(Not) A Virtual Marriage – Part 3

Thanks to hyunji @ cafeposterart.wordpress.com for this AMAZING poster. I LOVE IT T____T ♥

Title : (Not) A Virtual Marriage

Author : vanflaminkey91 (@whitevenus_4 )

Main cast :

  • Lee Taemin SHINee
  • Son Naeun A-Pink
  • Krystal Jung f(x)
  • Kim Myungsoo Infinite

Support cast : Jung Eunji A-Pink, SHINee, Kim Taeyeon Girls’ Generation, etc.

Length : chapter

Genre : AU, romance, marriage-life, angst, friendship

Rating : PG13

Summary: Setelah WGM usai, apa yang terjadi dengan Taemin dan Naeun?

Inspired by: Selene 6.23 and WGM  Taemin-Naeun Episodes.

A.N: FF ini menceritakan kejadian fiksi yang terjadi setelah We Got Married selesai. Seluruh comeback, album, konser, acara, dll yang berhubungan dengan karir para idola di FF ini hanyalah fiksi dan kalaupun ada yang nyata, ada jadwal yang disesuaikan. Semuanya fiksi.

Also published on perfectionee.wordpress.com.

 

Mencintai bukan berarti memiliki, kan?

(Not) A Virtual Marriage
originally by vanflaminkey91

“Apa?!”

Matanya membulat. Bibirnya membentuk huruf ‘O’ yang cukup besar. Pandangannya fokus—sangat fokus. Tubuhnya menegang. Pegangan jemarinya terhadap mouse yang digunakannya semakin erat. Erat sekali.

Is Infinite’s Myungsoo dating with A-Pink’s Son Naeun?

Judul artikel macam apa itu?

Bukan hal yang terlalu bisa dipermasalahkan, sebenarnya. Ia sudah terbiasa menerima berita seperti ini menimpa rekan kerjanya. Hanya saja yang harus ia lakukan sekarang mungkin adalah ‘panik’.

Di sana terdapat sebuah foto—foto yang terlihat jelas diambil dari smartphone, serta terdapat satu rekaman video di tengah artikel yang menunjukkan bagaimana Myungsoo mendekap tangan Naeun di dadanya.

“Bencana, ini bencana!”

Ia berdiri, mouse-nya terpelanting, hingga akhirnya benda malang itu menjuntai ke bawah. Gadis berponi itu berlari. Entah ke mana—kalang kabut.

“Son Naeun, Son Naeun! Di mana kau? Son Naeun! NAEUN!”

Aigo, ada apa ini?” Naeun keluar dari kamar, mendapati Eunji sedang menatapnya horor—layaknya ekspresi epic yang sering dilihatnya di film-film. Eunji memegang kedua lengan atas Naeun dan menatapnya serius.

“Kau… berkencan dengan Myungsoo?”

“HAH?”

Paper III: The Rumour and Hopeless Key

What the hell.

Kasarnya begitu.

Naeun tidak terbiasa berbicara kasar, tapi pikirannya hampir ingin menyuarakan kata-kata barusan. Saat Eunji menanyakan apakah ia berkencan dengan Myungsoo, ia tertawa keras-keras bahkan bercucuran air mata—mengatakan apakah Eunji gila atau bagaimana. Sayangnya, ia tidak bisa melakukan itu ketika dirinya dipaksa duduk di depan laptop, disuruh membaca laman artikel yang bahkan belum dikeluarkan oleh Eunji.

“Bisa kau jelaskan hal ini?” Eunji menunjuk layar laptopnya.

Naeun tidak menjawab. Ia terduduk lemas di kursinya. Punggung bertemu dengan sandaran. Wajahnya pucat. Pandangannya kosong. Berulang kali biji matanya terlihat bergerak ke kanan dan ke kiri—meniti setiap kata yang tercetak di surat kabar elektronik tersebut.

Eunji kasihan melihatnya.

“Naeun-ah, ini fitnah, bukan?”

“Tentu saja!” seru Naeun cepat. Wajahnya memerah, seperti ingin menangis. “Myungsoo oppa memang mendekap tanganku, tapi percayalah aku masih menanggapinya seperti biasa. Aku—“

“Tidak usah kau jelaskan, aku paham,” potong Eunji tidak tega melihat Naeun yang sudah berkaca-kaca. Ia segera memegang bahunya, menguatkan gadis itu. “Aku akan membantumu menghadapi semuanya.”

“Naeun eonni, aku mendengar tentang—“ Namjoo tiba-tiba masuk sambil memegang ponselnya. Ia segera diam ketika melihat Eunji memintanya diam lewat tatapan. Dia lantas mendekat, melihat artikel yang sama seperti di ponselnya ada di layar laptop.

Eunji menatap Namjoo, kemudian menggeleng.

Namjoo mengerti.

Oh, rumor. Son Naeun harus tabah.

Tapi bukan hanya bagaimana ia akan menghadapi cacian dari para fans Infinite—terutama Myungsoo—itu. Ada satu nama yang melintas di benaknya, yang membuat pikirannya terkuras habis dengan memikirkan bagaimana menjelaskan hal ini kepadanya.

Lee Taemin.

*

Hari ini SHINee akan mengakhiri masa promosi mereka dengan De Javu. Mempersiapkan goodbye stage penutup bukanlah hal yang terlalu menyenangkan. Di saat mereka sudah jatuh hati dengan segala choreography dan musiknya, mereka harus mengakhirinya. Sayang sekali.

Jadi, mereka berlatih lagi—seperti biasa. Di ruangan yang berlapis kaca di dindingnya, mereka mencoba melakukan inovasi dengan koreografinya sebagai persembahan terakhir sebelum masa penantian comeback berikutnya.

Biasanya Taemin yang paling aktif. Paling cepat berinisiatif. Paling terkoordinasi. Maklum, kemampuan dance-nya sudah di atas rata-rata, jauh malah.

Namun, apa yang terjadi sekarang?

Sejak lima belas menit lalu ketika mereka memulai latihan hari ini, Taemin sudah membuat banyak sekali kesalahan. Entah lupa gerakan, posisi, bahkan pergantian yang dimodifikasi. Belum sampai setengah lagu, semua harus kembali mengulang karena Taemin.

“Arrrgh!” Di satu kesempatan, sang maknae melempar topi yang dikenakannya ke lantai sebelum membawa dirinya sendiri duduk di atas lantai. “Aku tidak bisa ikut hari ini! Aku akan merusak segalanya!”

Jonghyun yang refleknya cepat segera menghampiri Taemin, “Hei, ada masalah apa?”

“Kau tampak kacau sekali, Taeminnie.” Sang hyung kesayangan—Minho—lantas ikut mendekat. Ditatapnya Taemin lekat-lekat. Prihatin mendapati adiknya terlihat begitu nelangsa.

Onew dan Key juga mendekat, menatap Taemin sama khawatirnya.

Myungsoo Infinite terlihat begitu mesra dengan Naeun A-Pink, benarkah ia sudah melupakan kenangannya dengan Dayeon dan resmi berkencan dengan Naeun—seperti yang sering dikabarkan?

Sialan. Line di artikel durjana itu terngiang-ngiang di kepala Taemin bagaikan parasit. Tak mau pergi dan selalu dilafalkan oleh pikirannya.

Resmi berkencan dengan Naeun.

Sial!

Naeun itu istrinya—bukan hanya istri virtual, tetapi istri sahnya. Hanya ia yang benar-benar resmi memiliki Naeun, bukan? Siapa itu Kim Myungsoo? Hanya pria yang kebetulan menyukai istrinya!

Selama ini Naeun sering mengeluh tentang Myungsoo yang tidak juga jera. Apakah ini berarti Naeun pada akhirnya telah jatuh juga pada perangkap cinta visual Infinite itu?

“Taemin-ah?”

Ketika Onew memanggil namanya, ia tersentak, lantas menghela napas panjang. “Aku tidak apa, Hyung. Hanya sedikit… lelah.”

