Black Symphony [1.2]

black-symphony-1

 

Author : vanflaminkey91 (@whitevenus_4)
Genre : AU, angst, mystery, psychology, thriller, violence.
Length : twoshots
Rating : PG, restricted
Main cast :

  • Lee Taemin
  • Lee Jinki
  • Lee Soon Hee (@reenepott)
  • Emily Mizukawa (@helmynr)

Support cast :

  • SHINee
  • Miharu Aoki (Teteh Ama, tapi tidak tahu username twitternya yang baru ._.)
  • Kim Taeyeon
  • Victoria Song, Kwon BoA
  • Nichkhun Horvejkul

Other cast : you can find in this story.
Disclaimer : I own the story and its poster.
Author’s note : FF lamaku, yang sangat ingin aku bagikan di SF3SI. WARNING! Banyak banget typo, adegan yang agak ambigu, dan kekurangan lainnya. Mohon dimaafkan ~🙂

I’ll kill them all, who hear my music.

Black Symphony

“Iya, aku akan keluar sekitar—“ Dia melirik jam dinding. “—lima menit lagi, tunggu saja di parkiran… Iya, haha. Kau tak usah khawatir, di sini sudah tak ada orang. Tak akan ada yang mencelakaiku… iya, Eonni… Iya… Annyeong.” Dia tersenyum, lalu meletakan ponselnya di kursi yang berdiri tepat di sebelah kursinya.

Matanya menangkap sesuatu yang tidak beres dengan sepatunya, dan segera membungkuk. Tangannya bergerak-gerak membuka dan menutup lagi tali high heels di kakinya.

Gadis itu menegakan punggungnya ketika indera pendengarannya menangkap gelombang suara piano dari ruang konser. Bulu romanya mendadak berdiri, apalagi dia sedang ada di belakang panggung gedung konser yang sepi.

Alunan musik itu benar-benar lembut dan indah. Ia berani bertaruh, yang memainkannya pasti sangat pengalaman, sebab ia dapat merasakan melodi musik itu merasuki kalbunya sendiri, sebagai pendengar.

Tapi, siapa yang bermain? Bukannya ruangan konser sudah sepi?

“Ahahaha.” Ia tertawa garing, menghibur diri. “Berpikir positif, Ahyeon-ah. Siapa tahu dia sedang latihan? Nikmati saja musiknya.” Bermonolog sembari berdiri, melupakan ponselnya. Ia hendak berjalan meninggalkan ruangan ketika suara musik itu mendadak berhenti.

Kakinya seakan dipaku. Rasa penasaran membuncah ruah di dalam dadanya.

“Kenapa dia berhenti?” gumamnya sembari berbalik dan menghampiri tirai pembatas antara belakang panggung dan panggung. Rasa getir menguasai hatinya, membuatnya mencoba untuk lari, tapi—

Ia penasaran.

Disingkirkannya helai tirai merah itu perlahan. Dia menyembulkan kepala. Tak ada siapa-siapa, selain sebuah piano yang sendirian, tak berkoar dan tak berteman.

Ia terjengkang kaget saat mendengar sebuah lagu hip-hop yang familier di telinganya tiba-tiba menggaung di sana. Nafasnya segera melengos keluar saat menyadari sesuatu. Itu ringtone ponselnya.

“Di mana dia?” gumamnya masih agak penasaran, lalu memutuskan untuk melupakannya.

Baru saja gadis itu akan berbalik, sebuah suara justru menghentikan dan menghempasnya ke dalam sudut kekagetan yang luar biasa.

“Aku di sini.”

“AAAARRGHHHH!!”

Dari bawah tirai merah yang tertutup, tercipta sebuah aliran sungai kecil berbau amis dan berwarna pekat. Sebuah tangan menyembul keluar dari sana. Bermandikan darah.

Chapter One

“Kiss The Rain, Iruma?”

“Hmm.” Ia dapat mendengar pria itu menggumam tanpa membuka matanya yang terpejam, sedangkan kesepuluh jari tangannya menari-nari lincah di atas tuts piano klasik berwarna hitam kecoklatan.

“Kau tidak pernah gagal menguasai piano, Jinki hyung. I’m proud because I’m your dongsaeng. Lee Jinki, pianis yang terkenal—“

“Di kalangan pemusik saja,” ucap Jinki, pria yang sedang memainkan lagu Kiss The Rain, memotong ucapan adiknya yang belum selesai.

“Ya, di kalangan pemusik bukan hal yang buruk. Kau pianis berkelas, Hyung.” Lee Taemin tersenyum sembari menatap tuts-tuts di depannya dan tetap mendengarkan bagaimana alunan melodi itu begitu terasa hidup di tangan Jinki.  “Jika anak muda menyenangi musik klasik, mungkin kau akan terkenal seperti boyband dan girlband itu.”

Jinki terkekeh, tapi tetap fokus bermain.

Taemin lalu berdiri, seketika alunan musik itu pun berhenti.

“Sebentar, Hyung…” Pria kurus itu lalu menghilang ke dalam kamar untuk beberapa saat, sebelum akhirnya keluar lagi membawa helaian-helaian kertas. “Ini lagu baruku. Mau main?”

“Boleh.”

Taemin membiarkan Jinki bermain-main dengan melodi-melodi ciptaannya sendiri. Lagu itu benar-benar indah. Namun, di saat yang bersamaan terdengar sedih.

Taemin memperhatikan bagaimana ekspresi Jinki berubah-ubah sesuai dengan melodi yang dimainkannya. Diam-diam ia tersenyum. Hyung-nya adalah yang terbaik. Ia bangga akan hal itu. Orang tuanya bangga pada kedua anaknya. Kombinasi komposer dan pianis yang sempurna.

Ah, orang tuanya, Victoria dan Nichkhun. Sama-sama pecinta musik, pekerjaan mereka penyanyi dan darah seni itu mengaliri seluruh darah Jinki dan Taemin. Keluarga yang sempurna.

Walau kenyataannya tidak sesempurna itu. Senyum Taemin memudar.

“Bagus. Apa namanya? Sudah kau berikan nama untuk lagu ini?”

Taemin tertarik kembali ke alam nyata, kemudian terlihat perempatan kecil di dahinya. Jinki tertawa melihat tingkah Taemin, lalu mengacak rambutnya. Sementara Taemin hanya merespon dengan tawa kecil, lalu menjentikkan jarinya.

“Aku tahu!”

“Apa?”

“Karena lagu ini bernada sedih dan menghanyutkan, aku akan menamainya Black Symphony.”

“Black Symphony?”

“Ya. Black Symphony. Simfoni kegelapan. Melodi kematian.”

***

Thump. Thump. Thump.

Jantungnya berpacu dengan cepat, beriringan dengan kedua kakinya. Bulir keringat mengaliri dahinya tanpa ampun.

