(Not) A Virtual Marriage – Part 6

not-a-virtual-marriage

Thanks to Hyunji (cafeposterart.wordpress.com) for this amazing poster~😄

Title : (Not) A Virtual Marriage

Author : vanflaminkey91 (@alexandriavania)

Main cast :

  • Lee Taemin SHINee
  • Son Naeun A-Pink
  • Krystal Jung f(x)
  • Kim Myungsoo Infinite

Support cast : Jung Eunji A-Pink, SHINee, Kim Taeyeon Girls’ Generation, etc.

Length : chapter

Genre : AU, romance, marriage-life, angst, friendship

Rating : PG13

Summary: Bagaimana jika Taemin dan Naeun memang telah menikah bahkan sebelum WGM benar-benar ‘mewujudkan’ keberadaan mereka?

Inspired by: Selene 6.23 + WGM  Taemin-Naeun Episodes.

A.N: FF ini menceritakan kejadian fiksi yang terjadi setelah We Got Married selesai. Seluruh comeback, album, konser, acara, dll yang berhubungan dengan karir para idola di FF ini hanyalah fiksi / menyesuaikan dengan kenyataan (sehingga beberapa ada yang tidak sesuai)

Recommended Songs: Scarborough Fair (Yao Si Ting version), So Long (A-Pink), Sleepless Night (SHINee), Tell Me Why (Toheart)

 

 

Ketakutanku tak beralasan.

 

(Not) A Virtual Marriage

Paper VI – Sick Enough to Die

.

Red Light benar-benar gorgeous, Jungie!”

Itu suara Jessica. Menggelegar dari arah ruang tengah rumah Jung Sister.

Dengan berbekal satu buah laptop yang diistirahatkan di atas pangkuannya, Jessica memutar berkali-kali music video Red Light yang diberikan Krystal kepadanya. Di saat para fans sedang heboh dengan teaser-nya, Jessica sudah heboh dengan full version-nya.

Krystal hanya tersenyum. Bangga dipuji oleh sang kakak yang juga memiliki girlband yang bisa dibilang senior dari grupnya sendiri.

Well, setidaknya ini perbedaan yang siginifikan,” komentar Krystal. “Akhirnya kami diberi konsep yang luar biasa, setelah selama ini. Semoga saja kami mendapat konser sendiri tahun ini.” Krystal memasukkan satu keping kripik kentang ke dalam mulutnya.

“Amin!” Jessica melebarkan senyumnya hingga deretan giginya terlihat. Ia menutup laptopnya, kemudian melirik sang adik yang sangat disayanginya. “Kapan kau akan tinggal lagi di sini, Jungie? Jadi agak sepi sejak kau memutuskan tinggal di dorm.

“Aku masih menyimpan barangku di sini sebagian, Eonni. Jangan khawatir, aku akan gantian tinggal di sini dan di sana.” Krystal memamerkan senyumnya yang paling lebar, membuat dahi Jessica agak berkerut.

“Kau tampak sangat senang.” Jessica menaruh laptop itu di atas meja. Dua kakinya dinaikkan ke atas sofa, menghadap sesantai mungkin kepada Krystal. “Tell me, Sis. What is happening?”

“Tentu saja aku senang, kami akan comeback!”

Jeez, aku kakakmu, Krystal. Aku tahu kau bahagia bukan hanya karena itu.” Jessica mengerlingkan matanya, lantas mencolek bahu sang adik gemas. “Taemin, ya?”

Si Rambut Pirang melotot, “Ya!”

Jessica tertawa, “Benar, kan?”

“Cukup, Eonni!” Krystal tahu wajahnya memerah—pipinya terasa agak hangat. Senyumnya lebar, rahangnya jadi mendadak pegal. “Hihi, baiklah, aku mengaku.”

“Ooooo, yang baru pacaran rasanya sangat bedaaaa.”

“Baru apanya? Ini sudah satu bulan!”

“Masih baru, dong!” Jessica tertawa lagi. “Begini saja, bagaimana kalau kau ceritakan apa yang sedang kau rasakan kepada eonni-mu ini? Sudah lama kita tidak pernah cerita-cerita lagi.”

Krystal melirik jam dinding, “Baiklah. Masih ada satu jam sebelum aku harus ke SM.”

“Aku akan mengantarmu.”

Sambil berusaha menahan senyumnya, Krystal menyambar bantal sofa di dekatnya. Memeluknya erat-erat sambil menerawang.

“Taemin oppa akan datang ke comeback stage-ku.”

“Itu bagus.” Jessica tampak ceria.

“Akhir-akhir ini, sejak dari amusement park, ia terasa lebih romantis. Lebih perhatian. Lebih hangat. Aku jadi semakin yakin dia sudah belajar mencintaiku dan benar-benar melakukannya.”

“Memang tadinya kau ragu?”

“Sedikit,” gumam Krystal mengambang. “Karena… eonni, kau tahu hubungan Taemin oppa dengan Son Naeun, kan?”

“Naeun? Naeun A-Pink?” Jessica membeo. “Mereka partner WGM, kan? Well, mereka memang terlihat dekat. Tapi itu kan mungkin hanya hubungan persahabatan?”

“Kupikir juga begitu. Tapi Taemin oppa tampak menyukainya.” Wajah Krystal mulai mendung. Keceriaannya menurun. Jessica yang membaca situasi ini berpikir lebih cepat.

“Oh, oke. Taemin benar-benar berubah, bukan? Dia benar-benar sudah dewasa.”

Krystal tersenyum lagi. Semakin lebar.

“Ya, itulah kenapa aku menyukainya, Eonni. Bagaimana jika kami go public?”

Jessica menghela napas lega. Siasatnya berhasil. Dia tak tega melihat Krystal sedih. Adik satu-satunya ini adalah segalanya bagi Jessica. Ia akan sedih jika Krystal sedih. Jadi, ia—

Eh…

Jessica baru tersadar akan ucapan adiknya barusan.

Go public?

*

Ne, Sae Eun. Gwenchana. Sampaikan pada Eomma waktu beliau pulang, Eonni menelepon. Tolong, ya, jangan lupa. Ini sangat penting… ne, gomawo, Sayang! Eonni akan menghubungi lagi, annyeong!

Naeun memutuskan sambungan teleponnya dengan sang adik, Son Sae Eun. Ia menghela napas dan mencoba untuk menetralisir pikirannya yang terasa kacau.

“Bagaimana ini?” pikirnya gundah.

Sebulan. Sudah sebulan sejak ‘teror’ dalam bentuk surat itu menghampirinya, Naeun masih belum tenang. Ia terus mencari informasi dan masih buntu dengan ‘siapa pengirimnya’. Kesibukannya juga yang membuat ia tidak bisa terlalu fokus. Saat ini, A-Pink bisa dibilang sedang istirahat. Mereka diberi waktu seminggu untuk berlibur dari segala rutinitas setelah kemarin menghadiri jadwal terakhir mereka.

Naeun tadinya ingin bicara dengan ibunya, tapi rupanya sang ibu dan juga ayahnya tak ada di rumah—begitu kata Sae Eun.

Ia ingin bicara dengan Taemin tentang masalah ini, tapi entah mengapa ia ragu melakukannya.

“Ah, eottokhaeeee.” Naeun menghempaskan bokongnya di atas tempat tidur. Dahinya berkerut. Ia menggigit bibir sambil meng-scroll down atas-bawah daftar kontak di ponselnya berulang kali.

“Kau kenapa?”

Naeun menelan salivanya secara mendadak ketika mendengar suara Bomi di belakangnya. Visual itu berbalik, mendapati Bomi dengan santainya berdiri di ambang pintu kamarnya yang terbuka.

