Chernobyl

chernobyl

Title: Chernobyl

Author: vanflaminkey91 (@whitevenus_4)

Genre: sad, tragedy, reality

Length: ficlet

Rating: G

Main Casts: Choi Minho, Alice Han (OC)

Support Casts: Minhwan FT ISLAND, Yoon Bomi APink

Disclaimer: I own the story and its poster.

A/N: Based on a true story of the Chernobyl tragedy—catatan kecil seorang warga Uni Soviet. Diubah seperlunya untuk kebutuhan hiburan dan ilmu pengetahuan dalam waktu bersamaan.

 

Chernobyl

Aku seorang mahasiswa jurnalistik yang haus akan berita dan kelewat tertarik akan insiden mengerikan yang melanda Uni Soviet sekitar 28 tahun silam—tragedi Chernobyl. Sudah sejak dulu aku mendengar dan mengetahui akan yang namanya peristiwa kota Chernobyl, di mana reaktor nomor 4 dari beberapa reaktor di sana meledak 5 tahun sebelum aku lahir.

Ah, perkenalkan—Choi Minho, mahasiswa Universitas Seoul yang sedang berlibur dan kini tengah sukses mendapatkan salah satu impian lamanya.

Sudah sejak usia anak-anak aku ingin mengunjungi lokasi tragedi ini, meski tetap saja tidak akan bisa karena adanya larangan. Setidaknya, Pripyat yang merupakan kota terdekat dengan kota pusat terjadinya bencana telah dibuka untuk wisata—dengan jalur khusus dan radius yang aman tentu saja.

Jadi, setelah ada kesempatan berlibur dan uang dari kampus yang membiayai demi keperluan berita, aku sampai juga di Ukraina. Berkilo-kilo jauhnya dari Korea Selatan. Menggunakan jasa tur yang diprakarsai oleh kenalanku, aku bisa mendengar penjelasan tour guide sambil mengambil gambar di sini.

“Minho-ya,” panggil Yoon Bomi, salah satu teman jurnalis di kampusku. Ia tersenyum lebar sambil menggoyang-goyang kamera SLR dalam genggamannya. “Siapa yang mau mengambil gambar sebenarnya?”

“Kau,” jawabku tertawa kecil. “Tapi aku mau juga. Sudahlah, nanti kan kita saling berbagi hasil. Oke?”

Bomi tertawa dan mengangguk, “Deal, Tuan Choi. Oh, ya, temanmu si pemandu itu tampan juga, ya.” Gadis ini berucap setengah berbisik sambil mengerlingkan matanya ke arah Minhwan. Aku mendengus sambil terkekeh—dasar Bomi.

Menjejakkan kaki di atas jalan setapak yang sangat suram membuatku seolah ikut merasakan kepahitan dan kepedihan yang terjadi di sini.

Turis dari berbagai negara yang berjalan di depan dan belakangku berbincang—tapi aku tidak mengerti apa-apa karena hanya aku dan Bomi yang turis dari Korea (Minhwan tidak dihitung!) sementara mereka semua memakai bahasa selain Inggris satu sama lain.

“Pripyat dibangun sebagai kota modern untuk ditinggali para pekerja Chernobyl.” Begitulah kata Minhwan dalam bahasa Inggris sembari menggerakkan tangannya ke sana kemari, menunjuk sisa-sisa usang yang tertinggal di sekitar kami.

Banyak pepohonan yang mengering, jalanan aspal yang mulai dan sudah berlubang, mobil-mobil berkarat, gedung-gedung tua yang tampak menjerit minta tolong, dan sebagainya.

“Apakah kami tidak akan terkena radiasi di tempat ini?” Seorang turis bertanya setelah mengangkat tangan.

Minhwan tersenyum yakin, “Kurasa tidak. Lokasi ini lokasi yang dikatakan ‘aman’ karena merupakan jalur khusus untuk keperluan wisata dan upaya pemerintah Ukraina untuk ‘membangkitkan’ kembali diri dari masalah ekonomi. If you know what I mean. Intinya, kita aman. Ikuti saja aku dan jangan pergi ke lokasi lain.”

