Finding The Lost Smile – Part 3

Finding The Lost Smile

Tittle               : Finding The Lost Smile

Author            : Lee Hana

Main cast        : Kim Jonghyun and Lee Taemin

Support Cast   : Choi Minho, Choi Sulli, Jung Krystal

Genre              : School Life, Shounen-Ai, Romance and Friendship

Length            : Sequel

Rating            : T

%%%%%%

Seorang lelaki baru saja melemparkan tasnya pada sebuah ranjang kecil di tepi ruangan berukuran sedang, kemudian melakukan hal yang sama pada tubuhnya sedetik kemudian. Lelaki itu terdiam dan melihat atap dengan tatapan menerawang. Pikirannya kacau, tetapi kemudian ia teringat sesuatu, sesuatu yang membuatnya begitu penasaran dan menahan diri untuk tidak membaca setelah ia mengetahui apa yang beberapa jam lalu ditemukannya. Sekarang, di sebuah ruangan sederhana, dengan sebuah jendela kayu dua pintu, lemari satu pintu yang cukup tinggi, meja belajar di samping ranjang, serta warna remang dengan pencahayaan kurang ia duduk di ranjang lalu mengambil selembar kertas yang berisi kertas, terdengar aneh memang, karena itu adalah amplop merah muda yang berisi …. Tunggulah. Lelaki itu baru membukanya. Berisi surat dengan kertas berwarna sama.

Dear,  Jonghyun Oppa.

Anyeong! Apa kabar? Sebelum aku menyampaikan inti surat ini aku ingin bercerita lebih dulu. Sekitar setahun yang lalu, ketika aku masih anak baru aku masih begitu lugu. Tak mengenal sekolah, bahkan belum hapal betul nama-nama teman sekelasku. Yang aku tahu hanya letak tempat dudukku, kelasku, dan kantin. Ketika aku sedang berjalan-jalan mengitari sekolah, aku mendengar orang bersorak-sorak. Ternyata itu adalah suara para yeoja yang mengeluh-eluhkan namamu. Aku berpikir, ‘siapa Kim Jonghyun?’ dan sejurus kemudian kulihat Sunbae memasukkan bola ke dalam ring. Suara di sana pun seolah-olah berubah menjadi petir, petir yang sampai pada hatiku. Petir yang menyebut-nyebut namamu. Aku tidak mengerti hal itu, karena aku masih anak baru soal cinta.

Lalu, entah bagaimana tatapanku terus terpaku padamu. Diam dan bisu. Hanya berdiri dan menonton. Aku tak melihat bolanya, aku melihat orang yang memegangnya. Detik-detik yang indah. Aku pun masih berdiri tepat di samping garis lapangan. Aku bahkan tak sadar akan hal itu, karena kau menyihirku. Kau mengambil setiap detik waktu dan setiap perhatian yang tertanam di mataku. Akhirnya sesuatu datang kepadaku dengan cepat seperti halilintar, tapi kau datang kepadaku lebih cepat dan menahan bola itu agar tak melukaiku. Aku terdiam seperti pohon, setidaknya pohon bisa melambai padamu. Setidaknya aku ingin jadi pohon saat itu, tapi aku hanya tak melakukan apapun. Hanya diam seperti orang bodoh.

“Kau tidak apa-apa? Tolong jangan berdiri dekat lapangan. Aku takut kau terluka nanti. Jadi, bisakah kau duduk di kursi yang kosong dan menonton kami dengan tenang?” Kau ingat? Itu yang kau katakan padaku dengan lembut. Sangat lembut bahkan lebih lembut daripada udara. Kau bahkan tersenyum padaku saat itu. Terlihat sangat menawan. Dan pada detik itulah aku menyadari bahwa, aku jatuh cinta pada Kim Jonghyun, meski Sunbae tak menyadari, bahkan mungkin sudah lupa pada kejadian ini.

Jadi, surat yang agak panjang ini adalah surat cinta. Aku ingin menyampaikan, “Sunbae, aku telah jatuh cinta padamu dari dulu. Pada pandangan pertama.” Dan meski aku berharap kau luluh dan membalas cintaku karena surat ini, tapi aku tak akan berkata, “Maukah kamu jadi pacarku?” terlebih “Maukah kau menikah denganku?” Itu akan jadi sangat gila, karena aku tahu kau adalah lelaki yang terlalu sempurna untuk seorang Choi Sulli yang manja. Lelaki yang pintar dalam olahraga maupun pelajaran. Sedangkan aku, aku tak sebaik kau dalam keduanya. Jadi, aku hanya akan mengatakan, “Aku mencintaimu, Kim Jonghyun.”