“Kenapa apanya?”

“Aish, lihat saja dirimu! Kau begitu seperti cacing kremi yang kejemur matahari, Naeun!” Bomi tertawa garing, lalu mendekati Naeun. “Aku bosan. Chorong eonni pulang kampung, Hayoung dan Namjoo entah hang out ke mana, sementara Eunji—kasihan sekali, dia masih punya jadwal hari ini. Ketika mau mengajakmu keluar, kau tampak sedang menelepon Sae Eun, jadi aku diam saja.” Ia duduk di samping Naeun.

Naeun menghela napas dan menaruh ponselnya di atas nakas. Lupakan dulu soal kiriman fotokopi surat pernikahan itu, Naeun. Ia menghibur diri dalam hati.

“Entahlah. Aku hanya sedang badmood.

Bomi tertawa, “Mungkin kau mau ‘kedatangan tamu’, Eun-ah!” Gadis feminin nan perkasa itu melanjutkan tawa santainya.

Hanya saja kalimat kelakarnya barusan membuat Naeun merasa dipaku di tempat. Tenggorokannya tercekat. Ia mendadak teringat sesuatu, sehingga diraihnya ponsel yang baru saja ia taruh. Membuka aplikasi kalender di dalamnya.

Bomi yang merasa tidak disambut, langsung mengalihkan perhatiannya pada Naeun. Mengintip apa yang dilakukan gadis itu.

“Kenapa?”

Naeun sendiri tidak mendengar. Ia sibuk menghitung-hitung.

Astaga!

Apa ketika aku pingsan di amusement park itu karena—

“Naeun?”

“Ah, gwenchanaEonni!” Naeun berdiri. “Hmm, apa kau tahu hari ini dan saat ini Infinite ada jadwal di mana?”

Bomi mengerutkan kening. Menatap Naeun heran—biasanya gadis ini tak pernah peduli akan Infinite hingga ke jadwal-jadwalnya, ada apa ini?

“Hmm, kurasa mereka tidak punya schedule apa-apa. Kenapa memang—“

Gomawo! Aku pergi dulu, Eonni!” Naeun menyambar jaketnya, tidak lupa topi, masker dan kacamata hitam. Tanpa mendengar lagi ucapan Bomi, ia segera pergi.

Ia harus bertemu Myungsoo sekarang juga.

*

“Teman Anda akan segera menjadi ibu.”

“Usia kandungannya baru menginjak dua minggu. Sebaiknya ia harus dijaga agar tidak stres, juga pola makannya harus diatur.”

Kim Myungsoo berdiri kaku di depan cermin kamarnya. Kedua tangan bertumpu pada tembok di kanan dan kiri cermin. Otaknya dipenuhi kalimat-kalimat serupa—kalimat yang diucapkan seorang dokter kepadanya, sebulan lalu.

Son Naeun, gadis yang dicintainya, hamil?

Oleh siapa?

Myungsoo sudah menyembunyikan ini dari Naeun selama sebulan dan hidupnya tidak tenang karena dihabiskan untuk memikirkan tentang siapa ayah dari anak yang dikandung gadis itu. Ia menolak kenyataan bahwa hatinya berseru dan menduga bahwa Taemin-lah yang bertanggung jawab. Rival-nya.

Sebenarnya ia merasa jahat karena telah berbahagia dengan renggangnya hubungan Taemin dan Naeun, sekaligus jahat karena tidak memberitahu Naeun akan kehamilannya. Toh suatu saat Naeun pasti tahu. Egonya yang terus bersuara, mengebelakangkan logika dan rasa kasihan.

“Myungsoo!”

Suara Dongwoo.

“Ya, Hyung?”

“Ada yang mencarimu!”

Myungsoo menghela napas, memejamkan matanya kuat-kuat untuk membuang segala yang tengah dipikirkannya.

Pria berwajah dingin itu keluar tanpa tahu siapa yang mencarinya. Ketika ia menarik pintu di belakangnya untuk ditutup, matanya melotot, wajahnya memucat—seperti melihat hantu, bukan gadis pujaannya selama ini.

“Naeun?”

“Kenapa kau pucat sekali melihatku?” tanya Naeun setengah berkelakar dan setengah curiga.

“Tidak apa.” Bruk. Pintu kamarnya tertutup juga. “Ada apa?”

“Langsung saja, ya.” Naeun melihat ke segala arah, memastikan tak ada member Infinite lain yang menguping. “Aku hanya mau menanyakan sesuatu dan ini mendesak—hingga aku tak rela memintamu ketemuan di kafe dan menunggu. Ini penting.”

“Ya?” Myungsoo bingung.

“Sebulan yang lalu…” Sekarang napas Myungsoo serasa disumbat. “…ketika kita ke amusement park, aku pingsan dan sunbaenim membawaku ke rumah sakit, bukan?”

“Ya…”

“Apa yang dokter katakan? Apa aku benar-benar sakit karena kelelahan seperti yang kau sampaikan kepadaku?”

Myungsoo tertawa garing, menutupi kegugupannya, “Hahaha, tentu saja! Kenapa kau menanyakan—“

“Kau berbohong.”

Mata sipit itu terbuka, “Maaf?”

“Katakan apa yang sebenarnya dokter itu bilang, Sunbaenim. Aku yakin bukan hanya sakit karena kelelahan. Aku… aku sudah menghitung tanggal—kalau kau mengerti maksudku.”

What a clever girl. Myungsoo setengah memuji di dalam hati dan setengah mengutuk diri sendiri. Aish. Ia ketahuan berbohong, apa yang harus dikatakan?

Tenang, tenang. Ia bukan sedang menanyai kenapa hubungannya dengan Taemin rusak, kan?

Myungsoo menarik napas, “Baiklah. Kurasa kau sudah menduganya…”

Naeun berdiri tegak. Tak sedikitpun kelihatan takut. Hanya saja gurat sedih itu terselip di wajahnya, di antara rasa senang dan berharap.

“Katakan, Sunbaenim.

“Dokter bilang kau tengah mengandung, Naeun. Sudah dua minggu waktu itu.” Tak seperti dugaan awal Myungsoo, Naeun malah tersenyum lebar. Ah, bodohnya aku—rutuk Myungsoo. Gadis ini pasti senang mendengarnya. Wanita mana tak senang mendengar kabar kehamilannya?

“Jadi benar,” gumam Naeun kepada diri sendiri. Ia akan memiliki seorang anak! Apakah perempuan? Laki-laki? Apa yang akan diberikannya sebagai nama? Apakah—

“Naeun, katakan siapa ayahnya.” Tiba-tiba Myungsoo memotong pemikiran Naeun. “Kau melakukannya karena terpaksa atau—ah, kurasa tak terpaksa. Lihat wajah bahagiamu!”

Sunbaenim, aku…”

“Naeun, aku tidak akan membocorkannya. Aku janji.”

“Tapi, aku tidak ingin kau beranggapan aku wanita yang—“

“Aku percaya ini terjadi karena sebuah alasan, benar?”

“Berjanjilah, Oppa. Berjanji untuk tidak membocorkannya.”

“Ya.”

“Taemin oppa adalah ayahnya.”

Dada Myungsoo mencelos. Sudah ia duga.

“Aish, anak itu. Dasar bocah.”

Sunbaenim, aku juga salah. Taemin oppa dan aku bersalah. Ah, tidak. Kami memang bersalah, tapi ini adalah anugerah.” Mata Naeun terlihat berbinar, membuat Myungsoo tidak tega. “Tapi, jangan beritahu ini pada Taemin oppa, kumohon.”

Myungsoo hampir tersedak, “Apa?”

