Never Ever After – Part 2

Never Ever After

Author : Bella Jo

Main Cast : Key SHINee as Keyx | Liana Jo (OC)

Support Cast : Onew SHINee as Lucifer | Vera Zoldieck (OC) | Henry SJ as Henry | etc…(find it by yourself^^)

Length : sequel

Genre : romance, action, fantasy, tragedy, supernatural, adventure

Rating : PG-15

Summary : “Kau Anginku.”

Pohon mapple, pohon mapple!

Aku terus melangkahkan kaki yang terasa amat berat menuju tempat yang disebut Vera. Aku mengenal seluruh bagian hutan ini dengan amat jelas dan otakku tidak perlu memikirkan rute menuju ke sana. Semua berjalan dengan begitu alami, seakan tubuhku tidak lagi memerlukan komando pikiran. Sebagai gantinya, aku harus menahan semua pikiran selain membunuh gadis itu untuk tidak merasuki otakku.

Dia soulmatemu, Keyx. Dia bagian dari jiwamu!

Ingat, Keyx. Manusia yang menjadi soulmate tidak diberkahi rasa cinta terhadap si iblis.

Kau bisa membuatnya jatuh cinta padamu.

Atau kau sendiri yang akan jatuh cinta padanya dan mungkin harus berkorban karena perasaanmu itu.

Liana bukan gadis yang seburuk itu. Dia gadis yang butuh kasih sayang.

Tapi bisa saja dia akan menghancurkanmu dengan topeng kasih sayang. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Kau harus membunuhnya sebelum hal buruk menimpamu.

Aku semakin tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Keduanya sama benar dan sama salah. Sulit bagiku untuk berpikir lurus saat ini. Terutama saat laju angin menghembus pasti aromanya padaku. Dia sudah tak jauh lagi, aku yakin itu.

Keyx, kau sudah berjanji pada dirimu sendiri untuk membunuhnya!

Benar, aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan hal itu. Dan yang kubutuhkan sekarang hanyalah kemantapan hati. Aku tidak mau seperti kawanan Henry yang hancur karena ulah soulmate mereka. Aku juga yakin pada prinsipku bahwa iblis tidak memiliki cinta. Lagi pula, apa sulitnya untuk membunuh satu orang saja? Aku sudah pernah membunuh ribuan orang, bahkan tanpa butuh waktu lama. Ya, hanya perlu waktu kurang dari satu detik untuk melakukannya dan aku tidak lagi punya kelemahan yang nyata. Aku harus membunuhnya!

Langkahku semakin cepat, melawan laju angin yang seakan ingin mendorong dan menghentikanku. Namun aku tidak lagi peduli. Angin berhembus resah lewat gemerisik dedaunan yang kuterjang. Aku tetap tidak peduli. Angin berusaha menghembus pasti aroma si gadis, mengingatkanku lagi pada debaran ganjil yang sempat menghias dada. Aku masih tidak peduli. Angin menyayat tajam kulit dan pakaianku, memaksaku untuk berhenti. Aku takkan pernah peduli.

Karena hanya dalam dua langkah aku sudah bisa melihat jelas sosoknya. Gadis itu berbaring di atas hamparan daun mapple kering yang berwarna kemerahan. Tanganku terasa gatal untuk segera meremukkan salah satu bagian tubuhnya. Kecepatanku bertambah dan kelima cakarku terangkat tinggi, sangat tajam dan sangat beracun untuk menarik pergi satu jiwa dengan sekali sentuh.

Namun di saat aku hendak menghujamkan kelima cakarku, angin kembali mengusik. Ia menghamburkan aroma si gadis dengan benar-benar jelas, menerbangkan dedaunan kering yang terlihat indah dan menutupi pandanganku sekilas, berhembus cukup lembut tapi menghentikan tiap langkah yang hendak kuambil. Dedaunan yang bertiup dari arahnya berjatuhan kembali ke tanah, mengizinkanku untuk dapat melihat sosoknya. Angin kembali bertiup lembut ke arahku dan aku terdiam.

Aku tak lagi bisa tidak peduli.

Karena yang tidur di sana adalah gadis berwajah damai dengan senyum lembut di bibirnya. Rambutnya yang hitam kemerahan tergerai dibawa arus gelombang dedaunan dan angin. Di udara sedingin ini pipinya tampak jelas dengan warna kemerahan, kontras dengan kulitnya yang pucat. Tangannya terkulai lemas, tak ada penjagaan diri sama sekali. Sosoknya yang diam dalam damai itu sangat indah, bahkan walau rupanya tidak lebih cantik dari makhluk-makhluk lain bernama wanita yang pernah kulihat. Gaunnya yang lusuh dimakan umur itu bahkan membuatnya amat cocok dengan tempat itu, membuatnya menyatu dengan alam dan berbagai sentuhannya.

Hatiku melembut.

Sebuah rasa untuk ingin menyentuh tanpa melukainya pun muncul. Perlahan kelima cakar yang tadinya terpasang tajam menghilang, berubah menjadi sebentuk tangan manusia normal hanya karena keinginanku untuk dapat menyentuhnya.

Dan aku menyentuhnya.

Sebuah desiran muncul di dadaku, seakan ada puluhan kupu-kupu yang berterbangan dalam perutku. Ujung jariku mengenai pipinya yang kemerahan, mengikuti garis wajah dan akhirnya menangkup pipi berisi itu. Hangat, seakan ada jutaan arus energi yang mengalir ke dalam diriku, memberikan kehangatan tersendiri pada hatiku. Aku bahkan baru sadar bahwa aku memang punya hati.

Sentuhan kecil itu terasa belum cukup, sama sekali belum cukup. Tapi aku begitu takut menyentuhnya lebih jauh, takut menggores kulitnya yang rapuh dengan jariku. Aku tidak tahu kenapa, tapi seluruh bagian tubuhku menolak menyakitinya. Aku mengalihkan tanganku mengikuti garis lehernya, bahunya, lengannya, hingga sampai pada telapak tangannya. Aku tahu suhu tubuh gadis itu tidak sehangat manusia pada umumnya, tapi sudah sangat mampu menghangatkanku. Semakin aku menyentuh tangannya, semakin besar pula sengatan energi itu.

Tangannya kecil namun menampakkan jelas gurat lelah kehidupan. Tangannya bukan seperti tangan putri raja yang tak tergores setitik pun. Tangannya malah penuh luka gores kering, namun begitu nyaman untuk digenggam. Semakin jauh aku menggenggam tangannya, aliran energi menerjang deras tubuhku. Jutaan arus listrik menghidupkan tiap sel tubuhku, meregenerasi sel-sel yang telah mati. Dan aku merasa semakin hidup.

Dia tidak bersalah, tidak pantas bagiku membunuh gadis yang bahkan belum kudengar sekalipun suaranya. Secercah rasa agar gadis ini tetap hidup mulai membayangi hatiku. Ya, aku ingin dia hidup, aku ingin dia membuka mata dan meperdengarkan suaranya, aku juga ingin dia berada di sampingku selamanya.

