The Cruel Marriage – Part 9

tcmII

Title : The Cruel Marriage

Author: Chinchi a.k.a Kim Sujin + ReeneReenePott

Cast:

  • Choi Minho
  • Jung Soojung
  • Choi Younghyeon (covered by Shanon William)
  • Bae Suzy

Minor cast:

  • Shim Syerin (OC)
  • Kim Heechul
  • Kim Soohyun
  • (Other still hidden in the story)

Genre: Romance, AU, sad, a little bit fantasy.

Rating: PG-16

Length: Sequel

Disclaimer: The story pure belonged to me, but all of the casts belong to themselves. Don’t be a plagiator or reblog my fanfic without permission–chinchi–

RESPONSE PLEASE and HAPPY READING!!


TRAGEDY 9

Minho duduk di depan meja kerja kantornya dengan tatapan mata kosong terjatuh ke layar gelap laptop yang terbuka di depannya. Desahan panjang terhembus keluar dari mulutnya sebelum ia menoleh ke arah jendela yang masih mempertontonkan langit siang menjelang sore yang mulai meredup. Sekelebatan pikirannya berkecamuk di dalam otaknya hingga rasanya ia sedang dihimpit dengan dua buah batu besar. Ia tahu selama ini ia sudah salah. Seharusnya ia tak boleh membiarkan Krystal seenaknya saja masuk dan mengacak-acak pikirannya yang—ia akui—masih kacau balau karena Soojung.

Semalam, ibunya masuk ke ruang kerja di rumahnya dengan tatapan sendu dan meminta waktu untuk berbicara serius. Awalnya Minho sama sekali tidak ingin menanggapinya secara berlebihan, tapi semakin ia memikirkan ucapan ibunya semalam, mau tak mau ia juga menyetujui kalau apa yang dikatakan ibunya memang suatu kebenaran.

Minho mendongak dari lembaran kertas laporan yang sedang ia baca dan periksa ketika terdengar suara ketuka lirih dari pintu. “Ya?”

Pintu terbuka dan masuklah Nyonya Choi yang membawa segelas cokelat hangat, sambil tersenyum tipis dan berjalan pelan ke meja kerja Minho, meletakkan gelas yang dipegangnya di sudut meja Minho. “Nak, kita butuh bicara,”

Minho mendengus tak peduli dan menjatuhkan pandangan kembali ke atas kertas laporannya, mencebik dalam hati karena ibunya pasti menyinggung-nyinggung soal Suzy atau Krystal lagi. “Hm, umma bicara saja,”

“Minho, ini serius. Umma minta tatap mataku saat aku bicara,” tandas Nyonya Choi tegas, yang mau tak mau membuat Minho kembali mendongak dan menatap mata ibunya.

“Ada apa?”

Umma sudah memikirkan untuk memajukan tanggal pernikahanmu,” Nyonya Choi mengangkat tangannya untuk memberikan pernyataan jangan memotong kalimatnya ketika Minho membuka mulutnya untuk angkat bicara. “Tapi tolong dengarkan penjelasan umma dulu. Umma tidak mau kamu menjadi pria yang lembek seperti ini, Choi Minho. Sudah seharusnya kau bersikap bijaksana dengan apa yang harus kau lakukan dan apa yang tidak boleh kau lakukan. Umma sudah cukup bersabar selama ini, tapi kelihatannya kau memang butuh sedikit penegasan. Umma mengerti apa yang kau rasakan sekarang, nak,” Kening Minho berkerut, namun itu tak menghentikan kalimat-kalimat ibunya. “Umma mengerti kalau kau sedikit terguncang dengan kehadiran Krystal Yoon, jujur umma juga mengakui kalau dia sangat mirip dengan Soojung. Tapi kau tidak bisa seperti ini, Minho. Dia bukan Soojung. Berhentilah bermimpi ia akan kembali padamu—“

“Soojung sudah mati, umma,” sela Minho namun segera terdiam ketika ibunya melayangkan tatapan tajam kearahnya.

“—karena masih banyak yang membutuhkanmu disini. Suzy wanita baik-baik, dia mencintaimu, dan dia membutuhkanmu. Younghyeon juga membutuhkan kasih sayang seorang ibu meski umma tahu itu akan sedikit sulit. Dan yang paling terutama, kau memerlukan Suzy, Minho. Kau perlu dia untuk menghilangkan segala pikiranmu dengan Soojung. Kau harus melanjutkan hidupmu, relakan kepergian Soojung yang sudah lalu,”

“Aku sudah berusaha, umma,” jawab Minho akhirnya.

“Kau harus tahu bahwa Soojung berkhianat padamu. Kau harus melupakannya, ia tak pantas berada dalam pikiranmu,” sambung ibunya lagi. “Sudah larut, Minho. Kau sebaiknya tidur. Umma pergi dulu,”

Desahan lelah Minho terdengar semakin keras. Ucapan ibunya seratus persen benar. Younghyeon butuh seorang ibu. Krystal bukanlah Soojung, dan Soojung adalah wanita pengkhianat. Ia tak boleh membiarkan dirinya terus berlarut-larut dalam kerinduan bodoh ini. Minho menarik napas lagi dan ia sudah membuat keputusan bulat. Tidak ada Soojung, ataupun Krystal. Dia harus memfokuskan pikiran pada Suzy dan Younghyeon, dua orang penting yang akan menjadi prioritasnya sekarang. Goodbye, Soojung-ah. I hopu you’ll rest in peace there.

Tangan kanannya terangkat meraih ponsel dan mencari kontak untuk dihubungi. “Suzy-ah, kau ada waktu malam ini? Aku ingin makan malam denganmu,”

__

Myungsoo berusaha untuk tidak bereaksi berlebihan ketika Syerin terus-terusan membombardirnya dengan tatapan setajam belati. Ia hanya ikut permainan, oh, salah. Ia hanya ikut rencana Syerin yang berambisi untuk menyelamatkan ingatan Soojung. Dan inilah caranya, apa Syerin masih meragukan kemampuan seorang psikolog lulusan University of Coloumbia sepertinya? Ia hanya mengajak Krystal berkeliling sekolah dan menjelaskan ruangan-ruangan padanya, dan sedikit bercerita tentang hubungannya dengan Syerin dulu. Oh, mungkin Syerin tidak suka kalau Myungsoo menggambarkan kalau dulu mereka berdua lengket selengketnya kayak perangko.

