London

London

                                                                                       

 

Author : CEV

Main Cast : Lee Jinki (Onew), and a little girl named London

Support Cast : Shinee members

Length : Vignette

Genre : Tragedy, Friendship

Rating : General

Summary :Karena sebenarnya, judul itu bukan jendela dari sebuah buku. Dan mata bukanlah jendela dari jiwa. Aku sudah membuktikannya¾ aku bisa melihatmu dari awal sekali.”

 

13 Juni, 2013.

Biasanya aku memang tidak pernah sendiri. Tidak, memang tidak sendiri. Aku selalu mendapati diriku di tengah kerumunan. Salahkan aku, jika mau, karena aku yang membiarkan hal itu terjadi. Badanku¾ yang staminanya memang kurang bagus kata Minho¾ memang selalu membiarkan mereka mengayunkan langkah kaki mereka, memaksa kakiku untuk mulai megikuti kemanapun mereka mau.

Mereka itu siapa? Jangan kau tanya, lah. Aku malas menjawabnya.

Dalam perjalanan pulang menuju dorm, aku mendapati diriku terdiam lagi, dalam mobil. Sama seperti biasanya, aku cukup senang hanya menjadi penonton. Tidak apa. Lagipula pemandangan seperti ini, yang selama ini kuritmekan dengan ‘mereka’: Choi Minho dan Kim Jonghyun yang terlihat sibuk memperdebatkan menu makan malam apa yang akan kami punya nanti, Lee Taemin yang mengeluh soal betapa hari ini aegyo-nya tidak bekerja, atau Kibum (pria ini nyaris membuatku berharap telingaku jatuh dari tempat semestinya) yang enggan berhenti membahas soal penampilanku tadi yang menurutnya seperti ‘idol yang sudah pensiun’.

Hyung, kemana?” Taemin mengangkat suaranya ketika  melihatku mengenakan jaket kulit Jonghyun yang tebal. Aku menoleh ke arah sofa di ruang tamu. Mendapati anak tengil itu sedang mengunyah¾ tunggu dulu. Itu ‘kan candy bar milikku.

“Keluar sebentar,” lidahku mendecak pelan, “dan kau berhentilah makan candy bar milikku!”

***

Biasanya langit, juga awan, cerah. Aku mengerutkan dahi, agak kurang puas melihat cuaca yang hari ini mendung. Tetapi langit bukan asisten yang bisa aku suruh ini itu, langit terlalu jauh di atas sana untuk aku jangkau. Aku mengeluarkan napas lega. Akhirnya aku bisa sendiri. Dengan pikiran yang masih berada dalam angan, dan kaki yang melangkah sesuai dengan keinginannya, aku lanjut berjalan. Hingga aku berhenti di satu tempat. Aku juga bingung kenapa aku tiba-tiba berhenti. Belum sempat menelaah sebabnya, kudapati diriku tengah berjalan mendekati tempat itu.

Senyum pertama tersungging di bibirku. Taman bermain.

Taman bermain itu mempunyai banyak warna. Bukan warna-warna gaul seperti yang selalu Kibum pampang di sela rambut ketika rambutnya masih pirang. Hanya warna primer dan tegas¾  biru, merah, kuning, hijau, ungu. Oke, anggaplah begitu bahwa ungu dan hijau itu termasuk warna primer. Kulihat sekelilingku. Tidak ada orang, dan mencoba satu permainan tidak akan sakit, ‘kan? Kupastikan sekali lagi, apakah ada kumpulan noona yang akan meneriakkan namaku atau gadis remaja yang akan menggerogoti badanku jika tau itu aku, sebelum benar-benar berjalan. Aku mendekati salah satu permainan yang selalu aku mainkan sewaktu kecil. Favoritku, Monkey Bar. Dengan semangat darah muda ini, aku mulai mengaitkan tanganku ke salah satu bar dengan ringannya. Lalu tangan yang satu lagi. Setelah memastikan kedua kakiku telah terangkat, kugerakkan tanganku untuk berpindah bar.

Satu, dua, tiga

Aku mengambil napas yang berat. Boleh juga, Jinki. Kau baru 24 tahun dan sudah bergerak layaknya ahjussi berumur setengah abad. Tak menyadari sebuah peluh telah jatuh menetes dari dahi, aku melanjutkan perpindahanku.

