Angle [1.2]

Jing's

Angle: Byul

Main cast : Lee Jinki
Length : 3.085w
Genre : Hurt/Comfort, Life
Rating : NC17
A/n : Double Door’s side story on Jinki’s perspective

Hyung, kau homo ya?”

Kontan saja pertanyaan Arang membuat Chanyeol dan Kevin yang sibuk dengan makan siang mereka menoleh ke arahku secara bersamaan dengan mata membulat. Aku menggeleng, namun jawabanku justru membuat mereka bertiga memicingkan mata dan menatapku curiga. Aku pernah berkencan dengan beberapa wanita meskipun hubungan yang kujalani tidak bertahan lama.

“Kalau kau tidak homo, kenapa aku tidak pernah melihatmu berkencan?”

“Kau hanya tidak tahu saja. Kalaupun aku berkencan, aku tidak akan mengumbarnya seperti yang kalian lakukan. Kekanakan.”

“Sekarang kau sedang berkencan tidak, Hyung?” tanya Chanyeol. “Atau mau kukenalkan dengan Nuna-ku yang news anchor.”

Thanks.”

“Atau Nuna-ku?” tawar Kevin. “Tidak kalah cantik dari Yura Nuna kok.”

“Bagaimana kalau adikmu?”

Arang terbatuk hebat saat mendengar pertanyaanku. Ia menyambar jusnya kemudian menenggaknya hingga tandas. Kenapa? Bukannya adik Arang juga wanita? Apa ia masih terlalu muda?

“Kau serius, Hyung?

Aku mengangguk, nyaris menjatuhkan sumpit ketika Arang tiba-tiba memelukku dengan girang. Astaga! Jangan-jangan malah Arang sendiri yang homo?

“Aku tidak bisa mengenalkanmu secara langsung pada Areum. Jadi untuk permulaan, datanglah ke rumah setiap akhir pekan pukul empat. Biasanya ia baru pulang membeli roti.”

“Kenapa? Kau seperti berusaha mengenalkanku pada anak kecil.”

Chanyeol dan Kevin mengangguk, setuju dengan pendapatku. Aku sudah cukup sering ikut kencan buta yang diatur oleh Joon atau temanku, dan cara paling efektif untuk berkenalan adalah bertatap muka kemudian mengobrol. Datang secara rutin untuk membuat adiknya menyadariku seperti berusaha mendekati anak kecil agar ia familiar denganmu.

She’s special, Hyung. Just special.

-.-.-.-

Ia terlihat normal. Maafkan pendapatku—serius, kupikir ia mengalami gangguan psikologis atau cacat fisik—aku tidak bermaksud merendahkan; hanya berspekulasi. Astaga , apa bedanya?

Ia tidak terlalu tinggi, rambut tebalnya dikuncir ekor kuda yang menyisakan riak-riak manis di bahu, kulitnya kekuningan pucat dengan bibir yang dipulas kemerahan. Ia hanya mengangguk kecil sambil berlalu saat melihatku. Tidak ada senyum sama sekali kemudian melangkah tergesa-gesa ke dalam seolah aku adalah orang jahat yang siap menyerangnya.

Pertemuan kedua saat Minggu sore. Ia terlihat jauh lebih santai dengan rok ungu gelap dan hoodie peach, rambutnya digerai berhias bando berwarna ungu juga. Kedua tangannya penuh dengan kantong belanjaan, sepertinya habis belanja bulanan dengan ibunya. Aku sempat membantu ibunya untuk membawakan belanjaan ke dapur namun begitu gilirannya, ia hanya menggeleng sambil menggeret dua kantong plastik itu ke dapur.

Perlu sekitar empat kali pertemuan di selasar sebelum Arang mengundangku untuk makan malam di rumahnya. Menyenangkan, semuanya menyambutku dengan hangat tapi Seo Areum tidak termasuk di dalamnya. Ia ikut tertawa ketika mendengar leluconku, tapi tertawa formalitas. Aku memang tidak bergaul terlalu banyak namun setidaknya aku tahu mana yang tulus dan tidak.

Dan kurasa cara pendekatan yang diminta Arang memang benar. Buat Areum familiar kemudian berikan sesuatu yang diluar ekspektasinya, mengejutkan namun membuatnya tertarik. Seperti sekarang, ia terlongong menatap PSP yang kuberikan sambil mengacungkan ibu jari. Such a kid.

“Kenapa Taman Ria?” Kunaikkan sebelah alisku ketika ia mendadak bertanya tempat kencan yang ia inginkan. “Kau tidak menganggapku kekanakan karena mengajakmu kencan di sana, kan?”

“Karena menurutku tidak ada salahnya sesekali bermain.” Areum terdiam, sepertinya jawabanku tidak sesuai dengan ekspektasinya. Lagi. Aku tersenyum tipis sambil melihat perubahan ekspresinya.

“Jika menurutmu Taman Ria kekanakan, harusnya kita satu pemikiran, kan? Aku juga berpikir untuk mengajakmu kencan di sana.”

Ia mengangguk. “Kalau nonton film?”

“Kebetulan aku tidak suka pergi ke bioskop.”

“Berarti tidak akan kencan di sana.”

“Iya.” Aku merasa ia sedang berpikir bahwa aku akan mengajaknya kencan setiap akhir pekan. “Aku tidak akan mengajakmu keluar sering-sering kalau kau tidak nyaman.”

“Bukan begitu, Jinki-ssi,” ia terlihat panik atas tanggapanku. “Aku tidak berpikir seperti itu. Maksudku, aku hanya tidak tahu tempat yang cocok untuk kita pergi.”

