Prologue

prologue

Thanks to iheartpanda (fleaimoons.wordpress.com) for this amazing poster😀

Title: Prologue

Author: vanflaminkey91 (@whitevenus_4)

Genre: AU, angst, sad, romance, hurt, friendship

Length:one-shot

Rating: PG

Main Casts: Kim Jonghyun, Kim Taeyeon, Lee Jinki

Support Casts: 

Disclaimer: this story is mine, inspired by ‘Breath’ duet of JongTaeng. I’ll thank iheartpanda for the poster.

A/N: Betapa Author sangat mencintai JongTaeng dan OnTaeng T____T Oya, sebelumnya, saya kasih tau ya, di sini alurnya campuran dan enggak akan dikasih keterangan secara terang-terangan kalau itu udah beda masa (masa lalu atau masa sekarang).

Enjoy!

Please lemme hear at least your breath.

Prologue

“Berjanjilah, Jong. Berjanjilah kau akan menjaganya untukku.”

“Apa maksudmu, Hyung?”

“Kau orang yang tepat dan paling kupercaya. Bagaimana mungkin aku menitipkan gadisku pada orang yang tidak dapat kupercaya?”

Hyung, kau tidak akan ke mana-mana. Kau akan tetap di sini, bersama kami—bersama Taeyeon dan membina rumah tangga yang—“

“Kau. Kau yang harus menjaganya. Waktuku tidak banyak, Jong.”

Hyung, tapi—“

“Cintailah ia seperti kau mencintai dirimu sendiri. Cintailah ia, untukku.”

*

“K-Kim T-Taeyeon imnida…”

Gadis itu. Penampilannya sederhana. Wajahnya polos tanpa make up. Satu-satunya gadis dari sekian banyak gadis yang menarik perhatian sepasang iris hitam kecoklatan di pojok ruangan kelas.

Kim Jonghyun tidak bisa melepaskan tatapannya dari gadis yang mengaku bernama Taeyeon itu. Ia hampir yakin kalau gadis itu tidak mungkin mendapatkan musuh. Hanya saja, baru beberapa detik berlalu sejak kalimat singkat yang dilontarkan terbata-bata oleh Taeyeon terdengar, bisik-bisik di sekitar Jonghyun terasa begitu menyakitkan—isinya meledek.

“Selamat datang di sekolah kami, Taeyeon-ssi. Sekarang silakan duduk di sana.” Crap! Guru itu menunjuk tempat di sebelahku, pikir Jonghyun—senang sekaligus agak bingung.

Jonghyun mungkin tidak menyadari bahwa  tatapannya seolah menempel pada sosok Taeyeon, tapi ketika gadis itu menegurnya ia benar-benar kelihatan linglung.

“Hei,” sapa Taeyeon setengah berbisik. Agaknya ia terganggu dengan tatapan maupun ledekan meremehkan yang datang dari sana-sini. Jonghyun tidak menjawab, ia hanya menatap Taeyeon dari ujung kepala hingga ujung flat shoes biru lautnya.

Sepertinya gadis ini berbeda—ah, kursi rodanya.

Kenapa ia bisa begitu bodoh? Bukankan pagi tadi ia mempertanyakan ke mana bangku di sebelah bangkunya? Rupanya tempat itu dipersiapkan untuk anak baru ini.

“Cantik, tapi lumpuh. Akan jadi apa ia nanti?”

“Aku kasihan, tapi tetap saja… aku tidak yakin dia bahkan bisa lolos dalam setiap tes besar yang sekolah ini berikan. Dia—“

Jonghyun baru saja hendak menyela, tapi orang lain rupanya lebih cepat.

“Hei!” Bukan suara guru yang membuat dua orang yang persis duduk di depan Jonghyun – Taeyeon berhenti karena guru mereka bahkan masih asyik menjelaskan teori. Tapi, suara itu milik seorang pria bermata sipit dengan pipi chubby yang duduk dekat dengan mereka. “Jangan remehkan dia. Bagaimana jika ternyata dia jauh lebih hebat daripada kau, Suzy dan Tiffany?”

Taeyeon menatap pria manis itu dengan kagum.

Lalu, pria itu membalas tatapannya.

Dengan senyuman.

Kim Jonghyun tidak mengerti perasaan apa yang baru saja menyerangnya, tapi ia—kesal? Kenapa ia harus kesal melihat bagaimana sahabat terbaiknya—si Pria Manis—tampak memiliki chemistry?

“Namanya Lee Jinki, kalau kau mau tahu.” Jonghyun memiringkan sedikit tubuhnya ketika ia melihat pria tadi sudah fokus pada white board.

“Huh?”

“Lee Jinki. Namanya Lee Jinki. Aku mengenalnya baik dan—“ Jonghyun bukan tipe orang ramah, terutama pada orang baru. Taeyeon pengecualian. Ini aneh. “—aku bisa mengenalkanmu lebih jauh dengannya. Dia sudah seperti hyung bagiku.”