“Kau yakin akan ikut perform dengan konsep modifikasi ini?” Key mengeluarkan suaranya. “Kalau kau tidak yakin, kita perform biasa saja.”

Taemin mendongak dan memberikan hyung-nya itu sebuah senyum menenangkan, “Tak apa. Aku bisa.” Ia berdiri. “Ayo, kita mulai.”

Tepat saat kelima pria itu berdiri, kedua koreografer mereka—Rino dan Tony—masuk ke dalam. Mereka bertepuk tangan meminta kelimanya bersiap kembali setelah ditinggalkan beberapa menit karena urusan instansi mereka.

Taemin mencoba fokus sambil merangkai kata-kata yang akan dilontarkannya kepada Naeun nanti.

Son Naeun, apakah kau mencintainya?

*

Naeun mungkin harus merasa sedikit lebih beruntung daripada biasanya. Comeback A-Pink telah berakhir masanya, ini berarti sedikit mengurangi bebannya—walau tidak dapat ditampik bahwa rumor ini juga bisa mendongkrak pamor A-Pink secara drastis. Naeun tidak lupa bahwa ini juga dapat menghasilkan banyaknya antifans. Oh, my.

Tetap saja ini bencana. Sekali bencana, selamanya bencana.

Sejak artikel itu di-post untuk pertama kalinya, benda laknat itu sudah menuai ratusan bahkan ribuan komentar berbagai reaksi—ada yang membela, netral, dan mostly, menghujat Naeun. Sedikit yang menghujat Myungsoo. Agak tidak adil memang.

Salah satu pemeran utama skandal ini—Myungsoo—sudah beberapa kali berusaha menghubunginya. Entah dengan pesan singkat, menelepon, mengirim chat. Semuanya. Sebanyak Myungsoo mengirim pesan, sebanyak itulah Naeun mengabaikannya.

Ia sangat kesal. Akibat ulah ceroboh pria itu—dan dirinya juga—ia sekarang harus menghadapi mimpi buruk. Manajer mereka sempat marah, meski pria-pria itu akhirnya mencoba menenangkan dan membela Naeun ketika para kuli tinta menunggu di depan dorm. Para bodyguard sengaja didatangkan untuk mencegah hal-hal tidak enak terjadi di sana.

Agensi mereka sudah merencanakan konferensi pers yang telah dikoordinasi kapan dan di mananya bersama-sama dengan agensi Infinite. Bukan hanya A Cube dan Woollim, bahkan SM—yang notabene sudah ‘bekerjasama’ dengan Woollim—juga ikut mengurus masalah ini. Ketiganya sudah membuat pernyataan membantah pagi menjelang siang tadi dan masalah ini semakin runcing ketika hari mulai sore.

“Naeun, tersenyumlah!” Bomi duduk di depan Naeun, mencoba menghibur gadis itu sambil tersenyum penuh simpati. Ditatapnya Naeun lama, kemudian menghela napas ketika gadis itu tidak kunjung menunjukkan perubahan ekspresi.

“Ada kabar dari Myungsoo?”

Naeun melirik Chorong yang baru saja bertanya, kemudian menggeleng. Wajahnya semakin muram dan ditekuk.

“Ayolah, minimal jangan cemberut begitu. Kau terlihat jelek jika sedang cemberut, Naeunnie.” Hayoung tertawa kecil—tawa hambar. “Kami yakin ini akan segera selesai, ayolah. Semangat!”

“Myungsoo oppa tidak pernah menyerah,” gumam Naeun nyaris seperti berbisik. “Di galeri itu dia berusaha mendapatkanku sekali lagi. Aku hanya menghormatinya dengan membiarkan ia melakukannya. Aku tidak tahu apakah aku terlalu bodoh atau dia yang terlalu ceroboh?”

Eunji memeluknya, “Oh, Sayangku, kami akan ada di sisimu. Jangan takut.”

Setitik air menggantung di sudut mata Son Naeun, lantas mengalir pelan-pelan menyusuri permukaan kulit pipinya. Semua member A-Pink menatapnya sedih, memeluknya bersama-sama.

“Yookyung mengirimkan aku SMS.” Sekarang kelima gadis lainnya menatap Bomi. “Dia bilang Naeun tidak bisa dihubungi, jadi dia mengirim SMS kepadaku. Dia ingin kau tetap semangat, Naeun-ah. Di sana ia akan mendoakan agar masalahmu cepat selesai.”

“Oh, Yookyung-ah,” gumam Naeun, kini benar-benar menangis.

“Naeun, sebaiknya kau harus berjauhan dulu dengan internet.” Chorong yang sekarang sudah membuka laptop tampak sedang memindai sesuatu dengan matanya. “Banyak sekali komentar bodoh yang menjatuhkanmu.”

Naeun menghela napas. Ini menyakitkan.

“Setidaknya kami sangat bersyukur kami semua tidak memiliki jadwal apapun sekarang,” ujar Namjoo disahut anggukan Bomi, Eunji, Chorong, Hayoung. “Kami bisa bersamamu. Kami sungguh khawatir akan ada yang melukaimu.”

“Tidak. Tidak akan,” ucap Eunji. “Orang yang benar pasti selalu terlindungi.”

“Aku percaya dan—“

Ucapan Hayoung terpotong ketika ponsel Eunji tiba-tiba mengeluarkan suara yang cukup keras. Eunji ingin mengabaikan, tetapi tidak jadi saat melihat nama peneleponnya.

Ia menjauh sebentar dari mereka, berbelok dari ruang tengah ke dekat pintu.

“Ada apa, Taemin-ah?” Beberapa saat ia mendengarkan, kemudian mengangguk. “Oke, sebentar. Naeun-ah!” Eunji melangkah lebar-lebar, menyodorkan ponselnya ke arah Naeun. “Ada yang ingin… bicara denganmu. Ponselmu mati, jadi ia—“

Naeun langsung menyambarnya. Ia berdiri, lantas mencari tempat yang agak jauh dari kelima gadis itu.

“Siapa?” tanya Namjoo masih kedengaran Naeun.

“Taemin.”

Naeun tidak mendengarkan lagi percakapan mereka karena Taemin sudah bicara.

Son Naeun, kau masih istriku, kenapa kau melakukan ini padaku?

Sebulir air mata yang sudah menggenang itu turun perlahan di atas pipinya. Naeun mengusap air matanya sendiri, sebelum menguatkan hati. “Apa kau sudah tidak memercayaiku lagi, Oppa?”

Apa yang harus kupercaya jika bukti di depan mata? Aku yakin foto-foto itu bukan editan, terutama videonya.”

“Kau lebih mengenalku, seharusnya kau tahu yang mana saat aku bohong dan yang mana saat aku mengatakan hal yang sebenarnya!” ujar Naeun, nadanya meninggi. Ia terisak.

Untuk beberapa saat keheningan terasa begitu menusuk, mencengkeram kedua insan ini untuk terus bergelut dengan pikiran masing-masing.

Naeunnie, kau menangis?” Suara Taemin terdengar melunak, sekaligus pilu. “Kau tidak berpacaran dengan Myungsoo, kan?”

Arrgh, Lee Taemin benar-benar harus diajarkan cara untuk menjadi sedikit lebih peka. Ia tahu Naeun menangis, tapi masih saja menanyakan hal itu. Mungkin emosinya sudah terlalu pekat. Awan menghitam sudah menaungi segala perasaannya.

“Tentu saja tidak! Bukankah aku sudah menikah denganmu?” Naeun mengucapkannya nyaris berbisik, meski nadanya masih tetap tidak halus. Di tengah tangisannya. Menyedihkan memang.

“Naeun, bisa saja kau—yah, kau tahu Myungsoo tidak menyerah begitu saja, kan?

