Way To Love You (II)

waytoloveyou

Way To Love You II

A Oneshot by ReeneReenePott | Romance | Teen

Choi Minho | Park Minri | Byun Baekhyun

Well, yang jelas aku gak rela kalau kamu masih mikirin cowok gak guna macam dia,”


Sebenarnya, cewek yang bernama Park Minri itu hanya bingung. Iya, dia ngaku kalau cowok bernama Choi Minho itu menarik walaupun nyebelinnya amit-amit, tapi coba deh lihat kalau cowok itu lagi main basket terus banjir keringat. Rambutnya yang dulu sempat dicepak pendek sekarang sedikit panjang, jadi rambutnya pasti basah semua dan kalo lagi lari kelihatan banget gantengnya. Entah kenapa, tapi bagi Minri, cowok yang rambutnya basah atau setengah kering itu kereeeeeeeeeen banget. Dan, Minri paling galau lagi kalau keringat Minho mengalir melewati jakunnya. Oh no, Minri harus benar-benar rela mengaku kalau cowok yang namanya Choi Minho itu adorable banget.

Tapi, bukan itu masalahnya sekarang.

Jadi apa dong? Minho sudah menggunakan kata-kata konotasi kalau dia punya ketertarikan sama Minri waktu duduk berdua sehabis sekolah waktu itu, dan harusnya kalau pelajaran bahasa Minri lumayan, dia harus ngeh paling enggak dalam kurun waktu tiga hari. Ya gak? Ya gak?

Masalahnya hanya ada satu nama, satu objek dan satu manusia. Seorang cowok bernama Byun Baekhyun, first love Minri yang sampai sekarang masih saling berhubungan dengannya. Hubungan setipis benangnya dengan cowok yang dikaguminya semasa SMP itu, membuat Minri memilih untuk tidak memusingkan antara punya pacar atau tidak. Dapet cowok atau enggak. Ditaksir cowok atau kegeeran doang. Itu dia masalah pokoknya.

Kalau Byun Baekhyun sudah mencampakkannya, okelah, Minri merasa baru bisa terbebas dari kenangan masa lalu. Lalu, dia bisa hunting cowok cakep lain yang lebih cakep di sekolahnya sekarang. Beres masalah!

Itu tadi baru induk masalahnya.

Sekarang, anak masalahnya. Minho makin gencar menjahilinya dua puluh empat jam (minus 7 jam untuk waktu tidur) sehari dan… Minri makin frustasi. Sejak Minho berkata serius dengan kalimat konotasi itu, dia gak pernah lagi ngomongin apa-apa sama Minri. Yang ada, Minri dikatai bolot kayak nenek-nenek-.- Dan ketika Minri pengen banget nimpuk kepala Minho pake sepatunya, ternyata keberuntungan berkhianat. Ketika kepala Minho selamat dari marabahaya, sepatu Minri malah nyemplung ke kolam ikan yang dirawat anak-anak klub PA(Pecinta Alam) di dekat jendela. Malang, nasibnya.

“Kalau marah-marah terus, lama-lama beneran mirip nenek-nenek loh,” komentar Minho kalem saat Minri jelas-jelas menembakkan tatapan setajam pisau cukur jenggot ke arah Minho. “Nanti gak bisa dapet pacar. Tiap Valentine ngeluh, tapi gimana mau dapet coklat kalau tampangmu kayak gitu terus, Park Minri,”

Wajah Minri mulai merah karena temperatur tubuhnya yang sukses dilejitkan Minho, namun tidak mengatakan apa-apa karena apa yang dia katakan pasti salah dimata Minho. Pasti. “Terserah deh, mas,”

“Minri-ya, kamu gak mungkin masih berharap sama cowokmu dulu itu, kan?” ujar Soojung, nyeplos tiba-tiba. “Kupikir dia gak pasti masih inget kamu, ngeliat hubungan kalian yang kontak seminggu sekali begitu,”

Sekarang gantian Soojung yang dipelototi Minri, ya mau gimana. Minri berhak kalau dia marah sama Soojung. Di kelas ini gak ada yang tahu kalau Minri punya crush yang sebenernya kesampean tapi ternyata enggak kesampean. Dan sekarang rahasia negaranya dibongkar seenak udel oleh seorang Soojung, cewek cantik yang meski gak suka gosip tapi terlalu polos dan tukang nyeplos amit-amit. Karena kalau sampai pada tahu, dia yakin dengan pasti kalau teman-temannya yang lain akan memakinya kalau ada cewek dan cowok yang sama-sama suka dan begitu si cowok nembak, si cewek nolak. Gak ada pihak ketiga, gak ada halangan orang tua, agama dan segala macemnya, gak ada apa-apa. Semuanya akan berjalan lebih indah kalau mereka berdua jadian. Tapi, si cewek menolak. Dan si cewek itu Park Minri. Dan, sekarang hubungannya runyam. Demi tutup pena yang sering digigitin Baekhyun!

“Ohoo… nenek-nenek kayak kamu laku juga, ya?” timpal Minho lagi. Minri melotot, merasa terhina.

