(Not) A Virtual Marriage – Part 5

not-a-virtual-marriage2

Thanks to hyunji @cafeposterart.wordpress.com for this amazing poster!❤

Title : (Not) A Virtual Marriage

Author : vanflaminkey91 (@alexandriavania )

Main cast :

  • Lee Taemin SHINee
  • Son Naeun A-Pink
  • Krystal Jung f(x)
  • Kim Myungsoo Infinite

Support cast : Jung Eunji A-Pink, SHINee, Kim Taeyeon Girls’ Generation, etc.

Length : chapter

Genre : AU, romance, marriage-life, angst, friendship

Rating : PG13

Summary: Setelah WGM usai, apa yang terjadi dengan Taemin dan Naeun?

Inspired by: Selene 6.23 and WGM  Taemin-Naeun Episodes.

A.N: FF ini menceritakan kejadian fiksi yang terjadi setelah We Got Married selesai. Seluruh comeback, album, konser, acara, dll yang berhubungan dengan karir para idola di FF ini hanyalah fiksi / menyesuaikan dengan kenyataan.

 

“Apakah kau tahu rasanya mencintai orang yang tidak mencintaimu? Rasanya seperti kau sedang mengharapkan sesuatu yang hanya berlaku di negeri dongeng.”

 

(Not) A Virtual Marriage

Paper V: Don’t Touch Her!

 .

Suasananya berbeda. Dormitory A-Pink adalah tempat yang nyaman—hangat, penuh canda tawa, suasana kekeluargaan yang kental. Hanya saja pagi ini terasa sangat lain. Segalanya seperti berbanding terbalik dengan keadaan sebelumnya.

Pagi yang basah di tengah kota. Udaranya masih tajam menusuk, lembab mengandung aroma tanah yang tersebar di mana-mana. Beberapa orang masih terlelap, tapi sebagian besar penduduk sudah sibuk dengan rutinitas yang kadang membosankan.

Keenam anggota A-Pink semuanya diliputi kegelisahan pagi itu. Bomi dan Chorong duduk berdampingan di sofa paling panjang, sementara kedua maknae—Namjoo dan Hayoung masing-masing memilih duduk di lantai. Eunji mondar-mandir di dekat jendela, kedua tangannya terlipat di depan dada.

Visual mereka tidak kelihatan di manapun.

Ia masih berada di balik pintu kamarnya. Menggigit-gigit kuku tanpa disadari, sambil menatap gelisah ke arah balkon. Tak jauh darinya, seorang yang asing dan bukan member mereka duduk di tepian tempat tidur Naeun. Matanya lurus terhadap ujung kakinya sendiri.

Eottokhae?” gumam Naeun terus menggigit kukunya. Pikirannya kacau—seolah ada awan hitam pekat menyelubunginya. Apa yang harus dikatakannya kepada A-Pink itulah yang membuatnya bingung. Bukan karena ia telah ‘melakukan’ sesuatu tadi malam, toh secara hukum dan agama pun ia sudah resmi dan sah-sah saja melakukannya.

“Naeun.” Setelah daritadi hanya diam menyaksikan Naeun kebingungan, Taemin memanggil namanya. “Ayo, kita jelaskan sama-sama kepada mereka.” Ia melanjutkan ketika Naeun sudah menghujaninya dengan tatapan bertanya.

“Bagaimana? Aish, jinjja! Ini sulit, Oppa!” Kedua tangannya mencengkeram rambut. “Aku tidak tahu bagaimana semalam kita bisa seceroboh itu, Oppa?!”

“Jadi kau menyesalinya?” sahut Taemin sedih. Ia bangkit berdiri dan mendekati istrinya. Diambilnya kesepuluh jemari Naeun dan didekapnya dalam genggaman. “Maafkan aku, seharusnya aku tidak lepas kendali kemarin. Maaf, maaf…”

Naeun mendongak menatap Taemin—sedih. Ia menghela napas dan menggeleng, “Tidak usah minta maaf. Aku juga salah.” Dengan cepat ditariknya kembali jemari-jemari itu dari hangatnya genggam Taemin.

Lee Taemin menatap Naeun dalam-dalam. Ia tersenyum dan mengacak rambut gadis itu gemas, “Tahukah kau kalau kau terlihat lebih cantik di saat tertekan seperti ini?”

Ya! Kau ini, masih saja bercanda di situasi genting seperti sekarang, Oppa!” Naeun tertawa kecil sekaligus mensyukuri Taemin ada di sini—setidaknya ia tahu pria di hadapannya benar-benar pria bertanggung jawab.

Taemin tersenyum lebar.

Tok. Tok. Tok.

“Naeun-ah, Taemin oppa! Keluarlah, Eunji sudah mulai emosi!” Itu suara Yoon Bomi di balik pintu kamar Naeun, disusul langkah kaki yang menjauh.

Naeun menghembuskan napas frustasi, sementara Taemin malah membeku menatap pintu. Otaknya bekerja keras merangkai berbagai argumen yang akan disampaikan pada kelima rekan kerja Naeun—ah, enam dengan Yookyung yang mungkin akan menelepon Naeun nanti.

Oppa…

Taemin meliriknya dan tersenyum. Secercah cemasnya mendadak hilang dan matanya berbinar-binar—memberi Naeun sebuah semangat yang Naeun sendiri tidak mengerti bagaimana ia merasakannya.

“Ada aku di sampingmu, kau tak perlu khawatir.” Taemin merangkul bahu gadis itu, menarik tubuhnya mendekat. “Bukankah aku sudah berjanji akan menjagamu—sejak kecil dulu?”

Oh. My. God.

Kalau boleh jujur, Naeun merasakan sesuatu dalam dirinya menghangat. Perasaan gelisahnya lenyap, jauh lebih baik daritadi.

Maka kedua mantan peserta WGM ini keluar dari ‘persembunyian’. Taemin berjalan dengan kepala tegak sambil merangkul Naeun, sementara yang dirangkulnya menunduk—tidak berani menantang dirinya sendiri untuk menatap kelima teman karibnya.

Chorong menatap Eunji yang berhenti mondar-mandir. Ia ikut melihat ke arah yang Eunji lihat dan jantungnya seolah nyaris tidak lagi berdetak. Berbagai spekulasi di dalam pikirannya mencuat.

“Menurutmu apa yang akan mereka katakan?” bisik Namjoo pada Hayoung. Sang maknae menggeleng hopeless, lalu menatap Taemin dan Naeun yang duduk persis di seberang keempat member. Eunji mendekati mereka.

“Apakah kalian menyadari apa yang kalian perbuat?” Sepertinya Eunji yang paling marah di sini. Wajar saja, ia yang melihat dengan mata kepalanya sendiri, bukan? “Bagaimana jika sampai Naeun hamil? Bagaimana jika sampai ini berefek panjang? Apa yang akan penggemar katakan, agensi kita, dan terlebih orang tua?” Jung Eunji duduk di sebelah Bomi. “Jinjja! Kalian ini berpikir apa?! Jika kalian saling menyukai bukan begini caranya dan—“

Eonni,” panggil Hayoung sambil mengistirahatkan telapak tangannya di atas lutut Eunji. “Biarkan mereka bicara.”

Eunji akan protes ketika leader mereka memegang bahunya dan menggeleng pelan kepada gadis itu. Ia mendengus dan membanting dirinya pada sandaran sofa.

“Coba kalian jelaskan,” pinta Chorong sambil menghela napas. “Aku yakin kalian punya alasan. Aku mengenal Naeun dan Naeun bukan orang yang mudah menyerahkan hal yang paling berharga—apapun itu—kepada siapapun.”