Oppa, kau benar-benar tidak memercayaiku? Sudahlah, aku tidak berpacaran dengannya. Terserah kau mau percaya atau tidak padaku, aku tidak pernah peduli akan pendapatmu! Aku tutup sekarang teleponnya dan—“

Tunggu!”

Naeun diam. Tidak menjawab sedikitpun.

Aku percaya. Aku hanya—entahlah, aku takut Myungsoo akan benar-benar merebutmu dariku, sementara hubungan kita tidak pernah sebaik dulu, Naeun.” Diam sesaat. “Maafkan aku terlalu mendesakmu, Naeun-ah. Hmm, aku berjanji tidak akan ada yang dapat menyakitimu.”

Pembicaraan mereka selesai. Naeun masih mematung di tempatnya, meski ia sudah tidak mendengar suara Taemin lagi. Sunyi.

Pelan-pelan, diturunkannya ponsel itu dari telinganya. Ia tidak tahu harus bagaimana, tapi diam-diam ia mulai merasa agak aman—entahlah. Perasaan aman yang menjaganya dari segala ketakutan.

Juga menyadari sesuatu.

Taemin mungkin memang pria yang tepat untuknya, bukan begitu?

*

“Apa katamu?”

Taeyeon menahan tawa sekaligus perasaannya yang membludak ketika mendengar pernyataan Taemin. “Ucapkan sekali lagi!”

“Onew hyung tampak cemburu ketika mendengar manajer kami mengucapkan suaramu dan suara Jonghyun hyung sangat-amat harmonis! Menyatu dengan baik dan—wah, pokoknya ia ‘menyetujui’ dengan nada yang sangat tidak rela.” Taemin berkata dengan antusias, setelah memastikan di sana hanya ada dia dan Taeyeon.

Kim Taeyeon memang sunbae Taemin yang dekat dengannya, bahkan akhir-akhir ini semakin dekat. Keduanya saling berbagi masalah satu sama lain dan saling memecahkan. Termasuk masalah percintaan. Sudah tidak heran lagi jika Taeyeon di tengah kesibukannya dengan comeback SM The Ballad dan mempersiapkan comeback bersama SNSD—Mr.Mr—ia masih bisa mengatur waktu bertemu dengan Taemin.

“Bagus jika memang ia benar cemburu,” ujar Taeyeon tersenyum lebar. “Tapi Jonghyun memang pria yang hebat, bukan begitu?”

Taemin mengangkat alis, “Hei, jangan katakan kau juga naksir dia?”

“Masih Onew kurasa,” ucap Taeyeon sambil tertawa.

Ah, atap gedung SM memang sangat pas untuk bersantai. Bukan saja karena sepi, tapi karena pemandangan di sini lumayan menyejukkan mata.

Leader SNSD dan maknae SHINee itu duduk berdampingan dalam diam selama beberapa saat. Masing-masing menatap kota Seoul yang hari ini tampak dihiasi sedikit lembaran kabut. Angin yang bolak-balik di sekitar mereka sibuk membelai rambut masing-masing, menggoyangkannya ke sana kemari.

“Bagaimana Naeun?”

Taemin menoleh dengan cepat.

Taeyeon ikut menoleh dan menatap Taemin penuh kelembutan seorang kakak, “Dia sedang terlibat skandal, bukan? Kenapa kau tidak berusaha menghiburnya?”

Sekarang Taemin jadi agak paranoid—jangan-jangan Taeyeon mendapati surat nikah mereka tanpa Taemin tahu, lalu mengerti bahwa Taemin itu adalah suami sahnya Naeun, lalu… ah, jangan berpikir begitu!

“Aku?”

“Kau ini!” Taeyeon tertawa hambar. “Kau itu naksir Naeun, kan?”

“Aku tidak bilang begitu!”

“Tapi kau selalu galau tentangnya, bukan? Apalagi kalau bukan—“

“Ya, ya, ya!” potong Taemin kesal. “Tapi kenapa aku harus—“

“Untuk merebut hatinya! Bagaimana, sih?” Sekarang Taeyeon jadi gemas.

“Bisakah kita tidak membahas dulu tentang skandalnya?” pinta Taemin setengah memohon. Teringat bagaimana Naeun menolak panggilan teleponnya tiga hari ini sejak percakapan terakhirnya dengan gadis itu.

Taeyeon mengangguk, “Oke, oke! Bagaimana Kryssie?”

“Ah, Krystal.” Taemin terdiam sejenak, terlihat berpikir. Ia menatap jauh ke ufuk yang membiru setengah keabu-abuan. Parasnya berubah muram. Semuram beberapa gulungan anak domba yang tengah menggantung di antara lipatan lembayung suram di atas mereka. “Aku jarang bertemu dengannya, ia sedang sibuk memersiapkan comeback dengan F(x).”

Taeyeon mengangguk. Hoobae mereka yang satu itu memang akan menyusul comeback setelah SNSD dan EXO selesai, persiapan sudah mulai mereka lakukan.

“Krystal bicara dengan Jessica.” Taeyeon ikut menerawang ke depan. “Jangan bilang Jessica kalau aku cerita kepadamu, ne? Dia sudah mengatakan supaya aku tidak mengatakan ini kepada siapapun.”

“Kau dapat memercayaiku, Noona.”

“Ia yakin kau menyukai Naeun. Dari caramu menatap member A-Pink itu, tatapannya benar-benar berbeda saat kau menatap Krystal. Lembut dan terlihat begitu mengagumi, menjaga…” Gadis itu menyelipkan sebagian rambutnya ke belakang telinga. “Dia ingin melupakanmu, sangat ingin melupakanmu. Ia tidak ingin mengingat bagaimana ia bisa menyukaimu, ia hanya ingin hidup tenang tanpa memikirkan bagaimana membuatmu berpaling dari Naeun karena ia benci menjadi wanita yang mengemis cinta.”

Astaga. Taemin tidak menyangka pikiran Krystal sejauh itu.

“Lantas?”

“Sebaiknya kau akhiri ini, Taemin-ah. Kau tanyakan pada Krystal dan—“ Taeyeon terdiam. “—ini agak sedikit kejam, katakan kau tidak bisa membalasnya. Daripada ia terus menerus menyakiti dirinya sendiri dengan harapan yang tidak berbalas?”

Pembicaraan ini. Pembicaraan mematikan.

Saat itulah Taemin diam. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa. Tidak tega membayangkan bagaimana Krystal akan semakin sedih. Ia tidak tahu harus berbuat apa.

Di saat itu juga wajah Naeun membayangi pikirannya.

Ia menyukai Naeun, bukan begitu? Hanya saja ia terlalu naif untuk mengakuinya. Ia tidak mungkin menerima Krystal, karena ia akan jadi orang yang kejam bila itu terjadi.

“Terimakasih sarannya, Noona.”

*

Saat itu di dorm hanya ada Chorong dan Naeun. Manajer mereka sedang keluar sebentar untuk membeli makanan di minimarket, meminta dua gadis itu untuk sedikit berhati-hati karena beberapa teror yang mulai berdatangan ke sana.

Naeun sendiri baru pulang dari jadwalnya. Itupun melalui perjuangan. Penjagaan yang ketat dan tetap saja, ia hampir celaka tadi.

Ketika baru turun dari van A-Pink, seseorang melemparnya batu sebesar kepalan tangan—yang untungnya meleset—hingga memecahkan kaca van A-Pink. Naeun segera dibawa masuk dan Chorong menyambutnya dengan khawatir karena beberapa security dorm memberitahunya.

“Astaga, apa ini?” Naeun mengeluh ketika membuka sebuah kertas yang ditemukannya persis di depan pintu dorm. Kertas itu kusut dengan robek di sana sini beserta tulisan bertinta merah: JANGAN GANGGU L OPPA, KAU TAK PANTAS UNTUKNYA. PS: kalau kau masih sayang nyawamu.