“Oh, jadi kamu udah punya pacar?” tanya Kibum, sohib Minho yang duduknya selalu berdua sama Minho. Katanya sih, mereka emang udah nempel banget. Kayaknya udah saling mendalami luar dalem satu sama lain. Ya mau gimana, rumah sebelahan, sekelas dari TK, hobinya sama, ibu mereka bersahabat dengan baik (tukang gosip masalahnya), dan mereka sama-sama ganteng! Meski, gantengnya Minho tentu beda sama gantengnya Kibum. Tapi tetap saja kan judulnya ganteng!

“Apaan sih?! Cowok itu bukan pacar aku lagi! Aku gak pernah jadian!” seru Minri membenarkan fakta, yang langsung disesali Minri saat itu juga.

“Ya gimana mau jadian, ditembak aja ditolak,” ceplos Soojung lagi, memasukkan corn flakes ke mulutnya tanpa menghiraukan Minri yang sudah lemas, menatap Soojung seakan bilang kalau-ada-waktu-besok-kau-akan-mati.

“Woah, nolak cowok?—“

“Bisa diem gak sih? Kamu itu cerewet banget kayak kakek buyut aku tau nggak? Kalo kamu ketemu dia kalian pasti cocok deh,” Minri memotong Minho dan langsung berdiri pergi.

Kibum dan Soojung menatap Minho barengan, lalu menepuk bahu cowok itu. “Kayaknya kamu memang nyebelin banget yah di depan Minri,”

__

Sekarang hari Minggu. Hari libur dan gak ada kerjaan, karena hari Sabtu sekolah juga libur pasti dipakai untuk hang out bareng teman dan malamnya bersantai bareng keluarga. Hari Minggunya gimana? Biasanya, Minri sih make hari itu buat jalan-jalan sendiri, siapa tahu dia kesambet ilham buat ngerjain tugas yang makin lama makin menggunung itu. Tapi khusus hari Minggu ini Minri benar-benar bingung mau ngapain. Hatinya masih panas gara-gara chatting sama Minho yang ujung-ujungnya juga ngomongin hal yang gak jelas. Mari kita intip chattroom Minho sama Minri! (?)

Minho : Hoy, nek, hari selasa nonton kan?

Minri : Yups.

Minho: Pulang sama siapa?

Minri : Sendiri mungkin. Ngapa?

Minho : Kalo naik taksi mau ditemenin gak? Aku juga bakal naik taksi soalnya.

Nah, ini dia. Minri diam semiliar bahasa. Masa dia mau naik taksi berdua bareng Minho? Kasihan sopir taksinya dong, bakal jadi korban pertama kalau-kalau ada perang dunia pecah di dalam taksi. Minri cuma ngeliatin chat Minho sementara jarinya beku di atas keypad.

Minho : Bukan maksud mau modus loh. Kalau gak mau yaudah.

NAAAAH! Ini dia. Cowok ini ngeh gak sih? Minri ragu mau pulang berdua naik taksi bareng Minho karena apa? Karena setiap hari Minho udah kayak masang alarm teeeeee nooooo neeeeee noooooo neeeet kalau dia itu bahaya setiap ketemu Minri yang selalu jadi bulan-bulanan Minho. Untung aja Minri gak tereak BEEE DOOO BEEEE DOOOOO tiap ngeliat Minho. Habis perkara kalau dia dikira jelmaan Minion. Dia udah cukup konyol di depan guru dan di depan temen-temennya dan paling parah di depan Minho. Dan Minri gak mau mati konyol kalau tiba-tiba dia dipanggil jelmaan Minion sama murid seangkatan. Bisa panjang urusan.

Tapi Minri juga butuh temen naik taksi. Dia takut kalau naaik taksi sendirian, apalagi di jaman sekarang. Kejahatan di dalam taksi merajalela kemana-mana. Dan ibunya pasti nggak ngijinin kalau dia gak punya teman seperjalanan.

Minri : Aku gak mikir kamu mau modus kok. Kalau mau temenin yaudah, aku oke aja. Lumayan ada temen.

Minho : Gak bakal cuma berdua kok. Nanti Sehun juga ikut.

Minri : Oh, oke

Minho : Aku juga gak mau dikasih tanggung jawab penuh disuruh jagain nenek-nenek.

Minri : Jangan cari gara-gara kamu!

Minho : Iya deh. Maaf, nek.

Minri : AKU BUKAN NENEK! UMURKU MASIH TUJUH BELAS TAHUN TOLONG!

Minho : Tuh liat aja. Marahnya aja udah kayak nenek-nenek.

Minri : TERSERAH!

Minho : Dah, nek.

Dan sekarang, di hari Minggu yang cerah dengan matahari bersinar terang dan awan berarak, wajah Minri tertekuk suram penuh petir dan guntur ketika mendengar suara alarm jam delapan pagi. Oke, maaf kalau agak hiperbola. Yang pasti, Minri sedang badmood hari ini, entah karena chat Minho semalam atau memang dasarnya sedang badmood. Tapi dia akhirnya memilih untuk bangkit dan mandi, lalu jalan-jalan keluar. Siapa tahu, dia bisa memperbaiki suasana hari ini yang cukup menekan batin. Sebenernya, Minri ini gak jelek-jelek amat kok (#diinjek). Dia cukup cantik kalau rambutnya diurai rapi dan ada hiasan di atasnya. Dia juga bakal terlihat makin manis kalau memakai dress musim panas yang berwarna cerah dan pas ditubuhnya. Intinya sih, Minri cukup oke kok kalau mau dapet pacar #dugh.

