Black Symphony [2.2]

Author : vanflaminkey91 (@whitevenus_4)
Genre : AU, angst, mystery, psychology, thriller, violence.
Length : twoshots
Rating : PG, restricted
Main cast :

  • Lee Taemin
  • Lee Jinki
  • Lee Soon Hee (@reenepott)
  • Emily Mizukawa (@helmynr)

Support cast :

  • SHINee
  • Miharu Aoki (Teteh Ama, tapi tidak tahu username twitternya yang baru ._.)
  • Kim Taeyeon
  • Victoria Song
  • Kwon BoA
  • Nichkhun Horvejkul

Other cast : you can find in this story.
Disclaimer : I own the story and its poster.
Author’s note : FF lamaku, yang sangat ingin aku bagikan di SF3SI. WARNING! Banyak banget typo, adegan yang agak ambigu, dan kekurangan lainnya. Mohon dimaafkan ~🙂

  black-symphony-1

Black Symphony

 

Tidak. Jinki hyung tidak boleh membunuh lagi!
Sudah cukup aku melihat bagaimana lihainya dia memainkan sebuah pisau,
menggoresnya ke atas kulit korban, mengoyak, memotong…
Dan sekarang
revolver? Dari mana dia dapatkan itu?

Taemin berlari mengikuti bayangan orang yang sedang dikejarnya. Wajahnya tampak bingung dan mengerikan dalam hal yang bersamaan. Nafasnya memburu, pikirannya berperang.

Ia melihat bayangan orang itu berhenti di sebuah belokan, dan tak lama terdengar bunyi pintu dari sana. Bantingan pintu yang sangat keras, membuatnya menyunggingkan sebuah smirk. Sementara tangannya mulai menyiapkan sang revolver maut.

Chapter Two – End.

Lee Soonhee membiarkan dirinya terpaku bersama piano yang berdiri kokoh di hadapannya. Wajahnya pucat pasi saat melihat bagaimana pria di sampingnya memainkan Black Symphony. Bukan karena permainannya jelek, justru sebaliknya. Permainannya luar biasa.

Tapi, masalahnya orang itu bertingkah aneh.

Dan kenyataan saat orang itu berdiri lalu berlari keluar dari ruang konser sembari mengokang revolver membuatnya nyaris tak memiliki warna kulit. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Ia tahu kelanjutannya akan bagaimana, karena ia tahu ada orang yang mendengar lagu itu.

Dan ia tahu siapa orang yang sialnya ketahuan mendengar itu.

“Apa yang harus kulakukan?” bisiknya keruh. Otaknya berbicara, tapi hatinya juga ikut menimpali. Ia tidak tahu harus memilih yang mana di antara hal di otaknya–yang menyuruhnya diam saja untuk menyelamatkan diri sendiri, atau hatinya yang mengatakan kalau dia harus menolong orang yang ia tahu akan segera mati jika ia tidak bertindak.

DORR

Terdengar suara tembakan yang membahana, memenuhi ruang konser. Ia tidak yakin, tapi pasti tempatnya tak jauh dari ruangan ini.

Soonhee masih mengkerut di kursinya ketika ia mendengar lagi suara tembakan. Kali ini dua kali.

Mendadak saja air mata pecah mengaliri pipinya. Mendadak saja semua ketakutannya hilang. Mendadak saja dia merasa jadi orang paling keji sedunia. Mendadak saja—

Soonhee bangkit dari tempat duduknya, melangkah. Dengan kaki gemetaran.

Dia akan melawannya dengan tangan kosong. Ya, tangan kosong.

***

DORR

Tubuhnya sedikit tersentak ke belakang saat revolver itu memuntahkan timahnya yang panas, melubangi pintu yang terkunci kuat di hadapannya.

DORR DORR

Kali ini ia mengarahkan mulut si revolver ke lubang kunci pintu. Wajahnya nyaris tak berekspresi. Nyaris tak memiliki rasa apapun saat menembak apa yang ada di hadapannya.

Ketika yakin pintu itu cukup rapuh untuk ditendang, kakinya langsung bicara. Suara berdebam keras terdengar begitu mendominasi ruangan sepi yang terasa mencekam itu. Matanya mulai menjilati setiap sudut ruangan dan tak menemukan siapa pun.

Ia tersentak. Digenggamnya revolver itu dengan erat, kekuatan maksimum. Ekspresinya masih sama, datar dan terkesan dingin. Namun, pandangannya terlihat sangat membunuh. Disertai dengan kemarahan dan emosi yang tak terkontrol.

“Aarrgh, ke mana dia? Brengsek. Akan kupatahkan lehernya dengan tanganku sendiri,” gumamnya serak.

“Tidak. Biarkan saja, Jinki hyung.” Suaranya berubah lagi. Suara serak nan mengintimidasi berubah menjadi suara bernada innocent dan mengandung sebuah ketakutan besar di sana. Tapi, ekspresinya tetap sama.

“Tidak, tidak. Semua yang mendengar lagu itu harus kubunuh!”

“Bagaimana dengan Soonhee?”

Seseorang di ambang pintu, tepat di belakangnya langsung menegang begitu mendengar namanya disebut. Tapi, sebisa mungkin ia memasang wajah santai dan biasa.

“Tidak. Dia keluarga kita. Hanya orang luar yang tidak boleh— oh, Soonhee!” Pria itu berbicara sembari membalikan tubuh dan tatapannya bertemu dengan tatapan Soonhee. Gadis itu hanya tersenyum kaku dan mengangguk. Tangannya tersembunyi di belakang, menggenggam sebuah balok kayu yang tak sengaja ditemukannya saat ke sini dengan erat. Berjaga-jaga akan situasi paling buruk.

O-oppa… kenapa… sendirian?”

“Apa maksudmu sendirian?” Taemin menatapnya heran. Soonhee langsung pucat pasi dan menggigit bibirnya. Sepertinya ia salah kata.

“Hmm, eh, eh, maksudku… kau tadi mengejar siapa dan kenapa bisa ada di sini hanya dengan… Jinki oppa?” Soonhee berusaha menyembunyikan nada paniknya di dalam nada datar nan innocent yang selalu digunakannya saat bicara dengan Taemin. Lee Taemin. Gurunya. Sepupunya.

Dengan santai pria di hadapannya melemparkan revolver itu sembarangan dan mengendikan bahu, “Setidaknya Jinki hyung tidak jadi membunuhnya, kan? Ah, ayo kita kembali, Baby. Kau harus bisa seperti Jinki hyung. Hanya kau yang kami percaya memainkan lagu itu.” Lalu tangannya melingkar di bahu Soonhee.

Soonhee masih penasaran. Ia melirik kembali ke dalam ruangan ketika tatapannya bertemu dengan tatapan seseorang.

Seorang wanita dengan temannya yang nyaris dibunuh.

Wanita misterius itu melemparkan senyuman, sementara temannya Soonhee yang ada di dalam pelukannya juga tersenyum ngeri pada Soonhee. Tapi, Soonhee bisa melihat kelegaan di matanya.

Thanks, God. Ia berbisik di dalam hatinya, lalu segera menyusul Taemin  yang sudah memanggilnya lagi.

***

Jantungnya berdebar sangat kencang saat mendengar suara kaki mengejar di belakangnya semakin dekat. Ia tidak tahu kenapa ia berlari, padahal orang itu hanya berdiri dari kursinya lalu keluar. Barangkali ia bisa berkenalan, kan? Ini idola sang kakak, Miharu. Miharu adalah fans Taemin, pianis piano klasik yang namanya terkenal.

Tapi, kenapa ia merasa takut? Sangat takut hingga membuat kedua kakinya berlari.

Shit!” desisnya mengumpat kasar saat menyadari keputusannya berbelok ke belokan ini adalah keputusan yang salah. Ia melihat bayangan orang itu dari posisinya sekarang. Matilah dia sekarang. Mati.

Matanya dengan nyalang melihat ke sana kemari, bermaksud mencari pegangan untuk menyerang orang itu. Dia tak tahu kenapa dia harus melakukannya, ia tak mengerti.

Emily Mizukawa lalu tersentak saat menyadari ada pintu di sampingnya. Sekali lagi ia mengumpat karena merasa bodoh di saat genting seperti ini. Tanpa buang waktu, dibukanya pintu itu, lalu segera ia masuk ke dalamnya. Mengunci pintu dengan segala kunci yang tertempel di baliknya.

Emily mundur perlahan, hingga tubuhnya menabrak tembok. Peluh memenuhi dahinya, mengaliri permukaan kulitnya. Wajahnya pucat. Ia masih tetap waspada, karena ia punya pengalaman lebih buruk saat ikut beraksi bersama Jonghyun. Keterlaluan memang, tapi Jonghyun benar-benar mengajaknya, seorang siswi SMA yang kelewat tertarik.

Matanya yang tajam menelusuri ruangan dan tak menemukan celah sedikitpun, apalagi jendela. Tak ada. Sementara pria tadi kalau ia tak salah ingat, membawa revolver. Mati. Dia akan mati saat ini juga.

DORR!

Ia nyaris memekik saat mendengar suara tembakan. Sebuah peluru lolos dari pintu, membuat lubang, dan melesat menancap di tembok.

Emily berjongkok. Ngeri.

Tangannya merayap, memegangi kalung liontin pemberian ibunya Miharu, orang yang mengangkatnya menjadi anak. Kalung magis yang dipercayai sebagai ‘jimat’ pelindung dari Jepang. Emily selalu mempercayai hal itu. Menurutnya, tak ada salahnya percaya.

Dua kali tembakan terdengar lagi.

Emily memejamkan mata erat-erat dan menempelkan punggungnya dengan tembok yang dingin. Tangannya juga masih memeluk sang kalung.

Lalu, semua itu terjadi dengan cepat.

Tiba-tiba tembok di belakangnya membuka, entah bagaimana caranya. Ternyata sebuah pintu tak bergagang dengan warna yang dicat sama seperti tembok di sekitarnya. Emily terjengkang ke belakang, dan seseorang menariknya masuk ke dalam dengan cepat.

