The Dark Moon [1.2]

dark-moon-photo copy

Tittle : The Dark Moon

Author : Lee Hana

Main cast : Kim Jong Hyun as Kim Jong Hyun, Kim In Joo, Lee Tae Min (OC)

Support Cast : Kim Ki Bum

Genre : Action, Mystery, Supernatural, Friendship and Romance

Length : Two Shoot

Rating : PG-13

Summary : Jong Hyun tersentak. Matanya membulat penuh dan dadanya berdetak lebih cepat. Ia bertanya-tanya sekarang, Apakah sosok di hadapannyalah yang membunuh kedua orang tuanya? Seorang lelaki dengan mata sebiru lautan yang menyiratkan kebencian yang dalam.

The Dark Moon

….

Seorang lelaki muda tengah duduk melipat kaki—di atas lantai kayu yang halus—di belakang meja kecilnya. Duduk tegak dan tatapannya yang serius terjurus pada deret huruf kanji pada sebuah buku lusuh agak tebal di tangannya. Buku itu terlihat tua dan sudah tak lagi bersampul, tercakar-cakar dan robek oleh waktu yang memakan, tetapi begitu memikat bagi si empunya.

“Oppa! Oppa!” Dan tiba-tiba saja suara seseorang mengganggunya, namun ia tidak terlihat kesal sama sekali. Sekarang tumpuan perhatiannya ia tujukan pada sebuah pintu tipis yang terbuat dari kayu berlapis kertas minyak. Dari tempatnya berada dia bisa melihat bayangan seorang wanita tengah berdiri menunggu jawaban meski tampak tak terlalu jelas, juga seorang lelaki yang berada di sampingnya.

“Oppa, bolehkah kami masuk? Tae Min ingin bertemu denganmu,” serunya lagi menambahkan.

“Masuklah,” sahut lelaki muda bernama Jong Hyun itu.

Seketika pintu dua lapis itu tergeser dan menampakkan seorang wanita muda umur belasan yang manis dan polos, dengan riasan tipis di wajahnya yang putih dan hanbok dengan rok berwarna merah muda dan baju yang berwarna putih bersih dia terlihat sangat, sangat manis. Di belakangnya adalah seorang lelaki muda juga. Umurnya hampir sama dengan adiknya, dan lelaki berpakaian biru itu ia kenali sebagai Tae Min, seseorang yang akan menjadi adik iparnya, tidak salah lagi.

Kedua orang itu duduk di hadapannya dengan tenang, sedangkan Jong Hyun melihat gelegat yang agak aneh dari In Joo. “Jadi, ada apa ini?” tanyanya cepat.

“Eh, begini aku … eh, aku …,” Tae Min bicara tak tentu arah. Ia terlihat sangat gugup bercampur takut sedangkan In Joo yang duduk tepat di samping lelaki itu tampak begitu malu-malu, merunduk dan tak berani menatap kakaknya, mungkin juga dia agak takut.

“Ayolah, kau mau bicara apa?” sergah Jong Hyun tak sabar.

“Eh, be-begini, Hyung. Aku … In Joo … kami ….”

“Berhenti! Berhenti! Berhenti!” potong Jong Hyun kali ini benar-benar kesal. “Sudahlah,” lanjutnya. “Aku benar-benar bingung apa yang sebenarnya ingin kalian sampaikan padaku. Kalian begitu tegang. Bagaimana jika kita minum segelas teh? Itu bisa merilekskan tubuh,” tawarnya seraya tersenyum kecil sambil memandangi keduanya bergantian.

Sejurus kemudian In Joo bangkit tanpa perlu diberi aba-aba dan pergi untuk mengambil tiga cangkir teh. Sedangkan Tae Min yang ditinggal tampak tertarik dengan sebuah buku yang tengah menganggur di atas meja di hadapannya, yang tampak baru saja dibaca.

“Hyung, kau habis baca buku?” tanya Tae Min.

“Ya.”

“Buku apa itu? Terlihat sangat tua, dan sangat jelek.”

“Ya, memang, tapi sangat … berharga. Buku ini begitu sulit didapatkan,” jelas Jong Hyun bangga.

