Sorry

Sorry

Main Cast: Lee Taemin | Lee Hana (OC)

Support Cast: SHINee members

Length: One Shot

Genre: Angst, Romance, drama, fantasy, supernatural, tragedy, romance

Rating: PG

***

“Tidakkah kau rasa ia berbeda?”

“Ya, sejak kejadian itu.”

Empat orang lelaki memandang gundah lelaki lain yang tengah melemparkan pandang ke luar jendela cafe. Rintik-rintik air turun membasahi Bumi, menciptakan embun saat hangat nafasnya bertemu dengan dinginnya kaca transparan yang membatasi ruang tersebut dengan dunia luar. Hela resah terdengar samar di balik riuh ramai cafe tersebut. Bukannya mereka berempat saling berpisah meja dengan orang itu, namun yang dijadikan pembicaraan tampaknya memang tak sadar.

Tak ada reaksi.

Dan tiba-tiba saja lelaki itu bangkit dari bangkunya dan langsung berlari keluar menembus hujan yang tak begitu semangat mengguyur. Senyum di bibirnya merekah lebar saat ia melihat seorang gadis muda berpayung biru tengah berjalan sambil membaca pesan di ponsel.

Noona!” panggilnya riang. Begitu si gadis menoleh bingung, ia tersenyum dengan semakin cerah lalu melambaikan tangannya dengan heboh.

“Taeminie?” gadis itu tampak agak terkejut namun cukup senang juga. Ia melangkah girang menuju lelaki berambut hitam itu. Namun langkahnya melambat saat gerak tubuh Taemin berubah, hanya melambai pelan dengan senyum ringan. Bahkan sebelah tangannya sudah terparkir di pinggiran kantung celananya.

Gadis itu membelalak lebar saat merasakan deja vu hebat melandanya. Tidak, seingatnya bukan Lee Taemin yang gerak tubuhnya seperti itu. Seingatnya…

Noona?”

Ia kembali kaget saat sadar Lee Taemin tiba-tiba sudah berada di hadapannya. Tatapan lelaki itu bingung dan polos seperti biasa, senyum manis terpatri di bibirnya. “Kau kenapa?” Taemin malah bertanya.

“Kau…,” gadis itu tergagap sesaat. Namun keadaan yang sedikit tegang tersebut perlahan mencair karena senyum Taemin yang polos. Akhirnya gadis itu hanya balas tersenyum sambil bercanda, “Ya ampun, Taeminie. Aku bosan melihat wajahmu. Sudah berapa kali kita bertemu seharian ini?”

***

 “Tae-yah!”

“Hmm?”

“Pakaianmu rapi sekali. Mau ke mana hari ini?”

“Ke tempat Hana noona, hyung.”

“Lagi?”

Ne.”

Kim Kibum -laki-laki yang sejak tadi menanyai Lee Taemin- hanya dapat terpatung diam mendengarkan jawaban singkat Taemin. Ia menatap lama sosok Taemin yang tengah mematut diri di depan cermin. Pikirannya kompleks. Namun hanya senyum kecil dan acungan jempol yang dapat ia berikan saat Taemin meminta penilaiannya tentang penampilan.

“Aku pergi, hyung.”

Taemin pamit sambil melambai ke arah Kibum yang dibalas ringan. Begitu Taemin tak tampak lagi di ujung jalan, senyum paksa di bibir Kibum perlahan hilang berganti raut sedih. Dalam hitungan detik ia meraih ponsel dan menghubungi tiga temannya yang lain, teman-teman Taemin juga.

“Dia pergi lagi?” Jinki bersuara di seberang sambungan. Kibum mendesah berat lalu bergumam mengiyakan. Lelaki itu mulai berujar, “Aku tinggal bersamanya karena khawatir. Kalau dia semakin parah, mungkin kalian juga harus mulai tinggal di sini…”

“Separah itu?”

“Ya, dia lebih seperti ‘dia’…”

“Kau yakin?”

“Hmmm…”

Dan keduanya larut dalam kegundahan yang semakin menyelimuti. Gundah yang hadir akibat rasa sayang mereka pada Lee Taemin, si adik kecil nakal yang mulai aneh.

“Apa kau berpikir….”

“Ya, aku juga berpikir begitu…”

So?”

Maybe he’s in his brother, that’s the worst possibility.

