The Cruel Marriage – Part 7

Title : The Cruel Marriage

Author: Chinchi a.k.a Kim Sujin + ReeneReenePott

Cast:

  • Choi Minho
  • Jung Soojung
  • Choi Younghyeon (covered by Shanon William)
  • Bae Suzy

Minor cast:

  • Shim Syerin (OC)
  • Kim Heechul
  • Kim Soohyun
  • (Other still hidden in the story)

Genre: Romance, AU, sad, a little bit fantasy.

Rating: PG-16

Length: Sequel

Disclaimer: The story pure belonged to me, but all of the casts belong to themselves. Don’t be a plagiator or reblog my fanfic without permission–chinchi–

RESPONSE PLEASE and HAPPY READING!!

When the truth buried deep inside the dark,

When pieces of memories are attacking back, revealing everything…

__

Rambut gelombang cokelatnya tergerai lepas menghiasi punggungnya yang sedang memeluk guling di atas ranjang. “Krystal unnie? Jung Soo Jung? Mommy?” gumaman kecil terus keluar dari bibirnya. Ingatannya tidak lemah, otaknya tidak telmi dan pendengarannya tentu tidak salah. Jung Soojung, wanita yang dihindari ayahnya, yang mempunyai anak bernama Choi Younghyeon. Dan Krystal Yoon, yang wajahnya mirip seratus persen dengan Soojung itu.

“Krystal is my mum? But mum’s name is Soojung! Who is she? Her twin?” Hyeon berdecak lalu bangkit dari ranjangnya, berjalan kecil menuju rak buku dan mengambil sebuah notes pink dengan sampul kelinci putih berpita cokelat muda. “At least if she is my mum, she must know me,” Jemarinya dengan lincah mengambil pensil dan membuka notesnya, menggoreskan kata yang tersirat diotaknya.

More clues and strange fact. What I’ll found next?

I must know the truth before the wedding…

__

Seorang pria berjas abu-abu tengah asyik menyesap americano-nya sambil melampar pandangan keluar jendela cafe yang ada tepat di sampingnya.  Ia kembali menautkan tangannya sementara otaknya mulai menerwang jauh. Memburamkan pikirannya, merilekskan otot-otot pikirannya sejenak. Wajahnya nampak muda, namun tidak dengan gurat ekspresinya. Seolah ia sudah menempuh bertahun-tahun kehidupan pahit dan masih belum menemukan jalan keluar. Pria berusia dua puluh delapan tahun itu masih terhanyut dalam lamunannya ketika suara pria menyentak pendengarannya tiba-tiba.

Hyeong,” pria berambut cepak yang baru daja menarik kursi dan duduk di depan pria berjas abu-abu itu memasang cengirannya. Ia nampak beberapa tahun lebih muda daripada pria berjas itu. “Minho hyeong, ureun manieyo?”

“Ah, neo, Soo Hyun-ah. Baru datang?”

Laki-laki yang memiliki senyum pemikat wanita itu mengangguk. “Tiga hari lalu? Ya, seingatku sih tiga hari lalu,” jawabnya yang membuat Minho mendongak.

“Tiga hari? Kau tidak memberitahu Choi ahjussi dan ahjumma? Mereka menunggu kau kembali mengisi kamar di dekat kamarku itu,” jawab Minho sambil terkekeh kecil. “Tinggal di mana kau selama ini?”

“Di kantor,” jawab Soo Hyun enteng. “Aku punya alasan yang kuat untuk lembur dan bekerja sepanjang hari. Tidak sepertimu, hyeong. Kudengar darimu kalau Younghyeon ngambek padamu?”

“Maksudmu, aku apa?” mata Minho menyipit. “Ya, dia ngambek. Soal Soo Jung,” jawabMinho pelan dan kembali menyesap americano-nya. Soo Hyun sangat mengerti siapa Soo Jung, tapi sayangnya pria muda berkharisma itu tak tahu seperti apa rupa Soo Jung. Ia hanya mendengarnya dari berita yang mengalun di udara. “Katamu kau juga akan mengenalkan kami seorang gadis. Mana dia?”

“Dia sedang bekerja. Nanti malam akan kubawa,” ia menjawab Minho dengan senyum lebar. “Jadi kau masih belum menemukan pengganti Soo Jung? Lalu mau dikemanakan Suzy-mu yang manis itu?”

“Oh ya, kau jangan kaget nanti. Di rumah seperti tempat  pengungsian, ramai sekali,”

“Memang semua saudara kita berkumpul?” alis Soo Hyun naik hingga beberapa mili. Minho mengangkat ujung bibir kirinya, nampak tersenyum malas.

“Ada Suzy, dan dua orang rekan kerja Appa. Jung Jessica dan Krystal Yoon. Kuberitahu kau dahulu, nanti kau bisa bersosialisasi dengan mereka,”

“Tunggu,” alis Soo Hyun kini menjadi satu garis. “Yeojadeul? Banyak yeoja? Wah,” Soo Hyun menghembuskan napasnya tak percaya. “Baiklah, hyeong. Kau akan kutemani sebagai namja di sana, kkk~”

“Diam kau, Soo Hyun. Pria sepertimu tak pantas tertawa seperti itu,” jawab Minho agak sinis.