Seketika itu juga tatapan Taeyeon dilumuri ketertarikan, “Benarkah?”

“Ya.”

“Siapa namanya tadi?”

“Lee Jinki.”

“…dan kau?”

Jonghyun tersenyum, “Kim Jonghyun.”

*

Mereka, dua orang itu, berkenalan. Berterimakasihlah pada Jonghyun, ia telah membuka lembaran baru untuk Jinki yang belum pernah memiliki ‘wanita’ di dalam kehidupannya—wanita spesial, maksudnya.

Sehari setelah masuknya Kim Taeyeon ke dalam kelas mereka, Jinki tampak lebih semangat. Sebagai teman kost-nya, Jonghyun sangat merasakan perbedaan tersebut. Jinki itu tertutup, lebih-lebih tertutup lagi dari Jonghyun. Jika Jonghyun tertutup karena ia menjaga image-nya sebagai School’s Prince, maka Jinki memang tertutup dari lahirnya. Walau begitu, hampir seantero sekolah merupakan secret admirers si pria-kutu-buku-dengan-senyum-memikat-bak-malaikat itu.

“Jjong! Jjong!”

Jonghyun yang bahkan belum sempat mengumpulkan nyawanya hanya mendengus, kemudian menarik selimutnya hingga kepala.

“Jjong! Jjong!” TAP. TAP. TAP. SREK! YAAA! Bangun!! Ireonaaa!” Selimut tadi ditarik hingga menjuntai ke lantai sebelum akhirnya tergeletak sama sekali di atas sana—seutuhnya.

“AISH! Hyung, jinjja! Kau ini kenapa?” Jonghyun memekik, lalu melirik bulatan waktu pada di dindingnya. “Ini bahkan masih jam enam kurang! Kenapa membangunkanku di saat sekolah mulai tiga jam lagi?!” Ia mengacak rambutnya yang disemir putih keperakan itu.

Jinki tertawa, lantas meninju pelan lengan Jonghyun. Betapa ia sangat menyayangi sahabatnya yang satu ini. Duh.

“Aku hanya… umm….” Mendadak saja semu merah jambu meronai pipi pucat itu. Jonghyun merinding. “Jjong-ah… aku…”

“Cepat katakan saja, Hyung! Kau membuatku merinding!” Meski hanya berbeda beberapa bulan, Jonghyun sudah terbiasa memanggil Jinki dengan sebutan ‘hyung’. Ia berdalih bahwa tahun lahir mereka sudah berbeda, padahal Jinki kadang memperdebatkan tentang perbedaan ‘hanya beberapa bulan’ yang belum terhitung satu tahun.

“Oke,” gumam Jinki dengan ekspresi serius—Jonghyun menahan tawa di poin ini. “Bisakah… kau… membantuku… berpakaian dengan… umm, maksudku agar Taeyeon—“

Tunggu! Pembicaraan ini mulai sedikit tidak wajar. Pertama, Jinki yang tidak peduli dengan pakaian tiba-tiba minta bantuan untuk berpakaian (yang mungkin saja agar keren atau sejenisnya). Kedua, ia membawa nama Taeyeon—si anak baru yang baru mereka kenal kemarin—dalam pembicaraannya.

Chankkaman! Kau mau menarik perhatian Taeyeon?!”

“Ssssst!” Pipi bulat itu bersemu. Astaga. “Jangan keras-keras!”

Setelah melalui perdebatan panjang, Jonghyun mengalah. Sambil menahan tawa dan kekesalan di setiap waktu ia menyarankan cara berpakaian yang ‘dapat memikat wanita’, ia tahu sebagian di dalam dirinya terasa hampa.

Ia tidak mengerti kenapa.

“Kau yakin dengan pakaian seperti ini ia akan—“

You look great, Hyung. Kau tampan. Jangan minder begitu, dong!” seru Jonghyun sambil mengamati dengan puas hasil sarannya. Jinki mengenakan t-shirt hitam polos, jins belel berwarna senada, dipadukan dengan kemeja putih polos yang tidak dikancingkan dan dibiarkan terbuka.

Tampan. Sangat tampan. Entah kenapa Jonghyun—yang tidak pernah merasa iri—mendadak saja iri dengan fakta tersebut. Terutama pikiran tentang Taeyeon yang akan menyukai Jinki terasa begitu menyesakkan.

“Kau melamun lagi, Jjong. What’s it? Ada masalah? Rasanya akademismu di sekolah musik ini tidak pernah buruk.”

Tentu. Jonghyun adalah murid teladan, juara umum—bisa dikatakan—dalam sekolah musik tempat mereka menimba ilmu dalam bidang musik. Kehebatan suaranya dan talentanya mengenai musik adalah kebanggaan sekolah.