Jinki melenguh berat sambil menenggelamkan wajah dalam lipatan sikunya. Jika benar, itu akan jadi hal terburuk yang pernah ada.

***

Lee Taemin menatap setangkai anyelir merah muda yang tampak segar di dalam vas bunga berisi air. Ia tersenyum kecil. Seperti dugaannya, gadis itu menyimpan bunga itu dengan amat baik. Bahkan bunga itu masih tampak segar walau sudah berlalu waktu sebulan. Hebat sekali.

Di tangannya kini tergenggam kuntum lain anyelir merah muda. Tujuannya sama seperti bulan lalu, memberikannya pada gadis yang sama. Bahkan mungkin nanti akan dimasukkan ke dalam vas bunga yang sama. Taemin tersenyum membayangkannya. Ia melangkah pasti ke depan gerbang rumah itu lalu meletakkan setangkai anyelir merah muda segar di depan pintu itu. Saat merasa sudah mantap, ia menekan bel pintu dan segera beranjak cepat dari sana.

Taemin bersembunyi di balik tembok, mendapati Lee Hana tengah menatap bingung ke luar lalu memungut pelan. Saat bibir Hana membisikkan ‘untuk tahun ke-dua. L.T.’, Taemin tersenyum sendu di tempatnya. Ia menghembus nafas lega dan berkata pelan, “Sesuai permintaanmu, hyung. Kau puas?”

Dan angin berhembus kuat seakan menjawab kata-katanya.

***

Sebulan berlalu. Lagi-lagi Taemin mematut diri di depan cermin dengan pakaian yang sama seperti bulan lalu, seperti dua bulan lalu. Seperti pakaian yang ditinggalkan padanya sejak tragedi lalu.

Kibum masih duduk di tepi tempat tidur sambil menatap resah ke arahnya. Namun Taemin tampak tak terganggu. Ia hanya fokus pada penampilannya hari ini.

“Ke tempat Hana lagi?” Kibum bersuara juga karena tidak sabar. Kalimatnya disahuti dengan siulan pelan. Ia hanya bisa mendesah pelan. “Tidak heran, kau tampak tampan hari ini.”

“Begitukah? Baiklah, aku tak perlu khawatir,” Taemin menyahut santai lalu meraih kuntum anyelir merah muda yang masih segar dari atas meja. Kibum masih menatap cemas padanya.

“Ini tepat tiga bulan, kau ingat?” Kibum bicara pelan, berusaha tak menyinggung.

“Tiga bulan apa?”

“Aku tahu kau tak pernah melupakannya.”

“Ya, kau benar. Aku hanya bercanda.”

“Jadi… Kau ke sana?”

“Tidak, aku akan ke tempat Hana.”

Kibum kembali menghembus nafas resah. “Baiklah, hati-hati di jalan. Jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai…”

“Tenanglah, Kibum. Ini yang terakhir. Kau takkan perlu mengkhawatirkan apapun lagi nanti.”

Kibum tertegun di tempat sambil menatap lawan bicaranya yang kini melenggang pergi dengan tenang. Tentu saja ia terkejut, karena sosok yang ia lihat dan suara yang ia dengar tadi bukanlah milik Lee Taemin.

***

Laki-laki berambut hitam berdiri tak jauh dari pagar gerbang yang sedikit menunjukkan celah. Ia memandang sendu jendela coklat yang daunnya terbuka lebar di lantai dua. Tirai berwarna merah muda melambai pelan dihembus angin. Dua tangkai anyelir merah muda pemberiannya dua bulan ini tersampir rapi di dalam vas berisi air. Senyum tergambar jelas di bibir penuhnya, namun matanya tak benar-benar menunjukkan kebahagiaan. Yang ada malah kesedihan dan penyesalan.

Eomma, aku berangkat.”

Saat suara gadis yang ia nantikan terdengar, ekspresinya langsung berubah cerah. Dan gadis itu terkejut bukan main saat hampir menubruknya yang ada di balik gerbang. Namun layaknya gadis kebanyakan, ia tak bisa menahan diri untuk mengomel.

“Ya, Lee Taemin! Apa yang kau lakukan di sini?! Mengagetkan saja!”

“Memangnya kenapa?” Laki-laki yang diajak bicara hanya tersenyum kecil dengan tenang sementara si gadis sibuk mengatur nafas dan detak jantung yang tak karuan karena keterkejutannya.