Naeun menelan salivanya. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya?

Namun ketika ia hendak bicara, Taemin sudah mendahuluinya.

“Aku minta maaf. Ini semua salahku,” ucap Taemin sambil menatap mereka satu persatu. “Tapi kurasa kami tidak melanggar hukum maupun agama. Kami melakukan apa yang harus kami lakukan, meski, yah, maaf… aku tak mengendalikan diri kemarin.”

Mata Eunji melebar, begitupun Chorong, Bomi, Namjoo, dan Hayoung ketika mendengar ‘kami melakukan apa yang harus kami lakukan’. Sesuatu yang tidak mereka sangka akan Taemin gunakan sebagai pembelaan.

“Kalian bahkan belum—“

“Kami sudah menikah,” potong Naeun cepat, membuat Bomi yang sedang bicara segera terdiam dengan mulut menganga. “Bukan menikah virtual. Kami sudah menikah, bahkan sebelum kami menjadi idol.

Neo micheosseo?!” seru Eunji terkejut. Ekspresinya bercampur-campur—kaget, bingung, kecewa. “Jika ini bukan kebohongan berarti kau sudah membohongi kami selama… bertahun-tahun, Naeun-ah? Di saat kami semua membuka rahasia dan aib terdalam kami, kau—aish, jinjja!”

“Eunji-ya, jangan salahkan Naeun!” Suara Taemin meninggi, meskipun tetap tenang—berusaha merebut perhatian Eunji dan A-Pink kepadanya agar Naeun tidak merasa dihakimi dengan tatapan mereka yang kaget. “Kami merahasiakan ini adalah kesepakatan dengan keluarga besar kami masing-masing. Jika tidak percaya kalian boleh tanyakan pada mereka. Tolong jangan salahkan Naeun. Posisi kami memang begini.”

“…dan kalian melakukan apa yang harus kalian lakukan semalam,” ujar Namjoo mem-‘beo’ ucapan Taemin. “Ya, itu memang seharusnya dilakukan. Tapi kalian setidaknya harus berani go public, mengumumkan status kalian dan… kalian bebas. Saat ini justru kalian terancam. Kami… kami hanya khawatir. Jika sampai Naeun eonni ‘menjadi ibu’, sementara publik tidak tahu pernikahan kalian… kalian mengerti maksudku.”

Chorong mengangguk menyetujui ucapan Namjoo. Mereka semua hanya khawatir. Apalagi setelah skandal MyungEun kemarin. Sang leader tidak berani membayangkan apabila suatu saat Naeun sampai hamil dan publik tidak tahu apa-apa soal  status asli Taemin-Naeun, maka mungkin jiwa Naeun pun bisa terancam begitupun Taemin.

Arasseo, maafkan aku.”

“Tidak, maafkan kami.” Naeun meralat ucapan Taemin. Ia melirik suaminya dan tersenyum. Taemin balas tersenyum. Tanpa bisa dicegah tangannya membelai untaian rambut legam itu, mengundang seruan iri para rekan kerja Naeun.

Aigooo, bisakah kalian tidak usah pamer seperti itu di depanku?” protes Namjoo sambil tertawa, disahut seruan Bomi dan Hayoung. Rupanya suasana tegang di sana mulai mencair. Chorong hanya tersenyum, sedangkan wajah Eunji melunak.

Naeun tertawa, mungkin inilah mengapa ia menyayangi sahabat-sahabatnya.

“Jadi, apakah kalian memaafkanku?” tanya Naeun setelah tertawa.

“Kami tidak marah, kami hanya kecewa,” ujar Bomi mewakili. “Tapi sungguh kami tidak marah, apalagi membencimu. Apapun yang kau lakukan—sejelek apapun itu—kami akan selalu di sisimu dan membelamu, Naeunnie. Bukan begitu?” Ia melirik ke arah semua member yang mengangguk. Bomi berhenti pada Eunji, “Eunji?”

Jung Eunji menghela napas dan menatap dalam-dalam kedua pasang mata di hadapannya, “Ya, kami tidak membenci kalian. Aku minta maaf sudah marah-marah.” Eunji berdiri, mendekati Naeun sambil merentangkan tangannya. Taemin menjauh sedikit, memberi space bagi Naeun agar bisa memeluk Eunji.

A-Pink dan Taemin tersenyum menyaksikan pelukan hangat Naeun dan Eunji. Es batu di sana akhirnya sudah mencair. Tidak ada ketegangan lagi di sana.

“Ngomong-ngomong bagaimana dengan manajer oppa?”

Ketika Eunji duduk di sisi Naeun yang satunya, Hayoung berceletuk. Semuanya langsung diam.

“Tidak usah diberitahu,” balas Chorong tegas. “Bukankah Naeun bilang itu rahasia keluarganya? Kita mengetahuinya pun hanya karena suatu kejadian dan tidak sepatutnya ada orang lain yang tahu.”

“Key hyung tahu,” celetuk Taemin membuat semua mata mengarah kepadanya, termasuk Naeun. “Tapi dia sudah berjanji akan menjaga rahasia ini rapat-rapat.”

“Kenapa kau memberitahunya?” desak Naeun panik.

“Ia mengatakan bahwa aku lelaki yang brengsek telah membuat Krystal kecewa. Aku tidak bermaksud, dan aku akan lebih brengsek jika aku menerima Krystal, kan? Aku tidak mencintainya dan aku punya istri.”

“Sudahlah.” Eunji tersenyum. “Kami semua berjanji akan melindungi Naeun dan kau, Taemin-ah. Jika suatu saat kalian membutuhkan bantuan, kami akan membantu.”

Taemin tersenyum, “Terimakasih.”

*

“Kau akan kembali ke dorm sekarang, Oppa?” Naeun menyandarkan punggungnya di lemari pakaian. Iris hitamnya mengarah lurus pada Taemin yang tampak baru mandi meminjam kamar mandi di dorm A-Pink. Ia tidak akan mandi jika saja keenam member A-Pink tidak memaksanya. Lagipula ia memiliki schedule yang padat sampai sore dan akan dimulai sekitar satu setengah jam lagi. Jika tidak mandi sekarang, ia tidak akan keburu mandi sampai sore bahkan malam nanti.

Taemin menyisiri rambutnya, mematut wajah di cermin. “Yup, tentu saja. Manajerku sudah mengirimku ribuan pesan dan meneleponku jutaan kali—memenuhi daftar miscall saja.” Ia terkekeh mendengar ucapannya sendiri yang terkesan sarkastik dan hiperbolik.

Son Naeun tertawa khas, kemudian memalingkan wajah ke segala arah—bosan menunggu Taemin yang lama sekali bersiap-siapnya. Saat itu jam dinding sudah menunjukkan bahwa hari mulai merambat naik. Naeun tidak tahu mengapa, tapi ada perasaan aneh di dalam dirinya yang menginginkan agar Taemin tetap tinggal saja. Membayangkan tidak bertemu lagi dengan pria ini membuatnya sedih.

Ini aneh. Ia tidak pernah begini sebelumnya.

Mungkinkah karena semalam mereka—

Naeun tidak melanjutkan pemikirannya. Wajahnya memanas, terutama bagian pipi. Lebih-lebih ketika matanya tidak sengaja bertumbuk pada tempat tidurnya yang kini sudah rapi kembali. Aish.

“Apa yang kau pikirkan, huh?”

Naeun tersentak ke belakang hingga kepalanya terantuk lemari. Taemin mengejutkannya dengan cara yang menyebalkan! Pria itu tertawa tidak enak, “Aigo, mianhae.

