Summer Break

Summer Break

apple

Main cast        : Choi Minho and Yoo Hyein

Length             : 1. 549 wc

Genre              : AU, Fluff

Rating              : PG

 When Prince Charming eats an apple happily with Snowdrop

Kami selalu bertemu setiap liburan musim panas. Di antara bisingnya restoran nenekku dan angin hangat yang membawa udara asin. Ia pasti terlihat dengan sepeda merahnya, menuju pasar untuk membantu kakek dan neneknya. Sesekali ia akan terlihat dengan sebuah motor butut untuk membantu sang paman mengantarkan barang.

Ia jauh lebih tinggi setiap tahunnya, pipinya tidak sebulat dulu lagi. Alien itu berubah menjadi tampan sekarang. Bukan bocah hiperaktif bermata kodok yang sering menarik kuncirku atau mengigit besar-besar sisi lain apel yang sedang kumakan.

Jika dulu ia populer karena terkenal sebagai bocah supel ace tim sepakbola dadakan yang setia kawan, maka sekarang ia populer karena tampan dan suka membantu. Setiap kali mengajak Sangchu; anjing Golden Retriever peliharaan kakeknya, jalan-jalan pasti ia akan berhenti di depan restoran sambil meneriakkan namaku. Aku akan keluar dengan baju penuh tepung setelah membantu membuat mi atau dengan tubuh berbau tinta cumi. Sangchu akan mengendus-endus tubuhku terus hingga aku sampai rumah untuk mandi dan mengambil sepeda sebelum menemani mereka berjalan-jalan.

Tungkainya lebih panjang dua setengah kali lipat jika dibandingkan dengan milikku. Lagipula aku juga tidak suka lari, berlari bersamanya dan Sangchu hanya akan membuatku terkapar di trotoar kehabisan napas. Jadi, naik sepeda saja agar aman. Aku bisa mengejar mereka atau pulang duluan jika lelah. Namun kenyataannya aku tidak pernah pulang duluan. Ia akan memboncengkanku kemudian meletakkan Sangchu di keranjang sebelum mereka berdua benar-benar pulang ke rumah.

Pertumbuhanku tidak baik katanya, aku tidak bisa tinggi. Padahal pertumbuhannya sendiri yang tidak normal, usiaku tujuh belas tahun dan tinggiku seratus enam puluh tiga sementara ia  seratus delapan puluh. Aku sudah termasuk tinggi diantara teman-temanku, bahkan bisa dibilang underweight karena berat badan dan tinggi yang timpang, kalau pemuda itu lebih seperti jerapah kelebihan gizi jika berada diantara teman-temannya.

Tahun ini ia datang dengan rambut berwarna deep copper yang akan terlihat orange ketika tertimpa cahaya matahari. Tubuhnya lebih tinggi, bahunya lebih bidang dan ia lebih banyak berseliweran dengan motor butut pamannya daripada sepeda merah kesayangannya. Jika dulu ia suka mengenakan hoodie berwarna biru terang, maka kali ini ia lebih sering mengenakan training jacket berwarna merah dan snapback untuk menutupi rambut merahnya di bawah helm putih kusam yang ia pakai.

Kadang aku melihatnya di pantai, masih bermain sepakbola atau belajar surfing dengan beberapa pemuda yang kurasa juga pendatang. Aku cukup mengenal tetangga-tetanggaku dan kurasa pemuda yang bersamanya tidak pernah kulihat, jadi mereka pasti pendatang juga. Ya, aku memang sok tahu.

“HYEIN-A! HYEIN-A!”

“Sana keluar, Minho sudah mengajakmu jalan-jalan.”

Aku mengangguk sambil mencuci tanganku yang berlumuran adonan mie. Kadang, aku merasa malu ketika halmeoni menyuruhku berhenti membantu karena Minho memanggil-manggilku dari luar restoran seperti ini. Tidak masalah jika kami masih berumur delapan tahun, tapi kami sekarang delapan belas. Mungkin urat malunya sudah putus. Bagaimana tidak, orang-orang yang sedang makan pasti akan melongok ketika mendengar suaranya. Suara berat pemuda yang memanggil-manggil temannya untuk main dengan intonasi bocah lima tahun.

