Finding The Lost Smile – Part 4

Finding The Lost SmileTittle : Finding The Lost Smile

Author : Lee Hana

Main cast : Kim Jonghyun and Lee Taemin

Support Cast : Choi Minho, Choi Sulli, Jung Krystal

Genre : School Life, Friendship, Shounen-Ai, and Romance

Length : Sequel

Rating : T

Summary : “Apakah salah? Apa salah jika aku menyukai seorang lelaki, Hyung? Apa salahnya menyukai Kim Jonghyun? ….”

%%%%%%

“Jong In-ya, kau dengar gosip tentangku?” tanya Sulli pada seseorang yang tengah sibuk mengangguk-ngagguk akibat musik yang menyumpali kedua telinganya.

“Apa?” ulangnya seraya menjauhkan headset miliknya dari telinga ketika menyadari seseorang di hadapannya mengatakan sesuatu yang tidak bisa ia dengar dengan tampang serius luar biasa.

“Kau dengar gosip tentang aku?” ulang Sulli agak jengkel.

Alis Jong-in mengerut. “Gosip apa?”

“Lupakan!” Segera saja Sulli mengibaskan tangannya dan menghampiri temannya yang lain, kali ini mereka yang sedang bergosip dan sudah dipastikan tak akan pernah ketinggalan gosip terbaru, atau bahkan merekalah penyebar gosip. “Yeo Eun-ssi, kau dengar gossip tentang aku?”

“Gosip? Kau tahu tentang yang ia bicarakan, cingudeul? Kau mau yang fenomenal? Kami akan membuat skandal. Yang hot!” ejek Yeo Eun dan diakhiri oleh tawanya sendiri dan teman-teman yang berada di sekitarnya, gadis-gadis yang mempunyai kebiasaan yang tak jauh berbeda dari Yeo Eun.

“Kau ini. Aku serius. Lupakan!” Lagi-lagi anak itu berlalu begitu saja dan membuat beberapa pasang orang itu menggerutu tidak jelas.

Akhirnya dengan gelisah Sulli kembali duduk ke kursinya—menghadap Krystal yang sibuk menyalin jawaban dari buku Sulli. “Aneh. Tak ada gossip apa-apa tentangku,” ucapnya dengan penuh kerut di dahi, juga ekspresi cemas yang mendalam.

“Bukankah itu bagus?” tanya Krystal tanpa mengalihkan perhatian, terus menyalin tanpa merasa terganggu.

“Ya, aku tahu itu. Tapi bukankah ini sangat aneh? Masa dari sekian banyak orang tak ada yang menemukannya. Sudah bisa dipastikan jika seseorang menemukannya ia akan mengumumkannya di depan kelas.” Tapi, entah mengapa hal melegakan ini juga tak bisa diterima Sulli, mungkin karena berlawanan dengan logikanya.

“Jangan ajak aku bicara lagi. Masih ada beberapa yang belum selesai. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi,” protes Krystal santai dan Sulli hanya bisa bersandar lemas pada sandaran kursi sambil mengerucutkan bibir dan terus berpikir, membuat otaknya sakit terus-menerus.

%%%%%

Dan, pada malam harinya ia melakukan hal yang sama kepada kakaknya, meski agak ragu-ragu, “Oppa, kau mendengar gossip tentang aku?” tanya Sulli mengulangi sekali lagi pertanyaan yang sama.

Minho yang sedang sibuk dengan tugasnya bicara tanpa menoleh ke belakang, tempat adiknya berada, sedang duduk di pinggiran ranjang sambil menatapi punggunya yang bergerak-gerak karena menulis, “Tidak. Kenapa?”

“Oh,” jawab Sulli tidak peduli. “Tidak apa-apa.”

“Argh! Soal ini benar-benar sulit!” rutuk Minho pada akhirnya sambil mengacak rambutnya sendiri lalu menghela keras, menatap ke arah buku tebal milikinya—seakan berniat mengajak berkelahi dan membakarnya meski pada akhirnya lelaki itu menyerah—lalu memutar kursi menghadap Sulli. “Hei, sebenarnya kau mau melakukan apa, sih, di sini?” tanya Minho dengan ketus, masih kesal karena soal yang sepertinya tidak pernah ada habisnya dan selalu saja menantang untuk diselesaikan dengan otaknya yang pas-pasan.

“Aku … emm, entahlah. Tapi, omong-omong bagaimana dengan Taemin, apa ada kemajuan?”