From: Choi Sulli. Pengangum rahasia Kim Jonghyun sebelum kau membacanya.

Lelaki itu diam pada akhirnya, tak berkata dan tak bergerak, hanya bola matanya saja yang bergerak liar dengan tautan alisnya yang agak tebal mengerut, setelah itu dia menggeleng pelan dan mendesah bercampur dengan senyuman kecil yang tertahan dan tak disadarinya, juga hampir tidak terlihat, lalu mengembalikan surat itu ke tasnya lagi.

%%%%%%

“Di mana? Aduh, di mana? Di sini tidak ada. Di situ juga tidak ada. Di mana, sih? Krys, kau sudah menemukannya?”

“Belum.”

Pagi ini bahkan matahari masih tampak malu-malu menunjukkan diri. Hanya pendaran cahayanya saja yang tampak percaya diri di ufuk timur. Seluet indah dirinya masih ditutupi oleh bumi yang tampak seperti garis melengkung. Beranjak menit, matahari pun tak kuat lagi menutup diri. Satu persatu-satu sosok-sosok lain muncul mengisi kursi-kursi kosong dan memenuhinya, tetapi kedua orang itu masih belum beranjak dari tempatnya, bergumul dengan tempat sampah, bahkan lantai-lantai marmer yang sebenarnya cukup bersih juga cukup luas untuk dijelajahi, bersama gerutuan, peluh, bahkan bau yang agak tidak sedap, mereka melakukan dengan sangat serius, mencari sesuatu yang sangat penting untuk Sulli. Meski akhirnya ….

“Aww!” Sulli terjatuh dan bertabrakkan kembali dengan orang yang sama.

Sulli terjerembab ke belakang. Ya, ini memang salahnya. Ia terlalu serius mencari surat cinta miliknya yang jatuh hingga lupa bahwa tempatnya menapak adalah sebuah lorong, bahkan ia merunduk sambil mencari, membuat kepalanya harus bertubrukkan dengan perut penuh otot miliki lelaki yang selalu dan hanya berani ia idamkan di dalam mimpi, Kim Jonghyun.

Sulli menatap gugup, ia tidak berani bicara. Tiba-tiba saja kejadian sehari yang lalu berkelebat dengan cepat di pikirannya dan membuatnya kacau. Mungkin seharusnya ia minta maaf dan berdiri untuk membungkuk, tetapi ia tidak melakukannya. Anak itu hanya terpekur dengan pikirannya, mulai takut dan kalut.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Jonghyun.

Sulli mendongak cepat, merasa ada suara merdu yang memanggilnya, yang rasanya tidak mungkin berasal dari Kim Jonghyun, tetapi suara itu memang dari Jonghyun. Jonghyun menatap Sulli yang masih duduk di lantai dan tak bicara.

“Kau tidak apa-apa?” ulang Jonghyun, terlihat cukup peduli meski ekspresinya terlihat sama saja, dingin seperti es.

“Eh, y-ya, aku … aku baik-baik saja,” balas Sulli gugup.

Tanpa berkata-kata lagi Jonghyun mengulurkan tangan kanannya untuk disambut, tetapi tidak segera disambut oleh Sulli, anak perempuan itu justru memerhatikan tangan penuh otot yang ia idamkan untuk digenggam lebih dahulu. Tangan yang sekarang bisa ia genggam meski tak lebih dari dua detik. “G-gomaweo,” ucapnya sambil menyambut tangan Jonghyun yang mulai menariknya, membantunya agar lebih mudah bangkit.

“Maaf, ya, aku … aku sudah menabrakmu,” ucap Sulli kemudian, tiba-tiba saja ia tidak berani menatap mata Jonghyun secara langsung, jadi ia merunduk saja seperti orang yang merasa begitu bersalah, padahal yang ia rasakan adalah malu.

