My Homosexual Parents [1.2]

myhomosexualparents

thanks to Hyunji @ cafeposterart.wordpress.com for this beautiful poster!🙂

Title : My Homosexual Parents

Author : vanflaminkey91 (@alexandriavania)

Main cast : Kim (Lee) Taemin, Kim Jonghyun, Kim Taeyeon

Support cast : Lee Jinki, Jessica Jung, Son Naeun, Kim Jongin, Bang Yongguk

Length : two-shots

Genre : AU, angst, sad, family, friendship, romance, psychology.

Rating : PG17

Summary: Tahukah kau, bahwa dari dulu aku membenci orang tuaku? Bahwa dari dulu aku selalu menganggap aku lebih baik lahir dari belah batu? Bahwa aku membenci kenyataan? Bahwa aku hanya pelampiasan mereka—untuk menyelamatkan mereka di depan muka publik?

A/N: Hanya sebuah imajinasi liar tak berdasar. Seperti biasa, tidak dibaca ulang, tidak diedit, dan tidak diperbaiki. Natural baru diketik, hahaha. Dan tidak ditujukan untuk penghinaan, namun tujuan sebaliknya (menghargai). Tolong diperhatikan. Silakan dinikmati dan happy birthday, Lee Taemin!🙂

 

My Homosexual Parents (1/2)

Sinar matahari yang redup menembus celah-celah kecil tirai hijau toska yang tak tertutup sempurna. Kamarnya yang tidak menyalakan lampu itu kini terlihat sudah lebih terang daripada saat malam menggelimang. Terlihat sepasang angka sama di jam digital berbentuk trapesium dengan warna monoton yang berdiri santai di atas nakas.

06:06

Di pojok ruangan, di atas tempat tidur. Ia duduk menyandar pada tembok. Kepalanya ditundukkan, membiarkan fokus matanya tertumpah ruah pada kertas di pangkuannya. Tubuhnya berguncang sedikit. Tangannya bergerak-gerak mengikuti tarian yang dilakukan pensilnya di atas helai kertas.

Sepasang headset terpasang rapi di kedua telinganya, mengabsenkan ia dari dunia luar. Wajah tampan anak muda ini tampak dingin—penuh nuansa gloomy yang kentara.

Sesekali ia mengalihkan pandangannya, guna mengistirahatkan sejenak matanya. Berkeliling mencari inspirasi dari sudut-sudut yang tidak terlihat punya sumber inspirasi. Tapi kali ini, perhatian pandangannya benar-benar terpaku pada jam.

07:07

“MWOYA!” pekik pria itu sambil melepaskan headset-nya dengan terburu-buru. Menaruh kertas gambar beserta pensil 2B-nya sembarangan, sementara ia lompat dari tempat tidur menyambar seragam sekolahnya yang sebenarnya sudah disiapkannya dari beberapa jam lalu.

“Tadi masih jam enam, kan? Kenapa sudah—aish!” Ia memasang kemejanya, mengancingkannya dengan rapi di depan cermin. Saat tangannya sudah tersingkir, di sana jelas terpasang nametag bertuliskan hangul.

Merasa pakaiannya sudah rapi, ia menyambar tas sekolah. Pintu kamarnya dibuka dengan terburu-buru.

Ia hendak loncat keluar kamar, namun tiba-tiba kembali lagi menghampiri tempat tidur. Disambarnya kertas gambar beserta pensilnya. Hendak dilanjutkannya skesta sebuah gambar yang sudah setengah rampung itu.

Gambar sepasang sayap.

*

“Selalu kau, Kim Taemin.” Suara guru piket pagi itu—Yang Songsaenim—memenuhi telinga Kim Taemin yang berdiri agak menunduk di hadapan beliau. ‘Selalu kau’ adalah kalimat yang sudah sering dilontarkan guru-guru kepada ‘raja sekolah’ mereka ini. Salah satu dari beberapa murid yang ‘punya pengaruh’ dan tentu saja memiliki banyak fans murid wanita.

Mianhamnida, Saem. Tadi aku terlalu asyik dengan—“

“Tak usah memberikan penjelasan apapun, Taem. Sekarang kau diam saja dan tunggu di sini hingga bel tanda selesai dari jam pertama dibunyikan. Oya, berdiri—tidak duduk.” Yang Songsaenim berlalu dari sana, tidak ingin semakin emosi kepada muridnya.

Taemin tak pernah menaruh dendam pada guru-guru, meskipun mereka sering memarahinya. Ia tahu maksud mereka baik. Bukan hanya karena itu sebenarnya. Setiap ia dimarahi karena telat pasti ia menyalahkan kedua orang tuanya.

