Double Door [2.3]

double door poster

Double Door: Right Side

Main cast        : Choi Minho and Seo Areum

Length             : 3.142 wc

Genre              : Hurt/Comfort, Life

Rating              : NC17

A/n                  : Inspired from Minho and Onew’s photoshoot in January 2010

“Kau benar-benar tidak punya pacar?”

Aku menggeleng sambil mewarnai tokoh perawat sawi dan pasien terong tanpa menatap lawan bicaraku. Ini entah yang kesekian ribu kalinya setelah aku lulus dan menjadi freelancer, kakakku suka sekali menanyakan hal retoris. Sama persis seperti ibu yang khawatir jika ternyata aku mengalami disorientasi seksual. Memangnya usia dua puluh empat itu mengkhawatirkan jika tidak punya pacar?

“Kau mau jika aku mengenalkan seseorang padamu?”

“Boleh.”

“Kalau begitu kau tidur sekarang, ya? Mata pandamu sudah kelewatan.”

Aku mengangguk, mengemasi peralatanku sebelum berjalan ke kamar. Dua puluh empat dan aku masih diperlakukan layaknya anak usia playgroup, perhatian yang berlebih di keluargaku membuatku merasa tidak butuh pacar. Selain itu, aku juga masih punya Minsol—sahabat sekaligus oknum yang membuat ibuku khawatir bahwa aku menderita disorientasi seksual—rekan kerja, bos kemudian klien yang kadang membuatku susah tidur.

“Areum-a,” Langkahku menuju kamar terhenti ketika hyeongsu1 memanggilku ke ruang tengah di dekat ruang kerja kakak. “Kuberi tahu sesuatu yang penting.”

Hyeongsu menyodorkan ponselnya dan menunjukkan foto kakak bersama beberapa rekan kerjanya. Ia menunjuk seorang pria dengan rambut ash blonde yang tersenyum hingga matanya nyaris tidak terlihat. Ah, pria yang sering bertemu denganku di selasar setiap aku pulang dari membeli roti, yang wanginya seperti angin laut.

Hyeongsu yakin bahwa ia tidak akan terintimidasi olehku?”

Aku menatap teman-teman kakak yang lain. Bagaimana dengan yang jangkung ini? Atau yang berwajah androginy ini, tapi kurasa ia jauh lebih muda dariku. Jangan-jangan masih internship.

“Aku yakin seratus persen bahwa Jinki akan cocok denganmu. Sudah kudiskusikan bersama Appa dan Eomma.” Kakak tiba-tiba saja muncul sambil membawa secangkir kopi dan duduk di antara kami. “Kudengar Halmeoni juga setuju setelah melihat buku ramalannya.”

Oppa, kenapa kau membuat hidupku jadi sepelik ini?” Aku mendengus. “Aku bahkan belum melanjutkan pendidikan Master seperti yang kuminta pada Appa dan Eomma.

“Aku hanya ingin menolongmu, Areum-a. Kau tidak pernah mau bercerita apa masalahmu kepada kami. Kau jarang sekali bergaul dan hanya keluar dengan orang yang sama. Kuharap Jinki bisa membantumu dan membuatmu kembali aktif seperti saat SMA dulu.”

“Kenapa tidak bawa aku ke psikater saja? Aku tidak perlu merepotkan Jinki-ssi dan menjadikannya tempat sampah.” Aku beranjak namun kakak menahan tanganku. “Apa lagi Oppa? Kau bilang aku perlu tidur, kan?”

“Besok kau harus ada di rumah pukul empat tepat.”

“Aku tahu dan kuharap Jinki-ssi tidak membawakan bunga atau Teddy bear untukku.”

-.-.-.-

Jinki tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Aku bahkan yang meminta Arang untuk mengenalkanku padamu.”

“Kenapa? Memangnya rekan kerjamu tidak ada yang menarik?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengenalmu.”

First impression Jinki benar-benar mengagumkan, ia bisa menarik perhatian kedua orang tuaku dan seluruh orang yang ada di meja makan secara bersamaan. Ia mengerti benar caranya berkomunikasi dengan baik tanpa mengabaikan yang lain, tipe menantu idaman setiap orang tua. Aku akui bahwa Jinki tidak terlalu tampan, mungkin nilainya sekitar tujuh dari sepuluh. Namun jika ditambah dengan kepribadiannya, ten points out of ten points. Ini untuk impresi pertama, aku tidak tahu selanjutnya.

“Aku alergi kopi.” Ujarku saat Jinki menyesap kopi buatanku. “Jadi misalnya saat kau mengajakku kencan di coffee shop, jangan memesankan latte atau tiramisu.”

“Tapi kopi buatanmu sangat enak.” Ia menatapku dengan raut agak kaget. “Kupikir kau penggemar kopi.”

“Aku pernah bekerja di coffee shop saat masih kuliah.” Kutempelkan telunjuk kanan ke bibirku. “Ini rahasia, keluargaku tidak ada yang tahu.”

“Aaah, baiklah.”

Jinki memutar-mutar cangkirnya, gugup kutebak. “Kau suka main game?”

“Hmm. Bukannya setiap orang suka main game di waktu senggang?” Aku menelengkan kepala, menatapnya yang malah terlihat salah tingkah. “Ah, Starlight minta dibuatkan artikel untuk game terbaru yang  dirilis tiga hari lalu ya? Oppa sudah cerita kok.”

“Bukan, bukan itu. Tunggu sebentar.”

Pria dengan kemeja polkadot itu nyaris jatuh ketika cepat-cepat masuk ke rumah. Aku terkikik saat ia sudah menghilang. Baguslah, ia hanya gugup di depanku bukannya dengan keluargaku. Lucu.