“Benarkah? Memang buku apa itu?” tanya Tae Min terlihat tertarik.
“Buku obat-obatan.”

Dahi Tae Min mengerut jelas lalu berucap dengan nada menerka, “Kau mau jadi tabib?”
“Ha ha ha,” sesaat Jong Hyun tertawa, hampir terbahak lalu berhenti. “Kau tahu aku takkan melakukan itu, kan? Tentu saja, aku harus meneruskan usaha keluargaku. Setelah Eomonim dan Abeoji meninggal sebulan yang lalu, tentu saja aku tak bisa lagi melakukan sesuatu semauku seperti dulu. Terlalu banyak pekerja yang menggantungkan hidupnya padaku. Kau lebih beruntung—meski orang tuamu juga sudah meninggal—setidaknya kau tak perlu memikul beban ayahmu sebagai gubenur di sini, kan? Karena jabatannya tak mungkin jatuh kepadamu, tentu saja beda cerita kalau ayahmu itu seorang raja.”

“Ha ha ha ha!” kali ini Tae Min-lah yang tertawa dengan heboh. “Aku bersyukur dengan itu, setidaknya aku bebas melakukan apa mauku. Abeoji selalu mamaksaku ikut tes masuk perguruan tinggi.”

“Kau benar,” sahut Jong Hyun sambil manggut-manggut.
“Jadi, kenapa kau membaca buku itu?” tanya Tae Min kembali ke topik semula.
Jong Hyun menghela keras lalu menatap Tae Min penuh duka. “Aku ingin tahu racun macam apa yang digunakan untuk membunuh orangtuaku.”

“Bukankah mereka mati dicekik?” tanya Tae Min heran.
“Tidak, sama sekali tidak. Ya, mungkin mereka dicekik oleh sang pembunuh berdarah dingin itu, tetapi mereka mati bukan karena dicekik. Aku mengetahuinya karena meski ada sebuah bekas luka seperti tercakar di leher mereka, tapi aku pastikan, cekikan itu tak sekuat bayanganmu. Mereka mati bukan karena itu. Kemungkinan yang aku tahu mereka bisa saja diracun, tetapi aku juga tidak yakin dengan itu.”

Tae Min terdiam sebentar, tampak berpikir sedikit lalu bicara, “Tidakkah kau berpikir pembunuh itu memiliki dendam pada keluargamu? Tidak mungkin mereka membunuh tanpa alasan yang kuat, kan?”

“Aku bisa saja berspekulasi ada sebuah tujuan yang mereka ingin capai, tentu saja cara tercepat itu adalah membunuh kedua orangtuaku dengan pembunuh bayaran.”
“Ha ha ha!” kali ini tawa Tae Min meledak-ledak dan lama. Ia memegang perutnya dan mengeluh perutnya sakit, dan terdiam setelah bisa mengendalikan diri. Sedangkan Jong Hyun, dia menonton dengan berkerut kening, merasa sangat aneh karena merasa kata-katanya sama sekali tidak lucu. “Ah, ah, ah … ya, kau benar,” ucap Tae Min lemah pada akhirnya setelah agak lama terengah-engah.

“Kenapa kau tertawa?”

“Maaf. Aku hanya teringat tentang lelucon yang lucu ketika kau bicara tentang pembunuh bayaran.” Dan setelah itu terdengar suara pintu bergeser terbuka, lalu digeser lagi hingga tertutup. Sekarang di hadapan keduanya sudah tersaji tiga gelas teh panas dengan asap yang mengepul dan bau yang segar dan khas. Sedangkan In Joo sudah duduk tenang di tempat sebelumnya bersama sebuah nampan bundar yang ia letakkan tepat di sampingnya.
“Silakan diminum! Hati-hati masih panas,” ucap Jong Hyun mempersilakan Tae Min mengambil tehnya lebih dahulu. Sayangnya, ketika In Joo ingin mengambil bagiannya, lengannya tak sengaja menyikut lengan Tae Min yang tengah meniup teh miliknya, dan akhirnya setengah dari isi gelas tumpah ke baju suteranya yang mahal dan lelaki muda itu menjerit, “Ah, panas!” sambil meletakkan gelasnya dan ia berdiri sambil berjingkat-jingkat.