Orang itu wanita. Gerakannya cepat, mengevakuasi Emily sampai masuk, lalu segera menutup pintu pelan. Tepat saat pintu kayu yang sudah ditembaki tadi terbuka dan berdebam keras dengan apa yang ditemuinya.

Emily tidak berkata apa-apa. Terlalu syok. Tapi, wanita itu malah membekap mulutnya, dan saat itulah tubuhnya bereaksi. Bergelinjangan panik.

“Ssst, ssst… diam. Aku menyelamatkanmu. Jangan bersuara.” Suaranya benar-benar enak didengar, terdengar hangat dan menenangkan. Untuk pertama kalinya, Emily merasa nyaman dengan orang asing yang baru dikenalnya. “Janji, jangan bersuara jika aku tidak membekapmu lagi, arrachi?” bisiknya.

Emily mengangguk, dan segera mengambil nafas banyak-banyak ketika tangan halus wanita itu perlahan memberi mulutnya kesempatan untuk membantu hidung, menangkap udara.

“Siapa namamu, Nak?” Wanita itu menempelkan telinga di ‘pintu’, tetapi matanya menatap ke arah Emily.

“Hmm, err, Emily Mizukawa. A-aku orang J-jepang…”

“Hmm. Jepang. Tapi, Koreamu benar-benar lancar. Kenalkan, aku Kwon BoA. Mantan guru Lee Taemin, mantan pemimpin grup orchestra Liquor dan…” Belum selesai wanita bernama BoA itu mengenalkan dirinya, ia langsung diam. Raut wajahnya terlihat serius saat mendengarkan suara di balik pintu.

“Itu suara Soonhee,” bisiknya sembari menunjuk pintu dengan jari telunjuknya. Emily menganga. Dia memang datang mengantarkan Soonhee ke gedung ini untuk latihan bersama Taemin. Dia sendiri tidak ingin mengganggu, jadi menunggunya di luar.

Tapi, yang membuatnya penasaran… dari mana Kwon BoA ini tahu Soonhee? Bahkan tahu ada seseorang yang sedang dalam bahaya? Inikah kekuatan magis kalung yang dikenakannya?

Emily menggeleng, ia tidak yakin. Kalung itu memang akan menjaganya secara tidak kasat mata (jika percaya), tapi tak mungkin seperti ini.

Makanya ia memamerkan senyum ngerinya pada Soonhee saat BoA membukakan pintu dan memperlihatkan pada Soonhee bahwa dirinya baik-baik saja.

Inikah…

Keajaiban?

***

Hari berikutnya.

Emily Mizukawa POV

Aku berusaha untuk membuka mataku lebar-lebar, setelah beberapa jam tidur. Anehnya tak ada rasa kantuk yang tersisa, padahal aku tidur nyaris saat pagi tiba. Aku memang tak bisa tidur semalam, karena aku bertemu dengan tatapan Taemin sensei.

Malam itu, saat aku habis diselamatkan oleh BoA ahjumma, aku segera keluar dari gedung dan menunggu di luar sana. Mengikuti saran dari BoA ahjumma yang akhirnya masuk lagi ke dalam gedung, mengatakan dia masih ada urusan di sana.

Katanya kalau aku menunggu di luar, menikmati suasana malam kota Seoul di sini, aku akan selamat dan terhindar dari kecurigaan Taemin sensei.

Ia bisa membunuhku kapan saja jika tahu akulah yang kemarin dikejarnya. Apalagi dia guruku.

Aish.

Pikiran itu yang membuatku tak bisa tidur, lalu mulai memaksa tidur ketiga jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi, memutuskan untuk berpura-pura bahwa tak terjadi apa-apa semalam dan taraaa… aku bangun di pagi hari tanpa rasa kantuk. Aneh.

Pokoknya pagi ini aku lalui dengan cukup lancar.

Sarapan dengan masakan khas Miharu oneesan. Sederhana, tapi bergizi dan memiliki rasa yang bisa masuk kedalam kategori ‘enak’.

“Miharu-chan,” panggilku tanpa embel-embel ‘oneesan’. Wanita berambut sangat pendek itu menghentikan aktivitas makannya, dan menoleh padaku dengan tatapan penuh rasa penasaran. “Kau… masih mau datang dengan kami ke konser Lee Taemin besok?” ucapku sebisa mungkin menggunakan nada netral.

Miharu terlihat heran pada pertanyaanku, “Tentu saja iya. Kenapa kau bertanya begitu?” Ia menggunakan matanya yang hitam itu, menatapku dalam. Agak menusuk perasaan malah.

Gawat. Ia menelusuri pikiranku. Dia memiliki sixth sense yang kuat, insting yang baik, dan jiwa petualangan yang tinggi. Itulah kenapa dia kadang membantu Jonghyun dengan kasusnya, sehingga ia kenal dengan beberapa polisi di Korea Selatan.

Cepat-cepat aku memalingkan wajah dan memakan makananku dengan lahap.

“Ini enak sekali!” pujiku lebih berorientasi kepada misi penghindaran. Kupamerkan senyum lebarku yang terlalu memaksa padanya.

As usual, kau susah dibaca.” Senyumku pudar seketika dalam satu detik.

Aku nyengir.

Maafkan aku, Miharu Aoki. Bukannya tak percaya padamu, tapi aku tahu kau fans beratnya dan aku tak mau membuatmu kecewa.

Lagipula…

Aku belum bicara dengan Soonhee untuk meminta penjelasannya.

***

Lee Taemin POV

“Tidak berangkat ke sekolah? Bagaimana muridmu?”

Aku yang sedang menunduk di atas wastafel, membasuh wajahku dengan air dingin yang mengalir dari kran, langsung menoleh ke belakang. Kulihat Jinki hyung berdiri di ambang pintu, melipat tangannya di depan dada.

Dengan helaan nafas pendek, aku menyambar handuk kecil yang menggantung di sisi cermin. Mengelap wajahku dengan agak kasar, lalu melemparkannya begitu saja ke atas wastafel.

“Tidak. Aku sudah ijin untuk mempersiapkan konserku besok, Hyung. Kau tak keberatan, kan? Aku butuh pengajaranmu. Aku tak pernah bisa memainkan laguku sendiri sesempurna dirimu!” balasku agak membentak. Entahlah, moodku benar-benar buruk belakangan ini.

Kudengar suara kekehan kecil dan itu berasal dari Jinki hyung. Lalu, kurasakan bahuku berat sebelah karena tangannya bertumpu di sana.

“Bagaimana kalau kita ke bukit di dekat rumah masa kecil kita?” bisiknya memberiku saran. Aku terdiam beberapa saat, berusaha mencerna omongannya. “Di sana sepertinya masih ada ayunan itu. Aku ingin mengulang masa kecil.”

Bukan ide buruk. Aku juga membutuhkan refreshing.

Makanya aku tak menolak ide itu.

“Baiklah. Aku akan bilang eomma dan appa.” Segera saja aku berlari-lari kecil menuruni tangga rumah kami, “Vict eomma, Khun appaaa! Aku dan Jinki hyung pergi dulu neee?” Kutemui mereka yang sedang bersenda gurau di depan TV.

Ah, jinjjayo? Eodi?” Vict eomma berhenti tertawa, tapi masih menyisakan senyum lebar. Duh. Dia cantik. Eomma yang ideal, eoh?

“Baiklah. Hati-hati,” ucap Khun appa kalem saat aku selesai menjelaskan ke mana kami akan pergi. Dan inilah awal dari hari yang indah, dimulai dari pagi penuh kenangan.

. . .

Normal POV

“Soonhee tidak masuk hari ini, Emily-ssi.” Kedua bahu Emily turun serentak, menandakan kekecewaannya yang besar. “Aku boleh kan menempati tempat Soonhee ini? Aku sedang bermasalah dengan Yoona.” Tiffany, teman sekelas Emily meminta dengan tatapan memohon.

Well, sudah beberapa hari ini Emily memang duduk bersama Soonhee, dan Yoona dengan Tiffany.

Emily mengangguk lemah, pikirannya masih bercabang. Semua kata-kata yang sudah disiapkannya sejak semalam terpaksa harus ditelannya bulat-bulat tanpa hasil yang berarti. Padahal ia butuh keterangan sahabatnya itu.

Ia yakin sekali bahwa Taemin sensei, gurunya sendiri, adalah pembunuh yang menyebabkan dua kasus dalam seminggu dan hilang tanpa jejak. Ia tahu, tak seharusnya ia berpikiran seperti itu. Mungkin kemarin Taemin membawa revolver karena sesuatu alasan. Tapi, dilihat dari kasus-kasus ini, Emily menafsirkan bahwa gurunya itu benar-benar memenuhi segala kriteria dugaan tersangka.

Cerdas. Lihai. Cepat. Lugas. Dingin. Tak berperasaan. Jarang punya ekspresi lain selain datar. Dan yang terpenting… seseorang yang mencintai musik.

Masih diliputi rasa penasaran membuncah serta kekecewaan, Emily mengeluarkan buku pelajaran pertama dan alat tulis dari tasnya. Gerakan lesunya menarik perhatian Tiffany yang sedang asyik menyusuri partitur lagu hasil arransemennya sendiri.

“Ada masalah, Emily? Kau murung sekali.”

Emily menoleh dan memijat pelipisnya, “Tak ada. Hanya masalah pribadi yang pelik.” Ia tersenyum hambar. Tiffany tak bertanya lagi.

Emily akhirnya mengerahkan seluruh perhatiannya pada buku yang tergeletak manis di mejanya. Buku tentang teori musik dan fakta musik klasik. Ia jadi ingat guru pelajaran ini adalah…

Seketika tubuhnya menegang.

Lee Taemin. Ia akan diajari Lee Taemin di jam pertama. Kenyataan ini membuatnya mendadak sakit perut.

