Dari Kejauhan

dari-kejauhan

Dari Kejauhan

Main Cast : Kim Kibum| You

Length : ficlet

Genre : romance, Life

Rating : PG-15

Si mata empat.

Entah sudah berapa kali kudengar orang menjulukinya dengan sebutan itu. Tidak, tentu ia tidak benar-benar memiliki empat mata. Hanya saja dua lensa yang selalu membantu penglihatannya itu sudah seperti sepasang mata cadangan baginya. Tapi itu tidak masalah bagiku. Penampilannya tanpa kaca mata justru terlalu berharga untuk dibagi dengan mata-mata lainya.

Rrrr…Rrrr…

Suara ponsel memecah lamunanku akan lelaki yang begitu menarik perhatian akhir-akhir ini. Kuhela nafas pelan, agak tak rela sebenarnya. Setelah meletakkann sendok yang sejak tadi menemaniku makan, kuraih benda tipis berwarna hitam yang tersisip di sakuku. Senyumku merekah saat melihat namanya di tampilan layar ponselku.

“Ya?”

Kamu di mana, Na?

Suaranya, aku sangat menyukainya. Otomatis senyumku semakin mengembang lebar. Dengan mengapit ponsel di bahu, langsung kususun bento box-ku sambil menjawab, “Di samping laboratorium anorganik, sunbae.”

Oh. Sendirian?”

“Yah, begitulah.”

Kulangkahkan kakiku dengan bersemangat. Aku memang tak jauh dari ruangan tempat ia bertugas sebagai asisten. Dan berhubung ia sedang berperan sebagai asisten laboratorium kimia anorganik, jelas aku berada di samping ruangannya sejak tadi. Tapi tentu ia tidak tahu. Keseriusannya mengerjakan tiap tanggung jawab yang mengikat dirinya adalah daya tarik tersendiri.

Hanya butuh tiga langkah untuk berada tepat di depan pintu laboratorium yang tengah terbuka lebar. Tanpa perlu bersusah payah, aku dapat menemukan langsung sosoknya yang berbalut kemeja lengan panjang putih berpadukan celana bahan warna hitam. Ia duduk di sana sambil menatap ke luar jendela, ponselnya masih menempel di telinga kiri bertopangkan lengan. Dari tempat ini aku tak bisa melihat sinar matanya yang selalu menghipnotisku, sinar mata yang selalu dapat memaksaku untuk menuruti semua perkataannya. Hanya dia yang kalimatnya tak bisa kubantah, hanya permintaannya yang selalu mau tak mau kupenuhi, dan hanya dia yang mampu membuat tunduk gadis pemberontak sepertiku.

Tuhan, aku rindu sinar matanya.

Aku melihat kehadiran Minho sunbae dan Jonghyun sunbae di dalam sana. Wajar saja, sebenarnya Minho sunbae yang bertanggung jawab di sini sementara si mata empat itu hanya sekedar membantu. Walaupun aku sudah kenal akrab dengan kedua seniorku yang kadang rada gila itu, aku enggan melangkah masuk. Para praktikan di ruangan itu adalah teman-teman seangkatanku, mana mungkin aku masuk begitu saja dengan lancang?

Mungkin kita akan pergi berdua saja,” ucapnya, suaranya terdengar berat lewat telpon. Aku terkikik kecil sambil memandang santai dirinya yang tampak agak frustasi. Akhirnya aku hanya bisa menyahut, “Bagaimana bisa?”

Ugh, Jinki-hyung tiba-tiba ingin menonton film lain dan membatalkan janjinya dengan kita begitu saja.” Akhirnya ia mengalihkan pandangannya dari jendela. Kali ini ia menatap para praktikan yang kasak-kusuk sendiri. “Jadi bagaimana menurutmu?”

“Bagiku terserahmu saja,” sengaja menguatkan suara, beberapa praktikan bahkan mulai menatapku, tak terkecuali dua asisten konyol yang tengah memeriksa laporan di depan ruangan. Mereka memandangku kemudian memandangnya. Haha… lucu sekali kami ini.