Selanjutnya kami larut dalam penjelasannya.

“Kejadiannya tanggal 26 April 1986, pukul 01.23 dini hari. Saat semuanya sedang tertidur. Dua pekerja tewas dan sekitar penghuni kota terkena radiasi parah. Eropa sendiri sampai meminta rakyatnya mencuci buah dan sayuran karena takut akan peningkatan radioaktif di atmosfer sekitar Uni Soviet.”

Aku tidak begitu mendengar penjelasan Minhwan karena sudah tahu sejarah kelam Chernobyl dari berbagai buku dan sumber yang kubaca. Jadi kuputuskan untuk menikmati saja pemandangan sedih ini karena barangkali ini hanya satu-satunya kesempatan, kan?

“Hei, kau kenapa keluar dari rombongan?”

Suara seorang gadis yang asing dan berbicara dalam bahasa Korea membuatku kaget luar biasa. Aku sedang menatap langit yang agak mendung ketika mendengarnya. Segera saja aku berbalik dan menemukan seorang gadis dengan tipikal wajah Korea berdiri di sana—tak jauh di depanku.

Gadis itu cantik dan manis. Garis wajahnya lembut. Ia memakai t-shirt putih dan jins belel biru tua yang dipadukan mantel tebal coklat. Jujur aku agak heran, aku tidak melihatnya sejak awal.

“Kenapa keluar dari rombongan? Tidakkah kau takut mencapai daerah yang bahaya sendirian?”

Ia bicara lagi—membuatku segera menoleh ke segala arah. Rombongan turku ada beberapa meter di belakang dan berdiam di sana mendengar penjelasan Minhwan yang sepertinya tidak menyadari aku ‘hilang’.

“Umm, aku hanya terpesona dengan tempat ini. Juga sedikit merasakan kesedihannya,” balasku agak kikuk sambil mengusap tengkuk. “Kau sendiri? Kau siapa?”

Ia tertawa manis dan mendekatiku. Tak lama berselang, ia menyodorkan tangannya, “Alice Han. Aku tinggal di negara ini dan bertindak sebagai tour guide juga.”

“Apa? Tour guide?”

“Tidak sopan tidak menerima jabatan dan mengucapkan namamu balik,” ucapnya sambil tertawa.

Aku nyengir kuda, lantas menjabat tangannya, “Namaku Choi Minho.”

“Ah, Minho-ssi.” Ia mengangguk-angguk membuatku makin heran. Ia sepertinya orang Korea yang tinggal di Ukraina, bukan begitu? Tapi aksen Koreanya masih jelas.

“Aku lahir di Pripyat tahun 1982. Ayahku salah satu pegawai Chernobyl,” lanjutnya membuatku mulai paham. “Aku baru empat tahun ketika peristiwa mengerikan itu terjadi. Bos ayahku menelepon ibu dan memintanya tetap di rumah, tidak keluar, dan menutup jendela. Ayahku tidak pulang. Ibu yang merupakan insinyur dari Chernobyl menurutinya karena tahu konsekuensi akan meledaknya nuklir.” Tidak kusangka Alice terbuka sekali pada orang baru.

“Jelaskan soal tour guide? Aku tidak melihatmu daritadi.”

“Aku datang terlambat. Aku akan bertindak sebagai saksi hidup peristiwa itu, tapi kurasa Minhwan sendiri tidak mengingat akan itu.” Alice menunjuk Minhwan dengan dagunya, lantas tertawa.

“Kau sehat-sehat saja?”

“Tentu. Lihat saja diriku sekarang.” Ia tidak melihatku saat bicara dan mengamati sebuah gedung berlantai 16 yang berdiri tidak jauh dari kami. Gedung yang daritadi menarik perhatianku. “Ini bekas rumahku dulu. Mau masuk?”