Baru saja ia akan beranjak untuk meminta ijin sakit (palsu) pada guru yang bertugas hanya untuk menghindari Taemin, pintu kelasnya dibuka. Emily tidak jadi beranjak, dan mengencangkan pegangannya pada tas yang ditidurkannya di atas kedua kaki.

“Eh, itu bukan Lee saem,” komentar Tiffany membuat Emily segera memperhatikan guru yang ternyata bukan Taemin. Melainkan seorang guru yang sangat baru di matanya.

“Annyeonghasseo, Class! Saya bukan guru baru, hanya seorang pengganti. Guru kalian, Lee Songsaenim sedang ijin untuk mempersiapkan konsernya besok. Jadi, sekarang sampai 40 menit ke depan…”

Emily tak lagi fokus.

Otaknya sibuk menduga-duga.

Soonhee bisa saja sejahat Taemin, atau Taemin mau membunuh  Soonhee atau malah justru kebalikannya?

***

Perjalanan beberapa jam menggunakan bis menuju ke pinggiran kota tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan. Taemin terlihat sangat mengantuk, beberapa kali kepalanya menyapa kaca jendela di sampingnya karena guncangan di bis, sementara dia setengah tidur.

Jinki tidak terlihat di mana-mana. Ia duduk hanya sendirian.

Segalanya sendirian.

Ia merasa sepi walau di dalam bis banyak orang. Hatinya mendadak teriris, merasa asing di sana.

“Kamsahamnida,” ucap Taemin  setelah membayar ongkos, lalu turun. Udara dingin yang familiar menyapanya, membuatnya reflek memasukan kedua tangannya ke dalam saku mantel, walau itu tidak banyak membantu.

Ia hanya perlu melangkah beberapa menit untuk sampai di bukit yang dimaksudnya. Terlihat beberapa orang sedang berpiknik di sana, ada anak-anak berlarian…

Taemin menghela nafas lega saat melihat bukit yang benar-benar menjadi tempat kenangannya masih sangat sepi, tidak ada orang. Wajar saja, bukit ini tersembunyi di balik pepohonan dan hanya ditemukan Lee Brothers kalau boleh dikatakan begitu. Tentu saja kenyataannya banyak yang menemukannya, tetapi Taemin senang memproklamirkan dirinya dan sang kakak sebagai penemu bukit ini.

Bukit yang ada di sini adalah bukit tertinggi, Taemin bisa melihat pemandangan dengan leluasa. Di sinilah ia benar-benar sendiri, mendengarkan alunan musik dari angin yang bergembus, yang mana tidak semua orang bisa mendengarkannya.

Taemin duduk di atas sebuah ayunan tua yang memiliki kursi panjang. Ia duduk dengan hati-hati, karena terdengar decitan yang cukup mengganggu saat ia melakukannya.

Yakin ayunan itu tak akan bereaksi, Taemin duduk memandang kosong ke depan. Menembus awan-awan di kejauhan, mengagumi keindahan gunung yang menjulang di kejauhan. Terlihat biru dan indah.

Ia merasakan ayunannya digoyang, dan ia segera menoleh.

Jinki berdiri di belakangnya dengan senyuman hangat. Senyuman yang dirindukannya bertahun-tahun. Kedua tangan Jinki memegangi rantai ayunan, mendorongnya pelan-pelan, sementara Taemin tersenyum.

Hyung, pulang dari sini belikan Tae-tae es krim ya!” Suaranya manja. Menggemaskan. Jinki tersenyum dan menatapnya penuh kasih sayang lalu mengangguk.

Hyung akan memberikanmu apapun, Lee Taemin. Bahkan nyawa sekalipun. Kau adikku satu-satunya, kebanggaanku.” Jinki tersenyum hangat.

“Tae-tae tak butuh nyawamu, Hyung. Asal kau selalu ada di sampingku, aku tak masalah.”

“Bagaimana jika aku dan Taeyeon menikah nanti?” Jinki tampak penasaran.

“Tak apa jika dengan Taeng noona, Hyung.” Taemin yang polos tertawa lembut. Jinki memeluk anak lelaki berusia 10 tahun itu dengan hangat. Matanya berkaca-kaca. Taemin tiba-tiba melepaskan dirinya dan melihat ke arah gunung di kejauhan. “Hyung! Indah sekali, ya, gunung itu…”

Jinki tidak menjawab, ia hanya melingkarkan tangannya di bahu sang adik, lalu berbisik.

“Meski hyung matipun, hyung akan menjagamu, Taemin-ah.”

Taemin tersenyum saat mendengar kalimat tersebut dari sang kakak. Ia lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi ayunan. Wajahnya terlihat tenang.

Berbelas tahun berlalu, dan Taemin masih merasa sama. Tidak ada yang berbeda. Apalagi setiap ia datang ke sini, semuanya selalu kembali ke dalam ingatan Taemin.

Pria itu memejamkan matanya perlahan, membiarkan gelap menyekapnya. Di sudut matanya menggantung setitik air mata. Di saat itulah ia mendengar seseorang berbisik.

“Besok konsermu, buatlah hyung-mu bangga, Lee Taemin. Dan—jika mereka mendengarkan Black Symphony-mu, habiskan.”

Sebuah smirk terbentuk di wajahnya.

Sementara itu, seseorang yang bersembunyi di salah satu batang pohon menatapnya nanar. Antara kasihan dan sedih. Antara ngeri dan takut. Antara merasa bersalah karena membiarkan kejadian ini terjadi dan merasa bingung.

Lee Soonhee menutupi kepalanya dengan kap jaketnya, lalu segera berlari menjauh sebelum sempat disadari oleh Taemin.

***

Rutinitas yang biasa kita lihat di kafe-kafe manapun juga terlihat di sini, di kafe seberang gedung konser yang akan menjadi tempat konser akbar seorang Lee Taemin. Well, tentu menghadirkan juga grup orkestra arahannya, Liquor.

Sore itu, Kim Jonghyun baru saja sampai. Seperti biasa, secangkir latte grande adalah menu utama yang harus dipesannya. Tapi, Jonghyun tidak sendirian. Tiga orang mengikutnya.

Dua anak sekolahan dan satu orang dewasa seperti dirinya.

Kibum dan adiknya, Minho – yang juga teman sekelas Soonhee dan Emily – serta Emily Mizukawa.

Kibum adalah teman dekat Miharu dan Jonghyun. Jonghyun hendak membahas penemuannya semalam dengan dokter psikologi itu. Kebetulan, Emily hendak berbicara dengannya dan Kibum datang ke sekolahnya untuk menjemput adiknya.

Well, di sinilah mereka sekarang. Masing-masing punya topik.

Dengan lancar, Emily menceritakan apa yang dialaminya kemarin malam. Pengalaman mengerikan sekaligus aneh karena ia bertemu wanita misterius yang sampai sekarang tak ia ketahui di mana keberadaannya.

“Oh, jadi pianis itu mengalami gangguan mental?” komentar Kibum setelah meletakkan cangkir green teanya. Emily hanya mengangguk, lebih sibuk mendinginkan pipinya yang memanas. Oh, sial, sial. Kenapa jiwa fangirlingnya malah tumbuh terhadap seorang dokter psikolog?

“Dan pianis itu memiliki revolver?” Minho menyambung ucapan Kibum. Emily mengangguk lagi.

“Dan kau selamat karena wanita misterius bernama—“ Jonghyun berhenti sejenak.

“Kwon BoA,” timpal Minho agak kesal karena waktu Jonghyun untuk berpikir cukup lama baginya.

“Menurutku, si pianis ini memang mengidap gangguan jiwa. Dan melihatnya masih sukses dalam karirnya, aku menduga antara psikopat dan schizophrenia.” Kibum terlihat serius saat mengatakannya. Membuat tiga orang di dekatnya menahan nafas.

“Psikopat? Schizophrenia? Guruku…” Emily tampak blank. Begitupun Minho.

“Well, itu dua kemungkinan terbesar, Emily, Minho. Kalian tak usah khawatir, barangkali saja ketika membawa revolver, si pianis ini sedang kerasukan setan konser.” Kibum menjawab dengan santai, kemudian nyengir lebar saat Jonghyun melemparkan tatapan membunuh.

Jonghyun terdiam sesaat. Mengingat saat pertama kali ia bertemu Taemin.

Taemin melewatinya begitu saja, padahal dia melempar senyum. Tatapannya ganjil dan Jonghyun merasa aneh saat menatap tatapan itu. Benarkah dia—

“Dan kau Kim Jonghyun, apa yang mau kau ceritakan padaku?” Diva tone itu menarik Jonghyun kembali ke alam sadarnya.

Cepat-cepat Jonghyun merogoh ranselnya, lalu mengeluarkan sebuah buku usang. Tanpa diminta, Kibum langsung menyambar dan membukanya.

Oh. My. God. Kau semacam masokis? Menyukai foto-foto ini…..” Kibum berkata dengan sedikit nada sarkastik, membuat Jonghyun kembali menatapnya jengkel.

“Enak saja! Ini data kasusku dulu. Emily, buka lembar kelima puluh.”

Masih dengan rasa penasaran yang kuat, Emily membukanya dengan mudah. Sebuah artikel potongan koran lengkap dengan sebuah foto cantik membuatnya bingung.

“Ini siapa?”

“Itu Kim Taeyeon. Wajahnya mirip Miharu. Berarti Kim Taeyeon yang dimaksud Taemin tempo hari, ini?” Jonghyun mulai menunjukan raut seriusnya, membuat Emily makin tegang.

That’s it!” Minho tiba-tiba berseru. Setelah sekian lama diam dan memperhatikan. “Lee Taemin itu punya kepribadian ganda, dan mungkin schizophrenia.”

Kibum menyipitkan mata, “Darimana kau menyimpulkannya?”

“Dia bisa saja berhalusinasi bahwa Kim Taeyeon itu ada saat bicara dengannya. Bagaimana? Tak perlu kujelaskan, Hyung. Kau kan pakarnya.” Dengan santai Minho meneguk cocktail-nya.

