(Not) A Virtual Marriage – Part 4

not-a-virtual-marriage2

credit poster to Hyunji @ cafeposterart.wordpress.com thanks for this amazing poster ^^

Title : (Not) A Virtual Marriage

Author : vanflaminkey91 (@whitevenus_4 )

Main cast :

  • Lee Taemin SHINee
  • Son Naeun A-Pink
  • Krystal Jung f(x)
  • Kim Myungsoo Infinite

Support cast : Jung Eunji A-Pink, SHINee, Kim Taeyeon Girls’ Generation, etc.

Length : chapter

Genre : AU, romance, marriage-life, angst, friendship

Rating : PG-13

Summary: Setelah WGM usai, apa yang terjadi dengan Taemin dan Naeun?

Inspired by: Selene 6.23 and WGM  Taemin-Naeun Episodes.

A.N: FF ini menceritakan kejadian fiksi yang terjadi setelah We Got Married selesai. Seluruh comeback, album, konser, acara, dll yang berhubungan dengan karir para idola di FF ini hanyalah fiksi / menyesuaikan dengan kenyataan.

Banyak yang mempertanyakan hal ini secara pribadi. Jadi jawabannya, nama Doyeon diganti menjadi Dayeon di FF ini untuk alasan tertentu.

SPOILER: Sub-judul part ini diambil dari lagu Lindsay Lohan (Confessions of A Broken Heart). ENJOY!

Please, let me hold your hand. Even just a while, once…

(Not) A Virtual Marriage
originally by vanflaminkey91

“Bangun, bangun! Cepat bangun, Lee Taemin!!”

Taemin mengerang frustasi, ketika ibunya terus mencengkeram kedua kaki kurusnya dengan satu tangan dan menggoyang-goyangnya penuh semangat. Khas seorang ibu yang tengah membangunkan anaknya dari cumbuan kantuk.

“Bangun! Kau ini! Apa kata Naeun? Ia sudah menunggu di ruang tengah dan kau bahkan belum mandi!” Suara Lee Yuna menggelegar lagi. Mau tidak mau Taemin menarik seluruh otot punggungnya untuk mendudukkan diri.

Remaja tanggung itu mengacak rambutnya yang sudah acak hingga semakin tidak karuan. Menguap lebar dengan mata setengah menutup.

“Lee Taemin! Jinjja, kau ini! Cepat mandi atau—“

“Biarkan saja Taemin oppa tidur lagi, Eomonim.” Suara lembut itu tentu menjadi sangat kontras dengan suara Yuna yang menggelegar saking gemasnya terhadap sang putra. Yuna membalikkan tubuh, sementara Taemin menunduk—tidur dalam posisi duduk.

Yuna tertawa kecil, “Astaga, Naeun-ah, kau mengagetkanku. Biar saja. Lagipula—ya!” Ia menoleh ke arah putranya dan mendapati pria itu dalam posisi tidurnya yang ‘sangat-tidak-enak-dipandang’.

Naeun melengkungkan bibirnya, “Tak apa, Eomonim. Kemarin ia habis mengikuti kegiatan di sekolah kami sebagai panitia dan pekerjaannya berat.” Bahkan tidak ada teman yang membantunya kecuali Jongin oppa, lanjut Naeun di dalam hati. Kedua tangannya memeluk sweater warna marun.

Statement Naeun membuat Yuna akhirnya menghela napas, “Baiklah. Naeun-ah, bagaimana jika membantuku memasak saja? Menunggu ia benar-benar siap, jika kau tak ada acara apapun.” Taemin mendengar suara Yuna semakin jauh—ia mendekati pintu.

Bagus, pikir Taemin sambil menjatuhkan diri kembali ke dalam lautan bunga tidur.

“…kami akan merancang pertunangan kalian juga, Naeun-ah.” Sayup-sayup Taemin mendengarnya.

Selang beberapa menit hingga Taemin merasakan sesuatu terasa asing di samping kepalanya. Ia tahu Naeun berdiri tepat di sebelah tempat tidurnya—tapi ia pura-pura tidur.

Oppa, seandainya pernikahan itu tidak perlu terjadi. Aku… aku sudah menganggapmu sebagai kakakku. Apakah hubungan kita akan tetap sebaik ini jika kita menikah?” Taemin mendengar Naeun berbisik dan ia yakin saat itu sesuatu di dalam dadanya melesak keluar—menyesakkan rongga parunya.

Tap. Tap. Tap.

Langkah kaki menjauh, Taemin membuka matanya sambil mengangkat bahunya—menumpukan sebagian tubuh dengan siku tangan. Ia menghela napas hingga matanya menangkap sesuatu tergeletak di atas bantal satunya.

Sweater marun.

Paper IV: Confessions of A Broken Heart

Kim Kibum tidak semudah itu menerima apa yang maknae-nya baru saja ungkapkan. Siapa yang percaya? Taemin bukan bocah yang mudah bergaul pada jaman belum debut, Key sangat mengetahuinya. Bergaul saja susah, bagaimana dengan menikah?

“Aku tahu kau tidak memercayainya,” ujar Taemin dengan nada yang lebih rendah daripada tadi. “Hanya saja aku perlu menekankan bahwa aku mengatakan hal yang sebenarnya. Kau orang pertama di luar keluarga yang mengetahui hal ini.”

“Siapa?” tukas Key sinis. “Siapa yang menjadi istrimu?”

“Son Naeun.”

“Hahaha!” tawa Key menusuk tulang. Sinis dan penuh keraguan—sekaligus keterkejutan. “Ada lagi omong kosong yang ingin kau sampaikan selain itu? Apa ini WGM Syndrome?”

Taemin berdecak. Tak ada gunanya membicarakan hal ini kepada orang yang sedang emosi—tapi ia sudah kepalang basah, tidak ada jalan lain selain membeberkan payungnya atau semuanya akan rusak.

“Keluargaku dan keluarganya, menjodohkan kami saat masih sekolah. Sebelum SHINee debut, kami menikah. Sekarang terserah kau mau percaya atau tidak, yang penting aku sudah mengatakannya.” Ia berdiri dari duduknya, memasukkan kedua tangannya ke saku. “Jadi aku tidak mungkin menerima Krystal—bahkan untuk menyenangkannya. Ia terlalu baik untuk kusakiti.” Sang termuda meninggalkan ruang tengah, meninggalkan Key yang terduduk diam sambil menatap kosong ke arah tempat yang baru ditinggali Taemin.

Selang beberapa  detik, terdengar bunyi pintu utama ditarik dari luar.

Bruk!

*

Sudah hampir setengah jam Naeun menghabiskan waktunya sendirian bersama bantal dan selimut. Rasa pedih di leher akibat sentuhan mesra pisau seorang sasaeng Infinite tadi masih terasa agak menyengat—meski tidak separah tadi.

“Naeun-ah.”

Naeun yang sedang berbaring menghadap ke tembok tidak bergeming. Ia mendengar pintu ditutup dan sepasang langkah kaki mendekatinya.

“Naeun-ah, sabar, ya.”

Naeun akhirnya membalikkan tubuh dan kedua mata beningnya menatap sang leader dengan sendu. Chorong menghela napas mendapati tatapan menyayat hati itu dari relung mata Naeun, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membantu sang centre.

“Aku salah apa, Eonni?” Naeun bertanya, tapi nadanya membuat kalimatnya menjadi sebuah statement. “Aku hanya ingin kehidupan artis yang tenang, itu saja.”

“Tidak ada yang dapat hidup tenang setelah memutuskan menjadi public figure, Naeunnie. Tanpa cobaan kau tak akan pernah belajar,” balas Chorong bijaksana, berusaha menghibur Naeun dan menenangkannya. “Ini akan segera berlalu. Tenanglah, kau punya kami semuanya.”

Akhirnya Naeun mengubah posisinya menjadi telentang. Membiarkan dirinya menatap langit-langit tanpa sepatah kata pun keluar dari balik jalinan bibirnya. Chorong pun demikian—ditatapnya lurus-lurus tembok, sambil memutar otak untuk memikirkan cara memberitahu Naeun tentang sesuatu. Tapi sebelum itu, ia ingin sekali bertanya.

