Again

Again

Main Cast : Kim Kibum | Choi Hyoseon (OC)

Length : vignette

Genre : life, thriller, psychology, tragedy, crime

Rating : PG

 Again

By Bella Jo

 

Jum’at kelabu. Langit tak menampakkan warna cerahnya karena matahari masih enggan terlihat dari balik lapisan awan. Angin bertiup resah, ranting berbisik gelisah. Seakan Bumi dan langit ikut menangisi kepergian penduduknya yang tak bersalah. Ya, karena hari ini puluhan orang berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir untuk wanita tua yang fotonya terpajang di depan peti mati.

Tangis sedih mengisi ruang, menyesali nasib yang menghampiri. Kata-kata hiburan dilontarkan namun tak satupun yang benar-benar mampu membangkitkan senyum di bibir. Terutama bagi sepasang gadis kembar yang duduk diam dengan mata sembab di samping peti. Beberapa orang bicara pada mereka namun hanya satu yang mampu merespon walau tak sepenuh hati. Yang satunya lagi hanya termenung dengan tatap kosong.

“Aku harap kalian berdua dapat berbesar hati menerima kepergian ibu kalian.”

Kedua kembar itu menoleh, mendapati lelaki muda berjas hitam rapi tampil dengan ekspresi bela sungkawa yang tak berlebihan. Gadis berambut lurus dengan panggilan Hyorin itu berusaha tersenyum dan menyambut si lelaki, “Terima kasih atas kedatangan Anda, detektif.”

“Kami akan mengusahakan yang terbaik dalam penyelidikan kecelakaan ini.”

“Ya. Kami akan menunggu hasilnya dengan sabar.”

Detektif muda berambut hitam gelap itu melirik ke arah gadis yang satunya, Choi Hyoseon. Gadis berambut gelombang itu seakan bisu, mungkin kepergian sang ibu sedikit mengacaukan isi pikirannya. Si detektif berusaha maklum namun juga kasihan. Ia tahu kematian adalah hal yang sulit diterima namun tak ada guna jika terus berlarut-larut di dalam kesedihan karenanya.

“Hyoseon-ssi.”

Gadis itu menoleh lemas, bibirnya seakan berbisik, “Detektif Kim..”

“Di balik perpisahan pasti ada pertemuan yang baru. Saya harap Anda tidak terlalu larut dalam kesdihan atas kehilangan ini,” ucap lelaki bertubuh tinggi itu. Choi Hyoseon menatapnya seakan tanpa nyawa sementara saudara kembarnya mulai beranjak menghampiri pelayat lainnya. Setelah beberapa detik Hyoseon mulai menyunggingkan senyum pahit dan berkata sinis, “Sepertinya Anda sudah sangat terbiasa menghadapi hal-hal semacam ini hingga dapat berlaku normal seperti itu.”

“Tidak, nona. Untuk hari ini saya datang ke mari sebagai manusia biasa bernama Kim Kibum, sebagai manusia yang juga akan mati nantinya. Terbiasa atau tidak, hal itu takkan mengubah kenyataan bahwa pada dasarnya kematian dan kehilangan itu memang akan datang, namun tak selamanya harus diratapi.”

“Maksud Anda?”

“Ada baiknya jika Anda langsung berteriak kencang ataupun menangis sejadi-jadinya. Lepaskanlah semua beban rasa yang ada lalu kembalilah menapaki hidup dengan penuh semangat. Dengan begitu tak ada lagi beban yang tertinggal di hati.”

Hyoseon tersenyum mendengarnya. Sejak tadi ia hanya mendengarkan ratapan dan kesedihan orang lain tanpa bisa mengeluarkan isi hatinya yang tertahan. Ia butuh lontaran kalimat semangat yang tulus dan ia baru saja mendapatkannya dari seorang lelaki yang masih sangat asing baginya. Ia sadar, ini mungkin perjumpaan pertama dan terakhir bagi mereka namun ini sangat berkesan. Terutama senyum seorang Kim Kibum yang seakan berkata ‘aku tahu kau bisa’.

“Terima kasih, Kibum-ssi. Anda benar, yang saya perlukan adalah menangis keras sejadi-jadinya. Namun saya tidak tahu pada siapa dapat menumpahkan semua rasa itu.”

“Untuk saat ini saja,” jawab si detektif, “Anda dapat membaginya dengan saya.”

