Atas Nama Cinta (Cinta dan Sebuah Sandal)

Tittle                                  : Atas Nama Cinta (Antara Cinta dan Sebuah Sandal)

Author                               : Lee Hana

Main cast                          : Lee Jaegyeong and Lee Taemin

Support Cast                    : None

Genre                               : Romance and Humor

Length                              : Vignete

Rating                               : PG

Summary                         : “Baiklah,” ucapnya pada akhirnya, dengan tegas dan yakin. “Aku akan melakukannya. Ini demi kamu.”

Jangan berharap ff-ku akan lucu—meski aku sendiri merasa lucu—karena tertulis humor. Ide ini muncul tanpa terduga dan berakhir aneh. Ya, menurutku ceritanya memang aneh, jadi mohon dimaklumi, meski berharap menghibur.

▒▒▒

Nyanyian burung memenuhi sebuah tempat kosong yang memakau indera, suara yang bersembunyi dalam dahan-dahan rindang hijau pepohonan, tepat berdiri di balik dua insan yang tengah duduk di atas rumput hijau di tepi danau hijau kebiruan, yang besar dengan ombak-ombak kecil saling berlari dan mengejar, bermain dengan angin yang mengembuskan kesegaran pada mereka yang tengah menatap tenang, melambaikan daun dengan gemulai bersama gemerisiknya.

Kedua orang remaja itu masih diam seribu bahasa dengan masing-masing pikiran dan ekspresi yang berbeda. Si gadis sibuk menatap danau beriak kecil dengan pandangan acuh tak acuh, dingin dan hampir tanpa ekspresi, sedang lelaki di sampingnya seringkali melirik jahil sambil menggigit bibirnya yang tebal. Lelaki itu tampak risau. Sikap duduknya tampak tak nyaman hingga ia mengempaskan napas, bahkan seluruh udara yang ada di dadanya keluar, seakan-seakan itulah yang mengganjal dan menyesaki.

“Kau percaya cinta, Jaegyeong?”

Jaegyeong mengangkat alisnya tinggi-tinggi lalu menatap orang di sampingnya dengan tatapan menyelidik. “Cinta?” ulangnya dengan tatapan mengejek lalu berkata, “Omong kosong.”

Taemin mengerucutkan bibirnya lucu lalu mendesah, seakan-akan udara yang menyesaki itu tak pernah habis di dada. “Jadi … tidak percaya, ya?” ucapnya kecewa.

Jaegyeong sudah menatap lurus lagi sambil berucap, “Entahlah. Aku tidak yakin.”

Kerutan tiba-tiba muncul di kening yang ditutupi poni cokelat Taemin. “Tidak percaya? Atau percaya?”

“Aku bilang aku tidak yakin! Anggap saja setengah memercayainya, oke?” Jaegyeong menatap lawan bicaranya dengan tatapan memohon maklum.

“Emm, apakah ini karena kau belum merasakannya?”

“Hah!” kagetnya. “Mwo?” lanjutnya tak kalah kaget. “Yaaah, apa … apa … Aish! Kau sudah merasakannya, Lee Taemin?” Jaegyeong bertanya-tanya.

“Sudah,” jawab Taemin dengan tenang dan dibubuhi senyum kecil menawan, tampak yakin, tetapi gadis di sampingnya tidak yakin sama sekali.

“Jeongmal?” tanyanyadengan nada penuh keragu-raguan.

“Geurae!” jawabnya mantap.

“Hngh.” Jaegyeong tersenyum mengejek. “Aku rasa kau sudah dibodohi perasaan sendiri. Aku pikir kau salah paham. Entah bagaimana aku tidak yakin.”

“Apa yang kaukatakan?”

“Apa? Jika yang kau maksudkan cinta, tentu saja aku merasakannya. Kautahu? Appa, Eomma, dan saudara-saudaraku. Aku mencintai mereka. Tapi berbeda ketika kau merasakan perasaan lain pada lawan jenis, seperti kau,”—Jaegyeong menekan dada Taemin dengan telunjuknya dan bicara penuh tekanan—“,dan aku.” Dan berakhir menunjuk diri sendiri.

“Apa salahnya dengan itu?”