__

“Paman… kau tak pernah bilang kalau Soomin punya kembaran,” Suzy memasang raut wajah dingin pada pria paruh baya di hadapannya. Mereka berdua tengah Pria itu mendesah keras, lalu menghujamkan tatapan tajam pada Suzy.

“Dia sudah meninggal,”

Jinchayo? Tapi bagaimana mungkin ia tinggal di sebuah panti asuhan sampai berusia enam belas tahun?” cerca Suzy lagi. “Ceritakan kepadaku tentang latar belakang keluarga angkatku,”

Ne, kau benar. Keluarga Jung mempunyai anak kembar. Tetapi ada yang menculiknya dan membuangnya. Eomma-mu sangat terpukul sehingga appa-mu harus berbohong kalau dia mati,”

“Dan.. yang menculiknya adalah kau, ya kan?”

BRAK!

“Diam kau Bae Suzy. Kalau aku tidak menculik anak sialan itu, bagaimana mungkin kau bisa hadir di keluarga Jung, hah?!” Tuan Jung Jinggo menatap wanita muda itu tajam. “Sekarang, Suzy-ah, kau tidak usah mengurusi masa lalu keluargamu. Hanya lakukanlah tugasmu untuk membalas perlakuan keluarga Choi terhadap keluargamu itu!”

“Tapi ahjussi…”

“Kubilang, tidak usah membahas mereka lagi, Nona Baek! Lakukan tugasmu dengan benar, atau menyesal seumur hidup,” Jung Jinggo menghisap lagi cerutunya dan melempar pandangan dingin pada Suzy. Sementara wanita muda itu hanya bisa mengangguk patuh. “Jadi, bagaimana persiapan pernikahanmu?”

“Sudah hampir sempurna, ahjussi. Mungkin akan dilaksanakan dua minggu lagi,”

Sebuah senyum licik terukis di bibir paman Suzy. “Tak lama lagi, eh? Kau bisa menghajar keluarga itu habis-habisan,”

 Suzy hanya bisa menelan liurnya dengan leher tercekat. “Sudah tentu,”

__

“Sudah kubilang, haraboeji pasti akan ngamuk kalau kau melalaikan tugasmu. Meski kau menjalankan misi lain yang penting, tapi kau jangan menggampangkan perusahaan. Aish, kemarin ada rapat penting dan aku tidak pandai bicara sepertimu Krystal!” Krystal memutar bola matanya malas mendengar cerocosan Jessica yang terdengar seperti rentetan kereta api itu. Gadis cantik itu hanya menyenderkan punggungnya di kursi empuknya di kantor sambil memainkan pena mahalnya.

“Tapi nyatanya kau sukses, kan unni? Sudahlah, jangan bahas hal itu lagi,” kata Krystal malas. Jessica melipat tangannya di depan dada dan memandang Krystal jengah.

“Ya, sukses, tapi ini tidak akan berlangsung selamanya Jung Krystal!—“

Tok

Tok

Tok

Ucapan Jessica terhenti ketika terdengar suara ketukan pintu. Krystal mengangkat sebelah alisnya dan menegakkan tubuhnya. “Masuk,”

Pintu terbuka dan nampaklah sekretaris Krystal. “Permisi, saya ingin mengingatkan kalau Co-Director Jung ada janji makan siang dengan direktur Loone, Kim Jae In. Tapi karena beliau tidak dapat hadir, maka yang menggantikan adalah putranya, Kim Myungsoo,” Krystal menyeringai senang lalu memutar kepalanya menatap Jessica.

“Bukan Tuan Kim, eh? Sicca unni, kau harus ikut aku. Oke?” Krystal tersenyum lagi. Jessica memutar bola matanya.

“Aku bukan asistenmu, Nona Jung!” seru Jessica. Krystal tetap nyengir meski ia agak meringis mendengar suara Jessica yang mulai melengking merdu.

“Yahh… unni. Tolonglah, kau kan lebih lama di sini daripadaku. Kau harus membantuku nanti, karena jujur saja kau yang pernah bertemu dengan perusahaan Loone. Ayolah!” rengek Krystal. Jessica berdecak lalu mengangguk malas. “Baiklah. Nara unni, tolong siapkan mobil ya,”

Sekretaris Krystal tersenyum dan membungkuk. “Arasseumnida,”

Unni, bagaimana kalau keluarga Choi tahu margaku bukan Yoon tapi Jung?” Krystal memiringkan wajahnya nampak seperti sedang berpikir. Jessica mengibaskan tangannya lalu menarik lengan Krystal.

“Kau jangan pikirkan itu dulu. Pikirkan perusahaan yang harus kau atur sementara ini.” Jessica menyambar dompetnya sebelum langkahnya terhenti. “Hei, bagaimana dengan Younghyeon? Dia membenci appa-nya, kan?”

“Itu hanya ambekan anak kecil biasa,” Krystal mengangkat bahu. “Yang kupikirkan sekarang adalah membuat mereka berdua rujuk kembali,” ujarnya enteng yang langsung membuat mata Jessica melotot.

“Apa? Membuat mereka rujuk? Bukankah harusnya kau mempersengit permusuhan mereka, hah?” tanya Jessica tak mengerti. Krystal mendesah lalu melangkah duluan mengikuti Jessica.

