The Dark Moon [2.2]

dark-moon-photo copy

Tittle : The Dark Moon

Author : Lee Hana

Main cast : Kim Jong Hyun, Kim In Joo (OC), Lee Tae Min

Support Cast : Kim Ki Bum

Genre : Action, Mystery, Supernatural, friendship and Romance

Length : One Shoot

Rating : PG 13

Summary : “Adikku—adikku dalam bahaya! Hari ini dia pasti membawanya pergi ke suatu tempat … untuk membunuhnya.”

Jong Hyun membuka matanya perlahan dengan nanar. Penglihatannya yang agak kabur menangkap warna kelabu dari langit-langit, lalu mengerjap dan menyadari bahwa itu adalah atap-atap jerami. Sekarang ia terbangun, duduk di atas ranjang kayu sambil meringis dan memegangi kepalanya, merasa sangat sakit di bagian belakang. Menahan rasa sakitnya sebentar lalu mengedarkan pandangan, dan mendapati dirinya tengah berada dalam sebuah ruangan kecil dengan tembok kayu polos, tiang-tiang penyangga dari kayu, dengan perkakas-perkakas yang terbuat—lagi-lagi—dari kayu dan lantai-lantai tanah yang lembab dan rata. Tempat itu bukanlah tempat yang buruk menurut Jonghyun, karena tempat itu bersih dan tertata rapi meskipun sama sekali tak ada kemewahan di dalamnya. Dan, ia menyadari bahwa ia hanya sendirian di sana, tak ada siapapun, tak terdengar apapun beberapa menit kemudian, hingga terdengar bunyi derit dan ia menoleh ke arah pintu yang tengah terbuka, yang memunculkan sebuah sosok lelaki yang lumayan tinggi dari sana. Lelaki yang memiliki mata bulan sabit yang tajam, dengan tatapan yang tegas, namun berpenampilan agak acak-acakan, dengan rambut panjang yang ia kuncir ke belakang, serta poninya yang agak berantakan.

Lelaki itu berdiri di sampingnya, menatapinya tanpa ekspresi lalu tiba-tiba tersenyum dengan ramah, membuat Jong Hyung mengernyit akan sikapnya. Lalu ia duduk di tepi ranjang kayunya yang dinaiki Jong Hyun dan diselimuti tikar jerami yang menimbulkan bunyi berderit ketika diduduki atau ditiduri.

“Syukurlah kau sudah bangun. Kau tahu, aku sangat khawatir dan baru saja berniat memanggil tabib,” ujarnya. “Apa kau baik-baik saja? Apa kepalamu sakit?”
Jonghyun tidak menjawab, ia justru melontarkan pertanyaan, “Kenapa aku bisa di sini? Dan siapa kau?”

Lelaki itu tersenyum dan bicara dengan nada bersahabat dan akrab, seolah mereka sudah lama saling mengenal, “ Tenang saja. Kau di rumahku, dan kau aman bersamaku. Dan aku? Aku Ki Bum, Kim Ki Bum, tapi orang-orang lebih senang memanggilku Ki saja, karena lebih ringkas. Bukankah itu panggilan yang keren?”

Jonghyun merasa aneh dengan orang di hadapannya. Ia merasa tak perlu meladeni orang seperti itu. Sekarang ia menengok ke arah jendela yang terbuka dan didapatinya langit sore yang cerah dan sudah merah. Sudah dipastikan bahwa kurang dari dua jam lagi langit akan menjadi benar-benar gelap dan udara di luar akan menjadi dingin tak bersahabat. Ia hampir bisa memastikan sudah berapa jam ia pingsan dan semua itu membuatnya merasa gelisah. Ia ingin pulang. Ia tahu Jinni pasti sudah sangat khawatir, bahkan mungkin panik. Dengan cepat Jong Hyun bangkit dari ranjang dan berniat untuk pergi, tetapi Ki Bum segera mencegahnya dengan menahan kedua bahunya dari depan. “Kau ingin ke mana? Kau masih sakit.”

“Aku harus pulang. Adikku menungguku dan dia pasti khawatir.”

“Kalau begitu makan dulu dan ceritakan apa yang terjadi tadi malam.” Ki Bum menunjuk ke arah bubur di meja kayu miliknya di sebelah ranjang—sudah dingin karena ia membuatnya tadi siang.

