membelai wajah yang rapuh, seakan hendak menggenggam tangan dan menautkan kesepuluh jari yang mudah hancur…. sentuhan yang begitu lembut….”

Vera menghentikan aktifitasnya sekilas saat mendengarkan ucapan Liana. Ia menatap miris sahabatnya itu. Mungkin hidup sendiri selama belasan tahun membuat gadis berambut hitam panjang itu sangat merindukan kehangatan orang lain. Tak bisa dipungkiri bahwa perhatian yang selama ini diberikan Vera dan beberapa warga desa lain tidak mencukupi kebutuhan gadis itu akan kasih sayang. Sudah saatnya gadis itu memiliki seseorang yang dapat menopang hatinya, namun Liana terlalu pendiam dan misterius untuk dimengerti.

Sebuah helaan nafas panjang terselip keluar dari bibir Vera. Dengan senyuman kecil ia berkata, “Aku tahu kau bukan gadis yang serapuh itu, Na.”

“Masalahnya bukanlah aku yang rapuh atau tidak,” potong Liana pelan, “Tapi angin yang tak hanya dapat melindungi, namun juga bisa menghancurkan…”

“Dan kau tetap ingin pangeranmu seperti angin?”

“Ya, karena angin lembut dan tajam di saat bersamaan…,” gumam Liana lagi, “seperti dua sisi yang ada dalam diri manusia dan mungkin juga di dalam iblis yang selama ini kau perangi…”

“Iblis tak pernah punya hati,” tandas Vera, ekspresinya masih santai, “Jika tidak, kita akan lebih memilih bernegosiasi daripada berkelahi.”

“Kupikir mereka masih punya hati, Ver. Kalau tidak, mereka akan langsung menghancurkan dunia ini. Aku yakin sebenarnya mereka mampu melakukan hal tersebut,” perlahan Liana membuka mata dan cahaya mentari langsung menusuk retinanya, “namun ada sesuatu yang menghalangi mereka.”

“Kau terlalu banyak berpikir, Na.”

Liana tersenyum menanggapi. Ia memandang kilau sinar yang menyelip di balik rimbun daun. Tangannya seolah ingin menggapai lapisan cahaya berbias tujuh warna itu. Sementara itu Vera menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya yang sangat sulit ditebak. Ia kembali melanjutkan latihannya seorang diri saat seekor merpati putih terbang ke arahnya.

“Oh, surat?” Vera membuka gulungan kertas yang terselip di bambu kecil, bambu yang terikat pada kaki si merpati. Ia membaca surat itu cepat, sadar akan hal darurat yang mungkin menghampiri. Ekspresi wajahnya mengeras saat mengerti tulisan di dalam lembar kertas tersebut. Bibirnya sempat mengumpat pelan dan kertas itu langsung ia remukkan.

“Sial, iblis datang mengacau di saat yang tidak tepat…,” desisnya. Ia segera menyarungkan pedang dan pisaunya cepat, lalu mengemasi alat-alat lain yang dijadikan alat bantu latihannya. Sambil berkemas, ia sibuk menggumam cepat, “Na, bangunlah! Kita harus segera kembali ke desa!” Vera tak begitu memperhatikan reaksi Liana, namun gadis itu tak juga bereaksi terhadap ucapan Vera. “Na?” panggil Vera lagi. Tetap hening.

“Liana, kenapa kau tidak bangun ju-“

Vera tertegun saat ia tak dapat menemukan Liana di tempat pembaringan gadis kucing itu tadi. Vera berusaha memandang jauh ke segala arah, namun matanya tak juga mampu menangkap sosok maupun bayangan Liana di manapun. Gadis itu mengerutkan kening, mendesah pelan kebingungan. Dan tiba-tiba matanya mendapatkan sebuah tulisan di dekat tempat pembaringan Liana, tulisan yang tercipta dari goresan batu dan batang pohon. Segera Vera memicingkan mata membaca tulisan tersebut.

‘Mengejar angin yang menghampiri…’

***

Hey, Bella Jo is back~ selesai cerita Devil’s Game dan Butterfly yang telah lalu, saya kembali datang membawakan lanjutan ceritanya. kali ini tokoh utamanya Key karena ada beberapa yang request. tanpa perlu membaca Devils Game maupun Butterfly, saya harap readers masih bisa menikmati cerita ini. semoga g pada bosan, ya. hahahaha….

©2013 SF3SI, Bella Jo

bella-jo-signature

Officially written by Bella Jo, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

21 thoughts on “Never Ever After [Prolog]

  1. Ah, aku selalu suka sama gengre fantasy dan action gitu,
    Aku suka deh cara kamu menggambarkan ceritanya bener-bener tersampaikan dengan baik!
    Aku tunggu lanjutannya ya, Fighting!