“Aku tidak tahu apa kau menyukainya atau tidak.” Cokelat di mulutku nyaris menyembur ketika Jinki tiba-tiba muncul dan bicara. “Maaf, maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu terkejut, Areum-ssi.

Aku mengangguk, batuk sambil menepuk-nepuk dadaku pelan.  Jinki meletakkan kotak yang ia bawa diantara kami kemudian menepuk-nepuk punggungku pelan. Setelah aku berhenti batuk dan lebih leluasa bernapas, ia memberikan kotak dengan motif bintang-bintang itu padaku.

PSP. Aku melongo sambil mengangkat benda elektronik berbungkus bubble wrap itu dari kotak di pangkuanku. Aku cukup terkejut melihatnya. Pria klasik seperti Jinki tidak mungkin berpikir out of the box dengan memberikan sebuah PSP alih-alih bunga, boneka atau cokelat. Aku harus berhenti meremehkannya sejak detik ini.

“Tidak suka ya?”

Aku hanya mengacungkan dua jempol sebagai jawaban, speechless. Maksudku mana ada sih pria yang memberikan barang seperti ini pada teman kencannya—koreksi; calon—sekalipun orang tidak romantis macam kakakku saja mau repot-repot membeli bunga dan cokelat saat mendekati kakak iparku dulu. Jinki hanya tersenyum melihatku yang bingung harus bereaksi apa.

“Aku sudah mengisinya dengan beberapa game. Seri terbaru dari Grandpa’s Farm yang akan di rilis dan Summer Nights juga ada. Kudengar dari Arang, kau juga suka main otome game2.

Semoga kakakku tidak bicara banyak tentang reaksiku yang kadang berlebihan saat mendengar cheesy line dari tokoh game. Ah, pasti ini juga alasan mereka mengenalkanku pada Jinki, karena kasihan melihatku main dating simulation game. Astaga, padahal alasanku main karena aku stuck dan butuh ide baru untuk melanjutkan novel online yang kugarap. Beginilah jika kau punya kakak yang kerja di game company; ia membawa pulang hasil kerjanya kemudian memberikan padamu untuk dimainkan tapi ternyata semua berujung kepada semua ini. Perjodohan yang direncanakan bersama dengan kedua orang tuamu, ha ha ha lucu.

“Kurasa kau bisa bergabung dengan perusahaan kami jika mau. Kebetulan divisi kami sedang mencari anggota baru di tim writer, part-time juga bisa jika kau tidak mau terikat.”

“Jinki-ssi.

“Ya?”

“Kau terlihat seperti street caster sebuah agensi daripada level designer3 Starlight.

“Ah, maaf, aku . . . ha ha ha.”

Mau tidak mau aku ikut tertawa juga menanggapinya. Tidak membosankan seperti yang kupikir sebelumnya. Ada banyak poin plus yang kulihat dari Jinki, dan semoga saja tidak sama seperti poin-poin plus yang kukumpulkan saat bersama Minho. Plus, plus, plus then dropped into minus.

“Akhir pekan ini kau sibuk tidak?”

Aku menggeleng. “Aku tidak punya kegiatan selain menemani ibuku berbelanja dan ke perpustakaan umum atau toko buku di sore hari.”

“Bagaimana jika pergi ke bookstore café di dekat gedung Starlight?”

“Jinki-ssi, boleh tidak aku memilih tempat kencan pertama kita?”

“Tidak masalah. Kau mau pergi kemana?”

“Taman ria. Keberatan tidak?”

Ia menggeleng. “Kupikir kau tidak suka tempat ramai. Aku sempat terpikir untuk mengajakmu kesana.”

-.-.-.-

Aku menelan ludah sambil menatap Teddy bear yang berada dalam pelukan Jinki. Mungkin Jinki memang tidak bermaksud memenangkan grand prize permainan lempar gelang barusan karena target sebenarnya adalah flower crown yang merupakan hadiah kedua. Aku tidak mau menerimanya, rasanya memang tidak sopan tapi aku sungguh-sungguh tidak mau.

“Areum-ssi, kau mau menungguku di dekat penjual permen kapas? Kurasa aku perlu ke toilet sebentar.”

Aku mengangguk. Jinki berjalan berlawanan arah denganku, masih membawa bonekanya tanpa bermaksud menitipkannya padaku. Aku bersyukur, benar-benar bersyukur karena ia tidak melakukannya. Rasanya mustahil, tapi sejak saat itu aku benar-benar merasa mual dan tidak nyaman ketika melihat Teddy bear. Aku tidak membenci objek itu ataupun Minho yang menggunakannya sebagai perumpamaan. Tiga tahun harusnya sudah cukup untuk mengusir perasaan tidak menyenangkan itu. Aku tidak bisa selamanya berbohong dengan mengatakan bahwa aku tidak suka dengan Teddy bear karena pernah menonton film horor indie yang menjadikan Teddy bear sebagai tokoh utamanya.  Aku juga tidak mungkin menolak jika nantinya anak perempuanku minta dibelikan.

“Lama ya?”

“Ah, tidak.” Jinki menyodorkan satu cone es krim matcha dan stroberi padaku. “Kau bilang ke toilet? Lalu Teddy bear yang tadi kau bawa kemana?”

“Iya. Aku iseng mampir ke stand es krim.“ Ia meraih pergelangan tanganku, menarikku dari orang-orang yang antri untuk membeli permen kapas. ”Teddy bear yang kubawa terlalu mencolok sehingga membuat seorang anak kecil menangis minta dibelikan pada ibunya. Jadi, kuberikan saja.”