“Entah, Hyung.

Jinki menatap Jonghyun agak lama, kemudian mengangguk. Jonghyun tidak ingin digali lebih dalam.

*

Tadinya Jinki dan Jonghyun berangkat ke sekolah bersama-sama. Hanya saja di gerbang mereka harus berpisah karena Jinki dipanggil oleh Kwon BoA, kepala sekolah mereka. Jadilah Jonghyun menghabiskan sisa perjalanannya sendirian.

Saat itu sedang musim gugur dan semakin dekat dengan musim dingin. Daun pohon-pohon di halaman sekolah yang luas itu seluruhnya sudah kuning kecoklatan maupun oranye kemerahan dan mudah sekali lepas dari rantingnya.

Jonghyun sangat suka melangkah di atas jalan setapak menuju gedung sekolahnya. Halaman yang kelewat luas dengan banyaknya pepohonan membuat hatinya damai—terutama aroma musim gugurnya.

“Seharusnya kau masuk SLTB saja, Nona! Siapa mau menganggapmu di sini?”

“Jinki membelamu hanya karena kasihan, dia tidak berniat menjadikanmu teman, Dude.

“Kim Jonghyun hanya berusaha ramah!”

Jonghyun menghentikan langkahnya ketika mendengar kalimat-kalimat itu. Ia menoleh ke sumber suara dan menyipitkan matanya. Di kejauhan, seorang gadis wavy-hair hitam duduk di atas kursi rodanya—membelakangi Jonghyun. Di sekitarnya ada beberapa dari kelas Jonghyun dan beberapa dari kelas lainnya. Mereka berdiri angkuh, melontarkan kalimat demikian kejinya.

Jonghyun berjalan mendekat, lalu menyembunyikan diri di balik pohon. Sambil menyembulkan sedikit kepalanya, ia tetap mengawasi.

“Kau bisu atau apa?!” Satu jitakan kecil di pelipis. “Jawab!”

“Apa motivasimu masuk sekolah musik sebesar dan sehebat ini? Memang kau mampu bernyanyi atau bahkan memainkan alat musik? Berjalan saja tidak bisa, bagaimana kau akan lulus dari sini!”

“Tapi wajahnya manis juga,” komentar seorang pria. Key. Jonghyun kenal dia, meski beda kelas. “Mungkin ia akan sedikit memberi keuntungan untukku.” Key, pria berambut blonde itu menengadahkan wajah Taeyeon dengan memegang dagunya.

“Bisakah kau jauhkan tangan kotormu itu dari dia?!” Jonghyun membuat mereka semua menoleh ke arahnya.

Ia berjalan mendekat dengan mantap, sementara Key menghempaskan wajah Taeyeon hingga tubuh gadis itu bergetar sedikit. Key berjalan mendekati Jonghyun dengan gayanya yang luar biasa angkuh.

“Dasar brengsek!” Buagh. Kepalan tangan Jonghyun yang sudah mengeras akhirnya mendarat mulus di atas rahang Key, yang membuat pria itu geram.

Taeyeon merapatkan diri pada sandaran kursi rodanya sambil menunduk dan sesekali melirik dua orang yang berkelahi di dekatnya. Ia ingin melerai, tapi ia tak bisa. Seolah ia memang benar-benar bisu.

Buagh!

Taeyeon terkejut ketika Key meninju Jonghyun hingga pria berambut keperakan itu terjatuh. Sudut bibirnya berdarah. Jonghyun sempat melihat ke arah Taeyeon, tapi Taeyeon segera menunduk.

“Jangan kira kau akan enak saja jadi penonton, Sis.” Salah satu di antara mereka tidak terpaku menatap pria bermarga Kim itu saling berkelahi. Mereka malah mendorong kursi roda Taeyeon hingga gadis itu kepayahan mempertahankannya.

Ia merasakan kursi rodanya semakin oleng ke depan sebelum akhirnya ia merasakan kedua lututnya berciuman dengan tanah dan batu. Gadis itu jatuh tengkurap, kursi rodanya menimpa ia.

Jonghyun yang masih menerima tinjuan bertubi-tubi sempat melihat hal itu. Emosinya semakin naik.

BUAGH.

Jonghyun langsung melayangkan tinjunya yang paling kuat ke rahang Key, lantas mencengkeram kerah kemeja pria yang sedang mencari gara-gara dengannya itu. Para siswa lain yang tidak terlibat mulai berdatangan, berusaha melerai. Beberapanya mencari bantuan.

Dengan tangannya yang lain, Jonghyun meraih sebuah batu—dilemparkannya ke arah orang yang mendorong kursi roda Taeyeon.

“Arrgh!”

“Shindong, gwenchana?” Jonghyun merasakan hatinya puas mendengar itu semua. Lalu ia mendorong Key hingga menabrak pohon.