“Lupakan saja!” Chorong menarik paksa kertas itu, lantas melemparnya ke tong sampah—setelah merobeknya menjadi bagian kecil-kecil tentu saja. “Apakah kau datang ke konferensi pers hari ini?”

“Tidak,” balas Naeun singkat. “Aku mangkir. Biar saja Myungsoo oppa yang bertanggung jawab di sana!”

Chorong memilih untuk tidak membahas lagi hal tersebut. Ia bangkit berdiri, “Kau mau popcorn? Aku mau membuatnya.”

“Boleh.”

“Manis atau asin?”

“Samakan saja denganmu. Aku—“

Ting. Tong.

“Aku saja yang buka, Eonni.” Naeun menaruh bantal kecil itu di sampingnya, lantas beranjak dari sofa ketika melihat Chorong berbalik dari arah dapur ke pintu.

“Jangan, aku tidak mau kau kenapa-kenapa!”

“Tidak usah khawatir, mungkin itu manajer oppa.”

Manajernya tidak pernah mengetuk pintu, tapi Naeun yakin tidak ada bahaya di balik pintu dorm-nya. Chorong mengangkat bahu, namun tetap berdiri di tempatnya mengawasi Naeun. Siap-siap jika ada sesuatu yang buruk menyerang Naeun.

Ting. Tong.

“Ya, sebentar!” Naeun mengetikkan password yang dipasang secara elektronik di sebelah pintu, kemudian membuka sedikit pintunya. “Nugu?”

Chorong semakin waspada ketika mendengarnya, takut kalau-kalau Naeun dicelakakan.

Naeun menatap pria yang sedang menunduk dengan topi yang menghalangi wajahnya. Ia memakai outfit serba hitam dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya. Sweater hitam yang menutupi lehernya benar-benar membuat kulitnya nyaris tidak terekspos jika saja ia tidak punya telinga.

“Naeun-ah.

Naeun membelalakkan mata. Segera didorongnya kembali pintu tersebut, hendak ditutup. Sayangnya sang tamu tak diinginkan sudah mendorong balik, lebih kuat lagi dari Naeun. Naeun terjajar mundur sambil mengaduh.

Chorong terkesiap ketika mendapati pria jangkung yang berdiri di ambang pintu. Menatap Naeun begitu intens.

“Myungsoo, mau apa kau kemari?!” seru Chorong kesal. “Kau menyebabkan Naeun kena masalah dan—“

Noona.” Myungsoo menatapnya. “Bisakah aku bicara sebentar dengan Naeun?”

“Bukankah kau harusnya ada di konferensi pers?!” teriak Naeun marah. Suaranya yang biasa lembut kini menggelegar emosi. “Apa gunanya mendatangiku? Lebih baik cepat kau ke sana dan menjelaskan bahwa kita—“

“Tenanglah, aku hanya ingin minta maaf karena kau bahkan tidak merespon telepon atau pesan singkatku.” Myungsoo menghela napas, namun agak kaget saat Naeun mendorongnya keluar.

“Di luar saja!” seru Naeun, sambil menarik pintu dan menutupnya di depan mata Chorong. Gadis itu melipat tangan di depan dada, melirik ke kanan dan ke kiri, sembari waspada—takut jika Myungsoo akan kembali melakukan kesalahan serupa.

Myungsoo menatap Naeun lama. Menusuk ke dalam matanya. Naeun sangat risih, tapi ditantangnya sepasang mata dingin penuh usapan kehangatan itu.

“Apa yang mau kau katakan sekarang? Kau punya waktu dua menit.”

“Apa? Naeun-ah, apa kau benar-benar semarah itu padaku?”

“Satu menit lima puluh enam detik, Oppa!

“Aish!” Myungsoo membuang kekesalannya dengan tawa singkat. “Kau—“

“Satu menit dua puluh detik.”

“Oke, baiklah! Aku minta maaf. Apa yang terjadi saat di galeri itu, aku hanya—kau tahu, aku mencintaimu, kan? Aku ingin sekali mendekapmu dan mengatakan ini. Tapi kau tidak pernah menerimaku. Aku juga tidak bisa mengendalikan diriku, maafkan aku.”

Naeun tersenyum pedih, “Tapi kau menyeretku ke dalam masalah. Taemin oppa bahkan—“  Gadis itu agak terkejut dengan ucapannya, lalu segera menutup mulut. “Lupakan!”

“Kenapa Taemin, Naeun-ah?” tanya Myungsoo sedih. “Kenapa kau menyukainya? Apa karena WGM itu? Sudah kukatakan, firasatku jelek ketika kau ikut acara itu.”

“Bukan! Lagipula aku tidak menyukainya. Berhenti bertingkah sok tahu, kau tidak menyelesaikan masalah. Waktumu habis, pergilah, aku tak mau melihat wajahmu dalam beberapa waktu—“

Ucapan Naeun terhenti paksa. Sangat dipaksa. Perasaannya seketika bergejolak. Pikirannya mulai dilapisi awan hitam. Darahnya mendidih—marah, kesal, kecewa, dan bercampur aduk. Ucapannya baru saja dibungkam oleh sebuah ciuman. Ciuman yang lembut, meski setengah memaksa.

Naeun meronta sekuatnya, tapi Myungsoo mendekapnya. Naeun benar-benar marah. Ia sempat melirik ke arah lain, meski tangannya masih fokus mendorong Myungsoo. Myungsoo sendiri seperti kerasukan, ia tidak peduli.

Dari jauh, Naeun dapat menangkap bayangan seorang lelaki kurus berambut hitam legam yang tampak mematung di ujung koridor. Di saat itulah kekuatan Naeun seolah berlipat ganda.

Gadis itu mendorong Myungsoo kuat, hingga Myungsoo belum sempat mengendalikan dirinya. Ia hampir saja jatuh jika saja tidak ada tembok di belakangnya. Dilihatnya Naeun berlari ke satu arah, mendapati sesosok pria yang kini dianggapnya rival segera pergi dari sana.

Oppa!!”

Pria itu—yang tampak memakai penyamarannya dengan lengkap—berhenti. Ia membalikkan tubuh. Myungsoo berani bersumpah saat itu Lee Taemin melihatnya dengan tatapan marah dan kesal, lalu beralih menatap Naeun—tatapannya ikut berubah; sedih, sakit, dan kecewa.

“Naeun, kurasa kita harus berjauhan dulu untuk sementara. Kau tahu, kurasa aku harus menenangkan diri.”

Tanpa membiarkan Naeun bernapas, Taemin segera pergi dari sana. Tidak diliriknya lagi gadis itu—yang kini sedang menatap punggung sempitnya hampa.

Ketika melihat Taemin pergi, Naeun merasa sesuatu di dalam dirinya berdarah. Bagian dalam dirinya terasa tidak utuh lagi. Hatinya mendadak kosong, hampa, tinggal amarah yang tertinggal di sana.

Amarah untuk Myungsoo.

“Naeun-ah, maafkan aku! Maafkan aku! Aku tidak—“

Ketika pria itu berusaha meminta maaf, Naeun menggebrak pintu dorm tepat di depan hidung Myungsoo. Dikuncinya pintu itu dengan perasaan campur aduk, kemudian ia menyandar di sana—jatuh terduduk.

Ia menangis.

*

Kau, seorang manusia yang biasa. Punya hati dan perasaan. Sekuat apapun engkau, kau hanyalah lembaran kaca rapuh yang terlihat kuat. Suatu saat akan ada yang melubangi kaca itu dengan peluru—pertahananmu luluh lantah.

Taemin mengalaminya.

Bagaimana perasaanmu mendapati istrimu atau suamimu dicium oleh pria atau wanita yang menyukainya dan berusaha merebutnya darimu? Taemin tidak ingin mendeskripsikan bagaimana hancurnya hati yang ia miliki ketika menyaksikan Myungsoo dan Naeun berciuman di depan matanya.

Mood-nya jadi jelek sehingga orang-orang yang menyapanya tidak dihiraukannya.