Omongan asal yang juga berasal dari pikiran Minho itu sukses membuat Jonghyun terdiam.

Jadi… siapa Lee Taemin ini? Dan apa yang terjadi padanya?

***

Soonhee tidak ingat apapun selain wajah sedih Taemin ketika berjalan menuju bukit tadi pagi. Gadis itu menekuk tubuhnya di atas tempat tidurnya, merapatkan tubuh dengan selimut dan membiarkan telinganya berkonsentrasi mendengarkan alunan musik dari tirai hujan di luar sana.

Ia tidak ingin mengingat apapun soal kemarin malam, ia tidak ingin mengingat kejadian yang membuatnya merasa sangat jahat.

Bahkan ia tidak sekolah dan mengikuti Taemin hari ini. Ia penasaran dengan sepupunya yang satu itu, dan ia juga tak mau menemui Emily dulu. Ia yakin Emily akan bertanya sangat banyak padanya dan ia tidak siap menjawab.

Ia tidak mau disangka melindungi pembunuh, tapi itu kenyataannya.

Ia tidak yakin pelaku pembunuhan dua kasus yang ditangani Jonghyun adalah Lee Taemin, tapi sudut hatinya memojokannya dengan persepsi bahwa Taemin adalah pembunuh. Taemin adalah pembunuh. Taemin adalah PEMBUNUH.

TARR

Langit tampaknya sedang mengamuk malam ini, membuat Soonhee semakin terbawa perasaan.

Masih segar di ingatannya, saat Taemin berbicara padanya di tengah latihan kemarin. Lagu Black Symphony.

“Lagu ini lagu yang indah. Sebuah lagu pengantar kematian. Kau tahu? Aku bangga karena menciptakan lagu kematian dan melihat bagaimana Jinki hyung ‘menyelamatkan’ nyawa-nyawa berdosa itu… walau sedih juga sih.”

Soonhee merinding saat mengingat betapa cerianya wajah Taemin saat membicarakan hal tersebut. Ceria yang ganjil. Dengan mata yang kosong dan senyum lebar seolah dia ceria, membuat Taemin benar-benar mengerikan.

“Aku merindukan Taemin oppa yang dulu…” bisiknya perih. “Saat ia benar-benar sosok kakak yang sempurna… tapi, setelah itu…”

Soonhee diam sejenak, kerut muncul di dahinya.

Mendadak saja ia terbangun dan melempar selimutnya asal. Disambarnya ponsel yang ada di atas nakas, menekan nomor orang yang dihindarinya hari ini.

Nada sambung terdengar, dan itu membuatnya tidak sabar. Suara cerah Emily bercampur dengan nada khawatir yang didengarnya membuat Soonhee segera berseru.

“Emily! Kau hubungi Jonghyun oppa, ya? Kalau perlu Kibum oppa dan Minho juga. Mereka semua datang ke konser kan besok? Aku akan ke sana sekarang, penting dan—“

“Kau bicara tanpa jeda setelah pergi tanpa kabar?! Ada apa denganmu?”

Soonhee menarik nafas panjang, tampak terengah setelah bicara tanpa titik koma. Lalu, kemudian suaranya berubah dingin, “Ini antara hidup dan mati kalian dan penonton konser itu besok. Kumohon.”

Tanpa mendengar jawaban apapun lagi, Soonhee memutuskan sambungan dan melempar ponselnya ke atas kasur. Ia sendiri menyambar jaketnya, dan berlari keluar dari kamarnya juga rumahnya. Inilah keuntungan tinggal sendirian di apartemen, tak ada orang tua yang menanyakan akan ke mana dia.

***

Lee Taemin POV

Seperti biasa, Jinki hyung menguasai alih piano terlebih dahulu sebelum aku menggunakannya. Aku sendiri berdiri di dekatnya, menumpukan tangan di atas piano. Melihatnya bermain membuatku bangga memiliki kakak seperti dirinya.

“Kau lihat, Lee Taemin? Semudah itu memainkan lagumu. Hayo, kau pasti bisa.” Jinki hyung berdiri dan memaksaku untuk duduk. Aku… entahlah. Aku merasa kurang akrab dengan piano akhir-akhir ini. Seperti ada yang membuatku bingung dan merasa terbelakang.

Ketika aku menekan beberapa tuts pertama, aku menangkap seseorang bergerak di antara kursi penonton. Seorang office boy sedang asyik bersih-bersih. Oh, astaga.

Segera aku mendongak dan benar saja, Jinki hyung sedang mengunci tatapannya pada orang yang sama sekali tak merasa dalam bahaya itu. Dengan sapunya, ia asik menyapu. Gosh, sudah berapa lama dia di sana?

“Taemin-ah,” panggil Jinki hyung dengan suara serak yang jarang aku dengar. “Ayo.”

Aku menatapnya kaget, “Itu… uh, uh…”

Jinki hyung berdecak, lalu segera menarik tanganku. Turun dari panggung, menghampiri office boy itu. Aku tak melihat Jinki hyung membawa benda apapun, jadi aku menghela nafas lega. Menduga bahwa ia—

“Malam…”

BUGH

Aku mengatupkan bibirku saat melihat office boy itu jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri setelah Jinki hyung meninjunya sangat keras. Kemudian, seperti pesuruh, aku dengan santainya membawa korban Jinki hyung ini keluar dari gedung konser menuju parkiran melalui pintu belakang.

Ini sudah sangat larut malam, sehingga sepi yang sudah biasa kulalui kini sudah terasa.

Jinki hyung melemparnya ke dalam bagasi mobil kami, lalu menutupnya. Kami segera masuk dan ia menyuruhku untuk segera mengemudi ke tempat yang diinstruksikannya, menembus hujan deras dan petir yang berkilatan menerangi jalan kami.

Di sinilah kami akhirnya, di daerah tempat kami bermain ketika kecil. Yep, sudah beberapa jam kami lalui dan hari akan segera berganti nama.

Hujan masih turun dengan derasnya, sementara aku dan Jinki hyung sibuk mengeluarkan office boy yang ternyata sudah sadar dan memohon ampun dengan suara lemah tak bertenaga.

Hyung? Bagaimana kalau kita lepas dia…”

“He?! Kau gila?” seru Jinki hyung emosi. Tanpa basa-basi, ia melemparkan tubuh office boy itu ke tanah. Kami semua basah kuyub sekarang dan aku hanya diam mematung di sini, menyaksikan Jinki hyung.

“Sebaiknya kau coba sendiri, Taemin-ah.”

Aku terkesiap. Mencoba … membunuh?

Andwae, andwae aku—“ Ucapanku terputus saat Jinki hyung mengeluarkan sesuatu dari dalam mobil kami. Aku melotot kaget. Sebuah pedang samurai yang mengilap dan terlihat… tajam.

Mendadak sesuatu dalam diriku tergugah. Dengan santai aku meraih samurai tersebut dan berjalan mendekati office boy yang wajahnya terlihat pucat diterangi lampu mobil kami. Aku tersenyum penuh pengertian.

Segera aku berjongkok dan mengusap pipi lembutnya perlahan. Aku terlihat gay? Tidak, sorry. Aku hanya ingin memberikan kesan terakhir untuknya. Jangan berpikir macam-macam tentangku, bagaimanapun aku masih menyukai lawan jenis.

“Ada kata-kata terakhir?”

“Aih, cepatlah!” Kudengar Jinki hyung protes di dekatku. Aku menyunggingkan smirk pada office boy yang kelihatan pasrah dan tak bersuara itu.

“Baiklah.” Aku menyobek kemejanya dengan samurai di tanganku, menyisakan goresan yang akhirnya menjadi jalan rembesan darah di permukaan tubuh depannya.

“Errrghhh…” OB itu meringis kesakitan, badannya gemetaran. Entah dingin entah… takut.

Aku merasa bangga kalau memang ia takut.

“Aku tak akan memberikanmu penderitaan yang lama, Ahjussi.” Aku mengangkat samuraiku dan menancapkannya tepat di lehernya, ia berteriak, walau lama-lama tidak bisa. Aku mengoyak-ngoyaknya dengan ujung samurai tersebut. Seketika aliran darah yang sangat deras keluar begitu saja, bercampur dengan air hujan.

Rambutku beberapa turun menutupi sebelah mataku, tapi senyumku makin lebar.

Melihat tubuhnya bermandikan darah dan bergelinjang kesakitan membuatku ingin lebih. Kutarik samurai tajam yang baru di asah itu turun menyusuri dadanya, perutnya…

Kulakukan hal yang sama pada beberapa bagian tubuhnya, hingga dia tidak mampu lagi berteriak bahkan bergelinjang. Namun dapat kulihat kesedihan di dalam matanya. Ohhh… kenapa dia tidak berteriak? Benar-benar tidak seru.

“Tidak seru?” bisik Jinki hyung santai. Aku mengangguk sembari mengerucutkan bibir, lalu ia mengambil alih samuraiku. “Aku akan memberikanmu pertunjukan yang seru, Taetae.”

Aku tersenyum. Sudah lama dia tidak memanggilku begitu.

Beberapa kali cahaya kilat menerangi kami, membantu bersama lampu mobil.

Jinki hyung menjejakkan kaki kanannya di atas dada OB yang sudah terkoyak itu, kemudian menginjakkan satu kakinya lagi di bagian perut. Ia berdiri di atas sana, membuat OB itu memuntahkan darah secara tiba-tiba.

“UHUK, UHUK… j-jangan… aa…” OB itu tidak mampu meneruskan lagi kata-katanya, Jinki hyung segera menebas bagian mulutnya. Ia tidak berhenti sampai situ, tangannya dengan lihai mengukir-ngukir di atas wajah OB bagaikan sebuah kanvas.

“Kau mau untuk sentuhan terakhir, Taetae?” ujar Jinki hyung sembari menyodorkan benda itu padaku. Aku mengangguk semangat. Kutatap wajah hancur OB yang masih bernafas itu dengan iba, sebelum akhirnya sebuah senyum terbit di mulutku.

