The Hollow

thehollownew copy

The Hollow

Author             : Faciikan

Main Cast        : Choi Minho and I

Support Cast   : -none-

Genre              : romance; marriage life; angst

Rating             : General

Summary         : Aku bertanya-tanya apa ia masih mencintaiku.

A.N                     : This was inspired by Taylor Swift’s Superman song. Tapi jauh melenceng dari original songnya. A bloody pathetic attempt on song fic, really.

“Aku pergi.”

Ia berkata lagi dan aku hanya mendesah. Dia pergi, hari lain dia bekerja dan hari lain bagiku tinggal di rumah. Itu terjadi berulang kali selama setidaknya sebulan. Ia bangun jam enam dan memasak sarapan bagi kami berdua. Kami akan sarapan dalam diam setelah itu ia mandi selama lima belas menit. Ia berpakaian  dan meninggalkan apartemen kami jam delapan. Ia biasa pulang dari kantor jam tujuh; kadang ia membawakanku buku untuk kubaca dan makanan-bawa-pulang karena aku tidak bisa memasak saat itu.

Itu adalah realita yang menyedihkan, dari sebulan yang lalu aku merasa ia tidak mencintaiku lagi.

Aku pergi ke laptopku dan melanjutkan hal-hal yang belum kuselesaikan sebelumnya. Aku bisa duduk di depan laptopku berjam-jam dan membayangkan segala skenario yang mungkin untuk ceritaku. Pekerjaanku sangat fleksibel saat itu, saat masih menjadi pengarang lepas.

Hari itu ia pulang lebih awal. Ia masuk ke apartemen kami jam setengah tujuh saat aku sedang memakan jeruk mandarin. Ia terlihat lelah seperti biasa dan ia membawa salah satu makanan favoritku dari salah satu restoran favoritku.

“Kita merayakan apa?” Tanyaku sambil mengambil kantong plastik darinya.

“Tidak ada,” Jawabnya sambil mengendorkan dasinya, “jaga-jaga kalau kau ingin. Aku bawa wine juga,” Ia menggoyangkan tas kertas tinggi di tangan kirinya.

Aku mengambil semuanya dan berkata, “Aku akan merapikan meja makannya.”

“Tidak,” Tegasnya, “Tinggalkan saja di meja. Aku akan bersih-bersih dan merapikan mejanya.” Ia mendorongku ke meja dan menaruh semuanya di meja. “Tunggu dan diamlah.”

“Tidak, ini mudah. Kau tidak harus melakukan semuanya sendiri ‘kan?” Kataku.

“Jangan jadi keras kepala sekarang, tolong. Lakukanlah hal yang lain seperti menulis sambil kau menungguku dan biarkan aku merapikan meja setelah aku bersih-bersih.” Aku tahu saat ia mengatakan hal itu ia sedang merasa terganggu. Mendengar suaranya, aku tahu ia bisa marah padaku kapan pun. Jadi aku mengalah dan masuk ke ruang kerjaku. Aku mengunci pintunya. Tiba-tiba aku tidak bisa merasakan tubuhku. Tidak lama aku sadar air mata mulai mengalir di wajahku. Apa aku setidak berdaya itu baginya? Apa aku selemah itu?

Aku tidak tahu berapa lama aku menangis sendirian sampai Minho mengetuk pintu. “Makan malam sudah siap,” katanya.

Untuk sepuluh menit aku tinggal di ruangan itu dan mengacuhkan Minho sampai ia mengetuk lagi. “Kau tidak mau keluar?”

Aku menghela nafas untuk menghilangkan sesenggukan, “Makanlah duluan. Aku tidak lapar.”

“Ini steak favoritmu dan kau suka Louis Vialard,” ia mencoba meyakinkanku.

“Makanlah duluan,” Jawabku, “Tolonglah?”


Dengan hubungan kami seperti itu, akan jadi sangat normal bagiku saat aku berumur delapan puluh Minho akan bertanya, “apa yang terjadi dengan wajahmu?