“Kau mengagetkanku!” Naeun cemberut. Matanya menatap tepat di kedua bola mata Taemin yang berdiri dengan jarak tidak lebih beberapa senti darinya. Telapak tangan Taemin keduanya menempel pada pintu lemari, membuat tangannya seolah memenjarakan Naeun. Di jarak sedekat ini Naeun bisa merasakan hembusan napas pria itu menyapu kulitnya dan bertautan dengan napasnya sendiri.

Naeun melesak mundur—meski ia tahu ia tidak bisa—ketika Taemin mendekatkan diri. Tangannya membelai lembut wajah Naeun, menyusuri pipinya sambil menatap intens mata Naeun.

“Naeun-ah, tidakkah kau tahu kalau kau itu cantik?” bisik Taemin, kagum melumuri matanya. “Kau membuatku beruntung.”

Naeun tidak berkomentar, sibuk menenangkan debaran jantungnya yang begitu keras dan tak terkendali—sampai-sampai ia takut jantungnya akan lepas dari rongganya.

Perasaan apa ini?!

Apa yang terjadi?

Kenapa aku tidak bisa melakukan apa-apa selain bernapas dan menatapnya?

Apa yang terjadi?!

Berbagai pertanyaan terus menerus berputar dalam benaknya, membentuk untaian benang kusut yang sulit untuk diuraikan. Son Naeun yakin dirinya mulai gila. Ia tidak mencintai pria itu, kan? Ia selalu meyakinkan dirinya seperti itu.

Perlahan, Taemin mendekatkan wajahnya. Matanya yang bening menatap Naeun yang memejamkan mata erat-erat. Sudut bibirnya tertarik, mengagumi istrinya yang cute sekaligus mempesona.

Naeun merasakan bibir itu mendarat lembut di atas bibirnya. Hangat dan penuh cinta. Kupu-kupu di dalam perutnya berontak. Kakinya lemas tak bertenaga, ia hanya bisa membalas kecupan itu sama lembutnya—tak mampu menolak.

Taemin yang pertama melepaskannya, kemudian menyatukan kening mereka.

“Kau tahu, Naeun?” bisiknya. “Mungkin kau alasanku untuk tidak melihat gadis lain selain kau,” ungkapnya sebelum menjauh. Ia mengacak-ngacak rambut Naeun, bibirnya tersenyum begitu lebar.

Naeun tidak bergerak, ia tetap diam di tempatnya meskipun Taemin sudah keluar dari kamar Naeun. Juga tidak bergeming ketika mendengar suara Taemin yang berpamitan dan A-Pink yang melepaskannya dengan semangat.

Ia hanya berdiri di sana. Diam membeku. Berbagai pikiran merangsek masuk ke dalam otaknya.

Mungkin kau alasanku untuk tidak melihat gadis lain selain kau.

Ini tidak boleh terjadi, pikir Naeun. “Taemin oppa pantas mendapatkan kebahagiaan yang lebih daripada yang bisa kuberikan. Ia mungkin menyayangiku, tapi aku tidak bisa menyayanginya seperti seorang istri kepada suaminya.” Naeun bermonolog.

Ia tidak ingin mencintai Taemin dan berharap membina rumah tangga yang normal bersamanya—punya dua anak yang lucu-lucu, kehidupan yang harmonis, membuatkan sarapan setiap pagi, bangun di pagi hari dengan Taemin di sampingnya. Tidak. Ia tidak mungkin berharap seperti itu di saat posisi mereka sama-sama public figure.

Jika ia bersama Taemin, Taemin tidak akan tenang. Ia akan terus khawatir soal Naeun yang mungkin menghadapi banyak teror kebencian. Ia tak mau pria itu terus mengkhawatirkannya. Taemin berhak bersama gadis yang direstui oleh publik dan gadis itu bukan dirinya.

Naeun berjalan lunglai ke arah tempat tidur, merebahkan diri di sana. Wajahnya memerah ketika menyadari dirinya menghirup aroma orang lain selain aroma tubuhnya sendiri.

Tapi pikirannya soal hubungan yang tidak mungkin direstui publik membuatnya menitihkan air mata.

Ia tak mengerti kenapa.

*

Kita tahu matahari tidak pernah tidur. Ia terus datang dan pergi, mengikuti alur yang sudah disiapkan Sang Pencipta. Hari berganti hari. Tidak terasa, skandal MyungEun tidak lagi diperbincangkan—meski beberapa pihak mungkin masih betah membicarakannya. Skandal itu sudah menjadi basi dan kini terfokus pada berbagai skandal lain yang terus mengelilingi hidup berbagai artis.

Naeun bisa bernapas lega. Teror yang diterimanya sudah jauh berkurang bahkan nyaris tidak ada lagi. Myungsoo yang sedang sibuk dengan comeback-nya bersama Infinite jarang menghubunginya. Satu dua SMS bukan masalah besar. Itupun tidak tiap hari, kan? Myungsoo terlalu sibuk.

Hari ini Naeun ada pemotretan dengan majalah CeCi. Oleh karena itu dia sudah ada di lokasi—sebuah desa yang indah di pinggiran kota—sejak pagi. Duduk tenang menikmati sentuhan make up yang dibubuhkan crew, sambil mendengar pengarahkan tentang konsep pemotretan hari itu.

“Kau cantik, Naeun,” ucap penata rambutnya sambil tersenyum kepada Naeun melalui cermin. Tangannya dengan lincah menyisir, menyemprotkan hairspray, dan menatanya.

Naeun tersenyum, “Kamsahamnida, Eonni.

Hari itu CeCi akan menerapkan konsep ‘peri desa’, tidak heran jika Naeun sekarang sudah lengkap mengenakan gaun putih sederhana dengan rambut yang sengaja dibuat berantakan dan dipermanis mahkota berangkaikan bunga segar. Goddess Naeun, begitu staff menyebutnya.

Ia mulai melakukan pekerjaannya. Berbagai pose sederhana, namun elegan sesuai arahan sang fotografer dilakukannya. Sinar-sinar flash terus menerus menghujaninya tiada henti. Masing-masing crew bertugas sesuai tugas dan porsinya masing-masing.

Saat Naeun tengah asyik difoto, sebuah mobil memasuki area pemotretan dan parkir di jajaran kendaraan crew. Tidak berapa lama, pintu bagian penumpang depan terbuka. Seorang gadis berambut panjang berbalutkan sweater hitam turun dari mobil. Ia bicara sebentar dengan orang yang mengantarnya, kemudian berjalan ke lokasi pemotretan.

Gadis itu mendekati salah satu crew—berbincang sebentar, kemudian memberikan amplop coklat besar sambil menunjuk Naeun dengan dagunya. Setelah mengucap terimakasih, ia segera pergi dari sana. Meminta sang supir agar cepat pergi dari lokasi.

Saat itu ia menghubungi seseorang.

“Halo, Myungsoo-ssi? Segalanya sudah selesai.”

Mobil itu melesat menjauhi desa kecil di pinggiran kota.

Ketika fotografernya memberi break time, crew yang dititipi amplop tadi mendekati Naeun.

“Naeun-ssi, ada yang menitipkan ini untukmu.”

“Oh?” Naeun yang baru selesai minum, menaruh botolnya di meja kecil. “Dari siapa?”

“Aku tak tahu.”

“Baiklah, kamsahamnida~” Naeun menerima amplop tersebut. Dahinya berkerut-kerut sambil meneliti barangkali ada nama pengirimnya di sudut amplop—tapi nihil.

Jadi, sambil memendam perasaan kecewanya, ia membuka amplop itu pelan-pelan.