Termasuk Krystal.

Krystal, mau apa dia di dormitory SHINee? Pertanyaan pertama yang terlintas di benak Taemin ketika mendapati gadis itu duduk di depan pintu dorm.

Taemin ingat benar keempat hyung-nya tidak ada di dorm. Karena itukah Krystal jadi duduk? Astaga, kenapa tidak pergi saja?

Oppa.” Krystal bangkit dengan ceria saat menyadari Taemin datang mendekat. Taemin tersenyum, kemudian membungkuk. Diambilnya kunci yang menyerupai kartu di bawah pot bunga di samping pintu dorm, lalu digeseknya pada tempat yang seharusnya. Setelah itu ia mengetik beberapa password—baru membukanya.

“Masuklah. Sudah lama?”

Meski berusaha terdengar ramah, tetap saja gagal. Suaranya terdengar bete, jengkel.

“Lumayan. Satu jam mungkin.”

“Mau minum apa?”

“Tidak. Aku hanya sebentar.” Menunggu sejam untuk bicara sebentar? Gadis ini memang sudah gila. Taemin merasakan sesuatu di dalam dirinya terasa merongrong ingin berteriak—betapa gadis ini peduli padanya dan tidak dengan istrinya sendiri yang malah… ah, sudah.

“Denganku?”

“Ya.”

“Duduklah.”

“Tidak.”

Taemin mengerutkan kening sambil menatap Krystal. Gadis itu tersenyum lebar, tapi tak urung kegugupan terbaca jelas di wajahnya yang dingin.

“Aku… mau membuat pengakuan.” Tiba-tiba saja Taemin merasa sakit perut. Mendadak di telinganya terdengar suara Taeyeon ketika memberikannya sebuah saran—saran yang membingungkan.

“Hmm, tentang?” Taemin berusaha tenang. Memikirkan bagaimana caranya bersikap.

“Aku…” Krystal terlihat ragu. Ia menatap Taemin, lalu segera berpaling ke segala arah—ke manapun asal jangan ke mata Taemin. “…tidak yakin. Maksudku, aku juga tidak tahu bagaimana ini awalnya terjadi. Kau tahu, ini terjadi begitu saja, aku—“

“Soojung, apapun yang akan kau katakan, aku tidak memiliki perasaan yang sama denganmu. Bagiku kau adalah adikku, itu saja.”

Krystal langsung menatap Taemin—fokus. Ia tertegun saat mendapati keseriusan itu di antara lembar iris hitamnya.

Oppa, aku menyukaimu.” Meski ia tahu Taemin sudah paham itu daritadi, ia hanya ingin menyuarakannya. Hatinya mencelos ketika Taemin tak juga merespon. Lama, lama sekali ia menunggu hanya untuk mendengar Taemin memberinya sedikit perkataan yang bisa membuatnya lega—tidak ada.

Sedih, Krystal berbalik—hendak pergi dari sana—ketika Taemin segera menahannya dengan menggenggam pergelangan tangannya.

“Maafkan aku, Soojung. Aku—“

“Kenapa, Oppa? Kenapa kau harus membuatku menyukaimu?” Krystal tahu suaranya bergetar, matanya mulai memanas. “Aku menganggapmu kakak, tapi kenapa kau begitu ramah hingga aku—lupakan, aku mau pergi, Oppa.

“Soojung—“

“Aku tahu di hatimu hanya ada Naeun!” Krystal berteriak. Dilepaskannya genggaman Taemin dengan kesal. “Aku tahu kau menyukainya, bahkan sejak pertama kali syuting WGM dengannya! Aku sempat menonton Salamander Guru untuk melihatmu akting jadi cameo di sana dan aku mendapati sesuatu yang tidak bisa di aktingmu bersama Naeun! Aku wanita, aku lebih peka akan hal itu, Oppa!”

Taemin terdiam. Bukan karena statement Krystal yang begitu menghakimi, tapi karena Krystal menyebutkan nama Son Naeun dengan gamblang. Hatinya terasa perih mendengar nama itu, sekaligus… rindu.

Krystal menatap Taemin lama—menunggu reaksinya. Ketika Taemin tak juga bereaksi, Krystal tertawa sinis bersamaan dengan jatuhnya air mata dari pelupuk indah itu. Ia mengusapnya kasar, lalu berlari keluar dari dormitory SHINee yang belum dikunci Taemin.

Hatinya patah.

Sebagian jiwanya tertinggal di sana.

Krystal yang sekarang berlari adalah Krystal yang berbeda.

Krystal yang yakin bahwa dirinya bukan Jung Soojung yang Taemin kenal lagi.

*

Suasana konferensi pers itu terasa begitu menegangkan. Member Infinite yang saat itu hadir dan bisa mendampingi Myungsoo hanya Woohyun karena yang lainnya terbentur dengan jadwal masing-masing. Di samping mereka ada salah satu manajer mereka juga perwakilan dari ketiga agensi—A Cube, Woollim, dan SM.

Cahaya blitz kamera terus mengerjap seolah tidak akan berhenti. Kuli tinta paling depan yang paling leluasa mengambil foto, sementara yang di belakang terus menerus meneriakkan pertanyaan-pertanyaan.

Terpasang banyak kamera yang menyiarkan konferensi pers itu secara live di jajaran paling belakang. Tentunya untuk acara infotainment.

“Myungsoo, benarkah Naeun dan Anda sudah berpacaran sekarang?”

“Bagaimana dengan Dayeon? Kabarnya dia membantah itu, apa kalian masih saling kontak setelah putus?”

“Kenapa Naeun tidak ada di sini?”

“Bisakah Anda jelaskan bagaimana Anda dapat berkencan dengan Son Naeun?”

Berbagai pertanyaan yang dihujamkan kepada Myungsoo bagaikan ribuan batu yang dilempar ke arahnya tanpa henti. Pikirannya masih kacau karena peristiwa tadi di dorm A-Pink, sekarang semakin kacau setelah ia baru saja duduk di sini.

Suara Woohyun yang mengajaknya bicara atau bahkan mencoba menjawab beberapa pertanyaan dengan jawaban yang membela sudah tidak kedengaran, ataupun para perwakilan agensi yang juga menjelaskan bahwa itu hanya rumor semata.

Myungsoo tetap bungkam sepanjang waktu. Ia tidak menjelaskan—pikirannya melayang ke mana-mana.

Dari pertama ia mengenal Naeun, ia sudah tertarik dengannya. Jauh sebelum ia tahu Dayeon. Hanya saja reaksi gadis itu tetap sama, dingin dan acuh. Sehingga ketika ia mulai menyukai Dayeon, ia mengajaknya berpacaran—masih dengan sebagian perasaan untuk Naeun.

Setelah itu, ia dan Dayeon bubar—ia mulai lagi mengejar gadis itu. Hanya saja sejak Naeun ikut WGM, segalanya terasa semakin sulit. Gadis itu terasa  kentara lebih menerima Taemin daripada dirinya.

“Myungsoo, kami butuh penjelasan Anda!” Salah satu suara kuli tinta itu tertangkap indera pendengaran Myungsoo. Pria dingin ini segera tersadar dari lamunannya. Ia menatap satu persatu wajah para kuli tinta yang lapar berita—terutama yang ada di baris depan. Otaknya merangkai kata.

Myungsoo memajukan badannya sedikit, mendekat microphone.

“Bolehkah aku bicara tanpa keributan?” Perlahan, tapi pasti, suara bising itu mulai reda. Satu persatu dari mereka mulai diam dan menatap Myungsoo fokus. Masing-masing bersiap dengan jawabannya—seolah jawabannya adalah sesuatu yang menentukan bahwa dunia akan berperang sebentar lagi. Menatapnya seolah ia orang nomor satu di sana. Berlebihan? Ya. Memang begitu keadaannya.

