Finding The Lost Smile – Part 2

Finding The Lost Smile

Tittle               : Finding The Lost Smile

Author            : Lee Hana

Main cast        : Kim Jonghyun and Lee Taemin

Support Cast   : Choi Minho, Choi Sulli, Jung Krystal

Genre              : School Life, Shounen-Ai, Romance and Friendship

Length            : Sequel

Rating              : T

Summary         : Seorang lelaki, berambut hitam, berkacamata minus, berkulit cokelat, dan berparas dingin terdiam, terpekur dalam deret huruf-hurufnya, menghela setiap rasa sakit yang menerjangnya. Harusnya, mungkin harusnya ia biarkan saja perasaannya berkhianat pada logika. Mungkin harusnya ia biarkan saja nafsunya menggelayuti setiap ujung tubuhnya. Mungkin, harusnya biarkan saja ia tutup rapat-rapat kata hatinya. Tapi ia tidak begitu, Jonghyun tidak begitu. Ia tetap kuat, meski tak ada tersisa apapun lagi di hatinya kecuali rasa sakit, dan menyisakan setitik rasa cinta yang ia sembunyikan rapat-rapat.

%%%%%%

Ia baru saja menenggak air mineral miliknya dengan beringas. Beberapa tetes lolos ke ujung bibir dan menyungai bercampur dengan tetes serupa yang keluar dari setiap pori-pori kulit putih milik lelaki tinggi bernama Choi Minho. Setelahnya lelaki itu menuangkannya di atas kepala sedikit lalu melemparkan botol kosong itu tepat ke tempat sampah. “Segar.”

“Kerja bagus, Kapten,” puji seseorang berkulit agak gelap dan memiliki tubuh lebih pendek darinya. Tapi Minho hanya tersenyum dan orang itu melanjutkan, “Ini benar-benar melelahkan, kan?”

“Tentu saja. Ini olahraga, Jong-in,” sahut Minho penuh maklum.

Seperti biasanya, Jong-in terkekeh geli lalu menyusul orang-orang yang sudah terlebih dahulu pergi ke ruang ganti mereka untuk membersihkan diri. Di saat itu Choi Minho hanya sendirian. Sebelum menyusul yang lainnya ia mengambil sebuah handuk yang terlipat rapi di atas kursi pemain dan menggosok-gosok bagian kepala, wajah dan lehernya yang basah oleh keringat, mendesah sambil melihat atap-atap lalu berjalan dengan sebuah handuk yang disampirkan di leher.

“T-tunggu, tunggu, tunggu!” ucap seseorang ketika lelaki itu baru saja menutup pintu ruangan itu dan berlalu. Dengan cepat Minho berhenti dalam kekosongan lorong yang hanya diisinya dan seorang anak lelaki yang bertubuh agak kecil tak jauh darinya, bertampang manis dan lugu.

“Ne?”

Dengan cepat Taemin—mencoba secepat yang ia bisa—berjalan ke arah Minho dengan kaki pincangnya. “Maaf,” ucapnya ketika berada di hadapan lelaki yang memiliki tinggi jauh melampaui dirinya. “Emm, apa kau Choi Minho?”

Minho terdiam sejenak sambil berkerut kening. “Ya.”

“B-bolehkah aku menjadi muridmu?” tanya Taemin, sangat terlihat gugup.

Kerut di wajah Minho semakin jelas. “Sepertinya kau salah orang. Aku bukan siswa yang pintar dalam soal belajar.”

“Tidak, bukan pelajaran, tapi soal basket.”

Minho tergelak lalu ekpresi wajahnya yang serius segera memudar cepat. “Basket? Tentu saja, aku cukup baik soal itu, meski bukan yang terbaik,” ucap Minho merendah hingga tiba-tiba saja membuat Taemin kaget ketika Minho berkata, “Berani bayar berapa kau untuk memintaku menjadi pelatih?”

“Apa aku perlu mentraktirmu makan setiap hari, Sunbae?”

Minho melihat ekspresi anak di hadapannya yang menjadi pucat, setelah itu ia menepuk bahu Taemin dengan agak keras, membuat anak itu meringis sedangkan Minho tertawa. “Aku bercanda.”

“Jadi kapan bisa mulai?”