  2. Waaahhh!! akhirnya datang juga sang penulis fantasy & action ini.
    Udah lama gak ketemu,nih. Aku rindu sama cerita eonni bukan orangnya #kidding

    Lah! Dari cerita devil’s game, butterfly dan sekarang never ever after?! Kenapa,sih eonni mau bikin aku mati ketagihan baca cerita eonni ini? hehehe…

    ohy,ya! dari tadi asyik bacot terus. Ceritanya menarik sekali. Main castnya Key lagi.
    pokoknya uda specless baca cerita eonni ini.

    Eonni! SEMANGAT!

  3. ya-am-pun. kayaknya aku nggak baca yang devil’s game. dan terakhir aku nyerah di part dua butterfly, dan ketika aku edit naskahmu, tahu nggak? aku nyesel nggak nyelesai-in dari awal. maaf, waktu itu lagi nggak srek aja sama romancenya. hehehe

    aduh, aku nggak tahu deh ni cerita mau bawa ke mana. tapi aku nggak srek key jadi keyx. #yang ini boleh diabaikan.

    dan paragraf awalnya berasa puisi, tapi ending paragrafnya … eh, agak ngerusak keindahannya menurutku. #sori yang ini. tapi insyaallah bakal baca kok.

    1. makanya dibaca, dong~ #maksa
      haha… ga papa. jujur aku juga g srek banget sama romance d cerita itu karena aku sengaja bikin pembaca entah kenapa benci banget ama kareakter cewekny.

      kekeke… lemak tubuh, y? iy, sih… tapi bingung mau gmn, kehidupan mahasiswa MIPA jadi terbawa2 k cerita hahaha…

  4. Actually, this is the first fantasy-adventure (with romance) fanfic that I decide to read
    I’ve been read bunch of them but what I get in the end is just the broken-heart-feeling since the endings were somewhat weird or beyond my expectation
    tapi karena ini yang nulis bella
    jadi terasa kokoh terpercaya *macem semen aja*
    *trauma fantasy-romance, but Harry Potter is the only exception*

    Enviroment-nya udah dapet banget meski cuma secuil begini
    entah kenapa bayanganku village-nya model hansel-gretel witch hunter atau van hellsing gitu *okay, my preference is kinda hahaha but I bloody hate horror film*
    huhuhu suer kamu hebat bisa gambarin dimensinya dengan begitu cepat
    *kemudian daftar kursus belajar bikin genre fantasy ke bella*

    and bum as the devil . . .
    it will be hilarious
    I do love him from both good and evil side
    but I think the evil one will suit him more
    *raping the replay button for evil performance*

    can’t wait for the first part >//<

    1. kekeke… imajinasiku juga sejenis hansel-gretel atau van hellsing gt. awalnya juga dimulai gara2 aku nntn film hunger games, makanya muncul devil’s game^^

      i hope you won’t be disappointed, i’m kinda weird author who likes weird ending. and, if you’ve read devil’s game, automatically you know the ending. but the progress still worth, right?

      just wait, kay? it’s still on draft. i hope the scheduler will post it soon.

      and i’m deadly in love with devilish Bum too. kekekeke…

      1. AKU NGGAK MAU BACA BIAR GATAU ENDINGNYA! *digampar gegara teriak2 di lapak orang*
        biar selesein ini aja dulu itu kubaca nanti huhehehehe
        tapi weird ending-nya bella kurasa bakal worth to wait kok

        yay yay yay
        lemme get the devil bum banner and stuck it on my room while waiting the first part :p

        1. oke, aku saranin jangan dibaca dulu juga. hahaha… biarlah dirimu menikmati cerita ini, barulah k cerita itu

          i hope it’ll really worth, kekeke…

          if you have the devil Bum banner, can you give on to me? the image still stuck in my brain and it can’t be helped to pull it out^^

  5. Bella…. maaf aku telat baca ff terbarumu.
    akhirnya, muncul juga ini kisah Key-Liana.huhu. Aku udah nunggu2 dari jaman dahulu kala.
    Bentar, aku mau protes dulu, kenapa Liana namanya Liana Jo? .hahah.
    Ga sabaran pengen cepet2 Liana ketemu Key dan menjalin cinta terlarang.kekekek.

    aku ingin sekali merasakan sentuhan lembut seseorang yang dengan hati-hati, lembut, sekaligus posesif <– Kyaaaa banget. Speechless… udah kebayang siapa sosok yang paling tepat mensubstitusi deskripsi itu.hihi.

    Aku meluncur ke part selanjutnya ^^!

    1. iy, kk. ga papa. ini juga baru diposting^^
      sbenerny udh lama pengen ngepostny, tapi blm dapat timing yg pas.

      knp namanya liana jo? hehe… nnt ada penjelasan panjang d isi ceritanya kok.lagi pula kan impas, ada nama kita berdua di situ. kekekeke….

      thanks for dropping by~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s