(Not) A Virtual Marriage – Part 2

not-a-virtual-marriage

Title : (Not) A Virtual Marriage

Author : vanflaminkey91 (@whitevenus_4 )

Main cast :

  • Lee Taemin SHINee
  • Son Naeun A-Pink
  • Krystal Jung f(x)
  • Kim Myungsoo Infinite

Support cast : Jung Eunji A-Pink, SHINee, Kim Taeyeon Girls’ Generation, etc.

Length : chapter

Genre : AU, romance, marriage-life, angst, friendship

Rating : PG13

Summary: Setelah WGM usai, apa yang terjadi dengan Taemin dan Naeun?

Inspired by: Selene 6.23 and WGM  Taemin-Naeun Episodes.
A.N: FF ini menceritakan kejadian fiksi yang terjadi setelah We Got Married selesai. Seluruh comeback, album, konser, acara, dll yang berhubungan dengan karir para idola di FF ini hanyalah fiksi dan kalaupun ada yang nyata, ada jadwal yang disesuaikan. Semuanya fiksi.

Also published @ perfectionee.wordpress.com.

 

(Not) A Virtual Marriage
Originally by vanflaminkey91

 

I don’t think I can reach you.

 

Paper II: Run with Me

Apa yang kau pikirkan tentangku?

Apa yang kau rasakan terhadapku?

Apakah aku berarti bagimu?

Apakah kau menganggap aku benar-benar bagian dari hidupmu?

Taemin tidak tahu sudah berapa lama ia berdiri di depan cermin sambil memegangi ponsel yang terus menerus ditempelkannya di telinga. Nada sambung terdengar sejak tadi, tapi tak ada tanda-tanda bahwa panggilannya akan segera disahut dari seberang sana.

Taemin juga tidak tahu sudah berapa kali pikirannya merangkai kalimat-kalimat yang akan ia lontarkan kepada Naeun.

Untunglah para hyung-nya sedang tidak di dorm. Mereka semua memiliki jadwal, sementara ia baru akan memiliki jadwal di sore hari—kesempatan langka yang jarang sekali datang.

Untuk menelepon, ia harus memastikan di dalam dorm tidak ada alat apapun yang dapat dijadikan sebagai alat intai entah oleh sasaeng atau oleh pihak lainnya. Katakanlah ia berlebihan, tapi ia tidak ingin rahasianya terbongkar.

“Naeun, angkatlah, angkatlah,” gumamnya setengah berbisik. Bukannya ia tidak sabaran, tapi ini sudah panggilan kelima dan gadis itu tidak juga mengangkat teleponnya hingga nada sambung itupun terputus—meminta Taemin men-dial ulang nomornya.

Tut. Tut. Tut.

Taemin mengumpat saat mendengar tiga nada terakhir sebelum akhirnya mati. Son Naeun tidak mengangkat teleponnya, menyedihkan.

“Taemin-ah!”

Taemin terlonjak saat mendengar pintunya diketuk serta namanya dipanggil dari baliknya. Itu suara Key. Apakah ia sudah selesai dengan jadwalnya? Taemin melirik jam. Secepat itu?

Klek.

“Ada apa, Hyung?”

“Aku baru datang,  jadwal terakhirku barusan. Well, aku menemukan ini di depan pintu.” Pria berambut terang itu mengacung-acungkan sekotak coklat. “Tepat di atas keset. Tulisannya untukmu, tapi tidak ada nama pengirimnya.” Key menyodorkan benda itu, wajahnya agak muram. Tampak tidak begitu suka dengan kenyataan bahwa Taemin mendapatkan kiriman itu dari secret admirer—setidaknya itu yang terlintas di benak Taemin saat melihat ekspresi Key yang… gelap.

Wae?” Key menyadari tatapan aneh Taemin. Lalu, seperti menyadari sesuatu, ia segera tertawa garing. “Aku bukan iri padamu. Lagian aku hanya lelah, jangan pikir yang aneh-aneh, deh. Sudah, ya, aku mau berbenah diri dulu.” Tanpa menunggu jawaban Taemin, ia segera berlalu dari sana.

Tinggallah Taemin yang bengong di ambang pintu kamar sambil memegang sekotak coklat. Diliriknya benda tersebut dengan sebelah alis terangkat.

“Mungkin sasaeng fans atau—“ Ucapannya terhenti ketika mendengar lagu You’re Not Alone-nya Michael Jackson mengalun di balik punggungnya. Tanpa pikir panjang, pemuda termuda di dorm itu masuk kembali ke kamar—masih memegang coklat—lantas menyambar ponselnya. Taemin mengembangkan senyum terlebar ketika mendapati nama peneleponnya.

“Naeun, aku sangat—“

“Lee Taemin, kenapa kau menelepon Naeun?

Taemin tercekat. Napasnya nyaris berhenti. Jantungnya berdebar tak karuan. Perasaannya mulai kalut—terkuasai oleh emosi tidak jelas yang tiba-tiba saja muncul entah darimana.

“Lee Taemin?”

Itu Kim Myungsoo.

*

“Selamat datang!”

Victoria berseru dengan senyum hangatnya, melirik seseorang yang baru saja masuk ke dalam dorm F(x) dan duduk di sampingnya. Krystal Jung tampak lelah, namun ekspresinya begitu penuh oleh rasa puas bercampur gugup.

“Kau kenapa?” Victoria keheranan.

“Kau berhasil memberi Taemin coklat?” Sulli keluar dari kamarnya, sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan sehelai handuk. Kepalanya miring, mengikuti tarikan handuk. Victoria yang mendengarnya segera menoleh ke arah sang maknae, menatapnya kaget.

“Kau memberi Taemin coklat? Secara langsung?”

“Tidak,” balas Krystal akhirnya. Senyum lebar menghiasi sekujur wajahnya. “Tadinya mau begitu. Tapi ketika aku berjalan di koridor dan hendak mencapai pintu dorm mereka, Key oppa baru saja pulang. Jadi, aku menitipkannya dan meminta ia mengatakan bahwa ia tidak tahu siapa yang memberi coklat itu.”

Sulli membentuk mulutnya menjadi huruf ‘O’, “Wow, Key oppa mau?”

“Tentu saja!” Krystal menyambar remote TV, kemudian mengarahkannya ke televisi. “Seandainya, seandainya saja aku seberuntung kau Sulli. Minho oppa menyukaimu juga. Seandainya Taemin oppa tidak menyukai Naeun.” Layar televisinya menyala.

Victoria dan Sulli melempar pandangan masing-masing, kemudian menghela napas di saat yang hampir bersamaan.

“Tahu darimana Taemin menyukai Naeun?” Sulli mendekati Krystal saat Victoria melemparkan pertanyaan tadi.