“Hm, sekolahmu bagus. Tapi sebenarnya kenapa kau melakukan hal ini?” tanya Krystal tiba-tiba, mengalihkan tatapan tajam Syerin yang sedari tadi mengarah ke Myungsoo dan tatapan pria itu padanya. “Maksudku, aku—“

“Krystal-ssi, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu,” potong Myungsoo, menarik tangan Krystal yang melongo lagi. Kali ini Syerin mengalah dan tidak lagi memelototi Myungsoo. Ia tahu kemana pria itu akan membawa Krystal, taman belakang sekolah. Tempat Soojung pertama kali bertemu dengan Minho. Itu salah satu tempat penting yang Syerin harap bisa membuat ingatan Krystal bereaksi dan menunjukkan gelaja kalau ada kejadian di tempat itu, kalau Krystal mengenal tempat itu dengan baik.

Myungsoo menghembuskan napas dan melepaskan tangan Krsytal saat udara taman belakang berhembus sepoi, menebarkan wangi bunga lili yang sedang mekar. Ada pohon elm yang rindang dan jejeran lili yang mengelilingi pohon itu. Krystal mengedipkan matanya, seakan terkesima dan terpesona. “Ini taman belakang sekolah, aku sering datang kesini, untuk bertemu seseorang,” pancing Syerin sambil melangkah dan berdiri di samping Krystal yang masih asyik menjelajahi taman itu. Ia terusan melirik Krystal, menanti reaksi apa yang akan terjadi.

Krystal masih mengedarkan pandangannya ketika sepasang bola matanya jatuh pada sebuah kursi panjang yang dicat putih dengan beberapa tangkai bunga aster kuning di salah satu kaki sudutnya. Angin berhembus lagi, membuat sensasi nyaman dan lembut membelai tubuh Krystal, membuat wanita itu memejamkan matanya dan membiarkan rambutnya yang panjang bergelombang sedikit tertiup angin. Sesaat kemudian ia merasa kalau ia merindukan tempat ini, lebih dari yang ia tahu.

Tunggu… rindu?

Krystal merasa yakin kalau ia mengenal tempat ini. Ia sudah lama tidak berada di sini, menikmati sinar matahari musim panas sambil berbaring di bawah pohon elm di kelilingi bunga lili yang setengah mekar sambil membaca novel kesukaannya. Saat musim gugur dia akan duduk di bangku taman itu, menikmati teh panas yang dia beli di kantin sekolah sambil mengamati daun-daun yang kecokelatan, biasanya sih ditemani seorang gadis bernama Syerin. Kalau musim dingin dia biasa membuat jalur setapak menuju bangku agar kakinya tidak terendam salju. Kalau musim semi… dia akan mengamati kuncup-kuncup aster dan lili sambil mendengarkan musik lembut dari MP3-playernya lewat earphone.

Seketika itu juga mata Krystal terjebak membuka. Namun ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia sedang mendengarkan lagu ketika menyadari seorang pria tengah tertidur di atas batang pohon, lalu tiba-tiba terjatuh. Tentu saja, Krystal menghampiri pria itu, menawarkan bantuan. Selanjutnya…

“ARGH…” bayangan itu kabur tepat saat Krystal berusaha melihat wajah pria yang terjatuh dari atas pohon itu. Entah kenapa kepalanya sakit sekali. Ia kembali berusaha memutar kejadian pria yang jatuh dari pohon itu, namun gambar itu hilang lagi. Sakit di kepalanya semakin menjadi dan telinganya mulai berdengung, hingga ia terjatuh menggenggam rumput.

“Krystal-ah!”

Baik Syerin maupun Myungsoo kaget ketika Krystal mengerang dan terjatuh sambil memegangi kepalanya. “Krystal-ssi? Kau tidak apa-apa?” tanya Myungsoo sambil berusaha menegakkan kedua bahu Krystal, mencoba mencermati wajahnya.

Tapi Krystal seperti tidak mendengar apa-apa. Kepalanya terlalu sakit dan telinganya terlalu berisik untuk mendengar suara-suara lain. Gambar-gambar dan potongan video ditengah musim semi itu terus bermunculan seperti CD rusak, diulang lagi dan lagi hingga kepalanya serasa mau pecah. Tidak, tidak. Mungkin kepalanya memang sudah pecah. “AAAAAAAAAAAAARGGH!!”

Yang Krystal ingat terakhir kali adalah sebuah tusukan seperti digigit semut di lengan atasnya. Kepalanya yang sakit berangsur terasa ringan, dan gambar-gambar yang sedari tadi bermunculan juga mulai menghilang. Krystal bisa merasakan tubuhnya merileks, hitam, hangat, dan ia tak ingat apa-apa lagi.

__

Katering, checked.

Foto pre-wed, checked.

Documentary staff, checked.

Pesanan kartu undangan, checked.

Gedung, checked.

Gaun pengantin, aku dan Minho, checked.

Hanya satu yang belum kena tanda check-list, cincin pernikahan.

Suzy menuntup buku agenda kecilnya dan kembali memasukkannya ke dalam tas. Untuk pertama kalinya sejak… Suzy tidak ingat sejak kapan, ia tersenyum simpul pada dirinya sendiri dengan tulus.

Aku akan menikah.

Suzy sadar kalau dia adalah seorang wanita normal yang ingin menikah dengan pria yang mencintai dan dicintainya. Dia juga seorang wanita normal yang ingin dilamar dengan cara romantis dengan tatapan tegas, penuh percaya diri, dan penuh cinta dari pria yang menyodorkan cincin berlian padanya. Dia juga merasa dirinya normal ketika dia ingin dirinya sendiri yang terlibat dalam semua urusan persiapan pernikahan idamannya, memakai gaun putih panjang yang akan membuatnya merasa percaya diri menjadi ratu dan raja semalam. Dan diatas semuanya, dia ingin sekali menikah dengan tujuan untuk hidup bahagia bersama pria yang akan menemaninya sepanjang hidupnya, menyaksikan kelahiran anak pertamanya, mungkin hingga sampai melihat buyutnya lahir ke dunia.