Jong Hyun bergeming dan tubuhnya melemas. “Tadi malam?” ulang Jong Hyung. Ya, ia ingat dan sekarang ia melihat ke arah Ki Bum dengan tatapan bertanya-tanya. “Bagaimana aku bisa di sini?”

“Kau tidak ingat?” tanya Ki Bum merasa khawatir. “Kau hampir dibunuh oleh Pengikut Iblis!” serunya dengan serius, tapi terdengar bersemangat.

“Pe-pengikut apa?” ulang Jonghyun merasa kata itu tidaklah familer.

“Pengikut Iblis,” jawab Ki Bum. “Kau tidak mengenalnya?”

“A-aku tidak tahu,” jawab Jong Hyun dengan ragu.

“Oh, tentu saja,” ucapnya sambil menepuk keningnya kuat. “Tentus aja!” ulangnya karena merasa bodoh. “Kau tentu tidak tahu kalau kau mengenalnya karena dia memakai cadar. Tapi aku kira dia mengenalmu,” lanjut Ki Bum dengan tenang.

Jong Hyun terdiam sejenak lalu bertanya, “Bagaimana mungkin kau bisa berpikir begitu?”
“Kenapa dia harus menutupi wajahnya jika kau tak mengenalnya?”

“Beberapa pembunuh bayaran biasa melakukan itu,” balas Jonghyun.

“Pembunuh bayaran? Oh, aku sudah katakan tadi, ia adalah Pengikut Iblis … Eh, siapa namamu?” tanya Ki Bum dan terdengar bodoh.

Jonghyun pun merasa lelaki ini bodoh. “Jong Hyun. Kim Jonghyun.”

“Ya,” lanjutnya seperti tidak ada penyela dalam kalimatnya, “ia bukan pembunuh bayaran, tapi Pengikut Iblis, Kim Jong Hyun. Artinya, dia sama sekali tidak dibayar oleh siapapun untuk membunuh karena mereka tidak menyukainya. Mereka yang berkuasa, bukan mereka yang dikuasai. Oh, benar-benar bodoh jika ada Pengikut Iblis yang mau jadi pembunuh bayaran, padahal yang perlu ia lakukan hanyalah merampok saja dan orang-orang yang berniat melawannya akan mati,” dan ia bicara seolah tak pernah bertarung dengan Pengikut Iblis sama sekali.

“Kalau begitu, bukankah kau bilang aku ingin dibunuh oleh Pengikut Iblis? Lalu, bagaimana aku selamat?” tanya Jong Hyun dengan bingung.

“Tentu saja aku yang menyelamatkanmu,” jawab Ki Bum dengan santai.

“Kau?” ulang Jong Hyung terdengar ragu. “Bukankah kau bilang mereka yang berkuasa?”

“Mereka berkuasa karena kuat—sudah pasti. Tapi aku bukanlah orang biasa, sama seperti Para Pengikut Iblis, mereka juga bukan orang biasa. Jadi, aku tentu saja memiliki kekuatan untuk menghadapi mereka. Karena itu sudah tugasku.”

“Omong-omong, apa tepatnya Pengikut Iblis itu? Dan apa maksudnya kau bukan orang biasa.”

“Aku? Kau tidak perlu tahu. Bukan hal penting. Tapi mereka adalah seseorang yang menggadaikan jiwanya untuk Iblis, hanya sekadar untuk mendapatkan kekuatan, keawetmudaan, yang mereka bisa gunakan untuk mendapatkan kekuasaan, atau kemampuan untuk melakukan sesuatu di atas batas kewajaran manusia. Itu adalah obsesi yang gila. Tapi, beberapa di antara mereka melakukannya karena merasa putus asa, dan ada yang melakukannya karena dendam.”
“Dendam?” ulang Jonghyun, ia ingat apa yang sudah dikatakan Ki Bum. “Menurutmu, karena dia punya kemampuan untuk membunuh dan juga cadar. Apa itu semua yang membuatmu yakin kalau ia dendam padaku? Tapi, dari mana kau tahu kalau pria itu adalah Pengikut Iblis?” Jong Hyung bertanya-tanya.

“Matanya. Matanya berwarna biru. Jika malam hari mata mereka berubah menjadi biru dan kekuatan mereka yang sebenarnya akan keluar pada saat itu. Mereka menghisap energi kehidupan mangsanya—yang tentu saja manusia—yang membuatnya memiliki lebih banyak kekuatan dan keawetmudaan lebih lama. Secara garis besar, mereka butuh energi manusia lain untuk hidup, meskipun itu berarti harus membunuh.”