“Taemin.” Chorong mengucapkan nama itu dengan jeda setelahnya, Naeun segera meliriknya. “Kenapa ia bisa mengantarmu tadi dan menyelamatkanmu?”

“Entah,” sahut Naeun pendek, tampak tidak ingin membahas soal kejadian barusan yang membuat perasaannya semakin campur aduk. Di lain sisi ia merasa dirinya aman, di sisi lainnya ia merasa ancamannya semakin besar. Bagaimana jika ada yang melihat Taemin dan Naeun saat itu di tengah skandal yang ia hadapi bersama Myungsoo? Oh, atau si sasaeng tadi melaporkannya ke netizens? Ia tidak yakin ia masih bisa hidup esok hari.

Seolah mengerti, Chorong tidak melanjutkan pembahasan soal Taemin meski ia sangat penasaran.

“Myungsoo… dia sangat terobsesi denganmu, kan?”

“Ya.”

“Kau… sudah tahu kabar konferensi persnya tadi?”

Naeun sebenarnya tidak ingin mengetahui apa-apa—itu alasannya tidak membuka internet sepanjang hari. Hanya saja ia mendadak penasaran. Apakah masalah telah selesai?

“Tapi L mengatakan ia pacaran dengan gadis ini!”

Ucap sasaeng Infinite tadi membuat Naeun tersentak. Seolah baru menyadari kalimat yang terputar jernih di otaknya, ia segera berseru, “Apa? Apa kabarnya, Eonni?!”

Chorong menatap Naeun agak lama, tampak merangkai kata-kata yang tepat di dalam benaknya. “Kau berjanji untuk kuat mendengarnya?”

Oh, astaga. Separah itukah?

Ketika Naeun mengangguk, Chorong segera mengatakannya.

“Myungsoo… dia mengatakan kalian memang pacaran.”

*

“Oppa, neo micheosseo?!

Myungsoo memejamkan mata ketika suara yang biasanya lembut itu kini terdengar sangat tajam. Ketika ia melihat nama Naeun terpampang di layar ponselnya tengah menunggu ia menjawab panggilannya, Myungsoo sudah bisa menebak apa yang dibicarakannya.

“Maafkan aku, Naeun. Aku hanya bingung saat itu dan—“

“Oppa, kau namja tampan yang banyak penggemar. Kau cerdas. Kau juga berbakat. Kenapa kau menghancurkan hidup orang lain demi egomu, hah?”

“Apa maksudmu?”

Kau tahu? Aku hampir dibunuh karena statement kau di konferensi pers tadi. Bukan itu saja, manajemen kami kewalahan, manajemenmu juga pasti begitu. Sekarang sudah sangat terlambat, media terlanjur percaya. Banyak yang memberi reaksi positif, tapi apakah yang negatif tidak ada? Banyak, Oppa! Banyak!”

Myungsoo merapatkan punggungnya pada permukaan dinding, mencoba mengatur pikirannya yang mulai kacau seperti benang kusut, “Kau bilang kau hampir di—“

Ya! Aku hampir dibunuh! Jika saja Taemin oppa tidak ada pada timing yang pas, kau tidak akan pernah melihatku lagi selamanya, Oppa. Kau akan melihatku ada di headline sebagai korban pembunuhan!”

Oke, sekarang segalanya terdengar semakin tidak wajar. Pertama, Naeun secara tidak langsung mengatakan dirinya diserang. Kedua, Naeun mengatakan Taemin ‘pahlawan’ secara tidak langsung juga. Oh, my.

“Aku akan mempertanggung jawabkan statement-ku saat konferensi pers, Naeunnie, percayalah! Manajer hyung sudah mengajakku bicara dengan bosku dan lainnya, kami akan mengeluarkanmu dari ini semua, Naeun.”

Kau mengecewakanku, Oppa.” Meski lewat telepon, tapi Myungsoo bisa merasakan kegetiran itu terkandung kentara di gurat wajah gadis yang dicintainya. “Aku benci!

“Naeun…”

Aku tidak akan memedulikan ini lagi, Oppa. Cukup sudah semuanya. Jangan hubungi aku untuk sementara… aku perlu untuk menenangkan diri.”

“Naeun…”

Tut. Tut. Tut.

Myungsoo menjauhkan ponselnya dari telinga. Matanya menatap intens pada layar ponsel yang sudah menampilkan lagi desktop-nya. Sambil meringis akibat rasa sakit pada rahangnya, Myungsoo menjatuhkan diri di atas sofa—memijit keningnya yang terasa pusing.

Bagus. Apa yang kau lakukan, Myungsoo?

*

Hampir dua minggu sudah skandal MyungEun masih terasa hangat di kalangan K-Popers. Sudah banyak sekali komentar—berisi kebencian maupun kebahagiaan sekaligus dukungan—yang Infinite dan A-Pink terima. Di lain sisi, skandal yang tadinya membara sudah perlahan mulai redup, meski tetap saja netizens di internet masih membicarakannya.

Naeun sudah tidak peduli akan jumlah haters-nya yang membludak, ia sudah pusing dan memilih tetap ada pada jalurnya—mencintai haters-nya dan mencoba untuk instropeksi diri dari kejadian ini.

Myungsoo menepati janjinya. Entah bagaimana caranya, terdapat berita pendingin suasana di mana dijelaskan bahwa skandal ini hanya strategi untuk promosi Toheart—unit yang beranggotakan Woohyun dan Key—bertepatan dengan pengumuman unit Toheart pertama kali di akun resmi manajemen mereka. Seseorang membuat sebuah artikel analisa yang dibuat untuk meredam skandal ini dan yah, ini sedikit efektif.

Sementara itu, A-Pink sendiri sudah direncanakan akan comeback beberapa bulan lagi. Mereka sudah disibukkan dengan mempersiapkan segalanya jauh hari, Naeun jadi sedikit melupakan masalahnya.

Taemin mengamati semua ini dari balik layar laptopnya.

Seperti pagi ini, ketika member lain sedang sarapan ia malah duduk dengan laptop di pangkuan—sibuk membuka banyak tabs dengan tema berita serupa: MyungEun.

“Tiffany noona dan Nichkhun hyung sudah ketahuan, ya?” Taemin mendengar Jonghyun memecah keheningan di antara mereka sembari mengunyah potongan snack cumi kering.

Terdengar bunyi garpu yang beradu dengan porselen mangkok. “Ya, menyusul jejak Yoona dan Sooyoung,” timpal Onew santai.

“Kau kapan mau go public, Minho-ya?” Itu Key. Dari nada suaranya, Taemin tahu Key sedang nyengir kuda.

Minho meliriknya tajam, “Go public tidak semudah kelihatannya.”

Wae? Bukankah enak jika publik sudah tahu soal MinSul?”

“Tidak semudah itu, aish!”

Ara, ara,” ucap Key diikuti tawa melengkingnya. Tanpa sengaja ia melirik Taemin yang masih saja fokus membaca tiap kalimat berupa komentar yang berderet-deret di layar laptopnya. Tawanya berhenti secara periodik, sebelum akhirnya ia bangkit mendekati maknae-nya.

“Taemin-ah,” panggil Key yang hanya bersambut gumaman Taemin. Hubungan mereka sudah membaik, keduanya saling memaafkan dan berjanji tidak akan melakukan kesalahan seperti kemarin. Bahaya jika mereka sampai pecah, kan?

Key yang penasaran segera melirik apa yang sedang dibaca Taemin, lantas menghela napas. “Aku percaya padamu.”

Taemin langsung mengangkat kepalanya ke arah Key, “Ne?”

I trust you, Taemin.” Key menghela napas, lantas memelankan nada suaranya. “Kalau kau bukan siapa-siapanya, kau tidak akan intens mengikuti perkembangan beritanya.”

Lee Taemin tersenyum. Akhirnya, pikir Taemin.

“Kau hanya harus menjaga rahasia itu serapat mungkin, Hyung,” bisik Taemin. “Aku tak ingin ada yang melukai Naeun jika mereka tahu kami menikah nyata.”

Key bisa memahaminya. Naeun terlibat skandal ‘berpacaran’ dengan Myungsoo saja sudah rumit, bagaimana jika ketahuan ‘menikah’ dengan Taemin? Kacau.

“F(x) sedang sibuk dengan comeback mereka. Bagaimana kalau kau mendukungnya, Hyung?”