“Sebenarnya, membuat mereka rujuk adalah senjataku. Aku akan mendapatkan hati Younghyeon yang sudah mendamaikan ia dengan ayahnya, dan nanti dia akan menghadapi kenyataan pahit yang membuatnya membenci appa-nya lebih dalam lagi. Di saat itu barulah aku menawarkannya untuk pergi dan kembali ke keluarga Jung. Jadi, akan nampak kalau itu bukan ulahku, tapi kemauan Younghyeon sendiri, yang pastinya akan menguntungkan kita,”

Jessica tersenyum puas mendengar rencana Krystal. “Kau benar. Haha. Cara itu bisa lebih baik. Sekarang, ayo kita makan siang! Aku sudah benar-benar lapar!”

Bip bip!

Krystal meronggoh ponselnya ketika ia sedang di seret Jessica keluar. “Yoboseyo?”

“Krys? Ini Soo Hyun…”

__

Granny~!” suara ceria Younghyeon langsung menyerbu kediaman keluarga Choi bersamaan dengan derap langkah semangatnya. Di belakang gadis cilik yang sedang menggeledah ruang tamu itu, Krystal dan Jessica perlahan masuk ke dalam rumah.

Annyeonghaseyo, kami pulang,”

Omo~ cucu halmoeni datang. Bagaimana sekolahmu Hyeonnie?” Nyonya Choi yang sengaja keluar begitu mendengar suara Younghyeon menyambut Younghyeon dalam pelukannya. Tatapannya berpindah pada dua wanita yang ikut masuk. “Kalian yang menjemputnya?”

Ne, ahjumma,” sahut Jessica sopan, sementara Krystal hanya mendukungnya dengan senyuman. Lagi-lagi Nyonya Choi merenyit menatap Krystal, tapi berusaha untuk tak diindahkannya perasaan itu.

“Minumlah teh bersama kami. Ada yang perlu dibicarakan,” sahut Nyonya Choi tenang. “Kkaja, Hyeonnie,” ajaknya pada Younghyeon yang langsung mengangguk dan mengikuti neneknya.

Di meja makan ternyata sudah tersedia beberapa cemilan sore, dan beberapa cangkir teh, yang kosong maupun yang sudah terisi. Nyonya Choi mengarahkan Younghyeon untuk duduk di sampingnya, sehingga gadis cilik itu berada diantaranya dan Suzy yang sedang menyesap teh dengan anggun. Jessica dan Krystal akhirnya mengambil tempat duduk tepat di depan mereka.

“Ada masalah apa, ahjumanim?” tanya Jessica lagi. Nyonya Choi menyesap tehnya sekali, lalu menatap kedua wanita itu bergantian.

“Nanti akan ada makan malam untuk menyambut sepupu Minho yang akan pindah ke sini,” Nyonya Choi berkata dengan nada setenang mungkin. “Kalian dapat menghadirinya?”

Krystal menyadari kalau Suzy menatap tajam ke arahnya. “Tentu saja kami akan menyediakan waktu,” sahut Jessica. Tapi raut wajah Krystal berubah.

“Eung… mianhae, saya…” Krsytal membuka suara dengan ragu. “Saya ada acara, dan bertepatan dengan jam makan malam,”

Jessica melotot. “Kau ada acara apa, Krys? Kalau tidak terlalu penting, lebih baik tidak usah hadiri,” usul Jessica. Di otak gadis cantik itu tersusun rencana rapi untuk mengambil perhatian Younghyeon atau Minho.

Krystal hanya tersenyum gelisah. “Pacarku akan membawaku makan malam bersama keluarganya, unni. Aku tak mungkin menunda atau menolaknya, kan?”

“Jadi kau sudah punya pacar, Krystal?” tanya Nyonya Choi tajam. Krystal hanya mengangguk mantap.

Ne,”

__

Syerin merapikan syalnya sekali lagi, dan mematut dirinya di cermin untuk yang terakhir kalinya. Ia benar-benar ingin nampak berbeda hari ini. Setelah semingu, akhirnya Heechul mengajaknya keluar lagi. Yeah, dia sudah bosan berdiam dan berkutat dengan pekerjaannya. Pergi keluar dengan Heechul benar-benar suatu keberuntungan. Setidaknya, itulah yang sedari tadi ia pikirkan.

Ting tong!

Syerin terkejut ketika bel rumahnya berbunyi. Ia tak menyangka Heechul akan secepat ini—well, pria itu memang cepat dalam urusan berbenah, dan dia selalu nampak paling bersemangat bila keluar bersama Syerin. Gadis itu melangkah keluar kamarnya untuk membuka pintu, dan menyiapkan senyuman super cerahnya.

Set.

“Hai, Nona Shin. Saya datang untuk memberimu perhitungan dan pilihan,”

Syerin yang tidak menyangka hal ini akan terjadi hanya bisa mematung di depan pintu. Ia benar-benar tidak menyangka akan menemukan Tuan Jung—kakek Krystal—mengunjunginya, ditambah dengan raut wajah serius. Otak Syerin otomatis berputar lagi, ini pasti soal Krystal dan rencana balas dendamnya.

“T-tuan,”

“Tidak ijinkan saya masuk?” tanya Tuan Jung. Syerin menyingkirkan tubuhnya dan memberi jalan, dan setelah Tuan Jung sudah masuk ia menutup pintu dengan perlahan.