“Bagaimana bisa kau bilang ‘memangnya kenapa’??!!” Hana, gadis itu tak bisa menahan teriakan galanya. Namun ia hanya disambut gelak tawa ringan. Untuk kesekian kalinya jantung Hana berdegup ganjil saat mendengar tawa itu. Tidak, ia seakan tidak berhadapan dengan Lee Taemin yang ia kenal.

“Aku sedang menunggumu. Apa salah?” Taemin bersuara. Mata gelapnya menatap lurus ke arah Hana. Dan saat gadis itu mendongak, nafasnya semakin tertahan. Ia yakin benar mengenal ekspresi itu.

“Tae…Taesun?” bisiknya tak percaya. Air mata hendak merebak keluar dari kelopak matanya namun tertahan rasa tak percaya dan bingungnya. Alhasil nafasnya semakin sesak sekarang, seakan ia butuh tabung oksigen saat ini.

Lelaki di hadapannya masih tersenyum kecil. Ia menyelipkan helai-helai rambut yang lolos dari kunciran ekor kuda Hana perlahan lalu meraih lagi beberapa helai yang masih rapi. Ia berkomentar pelan, “Hari ini kau terlihat sangat cantik. Hendak ke mana? Makan malam bersama tunanganmu?”

“Tae…sun…,” air mata Hana tumpah ruah. Tak tahu lagi kata-kata yang harus diucapkannya selain nama yang sudah seperti mantra di dalam kepalanya. Namun lelaki bersosok Taemin itu mendekatkan telunjuk kanan pada bibirnya. Masih tersenyum, namun semakin sendu.

“Dia sangat beruntung mendapatkanmu. Pastikan dia tahu itu,” katanya tegas. Tangan kanannya terangkat dan tampaklah setangkai anyelir merah muda tergenggam di sana. Hana menatapnya bingung namun lelaki itu menyerahkan bunga indah tersebut padanya dan berkata, “Ini yang terakhir, setelahnya kau tak akan terganggu olehku lagi.

“Ti…tiga?”

“Sejumlah dengan tahun selama aku mencintaimu tanpa kata. Aku hanya ingin memberikannya. Jika kau tidak mau, kau boleh membuangnya.”

Tangis Hana semakin deras saat luka semakin tampak jelas di mata lelaki itu. Bagaimana tidak? Ini persis tiga bulan lalu. Dengan pakaian yang sama, sepatu yang sama, tatanan rambut yang sama, nada suara yang sama. Namun kali ini bukan wajah Lee Taesun yang ia rindukan yang berada di hadapannya. Yang ada ialah Lee Taemin, adik lelaki itu. Apa semua mimpi buruk itu akan terulang lagi?

“Ma…mana mungkin aku membuangnya, bodoh…,” isak Hana terdengar kacau saat ia menghempas tubuhnya begitu saja dalam peluk Taemin. Lelaki itu diam tanpa suara. Tangannya tak balas memeluk, hanya membelai pelan kepala gadis itu. Begitu saja.

“Tapi suatu hari kau tidak akan mengingatku. Kau pasti membuangnya…,” bisikan terdengar tepat di depan telinga Hana. Isaknya semakin keras, semakin deras. Semua mimpi buruk itu terlintas lagi di benaknya, berputar-putar dan membuatnya pusing.

“Untuk siapa bunga itu?”

“Ee…mmm… Untuk…”

“Hana-ya?”

“Jinki oppa?”

“Hyung?”

“Taesunie, sedang apa kau di sini?”

“Ka…kau sendiri, hyung?”

“Bukankah tidak aneh aku berada di rumah tunanganku?”

“Kau pasti akan melupakanku suatu hari nanti, Hana-ya,” bibir Taemin membisik di depan telingan Hana dan gadis itu dapat mendengarnya dengan jelas saat ia menyambung, “tapi aku untukmu selamanya….”

“Hana-ya?”

Hana tersentak saat mendengar seorang lelaki memanggil namanya. Ada keterkejutan terselip di sana namun ketenangan menutupi selebihnya. Baik gadis itu dan sosok Lee Taemin melempar pandang ke arah laki-laki itu. Ketiganya diam sesaat sampai akhirnya lelaki yang baru datang, Lee Jinki, mulai tersenyum dan mendekat pada mereka. Ia menarik tangan Hana perlahan.