Pada akhirnya Minri memutuskan untuk naik bus dan jalan-jalan. Makan di kafe, ke toko buku, lalu lihat-lihat boneka di toko pernak-pernik. Atau kemana saja, semoga saja dia ketemu seorang teman supaya gak dikira orang hilang. Nonton juga boleh, tapi apa gak kelihatan miris banget kalau dia cuma nonton sendiri? Kentara banget dong jonesnya (jones= jomblo ngenes).

“Hihi, kamu jangan gitu dong. Aduh, ini es krimku bisa ngenain baju kamu!” Minri yang sedang asyik-asyik melihat-lihat aneka boneka beruang yang lucunya kebangetan di etalase, keningnya langsung merenyit mendengar kalimat yang diucapkan dengan manja itu. Oho… sebenernya bukan masalah sih. Toh pasti banyak pasangan yang datang ke toko pernak-pernik seperti ini.

“Hahaha. Kamu lucu banget sih. Tuh es krimmu belepotan kan, haish kamu benar-benar seperti anak kecil,” kali ini mata Minri sukses membulat dengan indahnya. Tunggu… kok suara cowok barusan rada familier ya, Minri akhirnya memutar kepalanya ke belakang tempat suara-suara mereka berasal dan ternyata…

Oh God.

Dia gak salah lihat kan? Astaga. Itu si Byun Baekhyun yang sedang merangkul seorang cewek dan tampar Minri kalau mereka bukan sepasang kekasih. Jelas-jelas kaus yang mereka pakai couple-an kok! Plis, Minri berharap dia salah lihat tapi kayaknya itu mustahil. Oke, kalau begini situasinya, mesti gimana dong? Selain gak percaya, Minri juga pengen ketemu dan bicara sama Baekhyun si cowok setipis benangnya (?). Dengan ragu Minri meletakkan boneka teddy bear mungil yang sedari tadi dikaguminya lalu melangkah mendekat ke arah pasangan berbahagia itu.

“Byun… Baekhyun?”

Oh! Pucuk dicita ulam pun tiba. Ternyata cowok itu menoleh dan benar-benar seorang Byun Baekhyun. Cowok itu terlihat terkejut dan Minri pun tak jauh beda. Sementara cewek yang dirangkul Baekhyun memandang Minri bingung.

“Baekki? Cewek ini temanmu?” sepertinya pertanyaan pacar Baekhyun menyadarkan cowok itu dari keterkejutannya.

“Uh-oh, iya. Dia… Park Minri. Minri-ya, ini Sungyeong… pacarku,” kelihatan banget Baekhyun sedikit ragu mengatakan hal itu pada Minri. “Kamu sendirian, Minri-ya?”

Sebenernya gak usah dibilang Minri juga tahu kok. Ternyata, yang selama ini ditakutkannya benar terjadi. Sebenarnya waktu dia menolak Baekhyun, itu semata karena dia takut kalau ketika Baekhyun bertemu dengan gadis lain di sekolahnya dan akhirnya tertarik lagi, Baekhyun akan membohonginya. Dan ternyata, benar saja. Tidak ada status pun Baekhyun sudah menemukan yang lebih baik.

“Ng… yah, aku sedang pergi dengan seorang teman. Aku ragu kalau itu kau jadi aku menyapamu dan… maaf menganggu. Senang bertemu denganmu, Sungyeong-ssi,” uh-oh. Berbohong. Sebenarnya Minri tidak suka berbohong, tapi itu harus dia lakukan demi kelangsungan harga dirinya. Mana mungkin dia ngaku kalau dia lagi jalan-jalan sendiri dan tidak ada teman? Apalagi kalau bertemu Baekhyun, dia pasti diajak bergabung dan HELLO, Minri gak mau jadi obat nyamuk atau kambing congek kalau ngikut mereka jalan.

“Begitukah? Kau yakin tidak ingin bergabung dengan kami?” tanya pacar Baekhyun manis. Wooohh!! Pantas saja Baekhyun langsung kepincut. Sudah cantik, baik, ramah lagi. Dan tidak genit. Sedikit kelihatan manja sih, tapi wajar lah untuk ukuran pacar.

Dan tentu saja Minri langsung merespon dengan gelengan kepala. “O-oh, tidak. Terimakasih, tapi… uh-oh. Sepertinya temanku sedang menunggu. Daagh! Senang bertemu kalian berdua!” Minri memaksakan cengiran selebar cengiran Chessire, kucing tukang senyum selebar bulan sabit yang ada di Alice in Wonderland.

“Minri-ya! Oh, kau ada di sini,”

Jeeeeng.

Minri mengangkat alisnya tinggi lagi ketika suara cowok justru memanggilnya di saat seperti ini. Dia berbalik dan… oke. Sekarang jelaskan kenapa bisa Choi Minho ada di sini. Cowok itu sepertinya memang habis berlari, namun jelas-jelas sedang mencari Minri dari raut mukanya. “Ayo, kenapa kamu bengong aja disitu? Filmnya udah mau mulai loh,” sekarang Minri merasa makin bego ketika Minho menarik tangannya. Dia gak amnesia, kan? Tadi dia berangkat kesini sendirian kan, kayak jomblo ngenes?

“Oh-eh, iya,” tanggap Minri, banting setir untuk ikut ambil andil dalam situasi yang mendukungnya secepatnya kabur dari Baekhyun dan pacarnya. “Nah, Baekhyun-ah, Sungyeong-ssi, a-aku duluan. Daaagh!”