“Tidak apa-apa,” jawab Jonghyun cepat dan membuat Sulli menatap mata itu cepat. “Aku … aku juga minta maaf soal kemarin—aku membentak dan berkata kasar dengan sangat tidak sopan. Aku benar-benar minta maaf,” lanjut Jonghyun membuat Sulli benar-benar sulit untuk memercayai.

“Tidak, tidak apa-apa,” jawab Sulli terlalu cepat dan semangat.

“Terima kasih. Aku pergi gulu.” Dan setelah itu Sulli tak bisa melepaskan tatapannya dari Kim Jonghyun yang sedang berlalu, ia memutar tubuhnya untuk melihat Jonghyun yang memasuki kelasnya, lalu mendesah penuh bahagia.

“Sulli!” Sulli tetap diam. “Sulli!” ulang Krystal membuat Sulli agak jengkel.

“Aku dengar, Krys. Hanya saja aku masih tidak percaya dia bicara padaku. Benar-benar bicara, bukan di mimpiku. Tapi … benar ‘kan aku sedang tidak bermimpi?”

Tanpa menjawab Krystal pun segera menepuk kedua pipi Sulli keras dengan kedua telapak tangannya hingga anak perempuan itu mejerit, “AWW!”

“ Tentu saja tidak,” sahut Krystal kemudian. Sulli tersenyum. “Tapi sekarang kau menikmatinya, kau harus ingat suratnya.”

Sulli terkesiap. “Kau benar! Tapi … aku benar-benar skeptis bisa menemukannya. Mungkin sudah ditemukan oleh orang lain.”

“Berdoalah agar orang itu adalah orang yang baik dan pintar dalam menjaga rahasia.” Krystal hanya bisa berkata dengan tenang supaya orang yang kini ia tepuk-tepuk bahunya merasa ikut tenang juga, padahal putus asa luar biasa.

%%%%%%

Minho melemparkan sebotol air mineral ke arah lelaki yang tengah duduk berselonjor di tengah lapangan, menumpu tubuhnya yang lemas dengan dua buah tangan yang ia letakkan di belakang dan kepala yang mendongak menatap atap sambil terengah, tetapi, biar begitu, ia tetap gesit menangkap apa yang diberikan Minho dan menenggaknya hampir habis lalu melihat Minho duduk dengan gaya yang sama dan meminum air miliknya sendiri hingga akhirnya mereka berdua diam sebentar.

“Taemin,” panggil Minho dengan nada rendah, terdengar pasrah.

“Ya?”

“Tidakkah kau berpikir mengakhiri latihan ini saja?”

Taemin terkesiap lalu dengan cepat menengok ke arah kanan, tempat di mana Minho berada. “Kau dengar ‘kan apa yang dikatakan Jonghyun Hyung kemarin?” lanjut Minho ketika melihat tatapan tak mengerti Taemin.

Taemin terdiam, tak buru-buru menjawab lalu merunduk sebentar. “Apa kau takut padanya?”

“Aku … aku tidak tahu. Hanya saja … aku memang terbiasa seperti itu, menuruti kata-kata seorang Kim Jonghyun, kapten tim kami.”

“Bukankah sekarang kau kaptennya?” tanya Taemin dengan nada tidak peduli.

“Memang, tapi bagiku dia adalah kapten yang sebenarnya.”

Kali ini Taemin memilih untuk tidak mendebat.

“Kau … kau percaya dengan gosip tentang Jonghyun Hyung?”

“Tentang dia itu gay?”

“Kurang lebih, tentang gossip bahwa ia mencium seorang siswa di sekolah ini.”

“Tentu saja tidak,” jawab Taemin cepat. “Karena dia selalu bersamaku ketika dia sendirian. Aku sahabatnya. Meski aku tak pernah melihat ia melirik seorang wanita pun tapi aku pun tak pernah merasa dia berperilaku aneh terhadap laki-laki. Hyung memang terlihat dingin dan cuek. Jadi, jika dia dekat seseorang maka akulah orang yang pertama tahu.”

“Tapi … tapi aku yang melihatnya. Aku, aku yang melihatnya berciuman,” aku Minho membuat Taemin yang tenang segera berubah sangat serius dan masam.

Flashback

“Hyung, beberapa hari ini latihan kita benar-benar berat. Aku rasa ini adalah wamil sekolah,” gerutu seseorang seraya memijit-mijit pundaknya yang pegal.