“Kemana saja, asal kau merasa nyaman, Areum-ssi.

-.-.-.-

Ini bukan yang kuharapkan dan tentu saja juga bukan yang Areum harapkan. Rautnya pias seketika saat aku mengambil boneka yang disodorkan pemilik stand sebagai hadiah. Aku yakin, ini bukan sekedar trauma paska menonton film horor seperti yang Arang ceritakan.

Areum terlihat seperti menyembunyikan sesuatu, jika apa yang diceritakan Arang benar maka harusnya Areum mengancam dan menyuruhku untuk membuangnya. Sesopan-sopannya orang, jika paranoid maka semua kegilaannya akan keluar. Namun Areum lebih terlihat seperti anak kecil yang berusaha menyembunyikan nilai jeleknya dari orang tua ketimbang orang yang paranoid karena film horor.

Aku menjauh, berpura-pura pergi ke toilet untuk memberikan boneka yang kubawa pada sembarang anak kecil sebelum kembali padanya sambil membawa satu cone es krim. Rasanya aneh untuk terus menerus menggenggam pergelangan tangannya seperti ini, I supposed to hold her hand instead. Nampaknya Areum tidak begitu peduli di sebelah mana aku menyentuhnya karena ia hanya berfokus pada pemandangan di luar ferris wheel yang sedang kami naiki.

“Wah, kurasa aku bisa melihat gedung Starlight.”

Aku menahan tawa ketika ia menunjuk arah yang salah. Gedung Starlight ada di timur laut tetapi ia malah menunjuk gedung yang cukup mirip di arah tenggara.

“Di sana, Areum-ssi.” Aku memindahkan telunjuknya ke arah yang benar. “Meskipun berwarna sama, tapi gedung di sana tidak memiliki bintang.”

“Bintang?”

“Coba perhatikan, kau akan melihat corak kuning di gedung yang akan terlihat seperti bintang yang sedang bersinar.”

Bibirku tidak bisa untuk tidak tertarik ketika menatap Areum yang sedang berkonsentrasi menatap gedung Starlight. Dahinya berkerut, matanya memicing dan bibir mungilnya mengerucut. Mungkin akan lebih baik jika ia tidak tiba-tiba melompat sehingga tubuhnya menghantam dinding gondola karena terpeleset.

“Astaga! Kau tidak apa-apa?” Ia menggeleng sambil mengusap lengannya. “Aku menemukannya, sudah bisa melihat bintangnya.”

-.-.-.-

Brengsek. Okay, aku tidak seharusnya mengumpat tetapi rasa ngilu hebat yang menjalari punggungku ini benar-benar menyebalkan. Setelah berkata pada Bos bahwa aku mengalami kecelakaan kecil—yang membuatnya panik kemudian bertanya apakah jari-jari dan kepalaku dalam keadaan baik, ya, karena perusahaan membutuhkannya—dan tidak bisa masuk besok, aku hanya tengkurap di ranjang seperti kura-kura yang sedang berjemur.

Beruntung aku sudah tidak tinggal serumah dengan orang tuaku. Mungkin Eomma akan khawatir melihat anak semata wayangnya berjalan tersaruk-saruk setelah pulang kencan dan berakhir tersuruk di ranjang sambil mengumpat. Mungkin beliau akan berpikir bahwa aku berkencan dengan pegulat wanita atau aku berkhianat padanya sehingga aku mendapat karma.

Rasanya tadi tidak sesakit ini. Aku bisa berjalan tenang tanpa gangguan meskipun Areum bersikukuh untuk membantuku berjalan. Ah, gadis kecil itu. Refleks ujung bibirku tertarik ketika mengingat kerut-kerut di dahinya dan every-minute-glance yang ia berikan padaku ketika kami makan. Gadis itu nampaknya takut jika aku mendadak lumpuh atau tidak sadarkan diri. Lucu, aku belum pernah melihatnya begitu perhatian padaku sebelumnya.

Mungkin aku akan tertidur jika ponselku tidak berbunyi. Bukan Areum, tapi Joon. Well, harusnya aku senang setelah sekian lama tidak bertemu karena ia ditugaskan di Kyoto. Namun kali ini sepertinya tidak. Aku sudah tidak bisa bergerak, jadi tidak mungkin aku akan keluar minum bersamanya.

“Halo?”

“Hei, kau ada di rumah?”

Yeah, tapi aku tidak bisa keluar sekarang. I got a mishap with library’s rack.

Well, kau masih bisa berjalan untuk membuka pintu? Atau aku perlu menerobos jendelamu?”

“Tetaplah di sana, aku akan membuka pintu sebentar lagi.”

Baiklah, mungkin tidak sebentar. Biasanya aku hanya butuh satu menit untuk berlari dari kamar menuju pintu depan. Aku cukup lincah untuk melompati beberapa anak tangga sekaligus, tapi kali ini tidak. Aku merayap, benar-benar merayap hingga aku bisa mendengar bunyi ponselku berkali-kali.

“Kau tidak apa-apa?” Aku hanya mengibaskan tangan sebelum Joon memapahku ke ruang tengah. “Kurasa kau harus mengompresnya.”

Get me, will you?

Ia menyurukkanku ke sofa sebelum membongkar lemari es. Aku mendesis ketika bungkusan dingin yang semula di tangannya berpindah ke punggungku. Ini mungkin hal bodoh yang kulakukan setelah mencoba menangkap Aiden yang terpeleset dari tembok sekolah sewaktu kami berniat untuk membolos dan membuat pergelangan tangan kiriku retak, entah berapa belas tahun lalu.