Taemin melirik ke arah Yang Songsaenim yang sudah berjalan memunggunginya. Ia dapat melihat ketegasan di punggung sempit pria beranak satu itu. Ketegasan dan segala yang dapat membuat sang anak bangga—Taemin iri dengan ini.

Ia tak bisa membanggakan ayahnya. Bahkan ibunya.

Pria berambut hitam legam itu mengacak rambutnya, kemudian memasukkan tangan ke saku celana. Sekali lagi diliriknya Yang Songsaenim yang kini semakin menjauh. Ia akhirnya duduk dengan wajah tanpa dosa.

YA! Kim Taemin! Saya masih mengawasimu!”

Suara Yang Songsaenim dari kejauhan terdengar begitu kuat. Taemin segera berdiri. Wajah tanpa dosanya masih bertahan di sana.

Seandainya orang tuaku normal, maka aku tak akan berperilaku begini.

Seandainya mereka seperti orang tua pada umumnya, aku akan bangun pagi dengan semangat—melakukan persiapan ke sekolah, bukannya melakukan hal lain.

*

“Kim Taeyeon!”

Wanita itu berusia hampir empat puluh dengan perawakan mungil dan suara yang lembut. Rambutnya yang bergelombang itu dicatnya kecoklatan—memerlihatkan sisi fresh yang bisa membuatnya terlihat awet muda.

Ne, Yoona-ya. Ada apa?”

“Kau dipanggil sajangnim.

Sudut bibir Taeyeon tertarik sedikit, tampaknya ia tahu maksud bosnya memanggil. Setelah mengucapkan terimakasih, Taeyeon merapikan berkas-berkas di mejanya—beranjak menghampiri ruangan sang bos.

Suara stiletto berwarna formal itu mengetuk-ngetuk lantai porselen percetakan yang sudah memiliki nama besar di Korea Selatan, tempat Taeyeon bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri dan anaknya—mungkin untuk sedikit membantu suaminya, sedikit.

Tok. Tok. Tok.

“Masuk!” Terdengar suara lembut berwibawa dari balik pintu, membuat senyum Taeyeon mengembang lebih lebar lagi.

“Ah, hai, Yeobo!” Begitulah sapaan yang diterima Taeyeon ketika ia baru saja masuk. Taeyeon tidak menjawab dulu, ia menutup pintu ruangan sang bos dengan cekatan—menguncinya agar rahasia mereka selama ini tidak bocor ke luar.

“Hai, Sayang,” bisik Taeyeon mendaratkan bibirnya di atas pipi perempuan berambut pirang itu. “Ada apa kau memanggilku di jam kerja seperti ini, Jess?”

Jessica Jung, direktur utama dari perusahaan milik keluarganya sendiri, selalu memiliki kendali atas apapun di perusahaannya. Tentu pertanyaan bodoh bagi Jessica jika ada orang lain bertanya seperti itu padanya, kecuali Taeyeon. Taeyeon tak pernah bodoh di mata Jessica.

“Duduk saja, Sayang.” Jessica tersenyum. Ia memerhatikan kekasihnya yang sedang menarik kursi mendekat kepadanya. “Memangnya tak boleh? Aku hanya merindukanmu,” lanjut Jessica masih tersenyum.

Taeyeon tertawa, “Oh, jadi itu. Tapi aku kan harus menyelesaikan dulu pekerjaanku. Aku kan sudah meminta agar kau tak mengistimewakanku, bukankah itu sudah kesepakatan?”

“Melanggar kesepakatan sekali-kali tak apalah,” balas Jessica cuek.

You’re the boss, Honey,” balas Taeyeon tersenyum jenaka. “How’s your sister, Jung?” Ia meraih tangan Jessica, memainkan jemari-jemari kurus itu.

She’s gonna marry her boyfie, Taengoo.”

“Wow! Kapan?”

“Bulan depan.”

“Dengan kekasihnya yang di Melbourne itu?”

“Setidaknya itu tetap bangsa Korea, kan?” timpal Jessica. “Ya, dengan Key. Kau tahu, kan? Kau pernah bertemu dengannya sekali.”

“Dua kali,” ralat Taeyeon sambil menyandarkan punggungnya. “Oh, mereka menikah juga? Lalu, kapan kau? Aku sudah menikah.” canda Taeyeon, agak geli sendiri dengan ucapannya.

Jessica merengut, “Hei! Menyebalkan sekali! Ya, menikah hingga punya seorang anak karena ‘kecelakaan’ itu, kan? Duh, aku tak seberani kau, yah. Mengambil resiko menikahi lawan jenis dan meninggalkanmu.”