“Hmm, ini agak sulit. Kautahu jadwalku agak padat, terlebih untuk latihan,” ucap Minho sambil menggaruk dagunya dengan telunjuk dan terlihat berpikir agak keras.

“Apa kau benar-benar sibuk?” tanya Taemin terlihat begitu berharap dan sedikit kecewa.

“Tidak juga.” Minho menggendikkan bahunya. “Aku punya banyak waktu. Eh, tidak terlalu banyak, tapi cukup mengajarimu beberapa jam sehari.”

Taemin sedikit merengut sebal, ia tahu lelaki di hadapannya ini mempermainkannya, atau kau bisa katakan bercanda di saat yang kurang tepat, di saat Taemin terlihat sangat serius.

“Kau sangat manis untuk ukuran seorang lelaki, kautahu?” ucap Minho sambil melihat wajah Taemin lekat-lekat lalu tertawa kecil. “Kau sangat imut,” lalu bicara dengan nada gemas yang dibuat-buat.

Taemin mendelik dan mendengus. “Jadi kita bisa mulai hari ini?” tanya Taemin yang mulai muak sendiri dengan kata-kata basa-basi Minho.

“Tidak,” Minho menjawab cepat, terlalu cepat bahkan.

Alis Taemin mengerut dan menerka, “Sibuk? Ada latihan lagi?”

“Tidak, latihannya baru saja selesai.”

“Lalu, ada acara?”

“Tidak, hari ini aku free.

“Oke, berhentilah membuatku menebak, Sunbae.”

“Tentu saja karena kakimu, dan juga …,” Minho berhenti bicara, menggantung kalimatnya.

“Juga?”

“Karena aku tak tahu namamu, tentu saja,” lanjut Minho santai.

Taemin menepuk keningnya keras lalu meringis lucu. “Mian. Lee Taemin imnida,” ucapnya dengan semangat seperti biasa.

“Baiklah, Lee Taemin—anak imut yang berwajah seperti perempuan—kau tidak bisa mengikuti latihan karena kakimu. Aku tahu itu cukup serius. Terlihat sekali dari bagaimana kau berjalan. Sudahlah, sembuhkan dulu lukamu.”

“Tidak, aku tidak mau. Mungkin butuh waktu lebih dari seminggu menunggu kakiku benar-benar pulih. Aku tidak mau menunggu,” bantah Taemin tegas.

Minho menghela dan menggaruk kepala bagian belakangnya. “Jadi?”

“Kita latihan sekarang, bagaimana?”

“Biasanya aku tidak menanyakan ini kepada orang-orang yang ingin belajar basket dariku, tapi aku pikir, entah kenapa, kau punya maksud lain dengan olahraga. Sebenarnya apa yang membuatmu bersikeras berlajar, Lee Taemin?”

“Aku hanya ingin mengembalikan seseorang ke dalam kebahagiaannya, Sunbae,” jawab Taemin begitu yakin namun terdengar sendu.

“Bagaimana caranya?” tanya Minho mulai merasa penasaran.

“Jika aku bisa bermain dengan baik, maka dia akan bermain denganku, permainan yang sungguh-sungguh, yang membahagiakan. Aku tahu aku payah, karena itu dia tidak pernah mau bermain basket denganku, terlebih setelah aku jatuh kemarin. Itu terlalu memalukan untukku.”

Minho tertegun sebentar lalu bertanya dengan nada serius. “Kim Jonghyun?” tebak Minho membuat mata Taemin membulat.

“Ba-bagai—“

Minho sudah tahu jawabannya dan segera bertanya lagi, “Kau menyukai basket?”

“Aku mengerti basket, meski aku tak berbakat atau bisa memainkannya dengan baik. Tapi jika, Sunbae, bertanya aku suka atau tidak, aku akan mengatakan suka,” aku Taemin jujur, tetapi merasa rendah diri. Terdiam dalam tundukkannya.

“Kita bisa memulainya besok.”

Taemin mendongak dengan berbinar. “Jeongmal?”

Geurae. Tapi mulai besok panggil aku hyung, oke?”

“OKE!” jawab Taemin mantap dan penuh semangat.