“Lepas bajumu! Cepat lepas bajumu! Itu bisa melepuh!” tukas Jong Hyun panik.

“Oh, tolong akuuu! Tolong akuuuu!” dan Tae Min terus saja menjerit.

“Aku … aku benar-benar minta maaf,” ucap In Joo lekas dipenuhi gurat rasa malu dan rasa bersalah di wajahnya. Ia pun tak kalah panik. “Dan, dan aku akan keluar sekarang,” lanjutnya dengan gugup ketika ia melihat kakaknya dan Tae Min sendiri tengah berusaha melepaskan pakaian Tae Min. Lalu menghilang dengan bunyi tuk dari pintu.

“Oh, ini benar-benar panas!” keluh Tae Min setelah melihat dadanya—yang warnanya putih bersih menjadi merah seperti ayam rebus—sambil meniupi dadanya yang basah oleh teh dan dengan gaduh Jong Hyun mencari kipas dan mengibaskannya—setelah menemukannya—di depan dada Tae Min sambil memerhatikannya tanpa sadar.
“Ini … ini lebih baik. Sudah cukup. Sudah cukup, Hyung. Gomaweo,” ucap Tae Min jauh lebih tenang setelah merasa dadanya terasa lebih dingin.

“Benarkah?” tanya Jong Hyun masih mengipas.

“Ya.”

“Oh, syukurlah.” Jong Hyun menghentikan mengipas dan memerhatikan dada Tae Min lebih detail. “Itu masih terlihat merah, tapi aku harap tidak melepuh. Ya, ampuuun, aku benar-benar minta maaf atas In Joo. Dia tidak sengaja—“

“Tentu saja aku tahu,” kekeh Tae Min. “Dia tidak mungkin berani melukaiku. Dia bahkan pernah menangis karena lututku berdarah karena terjatuh.”

“Itu ‘kan sudah lama sekali, saat kalian masih berumur tujuh tahun.”

“Ya, aku tahu. Intinya dia tidak mungkin sengaja melukaiku.”

“Baiklah, sebaiknya kau tinggalkan bajumu yang basah, biarkan calon isterimu itu yang mencucikannya untukmu,” ucap Jong Hyun lalu terkekeh geli, begitu juga Tae Min yang ikut-ikutan. “Dan sekarang, pakai saja bajuku,” lanjutnya sambil berjalan ke arah lemari pakaian dan mengambil sebuah hanbok lengkap dengan pakaian dalam atasan berwarna putih bersih.
“Oh, terima kasih, Hyung,” ucap Tae Min sambil mengambil lipatan pakaian di tangan Jong Hyun dan berniat memakainya, tetapi dengan cepat Jong Hyun mencegahnya. “Tunggu! Tunggu dulu!”

“Ada apa?” tanya Tae Min dengan heran.

“Itu.” Jong Hyun menunjuk ke arah lengan kanan Tae Min, lalu berjalan dan melihat lebih dekat ke arah tanda hitam di lengan itu. “Kau pakai apa di lengan kananmu? Aku tak ingat kau memiliki tanda lahir di situ. Dan gambarnya—“

“Ah, Hyung,” Tae Min cepat-cepat menyergah, “ini bukan apa-apa. Kau tidak perlu khawatir.” Lalu dengan cepat memakai bajunya.

“Tetapi itu—”

“Oh ya, Hyung, aku sampai lupa, aku ada janji dengan seseorang. Oh, ya ampuuun!” keluh Tae Min sambil memukul dahinya dengan keras. “Aku hampir lupa. Eh, tadi … eh, aku meminta izin mengajak In Joo pergi besok, dan … dan … cukup lama. Hingga malam dan kumohon tolong izinkan kamiiii!” rajuk Tae Min pada kalimat terakhirnya, yang sebenarnya lebih terdengar seperti merengek. Dia menunjukkan wajah memelasnya dan menggosok-gosok kedua tangan memohon-mohon.

Wajah Jong Hyun dengan cepat merengut dan ia segera saja melipat tangan di dada sambil berucap dengan tegas, “Kau sudah tahu jawabanku.”

“Boleh?”