Perlahan kutautkan kesepuluh jari kami. Kulitku yang biasanya dingin kini terasa hangat, seakan terkontaminasi kehangatan dirinya. Tangannya yang tidak sebesar tanganku entah kenapa terasa pas dalam genggamanku. Semakin kugenggam, semakin ingin aku melindunginya, dan semakin besar pula energi yang berkobar dalam tubuhku. Aku malah ingin menenggelamkan gadis itu ke dalam pelukanku, membelai wajahnya, menghirup aroma tubuhnya, dan menjadikannya milikku. Saaat rasa ingin memilikiya itu membumbung tinggi, hanya bisik lirih yang keluar dari mulutku.

Hey, soulmate. I’ve really found you…”

Who are you?”

Hatiku mencelos saat suara seorang gadis terdengar. Ya, bibir pucatnya itu tadi bergerak. Kedua kelopak matanya sudah terbuka sempurna, menampakkan jelas sepasang iris mata coklat gelap yang begitu kucinta. Jantungku berdebar tak karuan, menimbulkan gejolak rasa yang tak mampu dipendam. Sinar matanya hanya menatapku heran, tapi sama sekali tak nampak bahwa ia tidak nyaman.

“Siapa kau?” ulangnya lagi. Sebelah tangannya yang tak bertaut denganku terangkat, meraih wajahku yang dingin dengan hangatnya. Akhirnya kedua pasang mata kami saling berpandangan sempurna. Entah sejak kapan wajahku memanas hanya karena tatapannya. Ia menatapku seakan menanti jawaban. Apa dia bahkan tidak melihat warna iris mataku yang menyala-nyala?

“Aku…iblis,” jawabku sekenanya. Tak lagi mampu merangkai kata.

“Warna matamu menjelaskannya,” bisiknya pelan. Perlahan matanya menorehkan gurat kesedihan, namun tidak ada ketakutan sama sekali. “Apa kau datang ke sini untuk mengambil nyawaku?”

“Hmmm… Tadinya.”

“Lalu, apa yang menghentikanmu?”

“Kau.”

Matanya kembali dipenuhi tanda tanya. Ekspresinya manis sekali, membuatku ingin mencubit pipinya. Namun aku hanya ingin bermanja dalam sentuhannya yang memberiku energi penuh. Aku malah semakin bertanya dalam hati ‘kenapa kau bahkan tak takut padaku?’.

“Kenapa kau tak takut?” akhirnya kuutarakan isi pikiranku.

“Semua manusia memang akan mati…,” ujarnya.

Kenapa malah aku yang gemetar saat ingat kenyataan itu?

“Dan mungkin saja jalan kematianku kutemui lewat dirimu.”

“Kau terlalu banyak berpikir, baby boo…,” bisikku. Kupejamkan mataku dan menghirup aroma telapak tangannya dalam-dalam. Aroma cemara memenuhi indra pernciumanku. ‘Baby boo‘? Entah kenapa aku ingin memanggilnya seperti itu, karena dialah yang mampu menciptakan rasa ingin melindungi sekaligus ketakutan saat bersamanya.

“Mungkin, kaulah yang selama ini telah kutunggu,” ujarnya lagi.

“Hmmm?”

“Kau anginku.”

Matanya hanya menatap lurus ke arahku. Bibirnya terkatup rapat, tak lagi mengatakan apapun. Waktu yang bergulir terasa begitu cepat dengan aroma tangannya yang memenuhi pikiranku. Tangannya mulai dingin, mulai terpegaruh suhu tubuhku. Saat tak lagi merasakan hangat di tangannya, perasaan takut mencekam diriku. Aku semakin menginginkannya, hal itu tak dapat dipungkiri lagi. Namun merasakan dirinya yang mungkin akan jauh terpengaruh olehku, dirinya yang mungkin terluka karenaku, dirinya yang begitu rapuh membuatku semakin takut kalau ia takkan selamat karenaku.

“Apa kau yakin tidak ingin membunuhku?” suaranya memecah keheningan. Aku tertegun dibuatnya. “Aku tahu banyak cara membunuh yang dapat kau ciptakan hanya dengan sebelah tanganmu. Apa kau yakin tidak ingin membunuhku?”

Ia memejamkan kedua matanya, tangannya yang menangkup wajahku sudah terkulai lemas di samping tubuhnya. Kenapa ia begitu pasrah seperti ini? Ini membuat dadaku nyeri. Semua ingatan akan detik-detik aku ingin membunuhnya kembali merasuki pikiranku.

“Apa kau begitu ingin aku membunuhmu?” bisikku tertahan. Bibirnya tersenyum tipis, ekspresinya tetap tenang seperti biasa, “Tidak. Sebenarnya aku juga belum siap kehilangan hidupku…,” katanya. Ia menghela nafas pelan. Matanya menjelajah sekujur wajahku. Aku sama sekali tidak mengerti apa arti sinar matanya. “Tapi entah kenapa…jika kaulah yang akan mengambil hidupku, aku akan memberikan hidupku ini sepenuhnya padamu…”

Tuhan, apa kali ini kau memberiku hukuman?

Kenapa hukumanmu harus lewat gadis ini?

***

Senja mengikis hari, terus membiarkan sinar mentari digantikan redup rembulan. Di tiap hari yang tak pernah mampu mengubah sistem dunia, aku memandang gadisku dari kejauhan. Walau detik akhirnya berubah menjadi tahun, aku terus memandangnya tanpa memangkas jarak di antara kami. Gadis yang bahkan tak mengenal namaku. Setiap ingin memunculkan wujudku di depannya, aku begitu takut dia akan terluka karenaku. Aku takut tidak akan pernah mau melepasnya lagi. Dan semua cerita tentang soulmate dalam sejarah iblis pun ikut menghantuiku. Jarang sekali iblis yang memiliki soulmate berupa manusia memiliki akhir kisah yang indah. Karena kematian selalu memanggil si manusia saat si iblis tengah mencintainya sepenuh hati.

Soulmate

Aku ada di sana saat kaum kami mendapat kutukan itu. Seorang penyihir muda yang telah melakukan perjanjian dengan Tuan kami -Lucifer- yang mengikat kami pada kutukannya untuk mampu mencintai, padahal awalnya iblis tidak memiliki rasa cinta. Sebenarnya kutukan itu tak berdampak banyak. Toh, iblis tetap tidak memiliki cinta dan belas kasih kepada manusia selain soulmatenya. Iblis juga jarang sekali berjumpa dengan soulmatenya, kalaupun berjumpa mungkin hanya bisa bersama selama beberapa tahun saja.

Dan mungkin itu juga yang akan terjadi padaku. Aku jadi begitu takut kematian akan segera memisahkan kami. Karena seperti kata gadis itu, setiap manusia pasti akan mati. Hanya saja tak satupun yang tahu kapan, di mana, karena apa, ataupun saat bersama siapa. Dan jika ia langsung mati tanpa sempat menghabiskan waktu lama denganku, aku takkan rela.

Biarlah ia berubah tua dengan guratan keriput di wajahnya. Asalkan ia hidup lebih lama, asalkan kami bisa bersama lebih lama. Karena aku bukan mencintai raganya, aku mencintai jiwanya.

Cinta?

Ah, bahkan aku sendiri apa yang kurasakan ini benar-benar cinta. Setelah ribuan tahun hidup sebagai iblis, tak pernah sekalipun aku merasakan hal ini.

Yah, mungkin inilah cinta.

“Apa yang sedang kau lakukan, Keyx?”