“Anda ingin minum apa, Tuan?” tanya Syerin basa-basi. Tuan Jung meliriknya sedikit.

“Teh saja,”

Tak lama Syerin dan Tuan Jung sudah duduk berhadapan di sofa ruang tamu Syerin. “Ada masalah apa Tuan datang ke sini?” Tuan Jung tersenyum miring.

“Tentu saja karena cucuku. Kau tahu siapa dia, kan?”

“Ya, tentu saja. Dia Soo Jung, kan? Kenapa?” tanya Hyerin lagi. “Anda takut saya akan menyadarkan Soo Jung?”

“Dia mengalami amnesia total, Shin Syerin aggashi. Dia tidak mungkin akan mengingat lagi kenangannya,” tukas Tuan Jung keras. Syerin tersenyum.

“Semua mungkin terjadi,”

“Keluargamu kepercayaan keluarga Jung selama puluhan tahun. Harusnya kau tahu kalau kau hanya perlu menunduk patuh pada kami!” seru Tuan Jung agak keras. Syerin membungkam mulutnya.

“Aku sudah berjanji untuk melindungi Soo Jung,” jawabnya. Tawa Tuan Jung meledak,

“Hahaha, apa? Kau pikir gadis lemah sepertinmu bisa melindungi Soo Jung?” tanya Tuan Jung meremehkan. Syerin mendongak.

“Mungkin aku tidak dapat melindunginya secara fisik. Tapi aku tahu apa yang dibutuhkannya. Tuan, saya mohon, Soo Jung belum bercerai, tidak ada surat perceraian mengenai mereka. Biarkanlah Soo Jung mengingat lagi, jangan tanamkan perasaan benci padanya! Dia harusnya tahu, kalau Younghyeon yang diasuh Minho adalah darah dagingnya!”

“Karena itulah, Soo Jung harusnya membawa anaknya pergi dari keluarga itu! Mereka keluarga yang kejam! Kau tidak ingat perlakuan mereka terhadap Soo Jung, kan?” cerca Tuan Jung. Syerin menggeleng.

“Aku ingat dengan jelas, Tuan Jung. Namun Choi Minho sangat mencintainya, begitu pula Soo Jung. Kau tega memisahkan pasangan suami istri yang saling mencintai?”

“Tidak ada cinta picisan seperti itu di dunia ini! Mereka harus bertahan agar bisa tetap hidup!” seru Tuan Jung keras. Syerin menatap Tuan Jung tak percaya.

“Apapun yang akan anda lakukan, Tuan, yang pasti saya akan membuat Soo Jung mengingat siapa dirinya lagi,” ucapnya dingin sembari menatap Tuan Jung dengan penuh keyakinan. Pria tua itu mengulum seringai licik,

“Lakukan saja, Nona Shin, yang pasti kau tidak akan pernah berhasil,” ujarnya sebentar sebelum berdiri dan melangkah keluar dari kediaman Syerin.

__

“Bukankah suruhanku pernah menyampaikannya padamu? Kau bisa menggunakan sesuatu yang kukirim padamu untuk membunuh Tuan Choi,”

AHJUSSI!” pekik Suzy nyaring. Raut wajahnya seolah tak menyangka, ponselnya ditempel di telinga. Matanya membelalak dan itu reaksi penolakan Suzy pertama kali pada pamannya.

“Tidak usah bereaksi berlebihan, Baek Sue Ji,” jawab pamannya diseberang dengan nada malas. “Kau cukup melakukan apa yang kusuruh, beres, kan?”

“Tidak akan! Aku tidak mau mengotori tanganku dengan darah, ahjussi!! Kau pikir dengan membantai mereka semua akan beres? Tidak, aku akan membuat mereka menderita tapi bukan dengan cara itu,”

“Diam! Dengar—“

“Lagipula, aku akan menghancurkan mereka setelah pernikahanku, bukan? Sekarang bukan saat yang tepat untuk bertindak seperti itu!”

“Jangan sok pintar kau Sue Ji! Hanya laksanakan perintahku tanpa banyak bicara!”

“TIDAK! Aku berpegang pada rencana awal, ahjussi, SETELAH PERNIKAHAN!”

“JANGAN MEMBANTAH, BAEK SUE JI!”

“Maaf, ahjussi. Aku tahu kau sangat sayang padaku, tapi aku tidak ingin mengotori tanganku dengan darah. Mereka punya hak hidup, ahjussi, aku hanya akan membuat mereka menderita merasakan kesepianku,” Pamannya tidak menjawab, sementara Suzy menghela napas pelan. “Aku akan menghancurkan mereka, paman, tenang saja,”

Tuut

Pamannya memustuskan sambungan telepon dengan sepihak.

“Suzy-ya?” suara lembut terdengar dari arah pintu kamar tidur Suzy. Suzy terkejut lalu berbalik, seketika matanya melebar melihat Nyonya Choi berdiri di ambang pintu dengan tatapan cemas.

Ne?”

“Apa ada sesuatu, sayang? Kudengar ada yang ribut dikamarmu,”

Wajah Suzy pucat seketika. Semoga saja Nyonya Choi tidak mendengarkan percakapan telepon itu. “A-aniya, eomonim. Aku hanya sedang kesal dengan chingu-ku,” karang Suzy gugup.