Empat, lima, enam, tu-

“BRUK!”

Dan sakit. Aku terjatuh pada bar ketujuh. Tidak begitu tinggi, tapi cukup membuatku merintih kecil. Jaket kulitku juga jadi kotor terkena tanah. Aku membuat catatan pribadi, harus segera mencuci jaket ini jika tak ingin Jonghyun bersumpah-serapah nanti. Cepat-cepat aku bangkit, menepuk-nepuk bagian yang kotor. Tersusun rapi di kepalaku; rencana untuk segera pulang, menggerutu tentang hal tadi sekali lagi, memasukkan jaket ini ke mesin cuci, lalu makan malam.

“Jatuh, ya?”

Rencanaku hancur dalam sekali telan. Aku menoleh panik, kupikir suara itu berasal dari seorang sasaeng. Pemandangan yang ada di depanku membuatku tertunduk malu, agak tertegun sebenarnya. Seorang gadis kecil, maksudku benar-benar kecil, memandangi semak di depannya. Little lady ini memakai baju terusan berwarna merah muda yang lembut dipadukan dengan stocking tebal berwarna violet yang pudar. Mantel beludru berwarna krem yang tebal melapisi badan mungilnya. Rambut hitamnya yang panjang terurai, dengan jepit warna pink menyala yang terselip di rambutnya yang halus. Dia tersenyum, senyum yang kuyakin bukan untukku. I was wondering how can i not notice there IS a little girl before. Untuk waktu yang tidak terlalu lama, kami hanya diam. Kami, maksudnya aku dan gadis kecil itu. Aku mendeham canggung, tanpa tahu harus berkata apa. Gadis kecil itu, yang sedang berada di ayunan, memukul tanah dengan salah satu kaki mungilnya, dan mulai mendorong ayunannya sendiri. Dia sedikit terhuyung ke belakang ketika ayunan itu mulai bergerak.

Ah, salahkan aku lagi jika aku tak pandai meladeni anak kecil.

“Mau main ayunan?” katanya enteng, banmal. Aduh, anak ini. Untung dia imut, pikirku.

Aku mendeham pelan sekali lagi, “No. Aku tidak suka ayunan.” Berharap dia menangkap nada itu dari suaraku. Pertama, anak kecil ini jelas-jelas melihatku. Aku, yang sudah pasti jauh lebih tua darinya, tapi dia menggunakan banmal denganku. Kedua, aku memang takut naik ayunan.

Dia terdiam, tidak juga melihat ke arahku.

“Ah, Ahjussi rupanya…” belum sempat ku memprotes kata yang terakhir, dia meneruskan. “Sama sekali tidak membuatmu terjatuh seperti tadi, kok. Cobalah Ahjussi!”

Entah kenapa aku mau saja.

Hari itu, kami duduk-duduk di ayunan. Untuk suatu alasan tertentu, aku merasa nyaman. Aku tidak merasa ‘was-was’ dengan adanya fans yang tiba-tiba dapat menghujamku, atau paparazzi, atau apalah. Aneh benar, aku merasa telah menikmati begitu saja percakapan yang kami punya. Aku dengan gadis kecil itu. Perbincangan seru yang mengalir begitu saja. Aku tahu kalau dia duduk di bangku sekolah dasar, kelas lima. Aku bertanya apa dia tahu Shinee, dia menggeleng. Kami terus berbincang, sampai pada akhirnya aku sadar bahwa aku harus kembali ke dorm. Manusia-manusia itu ‘kan bisa saja cemas. Aku menepuk kedua kakiku, dan terkekeh ringan. Dan sepertinya dia tahu itu adalah tawa perpisahan.

“Hei, Nak. Kau tidak pulang? Aku bertaruh ibumu pasti cemas.”

Kata-kataku menghasilkan senyum simpel dari mulutnya yang kecil.

“Aku bertaruh, ibumu juga.”

Aku terbahak mendengar balasan darinya. Kemudian agak heran ketika dia mengatakan bahwa dia akan dijemput Umma-nya di situ. Karena terburu waktu, aku percaya saja. Ku acak rambut lembutnya barang dua-tiga kali, lalu pulang dengan senyum puas di bibirku.