***

“Seon-ah, sedang apa?”

Hyorin mendekati kembarannya yang terduduk sambil melamun di dekat jendela. Hyoseon tak menyahut, sementara Hyorin yang bosan menunggu jawaban akhirnya beranjak memperbaiki letak bunga dalam vas.

“Kasusnya selesai saat aku kuliah di Busan?” Hyoseon memecah hening, namun matanya masih belum menatap Hyorin. Hyorin menatapnya heran lalu menjawab, “Ya. Pelakunya tertangkap dan semua sudah selesai diproses. Dia sudah dipenjara.”

“Dan… Detektif Kim?”

“Ah, ia yang menguak kebenaran kasusnya. Thanks to him we can live peacefully from now on,” Hyorin tersenyum, mengingat bagaimana ia berterima kasih pada si detektif muda yang tampan itu. Ia juga bersyukur masih berada di Daegu selama proses penyelidikan hingga ia dapat mengikuti penyelesaian kasus kematian ibunya sampai akhir. Dan tiba-tiba Hyorin teringat, “Oh, ia menitipkan salam untukmu, berharap kau bisa bersemangat setelah kasus ini terkuak.”

Hyoseon diam, pandangan matanya kosong mengingat masa lalu. Hyorin yang sibuk dengan bunganya tidak terlalu memperhatikan perubahan pada diri saudaranya. Ia malah bersenandung pelan.

“Aku…ingin berjumpa dengannya lagi…”

Hyorin menoleh. Hyoseon yang masih termenung sambil berkata, “Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya…”

“Maksudmu detektif Kim?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Hanya ingin. Kupikir aku tertarik padanya setelah hari pemakaman ibu.”

“Tidak heran jika kau tertarik padanya. Ia pribadi yang menyenangkan.”

“Kau juga merasakannya, Hyorin-ah?”

“Ya.”

Keduanya termenung, sibuk dengan pikiran masing-masing. Hujan turun deras di luar, membuat titik-titik air membasahi kaca jendela yang tengah dipandang Hyoseon. Gadis itu menghela nafas kecewa sambil berkata, “Tapi sekarang tak ada lagi alasan yang dapat digunakan untuk menemuinya…”

“Ya, karena dia tidak lagi memiliki keperluan dengan kita.”

“Menurutmu, dia akan datang saat dia memiliki keperluan?”

“Ya, tentu saja. Sebagai detektif di kepolisian, dia memiliki daya kerja yang hebat. Tentu ia akan segera datang jika memang memiliki keperluan.”

Hyorin menyelesaikan kegiatannya merapikan bunga di vas. Rangkaian mawar merah di vas biru itu jadi begitu menawan. Hyoseon ikut memandang bunga itu, melihat indah dan segarnya si mawar merah. Tiba-tiba terlintas sesuatu dalam benaknya. Perlahan bibirnya mengembangkan senyum.

“Hyorin-ah, sepertinya aku tahu bagaimana caranya.”

***

Kim Kibum melangkahkan kakinya dengan gontai. Tak ia sangka ia akan kembali ke tempat itu untuk kedua kalinya, untuk keluarga yang sama. Bahkan ia harus menatap gadis yang sama tengah menatap kosong peti mati di sampingnya dengan mata sembab.

“Saya turut berduka atas kehilangan yang menimpa Anda,” hanya itu yang mampu diucapkan oleh lelaki berjas hitam itu kali ini. Pikirannya kacau, tak lagi dapat memandunya untuk berkata bijak. Gadis yang sejak tadi termenung walau pelayat lain mengajaknya bicara kini menoleh, mengulas senyum di wajah letihnya saat berkata, “Detektif Kim, Anda datang…”

“Kali ini kami akan mengerahkan tenaga sepenuhnya untuk menyelesaikan kasus ini, nona,” janji Kibum. Sungguh, walau tak memiliki hubungan yang dekat sekalipun hatinya sebagai manusia cukup teriris melihat seorang gadis harus menerima derita kehilangan lebih dari satu kali.

Gadis yang ia ajak bicara menggeleng pelan, “Tidak perlu, saya sudah terlalu lelah menghadapi semua kehilangan ini. Sebentar lagi jasadnya akan dikremasi. Apakah Anda tidak keberatan mengantarkan saya pulang setelahnya?”