Dan mereka berdua akhirnya keluar dari toko pernak-pernik itu dengan bergandengan tangan. Garis bawahi dan cetak dengan huruf besar semua kata itu. GANDENGAN TANGAN! Untung aja tangan Minho gak menyimpan petasan yang menyala jadi Minri gak perlu ngelempar petasan itu balik ke mukanya. Minri masih sibuk dengan pikirannya sendiri dan sadar-sadar Minho beneran membawanya ke gedung bioskop yang dekat dari daerah situ.

Wait a minute! Minho gak beneran… tunggu. Mereka Cuma berdua?!

Minri melototi Minho dan nampaknya cowok itu sama sekali gak nyadar kalau tatapan setajam laser sudah menancap ke wajahnya yang tampan itu. Gak beresiko kadar kegantengannya nurun sih, tapi kalo orang udah di pelototin kayak gitu sama seorang Park Minri, well, you better be prepare man. Lo orang gak mau bangunin beruang grizzly betina dari hibernasinya, kan? Soalnya, gak pernah ada yang nyoba karena itu beresiko kehilangan nyawa satu-satunya. Lo orang bukan kucing yang punya sembilan nyawa kan? Kalo iya, sok coba aja. Paling-paling lo dapet penghargaan Nobel. (oke ini ngawur dan OOT. Back to story.)

“Minho, kamu mau ngajak aku kemana?” tanya Minri akhirnya, menyerah pada sikap gentle Minho yang akhirnya membuatnya menelan kejengkelannya bulat-bulat. Minri gak mau munafik jadi cewek ya, jadi dia cukup mengagumi penampilan Minho hari ini. Gak pake seragam, tapi celana jins gelap dengan kaus putih tipis yang dilapis dengan kemeja biru gelap dan kedua lengannya digulung sampe ke siku. Kalo Minri gak tahu kalau Minho ini rada-rada memiliki jiwa iblis sih… dia bakal mupeng kali yak kalo digandeng sama cowok yang sebegini gantengnya. Tapi ceritanya lain.

“Nonton. Kamu tadi gak denger kalo aku bilang film-nya mau mulai?” jawab Minho santai sambil mengulas senyum setan. Wait a minute again! Setahu Minri, kali Minho udah mulai senyum setan kayak gini biasanya ada yang gak beres. “Aku tahu aku ganteng. Jangan ngeliatin sampe kayak gitu ah,”

GLEK.

Minri mengubah tatapannya jadi garang lagi. “Ngeliatin kamu kayak mana? Ih, geer banget sih,” gerutu Minri sambil memalingkan wajahnya yang mulai merah kayak kepiting kelamaan direbus pake bumbu cabe. “Hah?! Nonton film beneran?! Terus yang nonton siapa aja? Aku gak bayar tiketnya kan? Soalnya kamu yang nyeret aku,” Thanks God, otak Minri udah mulai fungsi lagi. Daripada membiarkan muka merah hanya karena seorang Minho, mendingan ngomel lagi. Ya gak?

Tahu-tahu Minho udah ketawa sambil tetep jalan, gak lepasin tangan Minri lagi. “Kita berdua doang. Emang kenapa? Bioskop gelap kok, jadi aku gak bisa ngapa-ngapain kamu juga. Tenang aja, mana mau aku macem-macem sama nenek-nenek,” tandas Minho yang lagi-lagi membuat Minri mulai jengkel. “Your welcome. Tiketmu aku yang traktir,” sambungnya lagi sambil memasang senyum lebar.

Well, for your information, Minri gak pernah nonton berdua sama cowok, apalagi cowok nyebelin yang punya jiwa setara iblis spesies Minho begini. “Emang kita mau nonton apa?”

Captain America yang Winter Soldier. Udah pernah nonton?” tanya Minho sambil menoleh menatap Minri, mengakibatkan wajah mereka jadi lumayan dekat.

“Nggak. The Avengers aku cuma nonton Thor 2 itupun bagian ending-nya,” balas Minri pelan. Alhasil, Minho menatap Minri seakan cewek itu adalah alien yang baru mendarat dan turun dari UFO.

“Serius?” Minho bertanya gak percaya, lalu memutar kepalanya. “Astaga. Aku gak tahu jaman sekarang ada ya yang gak ngeh sama Avengers,” ternyata, Minri langsung manyun mendengar kalimat yang terdengar seperti sindiran itu. “SpiderMan udah nonton?”

Mata Minri langsung menyipit. “Pernahlah. Tapi waktu aktornya Tobey Macguire. Yang baru kerempeng banget, ogah nontonnya. Ceweknya kayaknya kecentilan juga,” balas Minri dengan nada sebel.

“Kalo kamu gak nonton Avengers emang kamu nonton apasih?” tanya Minho dengan kening berkerut. Jangan sampe cewek ini jawab dia milih nonton film-filmnya Julia Robert atau Demi Moore. Kalo sampe beneran dia jawab itu, berarti Minho salah pilih film.

Incredible, Toy Story, Ratatouille, Shrek, Cars, Despicable Me, Smurf, Frozen…” Minri langsung menghentikan mulutnya menatap Mata Minho yang sudah gede makin gede lagi mendengar jawabannya. “Ngomong-ngomong, Rio 2 kan mau keluar ya. Mau nonton gak?”