“Kemajuan? Tentu saja. Hanya saja, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapainya,” keluh Minho lalu mendesah.

“Ada masalah?”

“Masalahnya hanya ada pada anak itu. Lama-lama aku melihatnya seperti Kim Jonghyun. Dia, jika sudah memberi target pada dirinya sendiri tak bisa dihentikan.”

“Bukankah itu bagus?”

“Ya, di sisi lainnya tidak. Kau tahu kakinya baru saja sembuh, tapi ia bahkan mencoba melakukan hal-hal yang bisa mencederai kakinya sendiri. Tidak pernah menganggap tubuh mereka penting. Seperti orang gila.” Sekarang kepala Minho terbersit sesuatu. “Omong-omong bagaimana suratnya? Kau sudah berikan?”

“Hilang.”

“Karena itu kau takut ada gossip?”

“Kau benar-benar terlalu mengenalku, Oppa.”

“Dasar payah!” ejek Minho pada akhirnya, melirik Sulli dengan pandangan mengejek, membuat gadis itu cemberut. “Padahal aku sudah banyak membantu,” lanjutnya, membuat Sulli berkerut kening.

“Membantu apa?”

Minho memutar bola matanya dan mendesah jengkel. “Kau tidak ingat apa yang sering kau keluhkan padaku? Perlu kuingatkan siapa yang selalu membuatmu iri dan cemburu?”

Sekarang Sulli mendesah, mengerti. “Oh.”

“Aku sudah membantumu, kan? Lee Taemin sudah jauh-jauh dari Jonghyun Hyung, kan? Harusnya kau punya banyak waktu lebih untuk mendekatinya,” protes lelaki itu.

“Jangan banyak bicara. Lagi pula aku tak pernah minta bantuanmu—dan Taemin sendiri pula yang menghampirimu. Ini hanya kebetulan, tahu. Omong-omong, sebaiknya mintalah bantuan anak itu untuk belajar. Meski dia satu kelas di bawahmu, tapi otaknya itu lebih berisi daripada punyamu. Kau itu payah, tahu?” Dan Sulli membalas ejekkan kakaknya dengan senang hati, lalu meringis puas sedangkan Minho cemberut.

%%%%%

Untuk ke sekian kalinya Jonghyun bertanya-tanya sendiri dengan muram, di kursinya sendirian, terpekur dengan mengerut kening dan tampak serius. Berulang kali ia membolak-balikkan surat berwarna merah muda yang ada di tangannya, yang sebenarnya beberapa waktu lalu membuatnya bingung harus berbuat apa. Setiap malam dirinya bertanya-tanya, Patutkah aku dicintai? Kenapa Choi Sulli begitu bodoh? Apa dia tidak dengar hal-hal buruk tentangku dari orang-orang? Sejujurnya, ia tidak pernah mengenal Sulli, sama sekali, hingga beberapa waktu lalu ketika mereka bertabrakan untuk pertama kalinya.

Diam-diam lelaki itu senang merasa dicintai—merasa masih ada yang mencintainya. Bahkan terasa lebih sakit ketika Lee Taemin pergi meninggalkannya. Di dalam seluruh kesepian, masalah, nama baik, harga diri, dan keegoisan, serta sesuatu yang bahkan tak pantas untuk disebut cinta—Sulli datang, seperti dewi yang menawarkan sebuah solusi atas segala permasalahan di atas. Tapi, Jonghyun berpikir dengan keras, patutkan gadis itu dijadikannya perlarian, sedangkan Sulli memberikan cinta padanya dengan segenap hatinya? Dan dalam masa lamunan yang lama, pertimbangan-pertimbangan gila, akhirnya ia memutuskan akan mencoba melakukan apa pun. Ia akan kembali pada kodratnya, mencintai seorang wanita—hal yang sama sekali belum pernah ia rasakan sebelumnya.

%%%%%

Jonghyun melihat Sulli, gadis itu terlihat tidak peduli pada apapun selain apa yang tengah dilihatnya, lalu Jonghyun menunduk diam, mulai berpikir lagi dengan pikirannya yang terus berlarian ke mana saja—ke arah pikiran-pikiran buruk atau bahkan pikiran-pikiran yang membuatnya tertekan. Untuk sejenak ia melihat Sulli tersenyum pada apa yang sedang ditekurinya, melihat ekspresi gadis itu yang sedang berpikir tentang hal-hal baik—saat itu Sulli sedang berpikir tentang Kim Jonghyun—yang membuatnya terlihat sangat ceria dengan mata berbinar-binar.