“Apa yang sedang kalian lakukan? Orang bisa salah paham jika melihat kalian berpelukan seperti itu,” ucap Jinki tenang dibalut canda. Hana tertunduk, tak berani berkata. Taemin menatap kosong dengan mata gelapnya. Dan suasana kembali beku.

“Orang tuaku sudah menunggu kita. Kau siap?” Jinki bertanya lembut sambil meremas pelan telapak tangan Hana. Gadis itu mengangguk. Sisa-sisa isakannya masih terdengar.

“Sampai jumpa, Taeminie,” ucap Jinki ringan lalu menarik Hana bersamanya. Ia tak mempermasalahkan tangan Hana yang bergetar sambil menggenggam anyelir merah muda. Ia tak mau mempermasalahkan apapun saat ini. Baginya bukan waktu yang tepat lagi. Di seberang jalan mobil hitam mewahnya telah menanti dengan anggun.

Hyung!”

“Hmmm?” Jinki menoleh saat mendengar lelaki berjas putih yang ia tinggalkan tadis memanggilnya. Matanya membelalak saat melihat dengan jelas bahwa bukan wajah Taemin lagi yang ia dapati di sana, melainkan wajah Taesun.

Taesun tersenyum sendu ke arah keduanya dan berkata, “Jaga dia, jangan sampai ia hampir tertabrak lagi seperti tiga bulan lalu. Aku tidak lagi punya nyawa untuk melindunginya.”

Setelah meredam keterkejutannya, Jinki membalas, “Aku tahu. Terima kasih karena telah menukar hidupmu dengan keselamatannya.”

“Kau tak keberatan walau tahu aku mencintainya?”

“Setelah kau meninggal dan aku menemukan semua catatan harianmu, aku menyesal memilikinya…”

Hana mendongak, menatap heran Jinki yang tak terdengar ragu sedikitpun saat mengatakan hal itu. Di seberang sana Taesun tersenyum lebar, seakan lega. Dan air mata itu merebak keluar begitu saja karena yang tertangkap lensa matanya ialah sosok Lee Taesun yang ia rindukan.

“Kalau begitu, jaga dia untukku.”

“Ya, tentu.”

“Dan katakan pada Kibum aku menitipkan sementara Taemin padanya.”

“Tanpa kau pinta pun ia sudah menjaganya.”

“Kalau begitu, pergilah. Aku pun akan pergi.”

Taesun masih tersenyum sendu, melambai tenang ke arah keduanya seperti biasa. Baik Jinki dan Hana tak dapat mengucap satu katapun saat melihat sosok yang sedari tadi mereka tatap seakan hilang dihembus angin. Gadis yang sejak tadi tangannya digenggam Jinki perlahan terduduk lemas di atas aspal. Isakannya semakin deras. Lelaki di sampingnya hanya bisa menatap ruang kosong yang ditinggalkan Taesun di seberang sana.

“Jinki…oppa…”

Jinki menoleh perlahan ke arah gadis itu, ekspresinya tampak kompleks saat ia menjawab, “Ya?”

“Maafkan aku… Aku mencintainya…”

Dan angin menghembuskan kata cinta yang tak lagi dapat tersampaikan karena tameng waktu. Selalu begitu. Waktu tak dapat ditarik kembali, tak terkejar, dan tak tunduk.

Di tempat lain yang tak terlihat keduanya, lelaki tadi melihat mereka dengan tatap kosong. Air mata mengalir begitu saja dari kedua kelopak matanya. Sosoknya Lee Taemin, namun Lee Taesun masih mengisi raganya. Masih mengalirkan air mata, ia tersenyum kecil, “Kau jadi tahu bagaimana rasanya cinta itu kan adik kecil?” bibirnya berbisik lirih. Kepalanya mengangguk sesaat.

“Terima kasih telah meladeni keegoisan hyungmu ini, adik kecil. Sudah saatnya kita berpisah,” suara tenor Taesun terdengar keluar dari bibir tebal pucat itu.

Hyung,” suara Taemin yang terdengar kali ini. Bibir itu membentuk senyum seakan merespon panggilan singkat itu. “Maafkan aku yang teledor saat itu. Kalau tidak, mungkin kau yang menggenggam tangannya saat ini…,” ucap suara itu lagi.