“Sejak WGM dimulai aku sudah bisa melihat perbedaan tatapan Taemin kepadanya, ia tidak pernah melihati gadis manapun seperti ia melihat Naeun,” balas Krystal sambil menghela napas. “Bahkan setelah WGM selesai, aku sering melihat Taemin oppa tampak begitu merindukannya. Phone case mereka yang couple-an itu juga masih dipakai oleh Taemin oppa. Padahal aku menyukainya.”

Victoria menaruh tangannya di bahu Krystal, “Jangan sedih begitu, Sayang. Itu semua belum tentu, kan?”

Krystal menatap sebentar siaran berita di televisi, lalu mengambil lagi remote.

“Aku harap.”

Klik. Televisi itu menampilkan layar hitam.

*

A-Pink hari ini akan melaksanakan goodbye stage mereka, mungkin itulah kenapa salah satu sunbae mereka datang, khusus untuk menyaksikan mereka melakukannya di Music Core.

Myungsoo sudah setengah jam berada di ruang make up, berbincang-bincang dengan seluruh orang yang ada di sana—A-pink, coordi noona, dan bagian make up. Tapi, Naeun sama sekali belum datang, ia masih ada urusan.

“Aku dan Namjoo ganti baju dulu, ne?” Eunji berdiri di tengah perbincangannya dengan Myungsoo. Ketika pria ber-image dingin itu tersenyum sambil mengangguk, Eunji menarik Namjoo agak memaksa ke kamar ganti.

“Aduh, Eonni, kenapa tidak sabaran sekali?” keluh Namjoo setelah menutup pintu kamar ganti sambil menggantungkan kostumnya ke gantungan baju di belakang pintu.

“Aku harus membahas sesuatu denganmu, Namjoo-ya.” Eunji melepaskan kaus oblongnya. “Aku yakin Myungsoo oppa ingin menemui Naeun, ia menunggunya.”

“Terus?” Namjoo malah duduk.

Sambil mengancingkan kemeja berlengan tiga perempatnya, Eunji menghela napas. “Aku tidak tahu. Kurasa Myungsoo oppa benar-benar naksir dengan Naeun. Masalahnya Naeun pernah bilang, ia tidak bisa menerima L oppa. Aku jadi bingung.”

“Ya kalau begitu biarkan saja, toh Naeun eonni pasti bisa mengatasinya.”

“Bagaimana dengan Taemin?”

“Taemin? Kenapa?”

“Kurasa pria itu juga menyukai Naeun.” Eunji terdiam saat menyadari ucapan yang keluar dari mulutnya. “Dan aku lebih menyetujui jika Taemin oppa yang bersama Naeun.” Namjoo bisa melihat Eunji tengah berkutat di depan cermin seukuran tubuhnya, merapikan rok yang dikenakannya. “Kau, cepatlah pakai kostum, Namjoo-ya!”

“Ah, aku lupa!” Namjoo segera berdiri dan menyambar pakaiannya. Tidak begitu peduli dengan keadaan di luar. Myungsoo hanya sendirian sekarang karena member A-Pink yang lain baru saja pamit untuk membeli makanan dulu.

Ia sibuk menatap ke arah jam dinding, meski tidak benar-benar peduli akan angkanya.

Annyeongha—“ Myungsoo terlonjak, begitupun gadis yang baru saja membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan. Ia tercekat mendapati Myungsoo ada di sana, sempat mengecek bahwa tulisan yang tertempel di pintu adalah “A-Pink”.

Oppa, apa yang kau lakukan di sini?”

“Naeun.” Myungsoo bangkit berdiri dan tersenyum. “Hanya mengunjungi kalian untuk goodbye stage, tidak boleh?” Matanya melekat kepada Naeun, mengikuti pergerakan gadis itu yang sekarang sedang menaruh tas dan ponselnya di atas salah satu meja.

Naeun melepas mantelnya dan melempar benda itu ke sofa. “Tidak apa, selama kau bukan datang hanya untuk membicarakan hal yang sama denganku.” Sadar ataupun tidak, nada yang Naeun keluarkan agak sedikit sinis—mungkin karena ia lelah karena baru menyelesaikan jadwalnya sendiri, atau juga lelah dengan lelaki di hadapannya, ia tak sadar.

Myungsoo menghela napas. “Kau sudah makan?”

“Sudah.”

“Oya, aku perlu bicara denganmu.”

“Mengenai apa? Sekarang saja, jangan basa-basi dulu, Oppa.” Naeun membuang napasnya agak berat. “Maaf, aku hanya sedang lelah. Jadi—“

“Sedikit judes,” potong Myungsoo kemudian tertawa garing. “Apa kau benar-benar tidak ingin ‘jalan’ denganku?”

Naeun menghentikan aktivitasnya mengecek ponsel, lalu mendongak. “Tidak.”

“Bahkan menjadi kekasihku?”

“Sesuatu yang sangat susah untuk diputuskan, Oppa.” Naeun duduk, menyandar di sofa. Tidak menyadari bahwa di sana ada Eunji dan Namjoo—di dalam kamar ganti. Myungsoo pun agaknya lupa.

“Ah, begitukah? Aku tahu kau akan tetap menolak sampai kapanpun juga, Naeun.” Suara berbisik air conditioner di ruangan itu terdengar jelas—saking sunyinya suasana di sana. Myungsoo tahu hatinya hancur. Sudah berapa kali ia merasakan ini?

Naeun terdiam sejenak, sebelum akhirnya menyahut, “Oppa, bukan begitu. Jangan salah paham.”

“Tidak. Aku tidak salah paham… aku hanya akan memahamimu.” Myungsoo melihat gadis itu berdiri.

“Aku pamit sebentar ke toilet.” Naeun tidak menunggu jawaban Myungsoo, ia segera keluar darisana—meninggalkan ponselnya terletak begitu saja di depan batang hidung pria yang baru saja ditolaknya mentah-mentah. Naeun bukan bermaksud jahat, tapi ia merasa akan lebih jahat jika ia menerima—namun hatinya tidak.

Myungsoo duduk di sana, menatap kosong ke arah ponsel Naeun.

Entah bagaimana, tetapi tatapannya seolah mengundang. Ponsel itu akhirnya berbunyi. Myungsoo mengabaikannya, merasa tidak sopan jika ia mengangkat panggilan untuk Naeun. Jadi, ia diamkan.

Suasana yang awkward ketika ia hanya sendirian di sana, ponsel Naeun terus-terusan bunyi meskipun sempat mati, tapi Naeun belum kembali juga.

Jadi, ia memutuskan untuk melihat siapa nama peneleponnya di panggilan kelima yang baru saja mati.

Taeminnie.

Myungsoo merasakan napasnya tercekat. Tenggorokannya seolah tersumbat. Tangannya mencengkeram ponsel itu erat. Matanya kosong, tapi tajam membaca nama itu berulang kali.

5 missed calls from Taeminnie.

Entah setan apa yang merasukinya, Myungsoo menekan salah satu dari missed calls itu, lalu menghubunginya balik.