Aku menoleh saat mendengar suara yang familiar di telingaku. Setelah membungkuk hormat sekilas, aku menjawab, “Sedang mengawasi soulmate-ku, Tuan.”

Dia tuanku, Lucifer. Dan kini ia memandangku dengan kerut di keningnya, “Kau menemukan soulmate-mu? Sejak kapan?”

Aku tersenyum kecil, lalu kembali melirik gadisku dari kejauhan, “Setahun belakangan ini…”

Tuanku merupakan iblis dari segala iblis. Dialah yang terkejam dan terdingin. Namun akhir-akhir ini ia jarang berulah, padahal dulunya ialah yang menyebabkan pertempuran terang-terangan antara kami dengan manusia. Kali ini ia tampil dalam sosok manusia berjas coklat lusuh dan kemeja yang agak kekuningan. Rambut kecoklatan yang mulai memanjang dengan sedikit aksen pirang. Wajah oriental yang tampak lembut dan putih itu sudah tak asing di mataku, begitu pula dengan sepasang mata merah-biru miliknya. Sudah puluhan tahun aku tidak bertemu dengannya. Aku tahu dia pasti baik-baik saja. Kalau tidak, hal buruk yang menimpanya pasti juga kami rasakan.

“Bukankah kau salah satu iblis yang paling benci dan tidak percaya akan adanya soulmate?” tanya tuanku. Aku tersenyum sendu dan menjawab, “Itu sebelum aku bertemu dengannya, Tuan.” Ia mengikuti arah pandangku, mendapati gadisku tengah memetik bunga mawar hitam yang tumbuh agak jauh di tengah hutan. Pakaiannya tak selusuh biasa, seutas pita merah muda melingkari lehernya. Ia tampak sangat cantik hari ini, walau bukan berarti ia tak cantik di hari biasa. Itu justru membuatku takut seseorang akan merebutnya karena kecantikannya. Gadisku tengah sendirian, temannya yang tadi ikut bersama tak lagi terlihat. Dan senyumku muncul dengan sendirinya hanya karena melihat sosoknya.

“Kau berubah, Keyx…”

“Aku berubah karena dia, Tuan.”

“Kau seperti bukan iblis saja. Bahkan cahaya merah di matamu sudah tak lagi tampak jelas.”

Aku hanya menggumam ringan. Mataku tak juga lepas dari sosoknya. Aku menggantung tinggi di atas pohon, memandang jauh ke arahnya yang entah kenapa masih terlihat begitu jelas di mataku. Hanya dia.

“Kira-kira apa yang akan kau lakukan saat ada yang membunuhnya?” tanya Tuanku setengah menguji. Aku tersenyum lemah, “Aku bahkan akan membunuh orang yang melukainya satu titik sekalipun.”

“Berarti kau harus membunuh semak mawar itu.”

“Tidak,” jawabku, “Karena aku tahu betapa ia sangat mencintai kelam warna mawar itu.”

Suasana di antara kami hening sejenak. Mungkin tuanku terlalu muak melihat tingkahku yang hanya memuja-muja seorang gadis belia. Tapi ia tetap bertahan dalam keheningan ini. Bahkan ia tidak protes ataupun mengeluarkan sindiran yang biasanya mengiris hati lawan bicaranya.

Hati,

Yah, kini aku memilikinya.

“Kau terlihat seperti orang bodoh saat ini. Kenapa kau tidak membawanya pulang dan memenjarakannya dalam kastilmu? Kau akan memiliki gadis itu sepenuhnya dan dia takkan bisa banyak melawan. Dia milikmu,” ucap tuanku tegas. Kulihat ia melipat lengan dengan kening berkerut samar. Aku juga sempat memikirkan hal itu, namun pikiranku selalu membantah dengan satu jawaban.

“Dia takkan bahagia jika kuperlakukan seperti budak di kastilku. Dan aku tahu aku tidak akan bahagia saat sadar bahwa ia juga tak bahagia.”

“Keyx, kau benar-benar berubah. Kau tidak seperti kunci kegelapan lagi-seperti julukanmu dulu,” tuanku terdengar kecewa. Aku hanya memasang wajah datar. Ya, aku memang sangat berubah, namun aku tak pernah menyesali perubahan itu. Dia melanjutkan, “Aku penasaran, bagaimana jika aku yang membunuhnya?”

Aku menatapnya tajam, kedua mataku kembali menyala. Dengan geraman yang keluar dari sela-sela gigiku aku berkata, “Jangan pernah mencoba memikirkannya, karena aku akan membunuhmu jika benar kau membunuhnya.”

“Walaupun akan menghancurkan dirimu sendiri?”

“Walaupun aku ikut hancur bersamamu.”

Aku pindah ke batang pohon lain dengan kesal. Lucifer sangat suka menjadikan ketidaksukaan makhluk lain sebagai kenyataan, lalu tertawa puas setelahnya. Aku masih belum mau menghadapinya, aku masihlah pengikutnya yang setia. Dan aku harap kali ia tidak bersungguh-sungguh.

Sebuah seringai muncul di bibirnya, membuatku muak. Ia mengikuti dan kembali menatap gadisku dengan kedua matanya yang berbeda warna layaknya surga dan neraka. Ia tersenyum penuh arti, “Aku juga belum mau kehilangan salah satu pengikut paling setiaku. Tapi sungguh, aku merasa ganjil dengan sikapmu, Keyx. Apa lagi yang kau lakukan sekarang?”

Aku tengah menggerakkan dahan dengan pelan, lalu mendorong laju angin untuk menghampirinya, gadisku yang ceria. Ia menahan laju angin itu sambil menutup mata, sebuah senyum bahagia muncul di bibirnya, membuatku ikut bahagia. Ya, dia pasti tau bahwa akulah yang mengantarkan angin padanya. Karena aku anginnya.

“Kau akan tahu saat kau bertemu soulmatemu sendiri, Tuan.”

“Aku tidak yakin akan hal itu.”

“Aku yakin,” bantahku. Kami saling bertukar pandang sebagai lelaki, lalu aku tersenyum sekenanya, “karena tidak ada satupun kaum kita yang bisa melawan rasa saat berada di depan soulmate kita.”

“Liana!”

Aku kembali menoleh ke arah gadisku. Ia tengah tersenyum menyambut sahabatnya, Vera Zoldieck, yang berlari menghampirinya. Pakaian Vera tidak lagi serba hitam seperti biasa. Kini ia memakai gaun sederhana berwarna krem dengan rambut disanggul tinggi. Aneh, bahkan ia sama sekali tidak membawa pedang. Mau ke mana mereka?

“Ayo cepat, beberapa jam lagi pesta pernikahannya akan dimulai dan bunga-bunga ini harus selesai dirangkai sebelum itu,” gumam Vera semangat. Ah, pernikahan? Berarti gadis di desa itu akan berkurang menjadi empat, dan salah satunya adalah gadisku.

“Kenapa kau semangat sekali?” tawa gadisku ramah. Ia memetik bunga terakhir dan memasukkannya dalam keranjang. Vera merangkul lengannya dengan gembira, “Aku hanya tidak bisa membayangkan betapa cantiknya Lionna nanti. Ia sungguh beruntung bisa menikah dengan Leonard! Ugh, kapan kira-kira ada pria yang akan melamarku? Aku juga ingin bisa menikah dan punya anak…”

Langkah mereka menjauh, dan aku tetap mengikuti keduanya. Anehnya tuanku juga mengikuti mereka bersamaku. Aku sempat meliriknya, namun ekspresinya tak mudah dibaca. Ia hanya melompat dari satu batang pohon ke batang lain tanpa banyak menimbulkan suara, matanya tertuju lekat pada sepasang gadis yang berjalan riang di bawah sana.