Wajah Key bersemu merah, “Ha! Kau—“

Hyung, wajahmu memerah,” potong Taemin melirik Key geli. “Jangan membuatku tertawa!”

Key membuang muka, tidak berkomentar apa-apa. Ia tidak tahu kenapa ia bisa menyukai Krystal padahal mereka jarang berinteraksi. Bahkan ia justru lebih dekat dengan Amber ketimbang Krystal. Hanya saja agak aneh, memang. Apalagi sejak Krystal akhirnya memutuskan tinggal bersama F(x) di dormitory mereka, otomatis ketika Key berkunjung melakukan kunjungan persahabatan kepada Amber—Krystal selalu di sana.

Baru saja Key hendak membalas ucapan Taemin setelah berpikir lama, ia mendengar pintu dorm dibuka. Sosok Gyeongshik melangkah masuk ke dalam sambil menyambut salam anak-anak asuhannya dengan ucapan riang.

“Sudah siap dengan SWC, Kawan-kawan?”

Mwoya?”

“SWC. Kalian lupa schedule, yah?” Gyeongshik tertawa sambil mendudukkan diri di sebelah Jonghyun. Ia meletakkan kresek putih yang dari baunya dapat ditebak—seporsi kimchi panas. “Dua minggu lagi SWC III Seoul. Aku sangat mengharapkan performa yang luar biasa, as usual.

“Tidak terasa, ya. Sudah tiga SWC kita lalui,” ucap Jonghyun melihat wajah orang-orang yang ada di sana satu persatu. “Rasanya baru kemarin kita syuting MV Replay sebagai debut kita.”

Taemin menutup laptopnya dan mengangguk, tapi tidak berkomentar.

Everybody, everybody, every-everybody!

Semua mata tertuju kepada yang termuda, membuatnya kikuk ketika menyadari itu adalah bunyi ponselnya. Ia ingin me-reject panggilan ketika menyadari bahwa yang meneleponnya adalah sang ibu.

Jadi, Taemin pamit sebentar dan masuk ke kamarnya tergopoh-gopoh.

Ne, Eomma?”

Taemin-ah, kau harus segera ke sini bersama Naeun. Eomma khawatir dengan kondisi appa-mu. Ia sangat merindukanmu dan menantunya. Mungkin jika kalian datang akan membantu proses pemulihannya.”

Untuk beberapa saat Taemin terdiam dan membiarkan bunyi kipas angin di sudut ruangan menginterupsinya.

“Lagipula sudah lama sekali kau tidak berkunjung ke sini. Eomma dan appa hanya bisa melepas rindu melihat kabarmu di internet…”

Dadanya terasa sesak. Tiba-tiba saja ia merasa sedih, merasa durhaka tidak mengunjungi kedua orang tuanya dalam waktu yang sangat lama. Ia ingin sekali pulang sekali-kali, tapi bagaimana dengan jadwalnya? Jadwal Naeun?

Eomma, bukannya tidak mau—“ Taemin berhenti sejenak. Merangkai kata yang tepat. “—kami sama-sama sibuk dan jadwal kami sangatlah padat.”

Walau hanya sehari, Taemin-ah. Sehari saja berkunjung, tak perlu menginap.”

Eomma sangat merindukan Taemin dan tentu appa-nya juga. Taemin ingin sekali pulang, tapi..

“Baiklah, akhir pekan aku akan ke sana.”

Dengan Naeun?” pinta Yuna setengah berharap.

Tidak. “Ya, Eomma. Akan aku usahakan ia ikut, tapi jangan kecewa jika ia—“

“Baiklah! Kami akan mempersiapkan makanan yang enak untuk kalian. Kami menyayangimu, Sayang!” Sambungan telepon terputus begitu saja. Taemin agak heran karena eomma-nya jarang memutus sambungan secara mendadak dan duluan, tapi ia tidak ambil pusing karena ada hal lain yang lebih ia pusingkan.

Bagaimana mengajak Naeun?

*

“Ambil saja kembaliannya, Eomonim. Kamsahamnida~” Yoon Bomi menerima sekantung snack dari tangan seorang perempuan paruh baya yang baru saja mengurus urusan pembayarannya.

Dengan riang ia melangkah keluar dari kios kecil di depan gedung rekamannya. Bomi melihat ke kanan dan ke kiri, baru menyeberangi jalan di jalurnya.

Membuka bungkus salah satu snack, Bomi melangkah masuk ke dalam gedung tempat A-Pink merekam lagu-lagu baru untuk album Pink Blossom—untuk comeback beberapa waktu lagi. Ia sempat hampir jatuh ketika seseorang baru saja melewatinya sambil menabrak ia tidak sengaja.

“Maaf,” ujar orang itu sambil menunduk dan pergi begitu saja, membuat Bomi bersumpah ia ingin menendang bokongnya.

Tapi ada hal lain yang menyita perhatiannya dibanding dengan fokus ingin menendang bokongnya—penampilan orang itu. Ia memakai masker yang hanya memperlihatkan bagian mata ke atas. Perawakannya sangat familier, pikir Bomi lantas mengendikkan bahu tidak peduli. Ditekannya tombol lift.

Ah, akhir pekan. Orang-orang tetap saja sibuk, termasuk dirinya. Padahal akhir pekan harusnya dihayati dengan menikmati waktu luang bersama teman, keluarga, atau gadget kesayangan. Oh, mungkin terutama makanan! Bomi terkekeh pada pikiran konyolnya sebelum pintu lift terbuka.

Perempuan pemegang sabuk hitam dalam taekwondo itu berjalan menuju ruang rekamannya—masih mengunyah snack—ketika ia melewati sebuah ruangan yang ditutup rapat dan hanya dihalangi oleh pintu berlapis kaca buram.

“Apa?!”

Bomi menghentikan langkahnya. Ia bukan orang yang selalu ingin tahu urusan orang, tapi lain soalnya ketika itu adalah suara Naeun. Ia tidak salah dengar, ia yakin. Tinggal hampir dua tiga tahun bersama Naeun membuatnya sangat hafal suara gadis pendiam itu.

Eomma meminta kita ke sana.”

“Tapi…”

“Kau tidak ada jadwal lagi, kan?”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Manajermu.”

“Ah, jadi itulah kenapa manajerku memintaku menemuimu di sini? Kau bilang padanya jika kita—“

“Tidak! Tentu saja bagian itu dilewati. Pokoknya aku berhasil meminta ijin darinya, dengan caraku sendiri.”

“Apa yang harus kulakukan?”

“Kita berangkat sekarang.”

Naeun dengan siapa? Bomi bertanya di dalam hati, sambil menatap lekat kaca buram di hadapannya. Untung koridor sepi saat itu, tidak ada yang ingin tahu lagi selain Bomi. Bomi memutuskan untuk cepat bergabung lagi dengan A-Pink. Ia rasa ia tidak perlu menginjak privasi Naeun, kan—seberapa dekatpun mereka?

*

“Eunji-ya!”

Waktu itu Eunji baru akan berangkat ke gedung tempat rekaman A-Pink dikarenakan ia memiliki jadwal di KBS. Hanya saja langkahnya terhenti ketika seseorang meneriaki namanya dari kejauhan.

Eunji melebarkan matanya melihat siapa yang baru saja datang mendekat.

“Key?” Gadis itu tersenyum hangat sambil sepenuhnya membalikkan tubuh. “Apa yang kau lakukan di sini dan ada apa?”

Key melepaskan kupluk hoodie yang dikenakannya dan membalas senyum Eunji, “Aku datang bersama Taemin ke sini, menemui teman lama kami. Hanya saja Taemin menghilang entah ke mana dan saat mau pulang aku melihatmu,” jelas Key sambil tertawa kecil. “Kau mau pulang?”

“Tidak, aku harus rekaman untuk album baru kami,” balas Eunji sambil mengajak Key duduk di kursi yang berjejer di dekat pintu utama KBS. “Apa kabar Krystal?”

Well, Eunji dan Key sudah berteman sangat baik sejak mereka berpartisipasi dalam WGM Taemin-Naeun. Eunji sekarang adalah salah satu teman baik Key dan Key merasa nyaman menceritakan mengenai perasaannya kepada Eunji.