“Kau!” tunjuknya, meski pandangannya mulai kabur. “Jangan pernah menyentuhnya atau kau akan—“

“APA-APAAN INI?!”

Lee Jinki dan Kwon BoA datang. Jinki tampak terkejut—segera memburu Taeyeon dan membantunya duduk kembali karena tak ada yang melakukan itu meskipun banyak yang berkerumun.

Semua yang terlibat, kecuali Key lari pontang-panting.

Gwenchana?” tanya Jinki khawatir. Ia memegang kedua lengan atas Taeyeon dengan erat. Tatapannya lurus mengunci tatapan Taeyeon yang seolah tersihir dengan Jinki. “Astaga kau berdarah,” bisik Jinki mengusap pelan kening Taeyeon yang bergores. Ia melirik lutut gadis itu—lutut jinsnya agak robek.

“Kalian berdua!” Suara berwibawa Miss Kwon membuat Jinki dan Taeyeon menoleh. Dilihatnya Jonghyun dan Key sedang dipegangi beberapa siswa. Taeyeon tidak mendengar apa yang Miss Kwon katakan, perhatiannya tercurah seluruhnya untuk Jonghyun.

Satu-satunya hal yang Taeyeon sadari adalah, Jonghyun ada dalam masalah.

*

Dan hanbodo mar-han jogopjiman

Sasil marya nan geunare i simjangi ttwineun-geol neukkyosso~

Musim dingin.

Entah sudah berapa lama Taeyeon duduk di atas kursi panjang yang seolah ikut membeku bagai tiap mata air yang berubah menjadi arena ice skating, dengan segelas kertas kopi hangat di tangan dan sepasang headset di telinga—sibuk mengalunkan lagu yang dinyanyikan khusus untuknya.

Rasanya seperti baru kemarin dirinya melakukan proses masuk di tahun terakhir sebuah sekolah musik Seoul, meneruskan pendidikan yang tadinya ia tempuh di Jepang. Kemudian dirinya dipertemukan dengan sepasang sahabat—Jonghyun dan Jinki. Menghabiskan waktu bersama mereka sebagai satu-satunya murid yang memiliki kekurangan fisik di sekolahnya.

Taeyeon yang sekarang bukanlah Taeyeon yang dulu tertutup dan pemalu. Ia sekarang begitu aktif, luar biasa terbuka. Semua orang mengenalnya dengan baik, privasinya pun masih terjaga.

Tiba-tiba saja headset kanannya ditarik paksa, membuat suara lembut yang sedaritadi mengalun dan menulikan indera pendengarannya dari suara luar itu kehilangan sebagian kekuatannya.

“Hei—“ Taeyeon tercekat saat melihat seorang pria yang sangat dikenalnya sudah duduk di sebelahnya. Headset kanan Taeyeon digunakan di telinga kirinya. Taeyeon tersenyum tawar. Kim Jonghyun si Rambut Perak tidak pernah berubah.

“Masih mendengarkan lagunya Jinki?” tanya Jonghyun hati-hati. Tanpa perlu menoleh, ia dapat merasakan mendung mulai merayapi wajah cantik di sebelahnya.

“Aku merindukannya, apalagi ketika ia menyanyikan lagu itu.” Jonghyun menghela napas menyadari betapa terlukanya Taeyeon hanya dengan mendengar nada bicaranya.

Hening.

Kecuali suara bising lalu lintas di belakang mereka, kasak-kusuk para pengembara di atas trotoar, dan bisikan angin salju.

“Aku sangat mencintainya, Jonghyun-ah.

“Aku tahu.” Itulah kenapa kau tidak pernah bisa membuka hati dan matamu—melihat bahwa di dekatmu ada orang yang mencintaimu lebih dalam daripada cintamu kepadanya. “Jinki… dia tipikal pria luar biasa yang… kalian serasi,” lanjut Jonghyun pahit. Tenggorokannya bagaikan diisi oleh pasir ketika mengatakannya.

“Hujan salju,” ujar Taeyeon sambil mengangkat sebelah bibirnya juga salah satu tangannya. Ia membiarkan serpihan salju mendarat di atas tangannya. “Jinki lahir bulan ini. Ini hari ulang tahunnya.”

“Kalau begitu—“ Jonghyun melepaskan headset milik Taeyeon dari telinganya. Setelah memastikan benda itu diterima oleh empunya, ia berdiri. Tangan kanannya terjulur, meminta sambutan hangat dari jemari-jemari lentik itu. “—mari kita merayakannya.”

Taeyeon tersenyum. Hangat. Begitu manis dan indah. Senyum yang sesungguhnya—yang baru dikeluarkannya setelah dua tahun redup.