“Lho, kau tidak tambah tinggi?”

Dan ini, kalimat tanya yang sama setiap kali aku keluar dari dapur. Sumpah, segala cara sudah kulakukan untuk menambah tinggi termasuk berenang di kolam renang indoor  sekolah setiap pagi sebelum membantu di restoran. Mau bagaimana lagi, I’m stuck with this height.

“Kau itu yang kelebihan gizi!”

Ia tertawa disertai dengan salakan girang Sangchu. Dasar, anjing dan majikan sama saja. Sudah sama-sama kelebihan gizi, bisanya mengejek. Awas saja jika aku bisa bertambah tinggi, akan kubuat mereka mencium kakiku.

Kukayuh sepedaku sambil mengikuti Minho yang berlari kecil bersama Sangchu. Sekarang ia lebih genit, entah sudah berapa gadis yang menerima senyumannya sepanjang jalan. Padahal biasanya ia akan berfokus pada Sangchu dan bermain-main dengan kecepatan larinya untuk menggoda anjing itu. Hah, sebenarnya kenapa sih aku harus mengurus senyumannya?

Aku jatuh. Benar-benar terguling dari sepeda, bukan jatuh cantik seperti di drama-drama. Hal pertama yang kupedulikan adalah lubang cukup besar di rokku karena tersangkut sebelum menyadari kakiku sudah berlumur darah.  Tidak, Minho tidak menolongku ketika terjatuh karena pada kenyataannya aku bisa bangkit sendiri sebelum melihat lututku yang sobek.

Ia baru berbalik setelah satu meter di depanku kemudian berlari ke arahku dan melepaskan leash yang digenggamnya ketika aku menggigit bibir. Minho meraup tubuhku dengan cepat seperti mengambil segenggam pasir kemudian membawaku ke klinik dokter Jo. Aku tidak tahu nasib sepedaku karena sekarang aku sedang memejamkan mata dan meremas tangan Minho kuat-kuat ketika dokter Jo menjahit lututku seperti eomma menjahit celana olah ragaku yang berlubang.

“Bagaimana kau bisa jatuh ketika naik sepeda? Memangnya kau lihat apa?”

“Panas,” dustaku. “Kepalaku mendadak pusing dan pandanganku berkunang-kunang lalu aku jatuh.”

Ia menghela napas kemudian melesakkan snapback-nya ke kepalaku. “Kau memang tidak cocok hidup di pesisir. Harusnya kau hidup di gunung saja yang dingin atau di kota sepertiku agar tidak banyak-banyak terkena cahaya matahari.”

“Tapi rumahku di sini.”

“Ah iya ya.” Ia menggaruk pipinya bingung. “Ah sudahlah, kau kuantarkan pulang saja.”

“Sepedaku?”

“Sudah dibawa pulang Sunghoon.”

Setidaknya naik sepeda akan tiga kali lebih cepat daripada berjalan menyeret kaki sampai rumah. Minho ini tega-teganya. Apa lebih baik aku minta kakakku untuk menjemput saja ya daripada pulang sambil me-

“Digendong di punggung saja. Ini memalukan tahu!”

Aku meronta ketika Minho membopongku keluar klinik. Aku tidak pernah digendong cantik seperti ini dan yang paling penting aku tidak pernah digendong Minho. Ketika luka saat bermain, biasanya Jinki Oppa; si tetangga sebelah rumah, yang menggendongku di punggung seperti anak panda.

“Kau dulu pernah bilang ingin digendong cantik seperti pengantin, kan?”

Aku hanya diam sambil menarik snapbacknya untuk menutupi wajahku yang rasanya berkali lipat lebih panas daripada kompor milik halmeoni. Sama sekali tidak berani melihat apapun selama jalan pulang. Aku hanya mendengar suara angin, kendaraan, salakan Sangchu dan yang paling jelas adalah detak jantung Minho yang seperti habis lari marathon. Pasti menggendongku jauh lebih melelahkan daripada bermain bola atau berselancar.

“Hyein-a,”

“Ya?”

“Setiap aku pulang, kau merindukanku tidak?”

