Of Coffee and Smoke

coffee smoke

Of Coffee and Smoke

Main cast        : Lee Jinki and his girlfriend

Length             : Vignette

Genre              : AU, Life

Rating              : PG-13

A/n                  : the perfect combination of cold medicine and the 7 a.m. class

 

I know that coffee goes along well with cigarette, but they’re exception for the crowd.

 

Pukul sepuluh, seharusnya aku sudah berbaring di ranjang dan berusaha untuk tidur sambil menatap langit-langit kamarku yang gelap. Waktu istirahat yang kumiliki harus dimanfaatkan semaksimal mungkin sebelum tiba saatnya tidur hanya tiga jam sehari karena jadwal yang padat. Namun kali ini aku di luar, beratapkan langit, berteman dengan seorang gadis bersama dua mug dan sekotak rokok. Sabtu malam dan latihan besok juga mulai di waktu sore, jadi kupikir tak apa menemaninya sebentar sebelum tidur hingga besok siang.

Aku menghela  napas, menatap gadis yang kini tenggelam dalam sweater-ku sambil menyesap tehnya. Ia sudah lebih tenang dan tidak linglung seperti tadi, singkatnya ia sudah kembali menjadi gadis yang kukenal. Uncued attack atau serangan panik yang dialami dalam kondisi relaksasi; begitu katanya saat Minho menemukannya menggigil hebat dalam keadaan tidur sambil menangis dan tidak bisa dibangunkan.  Minho dan Gyeongshik hyung sudah bersiap membawanya ke rumah sakit ketika aku dan Taemin kembali ke dorm. Ia berhasil dibangunkan meski cukup sulit, setidaknya berusaha merawatnya sendiri tidak akan memancing pemberitaan di publik. Tidak ada yang menyangka jika gadis setenang air kolam ini menderita Generalized Anxiety Disorder1; ia bahkan baru menyadari gangguan psikologisnya itu beberapa minggu yang lalu setelah serangan pertamanya.

Did I really look like I’ve been possessed by ghost?

“Menurut Taemin dan yang lainnya, tapi aku malah berpikir itu gejala lain dari epilepsi. ”

“Kau memang selalu berpikir secara ilmiah, Jing.”

Indeed, aku kan sudah bilang jika tidak menjadi artis mungkin sekarang buku yang kubaca menyangkut anatomi dan kesehatan. Aku cukup lega karena gangguan tadi tidak berasal dari kerusakan sistem organmu.”  Kuusap rambutnya yang diwarnai persis dengan milik Minho. “Kau sudah konsultasi? Atau perlu kuantarkan konsultasi?”

“Belum, kurasa tidak perlu.” Ia menyulut sebatang rokok, memberikannya padaku kemudian mengambil lintingan yang lain untuk dirinya. “Serangan tadi terjadi karena aku kelewat stres kemudian minum latte porsi sedang tadi sore. Hmm, aku memang harus mulai mengibarkan bendera perang pada kopi.”

“Karena kafein pada kopi yang tinggi menjadi pemicunya, ditambah kau tidak bisa menyalurkan perasaan tertekanmu.” Ia mengangguk. “Kenapa tidak merokok seperti biasa?”

“Aku mau berhenti, ini lintingan terakhir yang akan kunikmati bersamamu.”

Kuraih mug-ku yang berisi kopi hitam kemudian menyesapnya. Berhenti, tidak buruk. Bahkan aku senang dengan kenyataan bahwa ia akan berhenti merokok. Ya, alasanku tidak keberatan dengan kekasih yang merokok adalah aku menghargai keputusannya untuk mengurangi stres dengan merokok, sama sepertiku.  We both know that cigarette ain’t a fancy thing for being served with a cup of coffee. Jadi, tidak ada salahnya ketika kami sama-sama mengerutkan hidung ketika melihat orang merokok sembarangan di tempat umum agar terlihat keren.

“Menurutmu, aku harus bagaimana kalau sudah berhenti merokok dan tidak minum kecuali saat perayaan?”

“Lari ke dorm dan tidur denganku?”

Ia tergelak kemudian mencubit lenganku pelan. “Itu akan kulakukan kalau tidak stres bersamaan dengan jadwalmu yang menggila. Nanti yang ada malah aku hanya bisa meringkuk di depan pintu dorm kemudian diseret keluar gedung karena dikira sasaeng.