Aku jadi ragu, “Minhwan bilang…”

“Tidak usah khawatir. Aku akan mengembalikanmu. Aku bukan hantu!” candanya sambil menepuk bahuku dan ouch, aku meringis. Ia memang bukan hantu—pikiran konyol, Choi Minho.

Jadi aku dan ia menghampiri gedung sisa kepahitan tersebut. Terdapat sebuah lambang besar palu dan arit masih menempel di gedung. Seolah hendak mengingatkan bahwa Uni Soviet telah runtuh.

Pelan, angin lembab itu menghembus melewati jendela yang tidak lagi berkaca. Menggoyang tirai yang bagiannya sudah tidak utuh lagi. Terlihat dinding yang tampak jelek—wallpaper-nya terkelupas di banyak bagian, cat langit-langit pun terlihat sama.

Kursi anak-anak terlihat berkarat di salah satu ruangan. Masih terasa keceriaan yang menyisa di sana, meski akhirnya kembali tertutup rundung duka pahit mengelabui pikiran.

Kami berdiri di lantai paling atas. Menghadap ke luar jendela. Dari kejauhan terlihat jelas reaktor nomor 4 yang mengenaskan, di bawah kaki langit Chernobyl yang mendung. Abu-abu dan nampak berantakan. Benda-benda berat yang dulu bekerja membangun reaktor lain sudah mati sama sekali—tidak tersentuh apalagi dipindahkan akibat kontaminasi tinggi yang berbahaya.

Aku menengok ke bawah. Angin itu masih saja berembus membelai wajahku ketika aku melihat keberadaan jalan setapak yang sudah hampir 28 tahun tidak pernah lagi ditapaki oleh siapapun. Jalan setapak yang berada di seberang jalan yang dilewati rombongan tur.

Di sana juga ada sebuah gulungan roda besar yang berkarat, namun dapat terlihat sisa-sisa warna-warni cerianya. Gulungan roda yang harusnya menjadi atraksi bagi penghuni kota setiap malamnya sejak 1 Mei 1986 itu kini tinggallah rencana dan bekas, serta jejak peninggalan kelalaian manusia.

1 Mei 1986. Semua orang sudah meninggalkan Pripyat, bukan?

“Masih ada di sana rupanya,” ujar Alice pahit, membuatku meliriknya sekilas—lantas mengangguk sambil menyelidik lagi bianglala besar yang menyedihkan itu.

“Aku berencana menaikinya kala itu, tapi apa mau dikata—nenekku membawaku pergi jauh dari sini. Jauh, jauh sekali.”

“Orang tuamu?”

“Ayah meninggal dan ibu menyusulnya beberapa bulan kemudian, pengaruh radiasi.”

“Ah, maaf.”

Alice tersenyum. Ia cantik.

“Kenapa tidak pulang ke Korea?” tanyaku sambil mengikutinya keluar dari ruangan, menuruni tangga untuk kembali mencapai dunia luar.

Alice mengendikkan bahu, “Aku memang orang Korea. Ayah ibuku asli dari sana, tapi aku lahir di sini. Minum dan makan dari negara ini—ada keterikatan batin yang kuat dan membuatku tetap tinggal, seperih apapun itu.”

Aku mengangguk paham, “Dan bahasa Koreamu?”

Alice tahu aku membicarakan aksennya yang benar-benar pas. Tidak terlihat seperti ia tinggal lama di sini. “Biar begitu aku tetaplah orang Korea. Jati diriku yang sesungguhnya. Aku tetap memakai bahasa itu dengan keluargaku. Tapi, yah, aku tetap tinggal di sini.”

Kami sampai di luar. Aku berjalan di depan dan membiarkan Alice berjalan lambat di belakangku.

“Astaga, Minho! Kami khawatir sekali!” Minhwan dan Bomi menghampiriku, membuatku menghentikan langkah persis di depan pintu masuk gedung tadi. “Kukira kau tersesat dan mencapai jantung kontaminasi!”