Pertanyaan sangat sederhana yang tidak pernah terpikir olehku, sama sekali. Aku melihatnya hanya selama liburan musim panas, jika dipikir secara logis maka harusnya aku merindukannya dengan jarak waktu yang lama untuk kami bertemu kembali. Namun tidak demikian, aku menganggapnya sebagai hal yang wajar untuk melihatnya saat liburan musim panas. Sama wajarnya seperti sikat gigi dua kali sehari.

“Tidak.” Perkataanku cukup untuk membuat langkahnya terhenti beberapa detik sebelum ia kembali melangkah. “Bagaimana denganmu?”

“Sedikit. Aku merindukanmu sedikit, kadang.”

“Ketika apa?”

“Makan apel merah.”

Ia menurunkanku tepat di depan pintu tanpa mengambil snapback-nya kembali. Langkahnya menjauh, semakin jauh hingga saat kudongakkan kepalaku yang terlihat hanya ujung rambut orange-nya. Minho sudah pulang.

-.-.-.-

“Minho sudah pulang.” Aku mendongak dari tumpukan kentang. “Entahlah, tapi tadi pagi-pagi sekali ia sudah pergi naik bis untuk pulang. Katanya ada hal yang penting.”

“Hyein-a,”

“Ya, Eomma?”

“Apa kau dan Minho bertengkar?”

Aku menggeleng. Kami tidak membicarakan hal yang memicu perdebatan setelah ia mengantarkanku pulang. Minho juga tidak menghubungiku setelah itu. Jadi, apa yang membuatnya pulang tentu tidak berhubungan denganku. Misalnya peliharaannya sakit, orang tuanya ingin mengajaknya berlibur ke tempat lain atau ia akan pergi berselancar di pantai lain bersama teman-temannya.

Sore hariku rasanya lebih tenang ketika Minho tidak ada. Kadang-kadang aku mendengar salakan Sangchu yang sedang berjalan-jalan dengan sepupu Minho yang tambun. Ia akan terengah-engah sambil berlari di belakang anjing hiperaktif itu. Hanya Minho yang mampu mengimbangi Sangchu, panas dengan panas. Selama tiga hari ini aku jadi rajin menunggu Sunghoon di depan restoran untuk memberinya sebotol air mineral atau jus jeruk demi menyelamatkan napasnya ketika berlari bersama Sangchu.

“Kau tahu kenapa Minho mendadak pulang?”

Ia mengerutkan dahi kemudian membenarkan letak kacamatanya. “Harusnya itu yang kutanyakan padamu.”

“Kenapa aku?”

“Minho berkata ia akan pulang setelah bercerita bahwa lututmu robek karena jatuh dari sepeda. Apa Minho yang menyebabkan kau terluka sehingga ia tidak punya muka untuk bertemu denganmu lagi?”

Aku menggeleng sambil menatap plester di lututku. Aku jatuh sendiri, tidak juga sih, aku jatuh karena terlalu sibuk menghitung berapa gadis yang mendapat senyuman Minho saat itu. Tapi aku kan tidak menyalahkannya, lagipula aku hanya bilang kalau aku kepanasan.

“Sakit ya?”

“Sedikit.”

“Lebih sakit mana dengan tidak bertemu Minho saat liburan musim panas?”

“Hah? Apaan sih kau i- ”

Sekarang yang mengajakku bicara bukan Sunghoon lagi, tetapi pemuda kota yang mengenakan training jacket berwarna merah dan snapback biru laut. Aku tidak tahu jika Sunghoon bisa pergi bersama Sangchu dengan begitu cepat atau aku yang melamun terlalu lama. Melamun? Yang benar saja, aku kan hanya melihat plester di lututku kemudian…

“Jalan-jalan, yuk!” Aku hanya menatapnya dengan dahi berkerut. “Kali ini tanpa Sangchu dan sepeda, hanya kita berdua.”

Minho menarik kedua tanganku, memaksaku berdiri sebelum menyampirkan tubuhku ke punggungnya. Kali ini aku memakai celana pendek, tidak ada alasan untuk digendong cantik seperti saat jatuh kemarin. Panas, matahari pukul tiga sore memang tidak pernah bersahabat. Nah, kan, sekarang ketahuan siapa yang tidak beres karena kena radiasi matahari-pukul-tiga-sore. Choi Minho.