Serius, demi apapun sekarang sadarkan Minho. “Kamu mau nonton Rio? Itu cuma burung-burung biru nyanyi-nyanyi doang astaga,”

“Please, Minho. Kamu cowok dan aku cewek. Selera kita bisa beda,” sembur Minri sebel. “Jadi ngajak nonton gak sih?”

__

“Bum, kamu ada ide nggak kenapa Minri jadi kayak gini?” Soojung berbisik pada Kibum sambil melirik Minri yang tengah tertidur saat istirahat di mejanya. Untung aja anak ini nggak ngiler, coba aja kalo iya, bangun-bangun dia pasti mencak-mencak kalau esai biologinya basah karena banjir iler bandang. Minri memang make bantal kamus bahasa Jepang sih, tapi dibawahnya ada esai biologi. Dan si kamus bisa jadi tempat iler terjun, kan? (oke ini absurd) “Dia gak pernah bisa tidur di tempat berisik apalagi pas istirahat. Ada keajaiban apa ini tiba-tiba dia tewas di sini?”

“Kenapa tanya sama aku? Ya mana aku tahulah. Aku kan bukan babysitter-nya,” balas Kibum cuek sambil mengunyah bekal makan siangnya. “Tanya aja sama orangnya pas bangun,”

Soojung memutar bola matanya jengah, lalu menangkap sosok Minho yang baru datang dari kantin sambil bawa dua bungkus rempeyek udang dan sekaleng kola. “Minho! Sini dong!” panggil Soojung dengan ekspresi cemas kentara di mukanya. Ya Minho menurut saja, soalnya Soojung juga bukan tipe cewek jahil kok. “Kamu tahu gak kenapa ini anak jadi begini?”

Minho melirik Minri sebentar lalu memasukkan rempeyek itu banyak-banyak ke mulutnya. “Ngaaahh haoohhh…”

“Idih! Jorok banget sih, telen dulu itu baru ngomong!”

Minho nyengir lalu meneguk kolanya, membantu si rempeyek turun ke kerongkongan. “Nggak tau tuh,” Soojung mengerutkan kening.

“Ho, bukannya kamu jalan bareng Minri Minggu kemaren? Dia udah aneh belum?” tanya Kibum tiba-tiba, dan sangat ingin rasanya Minho menenggelamkan kepala sahabatnya ke kloset pria. Soojung langsung melotot galak pada Minho yang kayaknya udah pasrah kalau momen rahasianya kebongkar.

“Jalan berdua?”

“Heeh. Keren kan si Minho? Ngintilin si Minri dari keluar rumah sampe pulang lagi,” lanjut Kibum tanpa merasa bersalah telah membongkar kedok Minho yang emang ngikutin Minri pergi sendirian. Katanya, takut Minri kenapa-napa. Buidih, super hero banget yak! Entah kenapa, baru kali ini Minho menyesal punya sahabat macam Kibum yang mulutnya bener-bener ember bocor. Bukan ember kayaknya. Tangki bocor!

Sekarang rasanya Minho mau operasi plastik terus ganti muka ajadeh kalo udah dipelototin sama Soojung sampe sebegininya. “Kamu ngintilin dia dari berangkat sampe pulang jalan-jalan?” selidik Soojung dengan matanya menyipit.

“Iya. Puas?” balas Minho keras dan kembali memasukkan sebungkus rempeyek langsung ke mulutnya. Sebenernya dia juga gak perlu malu sih, orang Kibum sama Soojung ngerti kok kalo Minho emang ‘rada-rada’ sama Minri. Cuma mereka berdua belom yakin apa Minho beneran sama perasaannya apa enggak.

“Terus, ada kejadian menarik gak?” pancing Soojung lagi. Sekali lagi melirik Minri, memastikan cewek itu masih tidur jadi dia nggak perlu denger apa yang bakalan Minho omongin. “Jangan ngunyah terus dong!”

“Aku bongkar kedok, jadi Minri tahu kalo ada aku. Terus kami berdua nonton Captain America, 4DX,” lapor Minho dengan senyum bangga. “Filmnya keren,”

“HOAAAAMMMHH…. Jung, sekarang jam berapa?” Soojung, Kibum dan Minho langsung kaget ketika Minri mulai mulet(?) di kursinya meski matanya baru kebuka setengah.

“Belum bel kok. Udah kalo mau tidur lagi, tidur aja,”jawab Soojung sambil menepuk-nepuk kepala Minri yang jelas banget kayaknya masih ngantuk berat. Minri cuma bica manut-manut dan akhirnya tidur lagi. “Minho, kamu serius gak ada kejadian langka kemaren Minggu?”

Minho sebenarnya cuma natap Soojung sama Minri gantian, tapi karena matanya yang segede mata kodok pohon, jadi Minho kayak melototin mereka berdua. “Coba aku pikir dulu,”

Ya ampun. Mikir dari tadi kek, dumel Soojung dalam hati. “Siapa tau kemaren Minri ketemu siapaaaa kek gitu,” sambungnya, mencoba membantu kinerja otak Minho.

“Oooh, kemaren Minri ketemu terus ngobrol sama teman SMP nya, kayaknya,” jawab Minho akhirnya. “Gak tahu namanya siapa. Cowok, cantik, pake eyeliner. Minri keliatan gak nyaman ketemu mereka,”

“Mereka? Gak Cuma sendiri?”