Suzy hanya wanita biasa. Mungkin dulu, dia menganggap Minho pria yang tepat untuknya. Eksekutif muda, sukses, tampan, kekayaan melimpah-ruah. Memiliki seorang anak perempuan yang manis, cantik dan lucu. Jujur, dalam lubuk hati Suzy, dia mengagumi Younghyeon luar dalam. Namun semenjak pamannya datang dan mengacaukan segalanya, Suzy tahu dia tidak akan pernah mendapatkan apa yang dia inginkan lagi. Dia tidak akan bisa mengeksplor kepandaiannya dalam pekerjaan, dan dia harus membuat keluarga calon suaminya terpuruk karena dendam masa lalu. Dendam yang mau tidak mau juga ikut menyeretnya dalam permainan kotor yang sebenarnya tak pernah ingin Suzy mulai dengan tangannya sendiri.

Namun semuanya sudah tergaris untuknya. Dia akan menikahi Minho, memberinya keturunan, setelah itu dia bisa memporak-porandakan keluarga itu dengan bantuan Paman Jung. Karena itu, sekarang ia ingin memberikan seluruh hatinya pada pernikahan ini, dan biar dia akan mencabik-cabik hatinya sendiri nanti.

Nanti, ketika saatnya. Saat ini ia harus bahagia. Oh, bahagia yang singkat.

Tanpa sadar Suzy memejamkan matanya untuk merenung sejenak sebelum membukanya lagi dan menatap ke sekeliling. Ia sedang berdiri menunggu antrian ATM setelah menyetor ke dalam bank untuk tabungannya sendiri. Tadi Minho sudah menelponnya dan pria itu mengajaknya untuk belanja cincin. Entah kenapa, memikirkannya saja sudah membuat Suzy merasa senang. Setidaknya cincin itu akan kukenakan saat pernikahanku yang akan singat, pikirnya. Dan selama Minho masih memerhatikanku. Suzy buru-buru mengambil dompetnya dari dalam tas dan maju untuk mengambil ATM, dan setelah selesai ia segera mengetikan pesan pada Minho untuk langsung menjemputnya ke bank. Suzy memilih untuk berdiri menunggu Minho di teras bank, memerhatikan suasana sore dan bank yang mulai tutup.

“Halo, nona cantik. Sendirian? Butuh teman?” Suzy merasa jantungnya melonjak ketika sebuah suara berat dengan bau rokok mendekat, terdengar berada tepat di samping kanannya. Ia menoleh melihat pria itu, berusaha tidak berjengit menatap pria yang kurus, ceking, wajah penuh brewok dan pakaian asal-asalan. Napasnya benar-benar terdiri dari tembakau dan alkohol, bercampur aduk menjadi satu dan membuat perut Suzy terasa mual. Dia tidak pernah suka rokok, apalagi kalau dicampur dengan alkohol. Ia mundur beberapa langkah, tapi pria itu justru kembali mendekatinya. “Kenapa takut begitu? Padahal saya tidak berbahaya kok. Mau minum kopi di suatu tempat?”

Suzy mengerutkan keningnya, tidak mau membuka mulutnya atau capek-capek berbicara pada orang berbahaya yang tak dikenal. Ia kembali melangkah mundur, namun seseorang telah menangkap bahunya. “Maaf, tuan, kalau anda menganggu keamanan disini saya bisa memanggilkan satpam untuk anda,”

Kedua mata Suzy berkedip ketika punggungnya serasa didekap oleh sepasang lengan kekar, seakan melindunginya yang tengah ketakutan setengah mati. Suzy tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, tapi begitu ia menarik napas rasanya ia akan terbang. Hidungnya yang menempel di lengan jas pria yang memeluknya itu mengirimkan perpaduan wangi musk dan cemara ke otaknya, yang langsung bisa membuatnya rileks. Sesaat kemudian tanpa sadar Suzy tengah menghirup aroma itu dalam-dalam hingga memenuhi rongga dada dan otaknya. “Suzy-ssi? Kau tidak apa-apa?”

Suara berat yang sama itu membuat Suzy membelalakan matanya. Goddman it! Suzy menarik tubuhnya keras-keras dan terkesiap mendapati Soohyun tengah menatapnya khawatir. “Kau…” Kenapa kau ada di sini? Pikiran Suzy spontan mengeluarkan pertanyaan itu tapi bibirnya tidak mau bekerja sama.

“Kenapa aku disini? Yah, bank ini merupakan salah satu aset perusahaan ayahku,” jawab Soohyun tenang seakan tahu pertanyaan Suzy. Dalam hati Soohyun ingin tertawa. Kenapa wanita ini nampak menggemaskan ya? “Menunggu jemputan Minho hyeong, ya?”

Suzy mengangguk dan berusaha tidak menatap Soohyun lagi. Sialan. Apa sih yang terlah terjadi di dirinya? Ia sudah sering memeluk Minho, mencium wangi cendana khas Minho yang selalu bisa membuatnya nyaman, tapi tidak pernah membuatnya seperti ke awang seperti Soohyun tadi. Astaga. Dia pasti sudah gila. Soohyun itu pacar Krystal! Dan ingatkan juga kalau pernikahannya sudah di depan mata. Dia tidak bisa bersikap seperti ini, demi Tuhan!

Mata Suzy maupun Soohyun teralih begitu mendengar suara klakson mobil Minho yang berhenti tepat di depan mereka berdua. Minho membuka kaca mobil dan tersenyum kepada dua orang itu. “Uh, kurasa, aku duluan, Soohyun-ssi,” Suzy buru-buru pamit dan masuk ke mobil Minho.

“Trims, Soohyun-ah,” teriak Minho lewat kaca jendela yang terbuka sebelum melajukan mobilnya lagi. Bahu Suzy terasa tegang ketika melihat Soohyun melambai lewat kaca spion mobil.