“Ah, kau ini. Mana ada wamil sekolahan. Aku pikir wamil bahkan lebih berat daripada ini. Lagi pula, di sini lebih baik karena kau tak harus memotong rambutmu,” sanggah seseorang di sampingnya sambil mengapit sebuah bola pada lengan di antara siku.

“Ha ha ha! Benar juga. Setidaknya di sini masih ada gadis-gadis cantik yang mau memberikan semangat pada kita, kan?” canda Jong-in.

Minho tak menjawab, hanya tertawa-tawa kecil mengingat betapa genitnya yuniornya yang satu ini.

Berjalan melewati koridor-koridor sepi menuju lapangan basket adalah pemandangan biasa, tapi kali ini berbeda, ada yang tak biasa, ada sesuatu yang benar-benar terjadi, yang benar-benar tidak biasa, membiat Minho tiba-tiba menghentikan langkah hingga membiarkan yuniornya terus bicara sendiri dan meneruskan langkah meninggalkannya yang membatu di tempat.

Jong-in merasa sendirian, dan, ya, dia memang kehilangan Minho di sampingnya, seseorang yang dengan agak kaget tersadar akan keberadaan Minho yang berada jauh beberapa meter di belakang. Anak itu berbalik, dan mendapatkan Minho tengah membeku begitu kaku, seperti patung yang tak bernapas. “Ada apa, Hyung? Kenapa berhenti?” Dan sepasang kaki yang tadinya telah mendahului kini kembali ke belakang dan mensejajarkan kembali dirinya dengan Mingho.

“I-itu … itu Jonghyun Hyung, kan?” Minho mengarahkan pandangan pada dua sosok manusia yang sedang berdiri berhadapan, berada di lorong yang lain, dan dalam jarak yang agak jauh. Keduanya hampir sama tinggi, namun salah satu dari mereka—yang lebih pendek dari yang lainnya—berposisi membelakangi hingga tak tampak wajahnya, sedangkan yang satunya lagi berparas begitu familier di otaknya, meski berada dalam jarak yang tak bisa dikatakan dekat, mamun bagaimana mungkin Minho tak bisa mengenalinya? Sedangkan tak ada topeng di wajahnya dan mereka melihat wajah itu setiap hari.

Jong-in memerhatikan wajah Minho lebih lekat, mendapat gurat-gurat yang tidak disadarinya tadi, rasa terguncang, kaget dan tidak percaya, juga kecewa terlukis di sana, jadi, dengan begitu penasaran ia mengarahkan pandangannya ke arah mata Minho tertuju dan didapati seseorang di sana, namun belum menyadari apapun di matanya. “Apa yang mereka lakukan di sa—” protesnya kesal, tapi tak selesai karena di saat itulah ia baru menyadari. Seperti halnya Minho—Jong-in hanya diam seribu bahasa, berdiri mematung dan memerhatikan dari kejauhan. Matanya terbelalak, jantungnya berdegup kencang, dan seketika bulu romanya berdiri, rasa mual yang membuncah. Ia menutup mulutnya dan segera menatap orang yang semakin membatu di tempatnya. Ekspresi tak jauh berbeda sepertinya, hanya saja, ia masih belum bergerak barang seinci pun.

“Kenapa Kapten … k-k-enapa dia ….” Jong-in bahkan tak bisa menyelesaikan pertanyaannya, lalu mencoba menyeretnya, “Ayo, tegur Kapten! Ayo, cepat!” dengan marah, mencoba menarik lelaki tinggi itu mendekati dua orang yang berperilaku menjijikkan di mata mereka, tapi Minho tak jua beranjak. Seperti alas sepatunya diberi lem oleh seseorang. Dia masih terlalu terguncang.

“Baiklah, aku saja yang ….” Jong-in berbalik dan mencoba menegur tetapi orang itu sudah menghilang. “Kapten. Hyung, kau lihat tadi? Kapten …. Kapten mencium laki-laki! Kenapa kau tidak menghentikannya? Ini benar-benar kesalahan besar, Hyung!”