“Tidak!” bentak Jong Hyun.

“Oh, kumohon. Aku akan—“

Brak! Terdengar suara pintu digeser dengan keras dan muncul In Joo dengan wajah marah. “Pokoknya aku mau pergi! Jika Oppa melarang, aku akan kabur dari rumah! Kalau aku dikurung aku tidak akan mau makan! Oppa, mau yang mana? Atau aku pergi bersama Tae Min?” ancam In Joo serius.

Jong Hyun mendesah lalu memegang dahinya yang berkedut cepat dengan ujung jemarinya, lalu melihat keduanya dengan tampang sebal. “Kenapa kalian seperti anak kecil? Aku mengkhawatirkan keselamatan kalian, tahu? Bisa saja pembunuh itu datang dan membunuh kalian di saat aku ti—“

“Tentu saja, Hyung, boleh ikut. Boleh juga membawa beberapa pengawal,” sahut Tae Min polos dan ditanggapi tatapan kaget oleh In Joo.

“Aku kira kalian ingin ….”

“Ya, itu benar. Tapi mau bagaimana lagi? Kami tidak bisa pergi jika tak mendapatkan izinmu, lagi pula”—Tae Min melihat ke arah wajah In Joo yang tampak berpikir dan terlihat kecewa—“aku tak mau terjadi hal buruk pada In Joo. Bukankah dengan begitu kita semua bisa lebih tenang?” Lalu meringis manis dan disambut oleh senyuman tenang Jong Hyun.

“Aku beri izin, tentu saja,” ucap Jong Hyun kemudian.

Hari semakin larut, malam ini Jong Hyun baru saja pulang dari rumah Bangsawan Goo—untuk membahas kerja sama bisnis busana yang sama-sama mereka kelola—bersama empat orang pengawalnya. Malam itu sangatlah dingin, udaranya menggigit kulit dan membuat kerut-kerut yang nyata pada permukaannya; angin yang berdesing terdengar kejam bersahutan dengan suara gonggongan serigala hutan; bulan indah dan cerah kekuningan—menampakan dirinya yang hampir sempurna dengan berani meski awan-awan putih datang mengelilingi dan mencoba menghalangi. Dan, yang mereka dengar saat ini hanyalah langkah kaki mereka sendiri yang menghentak pada jalan tanah di antara pemukiman warga dengan tembok-tembok kayu dan atap-atap jerami mereka.

Tiba-tiba saja Jong Hyun mendengar suara lain, suara yang pernah didengarnya sebelumnya, hampir sebulan yang lalu, ketika ia menemukan kedua orangtuanya mati terbujur lemah di kamar dengan tubuh sedingin es, dalam keadaan yang sangat tidak normal (ketika suhu tubuh mayat mejadi semakin dingin, maka akan semakin kaku juga. Tetapi tidak pada kedua mayat orang tua Jonghyun, tubuh mereka dingin, tapi tubuh mereka sama sekali tidak kaku).
Detik ini, ia mendengar suara denting lonceng itu lagi, samar namun ia yakin itu adalah suara lonceng yang sama dengan terakhir yang ia dengar. Dengan cepat Jong Hyun memerintahkan para pengawalnya berhenti dan diam. Ia tahu seseorang akan muncul sebentar lagi karena denting itu semakin jelas.

Dan benar, tak lama kemudian muncul seorang lelaki di hadapannya, cukup jauh, dalam jarak sepuluh meter. Lelaki itu memakai sebuah topi jerami yang digantungi dua buah lonceng perak yang cantik di tepiannya, wajahnya diberi cadar berwarna putih bersih dan sedikit transparan—tetapi tidak cukup jelas untuk melihat wajah si pemakainya—dan tubuhnya dibalut dengan pakaian berwarna hitam.

Lelaki itu muncul dan berdiri dengan tenang, menyampinginya dari sebuah kelokan yang akan dilewatinya. Di pinggangnya terdapat sebuah pedang yang menggantung, tetapi ia sama sekali tak memegangnya, hanya berdiam sambil menoleh, menatap Jong Hyun dengan matanya yang berwarna biru terang.