“Makan yang banyak?” Aku menggeleng. “Ah, aku lupa pola makanmu yang beda dari kami. Mungkin merokok saja lagi sebentar. Kita tidak bisa langsung berhenti secara mendadak, harus pelan-pelan dan diberi pengganti.”

“Seperti mengganti adiksiku padamu dengan orang lain?” Mug yang berada di tanganku nyaris terlepas karena kaget. “Benar tidak, Onew-ssi?

“Benar.” Aku tidak menyangka jika hubunganku akan berakhir secepat ini. “Ganti adiksimu dengan orang lain.”

“Ganti jadi ibuku, sahabatku atau adikku?”

Kutatap dua iris coklat muda itu lekat-lekat, kerlipnya masih sama dan tidak menunjukkan kelelahan yang kuduga. Tidak mungkin, agak mustahil dengan gangguan psikologis yang ia derita karena tekanan di sana-sini tidak membuatnya menyerah. Entah kenapa meskipun sempat terkejut tadi, namun aku berharap bahwa ia akan mengakhiri hubungan kami. Seperti kisah klise hubungan seorang artis dengan orang biasa.  Mungkin aku yang takut, seperti komentar pedas Kibum beberapa waktu lalu.

“Menulis jurnal saja deh. Aku kan tidak berbakat menjalin kedekatan dengan orang lain. Eh, tapi jurnal tidak aman. Bagaimana kalau ada yang mencuri lihat?” Ia menatapku seolah minta persetujuan. “Jing?”

“Asal bukan jurnal elektronik. Pakai yang klasik saja, samarkan dengan prosa, puisi atau lirik lagu. Kalau perlu tulis esai sekalian dengan teori psychoanalysis andalanmu itu.” Bibirnya mengerucut, persis seperti bocah yang dilarang membeli mainan oleh orang tuanya. “Serius. Kau cukup cerdas untuk melakukannya.”

“Cerdas atau idealis?” Ia menatapku lekat-lekat. “Kita ini pasangan yang cerdas atau idealis, Jing?”

“Idealis.”

Ya, mungkin image yang terbangun dari kebersamaan kami adalah pasangan yang cerdas. Argumen demi argumen yang kadang sukar dipahami, membuat Minho menggeleng pasrah, Kibum mendecak kesal atau Taemin yang menatap kami berdua dengan penuh tanya. Nyaris tidak pernah bertengkar, berbicara dengan isyarat secara mudah dan memiliki pola pikir yang hampir sama ditambah ia tidak pernah menuntut hubungan kami dipublikasikan. Kurang sempurna apalagi?

“Aku ingin hubungan kita lebih realistis, Jing. Tidak apa jika kau cemburu pada murid yang terlalu dekat denganku, teman priaku atau bahkan hobiku.” Ia melesakkan puntung rokoknya ke beton yang menjadi alas duduk kami. “Tidak masalah terkadang kita ribut akan hal kecil. Kita harus mulai belajar tentang realita, tidak hanya memanjakan publik dengan topeng idealis yang dijunjung tinggi.”

“Mungkin aku yang belum siap. Tanggung jawab untuk membentuk pribadi seperti ini nyaris kujalani seumur hidupku. Aku, anak tunggal dan seorang pemimpin.”

“Kita tidak lagi hidup di zaman ketika moral begitu diagungkan. Tidak salah menjadi structuralist2 atau psychoanalitic3, liberal humanist4 bukan satu-satunya jalan yang kita tempuh.” Suaranya mulai meninggi seiring dengan rahangnya yang mengeras. “Aku bukan satu-satunya orang yang harus melepas bebanku pelan-pelan, tapi kau juga, Jing.”

Just leave me as a liberal humanist.

Ia meraih tanganku dan meremasnya perlahan. Lembab, masih berbekas keringat dingin yang tadi. Aku hanya diam sambil mengisap rokokku tanpa berniat membantah seperti biasanya. Kami tidak pernah bertengkar hingga mendebat hal ini. Liberal Humanism, teori yang mengagungkan nilai moral, atau lebih tepatnya terlalu terbebani atas nilai moral yang harus disampaikan hingga kita harus membutakan diri dan menekan erat-erat jeritan lain yang ingin ikut bersuara. Menjadi contoh baik untuk masyarakat dan menekan keinginan untuk mengekspresikan diri.