Geuraeyo? Kalau ada apa-apa bilang saja, Suzy,” Nyonya Choi tersenyum lembut lalu berlalu. Suzy balas tersenyum dengan kikuk.

“Aku akan menghancurkan kalian, Choi, tapi bukan dengan darah. Mungkin dengan membunuh itulah cara kalian, tapi tidak dengan caraku,” gumam Suzy.

“Aku mau tapi Krys unnie juga harus ikut,” suara cempreng nan menggemaskan Younghyeon terdengar hingga ke kamar Suzy. Gadis cantik itu mendengus mendengar suara yang membuatnya mual itu.

“Bukankah kita sudah berjanji untuk jalan-jalan berdua, Hyeon-ah?” tanya suara berat, yang Suzy yakini pasti Minho. Sebenarnya ia ingin sekali mendekati kedua orang yang sedang berbincang diluar kamarnya itu untuk menginterupsi mereka, tapi diurungkan niatnya itu. Sekali-sekali memberi privasi kepada ayah dan anak itu, bukan masalah, kan?

Sirreo! Aku ingin Krys unnie juga ikut! Kalau tidak, ya sudah tidak jadi!” wajah Younghyeon langsung merengut mendengar tanda-tanda penolakan dari ayahnya. Minho mendengus pasrah, lalu berjongkok mensejajarkan kepalanya dengan kepala Younghyeon.

Geurrae, ajak Krys unnie juga. Memangnya dia sedang tidak sibuk?” tanya Minho hati-hati. Younghyeon kembali memasang wajah imut-angkuhnya.

Ofcourse not, daddy! Don’t you know she did pick me up from my school? She is a cute unnie!” jawab Younghyeon lagi, Inggrisnya kambuh. Minho terdiam. Menjemput anaknya tadi? Untuk apa?

Really? Kenapa kembali berbicara bahasa Inggris, princess?”

Yeay! I’ll ask her to come with us, Dad!” tanpa menggubris kata-kata Minho, Younghyeon langsung kabur ke kamar Krystal yang berada di atas kamarnya. Minho hanya menatap punggung putrinya yang berlarian hingga hilangdari pandangan. Melegakan karena setidaknya putrinya kembali tersenyum padanya.

“Mau pergi jalan-jalan,chagi?” suara lembut mengusik Minho dari belakang. Minho tersentak, tidak sadar kalau sedari tadi ia berada di depan pintu kamar Suzy.

“Ah, ne, Suzy-ya, mau ikut?” tawar Minho agak tidak rela. Setidaknya ia sekarang telah bertunangan, bukan?

Anhi, aku masih harus membantu ibumu menyiapkan makan malam, ini sudah menjelang sore, kan?” tolak Suzy sambil tersneyum manis. Inilah saatnya ia mencari perhatian Minho. “Kau dan Hyeon sudah berbaikan? Syukurlah. Hati-hati ya,” Suzy tersenyum manis sambil menepuk bahu sebelah bahu Minho dengan sayang. Gadis itu masih tersenyum pada Minho sebelum melangkah ke arah dapur.

__

Krystal baru saja menutup pintu kamarnya, berencana untuk keluar sebentar ketika dilihatnya seorang pelayan membawa setumpuk dokumen dan sebuah taplak meja beludru berwarna cokelat. “Chogiyo, ahjumma,”

Pelayan itu berhenti lalu memutar tubuhnya menghadap Krystal. “Ne, aggashi?

“Benda apa itu?” tanya Kyrstal menatap dokumen dan taplak meja di pelukan pelayan itu.

Si pelayan terkejut tapi langsung tersenyum. “Ah, ini beberapa album foto Tuan Muda Choi yang diminta ditaruh di ruang kerjanya, sekalian mengganti taplak mejanya,”

Krystal mengangguk mengerti, terlintas sesuatu di otaknya. “Ah, ahjumma, boleh aku saja yang membawanya? Aku kebetulan ingin melihat-lihat,” Krystal berpikir mungkin ia akan menemukan sesuatu yang berbau saudaranya di ruang kerja Minho. Sebuah foto, mungkin?

Pelayan itu nampak bingung. “Ta-tapi, ruang kerjanya agak pribadi,”

Gwenchanna, aku hanya ingin melihat-lihat kok, bukan menggeledah,” ujar Krystal sambil tersenyum meyakinkan. “Atau ahjumma sekalian bersamaku?”

“Ba-baiklah,” akhirnya Krystal mengekori si pelayan hingga masuk ke ruang kerja Minho. Wangi cendana bercampur vanilla dan musk langsung memasuki rongga penciuman Krystal pertama ia masuk ke ruang kerja itu. Sang pelayan sibuk membersihkan meja, meletakkan dokumen dan mengganti taplak meja kecil yang ada di meja samping lemari, sementara Krystal hanya menatap berkeliling ruangan yang bernuansa cokelat kayu dan terkesan hangat itu. Tidak ada pendingin ruangan sama sekali, justru pemanas ruangan yang ada. Krystal berpikir mungkin Minho akan membuka jendela besar dibelakang meja kerjanya bila kepanasan.

