Toilet Paper

 

toiletpaper

Title: Toilet Paper

Author: vanflaminkey91 (@whitevenus_4)

Genre: AU, sad, family

Length: ficlet

Rating: G

Main Casts: Kim Jonghyun

Disclaimer: I own both story and poster.

A/N: Happy birthday, The Golden Voice Boy—Kim Jonghyun (April 8) and The Amazing Fan Fiction Blog—SF3SI (April 9) ! ^^ Both of you are amazing😀😀 :D 

Toilet Paper

Waktu itu sore hari. Udara begitu lembab, dingin, dan kurang bersahabat—sisa peninggalan tirai hujan tadi siang. Kota Seoul, layaknya ibukota pada Negara lainnya, tetap sibuk dalam keadaan apapun. Aspal nampak basah ketika roda-roda itu menggilasnya.

Kim Jonghyun sudah berulangkali menghela napas di depan cupcake berukuran agak besar yang terduduk manis di atas mejanya. Tim live music yang dipersembahkan kafe itu mendendangkan lagu yang lembut, api kedua lilin yang berdiri di atas cupcake-nya bergoyang santai seolah mengikut irama.

Tring. Tring. Tring.

Bel di atas pintu masuk berbunyi ketika sepasang suami istri dan seorang anak balita masuk dengan ceria ke dalamnya. Jonghyun mendongak sedikit dan bertemu tatap dengan tiga pasang keluarga kecil bahagia itu. Mereka melihati Jonghyun agak aneh—mungkin heran dengan Jonghyun yang duduk sendirian bersama sebuah cupcake yang ditancapi lilin.

Tubuhnya kekar, wajahnya tampan dan terlihat agak garang, rambutnya dicat perak… berdiam diri di sudut ruangan dengan cupcake yang dipermanis lilin. Seorang diri. Agak lucu.

Jonghyun tersenyum kepada sang anak sebelum akhirnya keluarga itu memilih duduk dan menanggapi pelayan yang menghampiri mereka.

Melihat keluarga kecil yang harmonis itu, seolah ada sesuatu yang retak di dalam diri Jonghyun. Sakit dan perih. Jadi, tanpa buang waktu ia segera memejamkan mata untuk mengucap doa.

“Tuhan, terimakasih atas tambahan satu tahun lagi usiaku. Sudah banyak yang telah kulalui dan kulakukan di dunia ini—dari yang membanggakan hingga membuatku merasa paling laknat di muka bumi. Aku mensyukuri ini semua, mungkin putra dan istriku memang tidak ditakdirkan untuk selalu bersamaku hingga ajalku tiba. Mungkin mereka lebih baik berpisah denganku, tapi aku tetap mendoakan mereka hari ini—khususnya putraku. Berjanjilah, Tuhan, Kau akan menjaga mereka untukku. Jadikanlah aku sebagai alat untuk membangun masyarakat dan semacamnya,” doa Jonghyun sambil mendengar denting sendok yang beraduan dengan garpu menggema di sekitarnya.

Ia membuka mata, lantas menghirup udara banyak-banyak—menghembuskannya pelan-pelan hingga kedua pelita itu padam.

Saengil chukkae, Kim Jonghyun,” bisiknya meniup satu lilin. “Saengil chukkae, Sayangku,” lanjutnya lagi mematikan lilin kedua. Tak lupa diraihnya selembar foto dalam sebuah figura yang sudah dipersiapkannya. Jonghyun mendirikan figura itu persis di hadapannya, menghadap arah cupcake. Ujung matanya terasa berat dan tak lama sebutir bening menuruni pipinya.

Saengil chukkae, Hoksin-ah!!” Jonghyun melirik ke sumber suara. Tanpa disadari bibirnya melekuk membentuk senyum mendapati sepasang suami istri muda tadi berseru riang sambil bertepuk tangan kecil, sedangkan sang anak tertawa-tawa gembira. Nampak sebatang lilin yang sudah terpakai dan sisa asapnya yang perlahan menghilang—di atas muffin coklat.

Jonghyun tersenyum lebih lebar tatkala melihat suami istri itu memeluk erat anaknya. Memberikan putra kecil mereka sebuah kado.

Betapa teriris hati Jonghyun. Ia pernah melakukannya, tapi tidak lagi hari ini.

Apalagi melihat betapa lucunya putra mereka. Kulitnya putih, pipinya tembem berisi dengan sedikit rona merah alami di atasnya, mata yang sipit, gigi putih, bibir merah sehat—tampan nan manis. Jonghyun teringat sesuatu.

Jadi, Jonghyun merogoh sakunya, mengeluarkan kertas toilet yang dicabutnya agak banyak ketika ia mengunjungi toilet. Ya, dia melakukannya. Ia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin mencabut kertas toilet itu dan melipatnya, memasukannya ke dalam saku.

Ini alasannya mungkin?