“Kau mendengarnya, Oppa.

Oppa. Akhirnya Naeun memanggilnya dengan panggilan itu lagi. Hati Myungsoo rasanya berbunga, katakanlah begitu. Sudah lama sekali sejak Naeun berhenti memanggilnya ‘oppa’ dan memutuskan untuk men-‘formal’-kan hubungan di antara mereka. Entah ‘menyogok’ atau apa, Myungsoo tak peduli.

“Tapi, Taemin—“

Jebal, Oppa. Hanya kau dan aku yang boleh tahu soal ini dan mungkin nanti A-Pink pun akan tahu. Aku tak mungkin menyembunyikannya dari mereka.”

“Kalau begitu, baiklah.” Myungsoo tersenyum, setengah bersorak dalam hati. Ia tahu ia jahat dengan berbahagia di atas masalah orang lain, tapi ia tak tahu mengapa ia tak peduli.

“Janji?” Naeun menyodorkan kelingkingnya.

Myungsoo menautkannya, “Ya.”

*

Taemin membenarkan kacamata berbingkai hitamnya, sekaligus memastikan maskernya terpasang sempurna menutupi sebagian wajah. Topinya menutupi rambutnya yang dicat agak biru itu.

Ia mendorong pintu minimarket di hadapannya tanpa ragu.

“Selamat datang!” sapa kasir yang berdiri di belakang mejanya, tepat di dekat pintu. Taemin mengangguk sekilas sambil melanjutkan langkahnya ke dalam. Tak lupa, diraihnya keranjang merah yang disediakan di sana. Ia bersiul-siul mencari-cari apa yang dibutuhkannya dan para hyung—yang dengan menyebalkannya menitipkan segala keinginan mereka kepadanya.

“Dua kaleng Pocari, kripik kentang… banana milk… nggg…” gumam Taemin sambil mengambil asal benda-benda yang ditemukannya. Tak perlu menunggu lama untuk melihat keranjangnya penuh.

“Aish!”

Itu bukan suaranya. Taemin menoleh ke samping. Terkejut karena merasa mengenal suara tadi. Lebih terkejut lagi ketika melihat sosok seorang perempuan tengah membungkuk membelakanginya, memungut sebuah produk susu instan yang tergeletak manis di dekat sepatu gadis itu.

Tentu saja Taemin terkejut. Ia merasa yakin dirinya berhalusinasi. Bagaimana mungkin ia dapat bertemu Naeun di sini?

Oh, dia tak bercanda. Dia kenal betul gadis itu walau hanya suara dan tampak belakangnya saja. Rambut panjangnya yang indah itu… tak akan pernah dilupakannya karena selalu melekat di pikiran.

Jadi, Taemin mendekati perempuan yang sudah berdiri tegak dan tengah memasukkan susu tadi ke dalam keranjang merah di pergelangan tangannya.

“Naeun?” panggil Taemin hati-hati, agar para pembeli di dekat mereka tidak menyadarinya. Untung saja di sana sedang sepi.

Son Naeun tersentak begitu mendengar namanya disebut. Ia yakin penyamarannya sudah lengkap, tapi kenapa—tunggu, ia tahu suara itu.

Nugu?” tanya Naeun ragu, ketika ia sudah berbalik. Ia tahu itu Taemin dari matanya, tapi ia tidak mau terlalu berharap. “Kau bukan sasaeng, kan?”

“Haha, tentu bukan! Aku tahu kau mengenalku!”

“Percaya diri sekali, Taemin oppa.

“Tentu saja, aku kan suamimu.” Taemin terkekeh, tidak peduli mata Naeun sudah melotot lebar. “Tumben saja kau ‘jinak’. Kukira kau akan mengusirku atau kau akan pergi begitu saja dari hadapanku,” sindir Taemin membuat Naeun mendengus.

Lee Taemin tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ada rasa senang melihat Naeun dan rasa kangen yang tertumpah ruah saat itu juga. Bayangkan, satu bulan lebih mereka tidak pernah bertatap muka lagi seperti ini bahkan berkomunikasi pun tidak. Apalagi sejak Naeun memintanya menjauh dan ia melihat dengan mata kepala sendiri tentang Naeun dan Myungsoo di amusement park waktu itu, mereka jadi jauh.

“Baiklah, kenapa kau membeli itu?” Taemin menunjuk susu yang tadi jatuh ke lantai, terletak di antara produk-produk untuk mandi, bumbu masak, dan lainnya. “Kurasa itu susu untuk ibu hamil? Apakah—tunggu! Eun-ah, jangan bilang kau—“

Wajah Naeun mendadak pucat, jika tak ada masker pasti Taemin bisa melihat jelas wajah pucat itu. Jantung Naeun mendadak berhenti. Napasnya tercekat.

“Tidak, tidak! Bukan aku yang membutuhkannya,” potong Naeun cepat. “Kau ingat Ella, teman kita di SMA?”

“Ella?”

“Eunkyung, yang kuliahnya di Amerika.” Naeun terkekeh garing, menutupi sesuatu dalam nada bicaranya. “Dia pulang ke Korea dua hari lalu bersama suaminya. Dia sudah menikah dan dia tengah menanti kelahiran anak pertamanya, jadi aku ingin membelikannya ini.”

“Oh, Eunkyung yang waktu itu? Ne, ne.” Taemin mengangguk, lantas tersenyum tipis di balik maskernya—Naeun tidak menyadari senyum itu, tentu saja. “Aku ingin ikut menemuinya, tapi—“

“Jangan!”

“Kenapa?” selidik Taemin jadi curiga. “Kau tidak berbo—“

“Tidak! Aku hanya—“

“Tenang saja, tenaaaaang.” Taemin mendaratkan tangannya di atas kepala Naeun, mengacak-ngacak rambut gadis itu gemas. “Lagipula aku ada schedule. Sekarang aku harus pergi, pasti para hyung sedang mengomel karena menungguiku begitu lama di van.”

Dewi Fortuna memberkati! Naeun bersorak dalam hati.

“Kalau begitu… hati-hati, Oppa. Semangat!”

Taemin tersenyum pedih. Betapa Naeun tidak ada niat untuk menahannya lebih lama di sini, bukan begitu? Apakah Naeun memang tidak pernah mencintainya? Apakah hubungan mereka benar-benar rusak?

“Baiklah…” Taemin berbalik. Agak berat melangkah meninggalkan gadis itu di belakangnya. Aish, WGM mengubah segalanya. Mengubah hubungan ‘kakak-adik’ mereka, persahabatan mereka, dan perasaan mereka—ah, perasaan Taemin maksudnya. Jika saja mereka tak pernah ikut WGM, segalanya mungkin masih seperti dulu.

Oppa.

Taemin yang hendak mencapai meja kasir segera berhenti. Naeun menghampirinya agak cepat, lalu berjinjit.

“Berbahagialah dengan Krystal. Dia sangat cantik, Oppa,” bisik Naeun pedih. Taemin termangu sejenak, namun bayangan Naeun dan Myungsoo yang dilihatnya waktu itu membuat ia harus menelan rasa sedihnya menjadi ego.

“Kau juga, dengan Myungsoo.”

*

“Kenapa diam saja? Tumben sekali.”

Bukan hanya Gyeongshik sang manajer yang berkomentar seperti tadi. Keempat member lainnya juga mengatakan hal yang sama selama lima belas menit terakhir sejak Taemin terus menerus diam setelah kembali membawa sekantung agak besar berisi snack yang baru dibelinya.