“Kau terlalu jauh sampai memikirkan pernikahan,” gumam Liana. Dari jarak sejauh ini aku masih bisa mendengarnya dengan pendengaran tajamku. Vera tertawa kecil dengan gaya kekanakan. Apa dia benar-benar hunter?

“Kita sudah mencapai umur yang cukup untuk menikah, Na. Memangnya kau tidak mau menikah? Kau bisa memiliki suami dan anak yang lucu-lucu.”

“Aku hanya akan menikah dengan orang yang mencintaiku.”

“Oh, ya? Aku yakin di desa kita ada juga lelaki yang jatuh cinta padamu. Ia hanya kurang berani menyatakannya.”

DEG

Benarkah? Benarkah ada lelaki lain yang mencintai gadisku di desa itu? Siapa?

“Aku tidak yakin, Ver. Tidak ada orang yang tertarik pada yatim piatu sepertiku. Kau tau itu melebihi siapapun.”

Vera mengangkat alis lalu memukul pelan lengan sahabatnya, “Kau berlebihan, Na. Aku sendiri pernah berjumpa dengan lelaki yang jelas-jelas menunjukkan ketertarikannya padamu. Tapi aneh, kenapa aku tidak pernah melihatnya lagi, ya?”

Eh? Siapa?

“Apa benar kau tidak salah lihat atau salah dengar?”

“Benar! Aku berani bersumpah! Sekitar setahun lalu ada pemuda tampan yang berdiri terus di depan rumahmu. Aku memang belum pernah melihat pemuda itu sebelumnya. Tapi sungguh, ia benar-benar manis. Aku bahkan memberitahunya tempatmu biasa berbaring dan ia langsung berlari ke tempat yang aku sebutkan,” jelas Vera sedikit memaksa. Ah, itukan…

“Lalu, apa kau bertemu dengannya?” tanya Vera lagi. Liana juga kelihatan termenung. Sepertinya ia ingat siapa lelaki yang dimaksud Vera. Liana menarik lengan Vera dengan wajah yang tampak serius, “Apakah lelaki yang kau maksud bertubuh sedang, berambut lurus dengan poni hampir menutupi mata kirinya, dan memiliki tulang pipi yang menonjol? Apakah kulitnya tampak benar-benar putih seperti pualam?”

“Hey, pelan-pelan!” sahut Vera, “ya, dia persis seperti yang kau ucapkan. Dia juga memberitahuku namanya. Hmmmm… Kalau tidak salah…”

Vera berusaha mengingat-ingat sementara Liana menantinya dengan tidak sabaran. Aku tersenyum melihat tingkah gadisku. Apa dia sebegitu penasaran dengan nama ‘lelaki’ yang ia sebut itu? Sebuah perasaan bahagia memenuhi dadaku. Baby boo, aku jadi benar-benar ingin muncul kembali di hadapanmu…

“Key! Namanya Key. Dia sempat mengucapkan namanya sesaat sebelum pergi menuju hutan. Ah, tapi aneh sekali. Aku sama sekali tidak pernah bertemu dengannya lagi…,” gumam Vera setengah berpikir. Tiba-tiba ia menatap Liana serius, “Kau pasti bertemu dengannya, kan? Bagaimana menurutmu? Apa yang kau lakukan padanya? Kenapa ia tidak pernah muncul lagi?” Vera mengeluarkan pertanyaan bertubi. Sungguh, dua gadis itu benar-benar unik. Ah, atau manusia memang makhluk yang sangat unik?

Liana tersenyum sekenanya, menjawab pertanyaan Vera secara tidak langsung. Perlahan ia menatap ke arah langit, membuatku was-was, takut matanya malah menangkap sosokku di atas sini. “Jika kami memang ditakdirkan untuk bertemu lagi, maka kami pasti akan bertemu…,” ujarnya pelan, disela senyuman yang semakin kembang, “karena ia pria yang dihembus angin padaku. Ah, tidak! Dialah anginku…”

Aku tersenyum mendengar jawabnya yang seakan memanggil diriku padanya. Ia kembali menatap pepohonan hutan dan kemudian melanjutkan langkahnya diiringi Vera yang masih tampak belum mengerti. Liana Jo, dialah gadisku yang luar biasa dan aku sangat bahagia melihatnya hidup senang walau dari kejauhan.

“Siapa gadis yang bersama gadismu itu?”

Pertanyaan tuanku memecah keheningan di antara kami. Aku menoleh padanya, menemukan ekspresi ganjil bergejolak dalam cahaya matanya. “Namanya Vera Zoldieck, salah satu hunter muda yang tinggal di desa yang tak jauh dari tempat ini,” jelasku. Aku menelisik wajah tuanku, semakin heran dengan kerutan dalam yang terpatri di wajahnya. Biasanya ia bersikap amat tenang, hanya senyum licik yang bisa membuat wajahnya sedikit berwarna. Aneh, apa yang ada dalam pikirannya?

“Gadis itu…seumuran dengan gadismu?” Tuanku kembali bertanya setengah menggumam. Aku balik bergumam mengiyakan. Bisa kulihat seluruh bagian tubuhnya menegang dan wajahnya seakan menahan berbagai rasa yang ada.

Apa yang sebenarnya terjadi padanya?

“Kenapa harus dia?” bisik tuanku datar. Aku masih tidak mengerti. Sampai akhirnya aku sadar akan satu hal…

Uh-Oh.

“Aku menemukanmu…,” bisiknya setengah frustasi. Matanya masih memandang ke arah gadis tadi. Dan bisa kurasakan gejolak familiar darinya saat aku pertama kali bertemu pandang dengan Liana.

***

Hari yang panjang ini akhirnya berlalu. Setelah setengah mati menahan diri tidak muncul di hadapan Liana saat pemuda-pemuda itu berebut perhatiannya di pesta pernikahan tadi, aku kembali ke kastilku dengan pikiran yang lelah. Tuanku tampaknya sudah berada lama di sana, tengah menyesap teh mawar hitam yang mulai sangat kusuka sejak setahun belakangan. Aku mendekatinya dan menghempaskan diri di sofa merah tua bebas debu kesayanganku. Ia melirikku sekilas dan meletakkan cangkir tehnya.

“Hmm… Akhirnya kau kembali juga, Keyx,” ucapnya dengan suara datar.

“Ya, maaf karena tidak bisa menghabiskan waktu denganmu, teman lama. Kau tau apa yang mengekangku,” jawabku disertai tawa sumbang. Ia hanya menatapku datar, “Kupikir kau malah akan terus mengawasinya tanpa kembali ke tempat ini.”

“Ah, aku tidak separah itu,” sahutku ringan, tersenyum kembali mengingat sosok gadisku, “aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja selama berada di luar rumah. Aku yakin tidak akan ada hal buruk yang terjadi padanya di dalam rumah mungilnya.” Aku menerima cangkir teh yang disodorkan pelayan kastilku dan menyesapnya pelan, “Aku justru heran kenapa kau begitu tenang setelah bertemu dengan pasangan jiwamu.”