“Entahlah, aku yakin dia menyukai Taemin.”

Ne?”

“Ya, dia menyukai maknae kami. Aku bisa apa?”

“Ah…” Eunji mengangguk sambil tersenyum mengerti. Untunglah saat itu lobi KBS tidak ramai dan para ‘penguntit’ kedua idol ini tidak ada yang masuk. Pembicaraan ini terlalu privat untuk dibicarakan di tempat terbuka seperti sekarang. “Sabar, Oppa. Kalau kau mencoba mendekatinya, bisa saja ia menyukaimu balik. Lagipula… tidakkah kau berpikir bahwa Taemin menyukai Naeun? Ingat bagaimana cara dia memandang Naeun di WGM?”

Key agak terkejut, namun berusaha keras mengontrol wajahnya—tidak mau menunjukkan ia mengetahui sesuatu soal hubungan Taemin-Naeun.

“Aku juga akan berusaha mendekati Krystal, tapi—“ Key terdiam sejenak. “—dia tidak terlalu dekat denganku. Soal Taemin, aku tidak tahu, tapi aku tetap menyetujui statement-mu. Sebagai seorang pria aku tahu juga tatapan itu.”

Jung Eunji menatap Key iba, “Buatlah jadi dekat, Oppa. Kau bisa menunjukkan kalau kau menyukainya, benar?” Eunji lantas terdiam, mengalihkan pandangannya ke depan. “Naeun sendiri tidak jelas. Dia susah dibaca. Sangat susah dibaca. Kasihan dia, sejak skandalnya dengan Myungsoo…” Ia memelankan suara. “…makannya jadi agak berkurang. Padahal dia shiksin kami.”

Key diam. Ia paham betul situasinya.

“Tapi kau tahu? Ia pernah diserang dan hampir dibunuh jika saja maknae-mu tidak menyelamatkannya dan terlambat.”

“Apa?” seru Key cepat.

“Sssst!” Eunji memintanya memelankan suara. “Ya, sasaeng Infinite hampir menggoroknya, tapi Taemin ada di sana. Ia membawa Naeun kepada kami.” Ia melirik jam tangannya.

Key menyadari pergerakan Eunji, “Kau mau berangkat sekarang?”

“Ya, terimakasih sudah menemani ngobrol walau hanya sebentar.” Gadis Busan itu terkekeh kecil, kemudian berdiri—begitupun Key. “Kau boleh mengirim chat padaku jika butuh saran. Sampai jumpa, Oppa.

“Ah, kau mau ini? Aku membeli dua untukku dan Taemin, tapi kurasa ia tidak akan ke sini lagi.” Key mengeluarkan sekotak banana milk. Eunji menerimanya sambil mengerutkan kening dan tersenyum geli, kemudian mengangguk.

“Terimakasih. Annyeong!” Ia keluar sambil melambaikan tangan, meninggalkan Key yang mulai larut dalam perkataan Eunji barusan.

Taemin menyelamatkan Naeun?

Kapan?

*

“Apakah ini sangat penting dan mendadak?” Manajernya A-Pink menatap kedua anak manusia di hadapannya itu agak ragu. Pasalnya, baru beberapa menit lalu Taemin meminta waktu untuk bicara dengan Naeun dan sekarang keduanya menghadap ia, meminta sesuatu yang agak tidak mudah dikabulkan.

Sambil menggigit bibirnya, Naeun melirik Taemin—menunggu pria itu menjawab karena ia tidak tahu apa-apa.

“Aku dan Naeun berasal dari tempat yang sama, Hyung.” Taemin terdiam sejenak, menyelidiki wajah manajer itu. “Aku dan ia bahkan bertetangga dan orang tuaku sudah menganggapnya seperti anak sendiri, begitupun orang tuanya terhadapku. Sekarang benar-benar mendesak. Appa-ku sakit keras dan ia ingin melihat Naeun. Hanya sehari ini saja, Hyung.

Naeun menatap wajah manajernya yang sedang memandang Taemin begitu dalam. Ia tidak tahu harus menghela napas lega atau bereaksi bagaimana ketika manajernya menyetujui.

“Pergilah, aku akan mengurusnya dengan sajangnim.

Taemin segera membungkuk, begitupun Naeun, “Kamsahamnida, kamsahamnida, Hyung. Aku sangat berterimakasih padamu.”

“Ya, ya. Lagipula Naeun tidak ada jadwal apa-apa hari ini selain rekaman, tapi kurasa itu bisa diatur. Pergilah,” ujar sang manajer tersenyum hangat.

Itulah kenapa sekarang Naeun diberondong pertanyaan oleh member-nya. Bayangkan saja, ia mendadak harus pergi—bersama Lee Taemin pula. Mereka tidak mengerti karena memang Naeun tidak menjelaskan apa-apa.

“Kau mau ke mana?”

“Kalian satu desa?”

“Aku baru tahu orang tua kalian saling kenal, sepertinya kalian benar-benar ditakdirkan!” canda Hayoung sambil tertawa kecil dan Namjoo menyambut tawanya dengan senyuman lebar.

Son Naeun terdiam. Hanya lekukan bibirnya yang bicara dan kedua tangan yang sibuk mengemasi barang bawaan yang sempat dikeluarkan—tisu, kartu kunci dorm, ponsel, headset, sebatang lipstik.

“Ini, bawa olehmu!” seru Naeun melempar kunci dorm ke arah Namjoo yang disambut dengan semangat oleh satu-satunya si 95 lines. “Aku pergi dulu. Kalau Eunji eonni datang, bilang aku—“

“Tidak usah, aku sudah di sini.” Pintu ruangan terbuka—Eunji berdiri di ambang pintu sambil tersenyum. “Aku sudah tahu kau mau pergi.” Dengan sekali gerakan kepala, ia menunjuk ke arah luar. “Taemin menunggu. Cepatlah sedikit, Son pabbo!”

Yaaa! Kau selalu memanggilku begitu, dasar kau.” Naeun terkekeh, kemudian berjalan mendekati Eunji. Sekali lagi, ia berpamitan dengan kelima member yang lain sebelum keluar menghampiri Taemin yang sedang bicara dengan manajernya Naeun.

“Ayo, Oppa. Ini sudah siang, kita harus mempersingkat waktu.”

Maka Lee Taemin berdiri dan tersenyum kepada manajer Naeun, lalu menghampiri gadis itu.

“Ayo.”

Dengan semangat dipegangnya kedua bahu Naeun dari belakang, berjalan beriringan seperti anak kecil—diantar tatapan dan senyuman lebar A-Pink serta sang manajer.

Oh, you’re too obvious, Kid.

Taemin menggerutu dalam hatinya.

*

Naeun tidak mengerti bagaimana Taemin merencanakan ini dengan rapi. Mereka keluar dari gedung tempat A-Pink merekam album baru mereka tanpa ada yang menyadari. Menggunakan fasilitas jalur darurat, Taemin membawa Naeun keluar.

Taemin menggenggam kelima jemari gadis itu sambil menuruni tangga darurat menuju pintu keluar dan tidak bicara sepatah katapun. Naeun pun tidak melepaskan tangannya atau mempertanyakan hal itu, ia hanya ingin nostalgia. Ya, nostalgia dengan kenangan usang.

Taemin berhenti tepat di belakang pintu, tangannya lantas mengetuk-ngetuk kecil lapisan kayu di hadapannya—Naeun bertanya-tanya.

“Kenapa kau mengetuk—“

Pintu ditarik dari luar. Suasana yang agak gelap mendadak mengejutkan ketika cahaya matahari memaksa masuk ke dalam. Naeun memicingkan mata, tapi Taemin malah menatapnya.

“Ini alasannya, hehe. Hai, Hyung!” Maknae SHINee menyapa manajernya.

“Aish, kadang kau merepotkan, Taeminnie,” keluh Gyeongshik kemudian melirik Naeun. Ia tersenyum lebar, “Aku tidak menyangka ternyata kau teman baik Taemin. Childhood friends, huh?”

Naeun tidak menjawab, ia hanya nyengir dan mengangguk sopan.

“Suasananya aman?”

Gyeongshik mengangguk mantap, “Sangat aman. Kupastikan tidak ada satupun kamera mampu mengambil pemandangan ini. Jadi… cepatlah!”