%%%%%%

Seorang gadis sedang terpekur di depan meja belajar yang terletak tepat di hadapan sebuah jendela kaca satu daun yang dibuka tirainya. Gadis itu tampak sangat serius, benar-benar serius hingga gurat-guratnya memenuhi dahi, alis yang menyatu, tatapan yang tajam, gigi rapi yang menggigit bibir bagian bawah dan tangan yang terus berkerja tanpa mengenal jam. Gadis itu terus menekuri selembar kertas di atas meja belajarnya yang diterangi sebuah lampu berlajar lipat yang berbentuk panjang, meski entah sudah ke berapa kalinya, sudah begitu frustasinya ia membuangnya sia-sia ke atas sebuah ranjang sampah plastik di samping meja hingga penuh, hingga tidak muat lagi untuk menampung lemparannya dan berserakan di sekitarnya.

Tok, tok, tok!

Dan dengan sekejap suara dari belakangnya mengganggu konsentrasi. Ia berbalik bersama kursinya dan mendapati sebuah kepala melongok ke dalam dengan tatapan teduh yang meminta perhatian. “Boleh aku masuk?”

Gadis itu terdiam sebentar, melihat jam, lalu mengangguk meski tak beranjak seinci pun dari kursinya, meski lelaki itu sudah duduk di tepian ranjang sederhana miliknya yang berwarna merah muda. Di sana ia memerhatikan orang itu, yang terlihat tertekan dan terlalu diam.

“Kau mau bicara sesuatu padaku?”

“Kau sedang apa?” Ia malah melontarkan pertanyaan.

“Menulis sesuatu,” jawabnya singkat saja.

“Apa?”

Gadis itu mendesah. “Surat.”

Lelaki itu terdiam sebentar lalu berkata, “Surat cinta?”

“Kau terlalu mengenal diriku, Oppa,” serunya sambil mendesah.

Lelaki itu adalah Choi Minho, kakak dari Choi Sulli. Saudara yang menyukai orang yang sama, namun dengan pengertian yang berbeda. Mungkin karena perasaan itu juga Minho menjadi sangat tertekan seperti sekarang. Ia melempar dirinya ke atas ranjang dan menatap atap yang berwarna putih dengan menerawang. “Jonghyun Hyung, ya?”

Sulli mengangguk.

“Jonghyun,” ulang Minho dengan nada tertekan, menatap semakin menerawang, lalu mendesah dengan berat.

Sulli mulai memutar kursi miliknya ke kanan dan ke kiri, memainkannya sambil terdiam sebentar lalu memanggil kakaknya, “Oppa.”

“Hmm.”

“Apa menurutmu dia benar-benar gay?” Minho berhenti menatap atap dan beralih kepada wajah adiknya yang terlihat gelisah. “Apa kata orang-orang itu benar? Apa yang kaulihat itu benar?” lanjut Sulli.

“Kenapa kau mempertanyakan ini lagi?”

“Karena …, karena Krys melihat Jonghyun Oppa membopong seorang laki-laki. Omong-omong, seperti apa bentuk fisik dari orang itu? Dari orang yang dici …. Huh, menyebutkannya saja membuatku marah,” gerutu Sulli pada akhirnya.

“Kenapa kau ingin tahu?”

“Kau sudah tahu jawabannya, kan? Bukankah sudah sangat jelas di wajahku?” balas Sulli dengan wajah kesal.

Minho bangun dengan cepat, melipat kedua kakinya di atas kasur Sulli dan memeganginya, menatap adiknya dengan peduli. “Bagaimanapun …, bagaimanapun orang-orang, terkadang salah paham bisa saja muncul. Terkadang apa yang terlihat belum tentu kebenarannya. Mungkin aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, tapi aku pun tidak benar-benar yakin dengan mataku. Bukan karena mataku berubah rabun dengan aneh waktu itu, tetapi …, tetapi rasanya itu sangat mustahil. Aku kenal Kim Jonghyun. Aku kenal dia cukup baik, meski tak terlalu lama. Aku …, kami seharusnya tak melihat hal itu,” Minho berkata dengan penuh rasa bersalah dan merasa sesak di saat yang bersamaan.

“Sudah kubilang ini bukan salahmu,” bantah Sulli cepat.

“Jadi, apa suratnya sudah selesai?” Minho mengalihkan.

