Ungkapan Tanpa Kata

 Ungkapan Tanpa Kata

Main Cast : Kim Kibum| You

Length : vignette

Genre : romance, Life, Marriage Life

Rating : General

 

Aneh, kenapa rumah segelap ini? Kenapa tidak ada satupun lampu yang dinyalakan?

Aku memasuki pekarangan rumah dengan terheran-heran. Biasanya bangunan ini sudah terang benderang di bagian luar, bahkan di bagian taman. Namun tidak malam ini, bahkan lampu teras pun tak tampak nyalanya. Saat kuputar knop pintu, kudapati hal yang lebih aneh lagi. Pintu tak dikunci.

Baby, are you there?”

Tak ada jawaban, membuatku menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah dan istriku yang biasanya sudah menungguku di depan meja makan ataupun televise. Seluruh bagian rumah tak disinari berkas cahaya dan tanganku perlu meraba untuk menekan sakelar lampu. Tak ada senyum hangat ataupun pelukan mesra. Tak ada kalimat yang bertanya, ‘Sayang, kau sudah pulang. Mau mandi dulu atau makan dulu?’ Dan ini semua sangat ganjil.

“Na-baby?”

Dengan cemas dan penuh was-was kubuka seluruh pintu ruangan. Mungkin saja dating orang jahat ke rumah ini. Mungkin saja istriku yang bisa lebih kasar dari lelaki itu melawan dengan sekuat tenaga. Mungkin saja penjahat itu menyekapnya dan berlaku kasar padanya. Mungkin saja… tidak! Ya Tuhan, aku tidak mau membayangkan kemungkinan terburuk. Satu-satunya hal yang membuatku lega saat ini adalah keadaan rumah yang masih tampak rapi setelah aku menyalakan lampu di tiap ruang yang aku datangi.

Baby-..”

Ucapanku terhenti. Terdengar isakan dari arah kamar tidur. Bodohnya aku, kenapa tidak kuperiksa ruangan itu sejak tadi. Dan semakin dekat aku berlari ke arah kamar, semakin deras suara isakan itu.

CKLEK

Dia wanitaku, wanitaku yang kuat.

Wanitaku yang dengan beraninya mengatakan apa yang ada dalam pikirannya tanpa ada maksud menyakiti orang lain. Wanitaku yang tak mau membebani orang lain dengan masalahnya dan tetap tersenyum lebar walau ia akan menatap ke depan dengan cahaya mata serius nan percaya diri saat orang kembali meliriknya diam-diam. Wanita yang selalu membuatku tergila-gila karena dia sangat pemberani.

Namun malam ini aku mendapatinya tenggelam dalam tangis bertemankan cahaya redup lampu tidur.

Sssshh… baby, what’s wrong?” aku hanya mampu menanyaninya dengan nada panik sambil mendekat ke arahnya. Ia menundukkan kepala dalam lipatan lengan di atas tempat tidur. Bahunya naik turun sementara isakan pelan terdengar darinya.

Baby, are you okay?” akhirnya kusentuh lengannya dan ia mendongak. Matanya sembab dan pipinya dipenuhi air mata. Dengan suara kecil ia mencicit pelan, “Bum…”

Ia tak lagi berkata-kata, hanya mengembangkan jangkauan tangannya dan mengalungkan kedua bagian tubuhnya yang lemas itu ke pinggangku. Tubuhnya gemetaran. Ia menangis dalam bisu sementara aku seperti orang bodoh yang tak mengerti apapun. Tapi ia selalu begini, selalu enggan membagi masalahnya dengan orang lain.

“Kau sakit?”

Ia menggeleng.

“Bermasalah di kantor?”

Ia menggeleng.

“Ibuku datang dan memarahimu?”

Oke, itu tidak mungkin terjadi karena ibuku sangat mencintai menantunya satu ini. Namun apapun bisa terjadi kan? Dan ia tetap menjawab dengan gelengan pelan. Aku semakin bingung. Dan dia akan tetap diam walau pelukannya semakin terasa erat.

“Tunggulah di sini. Aku akan mengambilkan air untukmu,” ucapku pelan sambil melepas lembut pegangannya. Ia melenguh, lengannya mengalung semakin erat. Di tengah isakan ia berbisik lemah namun begitu ketakutan, “No! Don’t go! Stay here with me…”

“Baiklah, aku akan tetap di sini,” ku-iya-kan ucapannya sambil memperbaiki posisi kami hingga aku bersandar pada bedpost sementara satu sisi tubuhnya bertumpu penuh padaku. Aku ingin membiarkannya menangis lebih banyak namun tangisnya malah berhenti. Saat kulirik, ekspresinya seperti menahan tekanan di hati. Kuhela nafas panjang.

“Apa hal itu benar-benar buruk?”

Ia diam. Seperti biasa, dia agak keras kepala.

“Tidak ingin berbagi denganku?”