Masih segar dalam ingatannya sosok berdarah yang tergeletak di balik tirai panggung. Wajahnya hancur sebagian, dan tubuhnya nyaris telanjang. Darah di mana-mana, bau amis…

“Ah!” serunya saat kakinya tak lagi kuat berlari. Tangannya menggapai tembok di sampingnya, lalu menyandar di sana. Ia hanya sendirian di sini, di tangga turun gedung konser. “Aku… harus… telepon… polisi…” gumamnya lelah. Dirogohnya saku hoodie yang dikenakannya.

“Kau tidak boleh melaporkannya. Cukup lari dari sini.”

Tangannya langsung membeku saat ia mendengar suara itu. Ia menoleh dan terkejut mendapati seseorang berdiri di dekatnya.

Hhyung? Ottokhaeyo, aku…”

“Kau ingin hyung-mu ini masuk penjara, Lee Taemin?”

Dengan keras pria berambut merah itu menggeleng, sementara pria yang satunya, yang memiliki baby-face mengacak rambutnya sembari tersenyum.

“Kalau begitu bangunlah. Kita pergi. Jangan panik begitu, tak akan ada yang tahu.”

“Kau yakin?”

Taemin mendengar decakan.

“Cih. Bukankah kau sendiri yang bilang, Black Symphony adalah melodi kematian? Ayolah, kita makan es krim di toko di seberang gedung ini.”

Taemin dapat merasakan hangatnya rangkulan tangan sang kakak, ketika tangan itu melingkar di bahunya. Mereka melanjutkan langkah kaki mereka menyusuri tangga, hingga keluar dari gedung konser. Bertingkah seperti tak ada apa-apa yang terjadi di sana.

. . .

Lee Taemin POV

Ketika kau menginginkannya, aku akan memberikan.
Aku akan melakukan sesuai titahmu.
Aku tak akan membiarkan kau masuk dalam belenggu manapun.
Karena aku menyayangimu, Hyung.
Kau kakakku, dan aku adikmu.
We are a perfect combination, aren’t we?

Aku melangkah semangat, dengan segera melupakan ceceran darah dan jeroan wanita cantik yang beberapa menit lalu masih hidup itu. Membayangkan rasa es krim vanilla membaur di dalam lidahku sudah membuatku lapar.

“Aku mau banana milk juga, Hyung,” bisikku merengek, lalu tanpa sengaja bertemu dengan tatapan seorang pria yang lebih pendek dariku. Tatapannya aneh. Aku segera mengalihkan pandangan pada orang lain, mereka pun sama. Menatap aneh. Apa yang aneh? Tidak mungkin mereka tahu aku baru saja menyembunyikan kejahatan kan?

No problem, Taemin. Belilah, aku akan mengambil tempat duduk.” Dia membalas perkataanku, saat kami masuk ke dalam sebuah toko es krim yang sudah seperti kafe saja.

“Malam, ahjumma!” sapaku memberikan senyuman terbaikku. Ahjumma itu tersenyum lebar.

Ne, mau pesan apa, Nak?”

“Dua es krim vanilla dan dua banana milk.”

Ahjumma itu menatapku heran, “Dua? Kau datang dengan siapa, Nak?”

Aku mengangkat alis, “Dengan hyungku, Ahjumma.” Ia tidak bertanya lagi dan tetap tersenyum. Ah, aku suka wanita tua ini. Dia ramah, sama seperti eomma.

Setelah mendapatkan apa yang kuinginkan, aku segera menyusul Jinki hyung yang duduk di meja paling pojok, sedang menatap keluar jendela. Penasaran, aku menyelidiki ekspresinya. Tak ada perasaan menyesalkah dia?

Hyung,” panggilku membuatnya menoleh. Seketika dia langsung tersenyum, membuat perasaan khawatirku mendadak lenyap. “Selamat makan!” Tanpa basa-basi aku memakan makananku dengan lahap. Lapar.

“Taemin.”

Aku mendongak. Dia menatapku dengan serius.

“Apa mereka masih mengelu-elukan kita?”

“Siapa?”

“Penggemar kita?”

“Masih, tentu saja. Tapi, kau kan tahu, mereka bukan fans dari girlband atau boyband. Mereka dari kelas penggemar musik klasik yang tidak banyak, well, mereka masih suka menyapa di forum.” Aku menjawab dengan santai karena memang itu kenyataannya.

Kami dielu-elukan karena kemampuan kami berkombinasi.

Detik demi detik dilalui dengan perasaan tak menentu. Bahkan kami sempat melihat mobil polisi datang, lalu pihak berwajib itu masuk ke dalam gedung konser. Aku yakin mereka sudah menemukan mayat tadi.

Salah seorang dari mereka menarik perhatianku.

Dia tidak berseragam seperti yang lainnya. Ia hanya mengenakan kemeja putih dengan lapisan mantel berwarna coklat dan celana panjang bahan berwarna hitam. Tubuhnya lebih pendek dari yang lain, tapi dia kekar.

Mungkin dia inspekturnya?

Satu hal yang menarik darinya adalah, dia memiliki sesuatu yang misterius di dalam matanya. Aku bisa melihat bagaimana tatapannya saat berbicara dengan dua orang yang berbeda. Dia seperti Jinki hyung.

“Aku tahu kau menyamakanku dengannya, Lee Taemin.”

Aku terkesiap dan menoleh pada Jinki hyung yang tersenyum kecil. Aku tak membalas, hanya tersenyum.

Belum puas akan rasa penasaranku sendiri, aku menoleh lagi. Menatap menembus dari kaca jendela besar di sampingku, tapi dia tak ada lagi di sana.

“Ke mana dia?” gumamku heran, lalu segera menyerah. Ah, lupakan. Aku kan masih normal, sejak kapan jadi tertarik pada pria, huh?

Tring!

Aku menoleh ketika mendengar suara bel yang tergantung di atas pintu masuk toko ini berbunyi. Hampir saja jantungku copot saat melihat siapa yang masuk. Itu kan pria tadi! Bagaimana jika aku ketahuan menyembunyikan Jinki hyung? Ah, sial. Tanganku berkeringat.

“Sebaiknya kita segera pergi, Lee Taemin.” Aku melirik Jinki hyung yang baru saja berbicara. Senyum dinginnya terpatri di bibir tebalnya. Aku hendak protes karena belum sempat menghabiskan makananku, bahkan Jinki hyung sama sekali belum menyentuh makanannya. Tapi, dia sudah menarik tanganku.

Kami berpapasan dengan mata pria yang kuduga seorang inspektur itu. Dia tersenyum ramah, sementara aku membalasnya dengan senyum canggung. Sesaat dia terenyak, terlihat dari ekspresinya yang mendadak berubah.