__

Krystal merasa kepalanya sedikit berat ketika ia berusaha untuk menggerakkannya. Dan sedikit pusing, matanya menerjap terbuka dan menyipit untuk mengatur intensitas cahaya yang masuk. Sebelah tangannya terangkat untuk memijit kepalanya yang rasa sakitnya semakin terasa, berdenyut-denyut. “Oow,”

“Krys? Sudah sadar?” suara Syerin terdengar dari depan, namun Krystal masih kurang jelas menangkapnya. Ia baru menyadari kalau sekarang ia sedang di jok belakang mobil, yang melaju entah kemana. Padahal tadi seingatnya ia sedang keliling sekolah lamanya Syerin dan Myung…soo?! Astaga. Kim Myungsoo kan?! “Krystal?”

Krystal mendongak dan menyadari kalau Syerin sedang duduk di jok depan mendampingi seorang pria yang sedang menyetir, dan sekarang menatapnya khawatir. “Aku kenapa, Syerin-ah?”

“Kau pingsan, Krys. Apa yang kau ingat?” tanya Syerin hati-hati. Krystal hampir terlonjak ketika mendapat lirikan dari seorang pria lewat spion depan. Dan ia kenal jelas itu lirikan Kim Myungsoo.

“Aku sedang keliling sekolah, kita masih di sana?”

“Tidak. kami memutuskan untuk membawamu pulang ketika melihatmu pingsan seperti itu,” sahut Syerin kalem dan kembali menatap Krystal. “Apa kau merasa pusing? Atau lapar?” tanyanya lagi. Sebenarnya Syerin merasa sedikit bersalah mengatakan kalau Krystal pingsan, karena sebenarnya gadis itu tidak pingsan. Ia hanya dipingsankan Myungsoo yang ternyata sudah siap-siap dengan obat penenang. Ia tidak tahu kalau efek ingatan Krystal akan seperti itu, mungkin setelah ini ia harus berterimakasih pada Myungsoo sekaligus bersyukur karena pria itu mengambil kuliah psikolog jadi jelas lebih ahli daripadanya soal ini. Meskipun psikolog tidak menangani pasien lupa ingatan, sih.

Mereka berdua tahu kalau Krystal pasti ingat sesuatu di sekolah tadi, tapi mereka tidak berani membahasnya di depan Krystal. Salah satu faktornya, Syerin takut Krystal tidak akan percaya kalau ia bercerita soal Soojung karena ia tak punya banyak bukti. Ditambah Krystal pasti akan menanyakan saudara kembarnya yang Syerin tak tahu banyak. Ia hanya teman sepermainan Krystal dari kecil, saat ia berada di panti asuhan. Jadi untuk sekarang, ia hanya bisa membawa Krystal ke tempat-tempat yang dulu familier dengannya, dan ia sedang menimbang-nimbang untuk membawa Krystal ke satu tempat lagi, tapi ia kurang yakin apa tempat itu masih ada.

Tadinya Syerin pikir ia akan mengajak Krystal ke panti asuhan tempatnya besar dahulu. Tapi gedung tua itu sudah habis terbakar dan dengar-dengar kembali direnovasi. Syerin tidak yakin apa gedung yang direnovasi itu bisa membantu memulihkan ingatan Krystal. Karena jelas Krystal tak pernah ke sana sejak gedung itu kebakaran.

Krystal memandang keluar jendela dan menyandarkan tubuhnya ke jok mobil. “Aku kelaparan. Sedikit pusing sih, tapi mulai hilang,”

Syerin mengangguk puas, lalu kembali membenarkan posisi duduknya. “Bagaimana kalau kita makan bubur ayam yang jadi favoritmu itu, Syerin-ah? Kurasa lokasinya tidak jauh lagi. Kau mau makan bubur, Krys?” tiba-tiba Myungsoo bersuara membuat Krystal menoleh cepat. Harusnya Krystal tidak menolak, karena Myungsoo dan Syerin tahu Krystal sangat suka makan bubur ayam yang lokasinya tidak jauh dari sekolahnya. Mereka bertiga sering makan di sana daripada makan siang di kantin yang lebih mahal. Diam-diam Myungsoo hanya melirik Syerin penuh arti membuat wanita yang duduk di sampingnya membulatkan mata.

Krystal tersenyum lemah. “Mau. Aku lapar banget,” tanpa sengaja Krystal melirik jam yang ada di dasbor mobil. “Tapi aku harus telpon Jessica unni dulu kalau aku bakal sedikit telat,” lanjutnya dan buru-buru menyalakan ponsel.

Ketika Krystal sedang menelpon, Syerin melirik Myungssoo yang sedang fokus menyetir. “Myung-ah,” panggil Syerin pelan. “Kau yakin mau membawanya kesana?” tanyanya khawatir. “Dia baru sadar dan kau mau membuat ingatannya kembali bereaksi?”

Myungsoo masih diam namun pada akhirnya melirik Syerin yang masih memandangnya penuh kekhawatiran. “Aku juga kelaparan, Syerin-ah. Dan aku juga ingin makan bubur ayam,” jawabnya. Jujur sih, meski beresiko. “Berdoa saja semoga Krystal tidak begitu bereaksi. Mungkin kalau kita sering membawanya kesana, dia bisa lebih ingat. Ini baru pertama, kan?”

Syerin hendak menyuarakan protes namun ditahannya. Yasudahlah kalau Myungsoo maunya begitu. Masalahnya dia juga sudah kelaparan. Salahnya juga sih membawa Krystal dan Myungsoo keluar saat jam makan siang. Tapi kalau tidak siang, mereka berdua mana sempat? Syerin akhirnya memilih memandang keluar jendela dan sedetik kemudian dia baru ingat kalau ponselnya masih berupa pecahan puzzle. Cepat-cepat dia meronggoh saku jaketnya dan mengeluakan ponsel dan baterainya. Begitu menyala, matanya membelalak ketika mendapat puluhan pesan dan lusinan missed call dari orang yang sama. Siapa lagi kalau bukan Kim Heechul?

__

“Suzy-ah, tunggu sebentar ya, aku ingin ke kamar kecil,” Minho meremas pundak Suzy lembut lalu meninggalkan Suzy yang balas mengangguk. Mereka berdua baru saja memasuki salah satu mall besar dan tentu saja, penuh dengan barang bermerek dengan harga selangit. Sejak dulu Suzy memang memimpikan ini, jalan berdua dengan tunangannya, memilih cincin pernikahan, merancang rancangan pernikahan mereka sendiri, hidup bahagia. Namun, sedari tadi Suzy hanya bisa memasang senyum palsu.