Aku bangun pagi selanjutnya, pipiku menempel di meja kerja. Aku bersyukur pada Tuhan karena mataku tidak bengkak pagi itu karena aku menangis sampai tertidur. Aku menenangkan diri sambil keluar dari ruang kerjaku. Saat aku sampai di dapur untuk minum, aku melihatnya, kakinya disilangkan, membaca koran pagi dan secangkir kopi.

“Selamat pagi,” Ia menyapaku dingin.

Hatiku tenggelam sangat dalam. “Kau tidak memakan steakmu semalam.”

“Aku ketiduran saat bekerja.” Jawabku.

“Laptopmu bahkan tidak menyala semalam,” Katanya,

Aku mendesah, “aku membuat konsep semalam.” Tidak lama aku mendengar teleponnya berdering. Setelah bicara pada orang di seberang, ia berdiri, mengambil blazer dan koperya dan mengatakan hal yang ia sampaikan sebelum pergi bekerja, “Aku pergi.”

Ia berhenti menciumku sebelum pergi sejak tiga minggu yang lalu. Ia menjadi lebih dingin padaku sejak dua minggu yang lalu. Aku bertanya-tanya apa ia masih mencintaiku.


Minho pulang dari bekerja jam setengah sembilan hari itu. Ia tidak menemukanku dimanapun kecuali ruang kerjaku yang terkunci. Ia mengetuk sekali, ia mengetuk dua kali tapi aku menolak untuk menjawab karena aku sedang berkonsentrasi dengan hal  yang lain.

Tidak lama pintunya terbuka, Minho berdiri di ambang pintu dengan rambut dan setelan yang berantakan. Wajahnya merah dan ekspresinya tidak bisa dijelaskan. “Kenapa kau tidak menjawab?”

Melihatku dalam kondisi seperti itu, ia lari dan memelukku. Ia mengangkatku dan membawaku ke kamar kami. Ia menidurkanku di ranjang. Ia mengambil tanganku, ia menciuminya dengan sayang. Hatiku mati rasa karena itu adalah pertama kalinya ia memperlakukanku seperti itu.

“Apa yang kau pikirkan?” Ia menyisir rambutku ke belakang telingaku.

Aku lumpuh dengan apa yang ia lakukan sehingga aku tidak segera menjawabnya. Tapi setelah beberapa saat aku berkata, “maafkan aku.”

Mulutnya terbuka dan mata beloknya menyipit. “Mengapa kau minta maaf?”

“Kau merasa bersalah karena kau mengalami kecelakaan? Kau merasa bersalah kau ditabrak orang mabuk yang mengemudi? Kau merasa bersalah karena kau cedera? Kau merasa bersalah karena tungkai kakimu lumpuh sementara? Kau merasa bersalah karena peluang sembuhnya kurang dari sepuluh persen? Kau merasa bersalah karena kau belum bisa melakukan terapi saat ini?”

Aku membiarkan diriku menangis lagi, aku mengangguk dan berkata dengan suara bergetar, “Ya, untuk semuanya ya, aku merasa bersalah karena itu semua.”

Ia memelukku. Ia mengelus punggunggku. Ia membelai kepalaku. Ia mencium pipiku. Ia melakukannya untuk waktu yang lama.

“Itu semua bukan salahmu, mengapa merasa bersalah untuk itu?”

“Juga,” aku bergetar, “Aku minta maaf karena menjadi beban untukmu saat aku duduk di kursi roda.”

“Itu kah alasanmu mencoba berdiri dengan kakimu? Karena kau merasa menjadi beban untukku?”

Aku tidak menjawab tapi kurasa ia bisa merasakan aku mengangguk. Dan aku mendengarnya bergumam, “Tuhan memberkatiku dengan istri yang bodoh.”

“Kau tidak perlu merasa bersalah,” katanya, “Kau tidak melakukan hal yang salah, sama sekali. Jika kau merasa menjadi beban, yang patut disalahkan adalah aku. Aku minta maaf karena tidak mengacuhkanmu. Pekerjaanku juga salah satu faktor. Oh, aku benar-benar minta maaf.”

Ia menciumi kedua pipiku setelah itu ia menangkup wajahku. Perlahan ia menempelkan bibirnya padaku berbarengan dengan aku perlahan menutup mataku.