Ah, aku tak peduli.

Setelah keluar dari sini, mari kita lupakan apa yang terjadi hari ini.

***

Normal POV

Soonhee berjalan lambat-lambat menyusuri koridor sekolahnya, sebuah sekolah musik bertaraf internasional. Tangannya memegang tas yang harusnya diselempangkan di bahu. Rambut sebahunya diikat satu di belakang.

“Soonheeee!” Soonhee segera menoleh ke sumber suara dan melambaikan tangannya dengan semangat kepada gadis seusianya yang sedang berlari-lari meneriaki namanya.

“Emily! Kenapa? Kau tergesa sekali kelihatannya.” Ia melirik tumpukan map yang berada dalam pelukan temannya, lalu kembali menatap Emily. Emily nyengir sesaat lalu menggandeng Soonhee.

“Kau tahu Lee Ahyeon, kan?”

“Lee Ahyeon?” Soonhee mengerutkan keningnya, terlihat kerutan samar di sana. “Hmm, rookie actress yang sudah membintangi tiga K-drama dan kemarin baru saja menyelesaikan drama musikalnya, kan? Ada apa? Kalau gosip, sepertinya aneh kalau kau yang memberitahuku.”

Emily terkekeh, seratus persen setuju dengan pernyataan Soonhee. Lalu wajahnya berubah serius, “Tidak. Ini berita kriminal.”

“Dia pakai narkoba?”

“Dia ditemukan tewas dalam keadaan mengenaskan di belakang panggung drama musikalnya,” balas Emily cepat. Ingin segera menjelaskan apa yang sedang tersangkut di dalam pikirannya. “Tangannya berlumuran darah, wajahnya penuh luka sayatan, dan—“ Ia berhenti sejenak mengecek ekspresi Soonhee. “—sebuah huruf terukir di perutnya, dihiasi darah dan…”

“Cukup,” ucap Soonhee kesal.

“Kenapa? Itu cukup horor?” seru Emily senang, merasa berhasil membuat Soonhee jengkel atau takut. Gadis Jepang itu memang suka sekali menggoda teman-temannya.

“Bukan,” kata Soonhee datar. Lalu, senyum mengembang di wajahnya, “Tapi wajahmu yang horor! Hahaha!”

“HEI! Sini kau, Lee Soonhee!”

. . .

Dua gadis berbeda kebangsaan ini masuk ke dalam kelas ketika guru mereka sudah masuk kelas. Soonhee membelalak, ia tak menyangka dirinya akan telat.

Ah, ini semua karena cerita Emily, gerutunya di dalam hati. Mengutuki Emily dan dirinya sendiri. Apalagi sekarang matanya sudah bertemu dengan sepasang mata beriris hitam milik gurunya. Mata yang selalu memancarkan tatapan dingin, dan misterius.

“Kalian pikir lewat lima menit akan ditolerir?” Suara pria yang merupakan guru termuda di sekolah itu terdengar sangat dingin. Terlalu dingin. Soonhee dan Emily menggeleng bersamaan. “Lalu, kalian tahu apa yang akan saya lakukan kalau ada murid saya yang terlambat?”

“J-jam tambahan, L-lee S-songs-aenim…” balas Soonhee agak terbata.

Pria itu tersenyum puas, lalu mengangguk, “Baik! Silakan duduk kalian berdua.”

Keduanya dengan kompak berjalan cepat sembari bertatapan dengan murid-murid lain yang memasang ekspresi tegang. Maklum, Lee Songsaenim tidak menyukai keterlambatan.

“Baik, selanjutnya, kalian tahu kan siapa saya di saat saya tak mengajar?” Lee Songsaenim mendudukan bokongnya di atas meja, lalu memandang satu persatu anak didiknya.

“Ya, kau Lee Taemin. Pianis dan komposer hebat!” jawab salah seorang murid pria.

“Benar, Choi Minho. Ada lagi yang kau ketahui tentang saya?”

“Hmm…” Pria bernama Minho itu terdiam sejenak, lalu menjentikkan kedua jarinya. “Kau punya seorang hyung yang memimpin orkestra, benar kan? Kau pernah cerita pada kami.”

Taemin atau Lee Songsaenim terkekeh, “Benar. Tapi, kau sedikit meleset. Hyung-ku sudah tidak memimpin orkestra lagi. Dia agak tertutup dan—“ Ia menyunggingkan smirk. “—agak pendiam.”

“Soonhee-ya, Lee Songsaenim kan sepupu jauhmu, kau tahu seperti apa rupa Lee Jinki?” bisik Emily menyikut pinggang Soonhee yang kemudian dibalas dengan aduhan Soonhee.

“Aduduh… ya, memang, tapi—“ Soonhee mendadak diam. Matanya menerawang ke depan. Ekspresinya pucat pasi.

“Soonhee?”

“Ah, tidak, tidak. Jinki oppa itu… hmm, baik. Ya, baik.” Gadis itu berhenti sejenak, sambil terkekeh pelan, mengamati ekspresi penasaran yang malah melambung di wajah Emily. “Sudah, jangan dibahas lagi.”

Emily mengangguk, walau penasaran di dalam dirinya masih belum surut. Ia menangkap sesuatu yang aneh di dalam nada bicara Soonhee, mungkin ia akan menyelidikinya nanti.

Taemin memandang Soonhee dari kejauhan. Smirk mengembang di bibirnya.

***

“Jonghyun! Katanya ada ukiran huruf, kan? Huruf apa?”

Namanya Miharu Aoki. Gadis Jepang yang lahir di Korea. Bertinggi tubuh sedang dengan potongan rambut yang selalu pendek seperti rambut pria. Meski begitu, wajahnya cukup manis dan ekspresinya nyaris selalu dingin.

Sementara pria yang duduk di hadapannya bernama Kim Jonghyun. Inspektur yang terkenal dengan prestasinya. Kerap kali menangani kasus pembunuhan yang sulit dan berhasil memecahkannya.

“Ini… mungkin saja ‘J’, tapi… aku tak yakin. Coba kau lihat ini,” balas pria bertubuh kekar itu, menyodorkan sehelai foto polaroid.

Miharu mengamatinya sejenak, lalu mengerutkan kening, “Ini memang ‘J’, kenapa kau tidak yakin?” Tangannya bergerak meletakkan foto itu di atas tangan Jonghyun. Jonghyun menatapnya, lalu mengangguk.

“Sir Jonghyun!” Seseorang berlari masuk menerobos pintu ruang kerja pribadi Jonghyun.

“YA! Ini ruanganku. Jangan sembarangan begitu, Jino-ya,” ucap Jonghyun mengangkat sebelah alisnya, jengkel atas kekagetannya sendiri. Jujur saja, ia agak kaget tadi.