Myungsoo menghela napas, lalu memejamkan mata. Alisnya berkerut. Keningnya juga. Ia menarik napas lagi—lebih panjang sebelum membuka mulutnya.

“Aku… memang berpacaran dengan Naeun.”

Suasana riuh kembali.

Jajaran yang duduk di sampingnya terkejut. Semuanya menatap Myungsoo dengan tatapan menyalahkan, terutama Woohyun dan manajernya—yang daritadi paling semangat membantah rumor itu.

Selesai sudah pembelaan itu—masalah akan semakin runyam. Segala alasan yang telah dilontarkan langsung runtuh oleh statement kurang bertanggung jawab yang baru saja Myungsoo katakan.

Woohyun bersumpah ia ingin menonjok rekannya ini agar segera sadar.

Kesal. Sangat mengesalkan.

*

Bugh!

Myungsoo terdorong beberapa langkah ke belakang. Ia memegang rahangnya yang terasa amat-sangat ngilu, lalu melihat ke arah Woohyun yang mendekatinya dengan cepat dan—bugh! Satu bogem lagi mendarat di sana.

“Myungsoo, kau gila!”

“Kenapa,Woohyun hyung? Aku memang gila!”

Woohyun mencibir, lalu mencengkeram sweater bagian bahu Myungsoo. “Tapi dengan mengatakan kalau kau benar-benar berpacaran dengan Naeun sama saja kau membuat gadis itu terancam! Ke mana otakmu, L?”

“Aku tidak tahu kenapa aku bicara begitu, Hyung!! Aku tidak bisa mengendalikannya, aku hanya sedang berpikir mengapa ini harus terjadi, lalu—“

“Kau bilang kau mencintainya, tapi kenapa kau malah membahayakannya!!” Woohyun mendorong Myungsoo hingga pria itu terjatuh. Myungsoo tidak melawan maupun membantah, ia hanya menatap Woohyun sambil memegangi rahangnya.

“Kau mengecewakan kami, L! Kami membelamu mati-matian dan pembelaan kami seolah kau anggap murah, hah?! Hanya satu statement, kau menghancurkan segalanya!”

Ketika Woohyun akan melayangkan lagi tinjunya, Sunggyu yang entah sejak kapan sudah kembali—datang bersama manajernya. Dipisahkannya Woohyun dari Myungsoo dan dibawanya pergi.

“Myungsoo, ayo duduk, aku akan mengobati lukamu.” Manajernya membantu ia duduk di sofa, sementara Myungsoo hanya menunduk—menghindari tatapan kecewa rekannya itu yang sekarang sedang dibawa Sunggyu pergi.

Hyung,” panggil Myungsoo kepada manajernya.

“Hmm?”

“Maafkan aku.”

Manajernya berhenti dari kegiatannya mengambil es batu di kulkas. Sambil menutup lagi pintu kulkas, ia tersenyum ke arah Myungsoo, “Kau harus belajar dari kesalahan, L.”

*

Taemin menganggap dirinya setengah gila ketika menyadari bahwa ia tertidur di depan gedung tempat dorm A-Pink berada. Tentu saja bukan di jalanan, tapi di dalam mobil manajernya yang lagi-lagi ia pinjam. Memakai kaca yang gelap ternyata sangat membawa keuntungan karena ia terlihat aman-aman saja tanpa ada sasaeng atau apapun yang mengganggu. Ia sudah mulai lihai dengan hal menyamar, ia yakin.

Ketika ia membuka mata, hari sudah mulai gelap. Rupanya sudah jam lima lebih dan ia tertidur hampir satu jam.

Taemin ingat betul, ia kembali ke lokasi dorm A-Pink setelah Krystal pergi. Parkir di depan gedungnya dan tidak berbuat apa-apa. Ingin masuk, tapi bayangan Naeun yang dicium Myungsoo masih saja terputar di benaknya.

Firasatnya agak buruk. Entahlah. Setelah Naeun kena skandal, ia banyak mendengar bahwa gadis itu diteror. Bahkan kejadian pelemparan batu itu sudah sampai ke telinganya. Taemin ingin menjaga gadis itu. Sangat.

Ponsel Taemin berbunyi. Sebuah panggilan masuk meraung-raung minta diangkat. Taemin hendak mengabaikan, tapi tidak jadi melihat siapa yang sedang memanggilnya.

Eomma? Tumben sekali…” Ia menekan tombol ‘yes’ di touch-screen-nya, kemudian menempelka benda itu di telinganya. “Halo?”

“Taemin-ah, kapan kau akan ke sini dengan Naeun?” Itu suara hangat sang ibu—yang sudah lama tidak didengarnya. Saat mendengar itu ada dua perasaan berkecamuk di dalam hati Taemin—berdesir dan kaget.

Eomma, kau tahu itu akan sangat sulit. Kami berdua sudah sama-sama bekerja dan pekerjaan kami sama-sama membahayakan jika orang sampai tahu.” Ia mengawasi keadaan, takut ada yang menguping. Jalanan terlihat biasa saja, dengan kendaraan yang lalu-lalang serta orang-orang yang lewat di trotoar. Semuanya terkendali. Lampu-lampu pertokoan di sekitarnya mulai menyala, jalanan tidak terlalu gelap.

“Sudah kukatakan kalian harusnya jangan jadi artis.”

“Maaf, Eomma. Aku… aku akan mendatangimu akhir bulan ini. Tenang saja. Naeun akan kubawa. Bagaimana kabar appa?”

“Dia masih sakit. Oleh karena itu datanglah, ia merindukanmu dan menantunya.”

Mereka bicara untuk beberapa saat sebelum akhirnya salah satu dari mereka mengakhiri percakapan. Taemin menatap layar ponselnya yang sudah menghitam. Appa masih sakit. Ia benar-benar khawatir.

Taemin menyalakan mesin mobil—menyandarkan punggungnya. Ia melirik gedung tempat dormitory A-Pink ditempatkan, sebelum mulai memersiapkan mobilnya untuk bergerak.

Tapi, saat kakinya baru mau menginjak gas, ia melihat seseorang keluar dari sana. Wanita dengan topi wol merah, syal berwarna sama yang menutupi leher hingga hidung, kacamata hitam, mantel coklat, sarung tangan putih. Rambutnya panjang terurai.

Meski gelap dan terbungkus pakaian yang dapat ‘menyamarkan’ identitasnya, tetap saja Taemin mengenal caranya berjalan. Itu Naeun.

Apa yang gadis itu lakukan ketika hari mulai gelap? Sendirian pula?

Takut terjadi sesuatu, Taemin keluar—penyamarannya sudah dipasang dengan lengkap. Setengah menunduk, Taemin berlari menyeberangi jalanan yang cukup lebar itu. Ia fokus menatap Naeun yang sudah agak jauh.

Hei, gadis itu mau ke mana?

Taemin benar-benar khawatir, apalagi ketika gadis itu masuk ke dalam gang—celah kecil di antara dua bangunan. Ia hafal benar itu jalan pintas yang menghubungkan jalan tadi dengan jalan yang lain. Tapi kenapa Naeun mengambil jalan ini?

Tidak ada orang pula. Taemin harus menjadi setengah ninja agar Naeun tidak menyadari keberadaannya dan malah jadi takut.

Naeun sendiri berjalan agak cepat. Perasaannya tidak begitu enak.

Saat itu langit berwarna biru dongker—peralihan dari sore ke malam. Beberapa permata malam mulai bermunculan di sana, menggeser posisi anak-anak domba yang selama siang bergelungan manja. Udaranya terasa lembab dan agak basah, menusuk tulang hingga ke dalam bagian terkecilnya.

Seseorang berjalan ke arah Naeun dari arah berlawanan. Ia lebih pendek dari gadis itu dan berjenis kelamin sama—tapi tatapannya ganjil. Naeun sampai harus menunduk untuk menghindari tatapan gadis asing itu yang terus melekat kepadanya.