Dengan mantap digenggamnya jemari Jonghyun dengan satu tangan, sementara yang satunya mengambil tongkat yang biasa membantunya berjalan tanpa kursi roda.

Penuh rasa percaya dan rasa aman, Taeyeon berjalan dibantu tongkat dan Jonghyun.

Sebagai tongkat hidupnya.

*

Kim Jonghyun sangat mencintai Kim Taeyeon—gadis yang duduk persis di hadapannya sekarang. Ia melemparkan tatapan memuja, menghargai, mencintai, menyorotnya seperti Taeyeon adalah miliknya yang tidak boleh dilukai, disakiti, dicampakkan.

Mereka singgah ke sebuah coffee shop—tempat favorit pasangan Taeyeon dan Jinki serta Jonghyun ketika mereka nongkrong sepulang sekolah.

Jika biasanya di sebelah Taeyeon selalu diduduki Jinki, sekarang hanya tas tangannya yang menempati tempat itu.

Jonghyun tetap duduk di hadapan Taeyeon. Dekat jendela. Tidak berubah.

Saat itu ada beberapa hidangan di atas meja. Dua gelas moccachino dan dua porsi fried chicken—favorit Jinki. Oh, jangan lupakan sebuah cupcake di tengah-tengah yang sudah ditancapkan sebatang lilin merah kecil—kecil, namun pelitanya besar.

Taeyeon menatap pergerakan kaki tiap-tiap orang yang lewat di dekat jendela besar itu. Mengamati bagaimana jejak-jejak tercipta di atas salju.

Sebenarnya Taeyeon lebih suka menatap jalan. Dari tempatnya duduk sekarang, terdapat sebuah perempatan—ia bisa melihatnya. Perasaannya terasa lebih terbuka, seperti jalan yang lebar itu.

Rupanya sang surya sudah mulai beristirahat. Langitnya tidak lagi putih, namun sudah berubah warna jadi hitam. Lampu-lampu di jalan tampak begitu cantik berpadu dengan lampu pertokoan.

Saengil chukkae hamnida, saengil chukkae hamnida~” Suara lembut khas Kim Jonghyun menarik perhatian Taeyeon. Gadis itu tersenyum sedih sambil menoleh ke arah Jonghyun, lalu lilin kecil di atas cupcake.

Saengil chukkae hamnida~” Taeyeon bergabung dengannya. Tidak peduli pada pasang-pasang mata yang sedang tertuju ke arah mereka.

Saengil chukkae, urineun Jinki~” Ketika keduanya meniup, sang pelita mengerjap, menyisakan sedikit asapnya untuk kemudian terbang pergi membawa setiap doa dan kasih sayang untuknya.

Detik-detik berikutnya dipenuhi oleh dentang piring dengan sendok atau garpu, suara tidak jelas dari para pengunjung yang saling bicara, live music, dan suara kendaraan-kendaraan di luar sana.

“Kau tahu bahwa aku mencintaimu, kan?”

Taeyeon mengunyah gigitan terakhirnya agak lama. Membiarkan tatapan Jonghyun bertumbukan dengan tatapannya. Dapat dilihatnya sebuah ketulusan, ketulusan yang sulit dijelaskan. Diam-diam hati gadis itu dibaluri kehangatan.

“Aku selesai,” ujar Taeyeon menaruh alat makannya, lalu mendorongnya menjauh. “Terimakasih.”

“Untuk?” Jonghyun meneguk moccachino-nya, tidak melepaskan pandangan penuh kehangatan itu dari Taeyeon.

“Mau tambah dengan kopi hitam?” Seorang waiter yang daritadi berkeliling membawa sepoci kopi hitam panas sampai di meja mereka. Taeyeon buru-buru menggeleng sambil tersenyum, waiter itu pergi.

Taeyeon menghela napas, “Mencintai kekasihnya Jinki.”

Jonghyun tersenyum. Pahit. Getir. Betapa Taeyeon sangat menekankan bahwa dirinya kekasih Jinki. Apakah hati gadis ini benar-benar telah terbawa pergi bersama Jinki?

“Aku mencintaimu sebagai Kim Taeyeon—bukan kekasihnya Jinki, atau satu-satunya siswi yang bisa mengalahkanku di sekolah dulu, atau sebagai best singer sekolah, atau komposer, atau hal lainnya.”

Kim Taeyeon tersenyum simpul.

“Kalau begitu aku pamit pulang. Hyoyeon dan Jessica sudah menunggu di rumah.” Ia mengambil sepasang tongkatnya, tapi Jonghyun menjulurkan tangannya—menahan salah satu tangan Taeyeon yang masih menempel di atas meja.

“Aku akan mengantarmu.”

Taeyeon tersenyum, “Tidak.”

“Tae—“

“Kumohon?”