Ia menggeleng, dengan suara pelan berkata, “…Aku tak mau menyulitkanmu…”

“Baiklah jika kau memang tak ingin mengatakannya. Tapi jangan lupa, kau tetap selalu memilikiku untuk berbagi rasa denganmu.”

Kukecup pelipisnya ringan dan kueratkan peluk pada bahunya, berusaha menyalurkan semangat. Namun yang kudapat adalah getaran dari dirinya disambung nafas yang kembali tak beraturan. Hanya dalam hitungan detik tangisnya kembali pecah. Kali ini kupeluk tubuh mungilnya sambil mengelus pelan rambut dan punggungnya.

Everything’s gonna be okay,” ucapku. Isaknya semakin keras. Kubiarkan ia kembali tenggelam dalam tangis bisu tanpa berusaha mengetahui alasan air mata yang hampir tak pernah keluar darinya itu. Sesekali ia menggumamkan namaku. Aku kembali menggumamkan sahut. Biarlah ia lepaskan semua bebannya karena tak semua hal selesai dengan untaian kata.

Setelah ia tertidur barulah aku bangkit, sadar bahwa pintu depan dan lampu seluruh ruangan di rumah ini masih begitu terang benderang karena ulahku sebelumnya.

***

Cahaya mentari pagi menyusup dari balik tirai transparan. Kukucek pelan kedua mataku yang masih terasa lelah. Terlalu banyak berpikir membuat sekujur tubuhku masih meneriakkan keinginan untuk tetap berbaring tanpa kesadaran di tempat tidur. Hari ini libur dan tak ada salahnya untuk sedikit bersantai. Namun niat itu urung kulakukan saat sadar tanganku tak menemukan sosok yang kupeluk tadi malam.

Aroma masakan yang khas bercampur harum kopi favoritku. Tak perlu banyak berpikir aku tahu dimana dia. Hanya saja aku harus sedikit bersih-bersih sebelum menemuinya.

Tak tak tak

Suara hentakan pisau pada papan potong dibarengi gumaman merdu darinya. Hebat sekali, seakan-akan wanita ini bukanlah wanita yang menangis dalam pelukanku semalam suntuk.

“Hmmm… apa yang kau masak, sayang?”

Ia agak terkejut saat kedua lenganku melingkari pinggangnya. Kupotong omelannya dengan sebuah kecupan selamat pagi yang ringan dan senyum pun menghiasi wajahnya yang tampak jauh lebih cerah.

“Kupikir kau akan suka makan sup di pagi libur ini, Bum.”

“Kau tahu aku suka apapun yang kau sediakan untukku.”

Kuhirup aroma tubuhnya yang khas namun telah bercampur dengan harum sabun dan shampoo. Ia terkikik kecil karena terpaan nafasku di lehernya namun tangannya masih tetap aktif memotongi sayuran dan merendamnya dalam kuah kaldu di atas kompor. Namun aku ingin perhatiannya hanya padaku saat ini.”

“Sudah mandi? I love your after-shaved scent,” gumamya sambil mengaduk pelan isi panci di atas kompor dengan perlahan. Aku menggumam pelan mengiyakan. Memoriku sibuk mengingat aromanya agar aku dapat dengan mudah membayangkan dirinya saat aku dibuai rindu. Ia menambahkan, “But I love your after-work scent more than that.”

“Hmm…,” sahutku lagi. Bisa kurasakan bibirnya tertarik membentuk senyum, memancing senyum dariku. Kulirik isi panci yang sepertinya akan baik-baik saja jika ditinggal sebentar.

Feeling better today?” pancingku.

Always better with you hugging me, Bum.”

So, still don’t wanna tell me what happened yesterday?”

“Ah, entahlah. Aku tidak tahu…”

Ia mencoba melepaskan diri dariku, hendak melakukan pekerjaan lain yang entah apa itu. Tapi aku lebih cepat, kuhentikan geraknya sebelum ia sempat beralih. Kuangkat tubuhnya dan kunaikkan ia ke atas kitchen set yang tak jauh dari kompor, hitung-hitung mungkin ia takut supnya akan gosong kalau aku terlalu lama menahannya di sini. Ia sempat berontak, namun diam saat kedua mata kami saling bertemu. Tubuhnya terperangkap sempurna olehku dan kami hanya tinggal bicara tanpa ada yang perlu ditutupi.

Wanna tell me now?” tanyaku dengan suara rendah, cukup serius saat ini. Lucunya ia malah menalan ludah dengan wajah kemerahan. Tidakkah kami masih seperti newlywed couple? Ekspresinya membuat aku ingin mencubit gemas pipinya lalu menciumnya habis-habisan. Tunggu, memang apa yang tengah ia pikirkan?

“Entahlah, Bum… aku tidak yakin harus mengatakannya padamu atau tidak…”

Matanya beralih pandang. Namun kudekatkan keningku pada miliknya, memaksa ia kembali menatapku. Dengan suara lembut kukatakan padanya, “Sayang, aku suami sekaligus sahabatmu. Aku ingin berperan baik sebagai keduanya. Kau tahu aku suka senyumnya, terlebih jika aku alasannya. Dan air matamu kemarin membuatku bertanya-tanya, apa aku memainkan salah satu peranku dengan salah?”