Jantungnya seolah berhenti. Kepalanya mendadak pening. Matanya langsung kosong.

Ini tidak mungkin! Naeun berteriak di dalam hatinya. Berkecamuk mencoba tidak memercayai apa yang baru saja dilihatnya. Tidak mungkin, tidak mungkin!

Bagaimana fotokopian catatan sipil pernikahannya bisa ada di dalam amplop ini?!

*

Mexico. Hiruk pikuk dalam lautan pearl aqua.

Lee Taemin dan keempat hyung-nya tengah asyik membawakan lagu-lagu hits mereka sambil mengitari panggung. Berinteraksi dengan Shawol Mexico melalui genggaman sekilas. Teriakan-teriakan yang didominasi para gadis itu membahana di seluruh sudut area konser. Lightstick, banner, dan sebagainya ikut bergoyang-goyang mengikuti irama.

Itulah kenapa kelima pemuda ini memanfaatkan waktu istirahat sebaik-baiknya.

Ketika yang lain tengah di-make up ulang, Taemin duduk di sofa hanya dengan menggunakan kaos dalam. Keringatnya mengucur dari ujung kepala menuruni wajahnya. Ia sibuk dengan ponselnya.

“Kau mau ke mana?” Jinki melirik Taemin dari cermin. Dilihatnya sang maknae tengah membuka pintu hendak keluar dari ruang ganti.

“Menelepon eomma.” Tanpa basa-basi, ia segera keluar.

Ia terus bergerak hingga yakin telah sampai di tempat yang sepi dan tak ada yang akan mendengarkan pembicaraannya.

Dari layarnya dapat dilihat nama Naeun tertera di sana, sementara nada sambung terus mengalun dari speaker.

Mwoya?” seru Taemin ketika nada sambungnya diputus seketika. Naeun baru saja me-reject panggilan teleponnya. Ia terkejut luar biasa.

Sudah beberapa hari ia tidak mengontak Naeun dan ketika mendapatkan kesempatan, gadis itu menolak panggilannya. Apa mungkin ia sedang sibuk? Tapi tidak mungkin. Jika sibuk Naeun tidak akan memedulikan panggilan telepon apapun, tidak menyentuhnya sedikitpun.

Taemin meneleponnya berulang-ulang hingga akhirnya Naeun mengangkatnya.

Yobosseyo?”

Taemin terdiam mendengar nada bicara Naeun. Gadis itu terdengar lesu, tidak bersemangat, dan seperti habis menangis.

“Kau… menangis?”

Anhiya! Cepatlah aku akan pemotretan lagi!” Naeun berseru ketus di seberang telepon. Taemin berani bersumpah ia yakin Naeun habis atau sedang menangis—meski ditahan.

“Naeunnie, nan bogoshippeo.

“…”

“Naeun? Ada apa denganmu?”

Setelah beberapa detik  Taemin hanya disuguhi hembusan napas Naeun, gadis itu mulai bicara, “Aku mau kita mulai berjauhan sekarang, Oppa. Kumohon.”

“Naeun…?” Taemin menjauhkan ponselnya dan menatap benda itu kosong. Berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan Naeun. “Naeun apa maksudmu?” Ia bicara ketika sudah menempelkan kembali ponselnya di telinga.

“Taemin oppa, mianhaeyo. Mianhaeyo…

“Naeun, jangan begini…”

“Kita harus berpisah untuk sementara waktu, Oppa.”

Tut. Tut. Tut.

“Naeun?! Naeun?! Aish!” Taemin berusaha menghubungi gadis itu lagi, tapi yang ia dapat hanya suara operator. Ponsel Naeun sudah dimatikan.

Jujur saja apa yang baru Naeun katakan menghancurkan hatinya. Seluruh semangatnya langsung luruh ke ujung kaki. Perasaannya berkecamuk. Hatinya semakin getir.

Padahal ia yakin ia mulai mencintai gadis itu sebagai wanita, bukan adik.

Ia juga yakin Naeun mulai merasakan hal yang sama.

Tapi kenyataannya bukanlah seperti yang ia pikirkan.

Apa? Apa yang terjadi?

*

Krystal Jung adalah orang pertama yang sampai di dorm F(x) setelah serangkaian schedulecomeback F(x) hari kelima, wawancara, media entertainment, dan sebagainya. Member yang lain memutuskan untuk merayakan kemenangan mereka di Music Bank bersama staff sementara ia pulang duluan.

Entahlah, ia hanya merasa kurang bersemangat. Sejak hubungannya dengan Taemin memburuk, ia tidak tahu apakah dirinya masih mengenal orang yang tiap hari dilihatnya di dalam cermin atau tidak. Ia seperti bukan dirinya sendiri.

Kabarnya SHINee sudah pulang dari Mexico kemarin. Ketika anggota F(x) yang lain sibuk mengucapkan selamat atas kerja keras mereka yang terbayar dengan sempurna, Krystal tidak hadir.

“Astaga,” gumam Krystal ketika sampai di lantai tempat dorm F(x) terletak. Kedua kaki jenjangnya melangkah lambat dan semakin lambat ketika matanya terpaku pada sosok yang berhari-hari ia hindari tengah berdiri di depan pintu dorm.

Ia baru akan berbalik ketika suara itu memanggilnya.

“Soojung!”

Memejamkan mata erat-erat hingga alisnya bertautan, Krystal berbalik. Ditatapnya dingin Taemin yang sedang mendekat ke arahnya. Ia mengangkat alis begitu menyadari salah satu tangan Taemin tersembunyi di belakang punggung.

“Ada apa?”

Mianhae,” ucap Taemin sembari mengeluarkan tangan yang ia sembunyikan. Krystal melihat ke bawah, mendapati sebuket bunga mawar merah segar disodorkan kepadanya. “Aku minta maaf kalau membuatmu tidak nyaman selama ini, Krystal. Aku…”

Krystal tersenyum, meski pahit. Tangannya menerima buket itu, “Terimakasih. Aku tidak pernah marah padamu, Oppa.” Bohong. Ia tahu ia bohong, tapi ia tak peduli. “Lalu?”

“Kau… mau jadi kekasihku?”

Prak!

Buket bunga di dalam genggaman Krystal langsung jatuh ke atas lantai bludru merah itu. Beberapa kelopak sang mawar terlepas. Apakah ia tidak salah dengar? Perasaannya mendadak saja bercampur—kaget, heran, marah. Tidak ada ‘senang’.

“Apa maksudmu, Oppa?!”

Tentu saja ia marah. Ia tahu benar Taemin tidak pernah mencintainya. Ia tahu benar siapa yang pria itu cintai dan ia tahu benar dirinya marah kepada pria ini. Tiba-tiba saja Taemin meminta maaf dan meminta Krystal menjadi kekasihnya? Gila!

“Aku tahu ini terlalu cepat, Soojung,” ucap Taemin sambil menghela napas. “Tapi aku akan belajar mencintaimu.”

“Apakah kau tahu rasanya mencintai orang yang tidak mencintaimu? Rasanya seperti kau sedang mengharapkan sesuatu yang hanya berlaku di negeri dongeng.” Krystal menyahut dengan pahit. Salah satu sudut bibirnya terangkat hingga terbentuk lengkung senyum sinis di wajah cantiknya yang dingin.

“Aku ingin belajar mencintaimu dan… yah, aku memang menyukai Naeun,” balas Taemin berusaha tenang. “…tapi aku tahu dia bukan untukku. Kurasa sudah saatnya aku meninggalkan segala anganku untuk bersamanya. Aku… aku akan belajar mencintaimu, Soojung.”