14 Juni, 2013.

Aku tak sengaja bertemu lagi dengannya. Bohong. Sebenarnya aku sengaja datang lagi ke taman bermain itu dan menemuinya, masih di tempat yang sama. Ayunan yang sama, sisi yang sama. Kami lumayan sibuk. Cukup banyak hal penting yang harus diperbincangkan. Tentang Sailor Moon yang kurus akibat diet berlebihan, atau berdebat tentang apa yang digunakan Chibi Marukochan sehingga rambutnya sebegitu kaku. Aku bilang kalau Jjangoo (Crayon Shin-chan versi Korea, begitu kami menyebutnya) itu masih kerabat dari Pororo. Dia menertawaiku.

“Jangan berpikir konyol, Ahjussi,” ejeknya, “Jjangoo itu temannya Patrick!”

Lho, aku pikir kita masih di sekitar Asian’s Anime?” bantahku cepat.

“Tidakkah kau melihat kesamaanya? Mereka bersuara berat, tahu!” omelnya.

Satu yang kusadari, gadis kecil ini tidak penah sekali pun memandang langsung ke arahku. Tidak, dia tak pernah memandang kemanapun selain arah depan. Aku pun tidak keberatan. Seperti yang aku katakan, kami terlalu sibuk dalam perdebatan kami. Aku sesekali berpura-pura marah, menggeram, dan itu mengundang tawa dari gadis kecil ini. Lalu kami menyebutnya satu hari, dan aku pun pulang. Ya, hanya aku.

Ya, dia bilang dia masih menunggu dijemput Umma.

15 Juni, 2013.

Aku tidak sempat datang. Kami punya jadwal tampil dan itu melelahkan.

16 juni, 2013.

Aku menemukan dia membawa bekal makanan. Sedang menikmati ddukbokki. Dia menawarkan dan aku pun makan bersamanya. Masih di ayunan, kami berbincang seperti biasa. Kali ini kami berbincang tentang komik favorit. Aku bilang The Rise of The Titans, dia bilang dia tidak suka baca komik. Aku menggoda kalau orang yang tidak suka komik itu aneh, dia langsung mengancam tidak akan membagi lagi ddukbokki miliknya yang lezat itu. Aku yang baik hati ini pun menceritakan petualangan seru para pembasmi Titan, mahluk raksasa jelek itu, dan menggambarkan secara detail bagian-bagian yang paling menegangkan. Ketika aku sibuk bercerita, ia masih tidak memandang kemanapun kecuali rumput kosong dan ddukbokki-nya.

Hari berikutnya, aku memberitahukan dua point padanya. Bahwa namaku Onew, dan bahwa mulai dari sekarang dia harus memanggilku dengan sebutan ‘Onew oppa’. Anak bandel itu pecah tawanya pada point pertama, dan semakin pecah tawanya pada poin kedua. Aku menjitaknya, dia balik memukulku. Setelah terlibat cekcok yang sangat alot, kami pun memutuskan membahas hal lain. Tetapi karena kami masih sengit, kami memutuskan untuk mengakhiri perbincangan penting kami.

Hari berikutnya, aku bahkan tidak sampai ke taman bermain karena di tengah jalan ada segerombolan sasaeng noona yang meneriakkan namaku, mengejarku seperti orang gila, dan hendak mengoleksi bagian tubuhku satu persatu. Pulang dengan rambut berantakan dan hampir menangis. Kibum marah-marah layaknya seorang umma, sedangkan Taemin bertanya kenapa setiap sore aku pasti keluar dorm.

Hari berikutnya¾ dengan mantel hitam besar dan kacamata serta topi¾ aku bertemu anak tengil itu lagi. Ya, anak tengil. Soalnya di tengah perbincangan seru kami, dia menyuruhku berhenti memanggilnya Alien Kecil. Aku mengiyakan. Tiba giliranku menyuruhnya berhenti memanggilku ahjussi, dia tidak mau. Anak bandel sialan.

Akhirnya aku pun menanyakan hal yang seharusnya aku tanyakan dari awal.

Hey Alien Kecil,” kataku sebagai pembuka, “Oppa belum tahu namamu.”