“Tak apa,” jawab suara Taesun, “ini balasan karena tak merespon perasaaannya walau aku sudah tau sejak tiga tahun lalu. Kutukarkan hidupku demi hidupnya dan kupikir ini impas. Lagi pula, Jinki hyung ada untuk menjaganya…”

Mata coklat gelap itu masih menatap nanar ke arah dua orang yang ia tinggal tadi. Bibir tebal itu kembali berbisik, “Dan mencintainya…”

Perlahan sosok transparan keluar dari tubuh Taemin. Senyum terukir di bibirnya yang pucat, senyum yang amat kompleks. Ia menunjuk ke dadanya dan berbisik pelan seperti hembusan angin, “Aku merasakannya saat berada di dalam dirimu.” Ia melambai pelan dan sosoknya semakin tinggi terangkat ke langit, “Waktuku di dunia ini sudah habis. Jaga dirimu baik-baik, Taeminie.”

Taemin tahu betapa Lee Taesun amat menyayanginya walau tak terucap dalam bentuk kata. Air mata semakin deras mendesak keluar saat sosok itu hilang. Ia tahu Taesun sudah benar-benar pergi. Namun ia tak sempat mengucapkan hal yang sangat penting. Akhirnya ia hanya mampu berbisik pelan.

“Maafkan aku, hyung. Aku juga mencintainya…”

-Fin-

29th June 2014

7.27 pm

 

©2011 SF3SI, Bella Jo

bella-jo-signature

Officially written by Bella Jo, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

30 thoughts on “Sorry

  1. sederhana tapi kompleks (?)
    aku nggak tau gimana nulisnya tapi gambaranku ttg fic ini ya itu tadi, sedethana dan kompleks di saat bersamaan, dan aku suka secara keseluruhan

    1. yups, ini memang cerita kompleks yg dipaksa2in jadi satu cerita ringkas. mungkin terlalu maksa malah. haha…

      btw, thanks for dropping by, keyeoja. mian krn cerita kali ini bukan ttg key…

  2. eh sial jadi emin kesurupan Taesun eoh?
    Aigoo bintang utama bukan bum bum kali ini…
    dan MWO !!! Emin mencintai yeoja itu juga aigoo aigoo…

    Taesunnie istirahat dengan tenang disana, ok.

    =”=…

    berasa gua ngedoain orang yang masih idup supaya mati masa…
    tapi keseluruhan OK

    1. hehe.. he’eh, si mimin emg kerasukan ama sunnie.
      n sorry karena g bikin kibumie jadi main cast kali ini.

      ehmmmm… yah, ini cerita yg mungkin terlalu kompleks tapi aku senang kamu menikmatinya.

      thanks for dropping by~

  3. Woah…. Saya shock! Ternyta taeminnie suka jg sm si noona.. Hari ini ultah aku;;) berhubung bias aku taemin, baca ff ini jd double happynya… Well, As expected from bella jo, i’m amazed:)

    1. hihihi… such a surprise in the end….
      yah, namanya perasaan manusia ga ada yg bisa nebak ^^

      happy birthday~ mungkin telat banget aku ngucapnya #plaakkk
      semoga ceritanya bisa menghibur, deh^^
      thank you so much~

      thanks for dropping by~

  4. Woahh..
    Aku udah nyangka kalau taemin tuh kerasukan.. T_T tapiii.. Taem juga mencintai hana noona??
    OwO
    Oh My.. Endingnya cukup surprised!
    But, overall, aku suka ceritanya🙂
    One Word : daebak!
    Keep writing eonni..😉

  5. halo aku merusuh
    hah tuh kan kalo supernatural pasti jatuhnya serem begini
    iye aku takut hantu hahaha

    aku agak lamban mencerna hubungan antara taemin-taesun sama jinki
    lah ternyata si hana tunangannya jinki terus suka sama suka sama taesun gitu ya
    terus itu taem juga akhirnya suka sama hana gara-gara possessed by taesun trus ujung-ujungnya suka juga
    wowowo ini cukup ribet narik love line-nya
    okay, baiklah mungkin aku nggak berada di mood yang pas untuk memahami semua ini dengan benar hahaha