Maka Taemin membukakan pintu jok belakang bagi Naeun. Naeun sempat berhenti sebelum masuk dan memberikan pria itu sebuah senyuman—senyuman hangat yang sangat dirindukan pria itu.

“Jangan tersenyum begitu!” Taemin mengusap-ngusap puncak kepala Naeun. “Dari dulu tidak pernah berubah, ayo masuk.” Naeun hanya tertawa dan segera melakukan perkataan Taemin.

Lee Taemin menutup pintunya, lantas duduk di jok depan—di samping Gyeongshik.

“Baik, ayo berangkat sekarang.” Gyeongshik berkata dengan riang sambil men-starter mobilnya.

Benda itu bergerak santai. Keempat kakinya bergulungan menggilas serat aspal berlapiskan embun siang. Selama perjalanan hanya Taemin dan Gyeongshik yang sesekali bicara, sedangkan Naeun hanya duduk diam di belakang mendengarkan mereka.

“Taemin sering sekali meminjam mobil ini dan dia tidak pernah mengatakan dengan spesifik dia mau pakai mobil ini untuk apa.” Gyeongshik menoleh sebentar kepada Naeun, kemudian tertawa. “Aku suka khawatir mobil ini sudah berubah jadi kaleng keripik ketika ia mengembalikannya.”

Ya! Itu salah satu cara melindungi privasiku, Hyung.”

Naeun tertawa kecil. Ya, Taemin sering sekali meminjamnya, bukan?

“Oya, Naeun, sepertinya Taemin ini fans-mu. Dia sering fanboying tentang A-Pink terutama kau. Selain itu—“

YA!! Cukup, Hyung! Kau menghancurkan imejku!” seru Taemin dengan wajah agak memerah. Gyeongshik tertawa keras-keras sementara Naeun tersenyum simpul.

Sebenarnya, Oppa, kau ini menyukaiku atau apa? Pikirnya.

Naeun akhirnya memilih untuk menyumbat telinganya dengan sepasang headset. Jemarinya sibuk men­-scroll layar, sibuk memilih mana lagu yang ingin ia dengar pertama. Tidak disadarinya, sepasang mata sedang mengamatinya dari kaca spion tengah.

Taemin menikmati waktu seperti ini—di mana ia mengagumi kecantikan Son Naeun. Seluruh rambut gadis itu tumpah ke depan, menyisakan wajahnya yang sedang menunduk dengan tenang. Rambut hitam berkilau itu… Taemin bersumpah ingin membelainya seperti dulu.

Sejak kecil Naeun memang menarik—kecantikannya, personality, attitude. Ia mencintai warna hitam dan sangat doyan makan. Taemin sangat mengagumi gadis itu—dari kecilnya bahkan hingga dewasanya.

Hanya saja karena terlalu baik, Taemin merasa perlu untuk melindunginya. Maka semenjak SD hingga SMP dilakukannya tugas menjaga itu secara alami—meski pada akhirnya kebalikan itu terjadi ketika SMA. Saat Taemin menerima bullying di sekolah, Naeun dan Jongin yang sekarang sudah jadi anggota EXO itu lah yang melindunginya.

Sekarang tidak ada yang melakukan bullying kepadanya dan ia akan melindungi lagi Naeun—dari jauh.

“Taemin-ah,” panggil Gyeongshik sambil melirik Taemin. “Jangan melamun!”

Kontan Naeun mengangkat kepalanya sehingga Taemin terkesiap dan tertawa garing, “Aku tidak melamun… hanya memikirkan… sesuatu.”

Son Naeun menatapnya sejenak, lantas membuang pandangan ke luar jendela berlapiskan kaca gelap di sebelahnya. Lagu Hush miliknya sendiri mengalun di telinga.

“Aku hanya bisa mengantar sampai stasiun kereta. Setelah ini harus mengantar Minho dan Onew. Gwenchana?”

“Tentu, Hyung.

“Oke, Oppa.

“Baik, hati-hati. Jangan sampai ketahuan tentang identitas kalian atau kalian akan terlibat skandal lagi.”

Tentu saja, pikir Naeun. Ia lelah dengan skandal MyungEun beberapa waktu yang lalu—yang bahkan masih agak ramai diperbincangkan. Bila terlibat skandal dengan Taemin, ia yakin ia tidak akan sanggup hidup lagi menghadapinya.

Maka mobil itu tetap melaju di antara hiruk pikuk ibukota, tapi tidak dengan pikiran Naeun yang jauh dari hiruk pikuk—sebaliknya, sangat tenang.

*

Gwangju. Sudah lama sekali Taemin tidak pulang ke Gwangju. Kesibukan yang terlampau padat membuatnya hanya melihat wajah orangtuanya nyaris setahun sekali atau tidak sama sekali. Itulah kenapa ia sangat excited. Tidak ingin dilepasnya kesempatan seperti ini.

Naeun sendiri lahir di Seoul, namun keluarganya pindah ke Gwangju karena saat itu ayahnya dipindahtugaskan ke kota tersebut. Saat itu ia masih bayi. Jadi kenangannya terhadap Gwangju sudah terlalu banyak karena kota itu menyaksikan pertumbuhannya.

Mereka memutuskan naik KTX atau Korean Train Express dari Seoul menuju Gwangju.

Dari antara penumpang, mereka terlihat jelas di kursi belakang dengan memakai penyamaran lengkap. Kereta ini mayoritas diisi mereka yang berpakaian santai, namun tidak menampik mereka yang hendak pergi bekerja dengan setelan rapi.

Taemin dan Naeun tidak bicara apa-apa. Tidak ada satupun yang berinisiatif untuk membuka pembicaraan. Masing-masing larut dalam kenangan, dalam manjanya gelayut pemandangan di luar kereta.

“Naeun-ah,” panggil Taemin akhirnya.

Ne?”

“Kenapa kita jadi kaku begini?”

Naeun agak terkejut, “Hahaha, tidak tahu. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu dan, yah, banyak hal.”

“Apakah kau menyukaiku?”

Pertanyaan macam apa. Naeun membelalakkan matanya.

“Kau bicara apa, Oppa?” Gadis itu tertawa lebar. “Tentu saja aku menyukaimu. Kau kan selamanya adalah oppa-ku.” Naeun tersenyum, meski tahu sesuatu di dalam dirinya berteriak gusar karena perkataannya barusan. Benarkah itu, Naeun? Ia menghela napas.

“Ya, kau memang adik terbaikku,” balas Taemin sambil mengusap kepalanya pelan.

Hening lagi.

Lee Taemin terus merutuk kenapa dirinya mempertanyakan hal itu kepada Naeun?

Taemin menatap Naeun agak lama, “Maafkan aku tidak bisa melindungimu dari rumor MyungEun, bahkan kau terluka.” Ia menunjuk luka di leher Naeun yang membekas.

Naeun membuang napasnya, “Bisakah tidak membahas apapun soal skandal dan karir kita? Aku ingin merasakan masa remaja lagi di Gwangju.” Ia membuang muka ke arah jendela.

Ini bisa dimengerti. Taemin tersenyum dan mengangguk, “Anything for you.

Naeun menyandarkan punggungnya. Meski sedang melihat keluar jendela, ia mengangkat salah satu sudut bibirnya.

*

Rumor dan artis adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Myungsoo masih ingat jelas bagaimana dirinya ketika kabar mengenai Dayeon dan ia berpacaran menyeruak ke publik. Memang benar, ia berpacaran dengan gadis itu—tapi Dayeon memutuskannya karena alasan yang sangat banyak.

Keselamatan keluarganya.

Keselamatan dirinya.

Juga dirinya yang tidak mau mencintai orang yang jelas-jelas mencintai orang lain.

Myungsoo kadang merasa bersalah akan hal itu, tapi mau bagaimana? Dipikir-pikir ia memang bodoh, membiarkan Dayeon terluka padahal ia gadis baik-baik.

Saat itu adalah seminggu sebelum waktu Infinite comeback stage. Jadi, mereka berlatih lebih intensif. Hanya saja konsentrasi Myungsoo terpecah-pecah. Ia memikirkan Naeun yang tidak merespon usahanya untuk menghubungi, Dayeon yang mengatakan akan mampir kemari, dan kehidupannya sendiri.