Dengan satu-satunya pena yang diselipkan di kantung mantelnya, ia mulai menulis sesuatu di atas sana—sesekali melirik ke arah keluarga kecil yang tampak sempurna itu.

Jonghyun mengangkat tangan, hingga seorang pelayan menghampirinya dengan senyuman. Ia meminta pelayan pria itu mendekat dan membisikkan sesuatu. Tak lama kemudian, tangannya merogoh uang cash—menaruhnya di atas tangan si pelayan pria beserta kertas toilet penuh tulisan yang telah dilipatnya rapi.

Pria berambut silver itu mengamati sang pelayan pria yang tengah menghampiri meja keluarga kecil tadi. Saat memastikan suratnya benar-benar akan sampai, Jonghyun menarik napas panjang sembari tersenyum lebar. Dengan perasaan lapang, Jonghyun mengambil figura foto putranya serta topi yang sedaritadi duduk di sebelahnya—melangkah keluar sana tanpa menoleh lagi.

“Permisi, Tuan dan Nyonya. Pria yang baru keluar tadi menitipkan ini untuk Anda.”

Mereka tampak heran, kemudian mengangguk dan menerimanya sambil mengucapkan terimakasih.

Sang istri tampak tidak sabar—segera membukanya dan mulai membaca isinya bersama sang suami. Tulisan tangan Jonghyun yang begitu rapi meski di atas tisu.

 

Hei, anak kalian luar biasa menggemaskan dan sangat tampan! Aku yakin ia akan tumbuh menjadi pria yang tampan dan menyenangkan nanti. Aku bukan penculik anak yang sangat tertarik dengan putramu, aku hanya seorang ayah yang ingin mengucapkan ‘selamat ulang tahun’ kepada putramu.

Selamat ulang tahun! Semoga kau dapat menjadi pria yang kuat dan membanggakan orang tuamu kelak. Kau dapat kesempatan untuk tumbuh. Berapa usiamu, Nak? Kutebak seusia dengan putraku.

Aku dan putraku. Kami mirip sekali. Bahkan tanggal lahir kami sama. Oh, sekedar info, tanggal lahir kami dan bulannya sangat sama dengan putramu. Ya, hari ini—8 April.

Hanya saja aku lebih beruntung, atau malah lebih sial? Putraku sudah mendahuluiku bersama dengan istriku—mereka sudah sampai di surga. Putraku sangat mirip denganku dan istriku. Ia anak yang pintar dan tampan. Aku yakin putramu pun demikian.

Sebagai kado, aku membayari semua makananmu. Jangan ditolak atau berusaha untuk mencariku dan mengembalikannya. Jangan! Atau aku akan sangat menyesal melakukannya, ara?

Aku ada beberapa pesan untuk orang tua luar biasa seperti kalian.

Pertama, untuk sang istri. Jadilah istri dan ibu yang baik, pengertian, dan bijaksanalah jika menghadapi masalah dalam bahtera rumah tangga kalian. Istri adalah tombak kekuatan keluarga, kau tahu?

Kedua, untuk sang suami. Jadilah suami dan ayah yang baik, selalu jagalah istrimu dan anakmu seperti mereka adalah hidupmu yang lain. Kau akan menyesal jika mereka tidak ada lagi di sisimu.

Kalian pasangan yang sempurna—jangan hancurkan kesempurnaan itu dengan kegelapan duniawi.

Aku dan istriku bertengkar saat aku sedang menyetir di atas jembatan. Putraku duduk di belakang—asyik bermain dengan dunianya sendiri. Keteledoranku membuat mobilku masuk ke dalam jurang. Aku selamat dan mereka tidak. Tuhan menegurku dengan cara demikian dan aku tidak ingin kalian merasakannya.

Ah, sampai lupa, namaku KJH. Hanya seseorang yang mengagumi kehidupan kalian.

Akhir kata,

Selamat ulang tahun, putra kecil sepasang suami istri yang sempurna! Tuhan memberkati kalian semua.

Love,

KJH

©2013 SF3SI, Vania

signature

Officially written by Vania claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

32 thoughts on “Toilet Paper

  1. Aaaa sampe nangis aku bacanya, pas banget aku lagi dengerin selene. Nah, netes aja :”(( kasian banget jjong nya harus sampe ngiri sama keluarga lain :((
    Sebenernya sempet lucu pas baca judulnya kertas toilet, nah tapi genrenya sad. Jadi penasaran😀 keren (y) <3<3
    -andrea

  2. kasian jjong😦 udah aku duga anak-istrinya meninggal..

    tapi kenapa harus kertas toilet?😦 *komen macam apa* *ditendang*

    yosh, walaupun pendek feelnya lumayan dapet. atau emang dapet banget kalo seandainya aku ga lagi resah mikirin UN dan pemilu *nyasar*

    btw, saengil chukkahae, Jjong oppa >o< jangan iri sama keluarga lain. ayo kita bikin keluarga baru #eeeh