“Maaf, Sir. Ini sangat penting. Kami menemukan barang bukti lain dan sudah mencoba mengecek apakah ada sidik jari si pelaku, tapi hasilnya sama seperti barang bukti pertama. Tidak ada sidik jari di sana, kau mau mengeceknya, Sir?”

Miharu menangkap sesuatu yang tidak beres di dalam pembicaraan itu, lalu segera menatap Jonghyun, “Apa artinya? Tak ada sidik jari pelaku?”

Jonghyun meliriknya, lalu menghela nafas. Miharu mengerutkan alisnya ketika Jonghyun meminta Jino untuk keluar.

“Ya. Inilah yang membuatku memintamu memanggilku Miharu. Instingmu dan instingku nyaris sama-sama tajam, tapi kau memiliki kemampuan lain. Kau punya sixth sense, dan aku tidak. Kupikir kalau kita bekerja sama—“

Miharu mengangguk paham, lalu tersenyum, “Selama kau yang meminta, aku tak keberatan.” Gadis itu berdiri dari duduknya, merentangkan tangan dan memutar-mutar pinggangnya yang terasa pegal. “Mari kita bekerjaa~!”

Dan ia melangkah pergi dari sana, sementara Jonghyun menatap punggung kurusnya dengan tatapan teduh. Salah satu sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman.

***

Sore yang mendung. Menjelang malam, ketika lampu di seluruh penjuru kota mulai berkerlipan.

Melodi yang diciptakan piano klasik itu memenuhi seluruh sudut ruangan. Suara dentingan halus yang saling sambung menyambung membentuk lagu, merasuki jiwa siapapun yang mendengarnya.

Dia duduk memunggungi siapapun yang bisa melihatnya dari arah barat. Punggungnya tampak bergerak halus ke kanan dan ke kiri, bahunya naik turun mengikuti irama. Kedua tangannya melompat-lompat di atas tuts.

Ia membiarkan musik yang dimainkannya meresap ke dalam kalbu, menyatu dengan setiap sentuhannya, dan merasakan bagaimana musik itu mengaduk perasaannya.

Lagu yang ia sebut sebagai ‘Black Symphony’, lagu kebanggaannya.

Ia ada di sebuah ruang musik sekolah yang tidak terpakai karena adanya ruang musik baru di lantai bawah. Harusnya ia pulang, jam mengajar telah selesai. Tapi, ia suka menghabiskan waktu sampai benar-benar malam di ruangan ini.

Matanya terpejam, tapi ia melihat padang rumput. Cahaya matahari pagi yang hangat memandikan tubuhnya, berpaduan dengan bunga lavender di sekelilingnya. Ia mendongak saat melihat sebuah tangan terulur tepat di hadapan wajahnya.

Lelaki itu memandunya berjalan di antara padang lavender, dengan derai tawa dan kebahagiaan yang meluap antara kakak dan adik. Taemin kecil memandang ke depan, senyum lebar semakin merekah saat melihat sepasang manusia mendekati mereka.

Victoria dan Nichkhun, orang tuanya. Mereka tersenyum hangat, mengulurkan tangannya dari kejauhan. Taemin melepaskan tangannya dari genggaman Jinki, lalu berlari dengan semangat mendekati mereka. Ia dapat merasakan Jinki juga mengikuti apa yang dilakukannya.

Taemin benar-benar bahagia, sebelum pagar api yang besar tiba-tiba muncul menghalangi jalannya. Ia kontan berhenti dan melihat Victoria mundur menjauhinya, dengan air mata yang perlahan berderai. Nichkhun menyusulnya tak lama kemudian.

Taemin jatuh berlutut, shock. Otaknya masih bisa mengingat Jinki, karenanya ia berbalik dan mendapati Jinki terkulai lemas di atas padang rumput, dalam genangan darah. Taemin terkejut, ia menggusur kakinya, tapi tak mampu menghampiri Jinki karena pagar api itu mengelilinginya.

“HYUNG!!! EOMMA! APPAAA!”

DANG!

Taemin terkesiap dan menekan tuts pianonya yang terakhir dengan tekanan yang kuat, ia baru saja bermimpi.

“Mimpi yang nyata,” gumamnya menghela nafas panjang. Lalu berdiri. Memandang nanar piano di hadapannya, yang kini telah membisu. “Saat pulang aku harus memeluk Jinki hyung. Aku tidak mau kehilangannya dan orang tuaku.” Dia bermonolog dengan bisikan.

Bruk.

Dia berbalik saat mendengar suara pintu yang tertutup. Seingatnya pintu itu memang sudah tertutup, tapi kenapa bisa bersuara?

“Ada yang mendengar lagumu, Taemin-ah.”

“J-jinki Hyung? Kau yang tadi masuk?”

“Ya. Ayo, ikut aku. Kita memiliki mangsa.” Jinki menyeringai, itu yang Taemin lihat. Taemin masih diam saat Jinki mendekati pintu.

Hyung!” panggilnya, berlari kecil mendekati Jinki yang menantinya di dekat pintu. Pria itu melingkarkan tangannya di tubuh sang kakak lalu menangis, “Aku sayang hyung, eomma, dan appa…”

Taemin merasakan matanya semakin panas saat Jinki berbisik, “Nado, Taemin-ah. Makanya aku tetap di sini, di sampingmu, adikku. Meskipun tidak seharusnya…”

***

Jujur saja, ia merinding setelah mendengar lagu yang dimainkan oleh gurunya.

Oh, ya, namanya Jung Yoongi. Siswi level tiga yang belum pulang karena lupa diri di dalam perpustakaan. Yoongi sendirian tentu saja, dan ia semakin takut sendirian saat melewati ruang musik lama yang tidak pernah lagi dipakai.

Memberanikan diri, ia mengintip dan mengenali sosok yang duduk di piano itu sebagai gurunya, Lee Taemin.

“Oh, lagunya indah sekali,” bisik Yoongi pada dirinya sendiri. Walau bulu kuduknya meremang, ia masih memberanikan diri menikmati lagu itu sampai habis.

Lagu yang menguasai seluruh syaraf tubuh, merasuk perlahan ke dalam jiwanya. Indah, indah sekali.

Yoongi memejamkan mata di dalam kegelapan. Cahaya memang ada, tapi cahayanya redup, dan itu tepat di atas tubuh Lee Taemin.

DANG!

Suara itu membuatnya kaget, ia menemukan Taemin berdiri. Tanpa banyak pikir lagi, ia langsung berlari dari sana. Bukan karena takut dimarahi, tapi refleks tubuhnya membawa kedua kakinya lari.

Ada suatu ketakutan yang aneh, tidak jelas dari mana sumbernya.