“Nggak. Itu cowok lagi ngerangkul ceweknya. Keliatan banget kok mereka pake baju couple,” lapor Minho selengkapnya santai lalu menghabiskan sekaleng kolanya sekali teguk.

KLAKKK

“ADAAAAWWWW!!! Soojung, kamu kenapa sih? Aku salah apa coba?” Minho protes karena tiba-tiba Soojung menjitak kepalanya. Aduh, otaknya dia ini udah gak bisa dipake buat ngapal rumus fisika, mana pake dijitak lagi. Soojung beneran pengen dia gak naik kelas apa yak?

“Kenapa gak cerita dari awal sih? Kalo begitu mah jelas banget Minri lagi patah hati!” dengus Soojung sebel. “Cowok yang kerajingan make eyeliner itu namanya Baekhyun, itu loh cowok yang disukain sama Minri tapi dia tolak itu. Huh, tuh kan. Minri ngeyel sih. Siapa suruh dia masih mendem perasaan ke cowok itu? Yang ada malah sakit hati kan,” celotehnya yang terpaksa didenger bulet-bulet sama Kibum maupun Minho.

Tapi beda dengan Kibum, Minho mulai menatap Minri yang masih tidur dengan pandangan aneh dan nggak bisa ditebak. Kibum sadar sih sama tatapan Minho yang beda itu, tapi dia diem saja sementara Soojung masih sibuk ngoceh. Otaknya mulai muter lagi. Ada ya cewek yang model begini?

__

Hari Selasa yang dijanjikan pun tiba! Kibum, Soojung, Minho, Minri, Sehun, Sooyoung dan Jonghyun beramai-ramai datang ke sebuah bioskop bawah tanah Gwanghwamun yang banyak mendistribusikan film asing dan terkenal di Seoul, Cinecube. Soojung yang punya mobil pertama-tama ke tempat kosan Sooyoung dulu, baru jemput Sehun dan Minri. Kibum berangkat sama Minho karena jelas rumah mereka sebelahan. Jonghyun? Yah, namanya juga cowok macho. Dia pergi sendiri sama Harley Davidson milik ayahnya yang dicolongnya karena ayahnya sedang ada di luar kota.

“Jung, si Minho kelaperan tuh. Katanya dia lagi disetrap sama mamanya, jadi pagi ini cuma makan dua potong sandwich,” Kibum menoel pundak Soojung yang ada di depannya, sehabis mereka keluar selesai nonton film. “Dia request mau ke Ddongdaemun,”

Minri dan Soojung yang kebetulan lagi jalan berdua langsung menoleh. Mereka berdua sama-sama melotot. Sekarang, siapa yang gak tahu kalau mama Minho suka bikin sandwich? Dan siapa yang nggak tahu segede apa satu potong sandwich-nya? Oke, yang nggak tahu itu Sehun. Tapi Minri dan Soojung jelas-jelas tahu, soalnya mereka pernah dikirimi oleh mama Minho dan satu potong mereka bagi dua karena mereka gak kuat satu orang ngabisin satu potong, tolong! Itu perut Minho perut karet apa perut karung sih. Tapi kalau mereka nolak, Minho bisa ngamuk dan bete sepanjang hari (ini nggak tahu ya, tapi dia pasti bete kalau lagi laper) dan acara jalan-jalan bisa hancur suasana. Jadi mereka bisa ngangguk doang. “Sekarang?”

“Ya sekaranglah, kan aku lapernya sekarang, masa besok siang,” cetus Minho sambil mengambil helm yang ada di jok motor Kibum. Tuh kan, mending sekarang mereka cepat-cepat makan deh. mumpung perut Minri juga lagi keroncongan. Ternyata emang jamnya makan siang. Gile, alarm banget yak perutnya Minho itu.

Mereka bertujuh akhirnya konfoy beriringan ke Ddongdaemun, karena pasti mereka nurut aja kalau Minho sudah minta makan dimana. Akhirnya, sampailah mereka di sebuah restoran Jepang yang menu utamanya adalah ramen yang terkenal seantreo Seoul. Mereka masing-masing memesan satu porsi, sementara khusus Minho dia minta seporsi ramen dan seporsi paket bento. Yah, maklum aja yah, namanya juga cowok. Untung aja mereka bayar sendiri-sendiri yah, coba kalo enggak, bisa bokek mereka kalo nraktir Minho.

“Minri, kamu serius mau pesen ramen yang itu? Pedes lho, bukannya terakhir kali kamu makan pedes kamu langsung mondar-mandir kamar mandi?” celetuk Minho sambil melongok ke daftar menu yang dipelototi Minri sedari tadi. Sialnya, suaranya bisa terdengar sampai meja sebelah, membuat Minri gantian mendelik pada Minho.

Kenapa cowok nyebelin ini bisa tahu sih? Rutuk Minri dalam hati. “Suka-suka dong!”

“Yeeee dibilangin kok malah marah sih? Ya kan terserah, aku cuma ngingetin doang. Kan gak asik kalo acaranya jadi bubar gara-gara ada yang diare tiba-tiba,” balas Minho sambil mengendikkan bahu cuek. Mata Minri menyipit, namun buru-buru ia palingkan wajahnya. Bisa berabe kalo Minho tahu dia seneng si Minho perhatian padanya.