“Ooh. Ah iya, bagaimana jika kita naik bianglala? Antriannya sudah tidak sepanjang yang tadi.”

“Hmm. Maaf ya tadi sudah membuatmu takut.”

“Apa?”

Teddy bear tadi. Kau terlihat takut.”

“Tidak apa-apa. Memang tadi terlihat jelas ya?”

Jinki mengangguk, aku hanya tersenyum masam. Indeed, I’m always too obvious.

-.-.-.-.-

“Yang ini?”

Aku menjawab ‘ung’ pelan ketika dada Jinki membentur punggungku. Ia menarik buku Le Petit Prince yang ada di rak secara perlahan. Tiba-tiba saja Jinki menarik tubuhku kemudian memelukku. Terdengar suara ‘bruk’ secara beruntun yang kuasumsikan sebagai bunyi buku yang berjatuhan seiring dengan dekapan Jinki yang semakin erat.

Bukan hanya satu baris ternyata. Raknya terjatuh—untung saja tertahan oleh dinding dan tidak benar-benar menimpa kami—sehingga membuat buku-bukunya berhambur. Beberapa orang segera menolong dan suasananya benar-benar kacau. Jinki masih sempat bertanya apakah aku baik-baik saja sebelum dipapah seorang pengunjung dan petugas perpustakaan ke klinik terdekat. Aku masih bisa mendengar bagaimana staff yang tersisa ribut mencari orang yang memindahkan plang ‘sedang dalam renovasi’ di lorong tempatku mengambil buku. Untungnya Jinki tidak terluka parah, hanya memar dan nyeri di bagian punggung serta pusing.

“Syukurlah kau tidak apa-apa.” Jinki tersenyum sambil menyurukkan kakinya ke sepatu. “Mau makan sekarang?”

“Istirahatlah sebentar.”

“Tidak apa-apa. Sebentar lagi sudah waktunya makan malam, nanti re-”

“KAU TAHU ISTIRAHAT TIDAK?” Jinki terpaku, kutekan kedua telapak tanganku ke wajah. “Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu. Aku ingin kau istirahat dulu sebentar. Sebentar saja,  sepuluh atau lima belas menit.”

“Hei,” Aku mendongak ketika Jinki mengelus rambutku. “Aku memang sudah baikan. Kalau memang sakit, aku tidak akan bangun dan menyeretmu ke restoran dengan alasan kau harus makan dan sebagainya. Seperti yang sudah kita sepakati dari awal kan? Kita tidak butuh pura-pura.”

“Tapi kau sakit, Jing.”

“Sedikit, tapi akan lebih sakit lagi jika melihatmu tertimpa buku-buku tadi sendirian sementara aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

Kulingkarkan lengan kiri Jinki ke leherku kemudian membelitkan tangan kananku ke pinggangnya. Ia menatapku bingung sebelum aku memaksanya berjalan. Tidak limbung, mungkin memang benar Jinki baik-baik saja dan aku yang terlalu khawatir. Bagaimana tidak khawatir ketika aku menyadari bahwa Jinki seperti dipukuli bertubi-tubi oleh pinggiran buku.

“Kalau begini aku harus sering-sering mengajakmu ke perpustakaan atau toko buku yang sudah tua.”

“Kenapa?”

“Kalau kejadian seperti ini terulang, kau tidak akan menolak saat kupeluk.”

“Iish, doamu jelek sekali. Kalau kau terluka lebih parah bagaimana?”

“Tidak masalah kurasa, asal aku bisa memelukmu.” Jinki mengaduh ketika kucubit pinggangnya. “Habis kau tidak pernah mau dipeluk.”

“Aku bukan Teddy bear yang bisa seenaknya dipeluk dan ditinggalkan begitu saja.”

“Tapi kau memang bukan Teddy bear, Areum-a. Kau itu seperti kelinci yang harus dijaga dan dipeluk sepanjang hari.”

“Jing, kalau kau memang ingin memberiku pet name kecil, shortie, small atau entah apa itu tidak masalah. Jangan menyamakanku dengan hewan yang membuatku terlihat imut dan menggemaskan dibandingkan dengan kenyataan.

But you are.

-.-.-.-

Klasik dan manis, begitu kata hyeongsu. Match made from heaven, kata Minsol. Sementara Eomma tidak berhenti bilang ‘kenapa kalian tidak bertemu lebih awal dan membuatku tidak selalu khawatir’. Aku juga tidak tahu kenapa, selama bersama Jinki rasanya seperti bertemu dengan teman sepermainan semasa kecil. Sama-sama belajar dan mengeksplorasi apa yang tidak diketahui bersama-sama, kadang berbicara tentang game, buku, anime tapi jarang sekali membahas film. Jinki tidak suka menonton film tapi suka menonton pertunjukan musikal, sementara sejak dulu selera filmku memang tidak bisa ditebak. Jika tidak suka, aku akan keluar studio meskipun filmnya baru dimulai. Kebiasaan yang menyusahkan teman-temanku. Intinya bioskop tidak pernah menjadi tempat kencan kami dan selama empat bulan ini Jinki tidak pernah kuizinkan untuk menciumku.

“Kenapaaaa?” Minsol menggerung sambil mencengkeram tasnya. “Lagipula Jinki bukan tipe pria mesum yang main cium seenaknya tanpa menunggu momen yang tepat kan? Sumpah, rasanya aku ingin memaksa kalian seperti meme ‘now kiss’ di 9gag.”

Then you kiss him.

But I ain’t his girlfriend.

I wasn’t Minho’s but I kissed him and we fucked.