Jaegyeong memutar matanya ke atas lalu memandang sebal orang di sebelahnya. “Dengar! Jika kau memandang seseorang dengan hasrat, melakukan hal-hal yang penuh dengan sentuhan atau kata-kata manis yang menggelikan atau melakukan hal-hal gila. Percayalah, Taemin, itu bukan cinta. Itu nafsumu!”

Taemin tercenung, diam dan pandangannya menerawan pada gadis yang masih menatapinya dengan tatapan menanti respon. Tetapi Taemin tetap diam hingga beberapa waktu. “Bagaimana kau mengetahuinya? Maksudku, bagaimana kau bisa meyakininya?”

“Semua lelaki begitu. Mereka melakukan hal-hal gila dengan berlindung di balik kata ‘cinta’ yang terus kausebutkan sejak tadi.”

Sekarang Taemin tampak khawatir. “Lalu aku harus bagaimana?”

“Mana kutahu,” ujar Jaegyeong sambil menggendikan bahu.

Taemin cemberut lalu mengikuti apa yang dilakukan Jagyeong, “Mana kutahu,” dengan nada mengejek.

Jaegyeong menatap Taemin dengan tajam lalu berucap frustasi sambil mengacak-acak rambutnya yang tergerai sebahu, “Molla, molla, molla! Hentikan saja omong kosong ini!” Lalu mendesis kesal, “Menjengkelkan.” Mendengus.

“Tapi kita belum pada klimaksnya!” protes Taemin tiba-tiba dengan tatapan berapi-api. Bicara dengan lantang dan penuh emosi.

“Apa lagi?” bentak Jaenyeong geram sambil melotot.

“Aku … aku …. Em, aku ….”

Jaegyeong memutar matanya lagi sambil mengembus napas agak panjang dan lelah. “Aku apa?” tanyanya ogah-ogahan.

“Aku me … me ….”

“Diam sajalah! Sampai kiamat tampaknya kata-katamu itu tak akan selesai,” ucap Jaegyeong pada akhirnya.

“Aku mencintaimu!” pekik Taemin tiba-tiba, membuat seketika gadis itu menatap lelaki di sampingnya dengan amat terkejut: matanya melebar tanpa berkedip dan mulutnya hampir-hampir menganga, dan dia diam dalam beberapa waktu yang hening, menatap Taemin yang tampak malu-malu lalu menutup mulut dan berkedip, tampak masih tidak percaya.

“Kau … kau sedang bercanda, ya, Lee Taemin?” tanya Jaegyeong dengan curiga lalu berdiri dengan marah. “Ini tidak lucu. Leluconmu kali ini benar-benar tidak lucu!”

Lee Taemin tetap kukuh pendirian dan berdiri sambil berkata dengan mengebu, “Aku serius! Aku serius, Geum Jaegyeong!”

Pada akhirnya Jegyeong berbalik dan berjalan menuju sebuah jalan setapak di antara pohon-pohon, membiarkan lelaki itu sendirian tanpa perlu mendengarkan celotehnya, meski begitu Taemin tetap teguh dan berjalan lebih cepat untuk mengejar si gadis yang sudah berjalan terlebih dahulu dengan langkah kakinya yang panjang dan terlihat tergesa. “Jaegyeong!”

“Sudahlah! Aku bilang aku tidak mau membicarakan soal cinta! Kau membuatku bingung.” Jaegyeong terus berjalan—dengan enggan menatap Taemin yang berada tepat di samping belakangnya, hanya berjarak satu langkah kecil yang tak berharga.

“Tapi aku ingin kau jadi yeoja cingu-ku!” rengeknya seperti seorang bayi meminta permen pada ibunya sambil menggelayuti salah satu lengan Jaegyeong dengan kedua tangan, tetapi dengan cepat gadis itu menarik lengan dan menepisnya dengan tangan lain sambil berujar tegas, “Jangan pegang-pegang! Kau membuatku takut, Taemin!”

“Lalu apa yang harus aku lakukan agar kau mau menjadi yeoja cingu-ku?” Taemin terus saja mengikuti tanpa jengah. Terus membuntuti seperti seorang anak ayam yang mengikuti induknya karena takut sendirian.

Tapi Jaegyeong tak menggubris sama sekali. Terus berjalan di antara jalan setapak di antara pohon-pohon pinus menjulang di sana. “Pergilah! Sana pergi!”