Air conditioner seolah sudah tidak berfungsi baginya. Udara panas seolah terserap oleh tubuh Myungsoo, membuat pria itu semakin gerah seiring nada sambung yang terus mengalun di telinga.

Klik.

Nada sambung itu hilang, berganti dengan sebuah suara yang sangat Myungsoo kenal.

Naeun, aku sangat—“

“Lee Taemin, kenapa kau menelepon Naeun?”

Hening.

“Lee Taemin?”

Kenapa ponsel Naeun bisa ada di tanganmu, Hyung?”

“Itu tidak menjawab pertanyaanku.”

Aku meneleponnya sebagai sahabat, bisakah kau memberikan ponsel ini pada Naeun dan—“

“Jauhi Naeun, Taemin.”

“Wae? Jangan membuat masalah, Hyung.”

“Bisakah?”

“Tidak.”

Myungsoo baru saja membuka mulutnya ketika ia mendengar suara tawa Naeun di kejauhan, bersama dengan Bomi. Mungkin mereka bertemu saat akan kembali ke sini. Cepat-cepat Myungsoo mematikan sambungan, lantas menghapus semua daftar panggilan yang berhubungan dengan Taemin barusan.

“Naeun, aku tadi meminjam ponselmu untuk menelepon manajerku sebentar. Pulsamu akan kuganti, ya? Aku tadi mendesak sekali.” Myungsoo segera bicara ketika Naeun dan A-Pink masuk ke dalam. Eunji dan Namjoo yang mendengar semuanya dari balik kamar ganti tidak berani keluar, mereka hanya bertatapan.

Naeun menatapnya heran, lalu mengangguk. “Tidak usah diganti pulsanya, Oppa.

*

Hari sudah mulai beranjak sore. Taemin menyandarkan tubuhnya di sandaran jok mobil. Dilipatnya tangan ke dalam sentuhan jaket tebal yang tubuhnya gunakan, sementara matanya sibuk menatap buliran air hujan yang merambat pelan di atas kaca mobil.

Ketika Myungsoo meneleponnya dengan nomor Naeun, pikiran Taemin mulai kacau. Segala pertanyaan membanjiri benaknya. Ia semakin takut jika asumsinya bahwa Naeun menyukai Myungsoo itu sebenarnya benar.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Saat itu Onew memang memiliki jadwal bersama Taemin di saat hari sudah sore. Melihat maknae-nya itu tidak bicara sejak pertama kali masuk mobil, Onew merasa mulai khawatir. “Kau tidak sedang memikirkan—“

“Ya.”

“Astaga,” gumam Onew sambil menghela napas. “Kau ini, sebenarnya kau benar-benar menyukainya?” tanya Onew berbisik, tidak ingin manajer mereka mendengar—bagaimanapun ini privasi Taemin.

Taemin tidak menjawab.

“Bagaimana dengan Soojung?”

“Kau tahu aku tidak pernah menyukainya lebih dari sahabat maupun adik, Hyung.” Taemin menjawab dengan tegas. Kepalanya segera berputar hingga wajahnya menghadap ke arah Onew, menatapnya dengan sedih. “Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya memberitahu Soojung secara tidak langsung. Aku tidak mungkin mengatakan secara terang-terangan kalau dia tidak bisa terus menyukaiku. Lagipula, kalau ternyata aku hanya GR semata?”

Gerimis di luar mobil mulai bertranformasi menjadi lebih besar. Udara dingin kota Seoul terasa begitu menusuk hingga ke dalam tulang. Lembaran aspal di bawah ban mobil itu semakin basah dan terus menimbulkan bunyi ketika dilindas.

Onew tidak dapat menyahuti lagi ucapan Taemin. Ia sendiri tidak mungkin menginjakkan kaki hingga ke dalam. Bagaimanapun Taemin memiliki privasi.

“Jonghyun akan melakukan duet dengan Taeyeon untuk comeback stage,” ucap Onew akhirnya. Mencairkan suasana di dalam mobil yang sedaritadi hening—kecuali suara lagu dari speaker di bagian belakang mobil.

“Ya, SM The Ballad, kan?” Manajer mereka menyahuti. “Aku sudah mendengar lagunya. Tidak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta dengan kolaborasi suara mereka.”

“Jjong dan Taeng memang daebak,” puji Onew sambil tersenyum. Senyum yang agak pahit.

Taemin melirik Onew karena telinganya mendengar nada yang aneh ketika Onew mengucapkan pujian tadi.

Ia tertawa kecil di dalam hatinya.

Taeyeon noona akan senang kalau aku menceritakan ini padanya. Hahaha.

*

Bisakah kau bertemu denganku, Naeun? Aku harus bicara denganmu. Harus.

Taemin menatap proses sending di layar ponselnya sambil berkali-kali menghela napas. Sebentar lagi ia akan melakukan rekaman untuk live acara infotainment baru yang telah meminta Onew dan dirinya datang sebagai guest pertama mereka, tapi pikirannya hanya tertuju pada Naeun yang belum sama sekali bicara dengannya hari ini ataupun hari-hari sebelumnya.

Son Naeun itu masih istrinya. Masih. Mereka belum pernah mengajukan perceraian ke pihak yang berwenang untuk melakukannya. Mereka belum pernah cekcok. Mereka masih baik-baik saja dan terhitung akrab kalau mau mengingat saat-saat sebelum SHINee debut.

Agak bangga juga mengingat bahwa baik dirinya maupun Naeun sama-sama bisa menjaga rahasia serentan itu dan belum pernah bocor ke publik.

Naeunnie, nan bogoshippo. Kapan kau akan benar-benar baik padaku, huh?

Sent.

Naeun, kau sudah goodbye stage kan? Di mana goodbye stage-mu yang terakhir dan kapan? Bagaimana jika setelah itu kita bertemu di tempat biasa?

Sent.

Taemin menatap hopeless ke arah ponsel. Tahu bahwa gadis itu pasti tidak akan membalas SMS-nya.

Oppa, kau di sini?!” Seseorang berteriak dari kejauhan. Taemin reflek memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket dan menemukan Sulli dan Krystal berlari mendekat ke arahnya.

Krystal.

Duh, gadis itu riang sekali.

“Kalian kenapa ada di SBS jam segini?” Taemin tersenyum lebar.

“Kami diminta datang oleh staf di sini, casting untuk drama terbaru mereka,” balas Sulli santai. Lalu melihat ke kanan dan ke kiri. “Kau tidak bersama SHINee?”

“Duh, kurasa itu kalimat lain selain ‘kau tidak bersama Minho’, kan?” Taemin tertawa keras ketika mendapati Sulli cemberut menatapnya, namun segera tertawa juga. Taemin memang selalu tahu soal masalah Sulli, benar-benar teman curhat yang luar biasa. “Aku di sini bersama Onew saja. Guest pertama Coffee Desk. Minho selalu membicarakanmu, kalau kau mau tahu.” Ia tersenyum.