Can’t you just close the case then get a new life with Jinki?

I’m trying. Aku hanya belum siap menceritakan semuanya kepada Jinki. Aku tidak mau ada kontak fisik yang terlalu jauh dan membuatnya menyukaiku.”

But he does, he loves you. Aku bisa lihat bahwa Jinki benar-benar menyukaimu dan kurasa kau tidak perlu menceritakan tentang si brengsek Minho padanya. Lagipula kalian sudah tidak berhubungan sejak hari itu, kan?” Minsol mengelus lenganku perlahan. “Keluargamu juga tidak ada yang tahu cerita ini.”

“Aku memang tidak akan pernah bercerita pada keluargaku, tapi Jinki harus tahu sebelum ia menyesal.”

“Jinki tidak akan menyesal sudah mengenalmu, Areum-a.”

-.-.-.-.-

“Masih dingin?” Aku menggeleng sambil merapatkan jaket milik Jinki ke tubuhku. “Kenapa mendadak minta jalan-jalan tengah malam begini?”

“Ada yang ingin kuceritakan.”

“Beasiswa yang kau ajukan diterima? Kapan berangkat?”

“Bukan, dua tahun ini aku mengajukan beasiswa sinematografi, bukan sastra seperti yang dipikirkan keluargaku. Semuanya ditolak.” Aku menghela napas kemudian merapatkan lutut ke dada. “Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.”

“Ya?”

“Apa kau benar-benar menyukaiku?”

“Sangat.”

“Karena kau menyukaiku, kau ingin tahu bagaimana diriku yang sebenarnya, kan?”

“Aku sudah tahu bagaimana menyenangkan dan menyebalkannya dirimu, Areum-a.” Jinki mencubit pipiku pelan. “You’re too obvious, like a child dan aku menyukainya karena kau tidak pernah menutupi apapun dariku.”

“Tapi kau belum mengetahui satu hal, Jing.” Kulepaskan tangan Jinki yang semula membelit pinggangku. “Kau tidak tahu tentang Minho.”

“Aku tidak akan pernah peduli siapapun yang dulu pernah bersamamu, semua orang punya masa lalu. Jika kau akhirnya denganku, untuk apa aku pedulikan hal yang sudah-sudah.”

He was my sex buddy. Minho adalah alasan kenapa aku tidak suka dengan Teddy bear, memilih untuk sendiri sebelum kau mendekatiku dan melarangmu untuk menciumku. Semua yang kumiliki sudah kuberikan padanya.” Kutepuk dadaku pelan. “Jing, aku tidak mau mengecewakanmu. Aku tidak akan memaksamu untuk mengambil gelas yang sudah pecah dan memperbaikinya lagi.”

“Kenapa kau mengatakannya padaku sekarang?”

“Karena aku berusaha untuk tidak menyukaimu. Seandainya kau melamarku dan melihatku menangis, maka tangis yang kau lihat adalah tangis penyesalan, bukan kebahagiaan. Aku akan sangat menyesal jika hari itu datang tanpa kau tahu semua ini.”

“Bagaimana jika setelah mendengar ceritamu kemudian aku memutuskan hubungan denganmu? Apa kau akan kembali pada Minho?”

“Bukankah mustahil jika aku kembali pada orang yang sudah membuatku jatuh berkeping-keping. Aku bahkan sudah tidak tahu lagi bagaimana keadaannya.”

“Sudah hampir pukul satu.” Jinki menarik lenganku. “Kita pulang sekarang.”

Selama mengantarkanku pulang, Jinki tidak berbicara padaku sama sekali.  Rahangnya mengeras dan dari caranya mencengkeram setir, aku tahu bahwa ia sedang luar biasa marah. Aku tidak lebih brengsek dari Minho yang sudah menganggapku seperti Teddy bear karena pada akhirnya aku melakukan hal yang sama pada Jinki. Aku takut jika mencintai Jinki akan membuatku berbohong padanya dan menutupi masa laluku. Aku tidak mungkin terus-terusan menghindari Minho dan berpura-pura tidak pernah terjadi apapun diantara kami karena cepat atau lambat aku pasti akan bertemu dengannya. Pasti.

“Terima kasih sudah mengantarkanku pulang.”

Jinki menahanku saat aku akan beranjak dari jok. “Kau adalah orang paling idiot yang pernah kukenal, Areum-a.

-.-.-.-.-

Kupeluk kantong kertas berisi baguette dan roti tawar sambil berjalan menuju dapur. Langkahku terhenti ketika melihat kakakku dan Jinki sedang duduk-duduk di kitchen island4. Sudah sebulan aku tidak bertemu dengannya setelah aku menceritakan tentang Minho padanya. Hmmh, tidak berhubungan denganmu bukan berarti ia berhenti berhubungan dengan kakakmu, Seo Areum.

“Areum-a.

“Ya?”

“Aku punya game baru untukmu.” Jinki memanggilku seolah kejadian bulan kemarin tidak pernah ada. “Ini versi trial, aku belum membuat yang full version.

“Sebentar, aku harus simpan rotinya di kulkas.”

Hyung, setelah tunjukkan game-nya pada Areum, segera ke atas ya. Aku sudah coba buat beberapa karakter baru untuk level yang selanjutnya.” Kakakku segera naik ke ruang kerjanya sambil mencuil ujung Baguette dari kantong yang kupeluk. “Nyem, nanti buatkan sandwich untuk kubawa ke rumah sakit ya.”

Dih! Mentang-mentang mau jadi ayah saja, makin semena-mena begini. Semoga keponakanku yang besok lahir tidak akan menyebalkan seperti ayahnya. Hnggh, ibu juga sih yang memaksa hyeongsu untuk berada di rumah sakit selama persiapan melahirkan. Aku jadi repot begini mengurus kakak yang bawel.