Kupegangi samurai itu dengan dua tangan. Aku menancapkannya tepat di mata kiri dan kanannya, mengoyaknya dan mengeluarkan bola mata itu paksa.

Good job, Taetae. Ayo, aku akan menunjukkan klimaks kegiatan ini. Oh, ya, sebelumnya—“ Jinki hyung merebut samuraiku, lalu menggoreskan sesuatu di salah satu bagian tubuh OB tadi. Lamat-lamat dapat kubaca sebagai huruf ‘J’. Namanya.

“Ini ‘karyaku’, aku harus membubuhkan inisialku. Seperti lukisan.”

Aku tertawa kecil dan mengikutinya masuk ke dalam mobil. Kali ini dia yang akan mengemudi.

“Kencangkan sabuk pengamanmu, Taetae.” Jinki hyung menyalakan mesin mobil. “Kita akan membuatnya segera terlepas dari rasa sakit. Oh, kasihan…” gumamnya sarkastik, lalu menginjak gas setelah mengatur porsneling.

Mobil kami mulai melaju. Menuju tubuh OB tak berdaya tak jauh di sana.

Selamat tinggal, Ahjussi. Terimakasih sudah merelakan tubuhmu untuk menjadi karya kami.

Kurasakan roda mobil ini mulai menggilasnya. Dapat kubayangkan darahnya bermuncratan ke mana-mana.

Aku tersenyum.

***

Emily Mizukawa POV

“Jika kalian mendengar lagu ini, kumohon kalian harus pergi secepatnya dari sana. Secepat mungkin. Dan jangan berpikir apapun. Ambil kursi yang paling dekat dengan pintu keluar. Jebal…”

Sial. Lagi-lagi aku insomnia.

Aku menggigil kedinginan, dan itu bukan hanya karena udara dingin, tapi karena rasa khawatir.

Soonhee datang ke apartemenku dan Miharu. Dia dalam keadaan basah kuyub, menolak berganti baju atau apa. Dia langsung duduk di piano kami dan memainkan sebuah lagu yang sangat indah di hadapanku, Miharu, Jonghyun, Kibum dan Minho.

Lalu, ia mengatakan kalimat tadi. Kalimat yang sampai sekarang masih membayang di benakku.

Aku yakin, Lee Taemin, guruku sendiri, adalah pembunuh dua kasus terakhir yang masih menjadi teka-teki Jonghyun sampai sekarang.

Tok. Tok.

Aku mendengar suara ketukan pintu yang halus. Tanpa berpikir, aku segera turun dari tempat tidurku dan membuka pintu. Miharu berdiri di sana dengan wajah khawatir.

“Kau… tak apa?” bisiknya nyaris tanpa suara. Untung aku masih bisa dengar.

“Ya. Kenapa?”

“Matamu tak bisa bohong, Emily. Kau gelisah kan?” Miharu masuk ke dalam kamarku, lalu duduk di tempat tidurku. Menatapku hopeless.

Aku menarik nafas, “Ya. Kau benar.”

Miharu terkekeh kecil, lalu menatap jari tangannya, “Kurasa kita tak perlu lari besok. Kita harus melakukan sesuatu. Haruskah kita keluar sementara ratusan orang di belakang kita akan mati? Aku tak bisa membiarkannya.”

Seperti layaknya buku, dengan mudah pikiranku yang bahkan belum sempat kuucap di hatiku dapat dibaca olehnya.

“Ya, aku juga berpikir sama.”

“Aku tahu.”

Aku tersenyum simpul, “Jadi?”

Miharu tidak menjawab, ia hanya berdiri. Kemudian pergi berlalu sambil tersenyum. Aku juga tersenyum. Mungkin ini akan menjadi hal yang beresiko, tapi kami akan berusaha menangkapnya walau korban tidak akan terhindarkan.

***

Normal POV

Taemin merapikan tuxedo yang melekat di tubuhnya. Berkali-kali ia merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi. Berkali-kali juga ia membentak beberapa anggota Liquor. Ia benar-benar berbeda dengan Taemin yang biasanya dan itu membuat dirinya  sendiri jengah.

“Taemin-ah.”

“Apa?!” Pria itu berbalik, meninggikan suaranya. Matanya membulat saat ia melihat wajah cantik Taeyeon di hadapannya. “Err, hmm, maaf, Noona…” Volume suaranya jauh lebih mengecil dibandingkan tadi. Taeyeon tersenyum penuh pengertian.

“Kau gelisah?”

“Ya. Sangat.”

“Jinki menyuruhmu melakukannya?” tanya Taeyeon lebih seperti bergumam dibanding bertanya. Wajahnya tampak iba, dan ekspresinya redup. Taemin mengangguk lemah. “Then, kau akan melakukannya? Untuk ratusan orang?”

Taemin tidak menjawab, malah meninggalkan Taeyeon. Ia menyusuri jalan menuju panggung, lalu mengintip dari sayap kiri. Tatapannya nanar mengarah pada penonton yang sudah datang dan duduk dengan manis. Penonton yang beberapa menit lagi akan kehilangan nyawanya.

Lalu, ia kembali.

Ditatapnya satu persatu anggota Liquor yang seakan melupakan kehadirannya. Mengobrol satu sama lain, dan tak menyadarinya bercakap dengan Taeyeon.

Anggota Liquor sudah masuk generasi tiga, yang berarti sudah lama sekali grup ini berdiri.

Tangan lembut Taeyeon mendarat di bahu Taemin, “Sebelum Jinki datang, aku hanya perlu mengatakan satu hal. Kau menyayangi hyungmu, tapi tidak semua harus kau lakukan untuk menyenangkannya.”

Taemin tidak menjawab. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri.

Hingga akhirnya mulutnya mengeluarkan keputusan, “Maaf, Noona. Jinki hyung tidak ingin aku berhenti.”

. . .

Jonghyun sibuk menganga memperhatikan seisi gedung konser. Bukannya ia tidak pernah ke sini, tetapi gedung ini jika akan dipakai ternyata bisa terlihat semewah ini. Lux. Ia tidak pernah menghadiri konser musik semacam ini, sih.

“Duduk dan tutup mulutmu, Jonghyun.” Suara datar Miharu membuat Jonghyun tersadar bahwa mereka sudah sampai di kursi mereka, tetapi ia masih berdiri. Dengan malu, Jonghyun langsung duduk di sebelah Miharu.

Aigooo,” gumam Emily terpukau pada desain klasik gedung konser ini. Berbeda jauh dengan yang dilihatnya kemarin.

Hanya Miharu, Kibum, dan Minho yang terlihat biasa saja. Entah memuji dalam hati atau memang mereka tidak begitu peduli. Pikiran mereka hanya terfokus pada apa yang akan terjadi hari ini.

Rasanya setelah Soonhee memberitahu mereka, mereka jadi lebih paranoid dibanding sebelumnya.

Mereka harus sigap saat mendengar musik yang sama dengan yang Soonhee mainkan kemarin.

“Di mana Soonhee?” tanya Emily celingak-celinguk. Kibum meliriknya, lalu menunjuk Liquor yang mulai berdiri di atas panggung. “Oh, yang bergaun merah?”

“Yap, matamu bagus.” Kibum menjawab dengan santai, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.

Mereka duduk di tengah, tidak di dekat pintu seperti permintaan Soonhee. Mereka berkilah bahwa tiketnya memang begitu, padahal Soonhee yakin ia memberi mereka tiket di belakang. Tapi, Soonhee tidak peduli. Tidak mengerti kenapa mereka begitu nekat.

Soonhee berdiri dengan nervous dengan biolanya. Matanya tidak bisa tenang, terus bergerak menatap gelisah ke arah kursi penonton dan biolanya. Berkali-kali menolehkan kepala ke samping kanan dan kiri panggung.

Lalu Taemin datang.

Nafasnya berhenti saat itu juga.

Don’t panic, Soonhee. Entah berapa kali ia menggumamkan kata-kata penenang itu di dalam hatinya, tetap saja rasa panik masih menyerangnya.

Setelah intro dan berbagai macam hal, Taemin akhirnya membungkuk ke arah penonton, kemudian berbalik. Ia akan memimpin terlebih dahulu grupnya. Sesegera mungkin Soonhee fokus pada kode-kode tangannya.

Penonton tampak menikmati dan terkesan dengan grup ini. Grup orkestra yang sudah dikenal di seluruh Korea, bahkan dunia internasional. Tidak heran. Kualitasnya benar-benar baik, kelas atas. Perpaduan musik yang pas dengan suara choir membuat banyak orang merinding mendengarnya.

“Dia benar-benar berbakat, sulit mengira bahwa dia pembunuh,” bisik Miharu pada Jonghyun yang tampak sedang serius. Pria itu mengangguk, memilih tidak mengeluarkan komentar apapun.

“Tapi, kita kan masih mengira.”

“Lalu laporan pembunuhan tadi malam? Bisa kau jelaskan?”

Jonghyun menoleh dan menatap Miharu hopeless. Ya, pihak kepolisian baru saja menerima laporan pembunuhan. Di pinggir kota Seoul dan sebuah mobil tua ada di sana. Jonghyun menghela nafas panjang.

Emily Mizukawa POV

Sampailah pada acara utama. Konser pianis terkenal kita. Pianis berdarah dingin yang membunuh hanya karena orang mendengar lagunya. Masuk akal, tidak? Aku menghela nafas dan mencoba menenangkan debaran jantungku yang mengeras.

Ahhh! Bukan karena Kibum. Tapi, karena takut dengan musik itu. Shit. Aku jadi paranoid.

Lagu pertama dilalui dengan baik, Taemin membawakan Kiss The Rain. Lagu terkenal yang disukai banyak orang. Nadanya lembut dan sedih, tapi aku dapat menangkap keromantisan di dalamnya.

Semula semuanya berjalan baik, sampai masuklah pianis itu ke intro lagu yang sesungguhnya.