“Tentu tidak, nona.”

***

Kibum mengantar gadis rapuh itu ke depan pintu rumahnya. Bisa ia lihat kesederhanaan si pemilik rumah dalam tatanan taman di sekitarnya. Ia tersenyum kecil lalu berkata, “Anda diberi peninggalan yang besar untuk dijaga, nona.”

“Ya, kuharap aku bisa menjaganya agar ia dapat bahagia di alam sana. Ia penasihat yang amat baik bagiku.”

“Oh, tentu Hyorin-ssi berlaku sebaik mungkin sebagai saudara yang lebih tua.”

Hyoseon tersenyum kecil, mengingat kalimat Hyorin yang masih jelas dalam benaknya. “Bukan,” katanya, “Hyorin mengatakan hal yang benar tentang diri Anda, detektif.”

“Saya?” Kibum mengangkat alis, heran dengan kalimat si gadis. Choi Hyoseon mengambil kunci dan membuka pintu, membelakangi si detektif.

“Dia berkata bahwa Anda dapat ditemui jika Anda memiliki keperluan.”

“Keperluan?”

“Dan ia benar. Anda datang kembali menemui saya di acara pemakamannya.”

Kim Kibum mengerutkan dahi dan alisnya kali ini. Berusaha keras mencerna kalimat si gadis. Saat pintu terbuka, tiba-tiba saja Choi Hyoseon memeluk dirinya sambil berteriak gembira. Mata Kibum terbelalak karenanya.

“Ia benar. Saya dapat menemui Anda jika Anda memiliki keperluan dengan keluarga kami.”

Dalam hitungan detik Kibum menyadari situasinya, namun pikirannya sulit untuk percaya. Ia berusaha menarik wajah Hyoseon untuk bertatap langsung dengannya saat ia berkata, “Jadi maksud Anda…”

JLEB

“Ya. Sepertinya Anda sudah dapat menebaknya. Jika Anda datang di pemakaman ibu, tentu Anda akan datang lagi di pemakaman Hyorin. Karenanya ia harus mati dulu supaya bisa dimakamkan. Ide yang bagus, bukan?” Hyoseon tersenyum lebar sambil meraih wajah Kibum yang mulai pucat. Lelaki itu mengerang pelan, berusaha keras melepas diri dari gadis di hadapannya.

JLEB JLEB JLEB

“AKKHH!!”

“Dan tidak akan menyenangkan untuk mengadakan pemakaman berkali-kali hanya untuk dapat bertemu lagi denganmu, Kim Kibum-ssi. Jadi aku harus menahanmu di sisiku.”

Kesadaran Kibum semakin menipis bersamaan dengan jumlah darah yang terus keluar dari punggung dan dada kirinya. Ia hanya dapat mengerang pelan saat diseret memasuki rumah lewat pintu yang terbuka lebar. Sebelum masuk sepenuhnya, Kibum masih sempat bicara di sela nafasnya yang putus-putus.

“Jadi… kau benar-benar membunuh…Hyorin-ssi…untuk..da-hhhh-pat bertemu…lagi denganku-hhh?

Hyoseon menghentikan aksinya sebentar lalu tersenyum lebar, menunjukkan wajahnya polos tidak berdosa, “Sesuai kata-kata Anda, Kibum-ssi. Di balik perpisahan ada pertemuan bukan? Saya harus berpisah dengannya agar dapat bertemu lagi dengan Anda.”

BLAAMM

Dan pintu rumah itu tertutup, tak mengizinkan penghuni dunia luar untuk mengusik kedamaian semu yang tercipta di dalamnya.

-fin-

 

Apr 17th 2014

9.23 am

©2011 SF3SI, Bella Jo

bella-jo-signature

Officially written by Bella Jo, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

27 thoughts on “Again

  1. psikopat gilaa bhaha
    sebenernya cerita semacem ini udah sering aku denger dr temen. tapi aaah aku suka sama sosok kibum yg jadi detektif disinii xD
    good job bella ^^b

    1. iy, tokohnya mmg psikopat gila. hohoho… *smoga authornya g segila dia aja^^*
      ee… mmg yg kyk gini udh banyak dibicarakan, maklum sumber cerita ini hal yang umum bgt. tapi sama, aku suka kibum jadi detektif walau tragis disini. thanks, Oshin~~ *muach muach