Krystal melangkah maju mendekati lemari tinggi di sisi ruangan, agak dekat dengan meja kerja. Jemarinya menelusuri rangka kayu lemari itu, terfokus karena tidak ada benda pajangan yang menemani buku-buku tua di lemari itu. Jemari Krystal dengan jelas merasakan sesuatu ketika menyentuh lemari itu. Matanya berpaling menatap susunan buku usang yang rapi di lemari kayu yang disentuhnya. Matanya menangkap sebuah buku yang merupakan sebuah buku dongeng. Dengan pelan ia menarik keluar buku itu, membuka lembar demi lembarnya.

Aggashi, saya permisi dulu,” pelayan itu berujar pelan sambil membungkuk sebelum meninggalkan ruang kerja Minho. Krystal menanggapinya dengan senyuman. Tatapannya kembali terarah pada buku yang sedang dipegangnya.

Orlando Tersayang dan Bunga Ajaib

Orlando bertunangan dengan seorang gadis. Suatu hari gadis ini mengetahui bahwa ibu tirinya, seorang tukang sihir jahat, berniat membunuhnya. Untuk menyelamatkan diri, ia melarikan diri dengan Orlandonya yang tersayang. Namun sebelum itu Orlando mencuri tongkat ajaib tukang sihir.Ketika ibu tiri jahat itu mengetahui mereka kabur, ia memakai sepatu boot 32 kilometer dan mengejar kedua anak muda itu dalam sekejap. Mereka mendengar ibu tirinya datang, dan Orlando mengayunkan tongkat ajaib, mengubah gadis itu menjadi bunga dan dirinya menjadi biola.

Tapi tukang sihir itu tahu bahwa bunga indah itu adalah anak tirinya, dan baru saja akan memetiknya ketika biola itu berbunyi. Karena itu adalah biola ajaib, tukang sihir tidak bisa menahan diri  untuk menari semakin lama semakin cepat sampai akhirnya jatuh kelelahan. Namun sebelum ia pingsan, ia membuat Orlando kehilangan ingatannya. Jadi ketika pengaruh sihir lenyap dan menjadi Orlando lagi, ia tidak ingat bahwa bunga itu adalah kekasihnya dan ia meninggalkan bunga itu ditempatnya.

Kutipan dari 366 Dongeng Sedunia, Orlando Tersayang dan Bunga Ajaib oleh Grimm Bersaudara

Krystal membaca sedikit apa yang tertulis di buku itu sebelum pandangannya memudar. Sekelebat bayangan muncul tiba-tiba di depan matanya, membuat ia sendiri shock dan membelalakkan matanya.

“Minho-ya, kau nampak lelah. Kenapa kau tidak istirahat?” Soo Jung menatap suaminya yang sedang berkonsentrasi dengan beberapa file dan map tepat di depannya. “Sudah larut malam, lihat wajahmu sudah mengerikan,”

“Sebentar lagi, yeobo,” Minho menjawab sedikit bergumam, pandangannya masih terfokus.

“Jangan begitu ah, besok kau bisa lanjutkan lagi, kan?”

“Aku hanya perlu menganalisis beberapa data lagi. Kau tidur duluan saja, kasihan anak kita yang ada di perutmu,”

“Bagaimana kalau kubacakan dongeng? Entah kenapa tapi aku ingin melakukannya,” ujar Soojung riang lalu beranjak ke salah satu lemari Minho dan mengambil sebuah buku. Soo Jung kembali ke tempat duduknya dan membuka buku dongeng itu, mencari sebuah judul. Minho hanya menatap istrinya penuh perhatian, sebelum menarik pinggang Soojung dan mendudukkannya di pangkuannya sementara Soojung mulai membaca isi buku yang dipegangnya. “Judulnya, Orlando Tersayang dan Bunga Ajaib…”

Krystal jatuh terduduk ketika kepalanya terasa sakit seketika. “Arghh…” kedua tangannya mencengkeram kepalanya, rasa sakit itu semakin menjadi ketika ia hampir kehilangan ilusi itu. Kedua kakinya tiba-tiba lemas, kepalanya masih terasa berputar ketika rasa sakit itu pelahan menghilang. Kini rasa bingung menyergap benak Krystal. Apa itu? Soojung? Kenapa ia mengingat ingatan tentang Soojung? Apa hubungannya dengan dirinya? Apa maksud ilusi itu?

“Krystal unnie~!!” sebuah suara seorang anak perempuan bersamaan dengan pintu yang terbuka terdengar membuat Krystal menoleh cepat. “Unnie? Unnie kenapa?” anak perempuan yang ternyata Younghyeon itu perlahan mendekati Krystal dengan raut penasaran. Krystal berusaha tersenyum lalu berdiri.

“Ah, Hyeon-ah, waeyo?”

“Kenapa Krystal unnie ada di sini? Dan apa yang terjadi denganmu, unnie? Unnie sakit?” Younghyen melayangkan bertubi pertanyaan yang membuat Krsytal terbahak.

Ani, ani, unnie tidak apa-apa.  Unnie kesini sebentar karena … yah, penasaran seperti apa ruang kerja ayahmu,” Krystal menjawab Younghyeon gugup. Younghyeon tersenyum.

Unnie! Bagaimana kita bermain bersama appa?” tanya Younghyeon semangat lalu menggenggam tangan Krystal. “Unnie, tanganmu dingin,”

“Uhm? Bermain bersama? Kemana?” tanya Krystal, mengabaikan gumaman Younghyeon.