Intronya benar-benar unik. Nadanya lembut, namun seperti mengaduk jiwa kita yang mendengarnya. Permainan nada tinggi dan rendah menjadi satu padu. Semua orang benar, Miharu benar, Taemin memang pianis berkelas atas.

Atau justru… Jinki lah yang ada di dalam dirinya?

Ah.

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Semuanya tampak tersihir, tidak terkecuali orang-orangku. Hanya Jonghyun yang terlihat waspada. Mungkin hanya aku dan dia yang tidak tersihir, entahlah.

Miharu? Jangan tanya. Dia benar-benar cengo.

Dua menit berlalu, tak ada tanda-tanda apapun. Aku mulai mengerutkan kening. Lagu ini, sepanjang tiga menit kalau aku tak salah menghitung saat Soonhee bermain kemarin. Oya, kalian tahu? Soonhee dan Taemin berbeda sekali saat memainkannya.

Black Symphony (kurasa) hanya cocok dimainkan Taemin dan ‘Jinki’. Tak ada orang lain. Soonhee benar, mereka duo maut.

Aku menghela nafas lega saat lagu telah sampai di akhir.

Ah, mungkin Soonhee hanya ketakutan dan—

Greb!

Seluruh sumber cahaya di ruangan itu mati seketika. Suasana yang sepi mulai ternodai oleh bisik-bisik riuh para penonton yang kebingungan. Hanya aku, Jonghyun, Miharu, Kibum dan Minho yang hening.

Tanpa sengaja Kibum memegang tanganku terlalu erat, membuatku nyaris memekik sakit. Aih. Ini bukan saatnya berbunga, ini saatnya genting!

Aku menyentuh tangan Miharu, dan kulitnya terasa dingin. Apakah dia panik?

“Ayo, kita keluar,” bisik Jonghyun sembari menunjuk pintu.

“Bagaimana rencana kita untuk tetap—“

“Tidak. Aku menyusun rencana baru. Jebalyo.” Pasrah, aku mengikuti Jonghyun yang menerangi jalan dengan cahaya ponselnya. Tindakannya diikuti oleh aku, Miharu, Kibum dan Minho yang juga beranjak diam-diam. Berharap Taemin tak menyadarinya.

Lee Soonhee, kuharap kau benar-benar bisa lolos seperti apa yang kau katakan kemarin.

“Aku akan lolos, percayalah. Dia tidak akan macam-macam dengan sepupunya.”

“Dikunci!” seru Jonghyun agak keras, membuatku segera menginjak kakinya reflek. Ia tidak protes, tetapi ia tampak bingung.

“Kau yakin?” gumam Minho kedengaran tidak percaya, lalu membantu Jonghyun. Mereka tidak bisa membukanya.

Suasana benar-benar mencekam. Selain semuanya mulai ribut, ada suasana ganjil di sini. Aku dapat merasakannya.

“Tenanglah. Mustahil dia bisa membunuh ratusan orang. Yang ada dia yang akan mati kalau begitu,” ujar Miharu mencoba tenang. Walau aku tahu, ia sebenarnya tidak tenang.

“Orang gila sepertinya, memiliki beberapa kepribadian, memiliki waham, dan obsesi. Jangan remehkan dia,” bisik Kibum menimpali dan aku dapat merasakan Miharu meloloskan nafasnya dengan cepat.

“Tak ada yang bisa keluar, sayang sekali…”

Serempak kami berlima menoleh ke sumber suara. Panggung mendadak terang oleh cahaya yang memandikan tubuh Taemin. Suaranya benar-benar berbeda dengan suaranya yang biasa. Ada apa ini?

Kulihat tangannya memegang sesuatu yang berkilatan, tampak baru, dan besar. Mataku membulat.

Itu… chainsaw?! Dia gila!

“Jika saja aku membawa pistolku, aku bisa menembaknya dari sini,” gerutu Jonghyun masih menatap Taemin, penuh emosi.

Dapat kurasakan keheningan yang mencekam. Ketakutan. Tangis beberapa wanita…

Ya, Tuhan, benarkah ini?

***

Normal POV

“Sebagai pembuka, aku akan menyuguhkan sesuatu kepada anda semua, para hadirin.” Suara Taemin terdengar begitu lantang, tangannya mengangkat chainsaw yang dibawanya. “Ini, aku tidak bercanda dengan ini.”

Hening.

Pria itu tersenyum simpul. Senyum yang mengandung berbagai keganjilan di dalamnya.

Ia turun perlahan dari panggung, dengan gaya yang dibuat-buat. Chainsawnya sudah ditinggalkannya di atas panggung, tapi ia tetap berbahaya.

Taemin mendongak dan mempertemukan tatapannya dengan tatapan Emily. Mendadak saja tatapannya berubah tajam dan penuh dendam. Sangat penuh dendam. Emily terperanjat.

Tapi, pria itu melupakannya dan menarik salah seorang penonton di hadapannya. Seorang anak kecil berusia sepuluh tahun. Kontan sang ibu di sebelahnya langsung menarik anaknya, namun Taemin tersenyum lebih lebar lagi.

“Kalian berdua. Naik.” Ia memerintah dengan nada yang kelewat dingin. Tak ingin dipaksa dengan cara kejam, ibu dan anak itu naik dengan kaki gemetaran.

Jonghyun menyaksikan itu semua dengan tatapan nanar. Perasaannya tak enak.

“Nah, Nak…” Taemin berjongkok, menyamakan tingginya dengan tinggi anak pria kecil itu. Disodorkannya sebuah korek api gas. “Nyalakan ini jika—“ Taemin mengeluarkan sesuatu dari balik tirai merah yang menjadi latar panggung. “—jika cairan ini menyiram ibumu,” ucapnya dengan senyum hangat yang kelewat friendly.

Kontan semua yang mendengar menjadi pucat terutama si ibu.

“Jo—jo… j-jangann…” gumam ibunya lirih. Taemin mendengar itu dan menyunggingkan smirk. Ditatapnya kembali anak pria itu.

“Jika kamu lebih menuruti ibumu, maka benda ini akan menggores tubuhmu, Nak. Bagaimana?”

Entah mengerti atau bagaimana, anak kecil itu mengangguk ketakutan. Taemin menepuk tangan sekali, berseru riang. Seakan hanya ada dia dan mainannya di sana. Oh, no.

Taemin membuka tutup jerigen berisi cairan berbau pekat yang kentara dikenal sebagai minyak tanah. Lalu, tanpa perasaan apa-apa, ia menyirami si ibu yang langsung basah kuyub. Minyaknya berhamburan ke mana-mana, menuruni panggung.

Pria itu lalu melempar jerigen kosongnya ke sembarang arah, sebelum memutar tubuh menghadap anak tadi.

“Lakukan.”

Taemin bergerak mundur.

Eomma…” panggil anak itu takut. Sang ibu menggigit bibirnya dan mulai menangis keras.

“L-lakukan saja, Nak…”

Eomma…”

Gwenchana,” ujar ibu itu pasrah. Ia menyesal datang ke konser ini. Sangat menyesal.

Kesal karena anak itu tak kunjung melakukan perintahnya, Taemin segera merebut korek api itu, lalu menyalakan chainsaw-nya. Tanpa ampun lagi, ia langsung menyerang anak kecil tak berdosa itu dengan satu kali tebasan.

Anak itu berteriak sekencangnya, begitupun para penonton. Sementara ibunya menangis keras saat darah anaknya mengenai dirinya. Ia dapat merasakan hatinya mendadak ngilu melihat darah dagingnya diperlakukan begitu.

Tebasan berikutnya diarahkan pada wajah sang anak. Anak itu tak lagi menjerit, mulutnya sudah sobek, begitupun wajahnya. Hancur. Masih belum puas, meskipun darah sudah mengotori wajahnya dan bajunya, Taemin mengayunkan benda itu sekali lagi. Pada leher anak itu.

“KYAAA!!”

Jeritan terdengar membahana di setiap sudut ruangan saat kepala anak itu menggelinding lepas dari tubuhnya. Sekali lagi Taemin menebaskan chainsaw-nya ke tubuh tak berkepala itu, sementara tangan kanannya menyulut korek api, lalu melemparkannya pada tubuh si ibu.

“AARRRGH.”

Si ibu langsung terjatuh dan berguling di atas sana. Mencoba memadamkan api yang mencicipi tubuhnya dengan ganas dan cepat. Panas memijatnya, merasuk ke dalam perasaannya. Ia berteriak sementara api semakin penuh memenuhi tubuhnya, merambat ke wajahnya. Sementara percikan api lainnya menjalar ke jalur minyak tanah tadi.

Penonton berhamburan menjauhi api yang dengan ganas melalap apapun di dekatnya.

“GYAA!!!”

Si ibu itu akhirnya berteriak dengan kekuatan maksimum, sampai suaranya lenyap. Tubuhnya perlahan mulai hangus.

“Cepat, Jjong!” teriak Miharu ketika melihat kejadian tersebut.

“Tapi, aku tak membawa revolver-ku!”

“ARRGHH!” Teriakan lain terdengar. Taemin yang berhasil melewati api dan mencapai penonton, langsung menyerang mereka membabi buta dengan chainsaw. Emily melihat keadaan yang kacau ini dengan miris. Beberapa penonton di belakang menghampiri mereka, mencoba membuka pintu. Tapi, dikunci.

“Jinki hyung, this is fun!!!” teriak Taemin sembari terus menebas orang-orang di depannya. Darah bertumpahan, daging terkoyak, bau hangus mendominasi…

Ruang konser yang teduh itu seketika menjadi nightmare.

“Ke mana SOONHEE?!!” teriak Emily emosi. Soonhee berjanji akan menyelamatkan mereka, tapi ke mana dia sampai sekarang? “Aku akan membencimu jika kau tak datang!” tambahnya bergumam.

“JJONG HYUNG!”  Minho berteriak memanggil nama pria yang sedang berlari menuju Taemin. Tangannya sudah memegang sebuah balok kayu yang didapatnya di dekat pintu tadi. “JJONG HYUNG!! Kembali!!”