Jong Hyun tersentak satu langkah ke belakang. Membuat matanya membulat penuh dan dadanya berdetak lebih cepat. Ia betanya-tanya sekarang, Apakah sosok di hadapannyalah yang membunuh kedua orang tuanya? Seorang lelaki dengan mata sebiru lautan yang menyiratkan kebencian yang dalam.

Jong Hyun terdiam sejenak, masuk ke alam pikirannya dan menegang dengan marah, lalu menatap sosok itu dengan berani. “Siapa kau? Apa yang kau mau hingga menghalangi jalan kami?”
Terdengar kekehan yang teredam dari seberang, tampak lelaki itu tertawa dengan gembira. “Apa jika aku mengatakannya kau akan memberikannya secara suka rela?”

Jong Hyun mengernyit. Ia merasa femilier dengan suara itu, tetapi ia pun tak yakin karena suara itu terdengar samar—selain karena cadar itu, juga karena angin yang berembus, mengeluarkan suaranya yang berdesing. Meskipun terlintas satu nama di kepalanya, namun dengan cepat ditepisnya.

“Aku bisa mempertimbangkannya jika kau berkenan mengatakannya,” jawab Jong Hyun tenang.

“Aku ingin nyawamu, dan aku pikir kau tak akan mempertimbangkannya, karena itulah aku tak perlu pertimbanganmu.” Dan dengan tiba-tiba Si Mata Biru berlari dengan kencang menyongsong angin ke arah Jong Hyun dan menarik pedangnya dengan bunyi desing yang nyilu—seperti memberi gambaran pada yang mendengar bahwa mata pedang itu sangat tajam untuk merobek kulit dan menusuk setiap organ tubuh dengan sangat mudah—bersama dengan suara lonceng yang berdenting-denting ketika bergerak, tetapi teriakan para pengawal Jong Hyun tak kalah ribut bersama suara pedang-pedang yang mereka tarik dari sarungnya.
Dalam sekejap terdengar suara denting-denting lain yang menyilukan, ketika dua mata pedang harus saling berbentur, atau ketika mata pedang itu menggesek dan merobek setiap kulit, menyisakan warna merah yang menodai ujung pedangnya, atau memercik pada baju hitam pemiliknya. Satu per satu dari empat orang itu ambruk dengan erangan yang menyilukan dan memilukan bersamaan. Sayangnya, bukan berarti itu semua dapat membuat Jong Hyun ciut ataupun kalut.

“Lihatlah ini. Mereka sudah mati. Siapa yang akan menjagamu, Tuan Muda?” ucapnya dengan nada meremehkan.

“Aku bisa menjaga diriku sendiri,” ucapnya lalu mengambil sebuah pedang yang tergeletak di tanah, tepat di samping empunya—berada pada tangan salah satu pengawalnya yang sudah mati.

Diam-diam Si Mata Biru menyeringai, lalu tertawa kecil. “Kau mau apa? Melawanku?”
“Tidak, aku ingin membunuhmu!” Setelah itu Jonghyun berlari menyongsong ke arah Si Mata Biru dengan pedang yang ia genggam erat dengan kedua tangan hingga untuk kedua kali pertempuran terjadi.

“Kau ingin aku mati sebelum kau tahu alasan mengapa aku membunuh mereka?” ucap Si Mata Biru dengan tenang sekaligus menahan setiap serangan pedang yang ditujukan padanya oleh Jong Hyun dengan cepat. Perbincangan mereka diiringi oleh bunyi desing dan denting pedang mereka sendiri, juga suara lonceng yang terus bergerak.

“Aku tidak peduli!” balas Jonghyun sengit, sama sengitnya ketika ia terus berusaha melukai dan lebih dari itu, membunuh lelaki itu namun tidak juga berhasil.
“Baiklah. Tapi aku akan berikan satu rahasia padamu.” Jonghyun berusaha tidak mendengar dan terus menyerang. “Mereka adalah cacing di dalam buah.” Dan setelah itu tubuh Jonghyun semakin menegang oleh amarah, sayangnya Si Mata Biru memberinya serangan cepat, serangan yang tak diguganya. Ketika Jong Hyun berusaha menusuk ke arah jantungnya entah bagaimana lelaki itu sudah bergeser menghindar dan dalam sekejap ia terlempar setelah sebelumnya pedang di tangannya terempas ke udara, melambung tinggi dan menancap pada tanah.
Jong Hyun baru saja mendapat tendangan kuat tepat di dada, dan ketika ia mendaratkan tubuh—posisinya sangatlah tidak menguntungkan, membelakangi sebuah batu besar yang menghantam bagian belakang kepalanya dan membuatnya dalam sekejap terpejam dan terkapar hilang kesadaran, sedangkan lelaki itu tersenyum dari balik cadarnya, terkekeh lalu mendekati Jong Hyun.