“Dendam. Aku tidak merasa memiliki musuh. Aku merasa tidak melakukan hal buruk pada siapapun. Dia sudah membunuh orangtuaku, lalu kenapa dia ingin membunuhku juga? Apa dia ingin membunuh seluruh keluargaku?” tanya Jong Hyun dengan khawatir.
“Sepertinya begitu. Dia benar-benar dendam, bahkan lebih memilih menghunusmu dengan pedang daripada menyerap energimu. Aku tidak mengerti kenapa dia memilih cara seperti itu,” ucap Ki Bum merasa heran lalu mereka terdiam sebentar hingga tiba-tiba Ki Bum terperanjak dari tempatnya dan membelalak. “Tunggu dulu!” katanya dengan heboh. “Keluarga. Siapa saja keluargamu yang tersisa?” tanyanya dengan penuh kekhawatiran.

“In-In Joo,” ucap Jong Hyun yang baru saja menyadari sesuatu yang penting, yang mengkhawatirkan.
“Siapa dia?”

“Adikku,” balas Jong Hyun lemas.

Ki Bum duduk kembali ke tempat semula dan bicara dengan sangat serius, “Hey, jika dia mengenal keluargamu—benar-benar mengenal atau bahkan sangat dekat—bukankah dia tahu bahwa kau sedang tak ada di dekat adikmu? Dia bisa saja memanfaatkan kesempatan ini!
“Coba ingat-ingat! Apakah ada sesuatu darinya yang mengingatkanmu pada seseorang? Misalkan gerakannya? Bentuk tubuh? Tatapannya? Suara—“ ucap Ki Bum mulai panik mengingat sebentar lagi matahari akan tenggelam.

“Ya,” ucap Jong Hyun dengan pelan. “Tapi itu tidak mungkin!” bantah Jong Hyun yakin.

“Itu mungkin saja!” balas Ki Bum.

“Tidak!” Jong Hyun lebih keras kepala.

“Baiklah. Sekarang apa kau pernah melihat gambar tengkorak di tubuh seseorang yang kau kenal? Terlihat seperti tanda lahir yang aneh,” ucap Ki Bum penuh harap.
Jong Hyun terbelalak. Pikirannya terbang kembali ke hari sebelumnya ketika lelaki di pikirannya membuka baju dan ia melihat sesuatu di lengannya. Dengan nada bergetar Jong Hyun bicara, “Tae … Tae Min. Itu … i-itu sungguh tidak mungkin. Itu benar-benar tidak masuk akal!” pekik Jong Hyun pada akhirnya. “Dia sudah seperti saudaraku sendiri. Ya, dia mungkin marah karena kedua orangtuaku tiba-tiba saja melarang hubungannya dengan adikku, tetapi itu dulu. Sekarang Abeoji dan Eommonim ….” Tiba-tiba saja sebuah pikiran merasuk ke dalam kepalanya dan membuat tenggorokannya terasa tercekat dan jantungnya sakit. Dia menggeleng. “Tidak mungkin, hanya karena itu dia …,” gumamnya lemah dan terguncang. “Aku harus pulang sekarang! Aku harus melindungi In Joo!”

Rumah itu berada di dalam hutan, dan agak jauh dari pemukiman warga. Butuh waktu agak lama untuk sampai di rumah Jong Hyun yang besar, yang berada di dalam kota, antara rumah-rumah warga.

Detik ketika menyadari keadaan seperti ini mereka segera berlari sekuat dan secepat yang mereka bisa, melewati rerimbunan semak tajam, rumput liar yang menjulang, pohon-pohon besar. Peluh dan engah napas sudah memenuhi Jong Hyun, tapi tidak dengan Ki Bum, lelaki itu berlari seperti sudah biasa melakukannya. Meski begitu Jong Hyun bukanlah lelaki yang lemah, ia hanya sedang lemah, ia baru bangkit dari pingsan dan kepalanya terbentur keras, membuat efek sakit luar biasa ketika ia menggerakan tubuh secara cepat atau tiba-tiba, terlebih berlari, rasanya seperti ingin pecah pada setiap langkah yang ia buat, karena itulah ia hanya meringis di balik punggung Ki Bum. Sebenarnya Ki Bum pun tahu keadaan Jong Hyun, tapi dia pun tak bisa berbuat apa-apa.