*

Bagi Jonghyun, pria tidak suka melanggar janji. Begitupun dirinya. Ia sudah berjanji, ia akan menjaga dan mencintai Taeyeon untuk Jinki—meskipun sebenarnya bukan hanya untuk Jinki, tapi untuk cintanya kepada kekasih Jinki.

Jadi sebelum gadis itu benar-benar selamat sampai di rumah, ia akan menjaganya.

Dari belakang.

Jonghyun tidak mengerti kenapa Taeyeon memilih jalan yang ini dan bukan jalan yang biasa ia lalui. Jalanan ini cenderung gelap karena kurang penerangan, lebih jauh, dan lebih sepi. Setahu Jonghyun, jalan ini sering digunakan untuk tempat nongkrong ‘pria-pria tidak baik’. Apa yang Taeyeon pikirkan?

Tuk. Tuk. Tuk.

Jonghyun dapat mendengar samar-samar suara tumbukan antara bahu jalan dengan ujung tongkat Taeyeon. Ia berjalan pelan, berusaha agar suara sepatunya tidak kedengaran.

“Sepi sekali,” gumam Jonghyun sambil tetap mengawasi Taeyeon yang agaknya tidak menyadari keberadaan Jonghyun. Baguslah, ia tidak usah sembunyi-sembunyi menggunakan mobil-mobil yang diparkir di sepanjang jalan.

“Jinki hyung, kenapa kau harus meninggalkan gadis seistimewa dia? Dasar bodoh,” gerutunya sambil menghela napas. “Hyung, Jjong merindukanmu. Kau benar-benar sahabat terbaikku…”

Ia komat-kamit, tapi rasanya jalanan ini tidak habis-habis. Menyebalkan.

“Aduh! Jauhi aku!”

Jonghyun terkesiap. Dilihatnya gadis itu terjatuh dan seketika itu juga tiga pria—yang dari jauh—terlihat kekar keluar dari balik sebuah ‘tempat gelap’.

“Manis sekali, mau kita apakan?”

“Tentu saja dicicip. Hmm, bagaimana kalau dipermainkan dulu?”

“Ide bagus!”

“Jauhi aku, Brengsek!” Taeyeon mencoba meraih tongkatnya, tapi salah satu dari mereka mengambil benda itu. Hanya dalam kejap mata, benda itu terbagi menjadi dua. Entah bagaimana ia melakukannya, Taeyeon tidak mau peduli.

Gadis itu menatap nanar pada tongkat patah tadi.

“Ah, aku kenal gadis ini.” Taeyeon menelan salivanya ketika salah seorang dari mereka—berambut blonde bercampur coklat tua dan bertato di bagian leher—mencengkeram dagunya. “Kau… Kim Taeyeon, bukan?” Ia menyunggingkan smirk, Taeyeon bisa melihatnya di bawah keremangan lampu jalan.

Jonghyun berlari, sebisa mungkin tidak kelihatan tiga orang tadi. Dimanfaatkannya mobil-mobil pengangguran di sekitarnya.

“Kyaaaaaa!” Taeyeon mendengar dirinya sendiri berteriak ketika orang yang mengenal namanya mulai merobek salah satu lengan bajunya.

“Sssshhh, this will be fun, Baby.

“Kau brengsek, Key!” teriak Taeyeon—diikuti tawa ketiga pria itu. Tawa nista penuh kejahatan.

Key berdecak beberapa kali sambil memasang muka takut dibuat-buat, “Ssssh, jangan berteriak, Gadis Kecil! Tidak akan ada pangeran-sok-berani itu di sini. Berteriaklah, toh aku akan membalaskan dendam itu, Gadis Lumpuh!”

“Tidak sebelum kau melangkahi mayatku, Bodoh!” Jonghyun melompat dari balik mobil di belakang seorang pria botak bertato naga di lengannya. Dengan berbekal sebuah balok, dipukulkannya benda itu ke kepala botak pria di depannya yang tidak sempat memberi perlawanan.

“Oh, my~ rupanya dia ada.” Key segera menyekap mulut Taeyeon, menarik gadis itu agak mundur sementara temannya menyerang Jonghyun.

BUAGH.

Jonghyun merasakan tulang dadanya seolah-olah patah ketika pria itu menendangnya kencang. Di sudut bibirnya mengalir cairan pekat segar berwarna marun. Matanya mulai berkunang.

Tidak, Kim Jonghyun! Tidak! Kau sudah berjanji, kau sudah berjanji!

Shit!” Jonghyun segera bangkit dan kepalan tinjunya yang telah terkepal dengan kuat menghantam ulu hati pria tadi. Dengan cekatan diambilnya balok kayu yang tadi jatuh dan…

DUG.

Pria tadi terjatuh.

Tak sadarkan diri.

“Key, lepaskan dia! Kalau kau memang pria, kau tak akan menyakitinya!”