“Aku tidak akan pergi sebelum kau mau jadi yeojacingu-ku!” Taemin bahkan lebih keras kepala daripada yang diduga Jaegeyong hingga akhirnya tiba-tiba langkah cepat gadis itu terhenti, tubuhnya berbalik cepat hingga membuat Taemin yang tengah berjalan tersentak ke belakang dengan kaget dan mendapati mata tajam Jaegyeong menatapnya dengan intens.

“Baiklah,” ucapnya dengan serius, “kalau begitu kau harus berenang dari tepi danau ke seberang.”

Untuk sesaat Taemin terdiam. Matanya menyapu jalanan dengan tanah lembab yang diselimuti oleh daun-daun kekuningan, merah dan cokelat yang gugur di atas kakinya. “Baiklah,” ucapnya pada akhirnya, dengan tegas dan yakin. “Aku akan melakukannya. Ini demi kamu.” Berbalik dan berlari ke arah berlawanan.

Sesaat Jegyeong tampak terkejut, namun akhirnya gadis itu mendengus sambil berucap, “Masa bodoh dengan bayi itu.” Melanjutkan perjalanan lagi menuju desa dengan langkah yang sama cepatnya seperti tadi dan berhenti mendadak dengan mata membulat ketika ia mendengar suara percikan air yang besar. Tubuh gadis itu menegang kaku dan bola matanya bergerak ke sana kemari, mencoba berpikir dengan keras penuh kekhawatiran.

Dalam beberapa detik hanya diam yang ia lakukan, tetapi setelah itu berbalik dan berlari dengan cepat ke tempat yang baru ditinggalkan, dengan gemuruh aneh di dada yang membuatnya gusar setengah mati, dengan sangat ketakutan.

Sesampainya di sana—tepat di tepi danau—ia melihat dua buah tangan bergerak di atas air, berkecipak dan diiringi dengan suara minta tolong. Dengan jelas dari tempatnya berdiri Jaegyeong bisa tahu siapa yang berada di dalam air. Itu Taemin yang sedang berusaha berenang dengan susah-payah. Berupaya tetap dekat dengan udara yang bisa ia hirup. Berulang kali muncul ke permukaan lalu terggelam. Susah payah berucap, “Tolong aku!” dengan tersendat-sendat.

Segera, tanpa banyak berpikir atau berucap Jaegyeong melempar dirinya ke air, berenang sejauh yang ia bisa dan menyeret sebuah tubuh yang sedikit lebih besar darinya ke tepian dengan susah payah, dengan tenaga ekstra hingga dadanya kembang kempis untuk menghirup udara.

Di tepian danau, dekat rerumputan tubuh lunglai Taemin tergeletak tak bergerak. Dengan penuh rasa ketakutan yang mencekam Jaegyeong meletakan telunjuknya beberpa saat di depan hidung Taemin, tapi tak ada embusan berarti, lalu menyentuh pangkal leher Taemin dan menekanya sedikit. “Hidup!” serunya penuh syukur.

Sekarang dia terdiam, menatap lelaki di hadapannya dan mulai berpikir, mulai berspekulasi atas apa yang terjadi pada Taemin dan apa yang harus ia lakukan. Haruskah aku melakukan itu? Benarkah aku harus melakukannya! Itu tidak mungkin aku lakukan! jeritnya dalam hati kebingungan.

Tapi tidak, tidak! Gadis itu tidak akan melakukan apa yang ada di pikirannya. Lebih baik menampar pipi Taemin dengan keras dari kanan ke kiri atau sebaliknya, tak ada hasil. Akhirnya dia memompa dadanya dengan keras, dan terus saja berakhir nihil. “Andwe!” pekiknya frustasi sambil mencengkeram pipinya sendiri.

Sekarang Jaegyeong menggeleng-geleng sambil melihat Taemin dengan frustasi. Berkata dalam hati, Jaegyeong, selamatklan dia! Kau yang membuatnya begini.

Akhirnya, keputusan pahit itu harus diambilnya juga. Apa yang ia pikirkan dengan ngeri bercampur geli harus ia lakukan dengan segera. Kau bisa, Jaegyeong. Kau bisa! Ini tak seburuk yang kaukira. Hanya perlu menutup mata dan mengembuskan udara sedikit. Ya, hanya sedikit sentuhan menjijikan, ia menyemangati dirinya sendiri dalam hati.