Sekitar setengah jam kemudian mereka sudah melihat gerbang, tapi warna matahari pun sudah menjadi merah menyala. Mereka berharap belum terlambat.

Jong Hyun menerobos pintu gerbang yang tertutup lalu berteriak memanggil nama adiknya di pekarangan rumahnya yang cukup luas, “In Joo! In Joo!”

Lalu seorang lelaki dengan garis wajah tegas, badan tegap dan agak tua datang. Wajahnya menyiratkan rasa bersalah dan kesedihan. “Tuan Muda,” ucapnya, terdengar lirih.
“Di mana In Joo?”

“Karena itu, Tuan. Kami—semua penghuni rumah—barus aja mencarinya ke mana-mana, bahkan seluruh desa, tetapi ia tidak ditemukan di mana pun. Nona In Joo hilang.”
Mata Jong Hyun melotot marah lalu segera berteriak, “Sebenarnya apa yang kalian lakukan ketika aku pergi, huh?”

“Maaf. Maafkan saya, Tuan. Saya sudah melarangnya pergi keluar rumah, tapi sepertinya dia kabur. Bukannya berniat menuduh, tetapi salah satu pelayan bilang bahwa ia sempat melihat Nona In Joo duduk di teras sambil bicara dengan Tuan Muda Tae Min.”
“Tae Min,” erang Jong Hyun, hampir meledak lagi, namun sebelum itu terjadi seseorang memegang bahunya dan ia segera berbalik, mendapati Ki Bum yang tengah menatapinya dengan tatapan serius, berkata, “Di Hutan. Jika tidak di tempat ini, maka hutan.”
Tanpa bicara Jong Hyun dan Ki Bum pun kembali ke tempat mereka tadi datang.

“Tae Min, sebenarnya mau ke mana kita? Kenapa kita mencari jauh sekali? Apa kau yakin Oppa ada di sini?” tanya In Joo skeptis dan lelah harus melewati semak belukar dan ranting-ranting pohon. Kakinya sudah lelah berjalan hampir dua jam berputar-putar tak jelas dan sekarang wajahnya sudah setengah cemberut dan dia juga cukup takut dengan hutan yang mulai gelap. “Tidakkah kau berpikir sebaiknya kita pulang? Aku takut.”

“Baiklah. Sebelum itu aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Sebenarnya aku memang berniat mengajakmu ke tempat itu sebelumnya, tapi kau bilang mau mencari Jong Hyun Hyung, jadi kita mencari dulu dan menundanya,” balas Tae Min sambil melangkahi beberapa ranting pohon dan menginjak kumpulan daun. “Tidak apa-apa, kan?” tanyanya kini sambil berhenti berjalan dan menengok ke arah In Joo di sampingnya.

In Joo tersenyum simpul dan mengangguk setuju. Dalam beberapa menit kemudian mereka sampai pada sebuah tempat di tepian jurang. Itu adalah tempat terbuka dengan batu-batu super besar yang kuat bahkan untuk menampung sepuluh orang di atasnya, dan di bawahnya adalah sebuah jurang yang dalam dan cukup terjal, dalam waktu seperti ini—menjelang malam—dasar jurang itu tidak terlihat, hanya berupa warna hitam pekat yang terlihat tak memiliki dasar. Di belakang mereka terdapat pohon-pohon lebat yang terlihat mulai gelap dari tempat mereka berada.

Tae Min mengajak In Joo berdiri di atas batu besar itu dan menyuruhnya melihat ke arah matahari yang sudah merah, dengan arakan awan yang juga berwarna merah, burung-burung yang terbang dan bulan yang muncul dengan samar. Dari tempat mereka tak ada yang bisa menghalangi pandangan, bukan pohon ataupun pemukiman, hanya udara bebas yang dingin dan menyegarkan, yang berembus dan menerpa tubuh, mengibaskan rok In Joo dan menggesek kulit yang terbuka.