Orang itu berlari dan saat mendengar kalimat itulah Minho tersadar dari lamunan panjangnya. Kakinya sudah bergerak dua langkah ke depan, dan tangannya bergerak tampak seperti ingin meraih. Namun, yang dituju sudah berada jauh, sedangkan kakinya terasa lemas. Ia kembali menatap dua orang berada di dalam lorong yang lainnya. Namun, ia baru saja sadar bahwa mereka juga sudah menghilang.

Flashback End

“Semua itu terjadi terlalu cepat, hanya semenit saja, sedangkan aku masih sangat terpukul waktu itu. Jonghyun Hyung adalah orang yang sangat aku hormati sebagai kapten, dan aku butuh cukup waktu untuk mencerna semuanya di dalam otak. Aku bahkan tidak berpikir bahwa Jong-in akan melakukan hal itu. Aku tidak memikirkannya. Ini salahku!” jerit Minho pada akhirnya, tak mampu lagi mengontrol emosi dan mulai menumpahkan air matanya ke telapak tangan yang sengaja ia letakkan di wajahnya yang basah, menangis tersedu.

Sekarang Taemin yang terpukul, ia tak bereaksi seperti apa. Ia berpikir apa yang harus ia lakukan? Ia meragukan pikirannya sendiri bahwa sahabatnya normal. Ia meragukan kedekatannya sendiri dengan Kim Jong Hyun. Ia kembali berpikir, inikah alasannya lelaki itu menjauhinya? Karena dia sudah memiliki kekasih? Tapi tidak! Itu sangat salah, karena seperti yang sudah dikatakannya, ia selalu berada di dekatnya, tidak peduli Jonghyun tidak mengacuhkannya, tidak peduli orang itu terkadang memintanya pergi, tidak peduli betapa dinginnya lelaki itu padanya sekarang. Sekalipun ia tidak pernah melihat seseorang mendekat pada Kim Jonghyun, karena ia tahu orang-orang merasa jijik dan muak padanya. Hanya itu saja, hanya itu yang Taemin tahu. Tapi … tapi kenapa orang itu tak mau mengatakan apapun padanya? Kenapa orang itu begitu egois?

Minho terus menangis hingga akhirnya mengakui dengan susah payah, di antara suara isakannya dan suaranya sendiri yang terdengar parau, “Kapten, Kim Jonghyun, dia dikeluarkan karena kami memergokinya! Karena aku! Andai waktu itu aku—“

“Ini … ini bukan salahmu, Hyung,” jawab Taemin pada akhirnya, butuh waktu untuk menerima semuanya, bahkan mengatakan hal yang baru saja dikatakan. “Sungguh, ini bukan salahmu,” ulangnya lalu menepuk-nepuk punggung Minho yang terus menangis dan perlahan-lahan mendekatkan diri untuk memeluknya, meletakkan dagunya di bahu Minho yang bergetar, mencoba menangkan anak lelaki itu, meski dirinya sendiri tidak tenang, membiarkan tubuh Minho yang bergetar berada di balik tubuh kecilnya.

Terlalu banyak, terlalu banyak hal yang bersarang di kepala Taemin sekarang dan ia masih merasa sama lemahnya dengan Taemin yang dulu. Tapi apa yang dilakukannya lagi-lagi melukai seeorang, Jonghyun diam-diam ada di sana—di ambang pintu yang terbuka—terdiam melihat pemandangan itu. Lelaki itu merasakan sakit lagi; merasa dikhianati untuk ke sekian kalinya ….

%%%%%

Jonghyun rasanya hampir menghancurkan ponsel di tangannya. Tangannya yang berotot meremasnya kuat. Tapi tak lama, pada akhirnya remasannya melemah dan hampir tak bertenaga hanya untuk menggengam sebuah ponsel. Ia merunduk dalam dan terdiam. Apa kau begitu marah padaku, Taemin? Apa aku begitu jahat? Ya, aku memang jahat.

Sebenarnya Jonghyun menunggu Taemin, menunggu anak itu datang padanya, dan berkata, “Aku tidak akan pernah dekat-dekat lagi dengan Choi Minho karena aku lebih suka bersamamu,” tetapi Taemin tak pernah mengatakan hal itu, karena Taemin tak pernah datang kepadanya lagi setelah kejadian itu, bahkan untuk menelpon, bahkan untuk memberinya pesan singkat, karena itulah Jonghyun ingin sekali menghancurkan ponselnya, padahal ia merasa sangat merindukan Taemin.