Si Mata Biru berdiri tepat di hadapan Jong Hyun, terdiam sejenak sambil memerhatikan wajah mangsanya yang sudah tak bergerak. Ia menyeringai dan puas. Kini kedua tangannya mulai menggenggam lebih erat pedangnya, mengangkat tinggi-tinggi di atas kepala dengan tatapan mata menusuk ke arah Jong Hyun berniat menghunus, tapi bukannya menghunuskan ujung pedang ke arah dada kiri Jonghyun, ia justru merunduk sambil mencoba berputar ke belakang ketika menyadari ada seseorang hendak menebasnya dari balik punggungnya. Dengan cepat ia membalas tebasan itu, namun hanya dengan satu langkah cepat orang itu sudah berada tiga meter di hadapannya.

Si Mata Biru berdiri, terdiam sambil memerhatikan siapa musuhnya kali ini, seorang lelaki yang lumayan tinggi dengan kulit sedikit cokelat yang memiliki rambut hitam yang ia kuncir ke belakang. Pakaiannya terlihat seperti warga biasa, terdiri dari atasan berwarna putih dan bawahan yang berwarna hitam. Begitu juga dengan lelaki yang dikuncir, ia melakukan hal yang sama pada lawannya, menganalisa.

“Kenapa kau mengganggu?” tanyasi Si Mata Biru.

“Aku tidak mengganggu. Aku hanya mencoba menyelamatkannya darimu, Pengikut Iblis,” serunya, membuat Si Mata Biru mendengus kesal dan segera berlari dengan pedang yang berada di samping kepala. Ketika mereka telah berada dalam jangkauan satu meter ia mulai menebas namun dengan cepat ditahan. Dan ia memberikan serangan kedua dan ketiga, begitu juga lawannya, si lelaki berkuncir itu juga melakukan yang sama, menahan serangan dan balas menyerang. Pertempuran itu berlangsung sedikit lebih lama daripada ketika Jonghyun melawan Si Mata Biru. Dan pada akhirnya, tepat ketika kedua pedang itu beradu dengan keras, dengan sekejap pedang milik Si Mata Biru patah, membuatnya membelalak kaget dan melihat ke arah wajah lelaki di hadapannya yang menatapnya dengan dingin, lalu segera mundur beberapa meter ke belakang dengan cepat. Terdiam sebentar dengan tatapan dendam lalu berlari dan menghilang dalam kabut malam yang kelam dengan cepat.

In Joo tengah terpekur memandang gerbang rumahnya dengan wajah yang sendu. Kakinya yang menyentuh tanah bergoyang-goyang dan bibirnya terus saja bergumam tentang sesuatu dengan tidak jelas dan terkadang diselingi dengan desahan napas berat. “HA!” hingga tiba-tiba seseorang berteriak tepat di telinganya, membuatnya hampir berjingkat dan jatuh dari tempatnya duduk.

Sambil memegang dada ia melihat ke arah lelaki di sampingnya yang tengah meringis dan menahan tawa. “Iiish!” geramnya kesal. “Kau mengagetkanku, tahu!”

“Apa yang kau pikirkan hingga melamun begitu? Sejak tadi aku perhatikan kau melihat gerbang, jadi aku kira kau melihatku datang, tetapi aku lihat kau diam saja, jadi aku sebal. Akhirnya aku memberimu balasan dengan mengagetkanmu. Kita impas. Jangan marah-marah, nanti kau cepat tua dan jadi nenek-nenek yang jelek,” canda Tae Min.