Krystal ikutan tersenyum saat mendengar itu. Betapa beruntungnya Sulli, pikir Krystal kemudian menghela napas ketika melihat ke arah Taemin.

“Kapan acara itu dimulai, Oppa?” Krystal membuka mulutnya. Ia membenarkan syal yang ia pakai, tapi tidak melepaskan tatapannya dari dancing machine-nya SHINee itu.

“Sekitar satu jam setengah lagi, Jung. Kalian sudah selesai?”

Pintar, ia mengalihkan pembicaraan hanya dengan satu kalimat tanya.

“Sudah. Baru saja. Kami akan pulang.”

“Drama apa?”

Rain Songs.” Sulli kali ini menjawab. “Tapi, kami—ah, sebentar.” Gadis manis itu merogoh ponselnya yang bergetar panjang, tanda ada yang menelepon.

“Minho.” Krystal menyeletuk sambil tertawa jahil ketika Sulli meliriknya kesal. Sulli sempat ragu hendak mengangkat atau tidak, ia ingin membawa Krystal segera menjauhi Taemin karena ingin sekali gadis itu melupakan saja perasaannya dengan cepat—sebagai sahabat, ia tidak mau Krystal terus menderita karena cinta.

Sementara Krystal sendiri sedang melihati Taemin, “Bagaimana kalau kau ikut aku sebentar?” Ia menggenggam lengan atas Taemin dengan kedua tangannya. Sulli sendiri masih membiarkan ponselnya bergetar.

“Soojung-ah, apa yang kau—hei, kita mau ke mana?” Pemuda itu agak kaget saat Krystal menariknya menuju pintu keluar gedung SBS.

“Aku punya kejutan untukmu, Oppa.” Krystal berkata santai. “Jadi, pakai penyamaranmu, kita pergi sebentar saja.”

“Hei, Soojung! Kau mau bawa ke mana Taemin oppa? Bagaimana dengan Onew oppa jika mencarinya?”

“Ada deh, Sul. Sudah, Minho oppa sudah menelepon daritadi tuh!” seru Krystal dari kejauhan, tak menghiraukan lagi Sulli yang hanya bisa melihati kepergian dua orang itu dari jauh dengan helaan napas.

Astaga.

*

“Baik, kejutan apa?” Taemin dengan polosnya bertanya, ketika mereka baru benar-benar duduk di sebuah kursi panjang yang terletak di atas dataran yang cukup tinggi di kota itu.

“Duduk dan nikmatilah, sebentar lagi kau akan melihat ‘kejutan’ itu,” kata Krystal tenang. Ia menyodorkan salah satu gelas kertas kopi panas yang tadi dibeli ketika mereka berjalan menuju ke sini. Sementara satunya lagi tetap ia pegang.

Taemin menurut saja. Ditatapnya lurus kaki langit di hadapannya yang menampilkan gradasi warna antara oranye, perak, hitam, biru dongker, kuning, dan merah.  Matahari yang terlihat oranye tua muncul malu-malu di balik lindungan awan hitam. Udara segar sehabis hujan perlahan masuk merasuki paru-parunya, membuat ia ingin menghirup napas lagi lebih dalam.

Tempat ini begitu indah. Meskipun tidak terlalu tinggi, tapi cukup untuknya melihat hamparan kota bertabur kabut tipis serta langit yang tampak cantik seperti lukisan. Belum lagi udara terasa begitu segar, setiap dedaunan di sana tampak basah bekas sentuhan lembut air hujan yang sudah berhenti entah sejak kapan.

“Soojung, aku jadi ingat saat-saat kita masih trainee.” Taemin membuka pembicaraan, menyelang dengan menyesap kopinya. “Waktu itu kau dan Jessica noona sempat membelikanku kopi saat kita bertemu di jalan.”

Krystal melirik Taemin, kemudian kedua sudut bibirnya terangkat. Teringat bagaimana polosnya Lee Taemin di saat itu dan bagaimana potongan rambutnya tampak begitu lucu—sekarang Taemin di sampingnya adalah Taemin yang telah dewasa. Keluguannya masih ada, meski tidak sekentara dulu.

“Soojung-ah, kenapa kau belum juga punya kekasih?”

Deg. Pertanyaan macam apa barusan? Taemin menyadari kecerobohannya barusan dan mengumpat dalam hati, sementara Krystal membiarkan tubuhnya kaku mendengar perkataan itu.

“Aku…” Maknae F(x) itu menggeleng kecil. “Kurasa aku belum memerlukannya. Bagaimana aku bisa mencari kekasih di tengah karir seperti ini?”

Cerdas. Jawaban yang cerdas. Taemin berjanji tidak akan melakukan apapun untuk memancing lagi. Tidak.

“Kau sendiri, sudah pernah punya pacar?”

“Kenapa dengan ‘sudah pernah’, hei?” ucap Taemin setengah bercanda.

“Aku tahu kau tidak sedang pacaran sekarang.”

Aku sudah menikah. “Well, benar.”

“Jadi?”

“Aku belum pernah pacaran, Soojung.” Pria itu menatap lurus ke depan. Bulatan oranye itu rupanya sudah lepas dari cengkeraman awan, mulai merayap pelan ke balik gunung. “Apakah ini yang kau sebut dengan ‘kejutan’, Jung?”

“Ya,” balas Krystal langsung. Ia tersenyum. Baru kali ini Taemin melihat senyum terhangatnya. Ia mirip-mirip kakaknya, sama-sama dingin. Senyum terhangatnya jarang sekali keluar. “Aku hanya ingin menikmati sunset dengan orang-orang yang kusayangi. Termasuk kau, Oppa. Kau sudah seperti…” Napasnya agak tercekat. “…kakakku.”

Taemin tersentuh. Sangat tersentuh mendengar ucapannya. Ada sesuatu yang menghangatkan hatinya. Perasaan dihargai, perasaan disayangi, perasaan dimiliki oleh orang yang tidak pernah diliriknya. Tiba-tiba saja Taemin merasa jahat—ia selalu berusaha menghindari Krystal akhir-akhir ini, padahal apa salahnya jika Krystal menyukainya dan ia tidak? Taemin menghela napas menyadari kenyataan tersebut.

“Soojung, ada saat di mana kau tidak dapat memiliki apa yang kau inginkan. Kecuali, kalau Tuhan mengehendakinya.” Dalam suasana yang mulai gelap dan hanya berbekal penerangan dari lampu jalanan juga sisa cahaya surya di balik gunung, Taemin bisa melihat Krystal menitihkan sedikit air matanya. Ia pura-pura tidak menyadarinya.

Krystal mengangguk. “Aku tahu.” Mungkin gadis itu sadar jika Taemin agak ‘menyindir’ dalam maksud yang positif, tapi tetap saja.

Hening. Kedua maknae di dalam grup masing-masing itu hanya terduduk dalam diam. Menikmati bagaimana langit semakin gelap dan bintang mulai terlihat bertaburan. Transformasi yang cepat dari suasana hujan ke suasana secerah ini. City lights mulai terlihat jelas di antara jalinan kabut tipis.