Grandpa’s farm ya?”

“Bukan, otome game.” Jinki beranjak dari kursinya sambil menyerahkan PSP-nya. “Katakan pendapatmu setelah selesai main, ya. Aku akan mengurus ayah yang bawel itu.”

Jinki mengacak rambutku pelan sebelum menyusul kakak ke ruang kerjanya. Bagaimanapun ini memang yang terbaik bagi Jinki, aku tidak bisa memungkiri bahwa aku kehilangannya selama sebulan ini. Namun selama aku tidak mengecewakannya lebih dalam, begini saja tidak apa-apa. Kau sudah terbiasa sendiri, Areum-a.

Sekitar lima belas detik tutorial, semuanya jadi tidak bisa dikendalikan. Pilihan-pilihannya berjalan sendiri, aku seperti dipaksa untuk menonton permainan itu memainkan dirinya sendiri. Dipaksa menonton ceritaku dan Jinki. Sial, pria itu pasti sudah benar-benar kesal padaku hingga membuat semua pengalaman kencan kami dimasukkan ke game ini. Ah, Arang pasti terlalu bodoh untuk menyadari bahwa game ini berisi kisahku dan Jinki.

Part terakhir menampilkan adegan karakter pria yang melamar karakter wanitanya. Dua opsi, ya dan tidak dengan kursor yang bisa kugerakkan sekarang. Baiklah, selama main game seperti ini tujuanku adalah melihat happy ending dan membayangkan twist-nya sebelum kuaplikasikan pada novelku. Jadi, yang perlu kulakukan sekarang adalah menekan yes.

PSP Jinki nyaris terjatuh dari tanganku ketika seseorang menarik tubuhku dan mencium bibirku. Jinki? Hah? Bukannya ia menyusul kakak di ruang kerjanya? Kenapa tiba-tiba ia menciumku? Jangan-jangan Jinki mau memperkosaku?

Aku terengah ketika Jinki melepaskan bibirnya dari milikku. Ia mengambil PSP-nya dari tanganku kemudian meletakkannya di island. Aku tergugu, Jinki tersenyum tipis dan menciumku untuk kedua kalinya dengan jemari yang bertaut dengan milikku. Kupejamkan mataku perlahan, mulai larut bersama sentuhan lembut Jinki dan degup kencang jantungku. Minsol benar, aku idiot karena sudah menolak Jinki selama ini.

“Hhh . . ke . . hh . . napa?” Aku bahkan baru sadar jika di jari manis kiriku dilingkari sebuah cincin sekarang. “Jing?”

“Ya?”

“Apa kau baru saja melamarku?”

“Ya. Kau baru saja menekan yes, kan?” Jinki menunjukkan gambar dua karakter game-nya yang sedang berciuman. “Jika menekan no, kau akan merusakkan PSP-ku karena temanku sudah menambah program self destruction jika lamaranku ditolak.”

Jerk.

“Itu pujian atau umpatan?”

“Lalu apa maksudmu mengataiku idiot saat terakhir kali kita bertemu? Bukankah kau marah padaku dan tidak mau mengenalku lagi?”

“Siapa yang bilang?”

“Sebulan tanpa kabar, tidak menghubungiku, tidak pernah main ke rumah. Untuk apa itu semua?”

“Untuk membuat trial mode game yang baru saja kau mainkan. Untuk melamarmu, Areum-a.” Jinki menangkup pipiku. “Minho Minho itu tidak akan bisa melamarmu dengan cara seperti aku. Melamar dengan film adalah cara kuno.”

“Darimana kau tahu Minho membuat film?”

“Minsol menceritakan semuanya padaku sebelum kau membuat pengakuan malam itu. Aku tidak marah padamu, aku justru marah pada Minho yang sudah menyia-nyiakanmu. Sekarang aku ingin buktikan bahwa kau akan bahagia jika bersamaku.”

“Bahagia dengan orang yang mengataiku idiot? Mustahil.”

“Minsol bilang kau adalah master of sarcasm, aku heran kenapa kau tidak mengerti dengan perkataanku saat itu. Aku bilang kau idiot karena kau berpikir bahwa aku akan meninggalkanmu karena masa lalumu.”

You’re a real bastard, Lee Jinki.

Aku tidak peduli Jinki tidak suka dengan gadis yang berkata kotor. Aku benar-benar merasa dibodohi. Untuk apa aku menyesal dan menyalahkan diriku sendiri karena sudah mengecewakan Jinki jika pria menyebalkan ini tetap melamarku.

“Jadi, kau mau hidup bahagia dengan bajingan ini?”

Kucengkeram kerah kemeja Jinki dan menariknya ke arahku hingga terhuyung. “Ya. Kupastikan kau akan menyesal seumur hidup jika mengecewakanku, Jinki-ssi.

Jinki mendekatkan wajahnya hingga bibirnya nyaris menyentuh milikku. “I promise, Areum-a.

HYUNG JANGAN MESUM DENGAN ADIKKU DI DAPUR! KALIAN BELUM MENIKAH!!!”

22.32

07-02-2014

Glossaries:

1hyeongsu        : kakak ipar perempuan. (perempuan ke perempuan)

2otome game  : Game sejenis visual novel yang ditargetkan untuk gamers perempuan. Biasanya berupa permainan simulasi kencan dimana seorang karakter perempuan akan bertemu dengan beberapa karakter laki-laki yang akan dipilih untuk menjadi pasangannya, bisa juga sebaliknya.