Sang maknae hanya duduk di dekat jendela, menatap keluar sana tanpa minat menanggapi pembicaraan di sekitarnya. Tentu saja, Minho menyadarinya karena Minho tidak tertawa seheboh yang lainnya daritadi, jadi fokusnya lebih besar.

“Aku tak apa-apa.”

“Krystal tadi menelepon.” Gyeongshik teringat akan telepon yang diterimanya ketika Taemin turun membeli makanan. “Dia menanyakan kau.”

“Jadi kami katakan kau sedang belanja,” sambung Onew sambil membuka bungkus kripik kentangnya. “Memang iya, kan?” Satu keping masuk.

Taemin menghela napas.

“Berbahagialah dengan Krystal. Dia sangat cantik, Oppa.”

Dia memang cantik, Naeun—tapi tidak secantik kau di mataku, bisik Taemin di dalam hatinya. Merasakan luka menganga pelan-pelan semakin robek di hatinya. Naeun sendiri yang mengatakannya. Naeun sendiri, gadis yang dicintainya.

“Oh, ayolah. Kau kenapa!” Key punya dua maksud mengatakan ini—peduli pada Taemin dan juga mengalihkan pembicaraan dari Krystal.

“Apa yang terjadi di minimarket, Taemin?” Jonghyun membuka mulutnya setelah daritadi asyik berkutat dengan makanan.

Tapi sampai mobil van itu berkali-kali menghadapi lampu merah, Taemin tidak juga membuka mulutnya. Tidak sedikitpun dikatakan apa yang baru saja ia lewati.

Lagipula ada satu hal yang mengganggunya selain perkataan Naeun tadi.

Ya, ada satu hal.

*

“Hei, Oppa.

Jam 00.00 KST tepat. Taemin menyambut Krystal yang baru keluar dari gedung SM, di dekat mobilnya. Ia hanya memakai topi dan jaket karena yakin di sekitar gedung SM sepi jam segini. Tidak ada yang menyadarinya, ia yakin.

“Kau sudah nonton MV Red Light?” Gadis berambut pirang itu berkata lagi ketika Taemin membukakan pintu untuknya. Taemin tersenyum, lalu menutup pintunya ketika Krystal sudah duduk manis.

“Sudah.” Taemin yang baru duduk di kursi pengemudi akhirnya menjawab pertanyaan Krystal. “Keren sekali. Kalian terlihat berbeda dari biasanya. Oya…” Pria itu mengambil sesuatu di jok belakang.

Krystal menarik seat-belt, lalu melirik.

“Woah!” Matanya dilumuri binar kagum ketika sebuah boneka beruang warna putih dengan ukuran sedang menyambutnya dengan senyum polos. Ia kontan menariknya dari tangan Taemin, memeluk benda lembut itu erat. “Untukku?”

“Untuk semangat sebelum comeback stage,” balas Taemin tersenyum, duduk miring menghadap Krystal. “Aku menemukannya ketika di Gangnam, jadi kubelikan untukmu. Aku senang kau menyukainya.”

“Sangat, Oppa. Gomawo!” Krystal memajukan dirinya, mencium pipi Taemin cepat. “Gomawo!”

Taemin terkejut. Ada rasa hangat di dadanya, rasa persahabatan. Entah, ia hanya bersyukur karena ada yang mencintainya. Namun, di saat yang bersamaan rasa bersalah itu timbul lagi.

Taemin, kau menyeret orang luar ke dalam masalahmu. Ia memarahi diri sendiri dalam hatinya.

“Baiklah, sekarang aku akan mengantarmu. Rumah Jung Sisters atau dorm?”

“Hmmm…” Krystal bergumam. Tak lama senyum lebar terbentuk di wajahnya, “Rumah Jung Sisters!”

Taemin tertawa sambil menghidupkan mesin Porsche merahnya. Ia mulai memundurkan kendaraannya ketika seseorang dari kejauhan mengambil sebuah gambar lagi.

Lagi.

*

Eunji belum pulang. Itu artinya Naeun bebas di kamarnya sekarang. Termasuk bebas berbicara dengan eomma-nya ketika ponsel itu berdering dan memperlihatkan nama sang eomma di layarnya. Tak ada kemungkinan akan ada yang menguping.

Ada apa, Naeun? Sae Eun menyampaikan pesanmu. Eomma harap tidak mengganggumu.”

“Tidak, Eomma. Aku belum tidur, kok, jadi tak mengganggu sama sekali.”

“Baiklah, apa yang mau kau bicarakan?”

“Soal fotokopian surat pernikahanku dengan Taemin, Eomma.

Eomma tidak tahu. Rasanya memang kami tak pernah memberikan surat pernikahanmu kepada siapapun.”

“Aku tahu,” ucap Naeun sambil mengangkat lembar fotokopian yang sedang dibicarakannya, yang akhir-akhir ini selalu dikeluarkan dari tempat persembunyian. Ia melihat-lihat tiap bagiannya dari atas hingga bawah, mengingat bentuk aslinya hingga matanya tertarik pada sesuatu. “Eomma, aku tidak tahu siapa orang yang mengirimiku fotokopi surat pernikahan kami. Tapi ini bentuk teror. Aku menemukan tulisan di sudut fotokopian itu dan aku baru menyadarinya.”

“Apa tulisannya?”

“Pengirimnya mengatakan: kau dan Taemin harus segera berpisah atau segalanya akan bertambah runyam.” Suara Naeun mengecil setiap katanya.

“Ya, Tuhan. Jahat sekali. Kira-kira siapa, ya? Kau tak punya musuh, kan?”

“Tidak, Eomma.” Naeun berujar cepat. “Setahuku tidak. Lagipula hanya pihak tertentu yang mengetahui pernikahan ini, kan, Eomma?”

“Kapan kau akan ke Gwangju? Kita bicarakan saja bersama keluarga Taemin.”

“Tidak! Kita bicarakan bersama Appa saja. Tidak usah membawa keluarga Taemin. Besok aku akan ke sana, kebetulan A-Pink diberi liburan seminggu.”

Wae?

“Pokoknya tidak.”

“Tapi kau tidak akan menceraikan Taemin, kan?”

Naeun tidak langsung menjawab. Hatinya mencelos mendengar perkataan setengah memohon yang baru saja diucapkan ibunya. Ia tidak tega mengatakan bahwa itu rencana yang sedang dipikirkannya, tapi ia tak mungkin menutupinya.

“Aku tak tahu.”

“Naeun…”

Eomma, besok kita bertemu, oke? Sekarang tidurlah, aku tak mau Eomma sakit. Sampaikan salam kangen untuk Appa dan Sae Eun. Jaljayo!”

Naeun menaruh ponselnya setengah dibanting. Ia menghela napas panjang, lalu menarik selimutnya agak kasar. Baru saja ia akan berbaring, ponselnya berbunyi lagi. Kali ini bunyi pesan masuk.

“Astaga,” gumam Naeun ketika mendapati bahwa pesan yang baru masuk adalah dari Myungsoo.

Naeun, jangan tidur larut malam. Jangan lupa makan makanan yang bergizi. Kurangi sarapan junk food nanti pagi dan pagi-pagi berikutnya, oke? Jaljayo! ^^

Sebersit senyum terukir di bibir itu. Sekaligus sedih menjuntai di hatinya.

Seandainya, seandainya Taemin yang mengiriminya SMS itu dengan embel-embel ‘kau sedang hamil’, maka Naeun akan jauh lebih berbahagia lagi daripada ini. Hatinya sakit menyadari fakta bahwa pesan tadi dikirimi orang yang mencintainya, namun tidak ia cintai.

Terimakasih, Oppa.

*

Tok. Tok. Tok.

