Rotten Apple

ROTTEN APPLE

Author: Haelee15

Main Cast        : Choi Minho

Length            : Drabble

Rating              : T

Genre              : Angst, Romance

“Sudah busuk dan mati. Dari akar hingga buah, semua sudah tidak ada. Rasa cinta itu tinggalah memori.Berguguran tak mampu bertahan.”

**

“Kita akhiri saja hubungan ini.” Minho. Waktu itu, dia berucap kaku dengan wajah sedingin besi. Pandangannya dibuang, seolah tak sudi menatapku.

Aku tertegun. Mendadak bungkam dan tak mampu bernapas. Secara intelektual, kalimat yang terucap dari bibir lelaki jangkung itu benar, dan aku tidak salah dengar. Namun batinku tidak mampu menerimanya. Kenyataan bahwa Minho—mengakhiri semua ini.

Seluruh pasokan oksigen yang mengitariku terenggut paksa oleh kilat mata pria itu yang tiba–tiba memandangku sinis. Yang jelas bukan sorot mata teduh yang selalu membuatku tenggelam dalam lautan iris madunya. Seperti bukan Minho.

“Ke—kenapa?” tanyaku terbata dengan suara bergetar hebat menahan tangis. Bulir bening itu mulai menggenangi rongga mataku, dan menunggu waktu mendorongnya turun menyusuri pipiku yang tirus.

Sekali lagi Minho membuang pandang, tatapan matanya menerawang jauh menembus masa lampau ketika maniknya tertumbuk pada aliran sungai tepat di hadapan kami. Tempat yang sama, seperti dua tahun lalu.

“Aku tidak ingin melukaimu lebih jauh.”

Langit runtuh menimpa kepalaku dan membuatku pening setengah mati. Rasa sakit itu membakar hatiku hingga hangus. Seketika hancur menjadi abu.

Tidak, Minho. Tidak. Aku tidak terluka. Kau hanya mengambil spekulasi keliru bahwa aku terluka. Bukan seperti itu kenyataannya.

Minho pergi meninggalkanku tanpa sepatah kata lagi. Tanpa sempat aku menjelaskan dan mencoba mempertahankan hubungan yang sudah terjalin selama dua tahun ini. Tanpa sempat aku berucap maaf. Aku diam membatu karena keterkejutan dan ketidakpercayaan menatap punggungnya yang semakin mengecil dan menjauh.

Aku tidak bisa menggapainya lagi. Usaha memanggilnya kembali tak tersampaikan karena tenggorokanku tercekik salivaku sendiri.

Aku menunduk dalam. Menangis tersedu seperti orang gila dan tanpa sengaja melihat sebuah apel merah yang mengerut keriput dimakan waktu. Merahnya pudardengan bercak-bercak kecoklatan yang menyedihkan, hampir membusuk.

Dua bulan sudah, kejadian itu berlalu. Waktu berjalan lambat tanpa sosok Minho.

Aku tersenyum sangat pahit. Kenangan bersama Minho, tepi sungai yang dihiasi ratusan spesies tumbuhan, sosok Minho yang dingin ketika dia mengakhiri semuanya dan apel yang membusuk di bawah kaki. Entah kenapa, kesemuanya tampak saling terkait.

Apel busuk, mungkin bisa diibaratkan sebagai rasa cintaku pada lelaki itu.

Dulu, aku bertemu tidak sengaja dengan pria itu. Terpesona melihat ladang hatinya dan pemiliknya yang lembut. Kemudian berangan–angan suatu hari bisa menabur benih rasa cinta disana.

Tak sekedar bermimpi, aku kerap kali menatap penuh harap ladang indah itu dari jauh dan membuat si pemilik bertanya padaku. “Maukah kau menanam pohon disini?

Dengan rasa bahagia yang membuncah, aku tersenyum dan mengiyakan permintaannya. Tidak, pohon yang dimaksud adalah metafora. Si pemilik memintaku menabur perasaan cinta disana dan mengajakku merawatnya bersama.

Waktu berlalu cepat, benih itu tumbuh menjadi pohon apel yang besar dan kokoh. Dengan akar menghujam tanah dan dahan mencakar langit. Suka-citaku dan si pemilik ladang mengiringi pertumbuhannya. Pohon itu berdiri anggun dengan bunga–bunganya, perkembangan awal sebuah apel.

Namun, semua tidak abadi, si pemilik mengusirku pulang, memaksaku membawa serta pohon yang kutanam bersamanya dan meninggalkan akar di ladang itu. Tak hanya merusak pohon, pemilik itu sudah membuang jauh akar pohon apel ke tempat yang tidak terlihat dan mustahil ditemukan. Sang pemilik sudah melupakanku dan tidak ingin mengenalku lagi. Semua hancur akibat sikapnya yang selalu menarik kesimpulan sendiri.