“Ya ampun, Ahjussi…” dia menggelengkan kepalanya, seakan sedang mengobrol asyik bersama teman sekelasnya. “Apa itu tadi? Oppa? Ahaha!”

Keabsenanku dalam berbicara seakan menyiratkan bahwa aku benar-benar sedang serius. Lady di sampingku ini berhenti tertawa lalu meluruskan posturnya. Lucu, dia benar-benar berakting layaknya seorang lady.

“Apa judul itu benar-benar diperlukan dalam sebuah cerita?”

“Ng?” tengahku heran, namun kemudian mengangkat suara kembali. “Yah, kurasa sih perlu, bocah.”

“Bukannya isi buku itu terlalu seru untuk disimpulkan dalam dua-tiga kata yang jelek itu? Enggak berarti. Bagaimana pertarungan seru antara Mikasa dengan titan-titan  itu bisa diberi judul, padahal di saat yang sama, Eren sedang menjalin pertemanan dengan salah satu titan. Mana judul yang cocok, ‘Pertarungan Sengit Mikasa dengan Titan’ atau ‘Pertemanan Eren dengan Titan’?”

Aku memotong, “Yah, yah! Kau tidak bisa egois begitu, dong.”  Tatapku dongkol, padahal sebenarnya tidak. “Suatu judul itu berguna, kau tahu, karena buku di perpustakaan akan dapat dicari dengan mudah dengan menggunakan judul. Kau tahulah, seperti ungkapan ‘Eye is the window of a soul’. Pendekatannya seperti itu.”

Gadis di sampingku itu terdiam. Aku mencoba menebak apa yang tersangkut di pikirannya saat itu. Dia terlihat sedang memikirkan suatu jawaban. Tetapi sekali lagi, sebenarnya dia sudah tahu jawabannya.

“Jadi maksud Oppa,” aku harus menampar diriku dua kali ketika dia memanggilku begitu. Baiklah, realitanya aku hampir menangis terharu. “Mata itu penting karena dengan mata, orang bisa melihat, begitu?”

“Entah bagaimana kita bisa membicarakan tentang mata sekarang, tapi yah, mata itu juga penting. Masakkan kau mau tidak bisa melihat?” aku menertawai kalimatku sendiri.

Dia kembali terdiam.

Kukira setelahnya dia akan membalas dengan suaranya yang angkuh dan isi jawaban yang akan memotivasiku untuk menjitaknya, tapi tidak.

Dia tetap memilih diam.

Tidak memiliki ide tentang apa yang telah terjadi, atau apa yang salah dengan perkataanku, aku mencoba mengeluarkan lelucon andalanku untuk membuatnya tersenyum kembali. Dia bahkan tidak bergeming. Aku meminta maaf, dia terdiam membatu sesuka hatinya. Aku melenguh kalah, memutuskan untuk berdamai dengannya besok. Aku mengacak rambut halusnya, dan pamit pulang. Dia terlalu hanyut dalam diamnya, dia tak membalas sapaanku.

Hari berikutnya, aku datang. Tapi teman kecilku itu tidak di sana. Ayunan itu serasa kosong, ditinggal oleh figur mungil yang selalu duduk diatasnya, lengkap dengan baju trendi dan mantel warna-warninya. Kukira dia terlambat, jadi aku menunggu.

Tidak, dia tidak datang.

Hari berikutnya¾ sebenarnya aku punya jadwal tampil sore itu¾ aku hanya ingin menengok sebentar. Lekas ingin bertanya tentang keabsenannya kemarin sore. Mungkin disertai dengan pemberian candy bar kesayanganku sebagai permintaan maaf atas dua hari yang lalu. Sialnya, candy bar itu terpaksa berakhir di perut Taemin karena gadis kecil itu tak datang lagi.

Hari berikutnya, dia masih tak datang.

Hari berikutnya, aku memutuskan bahwa ini semua bodoh. Aku punya karir seluas Korea untuk dijaga, dan aku hampir mengorbankannya untuk perbincangan bodoh rutin bersama seorang anak kecil, yang harus kuakui¾ memang seru.

Hari berikutnya, aku telah berhenti mengunjungi taman bermain itu.