“Apa ia sudah istirahat dengan tenang?”

Joon hanya mengangguk kecil sambil menyesap jusnya. “Tapi aku tidak tahu anaknya menghilang kemana. Keluarga istrinya bahkan melaporkan hilangnya anak itu ke Polisi, tapi belum berhasil ditemukan hingga sekarang.”

“Kasihan, bocah tampan itu. Kuharap dimanapun ia berada, Kibum akan baik-baik saja.” Aku mendesah, menyapukan ujung-ujung jemariku ke karpet. “Bagaimana dengan Dayoung? Ia sudah bisa beradaptasi dengan teman-temannya, kan?”

She’s such a Queenka, now. Kau tidak tahu bagaimana ia bertengkar dengan temannya yang mencoba mengambil bekal makan siangnya.”

“Hei, setidaknya itu bagus karena ia sudah membela diri.” Joon tergelak. “Jadi, sebenarnya kau kesini kenapa?”

“Untuk melihat apakah kau memang baik-baik saja setelah kematian Byul dan Aiden.”
Aku tergelak. Sudah jauh lebih baik karena aku menemukan pengganti Byul di sini, Areum. Gadis itu sudah cukup untuk menggantikan Byul, lebih dari cukup mungkin. Karena seandainya Aiden masih hidup dan Byul yang meninggal, ia akan berusaha merebutnya seperti bagaimana ia merebut Byul dariku dengan licik.

“Namanya Areum, ia adik dari salah seorang teman sekantorku. Usianya terpaut enam tahun denganku. Areum mirip dengan Byul, posturnya, cara bicaranya, pola pikirnya. Tapi, ia masih menyembunyikan sesuatu dariku. Entah apa.”

“Kapan kau akan berhenti?”

“Berhenti apa?”

“Mencari Byul dalam diri wanita lain. Kau tidak akan pernah bisa menemukannya, Jinki-ya. Seberapa keras kau mempertahankan pola pikirmu itu.”

“But I’ve found her. Kali ini benar-benar Byul, Joon. Aku tidak akan berpikir dua kali untuk menikahi nya sekarang juga jika bisa.”

“Hei.” Aku tidak tahu sejak kapan Joon sudah duduk bersila di sampingku.

I know that people can heal, tapi bukan begini caranya. Kau tahu, kan? Jika aku dulu juga menyukai Byul. Kita bertiga menyukai satu orang yang sama dan aku tahu rasanya ketika kau atau Aiden bisa mendapatkan perhatiannya sementara aku hanya dianggap seperti badut karena tingkahku. Aku tidak tahu apa luka kita sama, tapi merelakannya tidak akan membunuhmu, Jinki-ya. Percaya padaku.”

-.-.-.-.-

“Kurasa aku belum siap.” Areum mendorong dadaku pelan. “Mungkin tidak sekarang, Jing.”

Aku tertawa canggung kemudian mengacak rambutnya pelan. “Tidak masalah, take your time.”

Tidak, ini belum pernah terjadi selama aku berkencan. Seorang wanita tidak akan menolak untuk kucium, bahkan ada yang dengan terang-terangan berinisiatif untuk menciumku ketika kami berkencan. Tapi Areum, ia jelas-jelas menolakku dengan raut ketakutan seperti ketika ia diajak untuk berselingkuh.

“Maaf.”

“Tidak apa-apa, aku saja yang terlalu terburu-buru.” Aku menginjak pedal gas perlahan. “Kau tahu, kadang ada semacam . . .”

Sexual frustration?

I don’t think you’ll spell it out right now.

But I’m mature enough to know that disease.” Ia tertawa kecil. “Memangnya kau belum pernah disentuh sebelumnya?”

“Mungkin hanya sebagian, aku belum pernah menenggelamkan diriku sepenuhnya dalam pelukan wanita. Kau tahu, aku ini pria mahal.”

Hening. Kupikir Areum akan menanggapi candaanku dengan ‘how much I should pay for you’ atau sejenisnya, tapi gadis itu diam sambil menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Apa candaanku terdengar terlalu aneh?

“Areum-a?”

“Ung?”

“Kau tidak apa-apa?”

“Sedikit pusing.”

Aku meraih tangan kanannya kemudian meremasnya perlahan, lembab. “Apa kita perlu ke rumah sakit?”

“Tidak, hanya pusing sedikit. Sebentar juga sembuh.”

-.-.-.-.-

Aku tidak tahu harus merasa bersalah atau marah atas semua yang kudengar. Telapak tanganku sudah mati rasa karena terhujam kukuku sendiri. Aku diam, begitu juga dengan gadis di hadapanku. Bukan, bukan Areum, tapi sahabatnya, Do Minsol.

“Jadi, apa maksudmu mengatakan semua ini padaku?”

“Areum mengatakan semuanya padamu tadi malam, kan? Dan aku berani bertaruh bahwa ia akan merendahkan dirinya sehingga kau akan meninggalkannya. Aku tidak mau ia kembali pada si brengsek Choi Minho, aku ingin melihatnya bahagia, Oppa.”

“Lalu, kau berpikir bahwa aku akan menerimanya jika aku tahu bahwa ia dulu bermain-main dengan gigolo?” Mulutmu tidak perlu sebrengsek ini, Lee Jinki. “Aku tahu bahwa ia menyembunyikan sesuatu, tapi aku tidak menyangka situasinya separah ini. Hamil? Keguguran?”