Krystal terdiam. Ia mencoba mencari kejujuran di mata Taemin, tapi yang ia dapat hanyalah keraguan.

“Apa yang membuatmu berubah pikiran?” tanya Krystal sinis.

Taemin tersenyum, lalu membungkuk memungut buket bunga yang masih bersisa. Ia menyodorkannya kepada Krystal, “Aku tidak ingin terus mengharapkannya. Kita berada di posisi yang sama, Jung. Kau tahu aku menyukai Naeun, tapi tidak dengannya. Jadi kurasa aku harus mulai mundur dan mencintai orang yang jelas mencintaiku.” Taemin menggoyangkan buket bunganya, “Bagaimana?”

Krystal berteriak dalam hatinya. Ia tidak ingin menerima Taemin. Tidak. Sampai kapanpun.

Tapi, bukankah ini yang kau inginkan? Salah satu suara hatinya mengacaukan keyakinan kuatnya sehingga Krystal akhirnya kalah. Harga dirinya yang tinggi tidak lagi kuat menghalau. Ia tahu ia akan membenci dirinya setelah ini, tapi ia tak bisa berbohong pada perasaannya.

Diraihnya buket bunga itu dengan ragu, namun akhirnya tersenyum.

“Baiklah. Terimakasih, Oppa.

Taemin memeluknya erat. Mengistirahatkan dagunya di atas puncak kepala Krystal. Sedangkan Krystal masih sibuk berperang dengan dirinya—antara memarahi diri sendiri dan meyakinkan diri bahwa yang ia lakukan benar.

Sedangkan Taemin, hatinya mencelos.

Apa yang baru saja kulakukan? Sekarang hatinya berkecamuk.

Ia tidak yakin akan keputusannya.

Tapi, jika ini yang terbaik—kenapa tidak?

*

“Naeunnie, kau tidak mau makan?” Eunji memegang bahu dongsaeng-nya. Ia memandang berkeliling—A-Pink tengah menikmati makanan yang disediakan agensi mereka sambil bercanda-canda dengan 4Minute dan Beast serta staf-staf—tapi Naeun terlihat mencolok dengan hanya duduk sendirian di sudut ruangan, melamun.

Naeun melirik Eunji, “Anhiyo, aku tidak lapar.”

“Kau yakin?”

“Tentu.”

“Eunji-ya!” Gayoon memanggil Eunji, membuat gadis itu tergopoh-gopoh menghampiri Gayoon. Naeun hanya menatap Eunji yang menjauh sebelum akhirnya menghela napas.

Ia memang tidak napsu makan. Aneh sekali memang, mengingat ia adalah salah satu shiksin di A-Pink. Ia mencintai makanan. Naeun dan makanan adalah hal yang sulit dipisahkan. Maka dari itu beberapa orang di sana sesekali melihati Naeun dan mungkin membicarakan keanehan ini, namun tidak berani mengusik—Naeun tampak badmood.

Ada hal yang sebenarnya mengganggu Naeun terus berputar di dalam benaknya. Hiruk pikuk suasana pesta ulang tahun CEO mereka tidak begitu membuat Naeun merasa senang—justru rasa kesepiannya semakin kuat.

Padahal di sekitarnya musik berdentum keras. Lampu-lampu warna-warni menyala di setiap sudut. Aroma makanan yang enak luar biasa menggoda. Canda dan tawa antara sunbae dan hoobae. Satu keluarga Cube.

Hanya satu yang Naeun pikirkan.

Hubungannya dengan Taemin.

Sejak ia mendapat kiriman berupa fotokopian surat pernikahan aslinya, ia jadi takut. Orang tuanya sudah mengonfirmasi bahwa tidak ada yang tahu soal surat pernikahan itu. Keluarganya dan Taemin tidak mengirim fotokopian itu.

Jadi siapa?

Selain itu pembicaraannya dengan Taemin di hari di mana SHINee baru pulang dari Mexico terus menerus mengulang diri dalam benak Naeun, gadis itu ingin menangis.

“Naeun, kau tidak mau menemui Taemin?” Chorong berteriak dari arah pintu, memegang daun pintu yang terbuka dengan satu tangan sementara Taemin berdiri di ambangnya. Pria itu tampak lelah dan meskipun hanya berbalutkan pakaian sederhana, ia tetap tampan.

Naeun menghela napas, lalu bangkit dari depan televisi. Bomi yang sedang menonton bersamanya melirik Naeun sekilas sebelum melanjutkan acara menontonnya.

“Aku akan meninggalkan kalian berdua.” Chorong berlari kecil menghampiri Bomi dan bergabung bersamanya.

“Tidak masuk?” tanya Naeun pelan.

“Aku harus kembali ke gedung SM secepatnya, jadi maaf.”

“Lalu kenapa masih ke sini?”

“Menyempatkan diri bertemu denganmu. Apa itu salah?” Taemin tersenyum. “Aku khawatir karena kemarin kau memutus sambunganku secara mendadak setelah mengatakan tentang—“

“Karena itu pulanglah dan jangan pernah berputar kembali ke sini,” potong Naeun cepat dan tegas. “Aku serius dengan kata-kataku kemarin, Oppa. Kita harus berjauhan untuk sementara.”

“Naeun, sebenarnya apa yang terjadi denganmu?”

“Kau pantas mendapat kehidupan yang membahagiakan, Oppa. Bersamaku akan membuat segalanya rumit. Berapa banyak orang akan mengganggu? Berapa banyak anti-fans akan kau dapatkan atau aku dapatkan? Aku mulai memikirkan soal ‘kita’, Oppa. Posisi kita sulit. Sebaiknya kau bersama gadis yang ‘direstui’ publik, Oppa. Aku jelas sudah ditolak. Lihat saja saat kita masih di WGM—“

“Wow, wow, wow! Sebentar! Apa maksud semua ini?!” Taemin menatap Naeun tidak percaya. Wajahnya tegang. Hatinya mencelos.

“Simpelnya, aku mau kita berpisah.”

“Bagaimana dengan orang tua kita?”

“Peduli setan dengan semua itu! Segala macam perjanjian keluarga kita sudah kita patuhi dengan menikah. Tentunya bercerai bukan masalah, kan?”

“Naeun!”

Wae, Oppa? Kau menyayangiku? Ya, tapi sebagai adik, kan? Karena aku pun menyayangimu hanya sebagai kakak.” Naeun menarik napas banyak-banyak, “Terima saja keputusanku. Selamat malam, Oppa.

Naeun baru akan mendorong pintu ketika tangan Taemin menahannya kuat-kuat, “Aku tak akan pergi sampai kau—“

“Kencanilah Krystal.” Naeun tidak yakin bahwa yang baru bicara adalah dirinya sendiri. Nadanya benar-benar mengerikan.

Ne?”

“Krystal gadis yang baik. Di luar sana banyak Shiny Effect, kan? Terbukti Krystal sudah cukup ‘direstui’ dan dia memang pas untukmu. Selamat malam!”

Taemin menatap tak berkedip pada pintu yang baru sama berdebam di hadapannya. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia benar-benar tidak tahu.

.

.

Naeun menghela napas. Disekanya setitik bening yang menggantung di sudut mata. Ia tidak yakin dengan apa yang diputuskannya. Ia tidak yakin ia ingin berpisah dengan Lee Taemin. Tidak, tidak yakin.

*

“Lee Taemin!”

Key masuk ke dalam ruang latihan SM. Mendapati Taemin yang tengah melakukan poppin’ dance di depan dinding kaca. Di ujung ruangan terdapat sebuah radio yang asyik melantunkan lagu Scream and Shout-nya Britney Spears dan Will.I.Am.