“Jadi, apa aku dimaafkan?” Tanyanya.

“Kau tidak melakukan hal yang salah.”


“Jadi, selamat, kurasa?”

Aku terkekeh murni karena bahagia. “Terima kasih.”

“Lihat ke bangku belakang, hadiah untukmu.” Ia berkata sembari mengemudi. Aku menengok ke bangku belakang mobil dan menemukan buket bunga peoni. Aku mengambil buketnya dan meletakkannya di pangkuanku. Aku menciumnya dan tersenyum. “Sekarang kau menggodaku.”

“Apa—peoni—bukan yang itu. Peoninya dari kolega dari Jepang menyelamatiku atas keputusanku yang brilian saat pasar sedang tidak bagus. Punyamu yang satunya.”

Aku cukup terkejut dengan buket yang satunya; buket bunga primrose. Meskipun itu sesuatu yang manis, aku cukup terkejut dengan pilihannya. “Mengapa kau memilih primrose?”

“Artinya cinta yang tak pernah usai,” ia berkata sambil tersenyum lebar.

Dalam beberapa detik aku menjadi malu dan tidak dapat mengatakan apapun. Tapi ia menghancurkan momen tersebut dengan perkataan lucu, “Aku membacanya di Wikipedia, jujur saja, bukan hal yang besar.”

Aku sama sekali tidak menduganya. Aku terbahak sehingga aku bisa menangis. “Seharusnya aku tahu.”

end

@2013 SF3SI, Faciikan

sign-faciikan

Officially written by faciikan, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

17 thoughts on “The Hollow

  1. Kyaaaaaaaaaa *guling-guling di ranjau* ini sangat romantis, tis, tis.

    And i wasn’t really listening to taylor’s song while i read the story. Katy pery’s Wide awake could also set the atmosphere, and it did though (padahal lagunya enggak ada hubungannya sama sekali).

    Something that goes like this, “I’m falling from cloud nine, crashing from the high. I’m letting go tonight…” really set the mood for this one.

    Another unyu-unyu story from you, i’m glad. It really rejuvenates me from those dark-psycho-hard-to-the-core themed fanfictions i’ve been recently reading ever since.

  2. kenapa minho begitu manis disini :3 lucu bayangin bilang minho yang dari wikipedia itu kkk~ ancur seh romancenya tapi jadi lucu aww aww /? okeeeh daebak author ^^9

  3. FAFAAAAAAAAAAA AKHIRNYA KAMU KEMBALI JUGAAAA *peluk sampe penyek*

    ini aku salah banget baca ini sambil dengerin swan song-nya a fine frenzy
    I’m dying, could you touch me again~
    udah kan ya itu di part-part awal wrecked banget trus aku udah nyaris berguling di panggangan okonomiyaki saking setresnya
    nggak lucu banget aku baca pas easter morning
    *dan langsung inget sama puisi lama yang nggak kalah bikin hati senut-senut*

    dan baru bisa komen sekarang setelah sadar kalo endingnya
    well, pengen nampar minho pake sendal swallow saking polosnya dia ngaku baca wikipedia
    like he’s cute and stupid in the same time
    huh, nyenengin aku dikit dengan nggak usah ngomong terlalu jujur kenapa

    oiya itu ada typo baik yang kurang huruf dan kelebihan huruf
    thankies atas ceritanya yang membuat easter break aku nggak bingung-bingung amat selain makan dan nulis hahaha
    ditunggu cerita yang lainnya ya~

    1. Kalo kak kuku yang komen kenapa aku nggak punya ide sama sekali buat jawabnya.

      Karena aku ngga bisa nulis ending tanpa crack. Jadi gitu deh jadinya.

      Thanks for reading

  4. perlakuan minho bikin perasaanku campur aduk aja. kemaren bersikap dingin, tiba-tiba besoknya langsung bersikap romantis. author sukses bisa bikin hati ini digunjang-ganjing (?) karena minho~~

  5. Aaa minho manis sekali disini, emang sih awalnya gitu hehe tapi kurang panjang hehe mau moment mereka lagi.
    semangat^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s