Dengan wajah takjub dan bahagia gadis itu berkata, “Ini sangat indah.” Lalu menengok ke arah lelaki yang tengah memandang matahari, berharap benda indah itu lekas turun dan menghilang dari pandangannya. “Tae Min, ini sangat romantis. Aku suka sekali.”
Tae Min menengok dan tersenyum lembut. “Ini belum seberapa. Tunggulah lima menit lagi dan lihatlah matahari itu.” Tae Min menunjuk sang matahari merah dan tatapan In Joo mengarah mengikuti arah telunjuk Tae Min. Dalam tepat lima menit kemudian mereka bisa melihat sedikit demi sedikit bentuk sang matahari berubah, ditelan dan dihalangi oleh puncak-puncak gunung yang tinggi dan gagah, lalu kelamaan menghilang dan meninggalkan bulan yang telah menunggu beberapa lama di langit dengan kesepian. Sekarang sang bulan telah berteman. Teman kecilnya sudah berkumpul dan muncul mengelilingya. Berkedip-kedip dan cantik.

“Itu sangat indah, Tae Min,” ucap In Joo hampir menangis karena bahagia.

“In Joo, apa kau mencintaiku?” tanya Tae Min tiba-tiba setelah beberapa lama diam.

“Kenapa kau tanyakan hal yang sudah jelas?”

“Aku hanya ingin mendengar kau mengatakan kau mencintaiku,” ucap Tae Min memandang In Joo dengan kecewa sambil menggembungkan pipinya dengan lucu.
In Joo mencubit pipi Tae Min gemas. “Tentu saja. Tentu saja aku mencintaimu, Tae Min.”
Tae Min tersenyum, perlahan-lahan mendekat dan merengkuh tubuh kecil In Joo yang hangat. Memeluknya erat sambil menatap bulan yang menyimak. In Joo menenggelamkan hatinya dalam kebahagiaan, dan menenggelamkan dirinya dalam pelukan. Ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Tae Min yang sebenarnya tak terlalu berisi, namun tetap nyaman dan melingkarkan tangannya pada pinggang Tae Min, tetapi itu tidak bertahan terlalu lama ketika ia merasakan sesak meski pelukan Tae Min tidaklah erat. In Joo melepaskan tangannya dari pinggang dan meletakannya di dada Tae Min, sedangkan kepalanya sudah tak lagi bersandar di sana.
“Tae Min, tidakkah kau berniat melepaskan pelukanmu? Aku merasa sesak,” keluh In Joo dengan lemas.

Saat itu Taemin sedang menutup matanya. Menikmati keadaan ini. “Aku tidak mau. Aku mungkin akan melonggarkannya, tapi aku tidak mau,” ucap Tae Min tenang.
“Tapi tubuhmu terasa sangat panas,” balas In Joo, kali ini mencoba melihat wajah Tae Min, tetapi ia malah mendapati senyuman Tae Min yang manis dan tipis.
“Karena tubuhmu mulai dingin dan semakin dingin. Aku tidak mau kau kedinginan,” ucap Tae Min manis lalu tersenyum semakin lebar, kali ini dengan tatapan yang meluluhkan.
In Joo menghela dan melihat sesuatu di mata Taemin. “Tae Min, aku melihat warna matamu menjadi biru. Itu … biru?” ucapnya dengan ragu-ragu.

“Sudahlah, sepertinya kau sakit. Tenanglah. Tidurlah saja dalam pelukanku,” perintah Tae Min lembut.

In Joo mengangguk lemas dan tatapannya sudah berubah sayu, begitu juga dengan wajahnya yang sudah memucat. “Ya, tubuhku pasti sangat dingin dan aku pasti sakit. Aku merasa sangat lemas.”

Mereka terdiam sebentar lalu In Joo bicara lagi, “Tae Min, sebelum aku benar-benar tertidur, aku juga ingin kau berkata kau mencintaiku. Kau mencintaiku, kan?” tanya In Joo sangat lemah dan serak, hampir tidak terdengar sama sekali.

“Ya, aku mencintaimu In Joo, sejak dulu.”

“Terima kasih.” In Joo tersenyum lemah, lemah sekali namun terlihat sangat, sangat bahagia. Matanya yang nanar dengan perlahan mengatup dengan embus napas yang melemah, yang dalam beberapa detik berikutnya tak terdengar lagi, bahkan ketika kau meletakkan telingamu di dekatnya. Tangan In Joo lunglai dan tergeletak di sisi tubuhnya. Gadis itu telah mati dengan tenang di tangan orang yang dicintainya dalam keadaan yang sangat bahagia.
“Aku … aku sangat mencintaimu, ya, dulu,” ucap Tae Min sendu lalu mendekap tubuh In Joo yang dingin dengan sangat, sangat erat seperti enggan untuk melepaskannya. Di saat itu kepalanya ia tumpu pada bahu In Joo yang lemas dan menangis sambil memaki dengan perasaan teriris, hingga tiba-tiba saja rengkuhannya ia lepas begitu saja hingga jasad In Joo terjatuh dan tergeletak dengan kasar di atas batu besar di bawahnya, menimbulkan bunyi nerdebum ketika terhantam di atas batu.