Bagaimana dia bisa tersenyum sepenuh hati jika barusan dia mendapat email yang berisi foto terakhir Soojung? Dan Suzy tidak sebodoh itu kalau tidak tahu Krystal itu baru datang dari Amerika. Sekarang, dia sudah bisa menyimpulkan kalau Krystal adalah Soojung yang hilang ingatan karena gangguan jiwa sepuluh tahun yang lalu. Dan sekarang Soojung tengah pacaran dengan sepupu Minho. Suzy tahu dengan pasti kalau Minho tidak pernah memegang surat cerai, bahkan pria itu mungkin tak ingat apa ia pernah mengajukan surat cerai atau tidak. Tapi yang jelas, Suzy tahu kalau Minho masih menyimpan sebuah cincin emas di sebuah kotak yang ia letakkan di dasar lacinya. Jadi, kesimpulannya adalah Minho masih berstatus suami Soojung, sementara ia sebentar lagi akan menikah dengan Minho! Astaga, dia akan menikahi suami orang! Suzy hanya bisa menggenggam ponselnya dengan pandangan tak percaya, dan meskipun fakta yang berhasil dikumpulkannya terlihat aneh, semuanya malah semakin masuk akal.

Itulah sebabnya Krystal bisa langsung dekat dengan Younghyeon. Itu sebabnya Minho jadi kembali bingung dengan sosok Soojung yang ada dalam diri Krystal, meski kata Minho, Soojung sudah meninggal dan ia sendiri telah melihat makamnya.

Kenapa Tuan Choi memperbolehkan Krystal dan Jessica tinggal di rumahnya?

Kenapa Suzy berkali-kali menangkap tatapan aneh Krystal pada Minho, namun seratus delapan puluh derajat berbeda dengan tatapannya pada Younghyeon?

Ia tahu Krystal punya suatu tujuan datang ke sini. Hanya saja dia tidak tahu apa tujuan itu berhubungan dengan Minho atau memang karena murni urusan pekerjaan. Dan kalau Nyonya Choi sudah seyakin itu dengan kematian Soojung, kenapa dia harus khawatir dengan urusan Krystal? Apa dia takut kalau Minho akan lari pada wanita yang seratus persen mirip dengan istri pertamanya?

Suzy terlonjak dan lamunannya langsung buyar ketika merasakan tangan Minho kembali menyentuh pundaknya. “Maaf, menunggu lama?”

Suzy menggeleng dan tersenyum kaku. Minho membalas senyumnya, lalu menggandeng tangannya untuk berkeliling mall. Suzy menatap tangan yang saling terkait itu dengan perasaan campur aduk. Ia tidak lupa kalau Soojung adalah saudara kembar Soomin, kakak yang sangat dicintainya. Kalau dia mencintai Soomin, jelas ia juga menyayangi Soojung. Bagaimanapun mereka bersaudara dan setelah Soomin tiada, Suzy tahu hanya Soojung-lah yang tersisa dari keluarganya. Ia tidak mau kehilangan saudara lagi seperti dulu. Ia tidak mau kehilangan keluarga satu-satunya itu.

Dan sekarang yang menggenggam tangannya, yang tersenyum padanya, dan yang seminggu lagi akan menikah dengannya adalah suami Soojung. Tidak ada kata mantan karena mereka memang tidak pernah bercerai. Yang tengah berusaha mengubah haluan hatinya padanya adalah pria yang mencintai Soojung sepenuh hati, yang masih mengharap dan mencintai Soojung jauh dilubuk hatinya.

Tidak, dia tidak bisa. Dia tidak bisa menikah dengan Minho. Demi apapun dia tidak bisa menikahi suami saudaranya sendiri!

“Suzy-ah? Kenapa melamun?” suara lembut Minho yang berbisik tepat di depan telinganya mmebuatnya kembali tersadar. Ternyata mereka berdua sudah ada di depan etalase sebuah toko perhiasan yang terkenal di Seoul, tepatnya di depan etalasi cincin. “Mana yang kau suka? Aku sih ikut saja,”

Suzy hendak berkata tapi tenggorokannya terasa kering. Ia membasahi bibirnya lalu menjatuhkan pandangan ke isi etalase kaca itu, yang penuh dengan cincin-cincin pernikahan cantik. Mata Suzy langsung jatuh hati pada sebuah cincin emas putih dengan satu mata berlian besar di tengahnya dan tiga berlian kecil membentuk segitiga di kanan-kirinya, nampak seperti membuat kesan sparkling ‘sampingan’ pada cincin itu. Untuk cincin prianya, lebarnya lebih besar dan hanya memiliki satu mata berlian di tengah yang seukuran dengan cincin wanitanya. Hatinya berdesir. Dia tidak ingin Minho menjadi pria yang menyematkan cincin ini di jarinya di depan altar.

“Kau suka yang itu? Mau dicoba?” tanya Minho ketika menangkap mata Suzy yang terkunci dengan cincin yang harus diakuinya memang cantik sekali itu. Meski hatinya berdesir perih, namun pria itu telah membuat keputusan bulat. Tentu saja, ini bukan pertama kalinya dia menemani calon istrinya membeli cincin. Ia pernah melakukan itu, sebelas tahun lalu. Dengan Soojung. Bayangan cincin pernikahan yang dipilih Soojung dan bagaimana cincin emas itu tersemat dengan sempurna di jari manisnya membuat hati Minho kembali berdenyut perih. Namun segera diusirnya bayangan itu dan berusaha memfokuskan diri pada Suzy.