Minho membawaku ke sebuah gubuk di pinggir pantai. Ia mengeluarkan sebuah kotak bekal dengan gambar apel yang sudah digigit di kedua sisinya, dari postman bag-nya. Isinya apel utuh yang kemudian ia berikan padaku. Mungkin mau menukar ratusan apelku yang ia curi sebagian sejak dulu. Heran, apa enaknya sih menggangguku makan begini.

Lagi. Ia menggerogoti sisi apelku yang lain secara perlahan-lahan. Segigit demi segigit hingga ujung hidungnya menyentuh milikku. Pada gigitan terakhir, bibirku tidak menyentuh permukaan apel lagi, tapi bibirnya.

Musim panas tahun ini, matahari-pukul-tiga-lebih, salakan anjing, suara bel sepeda, apel merah, udara yang asin dan gerakan bibir Minho yang lembut. Sekarang, aku tahu apa yang kurasakan. Aku akan merindukan semua ini ketika Minho benar-benar pulang nanti.

01.31

16.03.2014

©2013 SF3SI, Chrysalis

siggy chrysalis

Officially written by Chrysalis, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

38 thoughts on “Summer Break

  1. sweet~~
    Aku suka baca fluffnya kamu, nggak menye tapi manis, kerasa lebih realistis. keep writing, Chrys ^^b

  2. Guling2 di kasurrr akkkkkkkkk akkkkk tidaaaakkkkkk!!!!udah mau bilang gitu aja..aku jg mau donk d cium dgn lembut sama ming di pinggir pantai lalalalalalalalalala

  3. em… aku gak bisa bayangin dengan baik waktu minho menggigit bagian dari apelnya perlahan-lahan sampai gigitan terakhir si cewek mengenai bibir minho.:-/

    1. mmm, itu gimana ya jelasinnya
      jadi makannya dari sisi ke sisi terus waktu yang terakhir itu apelnya udah abis dan berpindah ke bibir minho
      haha maap ya udah bikin bingung
      makasih udah mampir ^^

  4. Ah~ neomu kyeopta! Aku juga pengen *?* oalah abaikan saja.
    Aku sukaa, aku mulai berasa berlebihan ketika baca ff fluff
    But I love it! Keep writing!
    Aku tunggu ff selanjutnyaa~

  5. Hyein brengsek, syukur-syukur dapat 3 cm lebih, aku 160 PAS MENTOK, tau kau. Umurku juga udah kepala dua. Enggak bisa tinggi lagi.

    Theres a lot of things I wanna tell you, so to make it simple Im going to point them out. K.

    One.
    Aku mau berhenti berkomentar dalam bahasa inggris, setelah liat double door dikomentari oleh orang, dan orang-orang itu semua berbahasa inggris aku memutuskan bahwa bahasa inggris itu tidak keren dan memutuskan akan meng-komen dengan bahasa indonesia yang menurutku sekarang malah nge-tren *tarik napas* malah mungkin aku bakal campur dengan bahasa rusia sedikit, biar makin nge-tren. Dan penggunaan bahasa indonesia yang (mudah-mudahan) baik dan benar itu dimulai dari sekarang.

    Dua.
    Karena kebanyakan baca fanfic zaky dan fanficmu, aku jadi sering bilang kalimat-kalimat kaku bahasa indonesia dalam kegiatan sehari-hari. Contohnya pas aku dan teman-temanku lagi gosip sore, aku pasti nyeletuk “ah, sial. Dasar kau gadis picik.” “Dasar kau bujang lapuk.” Dan mereka enggak tahan mau nyekik aku abis itu.

    Tiga.
    Cerita ini manis. Tapi gimana, ya. Enggak bikin aku sampai sakit gigi. Jadi, oke deh.

    Empat.
    Ya ampun, bahasa indonesia ribet amat.

    Lima.
    Aku masih ada kelas, bye.