“Aku harus kembali ke gedung—“

DRRT. DRRT.

Taemin berhenti saat mendengar ponselnya bergetar, saking heningnya tempat itu. Ia melirik Krystal yang memersilakannya untuk mengangkat—berdiri dan menjauhi Krystal, baru menjawab panggilan.

“Halo, Naeunnie,” ucap Taemin pelan. Sekujur wajahnya dibaluri senyum.

“Apakah kau sekarang dengan Krystal?”

“Apa maksudmu?”

Kupikir kita ini masih berstatus?”

“Hei, Naeun. Apa—“ Krystal memegang erat kursinya ketika mendengar nama ‘Naeun’ terucap dari balik bibir Taemin.

“Sudahlah. Tadi aku mencoba menelepon ke Onew oppa karena kata manajermu kalian berdua sedang di SBS. Aku mau menelepon langsung, tapi entahlah. Aku ingin menelepon dia dulu. Onew oppa bilang Krystal membawamu pergi, Sulli yang bilang padanya.”

“Jadi kau meneleponku karena itu atau karena SMS-ku?” Taemin tidak dapat menahan senyum, dan senyumnya membuat nadanya berubah. Naeun menyadari itu dan menghela napas.

Baiklah, karena SMS-mu. Aku juga kangen padamu, Oppa. Bagaimanapun kau masih tetap sahabatku, bukan? Soal goodbye stage terakhir, itu besok di Music Bank. Tapi kurasa aku tidak bisa bertemu denganmu.”

“Kenapa?”

Sudah, ya. Annyeong~!”

“Naeun, tunggu!”

Hening.

“Sar—“ Taemin terdiam. “—sampai nanti, ya!” Klik. Sambungannya terputus. Kenapa susah sekali mengatakan ‘saranghae’ kepada gadis itu? Taemin menghela napas. Sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku, ia berbalik hendak menghampiri Krystal.

Tapi bangku itu kosong. Krystal tidak ada di mana-mana. Pandangan Taemin mengitari daerah itu dan tidak ditemukannya sosok cantik Jung Soojung.

Menghela napas, Taemin memutuskan segera kembali ke gedung SBS karena ia harus segera melakukan recording.

Di belakangnya, surya oranye itu akhirnya menenggelamkan diri sambil menarik sang dewi malam keluar dari balik jilatan embun malam.

*

“Oh, di sini kau rupanya! Cepat, cepat, lima menit lagi recording harus dimulai!” Lee Taemin yang baru melangkah masuk ke dalam lobi SBS bahkan belum sempat melepas masker dan kacamata hitamnya. Sang manajer sudah duluan.

Sambil masuk ke dalam lift, Taemin menghela napas lagi. “Hyung, Sulli sudah pulang?”

“Tadi ia sudah pergi terlebih dahulu daripada Soojung. Soojung bersamamu, kan? Ia pulang sendiri apa kau antar?”

“Sendiri, Hyung. Kalau aku antar, aku belum sampai di sini.” Ia terkekeh, lalu melangkah keluar ketika pintu lift sudah terbuka.

“Gyeongshik hyung,” panggil Taemin sambil berbalik, otomatis membuat manajernya berhenti.

Ne?”

Untuk beberapa lama Taemin menatap manajernya, tampak sibuk merangkai kata-kata di dalam pikiran. Bagaimana jika aku ternyata sudah menikah? Bagaimana jika Soojung memang menyukaiku? Bagaimana jika—

“Bagaimana jika kita membeli banana milk sehabis ini?”

Gyeongshik mengerutkan kening mendengar ucapan Taemin, lalu tertawa keras-keras. “Kau ini. Baiklah, tapi sekarang cepat. Nanti Jin akan memarahimu jika sampai terlambat.” Taemin mengangguk, terlebih karena mendengar nama manajernya yang satu lagi.

Sesampainya di studio tempat di mana Coffee Desk akan direkam, Onew sudah duduk di tempatnya dengan salah seorang crew yang sedang membubuhi lapisan bedak di sekitar wajahnya.

Aigo, ke mana saja kau? Tadi ‘dia’ menelepon.”

Taemin menimpalinya dengan senyum. Ia menjawab ‘tahu’ dengan pandangan matanya, membuat Onew membalas juga dengan lengkungan di bibir.

Acara Coffee Desk dimulai. Sang MC adalah salah satu entertainer senior berbakat yang begitu ramah dan dapat menghidupkan suasana. Onew dan Taemin ditanyai bergantian, baik dari album terbaru mereka bertajuk De Javu, sampai ke keseharian mereka.

“Taemin-ssi, semenjak mengikuti WGM, muncul ‘TaEun’ ke publik. Sampai sekarang pun rasanya masih ramai saja, tidak ada rencana untuk mewujudkan ‘TaEun’ ini menjadi nyata?”

Wajah Taemin mendadak memucat. Senyum yang daritadi terpatri di wajahnya berubah menjadi kekagetan yang luar biasa. Onew sendiri mengubah ekspresinya, meski tidak sejelas ekspresi Taemin.

“Soal itu…” Perlu beberapa waktu diisi oleh jeda Taemin. “…Naeun sudah seperti adikku sendiri. Ia wanita yang baik. Entahlah. Bagaimana takdir mengatakan saja, Hyung.

“Woaaah, jawaban yang bijaksana dari Lee Taemin. Mungkin aku akan mulai nge-ship kalian, nih!”

Jinjjayo?” Taemin menutupi dengan tawa keras. “Aigo, aigo. Betapa banyak yang dipasangkan denganku sekarang!”

“Aku mengenal Taelli, Taeyoon, Taeji. Sulli, Yoona, dan Jiyeon. Mereka sering dipasangkan denganmu. Begitupun Miss A Suzy dan F(x) Krystal. Bukan begitu?”

Pertanyaan-pertanyaannya mulai tidak wajar. Bahkan mendekati bahaya. Taemin memutar otaknya untuk menghentikan sebelum ia tidak sanggup menutupinya lagi.

“Duh, aku jadi iri. Memangnya aku tidak ada?” God helps him. Di saat terdesak, Onew tiba-tiba menyeletuk sambil memasang aegyo. Semua orang di sana sekarang menumpahkan perhatian padanya, membuat Taemin diam-diam mengembuskan napas lega.

Terimakasih, Hyung.

*

Jung Eunji tahu Kim Myungsoo sangat mencintai Naeun, tapi ia sendiri hampir yakin Naeun tidak pernah merasakan hal yang sama pada pria itu. Ia mendengar ketika Myungsoo menelepon Taemin dengan ponsel Naeun, tapi ia juga tidak mungkin memberitahu Naeun, kan?

Eonni, apa yang sedang kau pikirkan?”

“Memikirkan aegyo untuk goodbye stage penutup hari ini, Naeun-ah.” Eunji lantas tertawa mendengar ucapannya sendiri. Klasik.