“Tentu saja belum. Aku tidak bisa menyelesaikannya dengan cepat karena aku masih merasa terganggu.” Sulli terdiam sebentar, menyadari pemikirannya sendiri. “Ya, mungkin karena perasaan itu aku tidak bisa menyelesaikannya,” ucap Sulli sambil melirik ke arah sebuah kertas berwarna merah muda yang ia biarkan di meja.

“Aku berharap kau sukses.”

“Aku tidak yakin,” jawab Sulli, tetapi Minho tidak membalas atau membantah karena ia juga merasa begitu.

%%%%%%

Jonghyun duduk di kursinya seperti biasa, diam, tenang, sunyi. Tidak! Tidak begitu. Ia tidak diam, kakinya selalu bergerak. Ia tidak merasa tenang sama sekali, hanya terlihat seperti itu, tapi tidak begitu. Ia gelisah, terlalu gelisah hingga ia sama sekali tak bisa berkonsentrasi atas bacaannya. Akhirnya, setelah beberapa menit berlalu ia menyerah dengan sendirinya, menutup buku dan melihat arloginya dan mendesah muram. Sekarang matanya bergerak liar seperti mencari sesuatu, tapi ia justru menahan dirinya untuk mencari, hanya berharap apa yang ditunggunya datang, persis seperti beberapa hari yang lalu. Persis, tapi kali ini tidak, ia benar-benar tidak tahan dengan perasaannya sendiri.

Ia meninggalkan buku yang terus saja berusaha ditekurinya tadi, yang selalu dijadikan alasan atas kesibukannya, yang menjadi alasan atas setiap orang yang memerhatikan, atau alasan bahwa orang-orang itu terlalu berisik untuk konsentrasinya, atau membuat alasan yang sangat kekanakan untuk tidak mengacuhkan seseorang yang mendampinginya. Sekarang, ketika semuanya menghilang, maka alasan itu pun tak ada lagi gunanya. Tak akan berarti apa-apa ketika perasaannya sendiri berantakan.

Mungkin saja kesepian bisa dijadikan alasan, tapi Jonghyun terlalu pintar untuk menyadari perasaannya sendiri, bahwa bukanlah kesepian yang paling mengganggunya, tetapi rasa rindu yang semakin meninggi seperti gunung berapi yang ingin meletus sekarang. Jadi, ia pergi. Ia harus mencari orang yang ia rindukan, meski itu berarti ia harus berada di antara orang-orang yang memandanginya dengan benci dan penuh rasa jijik.

%%%%%%

“Ya, seperti itu. Drible seperti itu. Kau sudah banyak kemajuan,” seru Minho seraya memperagakan drible-nya sekaligus memerhatikan drible buatan Taemin.

Taemin tersenyum ceria, tampak bahagia dan puas. “Benarkah?”

“Ya, sekarang lebih lues. Nah,” ucapnya kemudian segera berlari membawa bola ke dekat tiang ring dan berdiri di sana sambil terus men-drible. “Hei, sekarang coba ambil bola ini dariku.” Tiba-tiba saja Minho membuang bola miliknya dan dengan gesit mengambil bola Taemin dengan sangat mudah, seperti seorang lelaki yang mengambil permen dari seorang bayi.

Taemin sebenarnya agak kaget, tetapi ia merasa tertantang. Di tengah lapangan mereka bermain dengan gembira, Taemin yang semangat merebut sedangkan Minho tak kalah semangat untuk mempertahankan. Mereka terkadang tertawa, bahkan diselingi gurau. Beberapa kali percobaan Taemin selalu gagal, hingga entah percobaan yang ke berapa kali ketika peluh mulai memenuhi seluruh tubuh, terutama dahi, tiba-tiba saja sang bola lolos dari tangan mereka, ketika Taemin hampir merebutnya. Mungkin sang bola sudah jengah diperebutkan seperti itu, ia pergi saja, memantul dan menggelinding ke tepi dan pergi ke pintu besi. Pintu yang berada di sudut ruangan dan berwarna abu.

Saat itu mereka tentu saja berhenti, sedang mata mereka mengikuti arah sang bola yang kabur hingga didapati mereka sebuah sosok yang tengah menegang amarah di ambang pintu yang terbuka lebar, berdiri sambil mengepal tangan, menusuki mereka dengan tatapan tajam, kemudian mendengus meski mereka tak bisa mendengarnya.