EPILOG

Kim Jonghyun mengurutkan surat-surat yang masuk di kotak pos mereka. Mengantarkannya ke member-nya masing-masing, tangannya menelusuri nama penerima surat terakhir.

Untuk: Onew Oppa

“Onew Hyung!!”

“Ng?” jawabnya, lalu melayangkan pandangan penuh harap ke arah Kibum. “Kau masak, Bum?”

“Tidak, aku tidak masak. Kita pesan malam ini.” Key memandang sinis isi kulkas mereka yang kosong.

Jonghyun melempar surat itu ke Onew, yang berhasil ditangkapnya dengan mudah. “Surat dari siapa?” tanyanya. Jonghyun mengangkat bahunya yang bidang. Perhatiannya sudah seluruhnya tersedot ke sebuah variety show di televisi.

Mata sipit itu sibuk menelaah.

Kau salah, Oppa. Buku-buku tua di perpustakaan masih dapat dicari dengan nama pengarang dan tahun terbit pula. Dan kau juga salah. Hellen Keller lulus dari Radcliffe College dengan nilai terbaik dan dianugerahi kehormatan besar. Dia menjadi pengacara terbaik dalam urusan persamaan sosial dan dianugerahi Medali Kehormatan dari Presiden Amerika. Dia buta, tuli, serta bisu.

Onew tersenyum. Senyumnya yang selebar mungkin, mata sipitnya semakin menipis dibuatnya. Dia melepaskan napas lega, setidaknya teman kecilnya itu tidak benar-benar murka terhadapnya.

Hellen sama denganku. Aku tunanetra, dia juga tunanetra. Mungkin rambut kami berbeda, ya? Hellen berhasil memenangkan kelemahan atas dirinya. Itu bukti bahwa tidak ada satu indera pun, kau lihat, tidak ada satu indera pun yang dapat menjadi jendela bagi jiwa seseorang. Celah kecil pun tidak. Dan karena kau salah, aku akan tetap memanggilmu ahjussi. Karena sebenarnya, judul itu bukan jendela dari sebuah buku. Dan mata bukanlah jendela dari jiwa. Aku sudah membuktikannya¾ aku bisa melihatmu dari awal sekali.

 

 

Onew tertegun sejenak. Entah mengapa, baru sekarang muncul rasa lega di setiap napas yang ia hela.

            Oh, iya. Ngomong-ngomong, namaku London. Park London.

 

 

“…Seberapa penting surat itu sampai kau bisa melupakan ayam gorengmu?” suara berat Minho menyadarkan Onew. “Hellooo? Earth to Onew?” tanyanya lebih lanjut.

“Apa kau pernah dengar anak tetangga kita yang bernama Park London?” Onew menindih pertanyaan lelaki jangkung— berambut coklat muda yang hangat— itu.

Kibum yang kini terseret dalam percakapan kedua membernya itu, menimpali.

“Iya aku tahu. Dia anak Mr. dan Mrs. Park Jung Hee, sudah meninggal tiga tahun yang lalu,” Kibum menaikkan alisnya, “ada apa dengannya?”

END

 

A/N: I don’t even know what I was doing with this shigitty. Lol, I guess it’s nice to write a few story before I get too busy with college. Anywhoooo, I recommend this song: London by Vanessa Carlton. It’s calming J thanks for wasting your time by reading this story.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

35 thoughts on “London

  1. certianya lagi bosen dikampus gak ada dosen jadi ngecek blog ini dulu bentar
    waaaaa, aku udah duga anak ini pasti sebenarnya udah meninggal, tapi kalau tunanetra??? aku gak tau hihihihi. Onew minta London agar manggil dia oppa?? ya ampun om inget umur kenapa? wkwkwk gak nemuin typo, overall ceritanya bagus banget, pesan2 kehidupannya dapat sekkaallleeee. oya tentang Hellen Keller aku juga pernah baca biografinya tuh dia hebat banget deh ^^

  2. aku udah duga sebelumnya kalau dia ga bisa liat, tapi ternyata endingnya dia udah meninggal. aku suka karakter london gatau kenapa, disini onew juga keliatan bisa deket sama anak kecil padahal waktu di hello baby dia ragu sama yoogen, yaudah lah ya itukan udah lama banget – – ff ini masuk dalam salah satu fav aku, hehe🙂