3level designer : Orang yang bertanggung jawab dalam pengerjaan game yang melingkupi pengerjaan setting (waktu, tempat kejadian dll) dalam game, level dan misi-misi yang ada dalam sebuah game.

4kitchen island : meja yang berada di dapur, biasanya bagian dari kitchen set yang tidak menempel di dinding. Bisa digunakan juga sebagai meja makan karena bisa diakses dari segala arah.

//

©2013 SF3SI, Chrysalis

siggy chrysalis

Officially written by Chrysalis, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

53 thoughts on “Double Door [2.3]

  1. Wow.wow wow aku speachless ga nyangka klo ternyata jinki itu sama areum aku kirs jd pasangan gay nya minho hahahahahaha thanks ya..km ga bkin mereka jd pasangan gay hahahahahaha ga sabar next chapter nih areum sama minho bakal gimana ya?riak2 itu masih ada gak ya klo ketemu mino lagi..klo aku jd areum bakal binggung nih..minho & jinki ultimate bias aku..author semangat!!!! :*

    1. selamat datang kembali!!
      I should make them as gay couple then hahaha
      hayooo nanti kira-kira areum kalo ketemu minho gimana, harusnya jadi spektakuler dong ya
      maacim udah mampir ^^

      ps.
      tolong jangan panggil author T__T
      tapi makasih atas semangatnya🙂

      1. Jangan please aduh jangan yaoi ff not my style hahahahaa geli sendiri..hmmm gmna ya hmmmm biasanya sih cinta pertama tak pernah padam..bahahaha..sisa2 cinta itu biasanya sih masih ada ((sotoy lagi))..iya maaf ya aku jg sebenernya ga nyaman manggil begitu hehehee “thor thor” km kan bukan aalah satu member avenger hahaha..aku panggil apa donk?chrys?bahaha sorry sorry just tell me what im suppose to call you🙂🙂 but ttp semanggggggaaaatttt woooohoooooo

        1. aku . . . juga gak pengen bikin yaoi nanti malah tewas
          hah iya sih, first crush juga masih berasa sampe sekarang hnggg #iniapa
          iya dipanggil chrys juga gapapa, asal bukan author dan rentengannya itu huhuhu
          maacim atas suntikan semangatnya ^^

    2. Hehehehehe sama2 sampai berjumpa di chapter atau cerita selanjutnya ya..areum awas loh nanti terpesona ama rambut merah belah tengah ala om om jaman dulunyamino hahahahahaha lupa deh ama jinki oppa..udahan ah kebanyakan nyampah ntr km pusing bacanya hahahaha :*

  2. aku sempet kesel cozgak bisa baca lanjutanya gara2 dipassword
    hehehe
    aku suka banget karakter Jinki disini
    ditungguya last part nya

    1. ngg, this ain’t Bella Jo’s but Chrysalis’
      mungkin kamu salah baca author karena punya kita yang atas-bawah
      punya bella yang never ever after
      you’ll see in the last chapter, dear
      makasih udah mampir😀

  3. Ceritanya kereennn, jadi jatuh cinta sama jinki.
    Mau juga dong dilamar kayak gituuu hahaha. Penasaran nih areum sama jinkinya jadi nikah gak? Apa jangan jangan di chapter 3 minhonya muncul?😮 ahh ditunggu kelanjutannya thorrr hehe

  4. woooahhh keren bgttt….
    setuju sama onew aja…. jangan sama minho…
    ditunggu kelanjutannya ya author nim..
    fighting…

  5. Jinki-ya…. Saranghae…
    Part 2 bener-bener diluar prediksi. Kirain bakal ke petualangan Minho di Jepang, ternyata kehidupan Areum setelah kepergian Minho. Dan bertemu Jinki… Aku lega banget ternyata Jinki ketemu Areum sebagai teman kerja kakaknya, bukannya ketemu Minho sebagai apapun yang berhubungan dengan ‘dunia’nya… Karakter Jinki disini cukup buat aku terkesima. Kelihatan banget kalau dia orang yang cerdas dan fleksibel, berfikiran terbuka dengan rasa peka yang ekstra. Dia bisa menyadari ketakutan Areum terhadap Teddy Bear. Yeah, meski sempet buat sebel sampe ‘ngilang’ sebulan untuk mempresiapkan lamaran kerennya. Pakek kiss juga… Aku mau, bang… ^__^
    Authornya emang tahu banget ya, dunia per’game’an seperti ini. Aku mesti ulang beberapa kali buat ngerti istilah ang dipakek atau penjabaran tentang game nya itu. (Aku mau jelasin juga bingung jabarinnya). Terasa banget, bahwa authornya research dulu sebelum nulis cerita. *Soktahu….Aku kasih kredit dah untuk poin ini. Part 3 jangan terlalu lama, ya… Dan itu bakal part terakhir, kan?
    Belum tahu nih, endingnya emang bakal bahagia ma Jinki atau justru Areum gak bisa lepas dari Minho ketika Minho kembali untuknya.
    PS: Dalam hati kecilku, masih ada sedikit rasa khawatir untuk Areum jika… Jinki is too good to be true…