“Tidak, tidak ada yang salah… hanya saja… aku malu mengatakannya padamu…”

Ia setengah mencicit saat mengatakan hal itu. Mungkin ia ingin mundur dan berlalu pergi, tubuhnya mengatakan hal itu. Namun kami tahu bahwa kami seperti candu bagi satu sama lain. Dan tak ada yang ingin melepaskan diri jika sudah begini keadaannya.

“Malu? Kenapa?”

“Aku… Duh, Bum. Bisa kita hentikan pembicaraan ini?”

“Tidak sampai kau mengatakan dengan jelas alas an tangismu kemarin.”

“Dan setelahnya kau akan melepaskanku? Aku cukup khawatir dengan masakanku…”

Kalimatnya mengundang senyum di bibir kami berdua. Namun aku tetap terlalu memaksa untuk ditolaknya pagi ini. Setelah berargumen lama ditambah rengekan kecil, akhirnya ia mengalah. Ia mengancamku dengan kalimat, “Tapi kau tak boleh tertawa!” Pipinya menggembung, lucu sekali.

“Kau membuatku semakin penasaran. Okay, I promise then. So, tell me now baby.

I…I had a dream…”

Aku mengerutkan kening. Tak biasanya ia menangis karena mimpi. Biasanya ia menangisi kucingnya yang mati ataupun kesal karena nilainya turun. Ia realistis tapi tetap perasa rupanya. Kutanya, “Tentang apa?”

“Ten…tentangmu….”

“Kau kehilangan aku dalam mimpimu?”

“Kau mati mengenaskan dalam mimpiku.”

Baiklah, itu membuatku agak bergidik ngeri juga. But hey, it was just a dream! Senyumku hampir kembang lebar saat melihat semu merah muda mewarnai pipinya. Berpikir bahwa ia dapat menangis karena ketakutannya kehilangan diriku membuatku senang bukan main, membuatku semakin gemas dan semakin ingin menghujaninya dengan ciuman.

“Tapi aku sangat lega saat kau datang dan memelukku,” ucapnya sambil tersenyum kecil, “It’s all what I needed last night.”

“Meyakinkanmu bahwa aku masih ada?”

“Meyakinkanku bahwa kau masih hidup dan masih menjadi milikku,” ia tertawa kecil dan mengecup pelan ujung hidungku. Aku balas mencium ujung hidungnya, “Kita saling memiliki.”

“Nah, bisakah kau biarkan aku turun sekarang? Supnya akan kehabisan air karena dibiarkan terlalu lama,” ucapnya setengah mengomel. Kadang kebiasaan kami mengomeli satu sama lain perlu diperbaiki juga. Tapi mau bagaimana lagi, sudah bawaan lahir. Saat kulepaskan diriku darinya, ia menambahkan, “Oh, dan kopimu sudah siap di atas meja.”

“Hmm..,” kukecup pipinya sekilas sebelum berlalu ke meja makan. Di sana aku bisa memperhatikan sosoknya tengah memasak dengan leluasa. Mungkin kemarin bentuk pelampiasan rindunya padaku. Dan inilah bentuk pelampiasan rinduku padanya. Sama seperti tangisnya semalam, tak semuanya perlu diungkap dengan kata-kata, bukan?

 

__FIN__

 

10.26 pm

13th April 2014

 

©2011 SF3SI, Bella Jo

bella-jo-signature

Officially written by Bella Jo, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

15 thoughts on “Ungkapan Tanpa Kata

  1. sweet as ever, author-nim.
    always like I expect from your fics. Modest and sweet, keep writing! Waiting for your next fic! ^^

  2. tulisan Bella Jo selalu… sederhana namun manis.
    Kibum menjadi sosok berbeda dan waw…

    Dia namja hahahaha…

    selalu ditunggu ya karya nya

  3. ini bibir kok senyum senyum terus ^^ so sweet bgt dehh.. kibum menjadi ssosok lain. tpi sweet ^^ sederhana.. keep writing authornim ^^ nice ff

  4. I always hate hubby kibum, entah kenapa rasanya jauh lebih menyebalkan
    kibum itu menyebalkan
    kerealistisannya itu bikin malu
    aku nggak ngerti ngomong apa . . .

    aku nggak ngerti mau komen apa tapi yeah
    makasih atas ceritanya ^^

    ps.
    I’m totally speechless kalo nggak pake bahasa hutan hehe
    maap ya komennya nggak bermutu begini

    1. eee… bella g ngerti knp kk segitu g sukanya ama hubby kibum. he can be the sweetest hubby ever…

      eee… bella juga g ngerti kk ngomong apa #plaakk
      =.=

      btw, makasih udh mampir, y, kk~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s