Jadi kau mau kita pergi berdua saja?” suaranya tampak ragu. Ah, mungkin ia bingung kenapa orang-orang sibuk melihat ke luar pintu. Dalam sekejap matanya sudah beradu mata denganku dari kejauhan. Setengah tertawa kukatakan padanya bahwa aku tidak mempermasalahkan apapun keadaan yang tengah ia pusingkan.

Yah, baiklah. Lagi pula kau sudah menunggu lama.”

Benar, aku sudah menunggu selama dua jam hanya untuknya menyelesaikan tanggung jawab solidaritas yang ia miliki, untuk si mata belok itu tentunya. Dan seperti biasa, aku tidak bisa berkata tidak untuk tiap perkataannya. Kalau dipikir-pikir si mata empat ini menyebalkan juga.

“Memangnya film itu mulai jam berapa?”

Sekitar jam 6 sore. Pasti masih terkejar. Ini masih jam 4 dan kami akan keluar sebentar lagi.

Kami bicara sambil tatap mata dari kejauhan. Ponsel tertempel di telinga kami masing-masing. Tanpa mengindahkan tatapan heran dan kikikan geli orang-orang, mataku tertaut pada matanya dan telingaku hanya dapat mendengar suaranya.

“Baiklah, tidak ada masalah kalau begitu. Aku terserah padamu. Jika kau memang jadi mau nonton, aku akan ikut.”

Tunggu!

Dia tahu saja aku mau memutus hubungan telpon yang konyol ini. Ia masih menatap langsung diriku dari sisi ruangan sana, seakan kami tak terpisah ruang yang besar. Tiba-tiba terdengar suara rengekan darinya, “Jangan tutup telponnya dulu…”

“Hah?” kalimatnya membuatku heran sendiri. Ia masih menatapku, namun suaranya amat kontras dengan tatapan matanya yang dilapisi lensa, “Bicaralah lebih banyak lagi. Kumohon.

“Ada apa denganmu, Bum?”

Hening sesaat. Namun tak lama ia menjawab, “Aku merindukanmu, Na. Kau dan suaramu. Bicaralah lebih banyak lagi.”

Aku hampir ternganga mendengarnya. Ia menatapku dengan serius di sana. Baiklah, apa aku salah dengar atau mungkin aku salah orang?

Aku serius, Na. Bicaralah lebih banyak lagi. Aku ingin lebih banyak mendengarkan suaramu.

“Tidak…”

Oh, C’mon, Na. it’s not a big deal. You just…

“Tidak salah lagi, aku juga merindukan suaramu, Bum.”

Dan kalimatku barusan memutus omelan panjang yang hampir terlontar darinya. Bisa kulihat mimik seriusnya berganti lega dan senyum tergores penuh di bibir tipisnya. Sebenarnya aku sangat malu setelah mengatakan hal itu. Tapi aku memang tak pernah bisa benar-benar berkata tidak pada makhluk mata empat itu.

“Hey, Na! Lebih baik kau masuk saja jika kau memang ingin bicara dengan Kibum!” suara Jonghyun sunbae terdengar nyaring, membuat perhatian seisi kelas semakin tertuju padaku dan si mata empat di sisi ruangan sana. Kikikan kecil dan sorakan riuh mulai tercipta di sana-sini. Akh, mereka mengganggu waktu kami berdua saja.

“Tidak perlu, sunbae. Nanti banyak yang cemburu jika aku masuk ke sana,” gurauku, mengingat penggemar ketiga senior di dalam sana memang sangat banyak.

“Kalian buang-buang uang saja. Jika memang mau bicara, tidak perlu menelpon seperti itu,” Minho ikut mengomel. Aku hanya cengar-cengir tak jelas sementara mataku kembali melirik ke arah si mata empat yang masih menempelkan ponsel di telinganya.