“Aku kan tak meninggalkanmu.”

“Ya, ya. Setidaknya aku lebih unggul dalam hal ini.” Jessica mendekat kepada Taeyeon, memegang dagu sang kekasih sambil menatap kedua bola mata Taeyeon dalam-dalam. “Kadang aku takut kau akan berubah straight karena anakmu.”

Taeyeon menghela napas. Melepaskan tangan Jessica dari wajahnya dan menangkup wajah sang kekasih dengan kedua tangan, “Kau sudah tahu kan bahwa ucapanku sudah final? Taemin tetap membutuhkan kami sebagai orang tua. Aku tak sampai hati untuk menceraikan Jonghyun dan membiarkan Taemin berantakan. Tidak. Tapi, kau tahu kalau aku hanya mencintaimu, kan, Jess? Kau sudah tahu jawabannya, kan?”

Taeyeon diam sejenak.

“Tidak akan.”

*

“Hoi, Bro! Kenapa dengan wajahmu? Kusut bagaikan baru saja keluar dari mesin cuci.” Itu Kim Jongin, tapi ia lebih senang dipanggil ‘Kai’ oleh teman-temannya. Jongin adalah satu-satunya orang di sekolah itu yang kenal Taemin paling lama. Terang saja, mereka tetangga, kok. Dulu, waktu masih kecil.

Taemin melirik Jongin sebal, tanpa kata. Ia hanya mendengus. Kedua tangannya masuk ke saku celana. Langkahnya berayun ringan meninggalkan Jongin yang keheranan.

Ya, ya! Tunggu, dong!”

“Ayolah, Jongin-ah. Jangan ganggu aku. Sana, cari saja pacarmu dan bermainlah bersama dia. Aku sedang tak ingin bercanda,” sahut Taemin dingin—sedingin es.

Kim Jongin berhenti mengikuti sahabatnya, lalu menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal sama sekali. Ia mengendikkan bahu, pergi menuju arah yang berlawanan dengan Taemin.

Saat itu sudah waktunya pulang, tapi Taemin benar-benar tak ingin pulang. Ia tak pernah ingin pulang sejak usianya 12 tahun, sejak ia melihat sendiri hal memuakkan yang terjadi di dapur rumahnya.

Sambil menggeleng, Taemin melepaskan ranselnya. Menaruh benda itu di salah satu meja kantin sedangkan ia duduk di kursinya. Seperti kebiasaannya, ia akan duduk di sana—mengeluarkan sketsa gambar-gambar, lalu menarikan pensil di atasnya hingga penjaga sekolah mengusirnya pulang.

Dipasangnya sepasang headset kesayangan, memperdengarkan lagu ke telinganya.

Taemin tak tahu kenapa ia senang sekali menggambar sayap belakangan ini. Berbagai model sayap dituangkannya ke atas kertas setiap hari. Indah, tampak begitu hidup, dan nyata.

“Gambar yang indah.”

Taemin mengerutkan kening ketika Titanium yang sedang mendengung di telinganya menampilkan sedikit backsound berbahasa Korea yang ganjil. Ia mendongak dan—oh, bukan telinganya yang salah (karena Titanium tidak punya backsound berbahasa Korea, kan?).

Nugu?”

Ia tak pernah melihat gadis di hadapannya. Tentu saja, ia bukan anak sekolah ini—lihat saja seragam yang digunakannya.

“Aku adiknya Sunggyu oppa yang sekolah di sini juga. Oppa sedang bertemu gurunya, jadi aku disuruh menunggu dulu.” Gadis itu tersenyum manis. “Naeun imnida.

Taemin mengangguk dan tersenyum hambar. Ia menunduk lagi, kembali menggoreskan pensilnya.

Gadis yang mengaku bernama Naeun itu tentu kagum dengan gambar Taemin—terbukti dari caranya memandangi detil sepasang sayap megah yang terukir di atas kertas itu.

“Sampai kapan kau akan terus memandangi gambarku, Naeun-ssi?” Taemin tak mendongak, namun suaranya jelas membuat Naeun tahu bahwa ia tidak suka diperhatikan ketika menggambar.

“Sampai oppa-ku menghampiriku, hmm…?”

“Taemin.”

“Ya, Taemin-ssi.” Naeun menyangga dagunya dengan tangan. Diperhatikannya sekeliling, area sekolah mulai sepi—kecuali orang-orang yang semestinya memang ada di sini hingga malam. “Kau tidak pulang?”