Ia tidak salah memintaku untuk berani mengekspresikan diri tanpa harus menggunakan topeng anak baik. Mengekspresikan diri tidak terlihat salah ketika kau tahu jalur mana yang harus kau pilih, dan sebagai publik figur mau tidak mau aku harus berhati-hati karena setiap gerak adalah berita. Aku sudah jera dengan berita ‘SHINee Onew Mengacungkan Jari Tengah di Acara Radio’, karena cara bercanda kami yang kadang agak kasar sudah tersorot media dan membuat citra SHINee di publik sempat memburuk. Aku tidak akan mau melakukan kesalahan bodoh yang sama.

“Aku lupa kalau kau seorang publik figur, yang terpikir di kepalaku hanya priaku yang harus kuselamatkan dari tekanan jiwa untuk menjadi panutan yang baik.” Ia mengambil lintingan yang terselip di bibirku kemudian mengisapnya. “Sorry for being such a bad girl.

You’re too much.

What so much?” Aku tidak tahan untuk tidak memeluknya ketika ia mulai menyebalkan seperti ini. “Ada baiknya Onew yang pemikir, punya banyak masalah, perokok dan keras kepala ini disimpan untuk kulihat seorang diri saja. Like our coffee that goes along well with cigarettes, but an exception for the crowd.

Yes, just keep it as secret,” bisikku lembut. “As ours.

04.30 p.m.

25.02.2014

Glosarium:

Generalized Anxiety Disorder1   : Gangguan Anxietas Menyeluruh. Individu yang menderita gangguan anxietas menyeluruh (generalized anxiety disorder/GAD) terus menerus merasa cemas, sering ali tentang hal-hal kecil. Sebagian besar di antara kita dari waktu ke waktu memiliki kekhawatiran. Namun, pasien yang menderita GAD memiliki kekhawatiran yang kronis. Mereka menghabiskan sangat banyak waktu mengkhawatirkan banyak hal dan mengganggap kekhawatiran mereka sebagai sesuatu yang tidak dapat dikontrol (Ruscio, Borkovek, & Ruscio, 2001).

structuralist2        : kritikus yang menggunakan teori structuralism dalam mengkritik.

psychoanalitic3      : kritikus yang menggunakan teori psychoanalysis dalam mengkritik. [Teori kritik sastra yang menggunakan teknik dari psychoanalysis dalam menginterpretasikan suatu karya sastra.]

liberal humanist4   : kritikus yang menggunakan teori liberal humanism dalam  mengkritik suatu karya sastra. Liberal Humanism adalah teori yang  menitikberatkan pada karya sastra yang baik adalah karya yang menyiratkan pesan moral.

Ps. I ain’t an expert; correct me if I’m wrong.

©2013 SF3SI, Chrysalis

siggy chrysalis

Officially written by Chrysalis, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

32 thoughts on “Of Coffee and Smoke

  1. Oke, jadi aku mau curhat sedikit. Honestly, I was happy to know that the female cast of this story decides to stop smoking. Like hell, been trying to make my old man to stop here! But my father is just so stubborn. His ego takes over of every single fiber of his body.

    Kalau kubilang, ini agak ada fluff nya dikiiiiiiiiiiiiiiiit. Soalnya, bagian akhir itu buat aku senyam senyum sendiri. Sweet, not much. As expected. Ini hampir sama dengan fanfic nya zaKy, “Kacamata”

    Have you read it yet? You should, it’s nice🙂

    1. Citraaaaaaa, we have the same experience then
      It was deadly difficult to stop someone from smoking
      and it was like explotion of happiness when my dad finally stop smoking
      what we should do is trying to wake up his self awareness since we can’t do nothing if he doesn’t want to stop, heol

      kind of, hahaha
      Just keep it as our secret, ini yang bikin berasa agak adem tapi kenapa ya ==”
      udah baca kooook hahaha itu mah favorit sebelum ketemu minnie sama room 505 *oops*

      thanks for dropping by ^^

  2. “jing?”
    I guess that’s your favourite nickname hahahahah, not ordinary but i like it.
    And of course i love jinki in here.

    still create stories about jinki/onew

    1. BINGO! YOU GOT IT RIGHT!
      I love how it fits well with jinki’s persona as a silent-introvert person
      if I ain’t mistaken, jing means silence or silent
      Ungg, kind of
      I didn’t mean to curse him though *we know that jing is sounds like the abbrevation of an animal’s name*

      hahaha just wait for the others’ turn
      thanks for dropping by
      much love from jinki~

  3. Jinkies! What it’s mean? Hahahaha it reminds me about old cartoon,
    Yeah, i don’t know why many fans made story about Jinki and his problem with smoking. And yeah, honestly i hate that. I hope our Leader-nim will erase his smoking problem.