Naeun mengerutkan kening, lalu memilih untuk tidak membongkar lebih jauh—meski ia yakin Eunji tidak mengatakan hal yang sebenarnya.

Siang itu akan menjadi goodbye stage terakhir untuk lagu terbaru mereka, Dreams, sehingga A-Pink sekarang sudah berjalan masuk ke dalam gedung tempat goodbye stage itu direkam. Sambil berbincang tentang berbagai hal. Beberapa staf menyapa mereka dan disapa balik oleh mereka.

Son Naeun lebih banyak diam. Pikirannya sibuk mengembara ke masa lalu.

Oppa, buah apa itu?” Naeun kecil adalah gadis polos manis yang luarbiasa kelewat ingin tahu. Segalanya ditunjuk dan ditanyakan pada teman lelakinya yang bahkan hanya lebih tua satu tahun daripadanya.

“Mau kuambilkan, Sayang?” Taemin sangat menyayangi gadis ini. Ia sendiri anak bungsu. Mengenal Naeun seperti memberi kesempatan baginya untuk menjaga seseorang, memerhatikannya seperti ia lahir dari rahim yang sama dengannya.

Ketika Naeun mengangguk sambil tersenyum, Taemin menyubit pipinya pelan sambil tertawa—lantas memanjati pohon di hadapan mereka berdua.

Naeun mendengar Bomi berteriak karena Eunji menggelitiknya di tengah perjalanan menuju ke studio Music Bank. Tapi matanya masih kosong, masih sibuk memutar adegan di masa lalu.

“Manis, apa namanya, Oppa?”

“Ini kyul (jeruk). Manis karena yang memakannya juga manis.”

Mereka tertawa bersama, sambil mengayunkan masing-masing kaki kecil mereka yang tidak mencapai tanah. Duduk di atas kursi kayu reyot bersama dengan orang yang kau sayangi di bawah pohon jeruk, menyenangkan sekali rasanya.

“Naeun, ayo kita pergi.”

“Naeun, ayo kita pergi.”

Naeun tersentak, tertarik dari lamunannya ketika di saat yang bersamaan Naeun seolah merasakan dejavu.

Oppa?” Ia terkejut mendapati Taemin berdiri di hadapannya. Member A-Pink yang lain tampak berbisik satu sama lain. Sama kagetnya seperti Naeun.

Tanpa banyak kata, Taemin segera menarik tangan Naeun ke arah yang berlawanan dengan arah yang harusnya dituju Naeun dan member A-Pink yang lainnya.

Oppa! Kau mau bawa aku ke mana? Sebentar lagi kami akan perform untuk goodbye stage!” Tergopoh-gopoh setengah diseret, Naeun melontarkan pertanyaan itu beberapa kali dengan protes.

“Aku? Kau pikir sajalah sendiri. Lebih baik kau diam dan duduk manis di mobilku. Kita pergi ke suatu tempat.” Taemin membalas ketika mereka ada di basement parkir. Diberikannya Naeun sebuah masker yang segera ditolak gadis itu.

“Aku punya penyamaranku sendiri.”

Taemin tersenyum—tahu Naeun adalah gadis mandiri yang tidak akan pernah meminta lindungannya lagi seperti dulu, jadi ia mengacak rambut Naeun sebelum membukakan pintu mobil untuk istrinya itu.

“Mobil manajermu lagi?”

Taemin tidak menjawab, ia hanya mengerlingkan mata sebelum menyalakan mesin mobil dan mengendalikan benda beroda empat itu mundur keluar dari posisi parkirnya.

*

Kalau bicara soal orang gila, Son Naeun akan menuding Lee Taemin adalah orang gila yang paling gila di antara orang-orang gila di dunia. Betapa tidak? Dibawanya Naeun ke sebuah taman rekreasi di saat ia dan grupnya akan rekaman untuk goodbye stage. Penyamaran mereka juga tidak begitu lengkap.

Oppa, sebenarnya kau ini mau apa?” tanya Naeun untuk ke sekian kalinya dan mungkin terakhir. Ia tidak akan bertanya lagi jika ini tidak dijawab—malas. Taemin tidak pernah menjawabnya dan mengelak.

Wae? Aku hanya mau bersenang-senang denganmu. Kau lebih baik nikmati saja, Naeun.”

“Tapi, Oppa—

“Apakah salah jika aku ingin menikmati waktuku bersama sahabatku? Adikku? Istriku?” Wajah Naeun memanas saat mendengar kata yang terakhir, meski Taemin mengucapkannya setengah putus asa dan kesal. “Jadi biarkanlah begini, toh tidak akan lama aku membawamu.”

Naeun mengangguk.

Mereka menaiki beberapa wahana. Roller coaster, bianglala, dan beberapa permainan lagi. Benar-benar melupakan bagaimana waktu berjalan.

Son Naeun tidak tahu apakah dirinya bahagia karena bisa menarik lagi memori masa lalu apa karena Taemin? Hanya dengan duduk diam di sebelahnya sambil mengunyah permen kapas seperti ini membuatnya nyaman dan tenang. Bahkan terlintas di benaknya bahwa ia ingin selalu begini dengan mantan pasangannya di WGM ini.

“Seandainya publik sudah mengetahui tentang pernikahan kita, Oppa.

Mau tidak mau Taemin terkejut. Cepat-cepat ia menoleh ke arah Naeun dengan mata berbinar. “Aku siap mengakuinya, jika kau mau.”

“Tidak.” Balasan Naeun membuat wajah Taemin gelap kembali. “Aku tidak tahu resiko apa yang akan kita hadapi.”

“Apa kau ingin bercerai?” bisik Taemin keruh.

“Bukan begitu,” balas Naeun tak bertenaga. “Aku hanya—duh, entahlah.”

Taemin tersenyum, memberi Naeun semangat. “Tenang saja, aku akan melindungimu. Bukankah sudah janjiku sejak kecil bahwa aku akan selalu menjadi guardian angel-mu, apapun yang terjadi?” Naeun tertegun. “Aku menyayangimu, Naeun. Kau adikku.”

Percaya atau tidak, ada sedikit bagian di hati Naeun yang mengelupas, terluka, dan berdarah ketika statement barusan keluar dari mulut Taemin. Ia tidak tahu mengapa dan perasaan apa tadi, tapi cukup sedih mendengarnya.

Taemin menyubit lagi pipi Naeun, lalu mendaratkan sebuah kecupan di keningnya. Kenapa sebuah kecupan begitu ajaib? Son Naeun membeku di tempatnya, masih memegang sisa permen kapas dengan mata yang tertancap lurus pada mata bening milik Taemin.

Saat bertatapan seperti itu—tidak peduli akan keramaian di sekitar mereka, atau apapun yang terjadi di sana—Naeun hampir yakin ia tidak ingin pria ini pergi. Ia lebih menginginkannya daripada Myungsoo.

Entahlah.