Dengan perlahan penuh keraguan gadis itu merengkuh pipi dingin Taemin, menatapnya sambil mengembuskan napas teratur—mencoba tenang sambil mencoba menggeuk liur yang terasa begitu sulit untuk ditelan. Perlahan pula—begitu sangat perlahan—dia terus bergerak, mencondongkan badan ke arah wajah anak lelaki yang masih berbaring tak berdaya dan kritis, setidaknya itulah yang ia pikirkan.

Jaegyeong ketakutan. Ia sangat ragu. Ia menugutp matanya, tak berani melihat hal yang akan ia lakukan sekarang. Benar-benar gila! Namun, pada akhirnya, dia berhenti dalam jarak sepuluh senti jarak wajah, mengernyit, lalu dengan aneh membuka mata, memerhatikan dengan jeli bibir tebal di hadapannya: mengerucut, dan bersiap-siap seperti mencium. Dengan sentakan hebat anak perempuan itu terjungkal ke belakang, berteriak ketakutan, “Argh!” Sikunya menopang tubuh kurusnya dari belakang. Dadanya kembang-kempis karena shock.

Ternyata benar, dia menipuku. Aku tahu. Aku tahu dia bisa berenang. Harusnya aku mengingatnya lebih cepat!

Sesaat gadis itu terdiam, tapi dengan cepat bangkit dengan amarah memuncak di ubun-ubun. Dengan mata tajam dan merah menatap seseorang yang terus saja berpura-pura dengan bodohnya, mengambil sendal dari kakinya, mendengus, berancang-ancang, lalu … Plak!

“AWW!” pekik Taemin sambil memegangi mulutnya yang terasa sakit bukan kepalang. Benar-benar menyakitkan hingga terasa berdenyut-denyut di bibi. Sandal berawarna merah muda itu terpental hingga berada tepat di samping Taemin yang tengah terduduk cepat karena kaget.

“Tepat!” seru Jargyeong puas, lalu menyeringai dengan kejam.

Taemin menatap tajam Jaegyeong dengan kesal bercampur kecewa, mendengar gadis itu berseru dengan galak, “Apa yang coba kaukakukan, huh? Mencoba menciumku?” juga nada mengejek yang bercampur rasa puas—lebih tepat dikatakan bersyukur.

Taemin  bangkit lalu segera bicara dengan suara teredam akibat tangannya yang masih enggan terlepas dari bibir tebalnya. “Kau jahat sekali. Aku hanya ingin mencobanya denganmu,” Taemin bicara dengan nada ingin menangis, bersamaan dengan matanya yang berkaca-kaca, mungkin karena rasa kecewa dan terluka.

Tapi Jaegyeong tidak peduli, benar-benar tidak perduli. Dia bahkan merutuki dirinya dan berkata dalam hati, Aku tidak akan pernah tertipu lagi, sialan!

Gadis itu terlihat sangat, sangat, sangat marah hingga tampak seperti ingin membunuh, mencincang, menggoreng, atau melakukan apapun yang buruk pada Taemin, tetapi ia tak melakukannya. Ia pergi ke tempat yang sudah ia lewati; pergi dengan penyesalan dan kemarahan yang menghinggapi tak habis-habis.

Taemin kembali mengejar, dan keadaan itu kembali terulang, tetapi kali ini agak berbeda—dengan sebuah sandal Jaegyeong di salah satu tangannya, sedangkan Jaegyeong berjalan dengan sangat cepat dengan alas kaki yang kehilangan pasangan, berjalan dengan setengah kaki telanjang.

Saat itu Taemin terus bicara, terus memohon, dan berkata pada akhirnya, “Ini sendalmu Jaegyeong,” sambil mengibas-ngibaskannya di udara. Tapi Jaegyeong tak peduli. Sama sekali tak peduli. Diam seribu bahasa, hingga pada detik berikutnya gadis itu berteriak sangat frustasi, “Tidak perlu! Itu untukmu, sebagai bahan ciuman. Dan jangan dekat-dekat dengaku, ara! Kau membuatku marah besar!”