“Aku bercerita karena percaya padamu, bajingan!” Hei, kenapa malah ia yang marah. “Kau tahu, Areum selalu berkata bahwa kau adalah malaikat tanpa sayap yang menjaganya. Dan aku bisa percaya bahwa kau akan benar-benar bersamanya setelah kau mengatakan bahwa ‘Aku tidak akan pernah peduli siapapun yang dulu pernah bersamamu, semua orang punya masa lalu. Jika kau akhirnya denganku, untuk apa aku pedulikan hal yang sudah-sudah.’ Apa kau bermaksud berbohong?”

“Dengar, aku-”

“Kau yang dengar! Memangnya kau pikir Areum mau seperti ini? Ia sudah cukup baik untuk mengakui semuanya. Meskipun ia masih mencintai si brengsek Minho, ia mau berubah, mau mencoba untuk membalas perasaanmu!”

“Tahu apa kau tentang perasaanku!”

“Aku tahu kau bukan seperti apa yang Areum gambarkan, aku tahu bahwa kau tidak sesuci itu Tuan Lee Jinki. Kau posesif, kau menutupinya dengan baik di hadapan Areum, tapi tidak denganku. Aku bisa melihat bahwa kau benar-benar ingin memilikinya sebelum aku melihatmu hari ini.” Ia tertawa sarkastik. “Dan mungkin, aku memang harus menjaga Areum sambil memastikan bahwa si brengsek Choi Minho akan menjadi suami yang baik untuknya.”

-.-.-.-.-

Merelakan tidak akan membunuh. Mungkin benar yang Joon katakan. Jika aku merelakan Byul, mungkin aku tidak akan mempertahankan Areum sejauh ini meskipun aku tahu ada yang salah dengannya. Aku tidak akan berakhir dengan tangan kiri yang bersimbah darah dan kaca wastafel yang berantakan, tidak akan berakhir di klinik terdekat dengan berbohong tentang kecerobohanku dan tidak akan berakhir dengan botol-botol soju bersama Joon.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan?”

“Entah, rasanya aku tidak bisa bernapas.”

“Tidak ada yang sempurna, Jinki-ya. Setiap orang memiliki masa lalu yang berbeda.”

“Tapi Byul sempurna.”

In your mind. Kau tidak tahu bahwa Aiden yang meminta Byul untuk bersamamu karena ia tahu bahwa kau menyukai Byul melebihi perasaan kami berdua. Tapi perasaan memang tidak bisa berbohong, jadi tidak ada salahnya Byul kembali pada Aiden.”

How do-” Aku berusaha menahan diri untuk tidak memecahkan salah satu botol di ke kepala Joon. “Kau . . .”

“Aku tidak sengaja mendengarnya dan aku memang tidak akan memberitahumu jika kau tidak sakit seperti ini.”

“Sakit?” Suaraku naik dua oktaf. “Sakit KATAMU?”

“Ya, kau memang sakit, Lee Jinki. Sebenarnya kau bahagia dengan kematian Byul dan Aiden, kan? Kau tidak perlu pura-pura bahagia melihat saat mereka berdua. Mencari Byul dalam diri wanita lain hanya pertahananmu selama ini karena kau tidak bisa menerima kenyataan.”

Aku tersungkur di parquet tepat sebelum menghantam rahang Joon. Tidak sesakit yang kubayangkan. Tidak sakit, tidak . . .

“Menangislah, Jinki-ya. Aku tidak akan melarangmu menangis untuk saat ini.”

-.-.-.-

“Digigit anjing.” Chanyeol membulatkan matanya. “Sudah disuntik anti rabies.”

Ia mengangguk-angguk, masih setengah ngeri dengan perban yang membebat tanganku. Arang yang baru saja datang menanyakan hal yang sama, reaksinya lebih hebat lagi. Ia bahkan berani menceramahiku untuk tidak berhubungan dengan Areum lagi jika aku terinfeksi rabies. Bodoh, memangnya aku mau berhubungan dengannya lagi?

Hyung kok kau tidak asyik lagi sih.”

“Apanya?”

“Itu,” Chanyeol menunjuk layar komputerku dengan dagunya. “Otome lagi, mau merebut lahan kerjaku ya?”

“Ah, bukan. Ini bukan untuk perusahaan.”

“Untuk melamar Areum?” Aku terdiam. Iya, aku merancang game ini untuk melamar Areum. Sebelum aku tahu semuanya, sebelum aku kecewa, sebelum aku merasa semuanya tidak adil, sebelum . . .

“Buat yang bagus, Hyung. Nanti kutambahkan program self-destruction, jika lamaranmu ditolak maka PSP-mu akan hancur.” Chanyeol mengusap kepalanya yang barusan dipukul Arang. “Hyung! Aku kan hanya membantu agar lamaran Areum spesial, agar Jinki Hyung tidak menggunakan game yang sama untuk melamar gadis lain jika lamarannya ditolak.”

“Areum tidak akan menolak lamaran Jinki Hyung tahu! Doamu jelek sekali.”

“Aku tidak tahu akan dilanjutkan atau tidak.”

Aku beranjak dari kubikelku, keluar ruangan untuk mencari pengalihan. Tidak tahu, aku tidak yakin akan menyelesaikannya dan melakukan apa yang sudah kurencanakan dengan matang. Terlalu matang malah, sebelum Minsol mengatakan bahwa aku posesif, aku tidak suci. Sebelum Joon bilang bahwa aku sakit. Mereka tidak mengerti, aku yang diinjak-injak di sini. Aku yang terluka, brengsek!

“Kopi?”