    1. hah, secara nggak langsung kamu ngatain aku brengsek dong
      secara hyein setinggi aku =_____=”

      satu.
      hah iya itu kaget udah kaya english corner aja
      aku sih menyesuaikan yang komen, kalo bahasanya masih bisa dimengerti dan dibalas ya aku balas pake bahasa yang sama
      mari kita lestarikan bahasa Indonesia, merdeka!

      dua.
      tolong, kami tidak mencuci otakmu dan memaksamu untuk mengikuti bahasa kami untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
      aku bilang ponsel buat nyebut hape aja sering dipelototin
      gimana kamu . . .

      tiga.
      oke juga, makasih

      empat.
      memang, bahkan yang masuk jurusan sastra dan bahasa indonesia saja kadang masih perlu belajar

      lima.
      bye, selamat belajar

      enam.
      makasih ya sudah mampir😀

  6. chrys, you always make sins every time i read your story
    it’s just too cute~ you make me wanna have a boyfriend #pout
    but i can’t for now. and it’s your fault cuz i want it so badly now *cursing Ming and his cuteness*

    no more to say. it’still a too cute story
    #rolling around

    1. why? what did I do to you ;___;
      wahahahaha blame the heat
      I always go crazy when it comes to minho and heat
      minhoxheat is the best couple to burn my head
      hingggg, just go to key please
      or maybe jing’s clone? *slapped*

      hihihihi I’m glad you like it
      thanks for dropping by
      #rollingaroundwithbella

      1. you just made me want to have a boyfriend! gosh Chrys, but i can’t….

        just give me the real Jing please. kekekeke… and Bum has been be my side since long time ago *?*

        1. I know that you can’t have an instant boyfie, me too *slapped*
          You know, it’s hard to kidnap lee jinki since he’s much bigger than me
          maybe you can get me some bodyguards to help the plan? *grin*

        2. it will be a great idea! now we just have to find someone much bigger than us to bring him down #evilsmirk

          kita ngapain sih? hahaha

  7. Sumpah yah bkin aku kepanasan bgt.
    Salah bgt ini baca FF pas klas lgi berlangsung.
    Aku sampe tarik napas terus sampe ngerebut kipas buat ngedinginin hati.*AC gak ngaruh
    FF nya berhasil bkin aku Kipasan ngusap muka yg udah merah plus gigit bibir.

  8. ADOOOOOOOOOOOOOOOHHHHHHH
    setuju sama kak Bella. Jadi pengen punya pacaar ihhhhhh apalagi pacarnya Minho nyeheheheh xD
    Fiksimu selalu spektakulerrrrrr astaga aku selalu nyengir kalau baca fic mu. Hyahahhhhhhhhh
    Such a super duper sweeeeeeet story and I think I could melt just for imagining it!!!!! KYAAAH😄

    1. yaaaah, aku nambah dosa lagi ke anak orang
      astaga mama =____=”
      wahaha makasih lho ya udah suka sama ini
      aku sebenernya juga kaget kenapa kok bisa bikin ini
      kayaknya emang efek kepanggang di dalem rumah itu dahsyat sekali
      dan gegara efek abis liat drama di waku-waku juga sih tentang liburan ke pantai gitu

      makasih nene udah mampir ^^

  9. oh cidakkkkkkkkkkk O.O *gelindingan
    udah lama semenjak aku bikin akun wp baru gak main2 kesini ,, ini ff pertama yang aku baca setelah kambek kesini :v *elah

    aku suka cara kakak nulisnya😄 gimana ya jelasinnya *bingung, tapi pokoknya ini simple, ringan , dan alurnya jelas , aku gak kerasa bacanya tiba-tiba udah ending aja ‘_’ perfect lah pokoknya

    Fighting buat kakaknya ^^

  10. Aduh ini manis banget kayak apel *loh* ceritanya bagussss aku suka banget, bahasanya juga kamu bagus.
    semangat ya^^

  11. Aku melted baca nih ff kak. Ngebayangin jadi ceweknya.
    Oh ya kak, Sebenarnya aku udah baca ff ini tapi sempat komennya sekarang.
    Gak papa kan kak? Hehe😀
    Pokoknya aku suka banget bahasanya kakak. Aku bakalan baca ff kakak yg selanjutnya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s