“Siapa itu yang mengetuk pintu? Ia tidak bisa melihat bel?” gerutu Bomi sambil keluar dari dapur. Naeun yang sedang menyiapkan sarapan di sebelahnya hanya mengendikkan bahu sambil melihat Bomi melangkah keluar.

Di balik pintu dorm A-Pink, Taemin baru saja menurunkan tangannya. Ia datang dengan senyum cerah, percaya diri, dan rapi.

Peduli setan dengan Myungsoo. Hubungan apapun yang dijalaninya dengan Naeun-ku tidak akan menghentikanku untuk mendekatinya. Taemin mengulangi kalimat-kalimat itu di benaknya, melawan pendapat hatinya yang mengatakan bahwa Naeun sudah bersama Myungsoo sekarang.

“Astaga, Taemin?” Bomi berseru kaget mendapati Taemin. “Ya!! Selama ini kau ke mana saja, Babbo? Masuklah dan ikut sarapan!” Bomi menarik tangan Taemin dan menutup pintu secepat kilat.

Naeun yang mendengar ribut-ribut Bomi segera keluar. Tangannya menggantung di udara ketika melihat Taemin berdiri kikuk di belakang Bomi. Tapi Naeun berusaha santai dan hanya memberinya senyum.

“Selamat dataaaaaaang!” Hayoung dan Namjoo dengan semangat menyoraki Taemin di meja makan. Eunji hanya tertawa melihat kegilaan para dongsaeng-nya, lalu mengajak Taemin duduk di sebelahnya, tempat Chorong yang ada di tempat asalnya sekarang.

Bomi mengambil tempat Naeun sehingga Naeun harus duduk persis di hadapan Taemin.

“Kenapa kau ambil tempatku, Eonni?” protes Naeun berusaha menghindar agar tak duduk di hadapan Taemin.

“Biar saja! Duduk sana!”

Naeun menghela napas dan mulai menarik kursi, duduk perlahan di sana. Ia berusaha menghindari eye contact dengan orang yang terus menatapnya.

Eunji, Hayoung, Bomi, Namjoo semuanya saling lempar arti dengan tatapan.

Jadi, Taemin sarapan dengan kelima member A-Pink diselingi candaan dari mereka—kecuali Naeun yang diam seribu bahasa. Terus menghindari kontak mata dengan Taemin yang berusaha membuat kontak itu.

Naeun hanya fokus pada pakaian Taemin. Pria itu mengenakan sweater marun. Bagaimana mungkin ia tidak tertarik dengan hasil tangannya sendiri? Ia ingat betul sweater marun yang dikenakan Taemin sekarang adalah buatannya.

“Naeun.” Taemin akhirnya memanggil. Itu terjadi ketika acara sarapan selesai dan mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Naeun hanya diam seribu bahasa di depan televisi, tak tahu harus bereaksi seperti apa.

Ia jujur saja merindukan lelaki itu, tapi ia tak ingin perasaannya larut. Ketakutannya akan keamanan mereka berdua seakan selalu membelenggunya.

“Kenapa kau ke sini, Oppa?” bisik Naeun nyaris kehilangan suara.

Wae? Memangnya salah mengunjungi istri sendiri? Di sini tempat paling aman karena mereka semua tahu tentang kita.” Taemin mendekat, tapi Naeun malah mundur ke balkon. “Aku merindukanmu, Son. Sebulan ini tak dilalui dengan baik, apalagi setelah melihat kau dengan Myungsoo di amusement park yang—“ Taemin berhenti ketika menyadari apa yang baru diucapkannya.

Naeun melotot, “Apa?”

“Aku melihatmu saat sedang bersama Krystal.”

“Oh.” Naeun membalikkan tubuhnya, menatap keindahan kota dari atas sini bisa sedikit menenangkan daripada melihat Taemin.

“Ya, Tuhan. Demi apapun, Naeun. Kenapa kau begini, sih? Menyuruhku bersama Krystal, menjauhiku, menjadi kikuk. Ada apa denganmu? Kau tidak ingin cerai, kan?”

“Kita sendiri tidak saling mencintai, Oppa. Kita juga sudah mengerti keadaan. Ini hanya pernikahan konyol tanpa cinta. Bohong jika aku tak ingin cerai. Aku masih ingin bebas,” balas Naeun sambil merasakan hatinya hancur mengatakan itu semua.

“Kenapa kau baru meminta di saat aku mulai menyukaimu?”

Mendengar itu Naeun menahan napasnya. Ia melirik ke sudut matanya, merasakan Taemin berdiri di belakangnya dengan putus asa.

“Hahaha, kau selalu menyukaiku. Kan aku adikmu!”

“Tidak. Bukan itu. Aku tak ingin kita terus berada dalam hubungan ‘kakak-adik’, Son. Kau tak mengerti juga?”

“Kau hanya terbuai sesaat, Oppa.” Mata Naeun mulai panas. Kaca-kaca teranyam jelas di depan penglihatannya. “Krystal sangat tepat untukmu.”

“Berhenti bertingkah seolah kau paham hatiku, Naeun!”

Yes, I do! Aku paham hatimu, Oppa!” Suara Naeun meninggi, seiring jatuhnya sebutir air mata di sudut mata kirinya.

“Naeun,” panggil Taemin memegang pundaknya.

Baru saja Naeun akan menepis, suara Namjoo dari ruang tengah mengejutkannya.

“Taemin oppa, kau berpacaran dengan Krystal?!”

Taemin berbalik. Matanya melotot. Mulutnya menganga.

*

SHINee Taemin dan F(x) Krystal resmi berpacaran! SM Entertainment telah mengonfirmasi hal tersebut dan keduanya pun sudah mengakui. Selamat, Taemin dan Krystal!

Pemandangan di kereta memang indah. Pepohonan seolah berlari-lari di dekatmu, ditemani kebijaksanaan langit yang megah dengan biru bersih tak bernoda. Suasana di dalam kereta listrik itu begitu nyaman, apalagi kelas mahal. Orang-orang di sana tampak tenang mengikuti pergerakan kereta yang akan membawa mereka ke Gwangju.

Termasuk Naeun.

Meskipun berulang kali membaca kalimat berita itu di ponselnya, hati Naeun tetap tenang. Seolah ia sudah tahu bahwa suatu hari akan menghadapi ini.

Dan inilah hari itu.

Ketika pertama kali mendengar ini dari Namjoo di dorm, Naeun meneteskan tetesan air matanya yang kedua. Ketika Taemin menghampiri Namjoo dan membaca berita mengenai dirinya, Naeun mengikuti sambil menghapus air matanya. Ia tersenyum lebar, namun perih kepada Taemin.

Siangnya Naeun pergi ke Gwangju dengan membawa kabar ini untuk orang tuanya.

Jadi, inilah akhir hubungan mereka, bukan begitu?

Naeun yakin.

Ia menatap keluar jendela, memperhatikan langit yang begitu luas dan melapangkan perasaannya.

Bukankah ini permintaannya sendiri? Agar Taemin bersama Krystal. Naeun tak patut bersedih. Ini keputusannya sendiri.

Keputusan yang membuat Naeun kehilangan keceriaannya.

“Bercerai?”

Begitulah kata yang diucapkan orang tuanya ketika Naeun sampai dan mengutarakan segalanya. Memberitahu pada mereka bahwa Taemin sudah mendapat penggantinya. Ia belum sempat masuk rumah, tapi segalanya sudah ia utarakan.

Menangis di dada ibunya adalah hal terbaik. Meninggalkan pertanyaan orang tuanya tanpa jawaban yang tertunda.

“Aku yang menyuruh Taemin oppa memacari Krystal. Aku ingin dia menemukan gadis yang lebih daripadaku dan setuju untuk menceraikanku. Bukankah itu tepat, Eomma?” tanya Naeun di sela isak tangisnya.