Tae Min melihat gadis itu dengan nanar dan dengan matanya yang masih basah, begitu juga pipinya yang masih memiliki bercak tangisnya ketika In Joo berada di bawah kakinya, tergeletak tak berdaya begitu saja. “Maaf.”

“TAE MIN!” terdengar suara yang keras, memekik, dan tersirat kemarahan yang membuncah. Tae Min menoleh ke arah suara dan melihat dua orang muncul dari celah-celah pepohonan di belakangnya. Mereka terdiam, membelalak ke arah In Joo yang terkapar di kakinya lalu melihat ke arahnya dengan sangat marah, tatapan siap membunuh dan tanpa ampun. Taemin mengenal keduanya. Itu Jong Hyun, dan seorang lelaki yang menolong Jong Hyun kemarin malam tengah berdiri di belakangnya, menampakan wajah seriusnya, tapi Tae Min hanya menunjukan wajah dingin yang tak tersirat rasa bersalah sama sekali, atau pun sedikit kesedihan pun.

“Apa yang kau lakukan? Apa yang kau lakukan pada In Joo adikkuuu?” teriak Jong Hyun berang.

Tae Min tersenyum simpul, senyum yang memilukan. “Maafkan aku. Tapi, aku hanya korban.”

“Apa maksudmu? Kau pembunuh, sialan!”

“Sudah kubilang, orangtuamu adalah ulat dalam buah. Mereka mengkhianati kedua orangtuaku, membunuh keluargaku, dan memanfaatkan mereka. Semuanya, kedua orangtuamu sudah mengambil semuanya—semua keluargaku. Tidak ada Eommonim, Abeoji, tidak juga Tae Soo Hyung atau Tae Ri Noona. Sekarang hanya aku yang tersisa karena hanya memang aku satu-satu yang berhasil menyelamatkan diri. Mereka bahkan mencoba mencariku dan membunuhku, kau tahu kenapa? Mereka takut aku buka mulut.”

“Tidak!” bantah Jong Hyun tidak percaya lalu berjalan menuju Tae Min yang masih terlihat dingin dan tak berperasaan. Berhenti satu meter di dekatnya dan memberikan tatapan murkannya dengan sengaja, mungkin berharap lelaki itu bisa mati dengan cepat. “Kau berbohong. Bagaimana mungkin aku bisa memercayai pembunuh sepertimu?” tantangnya.
“Aku tidak butuh kepercayaanmu, karena itu aku menghianati kalian,” balas Tae Min dan membuat Jonghyun melangkah maju dan mencengkeram kerahnya, membuat wajah anak itu merasakan deru napas panas Jong Hyun.

Taemin mencengkeram pergelangan Jong Hyun lebih kuat dan membuat lelaki itu meringis dan melepaskan cengkeramannya. “Tak ada lagi, tak ada lagi yang tersisa dariku kecuali kebencian dan dendamku. Orantuamu memang seperti ulat, mereka memakan tempat mereka hidup. Mereka melakukannya hanya karena politik dan kekuasaan. Kau mungkin pintar, tapi kau tak tahu apa-apa. Gubernur bukankah harus memihak rakyat, kan? Sedangkan pengusaha hanya memihat dirinya.”

Tae Min melepaskan tangannya, mundur lebih dekat ke arah jurang dan berkata, “Selamat tinggal sahabatku dan sampai bertemu lagi.” Lalu melompat ke belakang. Menghilang ke dalam jurang yang terjal dan gelap. Lelaki itu tidak terlihat lagi di sana kemudian. Tenggelam dalam hitam yang pekat.