*

Taemin dan Naeun baru kembali satu setengah jam kemudian, membuat Naeun terlembat lima belas menit dari jadwal goodbye stage yang harusnya sudah dilakukan. Ketika mengantarkan Naeun ke ruang ganti A-Pink, Taemin bersumpah ia tidak ingin mengalaminya—tapi itu terjadi.

“Kau… ada hubungan apa kau dengan Naeun?”

Kim Myungsoo.

Marah.

Oppa, sejak kapan kau ada di sini?”

Tapi pertanyaan Naeun hanyalah pertanyaan tak berbalas karena Taemin mendahuluinya.

“Maaf, Myungsoo-ssi. Kurasa kau harus tahu bahwa kau dan Naeun bahkan bukan sepasang kekasih. Bisakah berhenti menjadi posesif terhadapnya? Aku hanya membawanya untuk tertawa, bukannya membawa lari darimu. Jangan khawatir.” Tenang. Tenang sekali. Naeun hampir tidak percaya bahwa Taemin bisa mengatakan hal seperti itu.

“Lee Taemin, apa maksud—“

“Tidak usah berterimakasih, Hyung.” Taemin berkata dingin. Atmosfer di sana mulai terasa tidak enak. Naeun berani bersumpah ia ingin seseorang datang dan memintanya pergi dari sana—dari arena perdebatan dua pria tampan itu.

“Kau membuat Naeun terlambat, kau tahu?”

“Lalu?”

“Bagaimana jika terjadi sesuatu yang di luar dugaan?” Myungsoo berkata dengan datar, namun wajahnya benar-benar dikuasai emosi. Rahangnya tampak mengeras, membuat Naeun khawatir kalau-kalau pria itu mungkin akan meninju Taemin di sana.

“Aku sudah memerkirakan apa resikonya. Aku bukan anak kecil, Hyung.” Taemin menghela napas. “Sudahlah. Naeun, semangat dengan goodbye stage-mu.” Ia menghadap ke arah Naeun yang sedaritadi hanya bisa diam. Ia mendekati daun telinga gadis itu. “Terimakasih untuk tadi,” bisiknya sebelum berlalu dari sana.

Myungsoo mengatupkan bibirnya sambil memandangi kepergian Taemin dari hadapannya. Ia tidak tahu mengapa, tapi rasanya ia bisa melihat tatapan yang berbeda dari cara Taemin menatap Naeun—gadis yang dicintainya.

Oppa, tidak seharusnya kau bersikap seperti itu,” ujar Naeun dingin. “Bisakah kau membiarkan aku berkeliaran bebas dengan teman lelakiku? Kau bukan kekasihku, kau tak berhak marah pada Taemin oppa.

“Naeun?”

Tapi yang dipanggilnya tidak menoleh lagi. Ia segera masuk ke dalam ruang ganti, tidak dipedulikannya Myungsoo yang terus menerus mengetuk pintu dan member A-Pink yang membanjirinya dengan pertanyaan. Naeun tidak menjawab. Tidak berniat mengeluarkan suara.

*

“Kau kenapa?” Taeyeon dan Jonghyun bertanya di saat yang bersamaan ketika berpapasan dengan Taemin.

“Oh, ada Taeng noona.” Taemin tidak menghiraukan ucapan mereka. “Selamat, ya. Breath benar-benar lagu yang sangat luar biasa.”

“Terimakasih, Taeminnie.” Taeyeon tertawa kecil dan melirik Jonghyun. “Hyung-mu ini benar-benar keren.”

“Kau juga, Noona,” balas Jonghyun sambil tersenyum malu-malu.

Taemin ikut tertawa. “Hei, kenapa kalian ada di gedung SM?”

“Kau sendiri?” tanya Taeyeon balik. “Kami habis latihan.”

“Tidak penting alasan kenapa aku ke sini,” balas Taemin santai. “Hanya mencari kerjaan karena aku benar-benar kurang kerjaan di dorm. Oya, Hyung, aku mau bicara sebentar dengan Taeyeon noona, boleh?”

Jonghyun dan Taeyeon bertatapan, sebelum akhirnya memisahkan tatapan mereka yang mulai terasa aneh. Jonghyun mengangguk, kemudian tertawa canggung. “Silakan saja. Kalau begitu aku tunggu di lobi, nanti kita pulang bareng saja, oke?” katanya kepada dua orang itu sebelum berlalu.

“Kutebak… Krystal? Atau Naeun?”

“Dua-duanya mungkin, tapi kali ini Naeun saja. Untuk Krystal aku akan membahasnya nanti, Noona. Ayo, duduk saja.” Taemin menunjuk sebuah kursi panjang yang menganggur di dekat pot tanaman.

Taeyeon menaruh tas tangannya di atas pangkuan, lalu menatap Taemin lama—menunggu pemuda itu mengatakan apa yang hendak dikatakannya.

Noona, apakah salah jika aku menginginkan Son Naeun?”

*

Naeun tidak tahu harus bersyukur atas nasibnya yang didekati oleh visual Infinite atau harus menghela napas terus-menerus karena mengeluh? Sehabis rekaman, Myungsoo membawanya ke sebuah galeri lukisan. Ia tidak semarah tadi, cenderung telah melupakannya—mungkin.

Tapi jujur saja, baru kali Naeun merasa tidak nyaman di dekat Myungsoo, tidak seperti biasanya.

“Son Naeun, apakah kau memang tidak akan pernah membuka hatimu untukku?” tanya Myungsoo sambil membiarkan Naeun mengikutinya dari belakang.

Oppa, kita ada di mana?”

“Ini galeri milik teman baikku, Yejin. Dia pelukis luar biasa, bukan?” Naeun mengangguk sambil berhenti di depan sebuah lukisan, menatapnya tak berkedip.

Lukisan yang Naeun tatap adalah sosok wanita yang digambar dengan campuran berbagai warna. Aneh, namun indah. Sangat indah. Selain itu, fakta bahwa yang dilukis adalah dirinya membuat hatinya sedikit berdesir.

“Itu kau, Naeun. Aku yang meminta Yejin melukiskannya untukku. Ia bilang kau cantik, jadi lukisannya dipajang di galeri.” Myungsoo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket, lalu tersenyum menghadap Naeun, menatapnya dari samping. “Kau memang cantik. Seandainya kau membuka hatimu untukku…”

“Kau benar-benar tidak menyerah, ya?” Naeun tertawa kecil—tawa miris dan sedih. “Aku tidak bisa, Oppa. Berapa kali aku membahas ini denganmu? Kembali saja dengan Dayeon, ia mencintaimu. Lagipula ia berkorban hanya untukmu, putus dan hancur.”

Myungsoo terdiam.

Gadis ini benar-benar tidak mencintainya. Entah kenapa Myungsoo merasakan hatinya sakit, serasa dirobek hingga tersisa lembaran-lembaran tak berbentuk.