“Hai, Hyung!” Taemin masih bergerak-gerak ketika Key sudah duduk menyandar dinding kaca, persis di hadapannya. “Kau menyusulku? Jin hyung yang memberitahu, ya?”

Key mengangguk, ekspresinya tampak polos. Namun jelas matanya menyelidik Taemin dan itulah yang membuat sang maknae menghentikan latihan isengnya.

Taemin menyeret langkahnya menuju radio di ujung ruangan. Mematikannya dengan sekali tekan.

“Ada apa?”

“Aku melihatmu dengan Krystal semalam tengah meminum wine,” ucap Key. “Kalian bertemu di mana?”

Taemin membulatkan bola matanya. Kejadian itu berlangsung di malam di mana ia meminta Krystal menjadi kekasihnya. Mereka memutuskan untuk pergi menikmati wine dan beberapa snack di kafe dekat dorm F(x). Ia tidak menyangka Key akan melihatnya. Padahal ia ingin Key tidak mengetahui hal ini. Tidak.

“Di dorm F(x),” balas Taemin berusaha keras tidak berkontak mata dengan hyung-nya.

“Oh, sebagai teman atau…?” Key menghela napas. “Kalian berpacaran?”

“Hahaha, kau bercanda, Hyung? Aku—“

“Tidak usah membohongiku. Aku tidak bodoh, Taemin-ah.” Key tidak terdengar marah, tapi nadanya yang datar itu terdengar sedingin es. Taemin yakin dirinya sulit bergerak sekarang.

Tentu saja. Taemin yang tahu kalau Key menyukai Krystal. Taemin yang pertama tahu. Sekarang ia mengencani orang yang disukai hyung-nya, bukankah ia harus merasa bersalah? Bisa dikatakan Taemin mengutuk dirinya saat ini.

“Aku… maafkan aku, Hyung.

“Bagaimana dengan Naeun?”

Son Naeun.

Taemin menunduk mendengar nama itu. Hatinya berdesir menghangat ketika kepalanya memproyeksikan bayangan gadis bermarga Son yang kini tidak mau menghubungi atau dihubunginya lagi. Wajah lembut Naeun, suaranya, tawanya…

Taemin merindukan Naeun. Rasanya sakit sekali memikirkan bahwa ia harus mengurusi soal perceraian. Ia bahkan tidak tahu bagaimana cara memberitahu orang tua mereka. Ia agak bersyukur dirinya bisa berdalih sibuk dan sebagainya sehingga Naeun tidak mendesaknya segera mengurusi perceraian itu.

Jadi anggaplah, hubungan mereka sekarang itu adalah ‘saling gantung’.

“Taemin?”

Taemin mendongak, melirik Key yang berusaha keras untuk tidak marah. “Naeun memintaku berpisah dengannya. Ia ingin aku mengencani Krystal dan—“

“Lalu kau melupakan prinsipmu untuk tidak melukai Krystal dengan cara seperti ini?”

“Aku akan belajar mencintainya, Hyung. Aku sudah menyayangi Krystal. Bagiku dia sudah seperti adik sendiri. Sekarang, aku akan belajar mencintainya. Tapi kalau kau keberatan, aku bisa mundur dan—“

Key tersenyum pedih, “Tidak. Tidak usah.” Ia menyandarkan kepalanya pada dinding. Ditatapnya langit-langit ruangan dengan sendu, “Aku ingin Krystal bahagia dengan orang yang disukainya.”

*

Choi Minho duduk di salah satu kursi kosong yang tersedia di dorm F(x). Di depannya terdapat dua gelas air jeruk dingin yang dipermanis dengan sekotak kue kering. Ia tampak sedang bercanda-canda dengan Sulli—sisa tawa terlihat jelas di wajahnya.

“Lalu apa yang terjadi dengan pria itu, Oppa?”

“Dia teriak-teriak, ‘Dasar anak muda tidak tahu diri!’ padahal jelas-jelas dia yang salah.” Minho tertawa sambil menggeleng. “Ada-ada saja.” Jemarinya mengambil satu keping kue, mengonsumsinya santai.

Sulli mengistirahatkan kepalanya di bahu Minho, kemudian membuka majalah mingguannya. Suara televisi yang sibuk menyiarkan siaran live sebuah pertandingan sepak bola bergema di seluruh ruangan.

Sulli menoleh sebentar dan tersenyum pada Amber yang baru keluar dari kamarnya.

“Kau tahu di mana Soojung?” tanya Amber sambil bergabung dengan Duo Choi, duduk di sebelah Sulli. Ia mengambil kue yang ada dan memakannya.

“Dia tidak bilang mau ke mana, Eonni.

Amber mengangguk, lalu menyambar remote. Siaran langsung pertandingan sepakbola yang disenangi Minho langsung berganti menjadi acara Tom and Jerry.

Ya!

Wae, Oppa?” tanya Amber polos. “Ini dorm-ku, lagipula Tom and Jerry ramai, kan? Bukankah itu kau dan Jonghyun oppa?” Ia terkekeh bersama Sulli, mengabaikan Minho yang cemberut kesal.

Victoria bergabung dengan mereka beberapa menit kemudian, sehingga akhirnya ini seolah menjadi acara ‘keluarga-menonton-Tom-and-Jerry’.

Hanya saja ketenangan itu tidak berlangsung lama ketika pintu dorm diketuk. Ketukannya tidak santai—cenderung memaksa dan tidak sabaran.

“Aku yang buka.” Sulli segera menggeser duduknya agar Minho bisa berdiri. Pria itu berjalan cepat ke arah pintu. Dengan lihai dibukanya kunci seolah itu adalah kunci di dorm-nya sendiri.

“Key?”

Key tidak menjawab keterkejutan Minho dan mendorong pria itu agar memberinya jalan. Dengan cepat ia masuk ke dalam—mengundang tatapan kaget ketiga pasang mata di ruang tengah. Untung Luna tidak ada, jika tidak Key akan merasa seperti ditatap sebuah gangster beranggotakan empat orang.

“Key, kau kenapa?” Minho menutup pintu, mendekati Key yang tampak sangat emosi.

“Apa kau tidak bisa melihat, Choi Minho? Minggir! Aku harus bertemu Krystal!”

Oppa, Krystal sedang—“

“Sulli-ya, bisakah kau juga minggir?” seru Key ketika Sulli berdiri mencegahnya.

Oppa, Krystal sedang pergi dan kami tak tahu di mana Krystal. Biar saja. Biarkan dia memanfaatkan waktu istirahat hari ini untuk bersenang-senang. Besok jadwal kami padat, jangan membebaninya dengan emosimu,” ucap Sulli berusaha tenang.

Televisi bukan lagi fokus mereka. Kini Key-lah fokusnya. Semua memandang Key heran. Tidak biasanya Key akan marah-marah begini jika hendak bicara dengan Krystal. Pasti pembicaraannya sangat bermasalah.

“Ada apa?” tanya Minho yang paling berani.

“Tidakkah kau tahu, Minho-ya?” Key balas bertanya. Nadanya getir. Suaranya agak bergetar. Matanya tajam, namun mengandung kesedihan mendalam. “Kalau Taemin dan Krystal sekarang berpacaran?”

MWO?!”

Tidak hanya Minho yang membelalak kaget, ketiga member F(x) yang ada di sana menampakkan keterkejutan yang amat sangat.

“Jangan bercanda!”

Key menatap mereka semua. Datar.

“Kalian pikir aku bercanda?” Key tertawa sinis. “Taemin yang mengatakannya!”