  3. Duh pengen cakar-cakar tembok baca ini-_- kasihan Jonghyun, kesana kayak forever alone gitu. Ceritanya mirip karate kid ya? Si Jonghyun jadi Mr. Han-nya.
    I love it sfm, keep writing :))

    1. forever alone XDDD kekeke~
      iya aku baru menyadarinya, tapi karate kid itu film favorit aku. Mungkin adegan yg ada di kepalaku itu terinspirasi dr sana kali ya –” aku baru nyadar pas baca komen ini .___. jadi pengen nonton lagi😄 si mr. han-nya ngenes mukul2 mobil :’3
      terimakasih😀

  4. Aku nangis pas bagian surat nya… feel nya dapet bgt!!!! Yaaampun aku merinding! Aku tertarik sama judulnya. Kertas toilet kan? Aku pikir critanya tuh ga sedih. Eh taunya aku nangis:'(
    suka bgt deh sama crita nyaa thor! Keep writing! ♥♥♥

  5. VANIA KAMU APA-APAANNNNNNN!!!
    Udah feeling aku gak boleh baca ini pas tanggal 8
    TERNYATA CRACK BEGINIIIII AKU BISA APA COBAAAAAA
    GAK KUAAATTT

    duh tolong dong kalau kisahnya soal orangtua pake aba-aba, kan aku gak siap
    aku paling gak kuat nih cerita tentang keluarga T_T
    Kamu jahat banget
    tapi ini bagus banget
    aku bisa apa lagiiiiiiii
    *cry a river*

  6. Aku kira toilet paper itu untuk pesan terakhir *aduh, maaf imajinasiku agak sulit dikontrol* tapi nggak mungkin juga ya. Pokoknya nggak nyangka deh Jonghyun membayarkan bill keluarga itu.
    Tapi ini sedih banget. Apalagi nasihat-nasihatnya itu, kebayang deh penyesalannya Jjong di cerita ini.

  7. oke ini mungkin komen paling absurd dan ter-oot yang ada di sini
    pertama, aku kaget kok posternya macam kertas minyak warna-warni padahal judulnya toilet paper
    toilet paper kan soft tissue yang bentuknya roll gitu, bukan paper macam paper towel yang kadang bisa ditemuin di toilet mall atau digulung buat lap-lap di dapur
    ya rasanya agak nggak nyambung aja sih
    menurut pendapatku secara personal lho ya *digampar*
    dan yang kedua, astaga jjongie sabar banget nulis surat segambreng gitu di kertas tisu
    padahal kan susah kalo nggak hati-hati bisa kecantol atau robek
    ya kecuali gel pen gitu yang nembus-nembus
    agak repot juga karena terancam beleber
    *ketauan kan kalo suka nulis-nulis di tisu*

    kalo ini udah masuk ke inti ceritanya
    ini bacaan bagus buat berkontemplasi waktu dini hari
    apalagi abis ngerjain ujian begini ya, makin-makin deh mirisnya
    oke, hoksin kharus ikut tim april mate juga kalo begitu
    udah nebak sih kalo istri sama anaknya meninggal karena kecelakaan
    terus ya kok cuma jjongie yang selamat
    mbok ya hoksin aja, masa depannya masih panjang
    kalo si jjongie itu kan . . .
    *kemudian sungkem nggak bangun-bangun dari kaki jjongie karena takut kualat*

    maafkan kesomplakan otakku atas komen-komen yang sudah kusebutkan
    intinya sih fic ini udah bagus karena diem-diem bikin refleksi
    curang banget nih kaya misalnya ada orang yang niat baca kemudian mau mandeg di tengah-tengah karena nggak tega tapi akhirnya tetep dilanjut karena penasaran meskipun endingnya bikin berkaca-kaca atau nangis bombay
    ya ya ya gimana sih kalo penyesalan emang datang terlambat
    kalo awal namanya pendaftaran
    hah ya, begini pikiranku mulai kemana-mana lagi
    intinya, dua jempol deh buat kamu

    makasih ya atas ceritanya ^^

    1. Soal poster itu poster sementara kok, kemarin aku uts dan bikin ff ini buru2 karena diem2 spy ortu ga tau😄 /plak. Aku ud nyari photography toilet paper gituan kak, tapi yg keluar aneh2. Jd terpaksa T_______T tp makasih ya ud ngasi tau ya huahaha /malu akibat asal comot/

      Keekekeke komennya kak kuku lucu waaaa gemes xD (?) Makasih kak ^^

  8. Kirain cerai rupanya meninggal

    Jjong ngasih pesam uda kayak surat wasiat. Panjang bgt hehehe

    Kjh baik yaaa bayafin makan mereka. Aku jg mau dong lg makan tau tau dbayarin jjong haha

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s