“Woohyun hyung,” panggil Myungsoo kepada rekannya yang masih bersikap dingin kepadanya itu.

Woohyun pura-pura tidak mendengar dan mengajak Sungkyu bicara, sementara Myungsoo hanya bisa menghela napas dan membalas senyum Sungkyu yang mencoba menenangkannya.

Akhirnya ia duduk di tepi ruangan, meneguk sebotol air setelah daritadi membiarkan kerongkongannya kering.

Pintu terbuka.

“Apakah aku menganggu?”

Seseorang dari Woollim.

“Tidak, ada apa?” tanya Hoya merespon.

“Ada yang ingin bertemu dengan Myungsoo.” Wanita itu melirik Myungsoo dan memintanya segera keluar. Myungsoo menghela napas—tahu siapa yang datang. Jadi, visual Infinite itu bangkit berdiri.

Oppa.

Dayeon berdiri ketika Myungsoo tersenyum sopan pada wanita yang mengantarnya. Myungsoo meneruskan senyumnya pada Dayeon dan meminta gadis itu duduk.

“Apa kabar, Dayeon?”

Dayeon tersenyum tipis, “Baik-baik saja. Kau?”

“Tidak begitu baik,” balas Myungsoo tersenyum tawar. Canggung sekali. Setelah lama tidak bicara berdua secara langsung, rasanya benar-benar tegang dan kaku. “Ada apa?”

“Naeun tidak mencintaimu.”

Mata pria dingin itu melebar, “Aku tahu, lantas?”

“Kasihan ia kalau kau terus begini, Oppa. Sebagai wanita, aku tahu jelas perasaannya bagaimana.”

“Intinya apa?”

Well, hanya mau mengunjungimu karena aku akan pindah ke Jepang. Juga sekalian membicarakan dan mengingatkannya kepadamu, Oppa. Bagaimanapun kalian berdua sama-sama artis.” Dayeon menghela napas, yakin Myungsoo mengerti maksudnya.

“Mencintai tidak selalu memiliki, Myungsoo Oppa.” Dayeon memandang Myungsoo dalam-dalam. “Seperti aku.”

“Dayeon, kau tahu aku mencintai Naeun.” Myungsoo memotong perkataan Dayeon secepat mungkin, berusaha menghentikan pembicaraan yang membuatnya gerah.

“Lalu, apa maumu sekarang?”

“Aku butuh bantuanmu.”

Tidak ada yang berucap, hanya pandangan yang saling bertukar serta deru napas masing-masinglah yang sibuk beraktivitas.

Dayeon tidak percaya Myungsoo—mantan kekasihnya—yang notabene masih disukainya bisa mengatakan hal tersebut kepadanya. Ia tidak habis pikir.

Hanya saja, entah apa yang membuatnya akhirnya mengatakan sesuatu yang disesalinya kemudian.

“Baiklah. Bantuan apa?”

*

Eomma!” Taemin memeluk wanita paruh baya itu erat-erat. Menenggelamkan wajahnya di atas bahu sang ibu yang terasa begitu luas dan hangat, menyesap aroma tubuh wanita yang melahirkannya ke dunia.

“Taemin-ahEomma sangat merindukanmu!” seru Yuna hampir menangis. Matanya berkaca-kaca. Ia melepaskan pelukan Taemin dan memegang kedua lengan atas putranya erat-erat, “Kau sudah jadi pria dewasa sekarang! Kau semakin tampan! Aigooo, Eomma bangga sekali.”

Naeun berdiri di belakang Taemin sambil memegang tasnya—tersenyum lebar menyaksikan peristiwa haru di hadapannya dan menunggu giliran untuk menyapa orang yang sudah seperti ibunya sendiri. Ia jadi rindu orang tuanya yang sekarang sedang ada di Beijing.

Yuna menatap putranya kagum, kemudian beralih melihat ke belakang Taemin. Senyumnya melebar lagi, “Naeun-ahaigooo. Kau semakin cantik saja!” Dipeluknya sang menantu dengan erat.

Taemin yakin pipinya yang nyaris kram ini adalah efek dari senyumnya yang kelewat lebar.

Yuna akhirnya tenggelam dalam pembicaraan bersama Naeun.

Itulah kalau wanita dan wanita bertemu. Sapaan singkat dapat bermetagenesis menjadi serangkaian cerita yang mengalahi roman sekalipun. Mengalir dan mengalir, membuat Taemin akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam setelah melepaskan sepatunya.

Ia menapaki lantai rumah yang terasa begitu akrab bagi indera perasanya hingga ke kamar sang orangtua.

Pintunya sedikit terbuka, jadi Taemin mendorongnya pelan.

Pintu itu berdecit, beraduan dengan permukaan lantainya yang bersih. Seorang pria yang juga paruh baya berbaring lemah di atas tempat tidur. Banyak alat medis di sekitarnya, bahkan ada seseorang asing yang memakai pakaian formal.

“Ah, mianhamnida.” Taemin membungkuk.

“Anda Lee Taemin, kan?” Pria itu bertanya ramah. Kira-kira usianya sepantaran dengan ayahnya Taemin. “Akhirnya Anda datang. Ayah Anda selalu menanyakan kabar Anda dan Son Naeun.”

Taemin tersenyum canggung sambil mendekat, “Iya, terimakasih. Anda… dokternya?”

“Ya. Ayahmu ingin perawatan di rumah. Aku rutin ke sini, rumahku juga sangat dekat. Hanya beberapa blok dari sini.”

“T-taemin…?”

Taemin mendekat dan tersenyum sedih, “Hai, Appa.

Lee Minjong tersenyum bahagia. Wajahnya pucat sekali, tapi tampak cerah melihat putranya. “Kau tampak sangat tampan, Nak… aku sering mengikuti perkembanganmu. Melihat betapa bersinarnya kau di atas panggung adalah kebanggaanku.” Meski terbata, ia mengucapkannya dengan santai. “Di mana Naeun?”

“Di sini.”

Ketiga orang di sana melirik ke arah pintu dan mendapati Naeun kini berjalan mendekati mertuanya yang terbaring lemah di sana.

“Hai, Appa.” Naeun mencium pipi ayah mertuanya lembut. Hatinya teriris melihat keadaan pria yang sudah dianggapnya seperti ayah kandung itu terlihat begitu menyedihkan.

“Naeun-ah, kau semakin cantik saja.” Minjong merasakan matanya memanas. Ditatapnya bergantian Taemin dan Naeun sebelum ia bicara lagi, “Kalian sangat serasi.” Tangan kanannya terangkat lemah, meraih tangan Naeun.

Sang kiri mengikuti jejak sang kanan. Mengambil tangan Taemin.

Pelan-pelan, di antara detak jantung jam, suara gerimis hujan yang sayup-sayup terdengar, pria tua itu menautkan jemari muda-mudi kesayangannya. Menggenggamnya erat.

“Berjanjilah, kalian akan tetap menjaga pernikahan kalian.”

Naeun dan Taemin menatap tangan mereka dengan intens, masing-masing kalut dalam berbagai macam pikiran.

“Berjanji?”

Naeun mendongak, kemudian kedua pipinya menggembung—bibirnya melekuk lebar, “Janji, Appa.

“Aku juga.”

*

Naeun membutuhkan me time, jadi ia pergi ke taman yang tak jauh dari rumah Taemin—tempatnya dan Taemin ketika bermain dulu. Gerimis lembayung tidak lagi turun membasahi tanah sehingga Naeun dengan tenang duduk di salah satu kursi setelah mengeringkannya dengan selembar tisu.

Betapa tenangnya ia di sana.

Udara lembab sehabis hujan memanjakan kulitnya, aroma tanah yang menyeruak bercampuran dengan oksigen terasa begitu melegakan ke dalam pernapasannya. Ditatapnya berkeliling langit yang masih mendung, mencoba mengenyahkan pikiran buruknya tentang…

“Berjanjilah kalian akan tetap menjaga pernikahan kalian.”

Son Naeun menghela napas sambil menyisir setengah rambutnya dengan jemari. Ia takut tidak dapat memenuhi janjinya, sangat takut.

Ia dan Taemin tidak mungkin bersama.