    1. Wah, kamu ini terbalik, dong, sama fitriyayana. Kamu suka London? Aku juga suka. Thanks sudah mau repot mampir kesini ^^

  3. I’m home! *slapped*

    first, the genre shouldn’t be tragedy. Since tragedy is about the fall of the hero. Maybe you should use life instead. They talked about life, didn’t they?
    you can use friendship-life, if you insist not to add the supernatural since london girl is a ghost.
    second, lemme laugh.

    yonggam-nim really suits him well. Fell at the 7th bar ain’t cool Jing, 7 should be a lucky number.

    third, your (maybe) dashes change into 3/4.

    fourth, I won’t comment about the diction since it’s the author’s preference. But I suggest you to read more, some of the words didn’t work well for my opinion.

    fifth, I dunno that jing can go along well with a kid. But I know london is different, she looks more mature than her peers. She shouldn’t die! She should be my child, so we can get jing to sit and argue with us. It will be awesome huhuhuhu.

    sixth, I should go for my p.e-like-class and I think I should stop scratching on your comment box. Kbye!

    ps.
    thanks for writing Jing w/ kid. Sometimes I long to see him arguing w/ kid.

    1. I don’t know what happened with those damn 3/4. Goddamn dashes. And tbh, I kinda laughed when I re-read this story. It’s so weird that I became tear-able (doesthatwordevenexist)

      About the diction, I have to agree, tho. Seriously, I don’t even completely understand some of the words I use in this story. I pretty much…just put them in together, you know, like- well. I guess I’ll work it out somehow…….when I have the time *shrugs*

      Intrigued to teach me about the diction? Hehehehehehehehehe.

      No, but seriously though.

      About your oh-so-called-future-daughter…. *slowly walks away* I’ll just let y’all have your mother and daughter quality time alone. SWERVE.

      1. Maybe from the ms.word-thing, I’ve experienced this then I copied the dash symbol from wikipedia and used it to write
        I know it’s silly but it works, really

        most of the time, we can’t trust our fingers
        that’s why we should re-read and think
        but re-read and think ain’t my style
        so I will ask one of my friends to read it and give her comment before editing that work then post it
        but most of the time I just post it then cursing while re-reading back and forth ’cause I found typos and unrelated sentences

        I can’t and won’t teach but I’ll give some suggestions instead
        how does it sounds?🙂

      2. Baca KBBI, hngg, donlot KBBI di play store atau dari situs-apa-yang-biasanya ada di internet
        it just as simple as you wanna learn foreign language
        kalo misalnya agak nggak yakin sama katanya, cobalah tengok KBBI
        atau kalo males, just switch into English

        bisa juga dengan baca banyak-banyak buku
        I mean, the ‘real’ book
        minjem-minjem novel temen mungkin kalo mau atau sekedar numpang baca di gramed *my bad habit*
        ada beberapa penulis novel yang menurutku lumayan enak bahasanya
        macam winna effendi, Ilana Tan, Sitta Karina atau Dewi Lestari
        nggak harus mereka sih, tergantung preference kamu aja
        dari baca kita bisa tau padanan kata atau kadang kata mana yang bisa match satu sama lain untuk menjelaskan sesuatu
        atau beli thesaurus biar makin banyak vocab

        mungkin enggak bisa didapat secara instan juga
        we still need the process, right?
        in my opinion, besides reading you can write as many fics as possible since it will be count as the practice
        hehehe, sorry if it ain’t help you so much

        1. Aku lumayan sering- nggak deng, terkadang. Aku terkadang suka buka kbbi, tapi itupun kalau lagi baca buku terus ada kata yang nggak dimengerti.

          Guess i have to read kbbi more often.

          Hmm..how to say this, um…kalau kamu pergi ke gramed matraman, ada orang yang suka mojok di pinggir jendela, terus di sampingnya tumpukan buku-buku random dari komik sampai buku senam ibu hamil (really, it happened), coba sapa. Mungkin itu aku .__.