“Lalu kenapa kau harus marah?” tukas Minho kesal. “Kau tidak wajar dan tidak berhak marah. Mereka punya hak untuk berpacaran, Kibum.”

Hening. Masing-masing larut dalam suasana. Victoria, Amber, dan Sulli melihati Minho dan Key bergantian—siap antisipasi jika mereka bertengkar di sini, namun tidak. Key hanya menyandarkan dirinya pada sandaran sofa dan menggeleng.

“Kalian tahu aku dan Krystal dekat, kan? Aku hanya kesal karena ia tidak… aish, dia bilang dia tidak akan kembali pada Taemin dan akan berusaha membangun lagi dirinya. Tapi—“

“Sudah, sudah, aku mengerti,” potong Victoria akhirnya. “Kau hanya khawatir, kan? Sudahlah, biarkan saja Krystal memilih jalannya sendiri, Key.”

Kata-kata Victoria barusan seperti siraman air es di kepala Key. Pria itu terdiam. Sibuk mencerna perkataan Victoria yang semakin lama justru semakin terdengar menyedihkan.

Ia benar.

Krystal dapat memilih jalannya sendiri. Termasuk memilih Taemin dan bukan dirinya.

*

Kim Myungsoo menghela napas ketika melirik orang yang duduk di sebelahnya terus menatap ke luar jendela mobilnya. Ia mengendalikan kemudi dengan santai sementara otaknya terus mencari topik yang sekiranya dapat menghidupkan suasana di dalam mobil.

“Namjoo bilang kau banyak melamun akhir-akhir ini, kenapa?” Myungsoo memutar setirnya ke kanan. Ia sangat berhati-hati, terutama karena ada Naeun di sisinya. Ia nekat ke dorm A-Pink tadi pagi dan tidak disangkanya, Naeun menerima ajakannya untuk berjalan-jalan. Member A-Pink bahkan memintanya untuk menjaga visual kesayangan mereka.

“Hanya ada sedikit masalah,” balas Naeun pendek. Dari nadanya sangat kelihatan bila ia tidak ingin Myungsoo mengorek lebih jauh lagi tentang apa yang terjadi—Myungsoo mengangguk dalam diam.

Mobil Myungsoo melesat maju menuju amusement park. Ia ingin membawa Naeun bermain dan melihat secercah tawanya sedikit saja. Untuk pertama kali dalam masa ia mengenal Son Naeun, ia bukan membawa Naeun untuk berusaha mengambil hatinya—tapi untuk menenangkannya.

Mereka tiba di sana sekitar pukul sepuluh lima belas pagi. Saat itu memang bukan hari libur dan masih jam sekolah, sehingga amusement park hanya dipenuhi oleh turis asing, para orang tua dengan anak-anak kecil yang belum sekolah, orang dewasa yang mungkin cuti, dan petugas. Tidak banyak yang mengenal Naeun dan Myungsoo—atau minimal mereka hanya tahu dan tidak begitu peduli.

Naeun sangat bersyukur, karena ia hanya memakai topi putih sebagai penyamaran sederhana agar wajahnya tidak terlalu mencolok.

“Kau mau mencoba apa dulu, Naeun?” seru Myungsoo sambil menggenggam tangan gadis itu. Tangan kanannya memegang setangkai permen kapas merah muda yang terlihat menggoda.

Naeun terkejut, dilihatnya tangan Myungsoo yang menggenggam jemari-jemarinya erat, hingga akhirnya memutuskan untuk membiarkannya saja.

“Bagaimana kalau bianglala?” Naeun tersenyum lebar hingga tulang pipinya terangkat—tapi matanya tidak tersenyum.

“Ide bagus!” Myungsoo menarik tangan Naeun berlari menuju antrian bianglala.

Sambil menunggu antrian, Naeun menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus sesekali. Kepalanya terus mendongak—menatap barisan anak domba yang tengah belajar baris-berbaris di antara untaian biru lembayung.

Myungsoo yang berdiri di sebelahnya melirik Naeun yang tengah mendongak. Sudut bibirnya terangkat melekukkan senyum. Matanya yang dilumuri kekaguman serta detak jantungnya yang tidak bisa diatur membuat momen itu terasa lebih dalam.

Naeun sangat cantik. Myungsoo tahu itu.

Ia mengeratkan genggaman tangannya. Tidak menyadari sepasang mata mengawasi mereka dari kejauhan. Tajam dan sarat akan ketidaksukaan. Tapi ketika gadis di sebelahnya menarik ia, ia tidak bisa berbuat banyak selain menjauh dari sana—meninggalkan pemandangan itu tanpa bisa berbuat apa-apa.

“Kau lihat barisan awan itu, Sunbaenim?” Myungsoo sudah mulai terbiasa ketika Naeun memanggilnya ‘sunbaenim’ dan bukannya ‘oppa’. Sudah biasa.

Ne?” sahut Myungsoo sambil mengajak Naeun duduk di bianglala.

Ketika roda besar itu mulai bergerak lambat mengangkat mereka jauh dari tempat antrian, Naeun melanjutkan omongannya.

“Mereka sangat cantik dan memiliki arti yang dalam untukku. Meskipun angin-angin itu menggoyah mereka, tapi mereka tetap berusaha untuk berkumpul dalam satu kumpulan. Sehingga angin-angin yang ada justru menjadi harmoni lain dalam roda kehidupan mereka,” jelas Naeun panjang lebar. “Ketika aku mengalami masalah, aku akan menyempatkan diri menyaksikan awan-awan itu—yang terlukis indah di atas kanvas biru. Perasaanku akan lebih lapang. Kekuatanku akan lebih terisi.”

Myungsoo menatap Naeun yang dengan antusias menjelaskan. Saat itu angin sibuk menyingkapi rambut lembutnya.

“Naeunnie.”

Ne?

“Kau sangat cantik.”

Naeun menatap Myungsoo lama, kemudian tersenyum, “Kamsahamnida, Sunbaenim.

Myungsoo balas menyunggingkan senyum. Hanya saja senyum itu tidak bertahan lama. Ia menatap Naeun lekat-lekat karena gadis itu tiba-tiba tertunduk memegangi kepalanya.

“Naeun, kau kenapa?”

Naeun mendongak dan berusaha tersenyum, “Hanya sedikit sakit kepala, Sunbaenim. Tidak apa.”

“Naeun, kau tampak sangat pucat.” Myungsoo pelan-pelan berpindah duduk ke samping Naeun. Ditangkupnya kedua pipi Naeun dengan tangannya. Bibir gadis itu tampak kering. Ia baru menyadarinya, astaga.

“Tidak, Myungsoo oppa. Aku tidak apa.” Naeun menjauhkan tangan Myungsoo dari wajahnya. “Aku sakit kepala karena udara yang panas, bukan apa-apa.”

“Kau yakin?”

Naeun mengangguk cepat, “Aku sangat—“

Tubuh gadis itu tiba-tiba seperti kehilangan kekuatannya. Naeun menjatuhkan diri ke arah Myungsoo yang dengan sigap menangkapnya ke dalam pelukan. Mata gadis itu terpejam pelan-pelan.

Pandangannya semakin kabur sebelum benar-benar gelap.

Suara terakhir yang didengarnya hanyalah suara Myungsoo.

“Naeun, Naeun! Kau kenapa? Naeun!”

*

“Terimakasih, Oppa!”

Krystal Jung tidak bisa lebih bahagia lagi dari hari ini. Di balik kacamata hitam besarnya, ia memancarkan sebuah senyum yang luar biasa cerah dari matanya. Lengannya bertautan dengan lengan Lee Taemin yang juga tersenyum.