Miharu terkejut, “JONGHYUN!!”

Emily tidak berpikir panjang, ia langsung berlari menyusuri tangga berlapis bludru di bawahnya. Ia bersyukur ia menggunakan jeans, bukan gaun. Ia bisa bergerak dengan leluasa.

“Oh, hai, Kim Jonghyun!” sapa Taemin santai ketika Jonghyun berhenti satu meter di depannya. Kakinya tergerak mundur, dan genggamannya pada balok kayunya dipererat.

“Hentikan ini, Lee Jinki!”

Taemin langsung membeku, ekspresi datarnya seketika berubah menjadi ekspresi yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya. Wajah itu penuh emosi, dendam dan hasrat membunuh yang kuat.

“Mau apa kau menyebut namaku, hah?!”

Jonghyun melotot ngeri. Setahunya, orang di depannya ini adalah Lee Taemin. Tapi, kenapa—

“BERHENTI!” pekik Emily sampai di samping Jonghyun. Dengan berani ia menunjuk-nunjuk Taemin yang masih menyalakan chainsawnya. Sementara kobaran api di belakang mereka mulai membesar. Kepanikan terasa begitu kentara.

“Oh, kau, yang berhasil lolos waktu itu, hah? Kau harusnya mendapat hukuman sadis. Bagaimana kalau mayatmu kubakar, oh, atau mau kugiling? Bahkan karena nilai jelekmu minggu lalu, kau harus dapat hukuman lebih, Emily Mizukawa.” Taemin menyeringai seram.

Emily balas menyeringai, walau hatinya ketir.

“Tapi, aku tak mau menerima hukuman anda, Lee Sensei!” Gadis itu berlari mendekati Taemin dan menendang kakinya dengan cepat, sebelum Taemin sempat menebasnya dengan chainsaw.

Chainsaw itu terlempar dari genggaman Taemin, sementara Emily terjatuh di dekat api.

“Panas, panas, panas!” seru Emily segera berdiri dan melompat jauh dari sana. Jonghyun menatapnya, lalu segera berlari menghampiri Taemin. Memukul tengkuknya dengan balok kayu.

“AARGH, brengsek kau, Inspektur Tolol!”

“APA?” seru Jonghyun tidak terima dirinya disebut tolol. Dia inspektur berprestasi, dan egonya membuat ia benci dikatai ‘tolol’. “Terima ini, Keparat!” Ia mengayunkan balok kayu itu sekali lagi.

“Jonghyun, awas!” Miharu yang sudah menghampiri mereka segera menarik Jonghyun dengan kekuatan yang lebih dari yeoja pada umumnya. Sebuah atribut panggung jatuh berdebam karena tiangnya terbakar.

Taemin sudah berdiri dengan cepat. Tak merasakan sakit sedikitpun, karena dendamnya lebih kuat mendominasi.

“Brengsek.” Ia mengumpat, sembari memungut chainsaw-nya. Menyalakannya kembali, dan menyerang Jonghyun yang lengah.

“ARRGH!” Jonghyun beteriak saat merasakan ujung chainsaw yang berputar itu mengenai kakinya, merobek kain bahan celananya, dan kulitnya. Emily segera menendang Taemin dengan keahlian bela dirinya. Pria itu terdorong.

“ARRGH, BASTARD, LEE TAEMIN!” teriak Jonghyun marah saat melihat kakinya berdarah. Miharu dengan cepat merobek bagian bawah gaunnya, lalu membebat luka itu. Mustahil memang, tapi ia hanya ingin menghentikan pendarahannya dulu.

Emily berdiri dengan emosi, ditatapnya Taemin nanar.

“Dulu, kau guru yang kukagumi,” ucap Emily berjalan pelan mendekati Taemin yang menyeringai. Ia tertegun saat melihat seringai itu. Bukan seringai seorang Lee Taemin, seakan ada orang lain di dalam jiwa gurunya. Tanpa gentar ia berjalan terus mendekati Taemin. “Sebelum tahu kau gila, aku menyukai caramu mengajar…”

Emily meraih balok kayu dari tiang-tiang yang terbakar, memegang bagian yang belum kena api, sementara bagian sebelahnya sudah terlalap.

“Kau membunuh orang dengan sadis…”

“Karena mereka mendengar laguku. Apa kau tak paham?”

“Tidak.”

Emily lalu mempercepat langkahnya, sementara matanya menangkap tangan Taemin yang bergerak merogoh sesuatu di sakunya. Jantung Emily mendadak berdebar. Ia yakin Taemin mengeluarkan—

Revolver.

“Kau harusnya mati kemarin dengan alat ini, Emily Mizukawa.” Taemin tersenyum kecil. “Dan dasar takdir, kau harus mati dengan ini hari ini, jam ini.” Pria itu dengan tenang mengarahkan revolver-nya pada Emily.

Sedangkan Miharu berteriak meminta Emily menjauh, Emily masih tetap berjalan. Jonghyun terlihat pucat di dalam pelukan sahabatnya. Kibum menghampiri Miharu, lalu membantunya memapah Jonghyun.

Minho datang mendekati Emily, ia tak tahu, tapi ia akan melakukan apapun agar temannya tidak kenapa-kenapa.

DOR DOR DOR.

Minho terpaku. Menatap Emily kaget. Ia merasa menyesal telah lamban bergerak. Tapi, beberapa detik berlalu, Emily masih diam di  sana. Sementara Taemin ambruk, dan memperlihatkan Minho seorang gadis bergaun merah yang sedang memegang revolver.

Tangannya bergetar. Lututnya juga.

“SOONHEE!” pekik Emily setelah kesadarannya pulih. Ia segera memburu gadis itu. Namun, saat ia berlari melewati Taemin, ia langsung jatuh. Tangan pria itu memegang erat pergelangan kakinya, sementara dia sendiri berdiri dengan cepat.

“AAAH!” Emily memekik kaget saat merasakan permukaan sepatu gurunya menginjak punggungnya.

Hyung, apa yang harus kita lakukan?” Emily diam, berpikir dengan siapa Taemin bicara.

“Tembak.”

DOR

Emily memejamkan matanya erat-erat, bersiap melihat cahaya surga atau semacamnya, ketika ia merasakan tubuhnya tak lagi diinjak. Soonhee terus menembaki Taemin sembari berjalan mendekat. Ia berhenti tepat di sebelah Emily dan menembak Taemin untuk terakhir kali.

DOR.

Taemin belum roboh, ia hanya tergerak mundur, tapi tak bicara apa-apa. Darah mulai menyembur dari mulutnya dan lukanya. Ia tidak terlihat takut, sebaliknya, ia terlihat sangat marah pada Soonhee. Matanya menyala-nyala.

Kamsahamnida, Lee Soonhee!” seru Taemin sarkastik. Wajahnya berubah dingin, dingin dan menyeramkan. Soonhee berdiri membeku di sana, menyaksikan bagaimana Taemin mendorong tubuhnya sendiri masuk ke dalam api yang berkobar.

Sebelum benar-benar hilang masuk ke dalam api, Taemin tersenyum pada Soonhee.

Kamsahamnida, aku bisa kembali bersama Jinki hyung…”

Soonhee jatuh terduduk.

Ia terlalu lemas. Sangat lemas.

Ia melihat kobaran api yang mulai melahap sepertiga bagian gedung, tapi tak berniat bergerak. Emily yang masih syok karena injakan tadi segera sadar dan menyeret Soonhee menjauh dari api.

Semuanya berjalan lancar akhirnya. Polisi datang membuka pintu ruangan dan mengevakuasi penonton yang selamat. Jonghyun segera ditolong karena ia sudah pingsan kehabisan darah. Minho menemani Soonhee dan Emily yang sedang dibawa ke rumah sakit, sementara Miharu dan Kibum sengaja tetap di lokasi untuk memastikan keadaan.

“Ya, Tuhan… tadi itu mengerikan,” gumam Miharu menghela nafas lemah. “Darimana Soonhee mendapatkan revolver milik Jonghyun?”

“Entahlah,” balas Kibum. “Kita harus berterimakasih padanya.”

Sirine mobil polisi, ambulans, dan pemadam kebakaran bersahutan di sana. Orang-orang berseragam ataupun tidak, bahkan yang kucel karena keadaan di dalam, berlalu-lalang. Hujan turun, seakan langit menangis untuk kematian Lee Brothers. Well, jika bisa dikatakan begitu.

“Yang aku heran adalah—“ Kibum diam sejenak. “Sebenarnya, apakah pernah ada orang yang bernama Lee Jinki di dunia ini? Apa itu cuma halusinasi si Taemin?”

Sebelum sempat Miharu menjawab, seseorang tiba-tiba ada di belakang mereka.

“Aku akan menjelaskannya. Perkenalkan, Kwon BoA.”

***

Dua minggu kemudian.

Lee Soonhee POV

Hai, aku Lee Soonhee. Aku baru saja menyelesaikan terapi kejiwaanku hari ini. Well, sesuai saran Kibum oppa, aku mengikuti terapi jiwa dengan seorang psikiater kenalannya untuk menghindari agar aku tidak gila karena peristiwa yang jujur, membuatku sangat terguncang.

Aku tidak dipenjara walau membunuh Taemin oppa. Aku justru dianggap pahlawan. Tapi, aku tak bangga. Aku sudah melenyapkan nyawa orang yang paling dekat denganku.

Tapi, jika dipikir, tak apalah. Daripada Taemin oppa terus hidup dalam halusinasinya.

Aku tersenyum cerah pada seorang wanita yang menungguiku di ruang tunggu. Dia Kwon BoA. Wanita cantik yang masih awet muda di usianya yang katanya sudah kepala enam.

Hari ini, dia berjanji akan menceritakan semua yang ia ceritakan pada Miharu eonni dan Kibum oppa dua minggu yang lalu. Saat itu aku belum siap mendengar dan sekaranglah aku siap.