Jonghyun menyesal sekarang; Jonghyun sadar sekarang; Jonghyun benar-benar terpuruk sekarang. Lelaki itu berpikir bahwa Lee Taemin mengganggunya karena mengajaknya melakukan hal yang sama, hal yang paling mengganggunya di dunia ini: basket. Dan ia merasa terganggu karena ia menyadari perasaannya pada Taemin, perasaan cintanya yang salah, dan mencoba menghentikan sebelum tubuhnya beraksi dan semakin tersesat.

Tapi sekarang, lebih banyak pikiran menyesatkan lagi memasuki rongga pikirannya. Perasaaan yang meremas hatinya hingga ia melupakan naluri ilmiahnya. Sekarang ia lupa, lupa akan akal sehatnya. Ia bahkan melupakan hakikat menjadi seorang lelaki. Yang ia pikirkan hanya Lee Taemin. Ia tidak tahan. Jonghyun benar-benar tidak tahan. Terkadang setan menerobos masuk dalam pikirannya dan membuatnya membayangkan sesuatu hal yang ia sendiri pikir menjijikkan, tapi ia begitu menginginkannya, membuatnya merasa sangat menderita.

Pada detik ini akal sehatnya benar-benar disandera perasaan buta. Perasaan yang membuncah membabi buta. Memporak-porandakkan semua benteng diri yang ia susun satu per satu dengan susah payah. Semua hancur hanya karena rindu dan rasa bersalah. Taemin!

Seketika ia beranjak dari kursi kelasnya yang memang selalu berisik pada jam ini. Berlari mencari Taemin. Setidaknya, ia tahu persis ke mana ia harus melangkahkan kaki. Tempat penuh kenangan, luka, dan juga cinta. Hasrat dan mimpi—masih tersisa sedikit—yang tidur pada dasar hatinya yang diselimuti oleh perasaan yang dinamakan patah arang.

Ia berlari dan terus berlari dengan perasaan menggebu, perasaan penuh cinta dan kebebasan untuk berekspresi, apapun, meski terdengar gila di telinganya sendiri. Sekarang Jonghyun tidak peduli. Sekarang Jonghyun akan mengikuti apa yang diinginkannya sejak dulu. Senyumnya membuncah ketika membayangkan hal-hal manis di hadapannya. Ia bahkan sudah mempersiapkan kata-kata apa yang akan ia sampaikan, tentang perasaannya; tentang apa yang terjadi padanya; alasan perubahannya. Ia akan mengeluarkan semua yang ia pendam dan telah membusuk menjadi kebencian.

Ia sudah melihat pintu itu, terbuka, lebar, penuh, seakan menyambutnya penuh sukacita. Tapi, apa daya, hampir salah satu kakinya melangkah memasuki, ia sudah tercekat. Napas, langkah, perasaan, dan pikirannya, semuanya tercekat karena pemandangan yang membuat Jonghyun ingin menghabisi seseorang, seseorang yang tengah dipeluk Taemin dengan hangatnya, Choi Minho, sialan!

Dari sana, kesadarannya mulai utuh. Mual mulai ia rasakan. Pikirannya mulai mengusainya. Akalnya sembuh. Ia merunduk lesu, dan memilih menjauh.

Dalam langkahnya yang gontai pada koridor bisu yang hanya bisa menjadi pemantul suara langkah kaki—Jonghyun menangis. Ia akan memikirkannya lagi. Ia akan menyusun lagi batu-batu pertahanannya. Kali ini ia pastikan jauh lebih kuat dan tidak akan runtuh dengan mudah. Ia tidak akan lemah lagi, karena akan ada seseorang yang menahannya ketika ia ingin kembali pada kesesatan perasaannya. Meski berarti ia harus mengorbankan perasaan dan menipu dirinya sendiri habis-habisan. Yang perlu ia lakukan sekarang hanyalah meyakinkan dirinya memilih jalan pintas tersebut.

To Be Continued ….