Aku menerima gelas kertas yang disodorkan Arang. Ingin rasanya aku menumpahkan isinya ke wajah pria di sampingku dan memaki-makinya karena sudah; katakan saja, memberi barang yang tidak layak padaku. Tapi tidak mungkin, Arang tidak mungkin sengaja melakukan itu. Areum pasti menyembunyikan semua ini dari keluarga jika dilihat dari gelagatnya.

“Areum menyusahkanmu ya?”

Nope.” Bullshit! Ia sudah menjungkir-balikkanku dalam semalam. “Kenapa?”

Ia menggeleng sambil tersenyum tipis. “Aku minta maaf jika gadis itu menyusahkanmu. She has been lost her track for years, aku tidak tahu kenapa. Aku merasa bahwa ini salahku karena aku membiarkannya tinggal terpisah denganku saat mulai masuk kuliah. Areum berubah. Adik kecilku tidak seperti ini sebelumnya.”

“Memang sebelumnya Areum seperti apa? Ia menarik menurutku, cara pikirnya, cara bicara dan sikapnya.”

“Areum tidak defensif, ia ofensif seperti anak kecil. Jika tidak suka, maka ia bilang tidak secara terang-terangan dan ia sangat terbuka. Aku ingat bahwa ketika awal masuk kuliah, Areum bisa menelepon ke rumah nyaris tiga kali sehari sekedar untuk mengobrol hal-hal kecil atau mendengar ceramahku tentang harus hati-hati terhadap setiap orang.” Arang menghela napas. “Tapi lama-kelamaan Areum berubah, ia jarang sekali menelepon rumah, jarang pulang. Jika Eomma menelepon tidak pernah diangkat, bahkan Subin yang sangat dekat dengannya, diabaikan. Jika pulang ia selalu mengurung diri, menerima telepon dari temannya pun sembunyi-sembunyi seolah ia melakukan perbuatan kriminal. Sekali, aku mengajaknya bicara namun setelah itu ia tidak pulang tiga bulan dengan alasan sibuk karena kegiatan kampus.”

Gila, aku yakin bahwa Seo Areum sudah gila.

“Aku tidak tahu apakah kau akan bisa menerimanya. Aku tidak bisa memaksa hubungan kalian berdua. Namun, jika kau benar-benar bisa menerimanya. Kuharap kau bisa menyembuhkannya jika Areum terluka.” Ia beranjak dari sisiku. “Heh, ayo kembali, Hyung! Kau tidak mau ditegur Bos karena disangka makan gaji buta, kan?”

“Hmm, pergilah duluan. Aku masih perlu menghabiskan kopi sebelum kembali.”

Hyung,

“Ya?”

“Terima kasih.”

-.-.-.-

Namanya Byul, Han Byul. Satu bintang, great star. Ia anak kelas sebelah, satu kelas dengan Aiden. Ia memiliki kulit berwarna kecoklatan sehat karena ia berasal dari pesisir. Ia tinggal di asrama putri, satu kamar dengan wakil ketua kelasku. Byul bukan gadis yang sangat feminin ataupun tomboy, ia aktif dan periang tapi tidak sok malu-malu seperti gadis yang lain. Ia cenderung galak, bahkan tidak segan untuk memukul Aiden jika ia mulai meledek tentang rambutnya yang tidak punya gaya dan dibiarkan saja seperti salah satu tokoh anime kesukaanku; Ai Enma.

Entah sejak kapan ia mendadak bergabung dengan kami. Dengan aku, Aiden dan Joon. Tidak, kami bukan anak baik-baik yang hanya duduk diam di kelas. Bukan juga berandal yang gemar ikut tawuran di sana-sini. Kami murid biasa yang bisa bosan dan membolos. Kadang di atap, kadang keluar dengan memanjat tembok sekolah, atau kadang hanya sembunyi di loteng perpustakaan untuk bermain kartu.

Byul menarik—atau mungkin karena aku terobsesi dengan bintang—bukan hanya aku, Aiden dan Joon ternyata juga punya pikiran sama. Aku tidak sadar kapan pertemanan ini berubah menjadi kompetisi panas untuk memperebutkan Byul. Sainganku hanya Aiden, Joon yang humoris tidak masuk dalam kategorinya.

Aku sempat mendapatkan ciuman pertamanya. Di bawah pohon Sakura seusai menunggunya berlatih Voli. Kupikir, itu tandanya ia setuju untuk menjadi milikku. Namun ternyata tidak, karena tiga hari sesudahnya aku menemukan Byul dan Aiden berciuman di dekat gymnasium. Aku tidak marah, lebih tepatnya berpura-pura tidak marah. Tidak marah saat menjadi bestman dalam pernikahan mereka, tidak marah ketika melihat Kibum lahir, dan tidak marah ketika Aiden membawa Byul pergi untuk selama-lamanya.

Kau laki-laki yang sangat baik, begitu yang Byul pernah bilang padaku, dan aku menyukaimu.

15.13
06.04.14

©2013 SF3SI, Chrysalis

siggy chrysalisOfficially written by Chrysalis, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

61 thoughts on “Angle [1.2]

  1. Ini kok timeline nya kayak now you see me. Lompat-lompat tapi nyambung (?) tapi ada mbekas mbingunginnya. Waktu di Double doors Jinki seemed like a perfect man, perfect healer. Ternyata aaa… Anda menghancurkan pengharapan saya.