Berapa banyak orang akan mengecamnya? Ia iri dengan KhunFany yang dengan mudah diterima oleh masyarakat. Bagaimna dengan dirinya? Saat mereka ikut WGM saja lebih banyak respon negatif bertebaran dibanding oposisinya.

Naeun lelah. Lelah menjalani kehidupan artisnya.

Kalau diberi kesempatan, ia ingin sekali menikmati status ‘menikah’-nya. Tinggal dengan pria yang sejak kecil sudah bersamanya, menjadi istri yang baik, menjadi ibu dari anak-anak Lee Taemin. Satu hal yang terpenting, belajar mencintainya seperti seorang pria dan suami—bukan kakak.

Lagi, Naeun menghela napas.

Taemin berhak mendapatkan orang yang mencintainya, seperti Krystal. Sulli yang notabene pernah satu sekolah dengan Naeun pernah mengatakan hal tersebut—tentang Krystal kepadanya. Mengeluhkan bagaimana maknae mereka tampak menyedihkan karena perasaannya.

Naeun hanya bisa merespon dalam diam. Dalam remuk redamnya.

Aku akan tetap di sisimu. Selamanya. Tidak akan pernah pergi.”

“Terimakasih, Oppa.”

Sebutir air mata menuruni pipinya ketika bayangan sepasang anak kecil yang sedang bicara di hadapannya menghilang. Itu janji Taemin. Janji yang diucapkannya ketika masih kecil.

Taemin sangat menyayanginya—entah cinta atau sayang sebatas kakak kepada adiknya, Naeun tidak pernah memikirkannya. Ia hanya bersyukur pria itu menyayanginya dan ia sendiri nyaman berada di dekat Taemin.

Aigo!” seru Naeun ketika tiba-tiba dan tanpa aba-aba, langit mengguyurnya. Deras. Tanpa bisa berlindung, tubuh Naeun sudah basah kuyub dari ujung kepala hingga kakinya. “Aish, aku harus—“

“Jangan hujan-hujanan, Pabbo! Kenapa tidak membawa sesuatu yang dapat melindungimu?”

Naeun terkejut ketika merasakan seseorang melindunginya dengan jaket—jaket parasit anti air. Sementara orang itu sendiri langsung dipukul derasnya tirai tangisan langit.

“Payung di rumahmu rusak, jadi—“

“Tidak usah pergi kalau tidak ada persiapan. Kau bisa sakit, tahu?” Taemin dengan cekatan memakaikan jaket itu dan melindungi kepala Naeun dengan kupluk jaketnya.

Oppa, kau gila?! Kau kebasahan!”

Taemin tidak menanggapi, melainkan segera merangkul Naeun dan menariknya merapat. Ia mengajak gadis itu mempercepat langkahnya.

“Tundukkan kepalamu! Supaya hujan tidak menyerang wajahmu. Sini, mendekatlah.” Taemin yakin ia membenci hujan kali ini. Betapa tidak? Suaranya nyaris tertelan desis hujan sementara kulitnya jadi perih terkena tebasan hujan. Ish.

Naeun tidak membantah maupun berkomentar. Dalam hatinya ia ingin menangis. Ia tidak tahu perasaan apa ini—yang melesak kuat di dadanya, hangat dan luar biasa menyenangkan.

Satu hal yang ia pahami adalah,

Ia tidak ingin kehilangan pria ini.

*

Taemin dan Naeun sampai di Seoul pukul delapan lebih. Ketika menyusuri jalan raya dengan penyamaran yang sudah menempel rapi, Seoul telah dilapisi oleh gemerlap khas ibukota. Lampu pertokoan di kanan-kiri menerangi jalan mereka. Tampak aspal yang agak basah menandakan bahwa Seoul pun diguyur hujan.

Mereka berjalan dalam diam, memesan taksi yang membawa mereka ke dormitory A-Pink. Berlagak seperti penghuni lain selain A-Pink.

Keduanya masih diam, bahkan hingga di lift menuju ke lantai tempat dorm A-Pink beradapun mereka tetap membisu. Barulah saat sampai di depan pintu, Naeun bicara.

“Mau mampir, Oppa?”

“Bagaimana jika A-Pink menanyakan kenapa—“

“Hei, mereka sudah tahu kau teman dekatku sekarang. Lagipula mereka hari ini akan ada jadwal hingga malam hari. Eunji eonni sendiri katanya sedang jalan-jalan dengan Chorong eonni, dia baru SMS.” Naeun segera membungkuk, mengangkat sedikit pot tanaman di dekat keset.

Setelah membuka pintu, Naeun melepaskan mantelnya dan menggantungnya di kapstok khusus mantel di belakang pintu. Ia mengajak Taemin masuk dan meninggalkannya sebentar untuk berbenah.

Dorm kalian rapi.”

“Tidak serapi dorm-mu, Oppa.” Naeun terkekeh sambil membawa dua kaleng kopi instan dingin. Disodorkannya salah satu kepada Taemin, kemudian ia duduk di sebelahnya. “Aku heran dorm yang isinya pria semua bisa serapi itu, kami sering menggunjingnya.” Gadis itu tertawa renyah.

Tuk!

Taemin membuka kalengnya dan meneguk isinya.

“Aku pun tak mengerti.” Taemin tertawa kecil. Ditaruhnya kaleng itu di atas meja. Sambil melihati Naeun yang berdiri menuju televisi, ia berbicara lagi. “Bagaimana comeback berikutnya?”

“Bagaimana apanya?” Televisi menyala.

“Konsep… judul…”

“Aku membocorkan judul. Judulnya Pink Blossom.” Naeun duduk lagi di tempatnya, kali ini menarik salah satu bantal di sofa untuk dipindahkan ke atas pangkuannya. Tangannya kemudian mengambil remote, menekan channel favoritnya.

Hanya saja Naeun segera mengganti channel ketika channel tadi menampilkan iklan Music Bank yang isinya adalah comeback stage Infinite minggu depan. Hal tersebut sontak membuat Taemin menghela napas.

“Kenapa dipindahkan begitu saja?”

“Kau lihat sendiri tadi.”

“Memangnya kau tidak ingin memiliki pacar sesempurna Myungsoo? Ia—“

Oppa.” Naeun menatapnya tajam. Ditaruhnya remote secara sembarangan, kemudian kembali melempar tatapan tidak sukanya kepada Taemin. “Kau sudah lebih dari cukup untukku.”

Taemin tersenyum simpul, “Masa? Tapi Myungsoo lebih—“

Oppa, kau suamiku, kan? Kenapa malah mempromosikan Myungsoo kepadaku? Dia pantas mendapat wanita yang mencintainya, sementara aku tidak.”

“Lalu siapa yang kau cintai?” Lee Taemin senang mengatakan hal ini karena dengan kalimat barusan Naeun bungkam. “Kenapa diam? Aku?”

Naeun membuang mukanya sebal, “Sudah kukatakan aku menyukaimu sebagai kakak.”

Wajah Taemin langsung layu, “Tapi kau berjanji pada appa—“

“Memang. Aku ingin berusaha mencintaimu seperti seorang wanita kepada pria, Oppa.” Naeun melembutkan suaranya. “Hanya saja aku tidak bisa. Kau sudah tumbuh sebagai kakakku sejak aku masih sangat kecil.”

Taemin menghela napas dan memaksa Naeun melihatnya, “Sekarang coba lihat aku.”

Naeun terdiam. Ia tertegun ketika melakukan apa yang dikatakan Taemin. Perasaannya menjerit, meronta, terutama ketika merasakan sesuatu yang dalam di antara gelapnya iris mata Taemin.

Oppa…

“Aku menyayangimu jauh lebih besar daripada perasaan Myungsoo kepadamu,” ujar Taemin perih. “Aku menganggapmu bagian penting dari hidupku. Kau sudah seperti prioritasku—aku tidak bisa melihat wanita lain.” Taemin rasanya ingin menangis. “Menurutmu itu apa? Aku… aku tidak mengerti, Naeun-ah.

Son Naeun tidak bisa menjawab. Ia hanya menatap kedua mata Taemin dalam-dalam. Saat ia menatapnya lah ia tahu, ia menemukan ketulusan.

Melihat Naeun hanya bungkam, Taemin pelan-pelan mendekatkan wajahnya sambil memegangi bahu gadis itu. Naeun tidak mundur sesenti pun, ia cenderung maju meski lebih lambat dari Taemin.