“Hyung,” gumam Taemin, kemudian tersenyum. Nampaknya anak itu tidak mengerti apapun.

Sedangkan di tempatnya, di dekat Taemin—Minho justru menegang, tampak takut dan khawatir. Lelaki itu memilih diam dan tak berkata, bahkan tak berani membalas tatapan kejam Jonghyun yang mengarah padanya.

“Hyung, kemarilah! Ayo, kita main basket bersama!” serunya, tersenyum semakin lebar dan berniat berlari menghampiri Jonghyun dengan semangat meski masih pincang.

Tetapi Jonghyun berjalan sambil mengantongi kepalannya di saku celana dan berjalan dengan raut dingin yang biasa ia tampakan, bahkan dibubuhi dengan gerakan kepala yang angkuh, mendongak seperti raja. Berjalan dengan Minho sebagai perhatian—seluruh perhatian—bahkan melewati Lee Taemin dengan tidak peduli, membiarkan anak itu terdiam di tempat untuk merasa kecewa dan Jonghyun berdiri tepat di hadapan Minho yang tengah berwajah sendu.

“Apa yang kaulakukan?” tanya Jonghyun dingin.

“Hyung, a-aku—“ jawab Minho dengan takut.

“Apa kau buta? Matamu kaujual ke tukang loak, huh?” ejek Jonghyun marah.

“Aku …, itu karena ….”

“Kau membiarkan Taemin berlatih basket dengan kaki begitu? Kau tak pakai kepalamu?” Kali ini Jonghyun terlihat sangat marah, sangat marah hingga nada kalimatnya sangat tinggi dan penuh tekanan. Mata yang melotot dan tangannya mendorong bahu Minho hingga terdorong ke belakang dan terjatuh, meski begitu Minho tetap tak berani menatap Jonghyun.

“Hyung!” Taemin telah tiba dan dengan cepat anak itu menghampiri Minho, memegang kedua bahunya dengan peduli dari belakang, dan menatapnya dengan kata maaf.

Minho tetap tak berani mengangkat wajah dan kali ini bahkan tak berani bicara.

“Hyung!” kali ini Taemin menatap Jonghyun dengan tatapan kecewa bercampur marah. “Apa yang kaulakukan?” bentaknya.

“Apa yang kaulakukan!” tapi Jonghyun berteriak lebih keras, hampir meledak. “Jadi sekarang kau membelanya, Tae? Huh? Sekarang kau lebih suka bersamanya daripada aku?”

“Tidak, Hyung. Tidak. Aku tidak begitu,” balas Taemin sedih.

“Lalu apa? Apa kau begitu ingin bermain permainan sampah ini dengan mengorbankan kakimu?”

Tiba-tiba saja Minho mendongak dengan mata tajam. Tatapannya sudah berubah menjadi tajam, penuh kemarahan. Lelaki itu sekejap berdiri di hadapan Jonghyun. Menampakkan tubuh tinggi, tegap dan gagahnya. Berdiri tanpa takut. “Hyung!” serunya. “Kau boleh menghinaku, tapi kau salah jika memarahi Taemin, dan kau tak boleh menghina basket!”

“Omong kosong. Omong kosong!”

“Hyung, sebenarnya kenapa? Sebenarnya ada apa? Kenapa kau sangat membenci basket? Kenapa kau tak mau cerita padaku?” raung Taemin sedih, kali ini anak itu menangis dengan bahu bergetar. Anak itu mengeluarkan seluruh permatanya di pelupuk dan menyungai, terisak dan menahan sesak.

Jonghyun terdiam, lalu pergi begitu saja.

“Hyung!” panggil Taemin, biar begitu Jonghyun masih berlalu, jauh dan hilang di balik pintu, meninggalkan Taemin yang semakin sedih, berjongkok meringkuk dan menangis semakin keras, sedang Minho hanya diam di tempatnya, merasa bahwa semua ini adalah kesalahannya. Entah perasaan mana yang harus ia dahulukan, marah, sedih, atau bersalah, ia bahkan tak bisa tahu.