Yoongi baru berhenti lari saat tiba di tangga. Pelan, ia menuruni tangga. Berdoa agar tidak bertemu dengan hantu atau sejenisnya. Ia tahu ada sekuriti, tapi mereka ada di gerbang dan baru akan berkeliling sekitar jam sebelas malam.

Yoongi mendesah lega saat mendapati dirinya sudah di lantai dasar. Ia bisa berjalan lebih santai dari sebelumnya, melewati ruang kantor administrasi, kepala sekolah, dan lainnya.

Tuk. Tuk. Tuk.

Gadis itu berhenti mendadak. Tubuhnya menegang. Matanya membelalak. Udara di sekitarnya terasa dingin saat ia mendengar suara langkah sepatu di belakangnya.

“Mungkin Lee Saem,” bisiknya menghibur diri. Tapi, bukannya terhibur, ketakutannya semakin bertambah. Ketakutan yang membuatnya terpaksa berbalik, merasa suara itu ada di belakangnya.

Deg.

Di kejauhan, ia bisa melihat siluet seorang pria di dalam kegelapan berjalan mendekati. Yoongi mendesah lega, ia tahu siapa itu. Hatinya masih was-was, tapi ia  berusaha berpikir positif.

Annyeong—“ Yoongi yang berteriak menyapa gurunya mendadak kaget. Saat orang itu makin mendekat dan melewati cahaya, ia bisa melihat jelas wajahnya. Namun, bukan itu yang membuatnya kaget, bahkan berkeringat dingin.

Orang itu berjalan dengan tenang membawa sesuatu yang berkilauan terkena cahaya. Pipih, runcing, dan tampak mengintimidasi hanya dengan melihatnya saja.

Belati komando yang baru diasah.

Kaki Yoongi seakan dipaku, ia tak bisa bergerak.

“Jung Yoongi.” Ia mendengar namanya dipanggil oleh suara yang familier, tapi kali ini terdengar dingin da menyeramkan. “Saya punya sesuatu.”

Saat itulah, Yoongi berbalik dan lari sekuat yang ia bisa. Giginya bergemeretuk ketakutan. Ingin berteriak, tapi tak ada suara sedikitpun yang bisa dikeluarkannya.

”AAARGH!”

Sesuatu menancap menembus daging kakinya. Ia langsung tersungkur ke depan, merasakan sakit luar biasa dan panas menjalari tubuhnya. Ia dapat mencium bau anyir darah yang pekat, dan kulitnya menyentuh cairan kental itu.

“Sakit?” Si pelakunya malah berdiri di hadapannya, membuat Yoongi tak kuasa menatapnya. Pelakunya menyunggingkan smirk dan melayangkan kakinya ke wajah cantik nan polos milik Yoongi.

. . .

Lee Taemin POV

“Lee Saem! JEBAL!” Aku menutup mata mendengar teriakan muridku sendiri. Aku tak mampu menolongnya ketika Jinki hyung menginjak wajah mulus itu, lalu memutar-mutar sepatunya di sana. Dapat kulihat ia menekan juga sepatunya.

Oh, tidak…

Wajah itu mulai rusak. Kulitnya terkoyak, dan matanya mengeluarkan darah.

Hyung,” bisikku memelas.

“Diamlah, Taemin-ah.” Jinki hyung menendang keras wajah itu hingga Yoongi terdorong beberapa senti. Kepalanya membentur tembok, hingga telinga kanannya mengeluarkan cairan amis berwarna merah.

“Taemin saem…” Suaranya lemah, sarat akan permohonan. Maaf, Yoongi… aku memilih Jinki hyung.

“Kau mendengar lagu tadi, salahmu sendiri, Jung Yoongi.” Entah dari mana Jinki hyung tahu namanya. Yoongi tidak memakai name tagnya. Jinki hyung membiarkan Yoongi terbaring pasrah, pipinya mencium genangan darahnya sendiri.

Hyung, apa yang kau lakukan?” pekikku saat Jinki hyung mencabut belati itu dari kaki Yoongi secara paksa. Yoongi berteriak tertahan, walau suaranya tidak jelas karena mulutnya hancur sebagian.

“L-lee, S-saem, k-kau bicara… ARRGH!” Jinki hyung menancapkan pisau itu tepat  di mata kiri siswiku. Mengoyaknya, sementara Yoongi berteriak sembari menggeliat. Ia kesakitan, aku tahu. Tapi, apa yang bisa kulakukan?

Darah menyembul keluar saat Jinki hyung mencabut pisaunya. Ia menendang tubuh Yoongi hingga terlentang, lalu menjambak rambutnya yang lengket oleh darahnya sendiri.

“Taemin-ah, this is the real show.” Jinki hyung tersenyum hangat padaku, lalu dengan sekali ayun, ia mempertemukan mata belati yang tajam itu dengan urat nadi di leher Yoongi.

Teriakan keras itu langsung habis saat tubuhnya terjatuh, sementara kepalanya masih ada di dalam genggaman Jinki hyung. Seakan belum puas, Jinki hyung memangkas habis rambut Yoongi, lalu melempar kepalanya begitu saja.

Darah di pisau itu tampak segar dan membuatku merebutnya dari Jinki hyung. Perlahan, aku menjilatnya. Kurasakan rasa manis bercampur bau anyir itu memengaruhi indera perasa dan penciumku.

Aku melirik Jinki hyung yang tersenyum.

Aku pun tersenyum. Perlahan tapi pasti, aku tahu apa yang terjadi pada diriku sekarang.

Aku mulai menyukai ini.

***

Emily Mizukawa POV

Berkutat di depan laptop selama berjam-jam untuk mengerjakan tugas Lee Sensei sebagai hukuman membuat mataku kesat. Aku harusnya senang. Dia (tumbennya) memberikan tugas hukumanku untuk dikerjakan di rumah, bukan pas pulang sekolah. Aku tidak suka berlama-lama di sekolah.

Begitupun Soonhee. Entah ada angin apa dengan guru kami yang satu itu.

“Emily.”

Aku menoleh ke belakang dan melihat Miharu, kakak angkatku sedang berdiri tak jauh dariku. Kuangkat sebelah alisku.

“Apa kau sudah dengar kasus Lee Ahyeon?”

“Tentu,” balasku. Aku bahkan sudah menceritakannya pada Soonhee, kan?

“Berhati-hatilah. Aku punya firasat, pembunuhnya menyukai musik. Kau sekolah di sekolah musik, dan kurasa tak ada salahnya aku memperingatkanmu. Instingku jarang salah, benar?” Dia duduk di kursi terdekat, sebuah kursi dari bambu tua peninggalan okasan.