    1. bienvenue miina!!!
      hahaha secara aku nulisnya pake sudut pandang orang pertama, ditambah ending part 1 yang nggak enak ya kecil kemungkinan areum tahu tentang petualangan minho di jepang
      lah, kalo begitu di tag-nya juga bakal kepasang label shounen-ai atau *uhuk* yaoi dong hahaha
      iya sumpah, aku sendiri juga seneng sama karakter jinki di sini kaya minta ditampar gitu hah kenapa ada manusia super menyebalkan dan pengertian kaya dia huhuhuhuhu pengen tarik keluar dari cerita terus dinikahin aja deh *digaplok biar sadar*
      ah kiss itu bisa-bisanya jinki aja habis di otome game kadang nongol biarpun enggak secara eksplisit gitu *berguling*

      tuuuuh kan, translasiku masih cacat *melantai*
      cuma research dikit tentang perusahaan sama jabatan kok
      kalo gamenya sudah tau berdasarkan pengalaman hahaha *ketauan miris*
      wahahaha makasih yaa
      iya ini cuma tiga part, tunggu kejutan di part terakhir ya
      thanks for coming back

      ps.
      *pukpuk miina dulu biar tenang sebelum baca part terakhir*

      1. gaplok Chrysalis bolak-balik… Mau nikahin Jinki…? Nih yang udah duluan ngantri… *ikut digaplok. Itu menandakan, biarpun dia karakter yang gak cuma maen nyosor, tapi dia tetep namja normal yang pengen kiss yeojanya. Ahhh… so sweet, oppa… *ikut berguling
        Nggak, kok, bukan salah di translasinya. Emang akunya yang slow loading. Siippp tak pantengin buat Double Door.
        Aku mau di puk sama Jinki, dong…

        1. ya gimana ya naluri kalo pengen sayang-sayangan suka begitu #iniapa
          hahaha habisnya ini kalo salah translasi bisa gagal paham, dan kurasa kitchen island korbannya ==”
          waaaa maacim, bentar aku panggilin jinki dulu biar kamu bisa di puk-puk hahaha

    1. yah si yasmin maksa ==”
      hahaha nanti dilihat di part terakhir gimana ya
      makasih udah mampir ^^

      ps.
      please jangan panggil aku thor, aku nggak bawa palu yang ngundang petir itu T___T

  6. Ya ampun, bacanya semalam udah lewat midnight baru bisa commentnya sekarang juga udah larut. kak chrys kemarin waktu ff ini di protect rasanya aku mau banting aja ini hp terus mau nangis sambil guling2 di lantai (kemarin baca dari hp) #lebay
    jinki, jinki,jinki nikah sama kau aja ya, tapiiii hahahha ini beneran gak keduga kalau jinki-areum yang bakal jadi main point. kirain bakal menceritakan tentang minho di part 2. after all this story really really good. kak chrys akhirya areum sama jinki aja boleh ya kak. untuk kedatangan chapter 3 aku akan sabar menunggu, take your time to make the best ending wahahahhaha😀

    1. hah kenapa guling-guling btw?
      kan emang biasanya di protect soalnya ratingnya bahaya kalo sembarangan dibaca
      hahaha kan ini diceritakan dari sudut pandang areum, ya jadi kecil kemungkinan buat kasih bocoran tentang kehidupan minho di jepang
      ya ampun makasih lho dibilang bagus, aku jadi tersipu hahahaha
      thanks for coming ^^

      ps.
      part terakhir udah masuk draft lho :p

  7. Jeez, dating simulation game..

    That DOES remind me of something. First, disini Onew kreatif, loh. Second, probably about Minho. I didn’t see his ass.

    1. wahahaha it sounds kinda pathetic for some people
      yep, jing is absolutely genius and this part is his
      I think I should change the main chara for this part
      geez, screw me
      you’ll know what will happen with minho in the last part, just wait
      wait
      wait
      wait . . .
      okay stop playing around, chrys *self-slapping*
      thanks for dropping by, cit ^^

  8. ugh, you just did it again, Chrys… this is too sweet!
    i want a man like Jinki and girl, ‘Jing’ is too cute for a nick name!

    there’s no more Minho here and i’m curious enough to see what happen in the last part. Jing and her will get married, won’t they? i’m hoping so…
    jing is a genious and sweet chara but the real genious one is you, Chrys. ten thumbs for you. i can’t wait for the last part…

    1. I . . . dunno . . . that . . . you . . . read . . . this, bel
      ohmygod.

      ohahahaha, I like to call him jing instead of the formal jinki
      since he said that he feels uncomfortable to be called by his real name but I do love his real name
      so, I call him by jing as the pet name
      it ain’t his real name, is it?

      you will see him on the last part
      I don’t mind to spoil you *a little* about what will happen in the last part though
      there will be a reunion between minho and areum
      and something will happen between jinki and areum
      just wait for more surprises
      but I don’t think there’ll be a good ending *shrugs*

      much thanks for dropping by ^^

      1. your words… you can’t be surprised to know that I read this. kekeke… sorry, I didn’t leave any comment before cuz it was protected before i even read it all…

        oh, please. don’t hurt my cute Jing. but you’re still the one who knows the best for this story, so yah, i’ll wait patiently. it’s being scheduled anyway. kekeke…

        if you won’t put password on the last part, i’ll still be dropping by for the last chap.. oh God, I’m so curious right now…

        1. I’m deadly surprised, dunno that you read this kind of rated fanfic
          aaaa, you can ask kak bib or lana for the password
          or you can ask me personally
          so you still can read the fic and drop your opinion even it’s locked :p

          He won’t be harmed, I promise
          maybe it just a lil’ distraction for all of them
          yep, maybe for the upcoming week since I don’t see it in the draft anymore

          for the last part, I think it ain’t as hot as the first part
          *oh my the first part was a disaster*
          maybe it won’t be locked but . . .
          still, the scheduler has the authority to decide whether it should be locked or not

          gotta catch your story after this kekeke

        2. ouh, i’ll email you for the password then..^^

          i’ve seen it has been scheduled. it’ll go out in the end of this month. i can’t wait to read that~

          the first one was so WOW *couldn’t open my eyes*
          and because it’s too hot, i couldn’t read it all in one time #sorry
          if it’ll still lock out, i’ll ask you for th pw of course. hahaha…..