Choi Sulli, seketika Jonghyun menyadari bahwa gadis itu luar biasa berbeda dengannya, seseorang yang begitu jarang tersenyum, bahkan ia tidak ingat kapan ia bisa tersenyum selain kepada Lee Taemin, tapi ketika mengingat nama itu, yang memunculkan bayangan sosok manis di kepalanya, jantungnya terasa diremas lagi hingga Jonghyun memutuskan terus menatap Sulli. Dan pada saat ini ia bisa melihat Sulli tengah memerhatikannya lalu melihat gadis itu memalingkan wajah dan memukul pipi dengan keras, hingga dengan samar-samar lelaki itu bisa mendengar jeritan Sulli. Jonghyun terperanjat, merasa kaget, dan merasa bingung. Kenapa ia melakukannya?

Dan ketika Sulli datang, ia merasa mulai ragu pada dirinya sendiri, tapi ia tidak akan menyingkir sama sekali atau mengalah pada keraguannya. Menatap Choi Sulli yang hadir di hadapannya, yang mungkin akan menggantikan Lee Taemin di sampingnya. Gadis ini juga ceria, sama seperti Lee Taemin, dan mengingat gadis ini juga jatuh cinta padanya karena basket, dan itu membuatnya lagi-lagi mengingat Taemin. Anak itu sangat suka mengajaknya bermain basket, tidak tahu kenapa, padahal jelas-jelas secara terang-terangan Jonghyun menolak keras. Tapi ia harap Sulli tidak akan memaksanya melakukan hal yang tidak ia inginkan, karena hal yang paling membuat seorang Kim Jonghyun kesal pada Taemin adalah ketika anak itu merengek diajak bermain basket, dan anak itu seperti tak pernah bosan mengajaknya.

“Anyeong, Op—eh, Sunbae. Sunbae, mencariku?”

Jonghyun mengangguk dengan dingin, sekarang ia bahkan lupa bagaimana tersenyum pada seseorang selain Lee Taemin.

%%%%%

“Sulli-ya!” panggil seseorang yang baru saja menghampiri tempat duduknya.

“Ne.” Mata Sulli tidak teralih. Belum bosan dengan majalah di mejanya. Matanya berbinar-binar, seakan-akan tenggelam pada lautan gambar kosmetik di hadapannya. Aku pasti terlihat cantik jika memakainya dan Jonghyun Oppa akan jatuh cinta padaku, gumamnya dalam hati dan mulai berandai-andai, tersenyum-senyum sendiri.

“Yah, Jonghyun Hyung,” sambut Chaenyeol yang mulai tampak kesal tidak diacuhkan; merasa gambar-gambar kosmetik itu lebih penting daripada perkataannya. Ia bahkan sudah mengatakan nama yang diidamkan Choi Sulli—teman-teman satu kelas Sulli sudah tahu bahwa Sulli menggilai Jonghyun—yang harusnya membuat Chaenyeol akan mendapatkan seluruh perhatian gadis itu.

“Aku tahu. Aku tahu,” jawab Sulli asal, sambil mengibaskan tangan, tampak mengusir. Tidak ingin diganggu dengan kesukaannya.

Chaenyeol menghela lalu memutar mata, dan dengan malas berkata, “Dia mencarimu.” Tak ada respon. Ia pikir gadis ini memang bodoh hingga tidak bisa menerima informasi sesingkat itu. “Hei, kau dengar aku? Aku bilang Jonghyun Hyung mencarimu, Choi Sulli! Bukankah harusnya kau terkejut dan berjingkrak sekarang?” kalimat Chaenyeol memanjang, dan dengan nada yang meninggi, betapa kesal karena merasa tidak dipedulikan dalam waktu yang cukup lama.

“Mwo?” Seperti menjawab dengan reflek, gadis itu segera menoleh dengan wajah kaget, lalu memerhatikan Chaenyeol yang jengkel dengan tatapan menyelidik miliknya. “Kau, bercandamu kali ini benar-benar norak!” cibir Sulli. Ia kesal. Sudah tahu ia jatuh cinta setengah mati pada Kim Jonghyun, tapi orang ini selalu saja bercanda menggunakan nama orang yang disukainya. Dan terkadang dibubuhi kata-kata yang terdengar menyindir dan mencibir. Matanya menatap orang yang berdiri di sampingnya tak suka.