Akhrinya, mereka berdua keluar dari toko perhiasan itu dengan sebuah kantong belanjaan yang berisi sepasang cincin pernikahan. Minho tentu bingung dengan sikap Suzy yang tiba-tiba berubah menjadi pendiam, dan hampir sepanjang mereka bersama Suzy tak pernah mau memandang matanya. Bahkan pada saat wanita itu berbicara. Minho akhirnya memutuskan untuk mencari tahu alasan dibalik sikap Suzy yang seperti ini dengan mengajaknya makan malam di sebuah restoran Italia yang kebetulan juga ada di dalam kompleks mall besar itu. Lagi-lagi, Suzy hanya mengangguk menurutinya, dan lagi-lagi Suzy memasang senyum kaku. Minho tidak pernah melihat Suzy tersenyum sekaku itu sebelumnya. Tiba-tiba ia memperbesar langkah hingga berada berhadap-hadapan dengan Suzy yang menerjap terkejut. “Bae Suzy, kau kenapa hari ini?” tanya Minho lembut dan tenang.

Suzy mengedip-ngedipkan matanya, mencoba bersuara. Setelah sekian detik berkutat dengan pikirannya, Suzy akhirnya hanya bisa berkata, “Minho, kurasa sebaiknya kita tidak usah menikah,” Suzy terperanjat sendiri ketika ia mengeluarkan kata-kata itu, begitu pula Minho. Pria itu nampak luar biasa terkejut.

“Suzy-ah, kau tidak bercanda, kan?” suara Minho terdengar keras, dan itu membuat Suzy mati kutu. Dia tidak bernai menatap Minho, jadi ia langsung menunduk. Tapi bahunya buru-buru dicengkeram Minho, membuatnya mau-tak mau kembali menatap Minho yang nampaknya sudah mau meledak sekarang. “Pernikahan kita seminggu lagi dan apa katamu? Semua persiapannya sudah sembilan puluh persen dan kau ingin membatalkannya?”

“Dengar, Minho. Aku sudah banyak berpikir untuk tetap mempertahankanmu, tapi aku rasa aku tak bisa. Aku tak bisa menjadi istrimu tanpa memiliki hatimu,” jawab Suzy dengan suara hampir bergetar. Harusnya dia bisa mengeluarkan kata-kata yang tegas dan menyangkut Soojung yang masih hidup, tapi dia malah mengeluarkan kata ini. Tapi kalau bukan tangan kanannya yang mencengkeram kantong belanjaannya dengan erat, Suzy mungkin sudah jatuh terduduk karena kakinya langsung lemas dan mungkin tidak kuat berkata lagi. Mata Suzy menatap mata Minho, mencari-cari ke dalam mata tajam itu. Namun, tanpa disangkanya, tangan Minho bergerak menyelimutinya ke dalam sebuah pelukan.

“Kau benar-benar wanita yang baik, Suzy-ah. Dan aku sudah memilihmu. Aku sudah membuat keputusan bulat untuk hidup bersamamu. Aku memang belum bisa memberikan kata cinta untukmu, namun aku yakin lambat laun kau akan menjadi satu-satunya untukku. Mungkin aku masih mencintai Soojung, namun pasti rasa itu akan menghilang seiring dengan kerelaanku melepas kepergiannya,” bisik Minho di telinga Suzy yang rasanya sudah mau pingsan saja. Batinnya jelas berteriak tidak terima, tetapi tubuhnya terlalu kaku karena menerima perlakuan Minho yang hangat dan lembut itu.

SOOJUNG BELUM MATI! Batin Suzy kembali menjerit dan sekarang ia sudah tak kuasa membendung air mata yang sudah ditahan-tahannya. DIA MASIH ISTRIMU DAN AKU ADALAH SATU-SATUNYA YANG PERNAH DEKAT DENGAN KELUARGANYA! KAU TAK BISA MENIKAHIKU! Dan tangis Suzy pun pecah. Minho semakin mengeratkan pelukannya pada Suzy dan membelai punggung wanita itu untuk memberinya ketenangan, menandakan untuk membiarkan Suzy melepas semua yang sudah ditahannya. Walaupun menurut Suzy tangisan tidak akan merubah apa-apa termasuk peerasaan kacaunya, namun hanya itu yang sekarang bisa ia lakukan.

“Sudah, Suzy-ah. Sudah, jangan menangis lagi. Kau tidak kelaparan? Ayo makan,” Minho kembali tersenyum lembut pada Suzy yang malah membuat wanita itu ingin menangis lagi. Tangannya yang kokoh melingkari bahu Suzy, menyelubunginya dengan kehangatan dan kekuatan, tidak peduli dengan jas kantornya yang basah karena air mata Suzy. Suzy tidak bisa membalas senyum manis itu, tapi akhirnya ia menurut Minho melangkah masuk ke restoran tujuan mereka.

Minho mengajaknya duduk di sebuah meja yang cukup untuk empat orang karena tidak ada meja lain yang lebih kecil atau lebih privat, dan memilih tempat yang berada agak di tengah ruangan. Setelah mereka berdua duduk, Suzy masih memikirkan cara agar Minho sadar kalau Soojung masih hidup namun suara seorang pria membuyarkan pikirannya. Mata Minho juga menoleh menatap keasal suara itu.

Hyeong! Tak kusangka akan bertemu di sini. Makan malam romantis juga bersama Suzy?” jantung Suzy berhenti berdegup ketika melihat Soohyun yang menggandeng Krystal di belakangnya tiba-tiba sudah berdiri di samping mejanya. Matanya tak beralih dari Soohyun yang tersenyum gantian pada Minho lalu padanya.

“Soohyun-ah! Kau jago juga yah mengajak wanita kencan,” Minho terkekeh, sebelum menangkap tatapan Krystal padanya, pria itu langsung buru-buru mengalihkan pandangan. “Mau makan bersama saja?”

Soohyun menggeleng. “Tidak usah, Hyeong. Nanti malah mengganggu,” cengirnya sambil menarik Krystal mendekat. Suzy mengerutkan keningnya. Apa ini? Kenapa…

“Sama sekali tidak, kok. Lagian cuma makan malam saja. Ayo, duduklah,” dengan sopan Minho mempersilakan Soohyun dan Krystal duduk di hadapannya yang duduk di samping Suzy. “Untung kami baru mau pesan. Sekalian saja ya?”