    Did I already say i just love Jinki in your story? He just like so… quite handsome boy, full of care and i fall in love with him because of YOU. Godness… Help me.
    So, i really want to read your next story~ Everybody chicken, byeong!

    1. Tbh I don’t know about jinki’s smoking issue
      it just me who obsessed to relieve the pressure by smoking and yeah . . .
      I can make everyone but the silent person with so much burden (I hope it just my wild imagination) like him is the best choice to emphasize

      thanks for the compliment hehehe
      I hope that they aren’t just persona on the stage
      but truly him, jinki the lovable man ㅋㅋㅋ
      oops I’m talking too much

      see ya in the next story
      and much thanks for dropping by ^^

  4. Chrysalis… Berrraatttttt… *digaplok guru bahasaku

    Let me mention one by one what I notice from this and please correct me if I’m wrong…
    1. Jinki and his girl (absolutely not me though I’m dying to be…) are smokers due to their stressful and tired psychology
    2. They have kept their relationship a secret, but not from other SHINee members, and it seems they will end up ‘their story’.
    3. The girl has GAD, Jinki has his own ‘forever liberal humanist prison’ and both of them understand each other’s situation very well… *Man… They’re meant to be…
    4. No matter how they speak implicitly with smart arguments without any Shakespeare-like-romantic lyrics… (Well of course someone like me would take forever to understand…) I feel that it’s so dead romantic on its way…!!!
    Even Minho, Key and Taemin ‘fly a white flag’… Chrysalis certainly deserves to be called a smart writer, then…
    5. Don’t tell me that Jing…, my Jing… *kicked, was serious when he said, “Lari ke dorm dan tidur denganku…” *For God sake… I can’t breath for seconds!!! You’re too much, Chrys… My imagination is quite dangerous lately. Several months ago, I dreamed that I was back-hugged and kissed by a man I can’t see the face, and it successfully forced me to ‘mandi wajib’ in the early morning!!! *euwww…suck!!!
    6. The girl decided to stop smoking, right… That’s good. Trust me it’s difficult. Distractions will be helpful. My father was a heavy smoker before he decided to stop when I was 1st grader of junior high. Well, I first threatened him that if he didn’t stop smoking, I’d smoke too… (Until now, my parents don’t know that I ever really smoked. You know, it’ll be too funny if my father ignored what I said, kept smoking in front of his wife and children, and saw me dying of cough when I smoked in front of him as my protest against his bad habit. So I just tried to smoke a little…) And tadda… He quit, eats a lot and gains weight ever since… He’s healthy now… Alhamdulillah…
    7. Please tell me what you want to say in this story… I believe it’s not only an ordinary romantic fiction, because it isn’t! And I’m far too stupid and shallow to understand it…

    I like it, Chrys… very much… You start to have your own distinctive characteristics of writing from other writers. That’s great… *jadi inget gaya ngangkang peserta Indonesian Idol… *kekekekeee… digampar Chrys…

    Keep writing… I like your work…

    1. I’m terribly sorry for making you wait too long. It’s more like writing an essay than replying a comment though o.0

      1.Yes yes yes let’s smoke and throw away all problems. Maybe it will be more enjoyable to add some cans of beer instead of coffee or tea *slapped*

      2.They ain’t decide to end the story, it just from Jing’s unconsciousness. He thought that his girl would end up their story based from her question, “Seperti mengganti adiksiku padamu dengan orang lain?” but actually she wouldn’t.

      3.Yep, the GAD actually kinda dangerous if the girl can’t handle it. Like Jing said, caffeine can be the trigger and she should avoid it. Jing’s liberal humanist mindset actually can lead him to suffer GAD too, so you’re right if you say they’re meant to be.