. . .

“Taemin-ah! Main di luar sana. Jangan ganggu eomma, eomma sedang merajut. Kau membuat pekerjaan eomma berantakan.” Victoria memarahi anaknya karena kenakalan Taemin yang berusia 10 tahun itu membuatnya jengkel.

Taemin menunduk, lalu menghampiri Nichkhun. Ia tidak melihat ada kopi di atas meja di dekat Nichkhun, jadi dia menubruknya begitu saja, hingga kopi itu tumpah.

Aigooo, Taeminnie! Mainlah di luar! Kau mengganggu saja.”

Semua itu awalnya terlihat biasa, ketika Taemin tiba-tiba menemukan satu jerigen penuh berisi cairan berbau pekat. Sebuah pikiran terlintas di benaknya, membuatnya segera menghampiri orang tuanya di dalam rumah mereka yang kecil nan hangat.

Eomma, appa, aku akan membalas perbuatan baik kalian selama ini.” Taemin bicara meracau, sambil memegangi jerigen itu kuat-kuat.

Victoria dan Nichkhun menatapnya kaget. “Apa yang kau lakukan dengan itu?” Victoria berdiri, hendak mengambil jerigennya, sebelum Taemin dengan cepat menyiramnya dan Nichkhun. Tangan satunya menyalakan korek api, lalu melemparnya tepat ke pangkuan Victoria. Dengan cepat api menjalari tubuhnya.

“Victoria!” Nichkhun hendak menolongnya, namun malang. Ia juga tersambar api itu.

Taemin segera menyirami sisi lain, dan mulai membakar rumahnya. Lalu, ia berlari keluar dan berdiri memandang rumahnya yang tampak menyala dari dalam. Mendadak wajahnya pucat saat ia menyadari apa yang baru dilakukannya.

Tapi, tak ada perasaan lain selain rasa puas di dalam benaknya.

“Aigo, Taemin-ah! Ada apa ini?!” Jinki berlari menghampiri Taemin, lalu segera berlari masuk ke dalam rumah yang mulai terbakar setengah. Taemin masih bisa mendengar suara teriakan Jinki di dalam.

Suara Jinki yang terakhir.

Lalu, kerumunan datang dengan cepat. Taemin masih mematung dan orang mengiranya kaget.

Lalu datang seorang gadis berusia sekitar lima belas tahun memburu Taemin. Memaksa bocah itu bicara, tapi usahanya gagal. Mengikuti intuisinya, Kim Taeyeon, putri pejabat di Korea Selatan yang berpacaran dengan Jinki itu segera masuk tanpa pikir panjang.

Ia yakin bisa menyelamatkan Jinki, walau ia tidak pernah keluar lagi dari sana.

Taemin memandang kobaran api itu dengan mata kosong. Perlahan seringai tipis tersungging di bibir kecilnya. Bibir anak kecil berusia 10 tahun.

. . .

Aku hanya diam mematung mendengarkan cerita singkat dari BoA ahjumma. Itu cerita saat aku belum kembali ke Seoul, karena saat Taemin oppa berusia 10 tahun, aku tidak ada di Korea.

“Lalu, kau tahu darimana, Ahjumma?” tanyaku penasaran. Inilah yang membuatku bingung.

Tapi, BoA ahjumma hanya tersenyum manis lalu berdiri, “Tak penting aku tahu darimana, setidaknya aku yakin kalian sudah bebas sekarang.”

Ya, kami sudah bebas. Terutama aku.

***

Normal POV

Kim Jonghyun menatap miris pada kakinya yang tinggal sebelah.. Ia terus saja mengutuki Taemin walaupun orangnya sudah tiada. Ia kehilangan kaki indahnya yang diamputasi karena luka parah yang disebabkan chainsaw.

Setidaknya, masih ada teman-temannya yang membuatnya berhenti gelisah.

Saat ini, ia sudah keluar dari rumah sakit dan tengah menunggu Kibum menjemput Minho dan Miharu menjemput Emily dari sekolah. Ia sendiri menunggunya di dalam mobil Kibum, dengan jurnal berisi kasus yang membuatnya tahu siapa Taeyeon.

“Kwon BoA itu memiliki wajah yang familier, tapi di mana… jangan bilang dia ada di buku—“ Ucapan Jonghyun terhenti seketika saat ia membuka dua halaman pertama. Wajahnya memucat. Dugaannya tepat. Sangat tepat.

Pemimpin Grup Orkestra “Liquor”, Kwon BoA, Dibunuh. Siapa yang Membunuhnya?

“Kurasa aku harus ikut terapi kejiwaan,” gumam Jonghyun menghela nafas. Masih terlihat syok dengan apa yang baru dilihatnya.

Ia mengangkat kepalanya, menatap keluar jendela mobil. Awalnya tidak ada yang aneh, sampai ia melihat sesosok orang yang menyebabkan kakinya diamputasi, berdiri di ambang pintu gerbang sekolah.

Orang itu melihatnya dan tersenyum ramah, penuh kehangatan, lalu menghilang.

Crap.

Jonghyun benci punya sixth sense juga, walau sixth sense-nya baru muncul akhir-akhir ini.

End.

©2013 SF3SI, Vania

signature

Officially written by Vania claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

27 thoughts on “Black Symphony [2.2]

  1. Aku cengo loh bacanya. Brarti ini Taemin dari kecil udah punya kelainan jiwa ya? wah, Author-nim sadis ih, bikin cerita thriller berdarah-darah…
    Ada beberapa typo sih, tapi ga ngeganggu waktu baca, over all ceritanya kece. Author-nim mansae!!

  2. Berarti waktu dikisah part 1 yg Taemin ngenalin black Symphony ke Jinki itu juga hayalan Taemin Jinki-nya?
    atau Taemin udah berbakat jd pianis dari kecil??

    walaupun banyak nanya, cerita ini tetep aku bilang Keren!! (:

  3. Berarti waktu dikisah part 1 yg Taemin ngenalin black Symphony ke Jinki itu juga hayalan Taemin Jinki-nya?
    atau Taemin udah berbakat jd pianis dari kecil??

    walaupun banyak nanya, cerita ini tetep aku bilang Keren!!

    1. sebenernya taemin emg jago main piano, tapi karena dia ini punya kelainan jiwa… jadi dia selama ini berkhayal yang mainin dan ngajarin itu Jinki, padahal Black Symphony itu karya Taemin sendiri, selama ini Taemin yg main pianonya sebenernya…
      makasih yaaa~😀

  4. Ternyata oh ternyata…
    Taemin yang aneh dari kecil…
    Orang tua, kakak, dan Taeyon korban pertamanya.
    Asli, deskripsi adegan berdarah itu buat mual…
    Masih ada typo, tapi mungkin salah ketik aja kali ya…
    Nice…

  5. pertama aku suka cerita nya … sampai2 aku merinding disco sendirian baca keadaan korban hasil lukisan LEE brothers … kasian taemin menjadi psikopat di ff ini .. hehehehe

    kedua aku suka sama thema blog ini … tema baru yaah … baguss ^^ ㅋㅋㅋㅋㅋ

  6. Good job . . .KEREN BANGET !!
    Spechels abis. . . .ceritanya singkat tapi berisi ,kalau di baca dan diresapi secra lbih dlam banyak pesan2nya . .😀
    Pokoknya keren abis ini cerita (y)

  7. Sejak awal, tidak ada JinKi disamping TaeMin, TaeMin yang membuat segala halnya. Mengerikan, dan sangat membingungkan awalnya, tapi sangat seru. Kwon BoA, sejak awal juga sixth sense dari yang memiliki?

  8. Aish! Merinding bacanya :3 Apalagi waktu adegan berdarah itu :3 Aku sendiri kan phobia darah yg yg semacam itu >..<

    Ah TaeTae ~ Knp kamu jadi psikopat? ㅠㅠ Overall aku suka😀

    Keep writing Eonni ^^

  9. Yah… Aku kira Taem nya gak mati. Ternyata… Kasihan ya Taem. Dari kecil udah tekanan mental gara2 orangtuanya. Eh ternyata ending hidupnya begitu. Gak sempet tobat… Haha
    Tapi ini bagus lho… Nice fanfic thor… Walaupun tegang bacanya…

  10. BoA ahjumma…🙂
    ngeri deh waktu tau si Taemin dari kecil udah psikopat… awalnya aku ngira dia itu jafi punya kepribadian ganda karena shock, tapi termyata memang udah dari sananya dia psikopat…
    ff yang bagus thorr.. buat orang deg-degan ama penasaran (walaupun takut) nuat baca ceritanya…

  11. Njir merinding aaaaaaaaaakk
    Tem gila!!!!
    hiiiiyyy
    “Kim Jonghyun menatap miris pada kakinya yang tinggal sebelah”
    aku malah pingin ketawa baca yg ini
    kesannya kayanya jonghyun biasa aja kakinya diamputasi

  12. OMG… Authornim~ Ini keren banget…. >.<
    Endingnya bikin aku cengo masa.. Jadi BoA itu udah meninggal? Aku kira mah dia masih jadi manusia *ehh??*
    Taeminnya mati~ T.T Abang gue yang masih inosen dibikin mati masa.. O.O
    Pokoknya Daebakk banget lah ff ini.. Bahasa yang di pake juga keren banget..!!!
    Ditunggu karya yang lain ya thor…😀
    FIGHTING…!!!!!

  13. KEREN !
    Tegang bgt wkt di acara konser itu. .
    Aku kira taemin smacam depresi krn kehilangan sluruh keluarga nya. .
    Ternyata taemin yg gangguan kejiwaan. .
    Aku rasa semua tokoh di FF ini perlu terapi kejiwaan. .haha
    Krn kejadian yg mereka alami emg tegang bgt. .
    Aku yg cuma baca aja deg degan bgt. .

  14. aku merinding bacanya. ya ampun sadis banget si taemin.
    rasanta aku jadi ingin ikut terapi kejiwaan setelah baca ff ini

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s