“Naeun, aku akan tetap mencintaimu.” Diangkatnya salah satu tangan Naeun, kemudian didekapnya dengan kedua tangan, merapatkannya pada dadanya sendiri.

“Terimakasih, Oppa.” Naeun tersenyum, lantas menunduk. Menghindari sepasang mata berbalur cinta yang terus menatapnya. “Tapi kurasa kau akan menyadari suatu saat nanti jika kau hanya terobsesi, bukan mencintaiku.”

“Naeun…”

“Percaya saja padaku.”

Galeri itu memang sepi, hanya beberapa orang yang datang untuk melihat koleksinya karena kebanyakan orang membelinya melalui cara yang lain, bukan langsung datang ke sana. Tetapi bukan berarti tidak ada orang yang mengenal dua idola terkenal K-Pop itu di sana.

Mereka mungkin bukan kalangan pemuda pecinta K-Pop yang terlalu addict, tapi salah satu di antara mereka memiliki pekerjaan yang mengharuskan mereka mengganggu privasi orang lain dalam keadaan terdesak.

Karena adegan di mana Myungsoo mendekap tangan Naeun telah berpindah ke dalam smartphone seseorang yang tengah menyunggingkan senyum kepuasan dan keyakinan bahwa beritanya akan sukses dan mengangkat nama instansinya.

*To be continued*

Preview 3/? – The Rumour and Hopeless Key

“Son Naeun, kau masih istriku, kenapa kau melakukan ini padaku?”

“Apa kau sudah tidak memercayaiku lagi, Oppa?”

“Apa yang harus kupercaya jika bukti di depan mata?”

“Kau lebih mengenalku, seharusnya kau tahu yang mana saat aku bohong dan yang mana saat aku mengatakan hal yang sebenarnya!”

*

Oppa, aku menyukaimu.”

“Maafkan aku, Soojung. Aku—“

“Kenapa, Oppa? Kenapa kau harus membuatku menyukaimu?”

“Soojung—“

“Aku tahu di hatimu hanya ada Naeun!”

*

“Myungsoo, kau gila!”

“Kenapa, Woohyun hyung? Aku memang gila!”

“Tapi dengan mengatakan kalau kau benar-benar berpacaran dengan Naeun sama saja kau membuat gadis itu terancam! Ke mana otakmu, L?”

*

Oppa!”

“Naeun, kurasa kita harus berjauhan dulu untuk sementara. Kau tahu, kurasa aku harus menenangkan diri.”

*

“Taemin-ah, kapan kau akan ke sini dengan Naeun?”

Eomma, kau tahu itu akan sangat sulit. Kami berdua sudah sama-sama bekerja dan pekerjaan kami sama-sama membahayakan jika orang sampai tahu.”

“Sudah kukatakan kalian harusnya jangan jadi artis.”

“Maaf, Eomma. Aku… aku akan mendatangimu akhir bulan ini. Tenang saja. Naeun akan kubawa. Bagaimana kabar appa?”

“Dia masih sakit. Oleh karena itu datanglah, ia merindukanmu dan menantunya.”

*

Ya! Bisakah kau tidak usah melukai Naeun?! Naeun sudah bilang dia tidak pacaran dengan L, kan?”

“Tapi L mengatakan ia pacaran dengan gadis ini!”

“Kau fans L, bukan berarti kau harus melakukan kekerasan jika kau memang sayang pada L. Jauhi Son Naeun. Aku berjanji jika dia dan L tidak ada apa-apa!”

*

“Kau! Kenapa kau brengsek sekali, Taeminnie?!”

“Key hyung, what’s wrong with you?!”

“Kau membuat Krystal menangis, menyesali diri dan sebagainya. Kau ini pria macam apa?”

“Aku tahu kau menyukai Krystal, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya begini kepadaku.”

“Kau benar-benar—“

“Lalu apa maumu, Hyung? Menerimanya? Bagaimana aku bisa menerimanya jika aku sudah menikah?!

*

 Thank you for reading the 2nd part! ^^

©2013 SF3SI, Vania

signature

Officially written by Vania claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

14 thoughts on “(Not) A Virtual Marriage – Part 2

  1. Jadi di chap. 3 taemin bakal ngaku? Atau keceplosan?
    Kasian sih ya, aduh ini L Emosional banget, krys juga keras kepala -,-
    Mungkin krys sama L dijodohin aja ya biar greget haha
    Ini bagus banget thor, semangat ngelanjutinnya! ^^;;;

  2. nunggu kelanjutan ini lama bgt u.u konflik ny mau mulai yah thor (?) aaa ga suka deh sm sikap myung yg posesif :3 next chap jgn lama2 ya thor udh ga sabar nih >< keep writing!!! ;;)

  3. Annyeong~ Wahaa akhirnya keluar juga chapter 2 nya. Btw kok jadi gak tega ya sama Krystal, gatau kenapa, apalagi kalo dia tau Taemin udah nikah huhu jleb banget😦
    Oh iya mau ngasih saran, itu kalo emang mau manggilnya Myungsoo ya Myungsoo aja, soalnya pas bagian “Sambil mengancingkan kemeja berlengan tiga perempatnya, Eunji menghela napas. “Aku tidak tahu. Kurasa Myungsoo oppa benar-benar naksir dengan Naeun. Masalahnya Naeun pernah bilang, ia tidak bisa menerima L oppa. Aku jadi bingung”” awalnya manggil Myungsoo trus jadi L, yah walaupun misalnya dipanggil sama orang yg beda sih, lagian kalo manggil L Oppa aneh gitu hehe🙂
    Dan terakhir, semangat ya author nulisnya, harus tamat loh ini, harus happy ending loh, updatenya jangan lama-lama loh haha😀 *maksabanget*

  4. bagus thor..,..
    Lanjut ya,lbih bnyak kmesraan taeun dong.
    Duh,jd gak sbar bca slanjutny gmna reaksi shinee klo taemin udh nkah.
    Jngan lma2 thor,hhehe

  5. Deep breath. Wow, alur di part 2 cepet banget ngalirnya, langsung menggambarkan gmna taemin dan naeun, segitunya perasaan Krystal dan si L yang desperate pengen naeun jadi pacarnya. Aku suka gimna penggambaran kamu tentang taemin dan seluruh pikiriannya, sangat dalam. Naeun selfish banget.
    kelihatannya part berikutnya bakal terbongkar nih ke member shinee kalau onew udah married, semoga respon yg lain ga serem kaya pas L dan doyeon yaa
    Ditunggu part selanjutnyaa

  6. L menyebalkan …
    Di preview buat chapter 3 dia bilang yah kalo dia pacaran ma naeun?? Aish nyebelin
    previewnya menegangkan
    lanjut thor semangat😀

  7. Ya ampun taeun cobaan semakin menerpa kalian dan kalian harus kuat. L membuat semuanya jadi runyam terus apa maksud dia ngaku jadi pacar naeun?? Taemin tunjukan bahwa kamu suami naeun
    Oke vania terus lanjut yahh

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s