Kepalaku bergerak ke atas dan ke bawah secara pelan. Aku agak tidak peduli, namun akan kusimpan ucapannya di dalam otakku. Dia benar, dia jarang salah saat menebak suatu kriminalitas.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Onee-san!” panggilku. Saat kudengar dia menggumam, aku melanjutkan. “Kau penggemar Lee Taemin, kan? Komposer dan pianis itu?” ucapku sembari tidak mengalihkan pandanganku dari layar laptop yang semakin lama semakin membosankan.

“Ya?”

“Minggu depan dia mengundang murid-muridnya di kelasku untuk menghadiri konser tunggalnya. Kau mau ikut? Tidak ada tiket, dia sudah bilang.”

“Hmm? Hanya kelasmu? Kenapa?”

“Aku tak mengerti.”

“Baiklah, mungkin aku bisa sekalian mengajak Kibum.”

Dengan segera aku menegakkan kepala dan berbalik, menatapnya kaget. Dia tersenyum samar, terlihat agak jahil.

“Kau suka Kibum, kan? Kakaknya si Minho itu?” Dia tertawa renyah sementara aku—

Oh, sial, pipiku panas!

***

Normal POV

Pagi berikutnya.

Mobil Audi hitam itu berhenti di pelataran parkir sebuah gedung orkestra yang sering dijadikan tempat latihan grup-grup orkestra terkenal di Korea Selatan. Kakinya yang dialasi sepatu hitam turun terlebih dahulu, lalu seluruh tubuhnya menyusul kemudian.

Ia mempertahankan ekspresi datarnya hingga masuk ke dalam. Bertemu dengan segerombolan orang yang bergabung menjadi satu sebagai grup orkestra “Liquor” yang dipimpinnya, Lee Taemin.

Annyeonghasseo, Mr. Lee!” sapa beberapa dari mereka, bagian alat musik.

Taemin tersenyum ala kadarnya, lalu melihat berkeliling, “Choir belum datang?” Ia melihat beberapa kepala menggeleng bersamaan, baru ia beranjak menuju ke sebuah ruangan yang ada di sebelah ruangan tadi.

Ia tidak melihat satu pun anggota choirnya hadir.

“Hmm… tidak satu pun? Apa aku harus memberi tugas seperti pada murid sekolahku? Aish.” Taemin menggerutu, sembari menatapi jam tangannya. Pria itu membenarkan kemejanya sendiri, lalu membalikkan tubuh.

Ia nyaris terjatuh ke belakang, saking kagetnya melihat seorang wanita berwajah manis  berdiri di sana, lengkap dengan gaun scarlet selutut. Wanita itu tersenyum.

“Aku di sini, Mr. Lee.”

“Ah, hanya kau yang disiplin waktu, Kim Taeyeon.” Taemin tersenyum ramah, lalu mendekatinya. Tentu saja ia ramah, bahkan akrab sekali dengan wanita bernama Kim Taeyeon itu.

Kim Taeyeon adalah tunangan kakaknya, sekaligus anggota choirnya. Jadi, kenapa ia ramah? Ia sudah menganggap Taeyeon sebagai kakaknya sendiri.

“Hmm, Taeyeon-ah, karena hanya ada kau, bisakah aku menitipkan tugas padamu dan sampaikan pada yang lain jika sudah datang? Aku harus mengajar di sekolah musik dan—“

“Serahkan saja padaku, Taemin.”

Taemin tersenyum.

***

Suara tangis itu terdengar mendominasi. Tak ada yang tersenyum, apalagi tertawa. Ekspresi berduka, penyesalan, dan ketidak percayaan terpatri jelas di wajah tiap murid yang dijumpainya.

Kegiatan sekolah terpaksa dihentikan atas diketemukannya mayat seorang siswi di koridor lantai satu.

Kim Jonghyun mencoba menahan dirinya dari emosi yang membludak tatkala menemukan ciri yang sama seperti yang ditemukannya kemarin.

Inisial ‘J’ yang diukir sedemikian rupa di salah satu bagian tubuh Jung Yoongi.

Jonghyun menatap miris tubuh dan kepala yang terpisah itu saat sedang diangkat ke dalam kantung jenazah oleh petugas berbaju putih. Bau anyir yang mengintimidasi, berusaha merasuk saluran pernapasannya.

“Katakan pada Dokter Ahn untuk meng-autopsi,” perintah Jonghyun pada salah satu kaki tangannya. “Tak ada saksi, sulit dilacak,” gumamnya pada diri sendiri. Mengharapkan seorang dewi membisikan nama pelakunya.

Matanya bergerak mengamati Miharu yang memaksa ikut ke tempat ini, sekolah adiknya sendiri.

Gadis itu tampak khawatir. Teringat akan pesan yang dilontarkannya semalam pada Emily. Instingnya berkata benar hari ini. Miharu berjongkok di dekat noda darah yang sudah mengering menjadi kecoklatan.

Jari lentiknya menyentuh noda tersebut tanpa rasa jijik, meski bau anyir khas itu sudah memenuhi rongga hidungnya.

Jonghyun melihat bagaimana Miharu mendadak menutup matanya. Mengamati ekspresi yang tergambar di wajah gadis itu secara bergantian. Dari tenang menjadi gugup.

“Astaga!” seru Miharu agak keras, lalu berdiri. Nafasnya mendadak terpompa dua kali lebih cepat. Pucat mewarnai wajahnya. Jonghyun dengan cepat menghampirinya.

“Ada apa? Apa yang kau lihat?”

“G-gadis ini… l-lari… diinjak… a-ada pria dan piano… tapi, aku tak melihat wajah pria itu… aku mendengar melodinya. Lagu yang dimainkannya benar-benar indah, sangatt indah. Merasuk kalbu, tapi kurasa aku menyebutnya lagu kematian. Yoongi lari setelah lagu itu selesai.” Dengan lancar (walau agak gagap di awal), Miharu menceritakan apa yang baru disaksikannya berkat sixth sense yang dimilikinya.

“Apa lagi?” Jonghyun mengerutkan kening, membiarkan otaknya berproses.

“Pria itu terlihat familier, tapi aku tak tahu pernah melihatnya di mana.”

“Apakah—“

“Ada apa ini?!”

Seseorang memotong ucapan Jonghyun, membuatnya berbalik dan mempertemukan tatapan matanya sendiri dengan mata beriris hitam itu.

Taemin tercekat melihat orang di hadapannya. Orang yang diyakininya sebagai orang yang menangani kasus Lee Ahyeon tempo hari. Jonghyun juga sama kagetnya. Ia pernah berpapasan dengan Taemin di toko es krim.

“Ah, Anda Lee Taemin?”

N-ne… a-anda?”

“Kim Jonghyun. Inspektur. Well,  saya turut berduka atas meninggalnya murid anda,” ucap Jonghyun sembari menjabat tangan Taemin. Taemin tersenyum canggung, lalu melirik Miharu. “Dia Miharu,” kata Jonghyun tanpa ditanya.