“Jalan-jalan! Appa yang akan mentraktir unnie apa saja. Unnie ikut ya, ya?” pinta Younghyeon dengan ekspresi memelas yang lucu. Krystal tersenyum lalu mengacak rambut Younghyeon gemas.

Geurae, tapi mungkin unnie tak bisa menemanimu sampai selesai. Sebentar saja, eoh?”

Wajah penuh senyum Younghyeon langsung berubah. “Waeyo unnie? Apa unnie sedang ada urusan?”

Ani,”

Then, let’s go together!” Younghyeon menarik tangan Krystal. Dalam benak gadis kecil itu, tersirat rasa penasaran dan rencana kilat yang tersusun.

Sepeninggal mereka bertiga, wanita paruh baya dengan sanggul ketat tepat di tengkuk dan raut wajah keruh menatap ferarri hitam yang melaju keluar dari pekarangan rumah lewat jendela ruang tamunya. Kedua tangannya terlipat di depan dadanya, seketika ia mendesah berat sesudah sosok mobil itu menghilang dibalik gerbang. Gemerincing gelangnya terdengar lirih ketika wanita itu berusaha duduk disalah satu sofa dengan pelan.

Eomonim?” panggil gadis muda nan anggun itu pelan. Suzy—membawa sebuah nampan dengan teko teh dan dua cangkir, meletakkannya di atas meja sebelum duduk di hadapan Nyonya Choi yang terlihat kusut. “Ada apa? Nampaknya sedang kesal,”

“Kau tidak lihat mereka, Suzy? Kenapa kau membiarkan mereka bertiga pergi bersama?” Nyonya Choi langsung memberondong Suzy dengan pertanyaan. Suzy menjaga senyumnya sambil menuangkan teh ke cangkir dan menyodorkannya pada Nyonya Choi.

“Mereka hanya sebentar, eomonim. Lagipula, ada sesuatu yang harus eomonim tahu,” Suzy memiringkan kepalanya sebelum menuangkan teh untuknya sendiri. Kepala Nyonya Choi terangkat sesudah menyesap sekali tehnya.

“Apa maksudmu?”

“Krystal Yoon bukanlah Jung Soojung, kan?” Suzy tersenyum sambil mendekatkan cangkir ke bibirnya. “Younghyeon juga kesepian,”

“Tapi harusnya kau yang menemani mereka, bukan Krystal,” sinis Nyonya Choi. “Ada yang ingin kau biarakan denganku?”

Suzy menjauhkan bibirnya dari cangkir dan tersenyum semakin manis. Insting Nyonya Choi kuat juga. “Bagaimana dengan… memajukan tanggal pernikahan?”

Kening Nyonya Choi langsung berkerut.

“Maksudku, kupikir Younghyeon belum ingin terlalu dekat denganku karena statusku belum pasti, masih bisa berpisah dengan Minho, kan? Kupikir…”

“Baiklah! Aku juga ingin agar Krystal tidak dekat-dekat Minho. Wajahnya selalu mengingatkanku dengan masa lalu!”

__

Dad~ I want that!” Younghyeon menarik ujung kemeja ayahnya sambil menunjuk stand es krim dengan telunjuk mungilnya. “Strawberry flavor, as always~”

“Berbicaralah dengan bahasa Korea, princess,” tegur Minho lalu menarik Younghyeon bersamanya. Berusaha menghiraukan Krystal yang mengekori mereka sedari tadi di belakang.

Unnie ingin rasa apa?” Younghyeon berbalik menanyai Krystal setibanya mereka di depan stand es krim. Krystal nampak agak terkejut, lalu tersenyum.

Vanilla,”

Younghyeon menaikkan alisnya. “Kenapa vanilla? Strawberry lebih enak, unnie,”

“Karena vanilla rasa kesukaan unnie,” Krystal mengelus sedikit puncak kepala Hyeon lalu memesan es krim sesuai permintaan.

DEGH!

Tangan Minho bergetar mendengar balasan singkat dari Krystal di sampingnya. Matanya menatap nanar Krystal yang tersenyum pada Younghyeon. Vanilla?

Flashback

Igae~” gadis cantik bergaun peach itu menoleh ketika suara familier beserta sebuah es krim rasa cokelat tersodor di depannya lewat tangan seorang pria. Choi Minho. “Kau benar-benar licik ya. Mentang-mentang tahu jadwalku kosong kau menyeretku kesini,”

Kening gadis itu berkerut. “Kenapa bukan yang rasa vanilla Minho-ya?” Minho mengangkat alisnya mendengar protes yang keluar dari mulut gadis itu. “Kan aku juga butuh hiburan denganmu, Choi Minho. Kau tidak merindukanku, hah?” tangan gadis itu langsung menyambar es krim cokelat dari tangan Minho dan melahapnya.

“Katanya kau ingin vanilla, kenapa dimakan?”

“Sayang, tahu. Nanti aku beli sendiri saja,”

“Kau benar-benar suka vanilla, ya?” Minho bergumam lalu melahap es krimnya, lalu tersenyum kecil ketika menangkap Soojung yang mengangguk semangat lewat lirikannya.