    makasih bella atas ceritanya😀

    1. selamat datang merusuh, kakak~

      bella senengnya yg supernatural sih, tapi akhir2 ini jarang dapat mood n waktu buat nulis jadi rasanya sulit banget. yah, cerita ini sebenarnya rancangan awal untuk taemin’s birthday tahun lalu tapi ga jadi karena terlalu biasa bahkan bagi bella sendiri. n mungkin mood bella juga kurang bagus waktu nulis ini jadi kesannya terburu2 banget.
      sori kalo ribet, mmg bagusnya ini jadi sequel yg lebih panjang sih… ahahaha…

      makasih udh merusuh juga, kk~

      1. hahahaha iya ini kesannya agak kaya dikejar-kejar biar buru selesai
        jangan dipaksakan kalo gabisa ngebikin jadi sekuel karena nanti malah pusing sendiri
        iya sama-sama :3

        1. haha… bner, kk. bella juga ngerasa gitu. sayangnya nih ide mmg cocok dbuat sequel panjang tapi bella masih belum punya cukup waktu untuk ngebuatnya. makanya jadi gini. haha…

  6. Oh my!!! i will to crying T_T
    kompleks banget ceritanya, sungguh
    aduh beneran deh
    keren idenya, sungguh keren
    aw berasa aku didalam sana, berasa jadi lee taemin hihihi
    good job for you, author:D

    1. #siapin ember
      hehe… mmg kompleks ceritanya… semoga menghibur, deh^^
      aku mau jadi key-nya aja, ga mau kerasukan kyk taemin. hehehe…

      thanks for dropping by~

  7. sebenernya disini yg kasian itu jinki ya.. nyesek aja gitu /pukpukjinki/ bhaha
    nah nah aku suka key nya disini masa. kayanya bener2 jd hyung yg baik buat taemin, gantiin taesun awawaaaw;-;
    ^^b

    1. hehe… jinki jadi nyesek abis. udh tahu gmn perasaan Taesun bgt tuh cowok meninggal. #ppukppuk jinki juga

      key kan bisa jadi hyung yg baik tapi dia bakal tetap selalu cerewet. hahaha…

      thanks for dropping by, Oshin~ suka deh sama gambar wp kamu *hbs biasanya Oshin jarang pakai gambar tertentu utk accountnya siiih*

  8. Wah… Drama banget… Lebih seru kalau dibuatin sequel… Dan endingnya sedikit nyesek sampe mau nangis… Tapi gak sampe nangis sih… Ya walaupun di awal agak bingung ini kenapa, Taem kenapa, Kibum Jinki siapa, hubungan Hana Taesun apa… Tapi untungnya sudah mulai mengerti di akhir… Suka deh sama yang nyesek2… Kalau bisa dibuatin sequel thor kalau yang kek gini ceritanya… (modus aja sih pengen baca sequel… Soalnya jarang ada sequel bagus dan gak ngebosenin…)

    1. membuat bingung readers memang salah satu hobiku. haha… #plaaak
      tapi kan semua terjawab begitu baca sampai akhir ^^

      sebenarnya aku g jago2 banget buat yg nyesek2. takutnya bkn sequel malah bneran gagal nangis karena feelnya ga dapat. hahahaha…

      thanks udh mampir~
      *muach muach*

  9. Author-nim aku emosi, Jinki punya tunangan , zzz
    Tapi pemeran utamanya itu loh Taesun, jleb bgt ampe mati begitu, omaigat
    Huhuuuuuuuuuuuuu ( TT TT )
    #keepwritinghwaiting

  10. baca ff ini stelah baca komen adalah SEBUAH KESALAHAN!!!!!! huwaaa nyesel😥 pokoknya ff ini keren!! ceritanya gimana ya…pokoknya ini…speechless –” intinya kelewatan kerennya😄

  11. Daebak thor.
    A bit supranatural wkwkwk.
    Awalnya jujur aja aku tuh gak ngerti ceritanya tentang apa, hubungannya apa, apalagi hubungan taemin dengan taesun. Ternyata kesurupan wkwkwkwk.
    Tapi akhirnya terjawab juga sih dan akhirnya ngerti juga.
    Btw, sorry aku baru baca ffnya jadi commentnya baru skrg nih^^

    1. makasih~
      wah, ga kesurupan kok, cuma kemasukan aja. hahaha
      syukur deh cerita ini ga terlalu membingungkan
      iy, ga papa kok~

      makasih udah mampir~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s