          Aku baca karya Ilana Tan dan Dee, juga. Walaupun nggak banyak, sih…

          Nah, it’s okay. It’s not everyday you’d get someone who is a complete stranger to you, yet, she so bothered to help you🙂

          Gamsahamnida! (Is it right? Still awkward with korean too)

  4. waw… meninggal 3thn lalu? klo jd jinki psti udh merinding dah, “whats? dr kmren gue ngemeng ama hantu?” LOL #plak
    keren, ada pesan moralnya jg.. trmasuk “kekurangan tdk akan mnjadi penghalang mnuju kesuksesan slama kita mau brusaha.” yup, mungkin itu bkn pesan moral itu utamanya, tp itu trmasuk kan xD *ngomong ama tembok*
    mata bukan jendela jiwa,, yeah cool. keep writing thor😉

  5. Aku pikir si London ini emang buta dari awal tapi jadi syok ketika tahu si dek London ini meninggal 3 tahun yang lalu. Kasian padahal dia lucu dan keliatan dewasa dari anak seumurannya😦
    ceritanya bagus, pesannya juga dapet cuman rada terganggu dengan angka 3/4 itu thor hehe. Ditunggu karyamu selanjutnya thor~

    1. Awalnya aku benar benar nggak yakin readers nanti bakal dapet life value nya apa nggak. Tapi syukurlah, rata-rata bilang dapat. Makasih sudah baca dan kasih komentar ^^

  6. wow…kerennn ff nya…
    udh lama ga nengok k sini,,,tnyata ktingggalan ff sekeren ini…
    terus berkarya ya citra….hwaiting^^

  7. Kalo dia tunanetra aku udh nebak pas Ditengah. Nah pas yg meninggal itu loh rada syokkk jg. Lah terus itu yg nulis Surat siapaa ???
    Hehe ini ff bagus , tapi kok bs ada 3/4 nya gtu ya?
    Pesannya dapeeeet , khayalan ku tergambar jelas. Pkoknya lopelope deh buat author nya:-) keep writing yeeaaah!!!!

    1. Pembaca kayak kamu, yang bikin aku terus-terusan ‘ngidam’ buat bikin cerita baru. Send my lopelope for you too^^

  8. ini keren banget thooooor sumpaaaaaaah~ aku pertama duga onew emang hisa liat hantu, terus pas london muncul aku ngeduga emang dia kayanya ga bisa liat tapi ga nyangka kalo dia udah meninggaaaaaaaaal -.- pokonya ini keren iiiih gemes

    1. Beneran nih? Aku kira semua pada bakal bisa nebak kalau London itu udah meninggal. Wah, makasih ya ilalee sudah mau repot-repot mampir ^^

  9. Aku sadar kalau si London gak bisa liat waktu dikasih tau author… Aku kira dia gak pernah liat onew karena apa gitu… Haha…

    1. Aku juga enggak ngerti, 3/4 itu tadinya Dash. Jeda gitu, tanda strip yang panjang loh. Tapi kurasa Microsoft Word simbolnya beda deskripsi kali ya, jadi ketika di copy sama adminnya, JENG JENG. Berubah otomatis jadi 3/4. Padahal aku enggak nulis kayak gitu -__-

      Makasih ya sonya sudah baca dan kasih komentar🙂

  10. Eh..eh…jadi ceritanya si london udah meninggal??? Jadiii…bekal yg dibawa dy..yg dimakan onew itu……masakan dari dunia arwah gitu??? Hiyyyy..merinding….
    Pas di summary.a kirain onew yg ngomong…taunya si london..
    Nd..utk 3/4…hem..aku kira itu tuh apa ya..emg ada di situ…tau nya bukan yya…
    Strip kan yya???
    Bagus banget deh…benerraann…si onew mpe rela nemuin si london tiap hari lagi..kerenn…
    Trus…waktu dy udah gk dtg lagi..ceritanya ngambek ama onew???
    Apa mau buktiin kalo dy udah mati???
    Keep writing yyya…

  11. oh aku senengbgt bacanya, ringan tp berbobot. nahlo gimana tuh?

    menurutku cerita dari ff ini udh baguus dan moral value nya juga dapet. soal londonnya buta, menurutku ketauan bgt, tp soal londonnya udh meninggal… sempet nyesek bacanya ahah

    jangan berenti nulis ff ringan tp berbobot gini ya, author! hehe

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s