    Eh iya, saran aja, yang bagian berbahasa lain di miringin kak, biar keliatan rapi. (Nggak tau ini apps hape yang salah atau gimana)

    Overall, apa ya? Belum liat part yang selanjutnya jadi nggak bisa jump to conclusion haha… Yaudah. Ditunggu, secepatnya (bercanda…)

    1. wahahaha aku belum liat now you see me jadi ya ini mungkin hanya kebetulan
      lhooo jangan berharap sama saya
      apalagi sama jinki #eh

      iya kok, ini ada mishap sama wp bukan salah app di ponsel
      udah aku benerin kok
      makasih sarannya

      secepatnya . . .
      well, akan aku usahakan ya
      soalnya ini lagi fase hidup segan mati tak mau
      semoga feelingnya bisa cepet balik dan kebut ini

      makasih ya udah mampir ^^

  2. cakep banget bahasanya thoooor^^ tapi iyanih aku kadang perlu baca dua kali buat mastiin ini yg ngomong siapa gitu.
    next chapt ditunggu secepeatnya

    1. makasih ya
      next part bakal revisi dan berusaha memperjelas bagian percakapannya
      ngg, nggak janji bisa kebut tapi akan diusahakan
      makasih udah mampir ^^

      ps.
      jangan panggil thor dong, aku kan enggak punya palu petir itu huhuhuhu TT___TT

      1. wkwkwk
        aku kudu panggil apa dong? eonni? :3
        btw ternyata aku blm baca yg double doors dan ternyata di pw-in ya?
        cara dapet pw nya gimana ya?

        1. eonni boleh, kak boleh, chrys doang juga oke
          suit yourself la
          oh kalo info minta password ada kok penjelasannya di page F.A.Q, dibaca di sana aja ya biar lebih jelas
          dan pastikan kalo kamu udah cukup umur🙂

  3. Memamg gak ada yang sempurna yah di dunia ini, seorang jinki yg terlihat sprti malaikatpun, msh pnya keegoisan dan sisi jahat dalam dirinya.
    Jinki wlwpun kau bgtu bagiku kau lelaki sempurna.. Kyaakkkk… *apa2an ini.

    Keep writing ya thor, like bgt buat ff nya.

  4. Aakkkk chanyeol akkkk *selalu salah fokus* mohon dimaafkan*
    Oke sekarang serius..
    Jinki isnt perfect of course, jinki just a human..everybody has good and bad side..
    No commet sampe nanti semua chapter keluar..seperti biasa km suka bgt kasih kejutan-kejutan tak terduga..akan dengan sabar menunggu semua kejutan itu..
    love your story as always..ngerusuhnya ntr aja sekalian ya..pyong pyong..

    1. elaaah, ini orang salah fokus lagi =___=”
      hahaha iyadong hidup harus penuh kejutan #plakk
      oke ditunggu rusuhnya di part terakhir ye
      makasih udah mampir kak ^^

  5. aaaa aku belom baca yang sebelumnya tapi udah ngerti intinya sih bhehe. dan aku tau jadi jinki itu nyesek abiss
    dan cara pelampiasan dia yang nyari sosok byul di diri wanita lain itu yang makin bikin nyesek bhaha :”

  6. salah satu alasanku selalu nungguin karya kamu karena cerita kamu selalu gak terduga

    gak ada yang sempurna di dunia ini termasuk Jinki
    gini rasanya baca dari satu sudut pandang.menarik
    seperti kehidupan nyata
    ditunggu kelanjutannya

  7. aaaaaa jd kibum yg dibawa minho itu anakny tmnny jinki…aaaa jd jinki g semalaikat kaya kaya dia di dpn areum…tp ya msk akal jg sih cowo mana yg mau dpt barng bekas kcuali klo cowo ny jg bekasan…pnasarn apa yg bkin jinki bnran nikahin areum nntinya.

    1. maaf ya udah bikin bingung TT___TT
      part selanjutnya akan lebih diperhatikan
      makasih udah mampir ^^

      ps.
      jangan panggil thor dong, aku kan enggak punya palu petir itu huhuhuhu TT___TT

  8. so, that’s why you said that i wouldn’t love Jing as much as I did before

    yah, mmg ddunia ini ga ada yg sempurna, termasuk abang Jing yg super sweet di double door. ternyata masa lalu Jing complex juga ya. haduuuh…. ditunggu next chap-ny kk. soalnya msh g ketebak knp akhirnya Jing bs bnr2 menerima seorang Areum

    dan, ada bbrapa bagian yg agak ngebingungin, bikin bertanya2 ini yg ngmg tadi siapa y? haha… mgkn lain kali agak diperjelas aja supaya readers g perlu berkali2 scroll k atas. but overall, ini bagus sangat and out of expectation. aku tunggu lanjutanny kk~

    1. eh bella dateng
      ahaha iya ya gitu sih soalnya jinki diam-diam seram

      ah ya gimana ya
      aku juga sebenernya agak bingung kenapa tanganku bisa nulis begini *digampar*
      yok tebak-tebak berhadiah, siapa tau nanti dapet jinki buat dibawa pulang *lah*

      ah ya banyak yang bilang begitu sih
      ini efek males ngedit sepertinya sudah membawa banyak kebingungan bagi yang baca
      di part selanjutnya akan aku usahakan buat meminimalisir kebingungan itu

      makasih ya udah mampir ^^

      1. iy nih, kk.. saking seramnya jinki jadi g ketebak jalan pikirannya. hmm… jadi baik aiden n joon tahu kalo jing suka sama byul gt? tapi krn aiden g mau ngorbanin byul yg mmg dia suka makanya mrk ttp nikah? n kenapa si kibum bisa ada d minho?