“Klasik.” Key tertawa. “Memanfaatkan gender, Bung? Lupa bahwa gadis ini yang menyebabkan kita berdua kena skors?”

“Cih!” Jonghyun meludah. “Kau tidak pernah berubah, Key.”

Taeyeon terus meronta, terutama ketika Key menekan semakin keras lehernya. Ia mulai kesulitan bernapas.

“Kau tidak usah bertingkah seolah kau paling benar dan aku yang selalu salah, Kim Jonghyun!”

“J-jonghyun…” panggil Taeyeon serak, tampak kesulitan bicara dan bernapas.

“Lepaskan dia dan kita selesaikan berdua saja,” ujar Jonghyun setengah memohon. Suaranya melunak. Pandangannya mulai kabur. Dadanya masih terasa sakit, sangat sakit.

“Ha! Tidak bisa, dia sumber dari segala masalah yang—“

DOR!

“Arrrgh!” Key berteriak ketika sebuah timah panas baru saja menembus ke kulit kakinya. Kontan saja ia melepaskan Taeyeon yang langsung terjatuh, batuk-batuk dan mencoba menghirup oksigen sebanyak mungkin.

Jonghyun sendiri mulai kehilangan kesadarannya. Ia mendengar sirine polisi menghampiri mereka sementara beberapa anggotanya berlari ke sini—mungkin salah satu dari mereka yang baru menembak kaki Key.

Dari penglihatannya yang kabur, ia melihat Key berusaha untuk lari dengan kaki yang berdarah. Namun, meletuslah satu tembakan lagi dan kali ini membungkam pria itu selamanya. Di atas aspal dingin, berlapis salju putih yang kini merah darah.

“Taeng? Taeng?” panggil Jonghyun lemah. Ia tidak bisa melihat dengan jelas. Segalanya terlihat blur. Tapi ia bisa melihat sesosok gadis sederhana yang merangkak mendekatinya. Rambut panjangnya yang seindah sutra—betapa Jonghyun sangat mengaguminya.

Ia merasakan sepasang tangan mendekap pipinya. Wajah cantiknya mendekat.

“Jjong?”

“Jjong?”

“Jjong?”

“Taeng, bukankah aku sudah bilang aku akan selalu menjagamu? Bahkan jauh sebelum Jinki memintanya, aku… akan tetap menjagamu.”

“Jjong!”

“JJONG!”

“…”

Aku tidak dapat melihat apapun. Selain warna crimson itu. Begitu pekat. Pekat. Sangat pekat.

*

“Pergi?! Ke mana?”

Jonghyun tahu nada suaranya terlalu tinggi—ia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Hmm, sekaligus rasa tidak rela. Entahlah. Ia hanya menatap Taeyeon yang juga tidak memberinya jawaban.

“Taeng, pergi? Ke mana?”

“Aku hanya berfirasat kalau aku harus pergi dan kau harus mengijinkanku.”

“Bagaimana Hyo dan Jess?”

“Mereka tidak banyak tanya.”

“Kau bohong.”

“Tidak.” Taeyeon menatap Jonghyun lekat-lekat. Ia tersenyum, lalu menggenggam kedua tangan Jonghyun—mengayun-ngayunnya seperti anak kecil. “Biarkan aku pergi, Jonghyun. Biarkan aku pergi.”

“Aku tak bisa kehilanganmu, Kim Taeyeon. Dengarkanlah, aku tidak bisa kehilanganmu.”

“Kau selalu mencintaiku, terimakasih.” Ia berjinjit, mengecup pipi itu sekali. “Aku tetap harus pergi, Jonghyun-ah.

“Katakan alasan yang logis?”

“Kita harus berpisah.” Taeyeon terlihat sedang merangkai kata-kata. “Kita harus membiarkan satu sama lain berpisah, Jonghyun-ah. Kita tidak bisa begini terus—dengan kau yang mencintaiku dan aku yang selamanya akan tetap mencintai Jinki.”

Selamanya mencintai Jinki.

“Kau dan aku, tanpa sadar kita ‘terikat’ padahal kita tidak. Seolah tidak bisa membuka lembaran baru. Kau dan aku, kita terpusat satu sama lain padahal kita bisa keluar dari itu semua.” Gadis itu menghela napas. Wajahnya pucat sekali. Air matanya hampir tumpah. “Bukannya aku tidak mau membuatmu tenang dengan menuntaskan janji untuk menjagaku, tapi aku harus melakukannya.”

“Taeyeon, wait! Kau… kau harus ada yang menjaga.”

“Jong—“

“Taeyeon, aku… aku akan tetap menjagamu. Dari sini.” Jonghyun menepuk dadanya sendiri. “Tapi, aku tetap tidak tenang. Aku tidak mau kau jauh dariku dan—“

“Seseorang bersamaku.”

“Apa?”

“Seseorang.”