Naeun menghentikan langkah ketika orang tadi malah berhenti. Tepat di depannya.

“Hmm, permisi?” Naeun berusaha agar suaranya tidak dikenali.

“Kenapa memakai syal begitu tebal, Son Naeun?”

Ini tidak benar. Pertama, gadis asing itu kemunculannya benar-benar mencurigakan. Kedua, tatapannya mirip tatapan orang psikopat penuh dendam. Ketiga, ia tahu bahwa di hadapannya ini Naeun.

“Anda salah orang.” Berusaha mengontrol diri, Naeun mencoba melindungi dirinya sendiri.

Sang orang asing itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Naeun tidak akan merasakan jantungnya berhenti berdetak jika saja yang dikeluarkannya bukan benda mengkilat dengan salah satu bagian yang pipih tajam.

Bukan itu saja, ia bahkan mendorong Naeun hingga gadis itu jatuh terlentang. Sang gadis asing lantas berlutut, melepas paksa syal Naeun. Naeun bersumpah ia merasa tercekik.

“Kyaaa!” Naeun menjerit begitu sesuatu yang dingin bertemu dengan kulit lehernya, menekan pelan-pelan di atasnya. Bukan itu saja, ia juga merasakan ada sesuatu merembes dari sana. Garis merah melintang mulai muncul.

“Kau tidak pantas mendapatkan L, Gadis Jalang!”

“Aku tidak berpacaran dengan L!”

Taemin tidak ingin menyesal di kemudian hari. Pria itu berlari mendekati mereka. Tangan kirinya terulur, lalu menarik bahu si gadis asing tadi. Pisau dalam genggamannya terpelanting jauh.

Ya! Bisakah kau tidak usah melukai Naeun?! Naeun sudah bilang dia tidak pacaran dengan L, kan?” Taemin mendorong gadis itu jatuh di hadapannya—setelah tadi menarik ia agak kencang.

“Tapi L mengatakan ia pacaran dengan gadis ini!”

Naeun menelan ludah. Bukan karena statement si gadis yang mungkin sasaeng Infinite, tapi karena mendapati Taemin berdiri di hadapannya—begitu tangguh dan kokoh, membelanya.

“Kau fans L, bukan berarti kau harus melakukan kekerasan jika kau memang sayang pada L. Jauhi Son Naeun. Aku berjanji jika dia dan L tidak ada apa-apa!”

Si sasaeng fan tadi menatap pria itu kesal. Ia tidak terlihat mengenal Taemin, tapi ia tidak peduli.

“Kalau kau sampai berbohong dan ternyata gadis itu berpacaran dengan L—“ Ia berdiri. “—aku bersumpah akan mengejarnya sampai ke ujung neraka sekalipun!”

“Aku berjanji,” ucap Taemin tenang, nadanya rendah. Maka gadis itu segera pergi, tanpa rasa bersalah sedikitpun—sambil membenahi dirinya yang terlihat agak berantakan.

Taemin menatap gadis tadi hingga sosoknya jauh dan hingga ia yakin bahwa sasaeng tadi tidak akan kembali dan menyerang mereka berdua. Maknae SHINee itu berbalik, mengulurkan tangannya kepada Naeun yang masih duduk terpaku di sana.

“Naeun-ah,” panggil Taemin lembut. Digenggamnya tangan Naeun kuat-kuat, hangat, dan penuh rasa perlindungan—membantu gadis itu bangkit berdiri. Ia menyentuh pelan-pelan luka di leher Naeun, “Tidak dalam. Ia hanya melukai kulit bagian luarnya.” Taemin mengeluarkan sapu tangan, menekan-nekannya sangat pelan dan hati-hati di atas luka Naeun—membersihkan darahnya.

“Asshh,” desis Naeun. “Maaf, Oppa.

“Untuk?”

“Apa yang kau lihat tadi—aku bersumpah, itu bukan kemauanku…”

Taemin melipat sapu tangannya dan mengambil tangan Naeun, menaruhnya di atas telapak tangan Naeun, lalu melipat kelima jemari lentiknya. Ia tersenyum, “Aku tahu. Aku tadi hanya emosi. Maafkan aku,” ucapnya berbisik.

Ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Erat, erat sekali. Tidak ingin dilepaskannya Naeun dari jangkauan tangannya. Ia merasa sangat nyaman seperti ini, memeluk gadis yang mengisi hatinya sejak lama itu.

“Naeun-ah,” bisik Taemin.

Ne?”

Saranghae. “Tidak apa, hanya memanggil.” Taemin tertawa garing. Naeun tertawa kecil di dalam pelukan pemuda itu, lalu tak mengatakan apapun.

Ya, Tuhan. Naeun memanggil di dalam hati.

Ia sangat menikmati pelukan ini.

Jika saja waktu tidak pernah berjalan lagi sejak saat itu…

*

Taemin mengantarkan Naeun hingga ke dorm-nya. Member A-Pink sudah kembali ke dorm, kecuali Eunji dan Bomi yang masih menyelesaikan jadwal mereka. Tanpa banyak basa-basi dan mengatakan Naeun terkena kecelakaan sedikit, Taemin segera pulang.

Ia masuk dengan santai ke dalam dorm, yakin belum ada hyung-nya yang pulang karena dorm tampak gelap. Pelan-pelan ia menutup pintu, membuat cahaya dari luar lama kelamaan tidak dapat masuk—menyisakan segaris kecil, hingga akhirnya hilang sama sekali.

Ia menekan saklar, kemudian menunduk melepas alas kaki. Sambil menghela napas lelah, ia melangkah—mendongak ke depan dan langkahnya terhenti saat itu juga.

Key duduk di ruang tengah. Menatap kosong ke arah televisi yang tidak dinyalakan. Wajahnya tampak tegang, rahangnya mengeras.

Kenapa Key tidak menyalakan lampu? Itu pertanyaan yang berputar di pikiran sang termuda.

Sambil tersenyum lebar, ia mendekati Key.

“Hai, Hyung! Kenapa—“

“Tidak usah bicara ramah kepadaku, Lee Taemin!” Taemin berhenti. Key memutar lehernya, mendongak, lalu berdiri. Taemin berani bersumpah Key menatapnya dingin—sedingin es. Wajahnya begitu kaku, emosi seolah memenuhi kepalanya.

Hyung?”

Taemin tergerak mundur beberapa langkah, menabrak meja kaca di tengah-tengah. Key baru saja mendorongnya.

“Kau! Kenapa kau brengsek sekali, Taeminnie?!”

“Key hyung, what’s wrong with you?!” Taemin menatap Key kaget. Tidak pernah Key semarah ini, apalagi kepadanya. Ada apa ini?

“Kau membuat Krystal menangis, menyesali diri dan sebagainya. Kau ini pria macam apa?” Oke, sekarang ia mengatakan Krystal menyesali diri. Pembicaraan ini sedikit demi sedikit mulai memberi arah yang jelas.

“Aku tahu kau menyukai Krystal, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya begini kepadaku.” Taemin menjawabnya datar. “Kalau aku menerimanya, bukankah aku lebih brengsek lagi? Aku akan melukainya, apa kau tidak berpikir akan hal itu?”

Untuk beberapa saat mereka adu pandangan. Masing-masing dengan alasan yang berbeda.

“Aku tahu kau frustasi tidak mendapatkan Krystal, bukan begitu? Kau terlalu hopeless karena gadis itu bahkan tidak melirikmu!”

“Kau benar-benar—“ Key mencibir. Matanya menatap tajam. “Aku tidak menyangka kau akan berbuat begini. Kau bisa melakukan sesuatu yang lebih bijaksana daripada ini, Taeminnie.”

Key masih memanggilnya ‘Taeminnie’. Lucu, tapi Taemin tidak mau ambil pusing.