        aaah…. segera lanjutannya, kk~

        1. ahahaha iya gitu sih
          iya kan mereka bertiga compete buat dapetin byul
          yang awalnya haha-hihi ternyata jadi beneran
          dan yah karena si byul suka juga sama aiden jadi ya mereka nikah

          hayo mino dapet darimana hayooo *plakk*
          asal-usulnya kibum ntar diceritain dari kacamata mino yah
          mohon kesabarannya~

  9. Chrys… Nih angle 1, Jinki’s pov… horee….

    Aku suka banget, banget, banget… dengan Jinki secara keseluruhan… akhirnya…
    Iyalah, dia harus punya sisi gelap… Kalo dia yang kemaren, siapa yeoja yang nggak jatuh cinta dengan image sempurnanya. Tapi, bagiku, dia jadi sosok yang gak ‘tergapai’… Aku langsung ingat opini salah satu author juga, OnMithee, tentang alasan kenapa Jinki sering jadi maincast di ceritanya. Selain Jinki memang biasnya, menurut OnMithee Jinki adalah sosok yang menyimpan banyak rahasia (pernah dikemukakan oleh Kyuhyun juga kan…). Dia misterius… dan tawa lepas atau eyesmilenya yang selalu berhasil buat kita luluh boleh jadi menutupi sesuatu yang ada di hatinya. Dan lagi, masih menurut OnMithee, terkadang, mata Jinki menyorot keangkuhan dan sosok yang dingin… setidaknya, kalimat terakhir ini, dia tunjukkan melalui satu foto yang dia post disitu. Dan aku setuju… *who cares of my opinion… Dan kombinasi inilah yang buat dia banyak mendapat inspirasi jika nulis cerita dengan cast jinki… okay, that’s enough

    Balik lagi kesini, jadi setelah dua sisi Jinki terekspose, kita bisa menilai situasinya dengan adil buat Areum. Kemarin di double Door 3.3, aku ngaku ‘menghakimi’ Areum dengan kurang adil. Areum ‘menganiaya’ Jinki dengan sikapnya yang sok suci, takut disentuh, traumatis… dsb… dan buat aku berfikir, nih yeoja ‘munawaroh’ banget, sih…? Dan aku gak suka… Dia juga buat seolah-olah dia adalah murni korban Minho… Hey, Areum,, you did enjoy your “three-letter” adventure with your ‘chopstick’. Dari yang aku dapet di DD, sejak pertama kali mereka made out, it wasn’t a rape, was it? So, who is to blame? Minho yang dengan pilihan hidupnya, yang jelas gak dia tutupi dari Areum, atau Areum yang yang gak bisa memilih jalan yang tepat masa itu karena terbuai permainan Minho? Come on, Areum is a bright girl. She knows what she does. Maaf, lagi-lagi aku mengadili Areum disini… Kalo sebelumnya karena lebih membela Jinki, sekarang karena membela Minho… Atau, biar adil…, Areum telah jatuh cinta dengan Minho, dan itu cukup buat dia rela melakukan dan menyerahkan apapun demi sumpitnya. Mengerikan??? Ya, tapi nggak semengerikan Jinki… Jinki belum sempat memberi banyak kepada orang yang dia cinta, tapi lihat efeknya. Dia jadi sosok dengan dua kepribadian yang sangat ‘putih’ yang dia tunjukkan kepada orang, dan menyimpan kepribadian ‘hitam’ yang sangat rapi yang jadi obsesinya. *bingung? aku juga…😀 Dia menganggap dia orang suci dan sempurna, sama seperti yang orang fikirkan dan lihat, perfect…, sesuai rencana, bukan? Dan karena itu, dia menuntut seorang pendamping yang juga suci dan sempurna yang pantas mendampingi dia… Makhluk apa yang pantas menganggap dirinya sempurna? Nggak ada… *dan karena itu aku protes di DD 3.3, Chrys… Joon bilang dia ‘sakit’? benar… Dia sakit ketika dia berfikir, semua bisa berjalan sesuai dengan yang dia harapkan… menemukan pengganti Byul yang sempurna pada diri Areum yang ternyata hanya ‘barang bekas’. *Damn, he’s totally a jerk to mention this words. Dan membuat dia berfikir dia kalah karena telah menjatuhkan pilihan pada orang yang salah ketika memilih Areum… Dan dia mengalami kekalahan yang kedua, ketika tahu ternyata Byulpun tak sesempurna yang dia fikirkan… Game over… Dia mengalami self-destruction. Dinding keangkuhannya roboh. Dia mulai melihat wajah lucifer di cermin sebagai sosok refleksinya. Luar biasa… Aku kira inilah salah satu yang akhirnya membuat dia menerima Areum… Dia akan belajar menerima Areum karena sadar dia pun tak sesempurna yang dia fikirkan. Dan melalui Areum, dia bisa berbenah diri dengan menerima sosok sumpit sebagai pria yang pernah mengisi dan sangat berpengaruh dalam kehidupan Areum. Hitung-hitung, ‘sambil menyelam minum bandrek’, atau ‘sekali berenang dua tiga enceng gondok terlampaui’ Dia belajar menyembuhkan Areum seperti yang Arang harapkan dan tentu saja, untuk menyembuhkan dirinya sendiri.
    Maka menjadi indah ketika Jinki melakukannya dengan menjadi suami dalam sosok yang dibutuhkan Areum dan itu menjadikannya sosok sempurna di mata Areum.