“Lalu, bagaimana janjiku kepada Jinki hyung? Aku sudah berjanji akan—“

Tes. Satu tetes bulir bening itu terjatuh dari pelupuk matanya, begitupun Taeyeon. Entah mengapa Jonghyun seolah mengerti ketika Taeyeon menatapnya seperti itu. Penuh keyakinan dan tekad. Taeyeon tidak pernah berubah rupanya. Semangat selalu menyala dalam dirinya.

Jonghyun melirik ke belakang Taeyeon—jauh, jauh ke belakangnya.

Ia menyeka air matanya.

“Kau…” Jonghyun menarik napas. “Dengar, aku mencintaimu, kau tahu?”

Taeyeon tersenyum dan mengangguk mantap, “Ya, aku tahu.”

“Berjanjilah kau akan tetap menemuiku? Mengunjungiku? Please?” Si Rambut Perak menyodorkan kelingkingnya yang bersambut tautan mantap oleh sang gadis.

Gadis itu tersenyum, dipeluknya Jonghyun erat-erat. Lama. Sangat lama. Dihirupnya aroma parfum khas yang mencuat dari tubuh pria itu. Aroma terakhir yang akan dihirupnya dari Jonghyun.

Waktu berjalan begitu cepat.

Seiring bergeraknya jarum pendek dan panjang itu, Jonghyun menemukan dirinya berdiri mematung di sana. Menatap lurus ke arah utara. Ia tersenyum ketika melihat gadis itu menggamit lengan seseorang—begitu mesra, begitu hangat, begitu mengagumi. Sama seperti dirinya ketika bersama gadis itu. Seandainya, seandainya ia ada di posisi pria yang sedang bersamanya.

Jonghyun menatap mereka—yang berjalan semakin menjauh, namun berhenti di satu titik. Mereka berbalik bersamaan dan memberikannya sebuah senyuman.

Senyuman hangat yang begitu mesra dan indah.

It’s me, it’s been a long time.

Because it was so hard, because I felt bad if I held you back

Because I regret letting you go, I just let out a sigh

Because I was so surprised, I couldn’t speak.

I  was holding on to my trembling heart,

Are you struggling a  lot?

Where are you?

Before I could ask, tears fell down.

Just by hearing the sound of your breath.

*

“Aku bahkan sudah mencintainya jauh sebelum kau memintaku, Hyung.

“Aku tahu.”

“Kau tahu?”

“Ya. Sejak kau melihatnya masuk ke dalam kelas pertama kali.”

“Lalu, kenapa kau—“

“Karena aku mencintainya juga, Jong.”

Hyung…

“Ya?”

“Aku sangat mencintainya. Meskipun hanya dengan mendengar suara napasnya, aku merasa lebih baik.”

“Karena itu, Jong. Aku memercayaimu.”

“Untuk?”

“Aku percaya bahwa kau mencintainya, sebesar aku mencintainya juga. Oleh karena itu, di setiap hembusan napasmu—di sanalah cintamu akan terus bertumbuh, Jong.”

***

©2013 SF3SI, Vania

signature

Officially written by Vania claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

22 thoughts on “Prologue

  1. Ceritaya simple menurutku. Tapi serius feelnya dapet banget. Sampe2 berlinang air mata gini. Nyeseeek!😦
    Gk bisa bayangan klu berada di posisi Jonghyun. Sedangkan baca aja udh sesak abis, keren
    *o*

    oh ya, seseorang yg digandeng Taeyeon, Jinki kah?

  2. owh, feelnya. aku ngebayangin klo aku yang ada posisi Jong. nggak tahu, deh.

    omong-omong itu orang terakhir Jinki? Taeyeonnya mati, gtu? atau gimana? Atau sebagai pengungkapan kalimat “meskipun aku mati aku akan selalu ada di sampingmu”? Ah, ini agak membingungkan.

    1. iya kalau jadi jjong rasanya ga sanggup ngerasain perpisahan kek gini… setia banget masa dia sampe akhir -__,-

      iya itu jinki yang terakhir. bener banget, taengnya emg dibikin mati dan nunjukin klo cinta sejati taeng itu jinki, dan dia bersatu sama jinki di akhir hayatnya, cuma dia juga sayang sama jjong — meski jjong bukan cinta sejatinya… itulah intinya sih

      hehe makasih🙂

  3. Duhhh….udah dua kali baca tetep aja nyesek…
    Bener” feel.a tuh dapet banget….
    Jjong..ama aku aja sini….
    Aku single kok…gk usah mikirin dua orang yg udah mati…..
    Pengen tau lengkap.a…gak cuma potong”an kaya gini….pasti seru dehh…
    Key kasian ihhh..ternistakan banget…
    Badboy banget….
    Ujung”nya mati mengenaskan lagii….
    Deu..key..key…
    Pokoknya ini bagus banget…..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s