“Aku tidak mau menakutinya,” sahut tuanku pelan. Ia kembali menyesap isi tehnya, “belum saatnya aku muncul di depannya. Aku belum menemukan saat yang tepat agar dia jatuh dalam manipulasiku.”

“Aku tidak yakin akan hal itu,” ucapku, “mungkin malah kau yang akan jatuh dalam manipulasinya. Kau tau, dia SOULMATE-mu.”

“Hmm? Kau tampak yakin sekali, Keyx.”

“Tentu saja. Karena soulmate-ku sendiri berhasil memanipulasiku tanpa perlu mengeluarkan suara.”

Aku merebahkan tubuh di atas ranjang. Para pelayan kuperintahkan keluar tanpa suara. Cermin besar di dinding yang memantulkan bayangan normal mulai menampakkan pantulan bayangan Liana saat aku menjentik jari. Sambil berguling pelan di tempat tidur, aku mengernyit alis dengan heran. Apa kira-kira yang ia lakukan di tengah hutan pada jam segini?

Baiklah, aku tahu gadis itu memang aneh. Tapi tak kusangka ia mau menjelajahi hutan dengan gaun pestanya itu. Langkahnya perlahan seperti biasa, sentuhan lembutnya menyapu berbagai helai dedaunan yang masih merimbuni pepohonan hutan. Pepohonan yang tumbuh rendah, seakan tumbuh sambil merindukan sentuhnya. Matanya yang beriris coklat menjelajah liar, seakan mencari sesuatu di sana.

Ah, aku ingat apa yang kurang dari dirinya! Pita merah muda yang menghiasi leher jenjangnya saat mengumpulkan bebungaan di hutan demi pengantin wanita. Pita lembut yang tadinya hendak kupungut saat benda itu tersangkut di ranting. Namun benda itu pula yang kembali mengingatkanku pada perbedaan yang kami miliki. Perbedaan alami pada diri kami.

Perbedaan yang terus menahanku untuk memunculkan diri di hadapannya.

Entah kenapa aku tak pernah tahan membiarkannya berkeliaran sendirian di luar. Aku langsung bergegas dari kasur empukku dan melewati pintu yang berada di ujung ruangan. Aku punya firasat buruk kali ini, entah karena apa. Dalam hati aku berharap agar gadisku itu baik-baik saja, harapan yang kutujukan entah pada siapa. Setiap potongan memori akan dirinya serta rimbun hutan itu memenuhi pikiranku. Dari kejauhan aku mendengar suara nyaring kawanan serigala, suara auman mereka yang menyayat hati maupun telinga. Oh, aku baru sadar kalau hari ini kawanan serigala abu-abu memulai perburuan mereka di kawasan hutan itu. Sial, bagaimana dengan Liana?

“Keyx, kau dengar suara serigala itu,” Lucifer menghadang jalanku yang sudah tergesa. Aku mendecak pelan dan berkata datar, “Aku tahu.”

“Kawanan itu tak pernah menyukai kita.”

“Mereka memang tak pernah bersahabat dengan siapapun.”

“Dan kau harus tahu bahwa hunter dari hutan barat sudah kembali untuk memburumu.”

Kali ini aku menghentikan langkahku setelah mendengar kalimat tadi. Itu bukan suara Lucifer, melainkan suara Henry. Ia berdiri di ambang pintu keluar sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya yang datar tampak pucat saat berkata, “Aku yakin kau paham betul siapa hunter barat yang selalu memburumu, hunter yang terobsesi padamu, Keyx.”

Aku langsung memutar bola mata dan mendecak keras saat mengingat sosok yang dimaksudnya. Aku tak pernah melupakan hunter satu itu, takkan pernah. Dengan memori akan dirinya aku langsung melompati pagar istana suramku dan melayang terbang dengan kedua sayap pekatku. Pikiranku akan Liana terusik ingatanku akan gadis lain. Gadis itu…gadis aneh yang selalu berusaha keras membunuhku itu… Sudah dua tahun lamanya kami tidak bertemu dan aku cukup penasaran bagaimana kemampuan dan penampilannya sekarang. Cih, ini bukan saat yang tepat untuk pertarungan antara kami berdua. Namanya berputar-putar dalam kepalaku dan tiba-tiba saja meluncur di lidahku.

“Bells Everrose.”

***

Auman serigala. Rimbun gelap dedaunan. Cahaya bulan purnama yang menembus lapisan ranting hingga sinarnya mencapai permukaan tanah. Aku mendesah ringan menahan cemas yang menggila dalam pikiran. Oh, ayolah sayap! Apa tidak bisa lebih cepat? Aku berusaha keras mengepakkan sepasang benda berwarna hitam legam yang menempeli punggungku sambil merutuk sebal. Beberapa kali mataku menangkap kehadiran anggota kawanan serigala di berbagai penjuru hutan. Syukurlah aku masih belum bertemu dengan hunter yang sempat disebut Henry.

Namun sepertinya aku terlalu cepat bersyukur.

Tiba-tiba seseorang melompat tinggi dari cabang pohon yang tak begitu jauh dengan sebilah anak panah terarah padaku. Senyuman itu, sinar mata biru kehijauan yang penuh percaya diri itu. Rambut coklat pendek yang tetap kaku walau tertiup angin kencang itu. Sial! Itu dia!

CLESS

JLEB

“Kena kau, Keyx.”

Sial! Sial! Sial!

Kedua sayap hitamku terbakar setelah berlubang berkat anak panah yang sepertinya telah direndam dengan holly water. Aku mengerang pelan, tidak ingin memberikan kepuasan pada si pelaku dengan memperdengarkan aduhanku. Namun tanpa perlu mendengar keluhan, gadis bertubuh ramping dengan sepatu boots hitam menghiasi kakinya itu telah tertawa lepas dan beranjak cepat ke arah tempat di mana tubuhku terjatuh. Sepasang mata yang warnanya amat bertolak belakang dengan warna iris mataku itu selalu membuatku kesal. Hanya dengannya aku malas bermain-main karena ia bukan sekedar ingin bermain ataupu bertarung hidup mati denganku. Ia ingin MEMILIKIku.

“Hey, Keyx. Lama tak jumpa. Kelihatannya kau merindukanku, terlihat dari caramu menatapku,” suaranya yang terdengar geli diselingi tawa itu membuat adrenalin terpacu. Tanpa membuang waktu aku melipat sayap dan membiarkannya hilang dari pandangan mata si hunter.

Bells Everrose berada tak jauh dariku. Tapak bootsnya masih melekat pada permukaan batang pohon sementara tangannya menggenggam erat sulur yang ia gunakan untuk berayun sebelumnya. Aku berdiri tegak, menatap langsung ke arahnya. Ia tak terlalu banyak berubah. Warna kulitnya masih gelap dan lengannya masih tetap dihiasi otot yang menunjukkan dengan jelas bahwa ia makhluk terlatih. Tubuhnya tetap seksi –aku akui itu– dan ia tetap menggoda. Sayangnya ia liar, bukan tipeku.

“Hey, Bells. Kau tetap menawan seperti biasa,” ucapku berbasa-basi, “bisakah kita bertukar salam lain kali saja karena sekarang aku sedang tidak punya waktu untuk bersenda gurau denganmu.”