Sae Eun duduk di sebelah sang ayah, menatap iba kakaknya. Ia baru pulang berlatih golf, mendapati sang kakak tiba di rumahnya dan menangis adalah hal yang menyedihkan.

“Kau mencintainya, Nak.”

“Tidak.” Naeun memotong. “Aku… aku tidak mencintainya.”

“Lalu, kenapa menangis?” Eomma-nya menghela napas, menyusuri rambut anaknya dari atas hingga bawah. Mencoba menenangkan sang putri.

“Menangisi nasib Naeun, Eomma,” balasnya pedih. Ia menjauhkan dirinya dari sang ibu, menghapus air matanya dengan kasar. “Aku punya permintaan.”

“Apa itu?”

“Aku ingin bercerai dengannya. Kumohon, restui tindakanku. Ijinkan aku memutus perjodohan ini. Aku ingin menyelamatkan kami berdua. Peneror itu sudah cukup serius dengan terornya, meski ia tak pernah meneror lagi. Tapi, aku merasa dalam bahaya.”

“Naeun?”

“Kumohon…” pinta Naeun setengah putus asa. “Aku… ingin bercerai.

“Pernikahan ini terjadi karena kakekmu dan kakek Taemin sama-sama teman seperjuangan. Mereka berjanji sehidup semati, apabila mereka harus mati saat itu juga mereka tidak akan menyesal. Keturunan mereka akan bertemu dan saling berjodoh. Itulah kenapa kami menikahkan kalian.” Suara Eomma terdengar sangat ragu. “Jadi, pikirkan jika kau bercerai—“

“Tidak ada alasan lain?” Naeun mulai dapat menguasai dirinya lagi. “Kenapa kau terdengar ragu, Eomma? Bukan itu kan alasannya?”

“Tidak.”

“Aku tidak memercayainya.” Naeun berdiri. “Kalau kalian tidak mau membantuku, aku akan berjuang sendiri. Taemin oppa tidak mau menceraikanku, aku sudah berusaha sekeras apapun. Lelaki bodoh itu…”

Eonni, kau yang bodoh!” Sae Eun tiba-tiba berdiri. Berbicara gemas. “Kenapa jadi kacau begini, sih? Sebenarnya apa yang kau inginkan? Taemin oppa baik, kok!”

“Kau belum mengerti,” balas Naeun dingin. “Maafkan Eonni, Sae Eun-ah. Eonni ingin menyelamatkan kami berdua. Jelas publik membenci Taemin-Naeun, lihat saja respon untuk WGM kami. Kau bisa bayangkan hidup kami seperti apa jika kami go public? Aku tak mungkin meninggalkan pekerjaanku. Kau harus memahami keadaanku. Apalagi aku tak pernah tahu alasan kenapa Eomma dan Appa menjodohkan kami.”

Eomma kan sudah bilang tadi—“

“Tidak. Aku tidak percaya kalian menikahkan kami karena alasan klasik seperti itu. Nada suaramu dan matamu tak bisa berbohong, Eomma.” Naeun menghela napas dan berdiri. “Aku akan kembali lagi nanti, sampai jumpa…”

Appa melongo. Baru dilihatnya sekali sosok sang putri yang biasanya lembut kepada mereka menjadi seperti ini. Begitu kuat dan menentang mereka.

Ia tidak tahu apa yang terjadi pada anak dan menantunya di Seoul, namun yang pasti kehidupan mereka sebagai selebritis benar-benar menyiksa.

Sementara Naeun melupakan rasa lelahnya dengan tak sedikitpun menoleh lagi ke belakang dan kembali untuk sekedar istirahat. Ia harus kembali ke Seoul sekarang juga.

*

“Taemin dan Krystal dikabarkan sudah menjalin hubungan sekitar satu bulan. Ada spekulasi mengatakan ini adalah taktik dari SM untuk membuat comeback Red Light F(x) semakin disorot, namun jika melihat foto-foto yang didapatkan… ah, para wartawan ini sok tahu sekali!” Key melemparkan tabloid yang sedang dibacanya ke atas meja, tak niat melanjutkan kegiatannya. “Ini sudah lima hari sejak pertama kalinya berita ini menyebar, aku bosan melihatnya terus ada di tabloid!”

“Apa rencanamu sekarang?” Minho bertanya pada Taemin.

No idea.

“Ya, sudah. Jalani saja. Menjadi go public jika dijalani tak akan buruk. Respon positif banyak diterima daripada negatif,” ucap Gyeongshik sambil menepuk bahu anak asuhnya. “Jaga Krystal, Taemin-ah. Apalagi F(x) sedang comeback.

“Apa yang Sooman sajangnim katakan padamu?” Onew bertanya dengan nada penasaran.

“Baik-baik saja dengan Krystal,” balas Taemin singkat. Jelas tak mau membahas hal ini.

“Kapan kau akan go public, Minho?” Jonghyun yang membaca mood Taemin segera mengalihkan pembicaraan.

Suasana di dorm sekarang ini terasa agak awkward. Onew yang tahu bahwa Taemin menyukai Naeun ingin sekali menanyakan kenapa ia bisa berakhir dengan Krystal, sementara Key tak pernah mengusik tentang Naeun meski tahu mereka sudah menikah. Itu akan mengganggu privacy, bukan?

Lee Taemin tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Ia hanya memikirkan Naeun.

Drrt. Drrt.

Malas, Taemin merogoh sakunya. Menarik ponselnya keluar dari sana. Sungguh menyebalkan. Di saat mood-nya sedang begini, ada saja yang mengganggunya.

“Aish, nomor siapa ini?” gumamnya. Untung para hyung-nya sedang menggoda Minho dan hubungannya dengan Sulli, mereka tak menyadari gumaman Taemin.

Taemin tadinya malas membuka, namun nalurinya mengatakan hal yang kontras. Jadi, dibukanya pesan dari nomor asing yang tak dikenalnya itu.

Dan Taemin menyesal membukanya.

Sebuah foto.

Bukankah pria di balik masker itu Myungsoo? Mengapa ia membukakan pintu mobilnya untuk Naeun? Mereka mau ke mana?

*

“Aku pergi dulu.”

“Mau ke mana, Naeunnie?”

“Mumpung hari terakhir liburan, Eunji eonni. Aku mau refreshing. Soalnya—“

“Myungsoo menunggu di parkiran!” potong Hayoung membuat yang lain segera menghujamkan tatapan tanya. “Aku melihatnya tadi.”

“Wah, sekarang kau menyambut Myungsoo, Naeun?” Chorong yang kemarin sudah pulang ke dorm segera merespon ucapan Hayoung langsung kepada Naeun.

Naeun mengendikkan bahu, “Mungkin. Hahaha, sudah, ya. Kasihan dia sudah menunggu lama sekali.” Setelah berkata demikian, Naeun langsung berlari keluar—menghindari godaan para teman-temannya yang seperti sudah siap memuntahkan berbagai kata-kata ledekan kepadanya.

“Aku jadi kasihan pada Taemin,” komentar Chorong. “Hubungan mereka kenapa jadi rusak begini, sih? Aku kadang tidak mengerti dengan jalan pikiran Naeun yang mengabaikan Taemin, serta—“

“Ya, aku pun sama.” Hayoung dan Eunji berkata bersamaan.

“Bagaimana nasib pernikahan mereka?” Eunji bergumam sendiri. Ia melipat tangannya di depan dada. Gadis berbalut kemeja kotak-kotak merah itu berjalan ke arah pintu keluar, namun berhenti di tengah-tengah. “Aku sangat mengkhawatirkan—tunggu, ini apa?” Eunji membungkuk di dekat tempat sampah kecil di sudut.