WHAAAAAAATHH??

Wait a minute! Serius ini Minri nggak salah? Gimana bisa coba dia jadi naksir berat gini ke Minho? Tanpa sadar, Minri akhirnya memesan menu lain dari yang tadi dipilihnya. Seporsi ramen yang Minri juga nggak tahu enak apa enggak, tapi yang pasti nggak pedes. Baru saja pesanan minuman datang, tiba-tiba Minri berjengit ketika kaki Soojung menginjak kakinya keras-keras di bawah meja. “Apaan sih?” desis Minri kesal sambil melototi Soojung yang sedang melirik-lirik entah kemana. Setelah menatap Soojung beberapa saat, Minri baru ngeh kalau Soojung ingin Minri melihat ke arah pandang yang sedang dilihatnya.

“Sabar ya, ini sih salahnya Minho tuh.” Ujar Soojung sambil meneguk ocha dinginnya. Minri menyipit, lalu melengos seketika. Yaelah, kalau misalnya Soojung pengen dia nggak badmood seharusnya nggak usah ngasih tahu kalau Baekhyun juga lagi pacaran di sini! Arah jam lima, arah jam lima! Gerah nih, gerah!

Tanpa Minri sadar, Kibum dan Minho menoleh menatap Soojung dengan tatapan bingung. Emang salahnya Minho apa? “Maksudnya?” tanya Kibum nggak ngerti. Soojung hanya menatap Kibum dengan se-pe-nuh hati, seakan sedang mengirim sinyal telepati. “Oooh,”

Gile, mereka berdua pacaran aja kali yak, telepatinya kuat broh!

“Emang kenapa sih?” tanya Minho penasaran. Kibum cuma ngeliatin Minho sebentar lalu beralih menatap Minri yang kayaknya langsung rada bete.

“Si Baekhyun juga di sini,” jawab Kibum penuh pengertian menatap Minri. “Minho sama aku udah tahu kok,”

Tapi Minri yang sadar kalau dia juga bakal jadi objek bulan-bulanan hanya diam saja. “Yah, kok jadi diem-dieman gini sih? Eh, makanannya udah dateng tuh!”

__

Setelah makan mereka akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan ke mall. Minri, Soojung sama Sooyoung rencana lagi mau milih-milih novel. Sehun sama Jonghyun lagi pengen lihat-lihat kaos sama sepatu bola. Kibum pengen belanja baju, dan Minho cuma ngekorin doang. Mereka akhirnya berpisah untuk tujuan masing-masing, dan janjian di Starbucks sekitar jam tiga-an, rencana mau ke Game Master dulu baru karaokean. Sooyoung lagi seneng sama film romantis, jadinya dia milih-milih novel picisan. Soojung, sejak mengenal Harry Potter, dia jadi kerajingan baca novel fantasi. Katanya sih dia lagi nyari Throne of Hades, sama sekalian seri terakhir Eragon yang katanya dia belum punya. Kalao Minri, hm. Dia lagi nyari-nyari novelnya Agatha Christie, atau Dan Brown deh. Lumayan kan kalau punya siasat buat membalas kejailan Minho? Hehehe…

“Minri, udah belum? Udah hampir jam tiga nih, biar kita bisa mesen kopi duluan, kayaknya antriannya panjang,” suara Sooyoung membuat kepala Minri menoleh. Dengan kalem dia hanya ngangguk, lalu mengikuti kedua temannya keluar toko buku menuju Starbucks.

“Sooyoung-ah, kayaknya aku kebelet deh. Kalian berdua ke sana dulu aja ya, nanti aku nyusul,” ujar Soojung tiba-tiba sementara Minri dan Sooyoung cuma bica ngangguk. Tiba-tiba Soojung berbalik lagi dan menyerahkan plastik bukunya yang baru dibeli,, “Eh, titip ya,”

Akhirnya Minri dan Sooyoung yang mengantri di Starbucks. Tapi ternyata, selesai memesan sekarang giliran Sooyoung yang kebelet, dan dia ninggalin Minri yang terpaksa duduk menunggu di sana dengan tiga gelas kopi di atas meja. Aduuuh, dia gak dikira maruk kan? “Hei, kok sendirian?”

Minri yang sedang asyik sama ponselnya langsung melonjak ketika mendengar suara Minho yang ternyata sudah duduk di kursi di sampingnya. “Eh, anu, Sooyoung sama Soojung ke toilet. Kibum sama Jonghyun mana?”

Minho mengangkat bahunya acuh. “Mereka belom kelar. Aku haus, eh, bagi dong,” tanpa ba-bi-bu Minho langsung menyambar gelas kopi yang ada di depan Minri, dan meminumnya tanpa ragu sebelum Minri bisa bereaksi.

“Loh, loh, itukan punyaku! Beli sendiri sana!” sungut Minri sambil merebut kembali gelasnya. Mukanya langsung merah padam. Itukan gelas bekasnya, terus diminum lagi sama Minho. Be-berarti… me-mereka ci-ciuman gak langsung kan?!

“Males ngantri,” jawab Minho cuek. Dan mereka sekarang berdua lagi, persis kayak pulang sekolah waktu itu. Cuma sekarang nggak ada buku kamus Jepang yang mukul kepala Minho, adanya gelas-gelas kopi yang masih mengepul. “Minri, kayaknya ada yang perlu kuomongin deh,”

DEG!