“Oh, Keyx-ku sayang, apa kau tidak tahu betapa aku merindukanmu? Lagi pula apa yang lebih penting selain diriku bagimu? Kita sudah menjalani kebersamaan yang indah selama bertahun-tahun dan kau melupakan hal itu begitu saja? Aku sangat kecewa.” Bells menyuarakan kalimatnya dengan gaya menggoda, begitu lancar seakan dia baru saja menjelaskan kenyataan yang memang ada. Bualannya tak pernah berubah. Gadis ini benar-benar tidak mengerti situasi yang sedang kuhadapi? Ah, mungkin dia malah akan semakin memperlama urusan kami jika pun ia tahu.

“Sekarang ada hal yang lebih penting darimu, sweetheart. Jangan salahkan aku jika menyakitimu karena aku sangat terburu-buru,” jawabku datar. Ia mengerutkan alis, tak terbiasa dengan undangannya yang tak kugubris. Alisnya terangkat dengan ekspresi curiga, “Apa yang lebih penting, Keyx? Jangan bilang itu…”

Soulmate-ku, sweetheart.”

Ekspresinya mengeras. Oh, ia mengangkat pedangnya. Sudah kuduga, ia akan marah besar mendengarnya. Begitu kedua kakinya menapaki tanah kembali, ia memandang bengis diriku dan aku tidak menyukai hal itu. Lewat sela rapatan giginya, ia menggeram, “Kau tidak pernah punya soulmate, Keyx.”

“Sekarang aku punya.”

“Kau tetap milikku.”

“Pada dasarnya aku hanya menghamba pada Lucifer.”

“Kau selalu jadi milikku, Keyx. Takkan kubiarkan kau memandang gadis lain walau itu soulmate-mu sekalipun!!”

“Tidak semua hal di dunia ini berjalan sesuai keinginanmu, sweetheart.”

We’ll see it, baby.

TRANGG

Dua pedang beradu, dua pedang yang sama gelapnya. Mata kami bertemu dengan nafas memburu. Selama ini aku tahu Bells Everrose adalah gadis tangguh yang cantik, namun keindahan itu tertutupi oleh kebengisannya. Ia menekan keras pedangnya melawan pedangku. Tak ada keinginan untuk mengalah, yang ada nafsu untuk menang.

Sweetheart, kalaupun aku mati di tanganmu, aku tak pernah jadi milikmu. Aku hanya menjadi debu, sama seperti kawananku yang kau tebas selama ini…,” bisikku dengan suara rendah. Wajah kami sangat dekat tanpa ada aura bersahabat sedikitpun. Kalimatku mengundang senyum di bibir merahnya, “Keyx baby, kalau benar kau menjadi debu maka aku akan mengumpulkan tiap titik dirimu dan memasukkanmu dalam toples di sakuku. Itu akan mempermudah diriku membawamu ke manapun.”

“Oh, aku ketakutan.”

TRANG

Begitu pedang kami tidak lagi saling kontak, ia melompat jauh dan segera melemparkan beberapa pisau pendek ke arahku dengan gerak cepat. Kurang dari satu detik aku menghindar dan segera menyusup ke belakangnya. Namun aksiku ketahuan olehnya dan ia langsung mengalungkan kedua lengannya di leherku sementara tubuhnya mulai berayun ke belakang tubuhku. Sial, gadis pintar ini menggunakan tubuhku sebagai pegangannya. Ia menendang telak punggungku dengan ujung bootsnya yang tajam dan tubuhku terpental jauh menabrak pohon yang berjarak lima meter dariku.

BRUAKK ZRAKK ZRAKK BAAAM

Demi semua burung-burung hutan yang selalu menyanyikan kicauan yang lebih indah daripada auman kaum serigala sialan itu, tubuhku sakit sekali. Aku tak lagi bisa merasakan hembusan angin ataupun pecahan batu maupun ranting yang mengiris tubuhku. Suara tapak kaki itu begitu menyebalkan. Apa ia tengah mendekat ke mari?

Tell me, Keyx, why are you so different today? It’s not like fighting you, baby.

Who knows…,” batuk menyuarakan rasa sakit yang menghantam tubuh. Pohon yang kuhantam tumbang begitu saja, bisa dibayangkan betapa kuatnya tenaga hunters satu ini. Akan lebih mengerikan jika aku bukan iblis. Dengan gerak tertatih aku kembali menghadap gadis itu. Beberapa bagian kulitku retak karena ulahnya namun aku tidak pernah mau tampak kalah. Senyum tersungging di bibir saat aku melanjutkan, “…my soulmate changes me so much even I’ve never realized it at all. Isn’t that amazing?”

Kedua alisnya melengkung tajam, matanya dibakar bara amarah, “No, Keyx. That’s stupid.”

“Aku tidak ingin bertarung denganmu, sweetheart. Kau tahu itu.”

“Ini tidak perlu terjadi kalau saja kau tidak punya soulmate, Keyx.”

“Ini di luar kuasaku. Salahkan nenek moyangmu yang menyebabkan kutukan ini terjadi.”

“Jangan pernah bawa-bawa nama nenek moyang-ku, Keyx!!”

TAK TAK TAK

Tiga pisau tajam melayang ke arahku, menghantam tepat titik-titik vitalku. Kali ini kulitku tak sekedar retak, ia mengeluarkan darah hitam dari luka tusukan itu. Erangan kusuarakan nyaring, namun hanya mengundang dengus puas darinya. Ia sedang tidak ingin main-main, matanya mengatakan hal itu. Aku menggeram keras, sama sekali tidak suka akan tindakannya. Dan hal selanjutnya yang terjadi adalah pertempuran gerak cepat yang mematikan.

Sabetan benda tajam dan cakaran beracun mengisi ruang gerak kami. Sesekali ia menyuarakan rasa sakit sementara aku hanya berdesis nyaring. Kemampuanku menyembuhkan diri memiliki batas dan lukaku tak bisa sembuh begitu saja. Aku butuh tenaga, aku butuh energi negatif manusia.

TRANGG

“Hhh…hhh….hhh…,” paru-parunya sibuk menarik oksigen, tergesa melepaskan karbon dioksida. Aku sendiri melayangkan tubuhku ke arahnya. Sebuah permainan akan tercipta di antara kami, permainan yang dapat membuatku dapat menghisap energi negatif dan amarah darinya. Semakin dekat, semakin lezat. Ternyata tanpa perlu kumanipulasi pun ia telah dipengaruhi berbagai pikiran negatif. Hanya butuh sedikit manipulasi dan ia akan jatuh ke genggamanku. Sebuah seringaian langsung tergambar nyata di bibirku saat sebuah rencana apik muncul dalam fikir.

“Lelah, sweetheart? Sepertinya pertambahan umur menguras cukup banyak tenaga. Kau sudah tidak muda lagi…,” bisikku di telinganya. Gerakanku yang cepat mampu menghindariku dari sabetan pedangnya. Ia tampak marah, namun masih berusaha meredam gejolak itu.