Secara alamiah matanya terpejam, seolah memasrahkan segalanya yang akan terjadi saat itu.

Seoul kembali diguyur hujan. Seolah hari ini sang awan tengah kebanjiran oleh tangis. Jalan raya di depan dorm dilalui oleh orang-orang yang memiliki tujuannya masing-masing.

Tidak ada yang tahu bahwa hari ini ada cinta yang melebur. Ikatan batin yang saling mengikat. Perasaan meluap. Kehangatan. Kelembutan. Tidak terperi.

Sepasang manusia yang tidak berencana untuk menyesali hari ini.

Bahkan mungkin…

*

Jung Eunji tahu Naeun sudah pulang. Tapi, ke mana member yang lain? Ini bahkan sudah jam satu dini hari. Tidak ada alas kaki bepergian member yang lain selain Naeun di tempatnya.

Gadis berponi itu mengangkat bahu dan menutup pintu sepelan mungkin karena yakin Naeun sudah tidur. Keningnya lantas berkerut di balik uraian poninya ketika ia berjalan lebih dalam lagi.

Ruang tengah lampunya masih menyala. Televisinya juga masih menyala.

Sofanya berantakan. Dua bantal yang saat ia tinggalkan masih rapi, kini sudah berserakan di lantai. Perasaan Eunji mulai tidak enak.

Teringat akan sesuatu, ia berlari ke arah pintu dan mengamati rak sepatu dengan jeli. Ia merasa ada yang janggal di sebelah sepatu Naeun.

“Sepatu siapa ini?”

Eunji semakin curiga, ia lantas berlari ke kamar Naeun. Perasaannya jadi kacau. Panik melukiskan diri di wajah cantik si gadis Busan. Tanpa buang waktu ia segera memutar knop pintu karena yakin Naeun tidak menguncinya.

Klek. Bruk!

Pintu menjeblak terbuka—Eunji segera masuk.

“Naeunnie, kau—AIGO!

Tas tangan Eunji jatuh.

Naeun mengerjapkan matanya ketika silau lampu kamar masuk ke dalam matanya. Ia menggeliat mengusir lelah, kemudian sepert menyadari diperhatikan—ia menoleh ke pintu.

Wajahnya pucat.

Eonni…” Naeun menarik selimutnya semakin tinggi hingga batas leher. Ia melirik Taemin di sampingnya dan mengguncang tubuh pria itu hingga tersadar.

“Ada apa, Baby? Hmm?”

“Ya Tuhan! Son Naeun, Lee Taemin! Apa yang baru saja kalian—“

Taemin langsung membuka matanya lebar-lebar ketika mendengar suara lain selain Naeun. Ia menelan salivanya keras-keras. Eunji berdiri di sana dengan mata melotot—seperti memergoki acara penyelingkuhan.

Eonni, aku… aku… bisa jelaskan!” seru Naeun terbata, tak punya kekuatan lebih. Seperti baru melakukan dosa. Padahal, ia tidak berdosa kan melakukannya dengan suami sendiri?

“Kalian baru saja menggunakan kamar di sini untuk… sebenarnya apa yang kalian pikirkan?!” bentak Eunji antara marah, kecewa, kaget, kesal, dan gemas. Ia tidak bisa melihat mereka lama-lama, segera berjalan keluar dengan sangat cepat.

Naeun yang tak kalah cepat segera memakai pakaiannya dengan lengkap. Berlari menghampiri Eunji dengan perasaan sama syoknya. Ia juga tidak mengerti kenapa ia bisa lepas kendali dan… ah, sudahlah!

Eonniya…” Naeun menarik tangan Eunji yang baru selesai memakai sepatunya dan hendak pergi.

“Jangan bicara denganku, Naeun!” Dengan kasar, Eunji menghempas tangan Naeun dan menatapnya tajam. “Aku butuh penjelasanmu nanti pagi, di depan kami semua!” Jung Eunji meninggalkan Naeun yang berdiri mematung di sana.

Suara bantingan pintu terdengar jelas.

Oh, tidak.

Rahasianya mulai terkuak.

*To be continued*

NB: Ada beberapa preview yang aku kasih liat di part sebelumnya yang enggak ada di part ini, jadi aku masukin ke preview berikutnya.

 

Preview Paper V: Don’t Touch Her!

“Aku mau kita mulai berjauhan sekarang, Oppa. Kumohon.”

“Naeun…?”

“Taemin oppa, mianhaeyo. Mianhaeyo…

“Naeun, jangan begini…”

“Kita harus berpisah untuk sementara waktu, Oppa.”

*

“Apakah kau tahu rasanya mencintai orang yang tidak mencintaimu? Rasanya seperti kau sedang mengharapkan sesuatu yang hanya berlaku di negeri dongeng.”

*

“Key, kau kenapa?”

“Apa kau tidak bisa melihat, Choi Minho? Minggir! Aku harus bertemu Krystal!”

Oppa, Krystal sedang—“

“Sulli-ya, bisakah kau juga minggir?”

*

“Krystal-ssi, apa maksud semua ini?”

“Kau tahu, Son Naeun? Aku tidak membencimu, tapi setelah ini semua aku rasa aku benar-benar menyimpan benci padamu!”

*

“Naeun, kau tampak sangat pucat.”

“Tidak, Myungsoo oppa. Aku tidak apa.”

“Kau yakin?”

“Aku sangat—“

“Naeun, Naeun! Kau kenapa? Naeun!”

*

Thanks for reading~🙂

 

©2013 SF3SI, Vania

signature

Officially written by Vania claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

13 thoughts on “(Not) A Virtual Marriage – Part 4

  1. Uh oh, ga nyangka mereka akan melakukannya hingga sejauh itu! Walaupun udah halal, tp tidakkah itu terlalu cepat~ I’m shocked…. hahaha.
    Tp semoga dgn terjadinya hal itu bisa lbh merealisasikan hubungan mereka yg msh datar.
    Preview terakhitnya itu…. jgn” Naeun bakalan hamil ya, ah bisa berabe dgn karir mereka~~~~

    Sippo. Ditunggu lanjutannya ya😉
    Keep writing n figting, saeng!!^^

  2. Omooo..! Aku juga ikutan shok kayak eunji!!!
    Author daebak! Keren bingit! Kira-kira entar personil a pink tau semua gk ya tentang hubungan naeun sma taemin?
    Ya tuhan, aku penasaran..!
    Lanjutan nya jgn lama-lama ya? Jeballl aku udah penasaran tingkat dewa ini..*aih-_-

  3. I think naeun pregnant…..
    Uwaaaa coollll keren abissss….
    Pastj nanti tebongkar statusnya taemin sama naeun…. uwaaa seruuu

    Next chapt ditunggu pendingnya jangan lama” yaa thor penasaran nahh

    Author 대박

  4. Omgat… Dae to the Bak… Yehettt… Doh thor kren bget yeshh,, skipskip taeun kurang, hohohoho.. Ituu crita aaaa… Ga bsa kmen apa lgii, cus thor part slnjutnya, yehett .. (ง’̀⌣’́)ง fighting thoor (>̯ ﹏ <)づ♥

  5. wow! daebak!
    gak nyangka akhirnya TaeEun berbuat ‘itu’
    kapan naeun hamil? rahasia terkuak..
    banyakin TaeEun momentnya dong–”
    Next Quickly!!

  6. NaEun bertemu dengan MyungSoo lagi? Masalah bisa jadi besar bila diketahui
    Masalah lama tertutupi sementara, telah muncul masalah besar yang baru
    Next chapter

  7. aku habis baca marathon dari prolog, jadi comment-nya aku bikin jadi satu aja di sini ya, mian…
    hmm, to be honest awalnya aku nggak terlalu interest baca ffnya, karena cast-nya naeun *mian* *bow*
    tapi akhirnya tergoda juga buat baca, dan harus aku akui aku suka sama ide ceritanya, alur, dan cara deskripsiinnya. Sukses bikin aku nggak bosan sama ceritanya (well, karena aku orangnya gampang bosan)

    hmm, apalagi ya? aku nggak tau mau ngomen apalagi, well keep writing, waiting for the next chap

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s