%%%%%%

Sulli menatap sebuah amplop berwarna merah muda miliknya dengan gelisah pada sebuah lorong di dekat tempat sampah. Tempat itu sebenarnya tak terlalu banyak orang yang berlalu lalang. Orang yang datang dan pergi masik bisa dihitung oleh jari jemari tangan. Kala itu mereka—Sulli dan Krystal—hanya sedang berdiri di sana, menunggu, atau justru mencoba mulai berjalan ke sebuah kelas yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka sekarang, tapi perasaan Sulli yang tak keruan justru membuatnya gugup setengah mati, keberanian yang ditumpuknya dengan susah payah tiba-tiba saja hilang entah ke mana.

“Ayolah. Kau harus memberikannya, Sulli.”

Sulli menggeleng. “Aku pikir aku ….”

“Kau mau apa lagi? Kau butuh apa lagi?” seru Krystal dengan jengkel karena terlalu lama menunggu.

“Aku hanya …, aku hanya merasa …, sedikit takut. Sedikit saja. Tidak apa-apa, kan?” tanya Sulli dengan nada khawatir di wajahnya.

Krystal mendesah, agak merasa terlalu berlebihan dengan seorang Sulli yang sudah dikenalnya hampir lima tahun, dan sampai sekarang belum juga berubah, tetap ceria dan berani. Orang yang tidak takut dengan kegagalan seperti ini, hanya butuh beberapa waktu untuk menguatkan hati. Krystal diam-diam tersenyum simpul sambil melihat Sulli yang diam-diam mengambil napas dan membuangnya beberapa kali, hingga akhirnya dengan tegas berkata, “Aku siap. Hwaiting!” seru Sulli seraya mengepal tangan di dada.

Senyum Krystal semakin membuncah dan dia mengulangi dengan tak kalah semangat, “Hwaiting! Aja!”

Sulli mengangguk mantap, penuh kayakinan dan keberanian, meski tak punya rasa percaya diri yang besar atau harapan besar untuk percaya ia akan dicintai. Ia hanya ingin mencoba dan memberitahu orang itu perasaan yang sudah dipendamnya selama beberapa bulan yang terasa lama. Ya, surat itu tak berisi tentang permintaan sebuah hubungan yang ia inginkan, sesuatu yang hampir sangat tidak berani dibayangkannya, meski diam-diam berharap, sedikit. Jadi, sekarang ia mulai berjalan dan meninggalkan Krystal yang berdebar di tempat, meski Sulli juga merasakan debaran yang sama, debaran yang sangat mengganggu. Tetapi, sayangnya, bahkan ia belum juga keluar dari lorong dan meninggalkan Karystal lebih dari sepuluh meter ia sudah bertabrakkan dengan seseorang di sebuah tikungan. Suratnya jatuh tetapi ia tidak apa-apa. Tidak, aku rasa gadis itu bukan tidak apa-apa.

“Hei, kau berjalan tidak pakai mata?” teriak seseorang yang tampak luar biasa marah, mata yang merah dan dada yang kembang kempis.

Mungkin jika itu orang lain Sulli akan balas berteriak, atau bahkan mengamuk dan mencakar orang di hadapannya, tetapi tidak, ia tidak bisa jika itu Kim Jonghyun. Bagaimana bisa marah? Ia terlalu menyukainya. Ia bahkan tak bisa bergerak untuk sekarang. Bahkan untuk beberapa saat paru-parunya sudah berkerja tidak normal. Napasnya tertahan di kerongkongan, dan jantungnya serasa melompat, berontak untuk keluar dari rongga. Tapi, semuanya berakhir begitu saja ketika Jonghyun menghentikan gerutuannya dengan, “Dasar gadis bodoh!” makian yang sungguh, sungguh membuat jantung gadis itu seakan berhenti bekerja pada detik itu juga.

Jonghyun yang puas mengomel dan memaki justru berlalu begitu saja. Semua yang ia lakukan sama sekali tak memengaruhi perasaannya, emosi murkanya, kegilaan dan kewarasannya. Ia berlalu dengan langkah cepat dan deru napas yang sama cepatnya, meninggalkan Sulli yang sekitar tiga detik kemudian berlari menahan tangis, melupakan suratnya.

To Be Continued ….