“Lalu apa maumu, Hyung? Menerimanya? Bagaimana aku bisa menerimanya jika aku sudah menikah?!” Sekarang Taemin yang emosi. Emosi yang membuatnya kaget sendiri setelahnya. Ia baru saja menyadari kesalahan yang baru dilakukannya. Bibirnya segera mengatup, kerongkongannya terasa semakin kering.

Benar saja, ekspresi Key berubah drastis. Ditatapnya Taemin seolah Taemin baru mengatakan satu ditambah satu adalah tiga atau Taemin baru saja mengklaim dunia ini miliknya.

“Menikah? Secara virtual?!” Suara Key meninggi. Nadanya sangat sinis hingga Taemin yakin ia ingin menonjoknya sekarang. “Jangan membodohiku dengan mengatakan omong kosong di saat seperti ini!”

Taemin tidak berekspresi. Matanya yang berbicara. Iris gelap itu mulai menunjukkan ketidaksenangannya akan statement yang baru Key lontarkan.

“Aku tidak bicara omong kosong, Hyung.” Key bersumpah ia baru saja mendengar Taemin melawannya dengan nada yang rendah dan kesal. “Aku memang sudah menikah. Jauh sebelum kalian mengenalku!”

To be continued.

 

Preview Paper 4 – Confessions of A Broken Heart

“Aku akan mempertanggung jawabkan statement-ku saat konferensi pers, Naeunnie, percayalah!”

“Kau mengecewakanku, Oppa! Aku benci!!”

*

“Key, kau kenapa?”

“Apa kau tidak bisa melihat, Choi Minho? Minggir! Aku harus bertemu Krystal!”

Oppa, Krystal sedang—“

“Sulli-ya, bisakah kau juga minggir?”

*

Eomma meminta kita ke sana.”

“Apa yang harus kulakukan?”

“Kita berangkat sekarang.”

*

“Apakah kau tahu rasanya mencintai orang yang tidak mencintaimu? Rasanya seperti kau sedang mengharapkan sesuatu yang hanya berlaku di negeri dongeng.”

*

“Mencintai tidak harus selalu memiliki, Myungsoo Oppa.

“Dayeon, kau tahu aku mencintai Naeun.”

“Lalu, apa maumu sekarang?”

“Aku butuh bantuanmu.”

*

“Ya, Tuhan! Son Naeun, Lee Taemin! Apa yang baru saja kalian—“

Eonni, aku… aku… bisa jelaskan!”

“Kalian baru saja menggunakan kamar di sini untuk… sebenarnya apa yang kalian pikirkan?!”

Eonniya…”

“Jangan bicara denganku, Naeun!”

*

Thank your for reading~ :3

©2013 SF3SI, Vania

signature

Officially written by Vania claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

31 thoughts on “(Not) A Virtual Marriage – Part 3

  1. Argh…! Panas, panas! *di kata kopi, panas?
    Ya pokok nya cerita ini panas *hah? #abaikan-_-

    Sumpah! Aku suka banget konflik nya! Tapi, hei? Myung soo kenapa kau nekat sekali huh?

    Dan taemin, tolong buktikan ke semua orang kalau naeun itu milik mu agar myung soo tahu..!

    Wah, author DAEBAK!
    Udah lama aku nunggu-nunggu kelanjutan nya, dan akhir nya sekarang tercapai. Jangan lama-lama kelanjutan nya ya thor? Soal nya entar aku lupa sama caphter sebelum nya..*makanya jangan lupa atuh hehe

    Pokok nya, lanjutan nya harus keren kayak begini ya thor? Aku tunggu kelanjutan nyaa..! ^o^
    Dan, maaf kalau komen nya gak jelas ^^

    1. HAI😄
      kalau panas, didinginin dong (?) XDDD
      hihi sebenernya update ini cepet loh aku, dibanding biasanya… aku bisa update sampe 2 bulan bahkan lebih cuma satu kali loh -__-

      wah klo keren sih engga jamin yaaa, soalnya authornya engga keren .___, klo keren mah itu kebetulan (?) /apacoba/
      makasih yaa~😄
      gapapa kok, authornya juga engga jelas😄 jadi kita engga jelas berdua (?)😄

  2. Oh my, this is so hot hot hot! The conflict~ I like it so much *
    Seperti menonton acara gossip atau membaca artikel tentang skandal artis kkkk.
    Pokoknya ini keren lah (y)

    Ga habis fikir sama Myung oppa, sepertinya hanya obsesi yg dia rasakan terhadap Naeun, beuh kasian sekali kisah-kasih Taeun huhu.
    Sebelnya itu sama Taemin yg ga ngungkapin perasaannya jg ke Naeun hhhh, tp mungkin karena dia sedang dilema dengan permasalahan yg masih n selalu menghinggapi mereka😦

    Penasaran dgn next chapter setelah membaca previewnya hihi.
    Ditunggu lanjutannya ya saeng😉
    Keep writing n fighting!!^^

    1. kenapa pada kepanasan sih? XDD

      iyanih si myungsoo -____- nyebelin juga lama2😄 /padahal yang bikin nyebelin kan elu thor!/
      iyaaa~ kan taeun sama2 gamau publik tau perasaan mereka dan lagian sama2 gamau ngakuin tuh -__- ngeselin emg taeunnya juga (?)😄

      makasih yaaa~ :3

  3. hallo aku pendatang baru kekekek,baru nemu blog ini dari salah satu blog. aku suka banget ceritasaaaaaaaaa

  4. yak selalu saja INI LUAR BIASA !!!
    L semakin menyebalkan dari chapter ke chapter
    Tapi aku kok susah ngebayangin key sama taemin berantem ya? ._.
    mungkin kalau di beberapa acara mereka emang keliatan biasa aja
    yaudah lah ya, chap 4 secepat cahaya ya eon :p
    Hwaiting!

  5. Ada yang mau bikin anti L buat FF ini? #pasang-ikat-kepala.
    Okey, setuju banget sama Woohyun soal L yang gila. He likes Naeuen too much and being irrational. Huh
    Daan masih gaya push and pull Taemin Naeun, ayo pliiis, aku pengen lihat merea berdua sedikit lebih blak blakan dan romantis. Wujudukan ya van #wink

    Hmm, part yang ini kayanya agak beda dibandingkan dngan part 1-2. Kalau di awal-awal aku merasa narasi deskripsi perasaannya lebih banyak tapi yang ini dialognya lebih banyak ya kayanya. Tapi tetap aja, tight plot and nice twist.

    Ditunggu lanjutannya!
    semangat van!

  6. Daebak thor lanjut terus keren ceritanya …
    Rumit bgt sih kisah taeun ..
    Si L itu nyebelin bgt …
    Preview part 4 bikin penasaran
    ayoo lanjut thor semangat😀
    love taeun

  7. Wew panas nih
    Suka banget sama ceritanya tapi ga terlalu suka couple couple yg disitu😦
    kecuali taeonew hihi
    tapi bagus banget ceritanya, lama kelamaan gue jadi menerima sendiri (taeun dan keystal)
    good job thor! kalo update lagi jangan kelamaan eaa

  8. Naeun kasian ih dicaci gitu sama fansnya L, makin runyam dan ruwet. Wow apa yang bakalan dilakuin taemin naeun di part selanjutnya bikin aku kepo berat, jadi ga sabar buat baca part 4
    Oke semangat terus nulisnya yah

  9. Inii drii teaser akuu tnggu ehh trnyat udh smpe part 3 -,- mian thorr bru kment d part inii (っ╥﹏╥)っ ~ㅋㅋㅋㅋ crita bguss torr,, bnerbner kek wgm lnjutannya, uuaahhh,, akuu suka,, ayoo thorr next chat okeee :3 fighting (ง’̀⌣’́)ง

  10. author nya part 6 plisss :3
    I’d love this fanfic so much❤
    ceritanya bikin addict dan penasaran, dan aku suka cara penulisan author yang enak banget buat dibaca
    next part nya di tunggu ya🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s