In Joo manyun lalu mendengus. “Jadi, kau tak mau menikahiku kalau aku jelek?”
Tae Min menggeleng kuat. “Aku tidak bilang begitu, tapi aku pasti akan mempertimbangkannya dengan sangat matang untuk menikahi nenek-nenek.”

“Kau menyebalkan!” In Joo membuang muka dan menyilangkan tangan di dadanya sambil cemberut.

Tae Min melihat wajah kekasihnya lekat-lekat lalu mendesah. Ia pun duduk di samping In Joo dengan tatapan peduli. “Maaf. Aku hanya bercanda. Sebenarnya ada apa?”
Ekespresi In Joo dengan cepat berubah, begitu juga rasa marahnya. Kini dia mulai merengek dan hampir menangis, menatap Tae Min dengan mata berkaca-kaca. “Oppa. Hiks, hiks. Jong Hyun Oppa tidak pulang semalaman.”

“Benarkah? Memang ke mana dia tadi malam? Jangan bilang kalau dia pergi ke rumah bor—Auch!” Tae Min menjerit ketika lengannya dipalu dengan kepalan In Joo yang kuat, lalu mengeluh sambil membentak, “Aduuuh. Ini sakit, tahu!” Ia mengusap-usap lengannya yang masih sakit.

“Kau itu yadong! Oppa Jong Hyun tidak mungkin ke sana! Dia lelaki terhormat, tahu! Tidak sepertimu yang ….” In Joo berhenti bicara. Sekarang ia berpikir ulang untuk melanjutkan kata-katanya, takut-takut kalau Tae Min marah. Kalau marah anak lelaki itu bisa berhari-hari—ia tidak mau Tae Min marah padanya berhari-hari.

“Yang apa? Yang apa? Aku tak pernah ke tempat seperti itu! Aku bahkan tak pernah minum arak! Aku tak menggoda wanita lain yang jauh lebih cantik darimu karena aku menghormatimu! Sekarang kau mau mengataiku apa?” cecar Tae Min terlihat marah.
“Hiks! Hiks! Hiks … HWAAAA! Oppa jahat!” In Joo menangis dengan keras membuat Tae Min kelabakan.

“Oh, tenanglah, In Joo. Kenapa kau seperti anak kecil sekarang? Baiklah, baiklah, apa yang kau mau? Kumohon berhenti menangis, ya?”

In Joo segera terdiam lalu meminta dengan suara serak, “Oppa, kencan kita hari ini kita tunda, ya? Sekarang bantu aku keluar dari sini karena Tuan Oh tidak memperbolehkan aku keluar dari rumah dan dia tak mengatakan apapun tentang Oppa. Aku ingin mencari Oppa Jong Hyun. Aku sangat khawatir padanya.”

Tae Min menghela berat lalu mengangguk dan disambut pelukan In Joo sambil berkata dengan riang, “Gomaweo, Oppa.”

To Be Continued ….

 

©2013 SF3SI, Lee Hana

leehana-signature

Officially written by Lee Hana, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

//

8 thoughts on “The Dark Moon [1.2]

  1. wah! wah! keren, aku jadi penasaran sama kelanjutannya v_v

    siapa lelaki yang menyelamatkan Jonghyun??
    Siapa lelaki ber-cadar itu??
    kl boleh aku tebak sih… antara Kibum sama Taemin.
    Please jangan Taemin, Please😥
    Tanda hitam di lengan Taemin itu sangat-sangat mencurigakan.
    Aku penasara sama lelaki yang nyelamet’in Jonghyun,masa Kibum?? dia kan putih #plakk *peace😀

  2. ini cerita sageuk (bener gk tulisannya) ya?
    bisa nanya begini karena penggambaran pakaian pada cast-nya, dan berantemnya masih pake pedang..
    jaman apa ya kira2?

    saya selalu suka yg cerita atau drama yg bersetting sageuk^^

    Ok Hana, karena saya bacanya telat, saya lanjut ke part 2 ya..

    like it🙂

    1. wah, aku nggak ngerti yang begituan. lagi pula aku bukan admin. aku cuma MA. coba aja tanya sama Lana langsung. tulis di page kritik dan saran aja.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s