Tubuh Jong Hyun bergetar dan lemas. Ia jatuh bersimpuh di dekat adiknya lalu menangis dengan menderita. Melihat ke arah adiknya yang sudah tidak bernyawa lalu merengkuh tubuh In Joo yang sangat dinginnya dengan lebih erat. “In Joo. In Joo,” gumamnya sambil berderai air mata. Lelaki itu menangis tersedu, dadanya kembang kempis dan bahunya naik turun. Ia tidak mengerti perasaannya saat ini. Mana yang lebih menguasai? Sedih? Marah? Kecewa? Atau apa?
“AAAAAAAAARGH!” Jong Hyun menjerit dengan penuh luka. Suaranya menggema ke seluruh penjuru hutan dan menghilang dalam kesunyian dan sepi, sedangkan lelaki yang sejak tadi berada di belakangnya kini telah menghilang dalam kegelapan, berburu lagi di tengah malam, meninggalkan Jong Hyun yang tengah digerogoti kesepian dan sendirian.

End

Untuk setiap kekurangan yang ada—Author ucapkan maaf, untuk feel yang kurang terasa, typo yang masih ditemukan atau yang lainnya. Sebenarnya ff ini pernah aku ikut lombakan dan—lagi-lagi—kalah. Dan sekarang ditampilkan dengan beberapa perubahan, yaitu Cast dan juga perpanjangan naskahnya sendiri.

Aduh, kok aku ngerasa agak bersalah, ya? Ff ini ‘kan untuk ultahnya Jong Sunbae, tapi ngenes endingnya. Hehehe. Mianhae, Jonghyun Sunbae. Semoga suara semakin bagus (belakangan ini aku makin suka suaranya), semoga nggak ada kecelakaan-kecelakaan lagi (diingatanku Jonghyun yang sering kena kecelakaan), dan makin ganteng tapi disertai rendah hati, juga lebih mencintai SHAWOL lagi!

 

©2013 SF3SI, Lee Hana

leehana-signature

Officially written by Lee Hana, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

//

21 thoughts on “The Dark Moon [2.2]

  1. Uwaaah, keren kereeen😀 tapi aku masih nggak ngeh, keluarganya taemin kenapa dibunuh? Trus kok akhirnya taemin ngilang? Bunuh diri kah? Trus kenapa jonghyun nggak jadi dibunuh? Sama kibum itu sebenernya apa ?
    Hehehe maaf yah kebanyakan tanya😀 tapi ini udah perfect kok ;))
    -andrea

    1. keluarga Taemin dibunuh karena politik. dan terlalu ribet buat ngejelasin politik #alasan
      nggak, dong. dia ‘kan udah bilang sampai jumpa, jadi cuma pergi sementara.
      kenapa Jong nggak dibunuh, karena di sana ada Kibum. Kibum itu semacam pembasmi orang semacam Taemin.
      makasih, Andrea.🙂

  2. GAAAAHHH LEE TAEMIN!!
    Ini aku udah duga pas baca parti satunya kemarin, tapi otakku lagi susah mikir jadi aku gak komen
    hehe maaf ya Eka

    TAPI INI YA AMPUUUNNNN
    Tanggung tahuuu.. minimal 5 part deh pasti oke banget
    aduuuhh aku gemesh
    Ini masih ada kesempatan buat ngelanjutin ceritanya kaaaannn
    Pengikut Iblis gak mungkin mati setelah terjun dari jurang. Masa dia puas gitu aja setelah ngebunuh In Joo? Terus dia ngebiarinin Ojong hidup? *ini kamu bela siapa sih Lan?!*
    ya ya ya maksudkuuuu…. mau ada lajutannyaaaaaaaa hwueeeeeeeeee

    eh btw, ini ternyata aku benerin formatnya masih kurang teliti ya paragrafnya. sori mori ekaaaa~
    habis pas aku ngerjainnya komputerku lagi lemoooottt banget.

    1. Lana, calm. hehehe. lanjutannya nggak ada, say. jadi fanfic ini itu diambil dari sebuah part di novelku–yang belum jadi–yang diberi beberapa perubahan. jadi nggak mungkin aku lanjutin.
      5 part? ya, Allah. aku nggak ada bayangan lagi terusannya gimana, ya?

      masalah format nggak papa. kamu bantuin aja udah syukur alhamdulillah. hehehe. thx, ya udah dirapihin.🙂

      1. UWOOOOOWWWWWW
        Ini pasti bakalan jadi novel fantasi yang seruuuuu
        AAAAKK
        SEMANGAT YA NULIS NOVEL-NYA ^O^
        kabarin aku kalau udah mau dikirim ke penerbit, biar aku doain setiap malem kekeke~

        udah udah gak perlu mikirin terusan, yang penting cepet jadi deh novel kamu😀
        sama-samaaaaa~