    Maaf, kalau semua yang keluar di kolom kmen ini terlalu membingungkan, ambigu, atau apalah… Begini nih, efek kalau mencoba ngomong serius…, biasanya juga ngomong asal…

    Buat Crysalis, sekali lagi kamu sukses buat kisah yang mengejutkan, dan seli lagi aku sukaa… semuanya… kecuali, bagian dialog yang lagi buat aku bingung, nih kalimat siapa, itu siapa yang ngomong… Ntar, diperbaiki lagi di karya selanjutnya, ya…

    overall, great work…

    1. ini . . . . disaster . . .
      YA AMPUN KUPIKIR BALASANNYA UDAH AKU POST DAN TERNYATA NGGAK ADAAAAA
      AAAAAA MAAFKAN AKU BARU SADAR SETELAH BERBULAN-BULANG HNGGG
      MAAFKAN AKUUUU *sembah sujud*

      Okay, aku nggak lagi sedang pikiran yang cukup normal untuk membalas semuanya
      sumpah aku mau nangis kapan otakku balik lagi karena semester ini udah benar-benar menumbangkan semuanya

      nanti kalau otakku udah lumayan bisa buat ngebul lagi akan aku balas lagi hnggg
      oh iya part yang dialog aku usahakan untuk lebih jelas siapa yang ngomong
      makasih yaaaa udah mampir ^^

  10. kyaaaa.. udh ada jinki’s side.
    aku kira di cerita yg double doors sama ini, jinki pemaaf dan terima apa adanya. eh ternyata ga ya. tp emang iya sih, cowo mana sih yg mau dpt cewe yg udh”tanda kutip” logikanya sih ga. mikir2 dulu.
    ditunggu lanjutannya..

  11. gmna ya…
    ngerti ceritanya tapi belum paham bener…

    yang saya tangkep, bagi teman2nya si Jinki ini baik, tapi mungkin didalam hatinya justru sebaliknya…

    mudah2an di part selanjutnya lebih ngerti^^

  12. Serius, aku bingung u,u berarti ini masih berkaitan sma double doors? Aku belom baca loh, giliran mau baca, kok yg part 1 ilang ? Trus yg nmr 2 diprotek & tiba2 ikut ilang ? :((
    Dan aku masih nggak ngeh kenapa jinki bisa langsung sakit, nyambung ke aiden & byul, tiba2 tau areum yang sebenernya, habis itu balik lagi ke masa lalu jinki. Huhu sebenernya pengen nerusin. Tapi maafkan aku yang masih nggak ngeh ini isinya apa :((
    -andrea

    1. setelah aku cek, ketiganya nggak ada masalah kok di library
      part pertama diprotek, passwordnya bisa minta admin jika sudah memenuhi syarat
      makasih udah mampir🙂

  13. Sulit juga berada di posisi JinKi, bagaimanapun Areum sudah ternoda. Serba sulit jadinya, masa lalu yang rumit untuk keduanya.
    Lanjutin author

  14. baru nampaang setelah sekian lama mikirin uts *curhat dikit*
    chryysss, seneng bangeet bacanyaa aaaaa :””””
    jadi minho adopsi kibum, apa ada sesuatu dalam “tanda kutip” antara minho sama aiden? ._. dan jadii jinki pernah ngerasa kalo areum ngga layak buat dia??? aku kira setelah jinki tau yg sebenernya dia langsung bisa nerima areum apa adanya. hmm jinki juga manusia kok…
    tp kenapa sih double door dan angle ini ngga pernah di post di barefootwalk -.- ?
    sekian chrys, ditungguu 2.2 nyaaaaaa!!!!!

    1. karena aku nggak mau dibombardir sama permintaan password meski mereka belum cukup umur sambil begging ini itu dengan alasan pengen baca karena mencari kegiatan tiga huruf
      ditambah otoritas perseorangan sama kelompok juga beda
      lagipula keduanya masih bisa dibaca di sini, kan? apa bedanya?
      makasih ya udah mampir🙂

  15. Keren, eonni..
    Aku suka banget. Dari awal udah aku tebak sih, kalau ada sesuatu sama Jinki..
    Bener-bener jungkir balik ya.. di Double Door, Jinki tuh perfect banget tapi kenyataannya….
    Karena ke-perfect-an dia itu yang bikin aku curiga setengah mati dari awal…
    Cepet cepet dilanjutin ya, eon…
    Terus kalo udah ada jinki pov, berarti nanti ada minho pov juga dong?
    Ditunggu ya eonni.. ;’)
    .

  16. hello i’m new reader, pertama baca agak nggak ngeh, mungkin memang karena belom baca cerita sebelumnya, tapi lama kelamaan udah agak ngerti.

    jadi jinki ini punya 2 sisi ya, dibalik sifat baik dan perhatian dia punya sifat possesif dan egois. dan hey dia terobsesi sama byul.

    agak kasian sama jinki waktu tahu byul sebenernya suka sama aiden, tapi jinkinya juga seperti menutup mata dan aku bingung mau marah, jengkel atau kasian sama mas jinki ini.

    well, sepertinya komenku udah kayak drabble, ditunggu next chap ya thor.

  17. Bagus ceritanya. Next chap buruaaann. Tp thor, Kalo titlenya angle maksudnya malaikat, tulisan nya Bukan gitu. Bahasa inggrisnya malaikat itu angel. Angle itu sudut.

    1. nggg, aku nggak bisa kalo disuruh buru-buru
      dan emang maksudnya di sini sudut
      dari sudut jinki, dari kacamata jinki dalam memotret apa yang dia jalani sekarang
      bukannya bermaksud membahas tentang kebaikan byul atau ‘kebaikan’ jinki sendiri

      makasih udah mampir ^^
      dan jangan panggil thor atau author, please ^^;;

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s