Aku tertawa dan menepuk-nepuk pundak Bomi, “Jangan berlebihan. Aku hanya diajak mampir salah satu kawan tour guide-nya Minhwan untuk mampir ke puing rumahnya.”

“Kawan apa?” tanya Minhwan mematahkan senyumku.

“Kawanmu, Alice Han. Ia gadis yang tinggal di Ukraina dan pernah tinggal di gedung ini,” ujarku sambil menunjuk gedung di belakangku kemudian berbalik. Aku melongo parah saat mendapati tidak ada sosok gadis yang tadi berbincang denganku di sana. Apakah ia masuk lagi?

“Aku tidak melihatmu bersama siapapun, Minho-ya.” Minhwan membuatku semakin linglung. “Aku juga tidak ingat punya kawan tour guide yang kubawa atau kupinta ke sini. Kau ini ngelindur!” Ia tertawa.

Bomi ikut tertawa dan meninggalkan kami menuju rombongan yang masih saling berkasak-kusuk. Minhwan sendiri tetap tertawa kecil, sambil menggiringku bersamanya menuju ke rombongan.

Hey, Alice Han, who are you?

*

Note: 

Cerita ini berdasar catatan kecil seorang warga Uni Soviet yang menyaksikan kengerian dari tragedi Chernobyl. Diubah dan ditambahi beberapa adegan untuk menjadikannya sebuah fan fiksi yang menghibur. Terimakasih sudah membaca, jangan lupa untuk mendoakan selalu keluarga kita di mana pun mereka berada ^^ 

©2013 SF3SI, Vania

signature

Officially written by Vania claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

14 thoughts on “Chernobyl

  1. Hantu…..tadinya kukira alice bukan hantu. Cih, tertipu.

    Ini bagus, temanya lumayan berat. Tapi untunglah dibawa enteng oleh cerita ini ^^

  2. huaa udah lama nin ngga buka SF3SI, pas buka ada cerita ini, seru!! awalnya udah horor-horor dikit. ternyata beneran horor, pas alice han bilang dia bukan hantu aku malah ada perasaan dia adalah hantu. dan bener aja, endingnya dia emang beneran hantu. Aaaakkk seru tapiiii ~

  3. Sumpah ngeri aku baca nya, ngebayangin jadi minho gimana ya? Kalau aku sih bakalan susah tidur selama seminggu..

    Bagus thor! Tapi..sebelum nya aku belum pernah baca tetang kejadian itu..jadi sedikit loading gitu..hehe

  4. Wahaaa.ada yang ngagkat cerita inii..huhuhu
    Bbaru aja kemarin aku liat dashboard tumblr, trus liat akun instagram ngangkat kisah chernobyl ini. Liat foto2nya memilukan, dinding2 terkelupas, jalanan dan ranting abu2 kayak habis letusan gunung berapi, boneka beruang yang berubah warna jadi abu2 kusam, kursi2 patah… mengerikan.
    Dan lewat cerita ini, aku jd lebih paham maksud dari gambar yg disuguhkan di sana.

    Minho di guide sama penghuni tetap di sana..hiii…

    Suka kaaak!!!

    1. hihihi aku suka banget kalo udah “menjelajahi” lokasi chernobyl dari pemaparan di google dan gambar2nya, makanya aku pikir bagus juga diangkat jadi ff, biar banyak yg blm tau jadi tau😀
      hihi makasih yaaa~

  5. saya udah nonton Chernobyl, agk ngeri juga di film itu ngeliat kota yg baru dibangun dengan segala fasilitasnya bagi warga yg bekerja disana sekarang jadi kota hantu…

    kalau saya siy nggak berani jalan2 ke lokasi spt Chernobyl itu..

    mungkin Alice Han salah satu korban di sana ya…

    saya udh baca ff ini di wp-mu Van, sblm alamatnya berubah^^

    1. aku gatau ada film chernobyl .____. jadi pengen nyari xD
      wah kalo aku malah pengen banget sih ke sana, cuma takut sama radiasinya, meski udah ada standar gituan juga….

      hehehe oke deh makasih ya🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s