 

©2013 SF3SI, Lee Hana

leehana-signature

Officially written by Lee Hana, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

10 thoughts on “Finding The Lost Smile – Part 3

  1. Wah wes wos..!
    Dari tadi aku penasaran, siapa yang d cium sama jjong?

    Terus, gimana sama sulli? Oh tidak, aku harap jjong sadar dan ber-alih ke sulli..please oppa, sadar! Atau kalau gak sama sulli sama aku ajaaa…*plak

    Bagus thor! Di lanjut ya? Aku gak sabar sama bagian sulii…! ^^

    1. yang dicium Jong itu akuuu! waktu itu aku lagi nyamar. shhht! jangan bilang-bilang, ya, sama siapa-siapa. #gilanya mulai hahaha

      tenang aja, part selanjutnya hampir full Sulli. ^.^b

  2. aku nahan napas
    demi apa aku nahan napas bacanya dan sekarang megap-megap antara sesek sama sedih
    sakit lho
    jonghyun sakit hati huhuhuhuhu

    hah, astaga ini pasti ulah si jongin item itu yang comel kemana-mana
    aku sih percaya kalo minho bakal tutup mulut meskipun dia nggak nyaman kalo tetep satu tim sama jonghyun karena minho hormat sama jonghyun
    meski dia kecewa berat juga sih
    it just hurt *sighs*

    aku bingung gimana nanggepinnya
    tapi ini tersedih yang kubaca setelah kemaren nyampah di komen boksnya bella
    mana ini hari minggu pula, tega-teganya kamu
    aku juga mau nyampah di sini
    aku nggak terima ini sedihnya kaya cuma sampe nyekik leher yang nanggung, bukan bener-bener sampe mau mati
    jadi kaya diteken jalan keluar udaranya selama beberapa saat sebelum ditinggal, bener-bener ditinggal sampe lupa tadi mau jerit minta tolong atau apa
    mana ini pendek banget pula =___=”
    I demand longer chapter, kasih nggak! *malak*
    huhuhuhu, mama!! Hana nakalin akuuuu, masa aku dibiarin seperempat mati, dumbstruck *digampar*

    AAAKKKK POKOKNYA DITUNGGU NEXT PARTNYAA!!!
    makasih ya sudah membuatku mewek di minggu pagi TT____TT

    1. kuku, kok, dikoment kamu aku berasa jahat banget, ya? T.T

      aku nggak sedih, cuma kasihan sama mereka bertiga, cuma kesel sama jong-in comel.
      tapi, yah, masak kamu sampe mewek, sih? apakah memang semenyedihkan itu? wah, Jonghyun banget sifat kamu. semoga nggak galau, ya, setelahnya. soalnya klo aku baca ff sampe nangis bisa galau berhari-hari, makanya ff sedih aku jauhi. #galauers tulen kali aku, ya?

      makasih, ya, kuku nyampah panjang-panjang buat mendeskripsikan betapa aku membuat dirimu sengsara. Hahaha.

      1. iyaaaa, hana jahat
        huweeee mamaaaa, aku dinakalin hanaaa
        hahaha kidding
        abis ini bener-bener ngublek hati aku

        aku beteee sama si item jongin itu pengen aku pites kaya kutu hiiiiih
        nggak sampe bleber-bleber gitu kok
        cuma mewek jelek muka bebek *ini mukaku kaya apa coba*
        enggak, aku usahain enggak karena hatiku harus ditata buat bayar utang ff yang aku janjiin
        aku harus kuat

        hahaha iyaaa
        makasih juga lho ceritanya udah bikin galau pagi-pagi :p

        1. wah, ff kayak apa, ya? sori, ya, nggak pernah nyampah di ff-mu. seriusan, loh, agak menjauhi yang diprotect gitu. dan sekarang … hmm, lagi reader’s block. buku di rumah yang aku beli sampe 5 eks (ini lagi maruk aku) aja baru kubaca satu dan itu butuh waktu yang lamaaaaa untuk selesai. sisa 4 dan aku nggak mau baca. jadi, aku udah lama nggak baca ff kecuali buat edit ff-ku sendiri.

          semangat buat nulis ff-nya, ya, kuku!

  3. Aaaaa!!! Nanggungg😥 Itu yg dicium Jjongie siapa?? Trus kesian Jjongie Oppa salah paham u.u

    Next part dipanjangiin ya Hana Eon/? Kunantikan kelanjutan darimu xD *apa coba

    1. masih rahasia, dong. dipanjangin? kita lihat dipart selanjutnya, cukup panjang atau nggak buat kamu. hehehe
      thx.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s