  2. ah, ini aku pernah di kasih pertanyaannya dari kakak aku.
    Hahahaha gak sangka ada yang bikin ffnya.
    Sekarang makin jarang mau cari ff psycho gini, semoga makin banyak yaa

    1. hehe… ketahuan deh kalo idenya dari tes psikopat itu. ntah kenapa aku pengen aja ngerealisasiin tes itu jadi cerita. kan syerem abis. hahaha

      btw, thanks Aida~

  3. aaah pernah denger kisah ini dulu
    macam kek test psikopat seseorang…

    temen pernah cerita dulu😄

    tapi seru dibikin FF kek gini.

    1. hihihhi… ternyata banyak yg sadar y kalo sumbernya dari tes itu. bner, inspirasinya dari sana! gimana? terasa lebih real daripada tes itu g? hihihi

      1. bagus kok tulisan kamu itu berbobot makanya saya suka ^^ apalagi karakter Ibum yang kuat😄

        Bisa bikin blushing…

    1. yups, hyoseon punya obsesi tersendiri ke kibum. rasa ketertarikan yang disertai kecemburuan dan pikiran yang jalannya udh g sehat lagi

      thanks for the comment, kk~

  4. Kereenn..kerasa bgt suasananya *0* karakternya mantap (y) Apalagi hyeosonnya
    Alurnya ketebak sih, mgkn krn aku keseringan baca genre psycho kali ya. Wkwkwkw.. tp endingnya bikin merinding~~ga nyangka Keybum bakal dibunuh jg

    1. yaaah… alurnya ketebak banget ya? maklum, masih blm jago bikin thriller yg menegangkan gimana gitu. mungkin aku bisa belajar dari Chamin-ssi, nih~

      makasih udh mampir ya~~

  5. huhu poor kibum. kenapa kamu harus se-berkharisma itu, jadinya kamu dibunuh kan? ngomong-ngomong ceritanya bagus thor, aku ngga nyangka ternyata tes psikopat bisa dijadiin ff hihi, jadi ingin bikin

  6. HEEEYYY
    Aku pernah buka sesi diskusi psikopat di kelas waktu gak ada dosen
    dan cerita ini masuk ke dalam topiknya waktu ituuuu!!!
    Wiii aku udah dugaaaaa… gila ini psikopat banget

    Tapi sosok Kibum sebagi detektif *choked*
    i’m sorry, i just can’t seem to imagine that hahaha
    Tapi demi Bella, aku membayangkan Kibum adalah sosok detektif menawan yang menyenangkan
    Tepuk tangan untuk Bella~
    hihiihi~

    Makasih ceritanya Bella ^O^

    1. aku ngambilnya dari pertanyaan umum ttg psikopat makanya pasti udh banyak yg tahu. hehe

      emg lana ambil jurusan apa kok sampai diskusiin hal berat kayak gitu d jam kosong? keren deh. pengen juga buka diskusi gitu bareng tmn2 yg lain…

      n for kibum…
      hihihi… he can be everything in my imagination. sorry kalo trlalu absurd n g sesuai kenyataan. hahaha…

      thanks for dropping by, Lan~

  7. BANZAAAAIIII!!!
    hah, aku ngapain teriak banzai ya ==”
    ya tapi intinya ini juga yang bakal aku lakuin kalo aku jadi hyoseon
    aku nggak kaget sih karena udah tau dari awal
    lebih ke relieved karena akhirnya hyoseon berhasil melakukan rencananya
    he’ll be the most handsome balm-ed corpse
    aku bingung antara bakal sedih karena kibum nggak bersuara lagi atau seneng karena bisa sama kibum terus hnggg
    si mbem . . .

    makasih ceritanya ya
    meski aku baca dan komennya telat it’s make my day ^^

    1. duh, ternyata ada teman sesama psycho saya. ahahaha… #toss bareng kk chrys#

      heeh, setuju tuh kk. he’ll be the most handsome balm-ed corpse ever.
      tapi tadinya mau bikin nih cerita berbalik n si kibum yg psycho kelas atas. tapi karena rasanya g mutu banget jadinya dibiarkanlah apa adanya….
      *penulis kekurangan ide*

      yasudd
      ga papa, kakak… bella jg termasuk yg paling sering telat komen.
      makasih udh mampir, y, kk…^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s