      4.About the arguments, I think that it will be cute if we talk about random thing or maybe questioning about the theories around the world while sharing what’s in our mind. Okay, I already know that I’m freak enough to love all of the random convo for arguing or brainstorming about theories or the standard of society. Yeah, it somewhat sounds pretty weird. Kibum like to be realistic while Minho is simple-minded, and I think Taem can be the next Jing but he needs to read more.
      Thanks for the complement huehehehehe *slapped*

      5.Err, I think that this sentence is ambiguous. I mean that she literally being tucked on bed by Jing then he will sleep next to her until morning comes. As simple as that, not about satisfying the desire he he.
      I’m sorry to hear that, but I do love the dual-meaning sentence :p

      6.Actually it ain’t about distraction but from the self-awareness of the smoker itself. If they believe they can stop, they will. I’m happy to hear that you dad finally quit smoking. Your dad should be aware about what he eats. Because after quit smoking and successfully gaining weight, my dad’s new problem has come, cholesterol ==”

      7.Critics for the ideal society’s member. I mean, like when people make the statement ‘just be yourself’ that means like they won’t accept for who truly you are but you should meet their expectation to become yourself. The liberal humanist that I mention in this story symbolizing the burden that Jing’s should bear as the leader and the only son in his family. Like everything should be perfect and the responsibilities has turn down his real personality cause he is crowned as a kind, caring and well-mannered man. Maybe he ain’t as perfect as we think, but still, we know that it’s him😀

      I dunno whether I really have the ‘distinctive thing’ that you mean, but I’m glad you like it. Actually, I have this kind of writing but in different type. Series, named Tomorrowland and Partner in Crime; of course with different character too. I hope I can share them on this wordpress soon hehehe.
      Anyway, bunch of thanks for the regular visit and your-almost-essay-comments on my other works. Can wait to see you on the upcoming post😀

      Ps.
      Wanna talk more? hehehe

      1. wakakakaakkk… You’re a random thought writer, Chrys…
        Thanks for answering all my questions. I fully understand now.
        Taddaa… I just put another random comment on Double Door 3.3
        Please read and answer…😀

    2. ps.
      sorry for some typos
      the keyboard doesn’t work well
      besides, the complement should be compliment but I’ve mistaken it as complement of semantics
      *screw this dull head*
      thanks and sorry

      1. Ouw, please… You sound like Minho who blames anyone beside him whenever he loses his winning eleven game. Your head doesn’t work together with your fingers. That’s the problem I think…
        Heheheee… *peace ^^v
        Trust me, it does happen to me a lot!!!
        Never mind🙂

  5. PS: I didn’t feel uncomfortable or disappointed to see a picture of Jinki with his middle finger or electric cigarette. Cm’on… how many man and women smoke in this world though still I’m worried of his voice and health. For the other incident, I also showed my middle finger to a rider who almost hit me when I was trying to cross the street. What made me do that is he blamed me for that situation and yelled at me from his bike. He felt even angrier when he saw me with my middle finger. If he really decided to get down from his bike, I would be involved a fight with him. Well, he would be very stupid, then… Fighting with a girl will surely make him look like a chick. Jinki with his ‘dongsaengs’ are just too close to each other. They joke around as mature boys I supposed, without having any intention to be disrespectful… But the only picture that quite made my heart beat so fast was jinki with that ‘noona’. Feeling jealous, of course… But deep in my heart I feel relieved if it’s true, signing that my Jinki is a normal guy who likes ‘yeoja’ not ‘namja’… wkwkwkwkwkwkkkkk… Sorry I screwed up your comment column, Chrys… I just can’t resist typing what I have in mind…. I’m off…

  6. Haii hai ketemu lagi,pasti bosen ya?hahahaha..ihhhh onyu ini emg bkin mesem2 guling2 di kasur deh..ihhhh ihhhh ihhh cubit nih..(padahal sebenernya endingnya doank yg bkin guling2 hahahaha) IMHO nih ya hmmm i dont know this is just me but i believe always believe that jinki hmmmm memang perokok..hahhaa sorry for all mvp..but thats not bother me at all..thats normal make him like a human…gak jd junkies aja menurut aku udh bagus sih (orang kesehatan macam apa yg ngomong bgini hahahahha)..back to the story, i love the way you make him like a human..not a perfect man that he always trying to be..yes human..as lee jinki not SHInee Onew..topic yg diambil jg bagus..as usual you always surprise me with your extraordinary topic..love it..see you at the next story..pyong pyong.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s