          but dear, i can’t believe that you’re so bold the write this kind of story. it’s still sweet, but too mature. your boldness is your power. kekeke…

        3. actually you can reach me by phone, btw
          I put my number on hero contact page and I have your number already hehe
          maybe cause I read too much stories at livejournal that usually bolder than we could find at forum or wordpress
          feels like I should apologize to this wordpress since I get it dirty with the boldness
          but somewhat the point is on the relationship between minho and areum that has been built by ‘that’ activity
          I should mind my manner if I’m trying to write any ‘bold’ story for the future
          especially the thriller one

          please take care of me and remind me if I’m being too bold *deep bows*

        4. kekeke… it’s fine for being bold, cuz it’s different. and in reality, we find it everywhere nowadays.
          that kind of relationship is exist, i believe. and you don’t have to apologize cuz your story is worth to read. it’s totally fine^^

          i really want having that kind of boldness. i even haven’t put any kiss scenes in my story… i should learn from you. kekeke…

          oh, i’ll take a look the hero contact page then. silly me, i even don’t realize it…-_-

  9. Hampir lupa sama ff ini, huaaah ><
    Keren lho bahasa kamu dalam penyampaiannya, pengemasannya… n keseluruhannya deh pokoknya~ Aku sampai ngulang baca kata"nya u/memahami karena ada beberapa istilah atau hal yg tidak dimengerti hehe.
    Kok bisa kamu buat ini hanya karena terinspirasi sama photoshoot Minho n Jinki oppa? N bisa jd ff threeshoot yg ok punya ini😉
    Btw aku gak tau photoshootnya yg mana, nanti lht google ajussi deh😀
    Minho oppa gay? yaampun :O
    Berharap memang Ahreum dgn Minho, hubungan mereka sebelumnya itu miris banget, seperti kisah-kasih tak sampai #apadah. Trs Ahreum jg udh memberikan segalanya, hartanya yg paling berharga~ tp ternyata oppa malah melenceng, yaudah deh emang bnr udh pilihan pada Jinki oppa hihihi.

    Sippo. Mau baca last partnya dulu~~~~🙂
    Keep writing n fighting ne, Chrys-ssi!!^^
    Nb: Itu glossariumnya aku baru tau semua btw haha.

    1. makasih banyak atas pujiannya
      jadi malu hahaha
      oh, ngg iya itu kata-katanya ada yang susah ya soalnya nggak tau kenapa kalo nggak pake istilah rasanya ada yang kurang *minta digampar*

      kalo masalah kenapa bisa
      aku juga nggak tau, otakku yang kelewat aneh ini suka main-main sendiri ranpa dikontrol
      cari di yutub aja sekalian biar dapet videonya
      entahlah mungkin karena mereka terlihat tough dan semacamnya begitu ya
      anu, I didn’t say that minho is gay though

      ditunggu komentar selanjutnya
      makasih banyak ya udah mampir ^^

      ps.
      semoga menambah pengetahuan yang tidak menyesatkan :p

  10. kyaaaa… aku ketinggalan ff ini.. -_-
    ni ff kereeennn..
    ceritanya, bahasanya, karakternya jg.
    jarang nemu ff kaya gini, out of the box lah ffnya
    lanjut k part 3 #wuzzzz

    1. sebelumnya maaf ya, aku nggak bisa langsung kasih kamu password
      kamu harus kirim email ke fanfictionshinee@yahoo.com
      nanti adminnya yang akan kasih password

      ada info-nya kok di FAQ, ini aku copy-in :

      Ada syaratnya, pertama umur kamu minimal sama dengan batasan rating. Kedua, kamu sering komen dan username kamu di kenal sama admin. Ketiga, kamu gak cuma muncul karena mau baca FF NC doang. Password bisa kamu minta ke email kita dengan subject/judul email “ASK FOR PASSWORD”

      Nama asli, username, TTL, FB dan atau twitter. Kalau kamu gak memenuhi syarat atau gak nyantumin format ini maka tabah aja ya kalau emailnya gak di bales😀. Kita harus belajar disiplin nih. INGET, kalau kamu bohong DOSA KAMU YANG TANGGUNG LOH.

      makasih

  11. sudah,tapi blm dikasih tau pwnya,katanya tunggu 40 hari dulu padahal saya memenuhi syarat lho udh 20 tahun kelahiran 94,penasaran tingkat akut pengen baca part 1nya huhu. .part 2 yg ini udh baca cuma di part 2 ini kebanyakan jinkinya,minhonya cuma nyelip dikit pengen baca yg part 1 yg ada minhonya

  12. Serius ini keren.. aku bahkan ga nyadar klo udah tbc.
    Pemilihan katanya tepat, alurnya juga ga terburu-buru.

    Ceritanya ringan tapi tetep punya makna besar. Bikin yang baca ga bosen dan terhanyut..

    Oke kata kataku mubaadzir banget karena ini bener-bener susah diungkapkan dengan kata kata.

    Ini aku yang berlebihan atau gimana ga tau pokoknya ini asli keren..

    Great job! Kutunggu hasil karyamu yang lain🙂

    1. wahahaha makasih banyak lho aku jadi tersapu-sapu
      gapapa kok bebaas aja mau ngomong apa di sini nggak ada yang mubadzir
      makin panjang aku makin suka hahaha

      makasih ya udah mampir ^^

      ps.
      Ini udah tamat dan ada side story-nya juga lho

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s