Perut Minri langsung mules. Itu lagi?! “Kamu masih suka sama si Baekhyun itu?” pertanyaan Minho membuat Minri membeku. EEEEHH??

“Hah?”

“Kayaknya dari tampangmu dan arah mata kamu di restoran tadi, kayaknya kamu emang masih suka sama dia ya?” nah, ini Minri bingung mau responnya gimana.

“Eungg…. Kenapa kamu bisa ngomong kayak gitu?” tanya Minri balik. Jujur, dia sebenernya rada takut kalau harus menatap mata Minho karena… Hey, dia pernah dalam kondisi begini sama cowok itu, dan Minho juga selalu serius. Minri gak tahan kalau dia harus menatap tatapan mata yang dalam itu…

Minri mengangkat sedikit tatapannya dan benar saja! Minho sedang menatapnya lekat-lekat, dan Minri gak tahan dengan degup jantungnya sekarang. “Well, yang jelas aku gak rela kalau kamu masih mikirin cowok gak guna macam dia,” Kening Minri berkerut. “Kalau dulu aku bilang kayaknya aku ada rasa sama kamu, sekarang aku bakal kasih pernyataan pastinya. Aku emang suka sama kamu. Jadi, kayaknya aku gak perlu lagi nutup-nutupin perasaanku, kan?”

“Kalau kamu ngomong blak-blakkan kayak gini, apa itu artinya kamu juga pengen aku ngomong blak-blakkan?” tanya Minri, menghindari mata Minho yang sekarang udah bikin dia panas dingin.

“Ya iyalah. Kamu gak tahu aku harus mengesampingkan semua egoku buat ngomong gini,” gumam Minho dengan suara rendah, membuat Minri terpana sejenak.

Minri diam, tangannya memainkan bandul-bandul gelang di tangan kirinya. “Hh, aku butuh waktu buat ngelupain Baekhyun. Gimanapun, dia crush aku selama bertahun-tahun,”

Minho nggak berkata-kata. Tapi sedetik kemudian dia nyengir, lalu mengangkat tubuhnya dan dengan singkat wajahnya sudah sangat dekat dengan Minri.

CUP!

Minri melotot ketika merasakan bibir Minho menyentuh pipinya. Cuma pipi sih, iya, CUMA PIPI DOANG, TAPI JANTUNGNYA MINRI GIMANA NASIBNYA WOY? “Kamu bakal ngelupain dia kok, dan jadian sama aku,” Nahloh. Minri makin melotot mendengar pernyataan super pedenya Minho. Cowok itu memasang senyum manisnya yang mematikan, sebelum menyambar gelas kopi Minri yang ada di atas meja dan beranjak dari sana. “Soojung sama Kibum udah dateng tuh. By the way, thanks kopinya ya say,”

Sekarang, bilang siapa yang gak bakal luluh kalau misalnya Choi Minho nge-wink sambil senyum miring kayak gitu hahhh?!

END

Hellow!! Aku bawain sekuelnya dan ternyata ini jadi PUANJAAAAAANGGG SEKALEEEEEEE adow, aku pengennya vignette tapi ternyata merembet jadi begini. Minhonya lucu sih. Aku gak tahu apa ini memuaskan, karena aku udah gak bisa bayangin Minho yang lebih aneh dari ini, HUAHAHAHAHA😄 Maap ya Rima, kalaau makin hancur cur cur cur currrrr TT^TT Maap kalauuuu alurnya ngebosenin. Jangan salahkan siapa-siapa disini. Maap kalau Soojung jadi bilang kalau Baekhyun kerajingan make eyeliner. Tapi kenyataan kaaan??#digiles  Makasih yang udah baca, kritik, saran, komen ditungguuuu~~~😄

©2011 SF3SI, reenepott

signaturesf3si

Officially written by reenepott, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “Way To Love You (II)

  1. AAAKKKK… jadi melting nih bacanya.
    iya bener aku setuju, ceritanya bener2 ngalir.
    daaaan bikin aku cengar-cengir gaje.
    ditunggu part selanjutnya. ^^

  2. haha.. ffnya lucu bangett.. keren kerenn.. aku barusan nonton LA korea festifal di kbs, dan SHINee nampil.. tp minus minho:(, nonton music bank in brazil, SHINee nampil jg tp … minus onew:( SHINee nampil gak pernah lengkap lgg

  3. ffnya lucu bener2 tipikal anak sekolahan , aduuu si minong knp km cute sekaliii :3 huhu jd kangen shinee.. pengen liat mereka di inkigayo etc huhuhu

    untuk seterusnya selamat trs berkarya yaa author favoriteku ini🙂

  4. reen, ini ceritanya SMA bukaan? Lucuu bangeet, aku jadi ngebayangi masa masa sekolah yg belum bisa nyetir jadi kemana2 kalau gaul mesti naik taksi wuahaha

    cutie pie Minho *cubit pipi
    the type of boy who pulling hair of the girl he likes haha
    sabar sabar yaa Minrii hihi

    1. Iya banget doooooong ngikutin yang buat *cringggg*
      AAHAAAAHHH Aku bangetttt wkwkwk😄
      gemes kan sama MInho? gemes kan? iya kan? #diinjek wuahahahahah😄
      Makasih yaaaa ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s