Mereka berjalan menyusuri amusement park. Setelah mencoba beberapa wahana permainan dari yang menegangkan sampai hanya ‘bersantai’, Krystal mengajak Taemin mencari minuman dingin.

“Woah, bianglala!” seru Krystal sambil mendongak tinggi-tinggi. Ia menunjuk puncak tertinggi bianglala dengan antusias, “Bagaimana kalau naik itu setelah beli minum?”

Taemin ikut mendongak, kemudian menoleh kembali pada Krystal, “Tentu saja, Kryssie! Di mana tempat minuman yang paling murah?”

Krystal menatap berkeliling sambil bergumam, “Hmm…”

Taemin sendiri tengah melihat ke arah antrian bianglala, memerkirakan apakah ketika mereka akan naik antriannya masih selenggang sekarang atau sudah lebih penuh.

Awalnya semua tampak normal.

Ada pasangan muda-mudi, orang tua, anak-anak. Beragam. Kebanyakan pasangan muda-mudi kuliahan yang mungkin sedang memiliki waktu kosong.

Tapi Taemin mendapati dirinya terpaku begitu melihat sepasang muda-mudi di antrian tersebut. Sepasang muda-mudi yang berbeda karena Taemin kenal betul sosok keduanya. Meski sama-sama memakai topi, mata Taemin tidak bisa dibohongi.

Mereka berdiri di paling belakang. Tangannya saling menggenggam erat.

Taemin merasakan darahnya mendidih. Jantungnya berdetak kencang. Napasnya memburu. Ia merasakan udara di sekitarnya berubah panas.

Tidak ada yang boleh menyentuh gadisnya semesra dan sehangat itu!

“Ayo, Oppa!” Krystal tiba-tiba menarik Taemin yang lengannya masih bertautan dengan lengannya. “Kita mampir di sana,” ujar maknae F(x) itu ke arah sebuah foodcourt.

Taemin tersenyum kikuk, kemudian melirik Naeun dan Myungsoo sekali lagi.

Oh, jadi ini alasannya Naeun meminta berpisah?

To be continued.

Preview Paper VI: Sick Enough to Die

“Naeun, katakan siapa ayahnya?”

Sunbaenim, aku…”

“Naeun, aku tidak akan membocorkannya, aku berjanji.”

*

“Krystal-ssi, apa maksud semua ini?”

“Kau tahu, Son Naeun? Aku tidak membencimu, tapi setelah ini semua aku rasa aku benar-benar menyimpan benci padamu!”

*

“Pernikahan ini terjadi karena kakekmu dan kakek Taemin sama-sama teman seperjuangan. Mereka berjanji sehidup semati, apabila mereka harus mati saat itu juga mereka tidak akan menyesal. Keturunan mereka akan bertemu dan saling berjodoh. Itulah kenapa kami menikahkan kalian.”

“Tidak ada alasan lain?”

“Tidak.”

“Aku tidak memercayainya.”

*

“Bagaimana kau bisa hamil, Son Naeun?! Siapa yang bertanggung jawab?”

Oppa, kau manajer kami. Kau mengerti Naeun seperti apa. Tolong jangan desak dia. Dia dalam masa-masa yang sulit.”

“Chorong, apakah kau tidak memikirkan apa yang akan terjadi jika publik mengetahui hal ini?!”

*

SHINee Taemin dan F(x) Krystal resmi berpacaran! SM Entertainment telah mengonfirmasi hal tersebut dan keduanya pun sudah mengakui. Selamat, Taemin dan Krystal!

*

“Kau akan vakum, Naeun?”

“Ya, sunbaenim.

“Bagaimana dengan fans-mu dan karirmu?”

“Yang pasti aku hanya akan memikirkan bagaimana kehidupanku di rumah orang tuaku nanti, Sunbaenim. Terimakasih atas perhatianmu selama ini. Aku sangat menghargainya.”

*

Eomma, aku tidak tahu siapa orang yang mengirimiku fotokopi surat pernikahan kami. Tapi ini bentuk teror. Aku menemukan tulisan di sudut fotokopian itu dan aku baru menyadarinya.”

“Apa tulisannya?”

“Pengirimnya mengatakan: kau dan Taemin harus segera berpisah atau segalanya akan bertambah runyam.

*

“Taemin, apa yang kau lakukan di sini?!”

“Di mana Naeun?!”

“Kau masih menanyakannya setelah mengabaikan dan mencampakkannya?”

“Aku tidak mencampakkannya! Dia yang tidak mau aku berada di dekatnya, NoonaJebal, beritahu aku dia ada di mana.”

*

“Aku sudah tahu kau akan ke sini, Oppa. Jadi aku dan orang tuaku mengurus surat perceraian ini. Aku hanya membutuhkan tanda tanganmu, Oppa.

“Sampai matipun aku tidak akan menandatanganinya.”

*

Thanks for reading! 

©2013 SF3SI, Vania

signature

Officially written by Vania claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “(Not) A Virtual Marriage – Part 5

  1. Dikasih preview gini tuh malah jadi tambah penasaran dan menduga-duga akan seperti apa kelanjutannya. Huaaa…author-nim, next chapter juseyo~

  2. pliisss dgn sangat .. untuk part selanjut nya Taemin dan Naeun jangan di cerai kan .. huaaaaaaa ㅠ_ㅠ

    gregetan jg sama Naeun di sini .. knapa ga jjur ajja dih ama abang Taemin .. knapa ngambil kputusan sendiri .. bikin si abang Taemin jd bingung kan …
    truss si abang Taemin jg ngapaiin pake nurut ama kata2 Naeun buat jadian ama Krystal … zzzzzzz konflik yg ckup rumit …
    hahahahha … tp kerren bgt FF nya .. cepet2 di publish kan yaa part selanjut nya .. di tunggu lho ^^
    semangat!!

  3. Yaampun de, ceritanya kenapa makin menarik aja!
    Speechless banget rasanya diriku baca ini….
    Berasa real life, n ga kebayang kalau beneran terjadi /ok engga usah dibayangin~ -_-/
    Two thumbs up for u!! (y) (y)

    Sippo….
    Ditunggu kelanjutannya ya😉 Preview next part itu bnr” bikin kepo parrah haha.
    Keep writing n fighting!! ^^

  4. kan ada konflik lagi. Jadi fotokopian itu bentuk teror? ceweknya jangan jangan……..
    tapi untungnya member apink bisa nerima status naeun sama taemin
    sm kalo konfirmasi relationship kayanya cepet ya -__- di chapter selanjutnya udah di konfirm
    tapi, NEUN HAMIL???? yatuhan

    di tunggu kelanjutannya deh kak. semangat!

  5. sumpah pagi2 tadi aku baca ia ampuuuunnn bikin senyum2 sendiri..bikin kesel sendiri..
    ada previewnya tuh bikin makin penasaran..
    next chapter pleaseee ^.^

  6. Sedih. Pngn nangis kasian naeun banyak beban gitu grgr myung!!! Pas naeun tau yg ngirim surat itu myung kira2 ada di chap brp ya? :3 jgn kelamaan ya thor. Serius ini penasaran gmn reaksi naeun kalo tau :3 itu ortu naeun jgn setuju dong mrk cerai😦
    next chap ditunggu thor. Keep writing!!!

  7. ahhh author ceritanyaa keren. bikin nangisss, sukaa bangettt sama fanfic ini. feelnya dapet, walaupun kadang agak bingung. plishhhh lanjut thor. udh penasaran ini. author daebak (y) (y)

  8. Hiks hims😦 taemin jgn sampe cerai ama naeun
    Aku penasaran sm si peneror itu
    Cepet dilanjut yaa^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s