        1. Lana, bukan novel fantasi, tapi novel mystery supernatural, yang bercerita tentang orang-orang yang punya kemampuan membunuh tanpa terdeteksi. #promosi hehehe

          beneran mau didoain setiap malem, nih? serius? hehehe. aku kasih tahu kabar baik aja, deh. nanti klo ditolak ‘kan jadinya malu-maluin. sori juga sekarang dah jarang meninggalkan jejak soalnya aku sedang terjangkit virus Block Reader dan baru sembuh dari virus Block Writer.🙂
          Amiiin, semoga tahun ini kelar dan tahun ini juga bisa beredar. hehehe

        2. Heemm… bukannya supernatural itu masuknya ke fantasi? ._.a

          Enaknya kamu aja deeehh🙂
          Aheeemmm mungkin maksudnya Writer’s Block, kamu baru sembuh dari penyakit itu dan sekarang malah kena Reader’s Block alias males/gak mood baca FF? wow wow… berdasarkan pengalan pribadi sembuhnya agak lama
          pokoknya… SEMANGAT YA EKA!

  3. maaf ya Hana, kok saya gk lega pas endingnya.. seperti ada sesuatu yg gk selesai gitu -__-

    si Taemin terjun gitu aja, trus si Kibum kok gak ada suaranya di bagian akhir. Saya mikirnya si Kibum bakalan ngebantu Jjong berantem ma Taemin lg..

    oiya, posternya klo diperhatiin lg seperti mata kucing lho^^

    1. ya, nggak papa. Kibum nggak bantu karena itu adalah urusan pribadi. berhubung Taemin nggak nyerang–dan Taemin pikir-pikir mau nyerang karena ada Kibum–jadi Kibum nggak bantu.

      trus matanya aku juga bingung itu gambar mata kucing atau manusia. hehehe

  4. HANAAAAAAAA
    oke aku harus sungkem dulu karena bacanya ngebut 2 part sekali babat tanpa meninggalkan komentar di part 1
    JONGTAAAAEEEEEEE! lagi, astaga, aku nggak habis pikir kenapa harus dua orang ini. lagi.

    kamu harus bertanggung jawab dengan ending yang sangat tidak menyenangkan ini
    dari awal udah tau sih kalo ini si taem pasti kenapa-kenapa
    tapi kenapa jonghyun dibiarkan hidup begitu saja
    kim jonghyun harus dibunuh juga, HARUUUSSSS!!!
    *kemudian sungkem nggak bangkit-bangkit dari kaki jjongie karena takut kualat*
    oke, kalau memang tujuannya dari awal sengaja menggantung pembaca di atas patung liberty, ya nggak masalah
    tapi . . .
    kalo ini memang butuh penyelesaian, selesaikanlah
    aku bakal nunggu dengan sabar kok **kedip-kedip

    aku nggak tau harus komen apa karena yaaa
    kalo aku terus komen nanti malah berspekulasi yang enggak-enggak dan bikin kacau
    btw, makasih atas ceritanya
    keep writing yaaaak ^^

    1. Kuku, kamu ‘kan lahirnya barengan sama Jong. bukannya soulmate kok rasanya dari kemarin ingin sekali Jong ditindas, sih. (nggak nyadar kali siapa yang nindas, aku. -_- )

      Aslinya aku tuh mau pake Lee bersaudara, cuma berhubung ultah Jong, jadi begini. hehehe
      dan, aku itu nggak bisa manjat ke patung liberty, karena kakiku terlalu pendek. jadi gantungnya di sini aja. hahaha.
      sejujurnya emang, sih, agak menggantung, tapi aku nggak bisa lanjutin. suer, deh. soalnya … otakku mandek. udah terlalu banyak fiction yang harus diselesaikan belakangan ini. dan terkadang virus Block Writer menghantui. sori, ya.🙂

  5. Aahhh.. Ternyata bener, Taemin yang ngebunuh… >.<
    Ffnya keren, walaupun ada beberapa Typo.. Termasuk Typo nama 'InJoo' yang malah jadi 'Jinni', mungkin nama cast di novel author?😀
    Dan juga,
    Aku butuh asupan sequel nih thor.. #plakk
    Keep Writing ya..🙂 Fighting..!!!

        1. Jangan terlalu berharap, ya? Soalnya aku lagi ngegarap 2 naskah sekaligus. Kalau salah satu selesai yang ini baru bisa ditulis.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s