Jaegyeong berjalan lebih cepat, berlari meninggalkan Taemin yang melihat rambut hitam legam dan indah dan punggung yang menghadapnya menjauh. Mungkin sesaat ia berlari, mencoba menyusul, tetapi gadis itu berlari terlalu kencang hingga membuat Taemin meredupkan semua lilin kecilnya yang terang, cahaya harapannya yang kecil. Membiarkan gadis yang dicintainya hilang dalam kelokan-kelokan jalan setapak pohon-pohon. Sekarang ia hanya bisa melihat dan kehilangan. Pada akhirnya dengan tangan lemas dan lunglai sandal itu jatuh ke tanah.

“Cintaku dibalas dengan sebuah sandal,” ucapnya dengan nyeri di hati.

End

Ini ff dah lama nyarang di file-ku. Terlalu malas buat merevisi meski aku ngerasa memang perlu direvisi. Semoga ini ff nggak parah-paranget, ya? Hehehe.

Oh ya, cuma pemberituan aja, Finding The Lost Smile nggak akan aku post lagi lanjutannya dan aku dah minta izin sama Lana karena niat aku jadiin naskah orifict. Cuma takut ada yang nanyain atau nungguin kelanjutannya aja jadi dikasih tahu. Sori, ya. ^^

©2013 SF3SI, Lee Hana

leehana-signature

Officially written by Lee Hana, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

17 thoughts on “Atas Nama Cinta (Cinta dan Sebuah Sandal)

  1. ADSFJSJFKJGJFHJDASHF
    LEE TAEMIN KAMU APA-APAAN?!
    SINI KAMU SINI, MINTA DICUBIT!!

    LOL… ini klise, tapi tetep aja aku mau tendang pantat Taemin sampe dia terbang ke ujung dunia
    sok banget imut, tapi gatel
    Bagus Jaegyeong! Kalau perlu pukul aja mulut Taemin pake batok kelapa
    xD

    “Cintaku dibalas dengan sebuah sandal,”
    ini anak apa-apaan ngomong kayak gitu xD salah dia sendiri iseng
    somehow kalimat terakhirnya Tetem tuh, kalau di denger sama producer sinetron, bakal dijadiin judul sinetron baru wkwkwk

    eh iya, Finding The Lost Smile udah kamu tarik FF nya? aku belum cek, tapi kalau belum ditarik, nanti aku yang hapus yaa~

    Makasih ceritanyaaa ^O^
    Ini lucu kok, setiap orang punya cara yang berbeda untuk menghibur kan?
    mungkin karena aku tahu gelagat kamu kali ya, jadi aku ngakak baca ini, ngebayangin seorang Eka yang ff nya biasanya gimana, tahu-tahu aku baca yang model gini
    Dua jempol buat Eka😀

    1. Hahaha! Aku sebenarnya emang nggak terlalu suka ngelucu, tapi bukannya nggak pernah ngelucu. Agak condong ke bercanda, sih. Eh, bukan, ding. Tapi lebih suka ngeledek, khususnya ke kakak-kakakku. ^^ Tapi penasaran, emang gelagat aku di mata kamu gimana, ya? Garing kayak keripikkah? Dan terlalu serius?

      Apakah harusnya judulnya aku kasih “Cintaku Dibalas dengan Sebuah Sandal”? Aku pengen ganti judul yang itu, tapi kepanjangan menurutku. Hahaha, dan kalimat itu sejujurnya cuma tambahan sebelum aku taruh di draft.

      Untuk FTLS-nya makasih. Hingga detik ini naskahnya bahkan belum selesai, meskipun udah direvisi beberapa kali. Karena menurut mentorku salah teruuuus. Hwaa! TT.TT
      Agak menyedihkan memang.

      Tapi makasih juga komennya. Seenggaknya aku tahu kalau ff-ku ini nggak gagal humornya.😀

      1. Tapi beneran sih, bikin guyonan lewat tulisan yang ‘baik dan benar’ itu lumayan susah juga, karena cara nangkep orang-orang kan beda yah
        hahahah gak garing sih, ka. tapi cenderung kaku gitu xD tipikal baku gimanaa gitu hahaha. kamu orangnya straight to the point gak sih? aku nangkepnya kamu model gitu, jadi gak heboh heboh gila. kayak karakter tokoh di ff gitu, yang rada socially awkward tapi cool. LOL

        Hahaha jangan jangan, kalau judulnya beneran itu bisa kacau hahaha

        Gak apa-apa, Eka. Biasanya semakin panjang prosesnya, semakin sepadan hasilnya ^^
        SEMANGAT!