Yang diomeli hanya memutar bola matanya lagi, merasa benar-benar jengah. Ia tahu bahwa ia suka bercanda, tapi berpikir gadis di hadapannya benar-benar bodoh karena tak bisa membedakan ekspresi wajah. “Lihat sana! Dia menunggumu di depan pintu,” ucapnya sambil mengarahkan dagunya ke arah seorang lelaki yang terlihat berdiri di luar pintu sambil menunduk, menutupi ekspresinya. Chaenyeol melipat tangan di bawah dada lalu mendesis dan pergi, meninggalkan Sulli sambil menggerutu.

Sulli mengarahkan wajahnya ke arah yang Chenyeol tunjuk—dengan leher yang terasa kaku ketika digerakkan, seperti engsel orang tua. Dan ketika melihat apa yang didapatkan matanya sekarang—Sulli melongo tidak percaya. Matanya membulat penuh lalu segera mengarahkan kembali kepalanya ke samping, menutupi wajahnya dari jangkauan tatapan Jonghyun yang tampak memerhatikan, kemudian menepuk pipinya keras. “Aww!” jeritnya lalu menangkupkan pipinya yang memerah, warna yang berasal dari telapak tangan dan perasaannya yang tak keruan. Ia yakin sekali karena perasaan itulah wajahnya yang tiba-tiba saja terasa hangat di telapak tangan, tapi gadis itu lebih memiliki berkata, “Sakit,” dengan lirih, namun terdengar bahagia karena berarti ini bukanlah mimpi belaka. Sesuatu yang membuatnya mendesah setiap pagi kala menyadari keinginannya dan dorongan perasaan untuk bersama, membawa angannya hingga tidur di malam berikutnya.

Sekarang, mata Sulli memejam sambil menggigit bibir bawah, merasa amat terganggu karena perasaannya yang liar, debaran yang timbul sesuka hati ketika melihat Jonghyun dengan nyata, atau bahkan hanya sekadar karangan imajinasi saja. Dan sekarang, ia mengingat lagi suratnya, bertanya-tanya dan semakin merasa terganggu atas setiap pikiran yang melintas di kepalanya, Apa ini masalah surat itu? Apa dia sudah membacanya? Atau dia mendengarnya dari orang lain? Inikah waktunya? Tenanglah, Sulli! Siapakan mental bajamu. Siapkan muka tembokmu. Saatnya berperang. Siapkan panah cintamu. Fighting! Ia mengepalkan tangannya kuat di depan dada dengan mata berapi-api. Beranjak dan segera berjalan ke arah pintu.

Sebenarnya dalam langkahnya yang terlihat mantap ia sangat takut, sesuatu dipikirannya tentang hal buruk, tentang reaksi aneh yang beberapa orang berikan ketika mengetahui seseorang menyukai, seperti marah atau malu, menjauh dan hal-hal buruk semacam itu yang membuat Sulli merasa terhina … tidak! Hanya merasa salah.

Ketika sudah berada tepat di hadapan Jonghyun—Sulli mencoba melambai serta menampilkan senyum terbaik, tapi, sekeras apapun ia mencoba tersenyum dengan baik yang bisa ia tunjukkan hanya kegugupan dan rasa malu.

“Anyeong, Op—eh, Sunbae. Sunbae, mencariku?” Sulli mencoba melambai, meski terlihat benar-benar merasa asing dengan keadaan ini, dan juga kikuk bukan main. Semuanya terasa aneh sekali baginya karena Jonghyun datang kepadanya, tapi karena hal tak terduga ini ia belum menyiapkan mental, jadi semuanya serba berantakan, bahkan apa yang ia katakan sekalipun, bahkan menyebutkan kata oppa yang sering disebutnya dari balik punggung Kim Jonghyun tetapi di hadapan lelaki itu ia tidak berani, karena jelas-jelas mereka sama sekali tidak akrab, bahkan mungkin Kim Jonghyun tidak mengenalnya sama sekali. Ia tidak mau terlalu percaya diri, meski itulah sifat dasar dari Choi Sulli, sama seperti kakaknya, tapi untuk Kim Jonghyun, sifat itu sepertinya terkubur rapat di bawah alam sadarnya.

Jonghyun mengangguk sambil menatap Sulli dengan tatapan dinginnya.