Kini, pohon apel lebat itu sekarat. Dengan daun yang gugur sepenuhnya dan tanpa akar. Tinggal menunggu waktu, kapan pohon itu mati. Aku tidak bisa menanam kembali pohon itu tanpa ladang, tiada ladang untuk pohon rusak itu. Terlebih, aku tidak bisa menanam di ladang yang sama seperti pohon itu tumbuh pertama kali.

Buah setengah matang dari pohonnya itulah yang sekarang tersisa. Tapi artinya, buah itu tanpa akar dan tanah untuk tetap tumbuh. Mereka akan mati membusuk. Disini akulah yang paling tersiksa. Akulah yang paling menderita. Semua kesalahpahaman bodoh itu, membuat pohon kami harus dicabut paksa oleh pemilik tanah itu sendiri.

Semua sudah busuk dan mati. Dari akar hingga buah. Tidak terselamatkan.

Rasa cinta itu tinggallah memori.

Selamat tinggal. Terima kasih.

Choi Minho.

– Fin –

Aaaa I know it’s not good FF, but I’ve tried. Give me appreciate if you mind, thanks ! Hei just reminding, if you find smiliar ff with same title different cast in yourworldhere.wordpress.com, they were belongs to me, too!

GBU all~

Special post from the past, May15th. @FitriKamila34

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

9 thoughts on “Rotten Apple

  1. Hmm, tahu nggak, sejujurnya … ah sudahlah.

    Aku koment aja. Sebenarnya agak gak jelas, sih. Ini latar belakang mereka pisah apa? Salah paham masalah apa? Aku nggak ngerti apa aku yang lola?

    Btw, ini bukan drable, ini ficlet. Yah, cerita cinta yg bad end, tapi sama sekali nggak angst, sekadar sad. Dan dari idenya sudah biasa karena itu feel harus ditonjolkan, tapi aku nggak bisa ngerasain. Oke, hatiku kayak batu klo ngomongin romance.

    Hey, tapi aku suka pengandaian cinta seperti sebuah pohon … apel. Tapi, apa hubungan cinta sama apel?:-/

  2. sejujurnya ya, aku ga dapet feelnya sama sekali, mian:/

    dan background hubungannya juga blur, ga jelas.

    cuman aku suka analoginya tentang perasaan dan apelnya (tbh, you got my attention with the ‘title’, soalnya punya sejarah sendiri juga sama ‘rotten apple’) *lhakokmalahcurcol*

  3. Perumpamaan yg bgus, pnggunaan majasnya pas bgt.
    Udh, gtau mau komen apalagi😀 .. Yg jlas yg mnonjol itu ya d situ, d bhasa perumpamaannya.
    Maaf, gabisa ksih kritik bgian mna yg kurang. Cuma ksih pujian tntang mjas aja😀 … Intinya mnrut aku ff nya udh pas kok🙂

  4. yah, kayaknya hana bner.
    tapi aku suka perumpamaan ttg phon apel yang mengisut busuk bersama pohon dan akarnya. ntah kenapa kebayang banget.
    mungkin lain kali bisa dibikin sedikit lebih jelas latar masalahnya, juga perasaannya kalo emg mau bikin angst. ga papa, udh mau menuliskan ide yg aa itu udh bagus lho. cuma butuh digali dan diasah lagi aja.
    thanks buat ff-nya. semangat~~

  5. ga jauh beda sama komen2 diatas sepertinya..
    tapi berhubung aku juga gak jago nulis jd aku gamau komen panjang2 heheu. semoga next time, ff kamu bisa lebih bagus dan berkembang dari ini. semangat~^^b

  6. Pertanyaan aku “kenapa mereka pisah?” maksud aku “salah paham kenapa?” “si cewek salah apa?” “jd siapa yang salah? Cewek? Atau cowok?” itu aja sih… Dan kayaknya ni ff pas banget sama pengalaman aku yah…. Hahaha

    Aku gak pandai nulis sih… Jd gak tau mau kasih saran apa… Jadi aku doain sukses aja buat ff selanjutnya…

  7. Sama dengan yang lain aku kepo masalah apa yg melatar belakangi putusnya mereka. Apa yang bikin minho mikir kalo perlakuan dia nyakitin cewenya? Anyway aku suka banget nih perumpamaan ladang-ladang (?) di atas.

    “Dulu, aku bertemu tidak sengaja dengan pria itu. Terpesona melihat ladang hatinya dan pemiliknya yang lembut. Kemudian berangan–angan suatu hari bisa menabur benih rasa cinta disana.” — diksinya cantik banget (;A;)

    “Tak sekedar bermimpi, aku kerap kali menatap penuh harap ladang indah itu dari jauh dan membuat si pemilik bertanya padaku. “Maukah kau menanam pohon disini?”” — perumpamannya itu loh. Keren.

    Keep writing ya author-nim ^^

  8. Keren… Tapi perumpamaannya miane. Ada yng kurang dari ff ini dan terlalu biasa. But i like the parable hmm cool..

    Okay just it.. Hwaiting n please always love SHINee. Do your best lovely writer!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s