“Vanilla membuatku nyaman. Wangi dan rasanya… natural. Itulah kenapa aku suka vanilla,”

Flashback off

Minho mengedipkan matanya, berusaha memfokuskan dirinya. Mungkin hanya suatu kebetulan. Krystal bukanlah Soojung. Banyak wanita yang menyukai es krim vanilla. “Daaad! Ayo! Kenapa malah bengong di situ?” suara Younghyeon kembali menyadarkan Minho. Pria itu langsung berjalan cepat melihat Younghyeon yang sudah di gandeng Krystal berjalan agak di depan.

“Kau sudah membayar es krimnya, Hyeon-ah?”

“Krys unnie yang membayar karena daddy bengong terus,” balas Younghyeon cuek lalu melahap es krimnya dan membiarkan matanya menjelajah. “Waaaaa aku ingin menaiki itu!”

__

Ini sudah jam empat sore lewat lima belas menit dan Younghyeon belum selesai bermain. Krystal tak henti mengecek jam tangannya tiap sepuluh menit sekali, dan makin waktu ia makin resah. Ia sudah berjanji akan bertemu dengan pacarnya jam setengah enam, sekarang ia belum bersiap bahkan belum mebersihkan diri. Baiklah, setengah lima nanti ia harus pamit dengan Minho dan Younghyeon, apapun yang terjadi.

Jam empat lewat dua puluh. Krystal tersenyum tiap Younghyeon tertawa ke arahnya. Sepuluh menit lagi. “Minho-ssi,” panggil Krystal pelan. Jujur, ini pertama kalinya ia harus menghadapi Minho sendirian. Biasanya ia akan menggunakan skenario dan bodohnya sekarang ia malah terjebak dalam situasi seperti ini. Baiklah, masalahnya adalaha karena Minho tak bisa membaca pikirannya, jadi ia tak tahu Minho menganggapnya seperti apa. W-well, meskipun ia berencana untuk menghancurkan keluarga ini tapi tetap saja ia harus meninggalkan citra yang baik kan? Ia menepuk pundak Minho yang sedari tadi memerhatikan putrinya yang sedang bermain.

“Ya?” Minho berbalik dengan cepat, lalu berjengit seketika ketika ia menyadari Krystal yang memanggilnya. “Oh-eh, ada apa Krystal-ssi?”

“Kurasa aku harus pulang duluan, aku ada urusan dengan temanku,”  Krystal menatap Minho dengan perasaan menyesal. Astaga, hati Minho mencelos lagi. Gadis ini seratus persen mirip dengan Soojung. Dari caranya mentap, berbicara, bahkan wangi parfumnya yang Minho sadari selama di mobil tadi. “Aku benar-benar minta maaf. Sampaikan maafku juga untuk Younghyeon,”

Agak lama Minho terdiam sembari memandang wajah Krystal, berusaha sekuat tenaga mengusir keinginan untuk membawa gadis itu kedalam dekapan tereratnya. Ya, membawa gadis yang ia sangka sebagai Soojung ke dalam pelukannya. “Begitukah? Tak apa-apa, Krystal-ssi,” Minho agak berat mengucapkan nama itu, karena nama Soojung terus-terusan muncul di dalam benaknya. “Apa kau butuh tumpangan? Aku bisa memaksa Younghyeon untuk segera pulang,”

Krystal menggoyangkan tangannya sambil menggeleng. “Tidak, tidak perlu. Younghyeon pasti rindu denganmu dan kurasa aku juga butuh memberikan privasi untuk kalian berdua. Sekali lagi terima kasih, Minho-ssi. Semoga kita berteman baik,” entah kerasukan dari mana, Krystal mengulurkan tangannya hendak memberi salam pada Minho.

Sedangkan pria itu, terbengong menatap Krystal. Dengan ragu ia menyambut uluran tangan Krystal, menjabatnya pelan, dan tangan Krystal sudah lepas sebelum ia melepaskan genggamannya.

“Sampai jumpa, Minho-ssi,”

Degh

Lagi-lagi Minho mencelos. Hangat tangannya… Minho rindu dengan kehangatan tangan itu. Sejenak Minho merasa yakin bahwa ialah Soojung, ia ingin berlari dan menarik gadis itu kembali namun sebuah pikiran menyadarkannya. Soojung sudah mati dan ia sudah melihat makamnya.

Tidak mungkin Krystal adalah Soojung. Tidak ada manusia yang bisa bangkit dari kubur.

To Be Continued…

A/N :

He He He. Maap ya lama, beresin SPY dulu soalnya, hehe😀 Sebagai bonus ini partnya rada panjang loh hehe😀

Maaf kalau ada typo, komennya ditunggu ^^

©2011 SF3SI, reenepott

signaturesf3siOfficially written by reenepott, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

27 thoughts on “The Cruel Marriage – Part 7

  1. wahhh… aKhirnya part 7 nya muncul juga…
    itu krystal uda mulai keinget jaman2 dulu… memorynya uda mulai kembali… ayo buruan kembali keburu minho nikah sama suzy…..
    okeyy semoga part 8 munculnya gak lama….

  2. Ya ampun~ penasaran kelanjutannya , soalnya ff ini termasuk sepuh bgt di Blog ini. kkk~ ditunggu kelanjutannya (y)

  3. akhirnya krys udah mulai ingat, moga amnesianya sembuh sbelum suzy nikah ma minho..
    paling suka adegan pas salaman bagian akhir, bikin berdesir, rindunya minho ke soojung itu kerasaa banget..
    lanjut 8nya, jgn lama yaa🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s