“Ada … ada sesuatu yang bisa kubantu?”

Jonghyun terdiam sebentar lalu bicara dengan nada dinginnya seperti biasa, “Bisakah kau ikut denganku, Choi?”

Sulli terdiam, membatu. Seingatnya ia belum pernah sekalipun memperkenalkan diri. Dari mana Jonghyun Oppa mengetahui namaku? Sekarang ia menerka-nerka lagi tentang suratnya, atau Jonghyun Oppa mengetahui namaku dari Minho Oppa? Sekarang Sulli menggeleng keras. Tidak, aku bahkan tidak punya kesempatan dulu untuk mendekatinya karena terlalu malu. Bahkan dengan alasan seorang Choi Minho, yang bisa dikatakan cukup dekat dengan Kim Jonghyun, dulu. Sulli sadar ia menjual kesempatan emas itu karena rasa malunya yang hingga sekarang dirutuki. Tapi ia sangat bahagia, apapun atau bagaimana pun lelaki itu bisa mengetahui namanya. Ia bahagia, jadi ia tidak mempertanyakan hal itu lagi pada detik berikutnya ketika Jonghyun bertanya padanya.

Jonghyun memerhatikan. Mulai keheranan lagi karena gadis itu terpekur begitu lama hanya karena sebuah permintaan sederhana, seperti pertanyaan itu adalah sebuah pertanyaan yang memengaruhi kelangsungan kehidupannya. Ia tidak mengerti wanita. Benar-benar tidak mengerti. Satu-satunya wanita yang paling dekat dengannya hingga sekarang hanyalah ibunya saja, dan dia sudah tua. Kenapa wanita begitu aneh?

“Emm, kau tidak mau?” Hanya itu saja yang bisa ditangkap Jonghyun dengan gelengan kepala itu, tidak ada lagi.

Sulli cepat-cepat mendongak, mendapati lelaki itu mengerutkan keningnnya, terlihat bingung dan salah paham. “Oh, tidak! Tidak!” sergahnya cepat dan kelewat bersemangat, hingga hampir terdengar seperti berteriak. Menyadari sikapnya yang berlebihan gadis itu berdehem sebentar lalu bicara dengan nada yang direndahkan, terdengar lebih tenang. “Aku … aku hanya bertanya-tanya dari mana, Sunbaenim, bisa mengetahui namaku?”

“Aku ingin mengatakan banyak hal padamu. Aku juga akan menjawab setiap pertanyaanmu. Tapi, bisakah kita pergi ke tempat yang lebih sepi? Aku … aku takut kalau hal ini mengganggu privasi kau dan aku. Bisa kita bicara berdua saja?”

Oh, Sulli sekarang bahkan ingin menampar wajahnya lagi, tapi ia menahan dirinya, tapi tetap saja sulit untuk memercayai. Berdua? Berdua saja? Kalimat itu memenuhi hatinya hingga terasa sangat hangat dan bahagia. Ini benar-benar seperti mimpinya.

“Kau benar-benar tidak mau, ya?” Dan pada akhirnya membuat Kim Jonghyun merasa ditolak karena ajakkan yang sudah kedua kali tidak diberi respon sesuai yang diinginkannya.
“Tentu saja mau!” Sulli berkata dengan luar biasa bersemangat. Jonghyun bisa melihat mata cerah gadis itu yang terlihat bersinar, serta senyumannya yang membuncah, yang tidak bisa disangkal oleh siapapun bahwa gadis ini sangat manis ketika tersenyum, terlebih dengan semangatnya. Sikap tubuhnya yang mengepal tangan di dada menunjukkan betapa ia merasa Sulli adalah gadis yang sangat bersemangat dan ceria.

Jonghyun tersenyum, dan ini mungkin senyum pertama yang lelaki itu berikan pada Sulli, membuat gadis itu terpana dan tak bergerak sama sekali.

%%%%%%

“Oh, leganyaaa,” ucap Minho ketika menutup bukunya dan mengempaskan diri di bangku tribun lapangan, yang biasa diisi oleh para penggemarnya, atau penggemar tim mereka. Lelaki itu tersenyum lega dan menatap Taemin yang merapikan buku-buku miliknya dengan senang hati.

“Hei,” panggil Minho seraya duduk condong ke arah Taemin di sebelahnya dan menangkupkan kedua tangannya di lutut dengan posisi duduk—kaki terbuka khas laki-laki. Minho tersenyum. “Aku tidak mengerti bagaimana mungkin kau bisa sepintar ini?”