        Hahah enggak, jangan pesimis laaahh ^^
        semangat terus ya EKAAAAA❤❤

        1. Hahaha! Si Lana. Aku emang orangnya gitu. Kadang rada gaje, aku dipanggil “Emak” sama temen2 kelas karena cara ngomongku tuh kayak ibu-ibu. Cool bisa, disuruh berisik juga bisa. Ya, aku orangnya to the point banget, jadi agak nggak sabaran kalo udah punya goal.

          Aku nggak pesimis, kok. Cuma bikin urut dada aja. Hehehe🙂

          BTW, makasih semangatnya!

  2. Setelah baca sampe notes-nya, fokusku berubah
    aku . . . aku . . . aku . . . *terdengar sesuatu yang pecah dari kejauhan*
    WAE IRAEEEEE?????? *nangis bombay* hngg aku lupa baca finding the lost smile sampe chapter berapa kemudian keputus karena uts ******* kemudian tiba-tiba dapat kabar kalo bakal discontinue
    my poor jongtae feels
    oke mari kita fokus pada ceritanya
    aku harus kuat, aku pasti kuat

    hanaaaaaa, typonya lumayan banyak ih
    dan itu hng, jadi marganya si Jaegyeong itu Lee apa Geum kok beda?
    kalo cerita sih nggak masalah ya, entah kenapa aku bahagia ngeliat taem ditampar sendal
    iya dia beneran pantes ditampar sendal karena kurang ajar dasar lelaki . . . . *harusnya ada lanjutannya tapi aku harus kontrol diri oke*
    jadi bikin geli-geli sebel

    semangat buat ori-ficnya semoga lancar dan jaya selalu
    makasih ceritanya^^

    1. Ya Olloh, sampe berguling-guling nggak sih nangisnya? Hahaha!

      Iya, kan udah dibilang aku males nge-editnya lagi. Klo masalah marga terserah, deh. Aku malah nggak ngeh, loh. Hahaha #koplak

      Makasih buat semangatnya, Kuku! Dan sama-sama. 🙂

  3. Gubraak..ini gubraak… xDDD
    Jaegyeong parah banet ngelempar sandal segitunya ampe kena bibir si taemin..wakakakakk.. itu langsung jontor *?* kali yaa bibirnya..wkwkwk
    Smoga kisahnya masih berlanjut… moga taemin gak jadiin tu sandal jadi hiasan dinding rumahnya :”

    1. Sayangnya cuma ini doang.
      Emm, kayaknya sih bukan jadi pajangan, tapi buat kelonan pas tidur. Hehehe😀

      Met dateng, ya, La. Udah lama nggak liat.😉
      Kangen juga sama kamu.

      1. Kelonan? Alamaaaak… digosokin gitu ye? LoL

        Huwaa, iya Ekaa, ih, berasa lama bingit aku ngilangnya ya? Hahaha… aku juga kangeen sama dirimuu😀

  4. WELL, LEE TAEMIN APA YANG SEDANG KAU LAKUKAAAAAAAAAN? Heh anak kecil jangan coba-coba nyosor bibir orang #jedugh😄
    Kesian amat dia nembak cewek langsung ditolak wuakakakakakak sini sini sama aku aja #diesshh
    Lucuuuuu~~~~!!! Aku mengharapkan ada kelanjutannya wkwkwk😄

    1. Otakku udah stuck buat ngelanjutinnya. Modelan humor ini adalah sebuah kebetulan belaka. Bener! Jadi, nggak ada bayangan buat lanjutannya. Mian. #sungkem

      Dan, makasih.🙂

    1. Makasih. Entah kenapa saya orangnya emang to the point dan justru susah buat humor dengan kalimat tidak baku. #ini_aneh Dan umpan pancing?:-/

      Makasih sudah berkomentar.

  5. Taemin cute banget. bayangin ekspresi Taemin pasti lucu.

    “Semua lelaki begitu. Mereka
    melakukan hal-hal gila dengan
    berlindung di balik kata ‘cinta’ yang
    terus kausebutkan sejak tadi.”

    berlindung di balik kata ‘cinta’ hahaha bener tuh gue setuju kata katanya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s