“Kau berkata seakan kau tak pernah bertambah tua, iblis…,” geramnya. Ah, masalah umur dan penampilan memang sensitif bagi wanita. Aku melayang-layang di udara, berguling ringan seakan tubuhku baik-baik saja. Aku berkata, “Aku memang bertambah tua secara usia. Namun penampilanku selalu muda, masih sama seperti saat aku bertemu dengan nenek moyangmu itu.”

“Jangan sebut-sebut tentang dia di telingaku!!”

“Wanita itu yang menghancurkan takdir kaumku dan kau ingin aku melupakannya begitu saja? Tidakkah kau bangga padanya? Tugas kalian sebagai hunters sedikit berkurang karena adanya soulmate bagi kami. Tapi karena itu pulalah kau tidak akan pernah memilikiku, sweetheart.”

“Hentikan, Keyx!! Aku tidak mau mendengarnya!!!”

“Aku milik soulmate-ku, sweetheart, dan itu takkan pernah berubah.”

“AAAAAAAAAAAHHHHH!!!!!”

Tanpa sempat menghisap energi negatif yang ia ciptakan, Bells langsung melompat dan berlari menjauhiku. Ia tahu bahwa aku sudah menerobos pertahanannya dan ia tahu akan amat berbahaya baginya jika aku berhasil menghisap energi itu darinya. Ia selalu tahu karena dialah hunter yang paling setia memburuku selama lima belas tahun terakhir ini. Dialah hunter yang paling bahagia saat melihatku menggelepar kesakitan. Hunter yang paling mudah diprovokasi jika sudah menyangkut diriku.

Dan aku selalu bertanya-tanya kenapa ia begitu terobsesi untuk memilikiku.

Namun semua hal itu tak penting untuk saat ini. Auman serigala semakin sering terdengar. Aneh sekali, mereka belum muncul di tempat ini dan menyergapku. Seperti kata Lucifer, mereka tak pernah menyukai kaum kami. Aku tahu itu. Dan mereka juga tak pernah menyukai kaum lain, termasuk manusia.

Kecuali sebagai santapan.

***

Pecahan ranting, sayatan angin, tajamnya batu. Aku tak lagi dapat merasakan semuanya saat tubuhku melaju, berlomba dengan waktu. Hidungku mencium aroma yang amat kukenal, namun tak kusuka. Aroma serigala. Sialnya aroma itu bercampur dengan aroma manis gadis yang kucinta. Sial! Sial! Sial! Artinya aku sudah berada di dekat mereka, artinya gadisku juga berada dekat anggota kaum serigala. Aku tidak tahu harus memohon pada siapa, tapi kuharap gadisku tak terluka.

Geraman tajam, langkah kaki. Bisa kurasakan nafasku semakin sesak, paranoid mendesak. Kakiku tak lagi melangkah, keduanya melayang seakan tak memijak tanah. Aroma hutan bahkan samar di hidungku saat bau serigala busuk melekat di tiap bagiannya. Walau aku sudah dapat memperkirakan dimana dirinya, namun rasa takut memudarkan segalanya. Liana, di mana kau?

Bau ini, semakin dekat. Tidak, keduanya benar-benar dalam jarak mematikan. Entah bagaimana kubawa tubuhku semakin menyusupi hutan. Begitu kedua lensa mataku menangkap bayangan gadis bergaun putih tengah menarik pita merah muda dengan jari-jarinya, nafas lega terhembus dariku seakan aku memiliki paru-paru. Gadisku masih hidup, masih menghembuskan nafasnya dengan lembut. Saat itu aku ingin menghentikan waktu, karena aku sadar aku tak bisa kembali berada di dekatnya.

Kusisipkan tubuhku tak jauh darinya, namun tak juga tampak baginya. Jarak yang aman, jarak yang memastikan diriku masih berada di dekatnya. Nafasku tertahan, tanpa peduli seberapa sesaknya dada yang telah memompa unsur-unsur pengaktif energi saat aku berlari tadi. Namun gadisku memang peka, tampaknya ia menyadari kedatanganku.

“Key? Kaukah itu?”

Demi waktu yang tak bisa ditarik ulur dan demi Tuhan yang selama ini selalu kuhujat, kenapa gadis itu malah menyebut namaku? Walau itu bukan sebenar-benarnya namaku, tapi aku tahu bahwa itulah nama yang ia kenal untuk menyebutku. Tubuhku semakin lemas hanya karena lantunan suaranya.

“Key, tak apa. Kau bisa muncul di depanku. Aku tidak takut padamu…”

Apa dia memang punya kemampuan yang melebihi ahli sihir manapun untuk membaca pikiranku, atau pikiran kami memang saling terhubung satu sama lain? Aku memang selalu menahan diri untuk muncul di depannya karena tidak ingin melihat ekspresi ketakutan di wajahnya. Terlebih jika aku yang menyebabkan terciptanya ekspresi itu.

“Key, aku…”

SRAAAKK

BRAAAKK

Nafas, suara nafasnya terdengar jelas mengisi rongga telingaku. Tanpa sadar tubuhnya sudah berada dalam pelukku. Seekor serigala abu-abu terkapar bersimbah darah di dekat kami, lenguhannya menyayat hati. Kulirik kelima cakar kananku, darah segar menghiasi mereka. Dan saat kulirik gadis yang berada dalam pelukku, ia terlihat sama terkejutnya. Akhirnya aku benar-benar mencerna apa yang telah terjadi padaku, pada kami.

Aku menyelamatkan gadisku dari serigala yang tiba-tiba melompat ke arahnya.

Nafas kami berdua masih saling tak teratur, namun aku tahu kami tak bisa saling diam begitu saja. Sayangnya kedua bola mata coklat itu seakan menyedot ruhku dari dunia, membawaku terbang jauh dan tak lagi menapak bumi. Ia juga balas menatapku. Hening menjadi bahasa antara kami, bahasa yang tak sanggup diartikan dengan kata apapun di dunia ini. Aku tak bisa merasakan apapun saat bersamanya.

“Awas!!”

Kosong. Pikiranku benar-benar kosong. Dunia berputar balik dalam hitungan detik. Aroma anyir darah semakin memenuhi, merebak di segala arah. Gadisku masih di pelukku namun perhatiannya teralihkan pada hal lain. Tatapnya tertuju pada seekor serigala coklat tua yang perutnya telah tertembus pedang. Oh, itu pedangku. Sejak kapan benda itu berpindah tangan begitu saja? Dan saat ia menarik benda tajam itu, tercium bau darah yang semakin tajam.

“Key, kau baik-baik saja?”

Tidak, aku tidak baik-baik saja. Aku terlalu shock saat menyadari apa yang terjadi di hadapanku. Liana melepas rengkuhanku perlahan lalu memperhatikanku dengan penuh khawatir. Tidak, Liana. Aku tidak terluka –jika itu yang memang kau khawatirkan, baby boo. Hanya saja…

“Maaf, aku terpaksa melakukannya. Apa kau…takut padaku?”

Suaranya yang terdengar lemah dan putus asa membuatku sadar pada apa yang dikhawatirkannya. Ia menunduk kecewa. Aku terdiam tanpa kata. Selang seperseribu detik kutarik tangannya hingga ia kembali dalam rengkuhku dan kubawa ia melompati pepohonan yang memenuhi ruang hutan ini. Suara-suara menyebalkan itu mengganggu lagi, lenguhan keras yang menyayat malam.

Serigala berengsek, mereka mengganggu saja.