I’ll see you soon then. Be ready.”

Sambil menahan debar jantung aku segera berlalu dari tempat itu. Diikuti sorakan dan godaan satu kelas praktikum itu tentunya. Dan lirikan terakhir yang kucuri diam-diam membuat jelas bahwa ia masih tersenyum padaku dari kejauhan.

9th April 2014

08.39 am

 

©2011 SF3SI, Bella Jo

bella-jo-signature

Officially written by Bella Jo, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

25 thoughts on “Dari Kejauhan

  1. Aaaaa!! Sweet Bum >.< Padahal udah kontak mata, tp masih telponan xD

    Bella eon ~ Kau membuatku tak bisa berkata2 xD *Lah trus ini apa? #plok*

    Like like xD Keep Writing Eonni ^^

  2. hayoooo ini pengalamannya bella sama si crush yaaa
    ngaku hayo ngaku!!! *digampar*
    hah itu si bum ceritanya bantuin si dumb and dumber itu ngejagain praktikum?
    ya bagus juga sih, kalo aku jadi bum itu memang keputusan baik buat menjaga keamanan bersama

    ya karena aku sama sekali nggak familiar sama lab kecuali sampe kelas satu SMA dan aku juga nggak ngerti kerjaan orang mipa
    aku nggak bisa ngira-ngira kenapa bisa ada tiga orang jagain lab begini
    dan bayangin bum dengan jas putih aku jadi keinget frankey
    itumah dokter ya ==”

    ini bikin inget waktu aku telepon temen yang ada di seberang yang jelas-jelas bisa diliat lantaran males nyamperin
    lucu huhuhuhu bum mata empat bermuka marmut
    oke jangan digetok tapi aku nganggep kalo muka bum lebih mirip marmut daripada fox
    dan itu pasti yaaaaaa rencana jing buat batalin nonton bareng biar aku bisa berduaan sama
    bum
    hayo jing sini aku kasih ayam dulu biar seneng

    maap ya baru komen sekarang
    sebenernya aku udah baca ta[i pagi setengah tidur jadi ya kalo mau komen takut lebih berantakan
    makasih ceritanya bel
    ditunggu yang lainnya ya~

    1. haha….
      hmmm…. iya ga yaaa?
      separuh iya separuh nggak deh, kk… hahaha…

      kalo praktikum biasanya ada satu asisten lab sebagai penanggung jawab dan idealnya ada 3 asisten lain yg bantu karena satu lab biasanya ada 4 meja gitu. karena ini cuma fiction jadi dibuat 3 asisten lab aja dlm satu kelas^^

      kadang mmg ditemukan kejadian ini dalam kehidupan sehari2 n itu yg bikin lucu. hehehehe….

      bum mirip marmut? kalo bagi bella bum lbh mirip kucing. susah diatur tapi manja gimana gitu. hahaha…

      iy, kk. ga papa, kok. alasan diterima^^

      thanks for dropping by, kk~

      1. ooh hahaha aku nggak pernah nyentuh lab buat aneh-aneh
        ya kecuali buat make mikroskop jaman smp sama pelajaran fisika pas sma kelas satu

        haha habis mukanya cimit-cimit imut inyiminyi gitu sih *ini bahasa planet tetangga*

  3. wawaw…. jadi inget masa praktikum, kangen mas itu…
    wah kalo yang jadi asisten praktikumnya Minho, Key sama Jonghyun pasti aku bakalan betah lama-lama di lab.
    I love your story😀

  4. ceritanya so sweet bgt.. :3
    mau dong telponan sm key😀

    apakah setting’nya berdasar real life? #asal nebak😐
    settingnya lab kuliah yaa? (sok tau) wkwkwk

    1. aku sebenarnya juga mauuuuu #Eheemmm

      hehehe… iya gak yaa? #digeplak
      yups, settinganny kuliahan. kalo SMA kan g ada main asisten2an^^

      thanks udh mampir~~ #MuachMuach

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s