“Miharu-ssi, anda mirip dengan Kim Taeyeon.” Taemin tersenyum.

“Maaf?” Miharu merasa asing dengan nama itu.

“Ah, itu tunangan kakakku, Lee Jinki. Aku akan mengenalkannya pada anda nanti. Murid saya, Emily pernah menunjukan foto anda, Miharu-ssi. Jangan lupa datang ke konser itu, ne? Saya mengundang anda. Anda juga boleh, Jonghyun-ssi.”

Kamsahamnidaaa,” ucap Jonghyun dan Miharu berbarengan. Taemin lalu pergi dari sana. Tanpa menanyakan lebih lanjut mengenai kasus muridnya sendiri. Saat sudah memunggungi Miharu dan Jonghyun, ia menyunggingkan smirk.

Miharu sendiri mengamati punggung pria itu, berpikir. Aku familier dengan postur itu…

***

Soonhee menikmati makan siang bersama Emily, Miharu dan Jonghyun. Selesai menyelidiki sekolahnya, Jonghyun mengajak Emily makan siang, dan Emily langsung mengajak Soonhee yang kebetulan akan mencari makan.

“Oh, itu… aku menunjukkan fotomu dan mengatakan kau fansnya, Onee-san.” Dengan wajah polos tanpa dosa, Emily menjawab pertanyaan Miharu dengan mulut penuh sashimi. Soonhee meliriknya geli, seperti menahan tawa. Sedangkan Miharu sendiri menatapnya kesal.

Jonghyun makan dengan tenang, walau pikirannya tidak setenang itu.

Kim Taeyeon… namanya terasa familiar. Begitupun Lee Jinki. Tapi, di mana aku pernah mendengarnya?

Pertanyaan itu terus berkecamuk di dalam pikiran Jonghyun. Membuatnya nyaris tidak bisa menikmati salmon di hadapannya.

Restoran Jepang itu terlihat cukup ramai dipadati pengunjung. Kasus yang ditangani Jonghyun sedang heboh memang. Dengan cepat, netizens sudah menyebarkan berita pembunuhan di sekolah musik tempat Emily sekolah.

“Tapi, katamu kan pria itu bermain piano. Mungkin saja pembunuhnya orang yang mencintai musik?” ucap Soonhee pada Miharu. Menatapnya serius. Miharu mengangguk pendek, lalu menyuapkan potongan sayur ke dalam mulutnya.

“Jadi… kita harus mencurigai orang-orang seperti itu di sekolahmu.” Jonghyun mewakili Miharu yang tidak ingin membalas dengan kata-kata.

“Semua guru kami mencintai musik, tapi mungkinkah guru kami membunuh muridnya sendiri?” ujar Emily, kemudian mengunyah dengan santai.

“Sudah. Jangan dibahas dulu. Biarkan aku berkonsentrasi dengan makananku,” potong Miharu menghentikan topik satu orang inspektur dan dua murid sekolahan yang kelewat tertarik pada kasus pembunuhan.

***

5 hari kemudian.

Lee Taemin POV

Malam sudah cukup larut saat aku tiba di gedung yang akan menjadi tempatku melaksanakan konser tunggal lusa. Aku akan berlatih di sini, hari ini, dengan lagu terbaruku yang akan kukenalkan pada dunia.

Black Symphony.

Aku membuka pintu venue dan disambut oleh keheningan yang menusuk. Tapi, aku tak datang sendiri. Aku datang di antara banyak orang. Jinki hyung, Taeyeon noona, Vict eomma dan Nichkhun appa. Oh, bersama Soonhee juga tentu saja.

Aku akan mengajarinya Black Symphony, sekalian menyuruhnya menghafal tangga nada baru untuk ujian minggu depan.

Soonhee tidak banyak bicara, meski banyak yang mengajaknya bicara. Aku tak marah, yang lain juga begitu. Soonhee jadi agak anti bicara pada kami, terutama Jinki hyung, eomma dan appa. Entahlah, tapi kami paham.

“Baiklah, Soonhee-ya.” Aku menarik nafas, lalu mengajaknya duduk di depan piano. “Jinki hyung akan memainkannya, kau dengarkan baik-baik dan mainkan, ne?”

Soonhee mendongak, tatapannya…

“J-jinki oppa? D-dia?” bisiknya. Aku mengerutkan kening. Kenapa anak ini?

“Iya. Tenanglah, dia tersenyum. Kenapa kau takut?”

Soonhee mengangguk, lalu diam mengamati tuts piano sementara aku melihat Jinki hyung memposisikan tangan di atas tuts.

“Lihat baik-baik, Soonhee.” Jinki hyung mengajak Soonhee bicara, walau ia tak merespon. Detik berikutnya, lagu yang membuatku bangga ini terdengar memenuhi sudut venue. Punggung Jinki hyung bergerak-gerak mengikuti irama, sementara Soonhee masih terpaku diam.

Aku melirik Taeyeon noona yang terpesona pada Jinki hyung. Lalu, aku melihat Vict eomma dan Nichkhun appa tersenyum bangga. Well, aku juga bangga. Jari hyung-ku tidak ada matinya.

Baru di tengah lagu, Jinki hyung berhenti tiba-tiba. Soonhee melirikku ngeri, entah kenapa.

Aku sendiri bingung.

Jinki hyung berdiri begitu saja. Wajahnya masih berekspresi ramah, senyum hangat masih terpatri jelas di sana.

Eomma!” panggil Jinki hyung, lalu turun dari panggung. “Appa!” Ia juga memanggil appa, berjalan menghampiri keduanya yang duduk di barisan depan. Mereka berbicara, entah apa yang dibicarakan. Aku memberi pertanyaan pada Taeyeon noona, dia mengangkat bahu. Tak mengerti.

Soonhee diam membeku. Tidak ada suara yang dikeluarkannya. Kenapa dia pendiam sekali sih kalau ada Jinki hyung, eomma, appa, dan Taeng noona?

Aku lalu mengikuti Jinki hyung yang mendadak keluar ruangan. Wajahku memucat melihatnya mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya.

Sebuah revolver.

Aku melihat ke arah Jinki hyung pergi setelah kami di luar ruangan. Tanpa sengaja kutangkap bayangan seseorang berlari menjauh. Mendadak wajahku pucat.

Tidak. Jinki hyung tidak boleh membunuh lagi!

***

Kim Jonghyun POV

Aku menguap.

Ngantuk sekali, tapi aku masih penasaran dengan dua kasus terakhir yang kuyakin dilakukan oleh orang yang sama itu.

Di dalam ruangan kerjaku ini, aku membiarkan pikiranku bekerja keras sembari bermesraan dengan foto-foto korban, data hasil autopsi dan lainnya Mencoba menyambung-nyambungkan.