Soohyun mengangkat bahunya lalu membuat gerakan tangan seperti mempersilakan. Suzy mengalihkan pandangan pada Krystal, yang nampaknya tidak mau melihat siapa-siapa sekarang. Tatapan matanya berubah sendu, pasti Soomin akan terlihat seperti ini jika ia sudah dewasa, batin Suzy. Setelah mereka memesan, tak lama pesanan pun datang. Berkali-kali Suzy harus mengeratkan cengkeramannya pada garpu yang sedang dipegangnya ketika melihat betapa mesranya Soohyun dan Krystal. Cemburu iya, sedih juga iya. Tunggu, cemburu? Oh God. Please please please…

“Kalian cukup serasi, kau tidak berencana melamarnya, Soohyun-ah?” tanya Minho tiba-tiba. Ternyata pria itu juga memerhatikan Soohyun dan Krystal, tentu saja. Sebenarnya, Minho merasakan perasaan aneh setiap melihat Krystal. Jelas-jelas dia bukan Soojung dan dia sudah pacaran dengan Soohyun. Minho tidak mungkin macam-macam pada Krystal kan?

Dan, dia juga sudah berjanji untuk mengusir kenangan tentang Soojung selamanya kan? Apa lagi yang harus ia risaukan?

Tapi jujur saja, melihat Soohyun yang telaten memotongi steak Krystal dan kembali menyodorkan piringnya sambil tersenyum dan Krystal yang menggumamkan kata terimakasih membuat batinnya bergejolak. Seharusnya dia yang melakukan itu. Seharusnya dia yang mendapat senyuman semanis itu dari Krystal…

Sialan! Apa-apaan pikirannya ini?

“Masih belum saatnya, Hyeong. Kami tidak mau membuat acaramu jadi dobel-dobel nantinya. Lagipula, kami masih punya banyak waktu. Ya kan?” jawab Soohyun santai dan penuh percaya diri, menoleh menatap Krystal dengan senyuman disertai dengan renyitan kening Suzy. Krystal yang sedari tadi sudah tertekan dengan kehadiran Minho maupun Suzy hanya bisa memaksakan senyum manis lalu mengangguk menyetujui jawaban Soohyun.

Krystal tentu saja mengerti dan tahu, kalau Minho hanya targetnya dan Suzy bisa jadi hanya seorang penghalang rencananya. Tapi berhadapan dengan dua orang itu sekaligus… Krystal merasa aneh. Apalagi, dia mendengar ada yang lain dalam suara Minho. Seperti… dia pernah mendengar dan mengenal baik suara itu. Dan Krystal juga seratus persen sadar dengan tatapan yang dihujamkan Suzy padanya dan Soohyun. Tatapan itu nampak sedih dan… prihatin?

Tunggu, Krystal tidak salah lihat, kan?

__

From: Heechul

Syerin-ah, aku tidak tahu apa yang sedang kau alami tapi kenapa kau mulai berubah sekarang? Kau jarang membalas pesanku, menjawab telponku, apa aku semengganggu itu? Tolong jangan berubah menjadi pendiam seperti ini. Aku mencintaimu.

Bola mata Syerin bergerak-gerak membaca pesan singkat yang dikirim Heechul itu. Ia menutup ponselnya lagi, lalu menyandarkan kepalanya ke jok mobil. Heechul selalu mengirimkan kata-kata cinta padanya, bersikap manis seperti pacarnya, padahal hubungan mereka masih tanpa status. Memang pria itu jelas-jelas menginginkan hubungan yang serius dengannya dan selalu ia jawab dengan penolakan. Tujuannya hanya satu, ia masih bingung dengan perasaannya dengan Heechul. Apakah dia mencintai pria itu? Ingin bersamanya? Syerin belum merasakan hal itu. Ia tak bisa memberikan kepastian yang Heechul inginkan, meski Syerin ingin sekali meluruskan hubungan antara mereka berdua.

Setelah menutup mata sejenak, Syerin baru membukanya lagi dan menjalankan SUV peraknya. Urusan tentang Heechul memang genting, tapi ada yang lebih genting lagi. Prinsip Syerin, ia tak bisa berlama-lama pada hutang masa lampau. Sampai masalah ingatan Soojung belum selesai, dia tidak bisa terfokus pada hal lain. Tak lama ia sudah berada di pintu gerbang sebuah bangunan tingkat dua yang berada sekawasan dengan SMA-nya dulu. Gedung itu bukan bangunan tua, berada di tengah sebuah tanah yang nampaknya belum selesai dibersihkan. Masih banyak belukar, ilalang dan pohon kelewat rindang disana-sini, dan beberapa tempat yang menunjukkan bekas kebakaran.

Ya, dia sekarang berada di depan panti asuhan Soojung dulu. Berkat informasi yang sempat dikumpulkannya, akhirnya ia menemukan panti asuhan yang ternyata namanya diganti ini. Setelah dipikir-pikir, dia tidak mungkin berbicara dengan pemilik panti tentang Soojung karena semua data anak-anak dimasa lalu sudah hangus terbakar. Jadi, dia hanya minta ijin melihat-lihat berkeliling sambil memberikan beberapa sumbangan kepada anak-anak disana, hitung-hitung sebagai tanda terimakasih.

Syerin turun dari mobil dan langsung berjalan masuk. Entah kenapa, langkahnya menuntunnya ke arah taman belakang, yang penuh dengan belukar hangus dan sekarang telah ditumbuhi rumput-rumput liar. Ia memilih untuk duduk di sebuah bangku panjang yang sepertinya dulunya berwarna putih, namun sekarang penuh dengan karat. Ponselnya berdering ketika matanya mulai mengedar ke sekeliling, dan ia mengangkatnya begitu saja tanpa melihat siapa penelponnya. “Yoboseyo?”

“Syerin-ah? Eodia?” Syerin pikir Heechul, namun ternyata Myungsoo yang menelponnya.

“Hm, aku ada di panti asuhan… St. Anna,” jawab Syerin pelan. “Panti asuhannya Soojung, namun sekarang sudah ganti nama,” matanya berkedip lagi, “Memangnya ada apa?”

“Oh, kupikir kau ada ditempatmu. Jadi kau belum melihatnya ya?” tanya Myungsoo lagi. Syerin mengerutkan keningnya.

“Apa?”

“Barusan aku mendapat undangan pernikahan Choi Minho, seminggu lagi,” balasnya masih dengan nada yang sama, “Untuk apa kau disana? Bukannya bangunan itu hangus seluruhnya?”