Sesuatu tertangkap oleh matanya. Bungkusan yang sepertinya obat dan terlihat mencolok di antara sampah lainnya.

“Ini… astaga, ini… punya siapa?”

Chorong dan Hayoung menghampiri Eunji, ikut memperhatikan kemasan obat yang sudah terpakai itu.

“Astaga, ini kan… untuk ibu hamil?”

Celetukan Hayoung membuat Eunji dan Chorong memandang Hayoung bersamaan, dengan horor. Sang maknae langsung tersenyum kikuk, matanya memandang Eunji dan Chorong bergantian.

“Jangan-jangan…”

*

“Nona, Anda tidak boleh terlalu lelah. Kandungan Anda masih sangat rentan, apalagi ini pertama kalinya Anda memiliki buah hati, kan?”

Dokter itu sangat ramah, Myungsoo mengomentarinya di dalam hati. Ia begitu baik dengan berjanji tidak akan membongkar identitas Naeun dan Myungsoo yang selebritis kepada orang lain. Dia juga sangat mendengarkan dan mau memercayai bahwa Myungsoo hanyalah seorang teman dan bukan yang bertanggung jawab, walaupun pria itu ingin bertanggung jawab atas sesuatu yang bukan kewajibannya.

“Baiklah, kamsahamnida, Uisa.

Begitulah. Myungsoo sudah mengambil peran Taemin di kehidupan Naeun. Mengantar gadis itu mengontrol kehamilannya ke dokter, membelikannya buah-buahan di setiap kesempatan yang ia punya, menanyai kabarnya. Myungsoo bahkan hampir melupakan rasa bersalahnya sendiri.

Naeun ingin menolak, tapi setiap Myungsoo sampai ke depan wajahnya, ia tak tega. Jadi dibiarkannya pria itu melakukan hal yang sudah seharusnya menjadi kewajiban Taemin.

“Kau akan vakum, Naeun?” tanya Myungsoo saat mereka singgah di sebuah kedai kopi dengan penyamaran yang biasa mereka kenakan.

Naeun mengaduk-aduk kopi panasnya dengan gelisah. Ragu hendak menjawab apa, padahal apa yang Myungsoo katakan adalah gagasannya sendiri.

“Ya, sunbaenim.

Sunbaenim. Myungsoo tersenyum pahit. Naeun kembali memanggilnya sunbaenim—seolah menegaskan bahwa Naeun tidak membuka hatinya untuk Myungsoo. Spekulasi bodoh.

“Bagaimana dengan fans-mu dan karirmu?”

“Yang pasti aku hanya akan memikirkan bagaimana kehidupanku di rumah orang tuaku nanti, Sunbaenim. Terimakasih atas perhatianmu selama ini. Aku sangat menghargainya.”

Formal sekali.

Lagi, Myungsoo tersenyum hambar.

Keduanya larut dengan minuman masing-masing. Naeun menunduk, memainkan sendok kecil itu di antara cairan kental kopinya.

Betapa Myungsoo sangat mengagumi gadis ini.

Kecantikan dan kelembutannya bersatu padu, meskipun sikapnya agak dingin. Rambutnya yang panjang menjuntai bergoyangan lembut dimainkan angin.

“Tidak usah memerhatikanku, Sunbae.” Naeun tiba-tiba mendongak, dengan senyum kecilnya. “Kau memerhatikan milik orang lain dan ibu seorang anak, di saat kau pantas mendapatkan gadis yang single dan lebih baik.”

Myungsoo agak terkejut mendengarnya.

“Tidak usah terkejut, Sunbae. Memang itu kenyataannya.” Naeun tersenyum lagi, kemudian berdiri. “Ayo, kita kembali ke dorm-ku. Aku tak ingin lama-lama membuatmu merasa sakit, Sunbae.

*

Kelima member A-Pink berusaha menenangkan manajer mereka yang marah-marah. Berulangkali ia bolak-balik di tempat. Mengecek jam, menunggui kedatangan Naeun. Ia benar-benar kesal, sedih, takut, emosi. Perasaannya masih tak bisa menerima.

“Kenapa harus selalu aku yang menemukan ‘hal-hal aneh’ tentang Naeun?” gumam Eunji merasa agak bersalah setelah menemukan bungkusan tadi, membuat manajer mereka menggeledah kamarnya dan Naeun—banyak barang-barang yang disembunyikan Naeun di nakasnya.

“Aku pulang!”

Kelima member yang tadi menunduk, serempak mendongakkan kepala. Mereka saling pandang ketika manajer mereka berlari ke arah pintu, kesal dan marah.

Annyeong, Op—

“Bagaimana kau bisa hamil, Son Naeun?! Siapa yang bertanggung jawab?” Manajernya memegang kedua bahu Naeun dengan kencang.

Wajah Naeun pucat. Matanya membelalak. Ia melihat ke belakang manajernya dan menemukan para member-nya berdiri dengan ekspresi pias.

Oppa, kau manajer kami. Kau mengerti Naeun seperti apa. Tolong jangan desak dia. Dia dalam masa-masa yang sulit.” Chorong yang bereaksi, berusaha menyelamatkan visual-nya.

“Chorong, apakah kau tidak memikirkan apa yang akan terjadi jika publik mengetahui hal ini?!” Sang manajer melepaskan cengkeramannya dan menjambak rambutnya sendiri, frustasi. “Bagaimana Naeun akan dihujat, dimaki, dan lainnya? Ia akan hancur!”

Oppa, kami tahu kau peduli pada Naeun, tapi cobalah tenang dan pikirkan dulu jalan keluarnya.” Akhirnya mencoba menenangkan manajernya, setelah daritadi diam ketakutan dengan emosi manajernya.

“Maafkan aku, Oppa,” ujar Naeun membuat manajernya melirik Naeun sedih. “Tapi aku tak melanggar hukum dan adat. Aku melakukannya dengan—“

“Taemin,” potong Eunji membuat manajernya kini mengalihkan perhatian padanya. “Mereka sudah menikah jauh sebelum Naeun berkarir, Oppa.

“Apa?!”

“Aku sudah memutuskan akan vakum saja dan tinggal di Gwangju bersama orang tuaku untuk sementara.” Naeun yakin ia telah mengucapkan sesuatu di waktu yang salah. Manajernya melotot frustasi.

“Artinya, kau keluar dari—“

“Jika CEO kita mengijinkanku masuk lagi setelah 1 tahun, mungkin tidak. Tapi… astaga, Oppa. Aku akan bertanggung jawab, tenang saja. Asal Oppa membantuku.”

“Membantu apa?”

“Mengatakan pada CEO kita tentang hal ini dan merahasiakannya pada publik. Katakan aku vakum untuk hal apapun selain hal ini. Aku ingin melindungi banyak pihak dan… jangan beritahu Taemin oppa.

Sekarang semuanya hening akibat jawaban dari Naeun yang sangat tenang. Gadis itu tidak terlihat gentar maupun takut. Ia berdiri tegak dengan percaya diri, meski kesedihan itu terlukis jelas di wajahnya.

“Baiklah,” kata manajernya setelah keadaan begitu hening beberapa saat. “Malam ini aku akan mengurusnya. Besok kalau bisa kau sudah bisa pulang ke Gwangju. Aku salut denganmu, dengan keberanianmu melakukan ini semua.” Sang manajer memeluk Naeun erat, seperti pada adiknya sendiri. “Kami bangga padamu, Naeun-ah.

Ini menyakitkan.

Sangat sakit hingga membuatku ‘mati’.