©2013 SF3SI, Lee Hana

leehana-signature

Officially written by Lee Hana, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

//

12 thoughts on “Finding The Lost Smile – Part 2

  1. Whoah😀 Pasti Jjong itu sebenernya suka sama Taem.. Trus yg ditunggu Jjong itu Taem kan? /Sotoy
    Sulli pasti ngerasa jleb bgt di bilang Jjong gitu :3 Jjong gitu bgt sih :3 Kan salian Sulli :3 #plak
    Typo hampir gaada.. /Applause/
    Next ya Hana Eon/? ^^ Aku uda baca part satu tp baru sempet komen yg part dua ini xD Maafkan diriku /sungkem/
    Uda segitu aja ngocehnya xD Ditunggu next partnya ^_^

      1. hahaha, iya, Jong demen ama Tetem. cuma …. #masihrahasia
        Poor, Sulli.
        nggak papa, asal jangan lupa aja di nest partnya koment juga. hehehe
        oke, sabar tunggunya, ya?

  2. FINALLY!!!
    seneng akhirnya ini part dipost juga, aku udah berguling nungguin ini cerita kenapa nggak nongol-nongol
    dan begitu tau udah masuk draft rasanya ugh

    Aah, jadi ini ceritanya dulu si jjong anak basket gitu ya *hah aku ga kebayang si boncel main basket*
    trus ada hubungannya sama minho, tapi minho kenapa bisa gatau taem ya
    beda friend circle gitu ya mungkin
    dan khu khu khu I do love the part angry-jjong
    entahlah kenapa muka sengak itu selalu pantas buat hal-hal enggak baik
    *sumpah partner macam apa ini, aku sudah jahat banget sama jjong*

    oiya aku nemu beberapa typo di sini, mungkin ada yang kelewat juga sih
    frustasi, it should be frustrasi
    drible, double l
    dan lues itu ditulisnya luwes
    dan istilah menyungai itu aku barutau lho, biasanya yang kubaca itu menganak sungai haha

    sem, semangat!
    makasih hana atas ceritanya
    maap ya kalo komenku kepanjangan
    ditunggu part selanjutnya ^^

    1. rasanya ‘ugh’???

      yup, dia anak basket aslinya. tapi ….
      itu juga bener, tapi lebih tepat karena mereka beda tingkatan.
      hahaha, aku kira kamu seneng dia cemburu.

      oke, aku nggak terlalu suka baca novel indo, apalagi yang sad or melankolis. jadi agak terbatas kosakata yang berhubungan dengan kesedihan. may be. hehehe. oke, i’m teach.🙂

      semangat!
      yuk, sama-sama.
      nggak panjang, kok, cuma kurang panjang. hehehe #mulaisinting
      oke, thx!

  3. akhirnyaaaaaa
    aku nunggu banget kelanjutan ff ini
    sejujurnya aku ngerasa pendek author hehehe mungkin karena terlalu semangat bacanya sampe waktu baca tulisan tbc jadi sedih banget u,u
    tp sumpah aku suka banget gaya penulisan author entah kenapa bikin kepengen lanjut trs bacanya kkkk
    aku penasaran sama minho dan jjong yg seharusnya ga diliat mereka apa ya?
    salah minho apa ya? dan minho kayak takut banget sama jjong
    aku sempet kaget waktu duo bersaudara choi punya perasaan yg sama buat jjong
    eh minho jg suka sama jjong gitu?
    tapi ternyata perasaan dalam arti yg berbeda kekeke
    jjong cemburu ya itu sebenernya ngeliat taemin sama minho ketawa tawa gembira gitu hihi
    suka banget waktu jjong ngmg sama taemin yg intinya “km lebih suka sama dia ya skg daripada sama aku?” kkkk
    kasian ya sama sulli dia datang di saat yg tidak tepat
    sabar ya sul (?)
    semangat author buat ngelanjutin ff nya ^^
    ditunggu banget >o<
    oya nama kita ternyata sama ya ^^

  4. gaya penulisan gado-gado yang kayak novel terjemahan ini suka? hahaha, alhamdulillah, ya. #jadisyahrini
    masih banyak misteriii.
    ketipu!
    syukur klo suka. hehehe
    but, ehem, kita liat nanti, deh.
    iya, samaaa! thx, ya, Hana. #kok kedengarannya naeh manggil nama sendiri #abaikan

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s