Syerin menggeleng pelan dan baru sadar kalau Myungsoo tak bisa melihat gelengannya. “Mungkin aku bisa menemukan liontin milik Soojung disini. Soojung waktu itu tidak ada di dalam gedung, makanya dia selamat. Kata informan Tuan Jung, Soojung malah ikut membantu mengeluarkan anak-anak dari dalam gedung. Tapi ya itu, dia langsung trauma karena…”

“Kau bekerja sangat keras, ya,”

“Ini janjiku, Myungsoo-ya. Aku harus memperbaiki kesalahan keluargaku,” balas Syerin dan sedetik kemudian dia kaget.

“M-maksudku…”

“Shim Syerin,” tegas Myungsoo, seakan menyuruh Syerin untuk terus berbicara.

“Myungsoo-ah, yang menaruh Soojung di panti asuhan ini adalah oppa-ku. Dan appa… dia kaki tangan Jung Jonggu penyebab kecelakaan keluarga Soojung, Myung. A-aku…” Syerin langsung tercekat, ini pertama kalinya ia mengungkapkan rahasia terkelamnya selama bertahun-tahun. Setetes air matanya luruh bersamaan dengan usahanya untuk kembali membuka suara. “Aku sudah berjanji untuk menemukan Soojung dan memastikannya bahagia…” lirihnya akhirnya.

“Syerin-ah, aku tidak tahu—“

“Kau mau membantuku, kan? Setidaknya, sebagai seorang yang menyayangi Soojung,” potong Syerin sembari mengusap pipinya yang mulai basah. “Kalau kau mau tahu, baik Minho maupun Soojung tak pernah mengajukan cerai. Mereka berdua masih sah suami-istri. Minho tak bisa menikahi Suzy seperti ini,” Syerin bisa merasakan Myungsoo terhenyak diposisinya sekarang. Namun ia harus mengatakannya.

Syerin menundukkan kepalanya dengan tangan masih menggenggam ponsel yang menempel di telinga. Tiba-tiba sudut matanya menangkap sesuatu yang kecil keemasan, berkilauan terkena cahaya matahari. Kepalanya terpaksa menoleh dengan kening berkerut, menunduk untuk melihat lebih jelas. Jantungnya seakan loncat dari tempatnya ketika menyadari benda yang berbentuk lingkaran dan seukuran jari itu. “Syerin-ah? Syerin? Shim Syerin?”

“Myung-ah,” panggil Syerin pelan sambil memungut benda kecil yang ternyata cincin itu, dan semakin ia teliti semakin memperkuat prasangkanya. Di lingkar dalamnya, ada inisial M & S. “Aku menemukan cincin kawinnya Soojung,”

“… Mworagu?”

To Be Continued…

TEASER for TRAGEDY 10

“Kau jatuh cinta padanya? Kau jatuh cinta pada Choi Minho?” sembur Soohyun dengan nada rendah dan tajam, membuat tubuh Krystal langsung membeku di tempat.

“Apa bahasa Inggris dari kata ‘soojung’? Apa bahasa Korea dari kata ‘krystal’? Maaf aku baru memberitahumu sekarang, tapi kaulah Jung Soojung, istri sah Choi Minho, karena tidak ada surat tertulis tentang perceraian kalian,” sergah Syerin tidak sabar, namun sekelebat rasa bersalah langsung menyelubungi benaknya. Bagaimana Krystal bisa tahu? Dia masih lupa ingatan.

“Tidak usah merasa secanggung itu, Suzy-ssi. Aku yakin kita akan menjadi teman baik mulai dari sekarang,” senyum Soohyun sambil sekilas menatap Suzy yang ternyata sedang menatapnya.

“Penerbanganmu empat jam dari sekarang, dan aku bertugas untuk mengantarmu. Dua jam lagi kau harus sudah siap dan aku akan kembali ke sini,” ujar Jessica tegas sebelum bangkit dan pamit keluar dari apartemen Syerin, meninggalkan si empunya tempat tinggal kembali membeku di sofanya.

Pandangan Krystal tidak fokus ketika ia menatap mata Minho. Sekelebat bayangan muncul dalam ingatannya, sekelebat rasa hangat dan nyaman yang serupa seperti saat ini kembali terkuak.

Dia sangat mencintai pria yang mendekapnya sekarang ini.

Krystal menatapnya dan mengedipkan matanya. “Ya, aku Jung Soojung. Bagaimana kau tahu namaku?”

END of TEASER

SUZY PINDAH HALUAN! Akhirnyaaaaa si cantik satu ini sadar juga ya hmm… dan menurut kalian pas gak si Myungsoo ada di situ? Yah, jadi mereka bertiga, Syerin-Myungsoo-Krystal memang teman dekat waktu SMA. Syerin yang merupakan adik dari Changmin, dan Myungsoo emang pernah suka sama Krystal. Sebenernya cowok itu yang marah sama Krystal karena pacaran sama Minho, sampe hamil pula. Tapi Myungsoo disini hanya berperan sebagai teman, jadi kemungkinan besar hanya timbul tenggelam saja di cerita ini. Dia gak bakal banyak diceritain, dan kayaknya nggak perlu, ya?

Ng, bukan bermaksud promosi sih, cuma kalau merasa kelamaan nunggu di sini, boleh visit wp pribadiku buat liat updates fict ini. Disana aku bisa post 2 kali sebulan hehe :3

©2011 SF3SI, reenepott

signaturesf3si

Officially written by reenepott, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

11 thoughts on “The Cruel Marriage – Part 9

  1. kyaaaaaaa……kaget past lihat part 9…seneeeeng udah mendekati end kan?syukur dch Suzy sadar..moga Suzy bisa sama Sohyun.next nya d tunggu sangat

  2. Kyaaa akhirnya muncul juga part 9nya
    Syukur deh udah suzy sadar
    FF ini daebaaak bangeet
    Ihh aku udah ga sabar nunggu kelanjutannya jangan lama lama ya~

  3. Hohoho
    Nice
    Suzy bersama SooHyun
    Krystal (SooJung) bersama Minho
    Mungkin mama dari MinHo harus dipenjarakan atas perbuatannya hmm

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s