Taemin merasa tersanjung hingga tersenyum mengembang, “Ini karena Jonghyun Hyung. Dulu kami sangat senang belajar bersama, ketika aku sudah selesai mengerjakan tugas dan kebetulan dia memang sangat pintar, aku memintannya mengajari pelajarannya.” Setelah itu Taemin mendesah kecewa. “Andai aku bisa lebih pintar lagi aku mungkin bisa lompat kelas, setidaknya aku bisa satu tingkat lebih dekat dengannya, hingga tidak butuh waktu dua tahun untuk bisa satu sekolah lagi dengannya.”

“Memang berapa lama kau mengenalnya?” tanya Minho penasaran.

“Aku tidak menghitungnya. Tapi aku sudah dekat dengannya ketika sekolah dasar. Aku hanya memiliki waktu setahun saja ketika SMP dan juga SMA ini.”

Melihat kekecewaan Taemin tiba-tiba saja Miho kesal sendiri, dan merasa keberatan anak sepintar itu bisa berada satu tingkat di bawahnya. “Aku tidak mengerti kenapa guru-guru membiarkanmu tetap di kelasmu dengan seluruh isi otak seperti itu.”

Taemin melirik ke arah Minho, semakin kecewa sendiri pada dirinya ketika menyadari kekurangannya. “Aku tidak selalu sebaik ini dalam setiap pelajaran. Ada satu atau dua pelajaran nilaiku yang kurang, dan beberapa lainnya biasa saja. Berbeda dengan Kim Jonghyun yang hampir menguasai setiap pelajaran yang ada. Bagi orang seperti itu saja, loncat kelas masih sulit. Jika kau ingin lebih cepat menyelesaikan sekolahmu di sekolah seperti ini, tentu saja kau harus memiliki otak yang jenius, sedangkan aku hanya cukup cerdas.”

“Setidaknya orang yang cukup cerdas tak perlu terlalu bekerja keras untuk memasuki universitas yang mereka inginkan, terkadang beberapa universitas justru memperebutkannya, apalagi dengan bakat tertentu,” bantah Minho yang tidak setuju dengan kata ‘hanya’ yang dilontarkan Taemin.

Setelah itu tak ada lagi ucapan dari keduanya dalam beberapa waktu. Minho terdiam dengan kelegaannya, sedangkan Taemin terpekur dengan pikirannya yang baru, pikiran yang mengganggunya, kepeduliannya, Kim Jonghyun. Hingga akhirnya, sebuah pertanyaan terlontar, pertanyaan yang sejak kemarin menggenang di kolam pikirannya yang sudah keruh dengan segala permasalahan, “Hyung, sebenarnya aku ingin tahu apa pendapatmu tentang hubungan sesama jenis? Bagaimana pikiranmu ketika aku mengatakan homo, gay?”

Minho yang menatap lurus dengan tenang sejak tadi kini segera beralih pandang kepada Taemin, menatap wajahnya yang sedang serius itu lalu merasa dadanya kembali menjadi berat, seperti ada beban yang tiba-tiba saja muncul dengan ajaib di sana. “Aku ….” Minho mendesah keras, menerawang dan mengingat kejadian itu. “Aku sejujurnya merasa jijik. Aku tidak menyangkalnya, tapi … aku merasa … merasa tidak berhak untuk berpendapat sama sekali. Itu hidup mereka; itu perasaan mereka. Tapi jika yang kau maksud adalah tentang Kim Jong—“

“Tidak, Hyung,” sergah Taemin dengan cepat. “Ini … ini bukan masalah Jonghyun Hyung, tapi masalahku. Ini tentang aku. Aku merasa … merasa dunia ini tidak adil. Aku merasa Jonghyun Hyung tidak pantas untuk dikeluarkan dengan tidak hormat seperti itu dari timmu. Aku merasa dia tidak pantas diperlakukan buruk oleh orang-orang. Tapi aku sendiri berpikir tentang diriku. Ketika mereka mengetahui sebuah kenyataan yang tak sejalan dengan pemikiran mereka, maka mereka berubah dengan mudah, jadi berbeda sekali. Aku dulu melihat Kim Jonghyun dipenuhi cinta di mana-mana, dari para penggemar wanita atau para anggota satu timnya yang terlihat begitu akrab. Sejujurnya ada rasa iri di sana. Tapi … tapi semua segera berubah seratus delapan puluh derajat ketika isu itu tersebar. Sejujurnya aku merasa takut ketika melihat semua hal yang memang terjadi. Aku takut kalau aku mengakui perasaanku maka semua orang akan melakukan hal yang sama, begitu juga Jonghyun Hyung. Aku tidak tahu apa yang ia rasakan padaku. Sejujurnya … sejujurnya ia bahkan sudah berubah padaku saat itu. Itu saja sudah membuatku sangat ketakutan. Aku benar-benar takut bahwa ia akan meninggalkan aku pada akhirnya ketika ia mengetahui perasaanku.