Aku penasaran dengan inisial ‘J’ yang terukir di kedua tubuh korban. Sebalnya, ‘J’ juga huruf namaku kan? Aihh! Masa pembunuhnya berhuruf depan sama denganku?!

Oke, tidak penting.

“Berhubungan dengan pecinta musik…” Entah sudah berapa kali aku menggumamkan kalimat itu. Aku juga tak mengerti.

Lampu ruangan sengaja kumatikan, sehingga hanya lampu di mejaku saja yang menyala. Aku yakin, sebentar lagi aku akan ‘meniduri’ kertas-kertas ini. Mataku sudah memaksa ingin ditutup!

Aku membuka laci mejaku, hendak mengambil bolpoin baru ketika aku menatap sebuah buku tebal bersampul kulit warna merah marun. Sesuatu menghipnotisku untuk mengambilnya. Buku ini sudah agak usang karena aku sudah lama tak membukanya.

Aku ingat, ini buku berisi artikel-artikel kasusku yang pernah kutangani. Saat kubuka lembar pertama, aku mengernyit menatap foto korban mutilasi lengkap dengan judulnya. Kertasnya sudah menguning dan isinya mendukung buku ini untuk terlihat horor. Aku tak tahu kenapa dulu aku melakukan ini.

“Aish..”

Aku membuka lembar demi lembar. Mengalihkan sejenak perhatianku dari kasus yang sekarang.

Angin semilir dari jendela yang sengaja kubuka masuk dengan bebas, berulangkali mengipasi, memijat dan memberiku semangat. Ahhh… aku Kim Jonghyun, si Anak Angin. Hahaha.

Di lembar ke lima puluh, aku berhenti sejenak untuk menyempatkan diri membaca. Ada sesuatu yang menarikku. Foto seorang wanita cantik yang menjadi korban kebakaran hebat di sebuah rumah di pinggiran kota. Bukan foto mayatnya, tapi foto aslinya.

Wajah ini familier sekali.

“Siapa ya…”

Lalu aku membaca judulnya. Meniti huruf demi huruf dan kata demi kata yang dibuat oleh seorang jurnalis.

Jantungku mendadak berhenti.

Terngiang di telingaku ucapan seseorang beberapa hari yang lalu.

“Miharu-ssi, anda mirip dengan Kim Taeyeon.”

Kim Taeyeon? Miharu?

Aku mengamati fotonya sekali lagi. Dia mirip Miharu… agak mirip.

Masih tidak percaya, aku membaca lagi judulnya. Hingga jantungku seakan berhenti detik itu juga karena kekagetan yang luar biasa.

Kebakaran Hebat Mengakhiri Nyawa Seorang Gadis Desa Cantik Bernama Kim Taeyeon

Jadi, siapa Kim Taeyeon yang dimaksud oleh gurunya Emily itu?

***

Normal.

“APA YANG KAU LAKUKAN?!” Gadis cantik itu membentak seorang anak lelaki kecil berusia 10 tahun yang berdiri tegak di depan sebuah rumah yang menjadi santapan lezat si jago merah.

“A-aku…”

“Mana dia?!”

“Di dalam…”

“APA?!” Gadis itu langsung berlari, menerobos api yang membesar. Tak mempedulikan sekitarnya. Sementara orang-orang berdatangan. Gadis itu masuk, dan tidak pernah keluar lagi hingga rumah itu hangus menjadi debu. Mengubur jiwa-jiwa tak berdosa yang dipaksa pergi oleh sepasang tangan yang seharusnya tak bersalah.

To be continued

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, Guys. 

First, ini ff lama. Lamaaaaa banget, sekitar Januari 2013 aku publish ini. Jadi, maaf banget atas typo, alur yang terlalu cepat, diksi yang engga terlalu baik, crime yang gak begitu kena, thriller yang gagal, dsb. 

Second, meski ff ini ff lama, aku sangat berharap ff ini tidak mengecewakan.

Third, ff ini mungkin beberapa sudah pernah baca di blog pribadiku. Begitu saja.

Thank you~ ^^

©2013 SF3SI, Vania

signature

Officially written by Vania claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

25 thoughts on “Black Symphony [1.2]

  1. menarik, setiap kisahnya sangat sulit ditebak, masih penasaran sama kelanjutannya. Nice Fanfic🙂
    ▪dan aku akan akan membantu kalian menyelidiki kasus ini, Jonghyun-ssi dan Miharu-ssi #abaikan

  2. sepertinya jinki,taeyeon (pastinya), & kedua ortu mereka sudah meninggal. ini dugaan sementara, dan taemin adalah psikopat? atau jinki?
    Intinya aku suka *o* dan aku rasa semuanya oke2 aja tuh. Mungkin benar, alurnya agak cepat. Tapi gak apa, dari pada panjang2 dan bermain-main kata(?) enaknya sih singkat, tp gk terlalu, padat, dan di mengerti

    ditunggu part 2 nya ^^

  3. Taemin psikopat ih..dia yang bunuh kan? Semacam mengalami delusi kalo emak, bapak, abang sama pacar abangnya masih hidup, padahal mereka udah meninggal.
    Jadi penasaran sama lanjutannya… Author-nim, next part juseyo~

  4. Jinki psikopat? Atau Taemin??? Andwee… Oppa dan adikku ku yang manis dan lembut…
    Tapi ni cerita sukses buat aku merinding… Sadis, saeng…

  5. Jinki yang membunuh atau TaeMin, atau TaeMin yang telah kehilangan kewarasannya
    Baca part berikutnya kebut”an

  6. Tegang bacanya… Tanganku dingin. Ya ampum… Malem pula… Baca part dua nya besok aja deh… Aku takut…

  7. astaga! apa ini?!! kenapa juga aku bacanya pas bamget gak ada orang di rumah?! merinding waktu baca bagian Onew membunuh, sampe musti ambil time-out dulu baru lanjutin baca >__<
    Sekarang menuju bagian kedua.. musti siapin hati lagi nih…

  8. Uaa…
    Sepanjang jalan kenangan~ #nyanyi #plakk
    Maksudnya, sepanjang sejarah*?* aku baca ff mystery, spekulasi aku adalah….
    Pasti Taemin sakit jiwa? Jadi sebenernya Jinki itu ga ada? Lalu sebenernya dia itu anak buangan yang pengen bales dendam ke semua orang.. #dramabangetpikiranguee
    Atau, yang lebih masuk akal kalo dihubungkan dengan part 1nya ini, Jinki, Taeyeon, Vic, sama Nickhun udah mati di kebakaran waktu Taem masih kecil..?
    Yaa.. Daripada comment ini jadi panjang, bikin sakit mata waktu bacanya apalagi ditambah dengan spekulasi gaje ini, aku mau lanjut ke part 2nya dulu ya… ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s