__Tbc__

 

©2013 SF3SI, Bella Jo

bella-jo-signature

Officially written by Bella Jo, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

22 thoughts on “Never Ever After – Part 2

  1. yeeei.. si Jinki ketemu soulmatenya si Vera..

    oooww, jd si Key gk langsung deket sama Liana, ada jede setahun mereka ketemu lg.. lumayan lama jg ya, dan si Key bisa tahan hanya mengamati dari jauh.

    Saya agk berharap ada sedikit perlawanan dari Liana waktu Key ngedeket.
    sebenernya perasaan Liana sendiri spt apa sama Key, apa makna “anginku” itu?

    ditunggu selanjutnya Bella^^

    1. yups, akhirnya oh akhirnya mereka ketemu juga. lucu aja bayangin jinki yg udh sok setengah mati malah langsung jadi melankolis begitu jumpa vera^^

      iy, si key ama liana kan ada keterikatan batin gmn gitu jadinya saling g bs melawan rasa yg mendesak di dada *apaan? hahahaha

      hmmm…. masih ada rahasi yg disimpan Liana. kalo sempet dia menjauh dari key lagi kan kasihan key-nya yg terlalu banyak menerima cobaan. hahahaha…

  2. aaaaa…. kenapa tbc??!! nanggung bgt!!! endingnya bikin penasaaran beneran, summpaahhhh!!!!
    àku masih penasaran ma penyuhir yg mengutuk iblis sehingga bisa jatuh cinta, hebat bgt dia!! haha….
    aduh si Lucifer akhirnya ketemu jg dg soulmate-nya…
    onew menjilat lidahmya sendiri, hehe…
    memangnya apa yg mbuat Liana tiba2 minta maaf ma Key?? jd penasaran bgt nih…
    Ayo lanjut Bellla, ku tunggu next chap…
    Keep writing!!🙂

    1. justru karena nanggung makanya dikasih tbc. hahahaha…. *author digampar
      eee… sebenernya kalo udh pernah baca cerita yg sebelumnya pasti tahu kok siapa penyihirnya itu. daripada kamunya susah cari cerita sebelumnya, aku kasih deh bocorannya. penyihir itu adalah Taemin. kenepa bisa? itu panjang ceritanya. haahahaha….

      onew menjilat lidah atau ludah nih? kekekeke…oh, itu akan dijawab d next chap. tunggu aja , y~ thanks for your comment, sisca~

  3. Aku ngerasa kayak lagi nonton film big movies ciptaan nya holywood *apaan itu?

    Yang jelas, aku penasaran tentang hunter cewek itu. Aku ikut penasaran kenapa dia pengen memiliki key? Key itu kan milik aku? *abaikan-_-

    Lanjutan nya, jangan lama-lama ya thor ? Ntar aku malah lupa cerita sebelum nya..*apaan lagi itu-_-
    hehe

    1. penasaran sama si Bells? kekeke… sabar aja ya. porsi munculnya lumayan banyak kok. nnt dia bakal jadi orang ketiganya gitu deh… *bocorrrr

      wah, rada sabar ya. soalnya otak author masih mumet n buntu karena g dapat inspirasi. moga2 aja g lupa karena kelamaan^^

      thanks, amelockets^^

  4. Bella Eonniiiiii!!! Akhirnya😀
    Endingnya bikin geregetan T.T Nanggung Eon, bikin penasaran T.T

    Sedikit balik ke Devil’s Game, Jadi sebenernya Onew itu udah ketemu ama Vera ya sebelumnya?😮 Uwo.. Pantes :3

    OKEY, Kutunggu kelanjutan dari dirimu Eonni..😉

    FIGHTING! (9^O^)9

    1. wah, ada Sihyun.
      kalo g greget kan ga bakal asyik, makanya sengaja dibuat greget. kekekeke…

      oke, tunggu aja lanjutanny y, Sihyun. thanks udh baca^^

  5. ahhh akhirnya keluar jugaaa… ada jinki pula rrrrr…
    key manis bangeeet disini terlalu buta akan cinta..
    liana ada rasa juga kan sama key
    ahhh gasabar nunggu part selanjutnya
    next part, akan kutunggu

    1. iya, maaf y nunggunya klamaan…
      haha… iy dong, ada Onewnya. and kapan sih Key g manis? hahaha….
      liana? ada rasa ga yaaa…. atau??
      #gampar author

      thanks udh baca, widya

  6. Waah akhirnya mereka ketemu?!! Yeyee dan lebih nyenengin lagi karena liana nggak takut sama key <33 ahh, dan si lucifer juga sudah menemukan soulmate nya😀
    Dan muncul pengganggu — huh padahal udah asikasiknya muncul lagi satu —

    Heem, tapi kak, kayanya ada bagian yang mirip sama ff apaa gitu :3 hmm cuma satu bagian aja sih. ^^ btw aku tunggu yg part 3 ^^
    -andrea

  7. Akhirnya part 2 nya udh ada… seneng deh bacanya..

    Jd nnt soulmatenya onew itu vera? terus nnt liana nya gmn? wahh.. jd penasaran. Di tunggu part 3 nya ya.. :))

  8. AKU DATANG!!!
    thanks buat kadonya yang tempo hari itu
    dan racauanku bakal berlanjut di sini hahaha

    masih pengen ngakak sama lucifer yang akhirnya mati kutu ketemu soulmate-nya
    kebayang banget rasanya kaya ditampar sama sendal swallow gitu lah
    gimana enggak kaya abis ngritik bum kalo dia berubah gini gitu tau-tau beberapa saat kemudian dia cuma melongo lantaran malah ketemu sama soulmatenya

    tetep fokusku sama holy kibum with his fight scene
    huhuhu yaampun dia pasti seksi banget berdarah-darah gitu
    jadi pengen dijilat *eh*
    all hail banget sama itu hunter yang ngebet sama bum
    kaya gimana enggak mungkin kalo aku jadi hunter juga bakal begitu
    sayangnya aku nggak seksi aja
    jadi ntar kaya anak kecil ngejar-ngejar bum
    sedih ;__;

    trus yang bagian terakhir itu beneran bikin greget-greget uh
    nggak sabar nunggu fight scene atau part ehm romancenya
    cause kibum is the perfect definition of sexiness
    aakkkk otakku mulai corrupt *melantai*

    aduh udah ya daripada ini comment box makin aneh-aneh
    aku capcus dulu
    telimikici, ditunggu part 3 nya~

    1. maaf telat banget balas komen kk…

      hihihi… itu pelajaran buat si lucifer supaya g ganggu2 si key yg lagi kesemsem abis sama soulmatenya^^ sendal swalownya bonyok duluan kalo dipake untuk nampar pipi gembul onew, kk. hahaha…

      iy, fokusny mmg lebih k fighting scene yg menurut bella cukup susah dibuat krn cerita ini pake pov-nya key. tapi dia ttep smexy abis. hahah… tuh cewek hunter bakal diceritain d part selanjutnya jadi sabar aja dulu, ya…

      so, the conclusion for this part is Kibum is the perfect definition of sexiness. kekeke

      thanks, kk~

  9. Astaga… Aku abru sadar aku baca part dua nya tp belum baca part satu nya. Tp aku nyambung banget sama ceritanya… Hahaha😄 ya udah aku baca part satu dulu deh…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s