“Aku tahu …, aku hanya tahu dia tidak menyukaiku sekarang, karena aku adalah orang yang begitu tidak berguna. Hanya anak kecil yang suka merengek, bermanja, dan lemah. Tidak membantu sama sekali.

“Apakah salah? Apa salah jika aku menyukai seorang lelaki, Hyung? Apa salahnya menyukai Kim Jonghyun? Kenapa orang-orang begitu jahat kepada orang-orang yang memiliki perasaan berbeda seperti ini? Kami bahkan tidak berniat menumbuhkannya. Kami diam-diam tersiksa karenannya.”

Minho terdiam, melihat Taemin yang mulai mengeluarkan air matanya, meluncur dan mengerang karena marah seusai bercerita dengan penuh emosi meluap. “Apa kau sama seperti mereka?” dan kalimat barusan membuat Minho kebingungan.

Minho tidak tahu. Sekarang, hanya satu hal yang ia sadari, rasa iba dan bersalahnya pada mereka, orang-orang yang berbeda. Tidak seharusnya dengan perbedaan itu mereka diasingkan, dianggap seperti kotoran yang menjijikkan. “Aku … tidak tahu, Taemin. Tapi, aku bukan orang yang akan memperlakukan seseorang seperti itu.”

“Apa kau jijik padaku sekarang?”

Minho terdiam sebentar. “Tidak, hanya sedikit takut saja. Jijik hanya ketika kau melakukan hal tertentu di hadapanku dengan pasanganmu. Aku juga takut kalau kau malah jatuh cinta padaku dan aku tidak bisa membalas perasaanmu. Kau tahu aku normal. Ya, aku tahu kau menyukai lelaki lain, tapi tetap saja aku juga lelaki. Jadi tolong maafkan yang ini. Lagi pula, setelah mendengarnya ada perasaan yang mengganjal memang, dan mungkin sikapku tidak akan persis sama ketika aku sudah mendengarnya. Tapi aku tidak akan melakukan hal buruk padamu, atau menjauhimu.”

Taemin merasa lega, dan dia mengusap pipinya yang basah. Merasa lebih tenang.

“Hey, aku tahu kau takut, tapi … aku merasa kau harus melakukan sesuatu. Aku merasa memendam perasaan seperti ini terus diam-diam juga tidak baik. Jika Jonghyun benar-benar menyayangimu—entah sebagai seorang sahabat, adik, teman atau bahkan kekasih—tidakkah kau berpikir dia akan menerimamu apapun yang terjadi? Seperti kataku tadi, pasti akan ada yang berbeda, tapi aku yakin itu lebih baik.”

Taemin terdiam, mencerna kata-kata Minho barusan dan tersenyum sekilas sambil mengangguk pelan.

“Kalau begitu sekarang cobalah kau bersamanya lagi. Bermain basket dengannya lagi. Apa kau bisa melakukan itu?”

Taemin mengangguk lagi, setelah itu pergi dan berlari ke arah pintu keluar, menuju Kim Jonghyun.

To Be Continued ….

Oke, aku udah turutin kemauan kalian, loh. Part ini aslinya itu ada 9 page, dan sekarang aku tambahin 4 page. Jadi, klo kamu kurang puas dan merasa kurang panjang, berarti harus bersabar, ya? 

blog. JJANG!

©2013 SF3SI, Lee Hana

leehana-signature

Officially written by Lee Hana, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

One thought on “Finding The Lost Smile – Part 4

  1. Koq ending part ini aku aga bisa ngraba apa yg akan trjadi stlahny ya?sotoy sih kayanya abis part ini taemin mau balikan ama jjong tp jjongnya udah mau jadian ama sulli…huwaaa taemin ulljimane!?lnjutin jgn lama2#maksa

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s