Ini juga menakutkan.

Sangat menakutkan hingga membuatku tak memiliki keberanian seujung kuku pun.

Naeun berkomentar di dalam hati, senyumnya pahit.

Ketakutanku tidak beralasan.

To be continued.

Preview Paper VII – The Real Game

 “Aku sudah tahu kau akan ke sini, Oppa. Jadi aku dan orang tuaku mengurus surat perceraian ini. Aku hanya membutuhkan tanda tanganmu, Oppa.

“Sampai matipun aku tidak akan menandatanganinya.”

*

“Krystal-ssi, apa maksud semua ini?”

“Kau tahu, Son Naeun? Aku tidak membencimu, tapi setelah ini semua aku rasa aku benar-benar menyimpan benci padamu!”

“Krystal…”

“Dengar, aku ini sudah jadi kekasih Taemin, tapi aku tahu hatinya tak pernah menjadi milikku. Kau tahu, Naeun? Hatinya selalu untukmu! Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku?”

“Kaupun harus bisa membayangkan bagaimana jika kau menjadi aku, Krystal.”

*

 “Kapan kau akan memberitahu Taemin, Naeun? Bagaimana pun dia ayahnya, cepat atau lambat dia pasti akan tahu.”

“Aku pun tidak tahu, Chorong eonni.

*

Jika kau tidak juga menjauhi Taemin, kau dan anakmu dalam bahaya, Naeun.
Fotokopi surat pernikahanmu itu asli, aku mengkopinya dalam jumlah banyak. Satu kukirimkan padamu, sisanya bisa ku-scan dan kusebar di internet. Sekali klik, riwayatmu tamat.
Oh, tidakkah kau memikirkan siapa yang kira-kira melakukan ini? Kau akan terkejut!

*

“Krystal.”

“Kita bertemu lagi, Myungsoo oppa.

So, this is the real game?

*

Note:

What? The real game? Jadi part 1-6 ini apaan, thoooor? /dilempari uang segepok (?)/

Heeemmm.. soal part 7, ia akan sangaaaaat panjang, mungkin 1,5x atau 2x dari part ini. Terus dikerjainnya abis proyek OS aku (My Homosexual Parents dan Marry the Angel) dan part 1 Imprinted selesai, jadi bakal lebih lama dari part 6. Selain itu karena part 7 mau aku ubah gaya bahasa, cara deskripsi, dll supaya gak monoton.

Kabar gembiranya, buat Taeun shipper, part 7 akan ditaburi (?) banyak sekali momen Taeun xD yehee~ akhirnya! Di sini juga bakal ada MyungStal, KeyStal, OnTaeng, JongTaeng, KeyJi momen walau mungkin cuma dikit-dikit :p

Maaf kalau part ini mengecewakan dan banyak yang ngaclok2 per adegannya karena emang sengaja :p tapi kalau gak nyaman, nanti bakal dikurangi yang ngaclok2nya xD + karena seperti biasanya, aku gak pernah ngedit, jadi maafffff kalau ada ambigu atau typo xD

Thanks for reading!🙂

©2013 SF3SI, Vania

signature

Officially written by Vania claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

31 thoughts on “(Not) A Virtual Marriage – Part 6

    1. maaf ya baru sempet bales🙂
      gatau kenapa langsung keinget lagunya cita citata .__. sudah terlalu mendarah daging (?) itu nadanya hahaha
      makasih ya🙂
      part 7 dan side storynya sudah siap di draft🙂

  1. hoaah..
    Hoaah..
    Dagdigdugder rasanya..
    Ayy.. Perih banget rasanya jadi naeun..
    Tapi2.. Apa myungstal jahat? Uwoo.. Cocok lah kalo gitu.. #slapped

  2. Sebenarnya aku ngikutin hampir semua chapter dri fic Tae-un ini, tapi karena hape yng tdak mendukung untuk ngomen dan hampir nggak bisa online dri pc, jadilah aku sider utk ff ini. Maafin aku banget ya Vania-ssi, aku nggak tahu umur kita berjarak berapa, omong2.

    Untuk ceritanya sendiri, aku sebenarnya bukan pembenci dan juga penyuka Tae-un shipper, tapi aku justru tertarik untuk ngikutin ceritanya terus. Awal, aku kira ini dibikin sama author yang semcam aku, masih baru, jadi aku kira, ah paling bakal biasa aja nih.
    Tapi melihat bagaimana ceritanya ini selalu punya preview dan bahasa yang tersusun dengan rapi dan pas, aku cukup lega, karena aku punya alasan untuk bolak-balik sf3si yang ff cahpter hampir dibilang jarang keliatan.
    SElain itu shinee juga hadir lengkap disini, jadi semcam pelepas rindu karena jarang ngeliat mereka bareng *curhat

    Udah dulu lah aku, keep writing terus ya Vania-ssi!
    omong2, aku klhran 95.

    1. hallooo, maaf baru bales😀
      first of all, aku mau bilang makasih karena udah bilang cerita aku bisa bikin kamu bolak balik ke sini hehehe, rasanya seneng banget😀

      aku kelahiran 97 ^^ jadi aku akan panggil ‘kak’ ya😀

  3. Naeun’s mind so-Out-of-Expected! Ga hbs fikir kok dia bisa setenang itu.
    So, jd itu Myungsoo yg meneror Naeun? N Krystal?! Hell-oooo mereka itu komplotan ternyata ya ckck
    Mirisnya itu disini a/ Taemin, yg ga begitu mengetahui permasalahan pelik yg sedang terjadi berkaitan dgn dirinya n Naeun😦

    Kembali ke masalah adanya Taeun karena WGM yg blm aku tonton, sungguh ga ngerti dgn adanya haters yg sampai sebegitunya dgn couple” yg ada. Nonsense. /Miris/

    Can’t wait for their real game >”< But don't worry abt update soon, just when u're ready😉
    Keep writing n fighting!! ^^

    1. Sejujurnya aku pun kesal pada Naeun yang terlalu tenang -_- LOL😄 jadi menurutmu myungstal terlibat nih? nanti cek aja part 7-nya, sepertinya bakal ketauan mereka terlibat apa engga, yg pasti kamu ga bakal nyangka deh sama ‘penjahat’ yang sebenarnya :3

      iya nih Taemin terlalu polos (?) sampe ga menyadari permasalahannya ._.
      dan sejujurnya aku belum nonton Taeun sampe habis loh😄 aku baru liat di YT dan itu baru beberapa episode loncat2 ._.

      makasih ya😀 part 7 dan side storynya udah siap di draft😀

  4. Suka T.T banget… aku ga tau komen ini berhasil di post apa nga… tapi kalo berhasih aku mau bilang … please lanjutinnnn seru banget baru nemu ff Taeun yang seseru ini… si L ama Krystal yang sekongkol yaaaa yang neror uri naeun yaaa T.T cepet lanjuttt

    1. wah makasih ya, seneng banget dibilang ff taeun yg seseru ini😄
      kenapa kalian semua beranggapan L sama krystal yang berbuat? hihihi, lihat saja nanti, bisa jadi iya bisa jadi engga :p
      tenang ya part 7 sama side story udah siap di draft kok~

  5. mian cingu bru komen.. cingu, mana lamjutannya?😦
    tiap hr aq slalu liat web ini kalo2 yg part 7 udh update ^^

    1. Udah ada di draft🙂 harusnya ada satu side story sblum part 7 yg ngasi tau aku vakum dlu, tp masih belum dipublish juga… sampe skg part 7 uda ada di draft jg blm dipublish. Klo ud ga sabar, cek aja di blog pribadiku hahaha

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s