“Bukan urusanmu.”

Ampun, judes sekali. First impression yang jelas buruk, namun Naeun bukan tipe pendendam. Jadi, gadis itu mengangguk saja sambil melihat ke sana kemari.

Lama-lama Taemin juga yang jengah. Ia menjauhkan dirinya dari gambar, duduk tegak menatap Naeun datar. Naeun membalas tatapannya dengan tatapan polos, membuat Taemin kesal dan berdiri.

“Ambil saja gambar itu, selamat tinggal!” Taemin mendorong kertasnya hingga menyentuh jemari Naeun, lalu menyambar ransel. Pergi tanpa menengok lagi sedikitpun.

Meski judes dan kurang ramah, Naeun mengambil gambar tersebut. Memerhatikan detilnya sambil berpikir. Tidak lama, dibukanya tas yang masih menggantung di punggung—diambilnya sebuah map, agar kertasnya tak jadi lusuh.

Naeun menoleh ke belakang, memerhatikan punggung sempit pria yang baru dikenalnya barusan dengan iba.

Ia dapat merasakan bebannya dari punggung itu.

*

Taemin berhenti melangkah, tepat di ambang pintu. Wajahnya yang datar tetap saja datar, namun hatinya mendidih marah, benci, kecewa.

Kenapa mereka harus mesra-mesraan di ruang tamu seperti ini? Taemin bergidik geli memerhatikan bagaimana sang ayah sedang mencium bibir dari…. pria lain.

“Taemin-ah, sudah pulang?”

Untung bukan sang ayah yang bertanya begitu, jika sang ayah yang melakukannya pasti Taemin sudah memaki-makinya. Tentu saja. Tanpa dosa begitu, kok.

“Seperti yang kau lihat, Jinki ahjussi. Aku ada di ambang pintu. Kalau aku belum pulang, aku tak akan menyaksikan adegan menjijikan ini, oke?” Taemin mengukir smirk, suaranya tajam. Tanpa menoleh lagi pada dua insan sesama jenis yang duduk berdekatan seperti pasangan normal itu, ia pergi ke kamarnya.

“Maafkan Taemin, Jin.”

Jinki yang tadi terpana pada tingkah Taemin segera menoleh pada kekasihnya. Ia tersenyum, menyusuri garis keras wajah pria itu dengan jemarinya, “Tak apa, Yeobo. Ia masih belum bisa menerima keadaan orang tuanya?”

Kim Jonghyun. Itulah nama sang ayah. Ia bertubuh kekar dengan wajah tampan yang mampu menarik lawan jenis jatuh kepadanya dengan mudah—sayangnya ia tidak senormal itu.

“Tidak akan pernah. Begitu katanya.” Jonghyun menegakkan duduknya, lalu menghela napas. “Harusnya dulu aku dan Taeyeon berusaha lebih keras untuk menolak keinginan orang tua kami—kami pasti masih bebas sekarang.”

Jinki terdiam. Ia paham dengan perasaan Jonghyun.

“Kenapa kalian tidak bercerai saja?”

“Bagaimana dengan Taemin? Ia straight, Jin. Ia berbeda dengan kami. Ia pernah bilang ia sangat malu dengan keadaan kami. Ia membenci kami. Jika kami bercerai, apakah dia tidak akan semakin benci pada kami? Tentu saja kami akan semakin dibencinya. Lagipula, kasihan Taemin kalau orang tuanya tak utuh.”

“Kau sangat menyayanginya, Jong.”

“Tentu. Bagaimanapun dia darah dagingku—meski terjadi karena ‘kecelakaan’.” Jonghyun menyandarkan kepalanya di dada yang lebih tua. Mendengarkan debaran jantung Jinki yang stabil tentu sangat menenangkan perasaannya.

“Taeyeon belum pulang?”

“Tumben menanyakannya, Jin? Dia bilang dia akan kencan dengan Jessica, jadi ia akan pulang malam.” Jonghyun menatap lurus ke arah figura foto besar yang digantung di salah satu tembok ruang tamu—tameng ketika orang tuanya atau Taeyeon datang.

Foto ia dan Taeyeon yang sedang menggendong Taemin saat masih bayi, di sebuah studio foto. Keduanya terlihat serasi dan cute dengan kehadiran sang anak. Senyum yang mereka pampang begitu penuh manipulasi. Setiap orang yang melihatnya akan mengatakan mereka keluarga yang harmonis, cocok, bahagia, hangat. Tak ada yang tahu rahasia apa yang pasangan Kim simpan rapat-rapat dari dunia luar. Tak ada.

“Kau menganggap Taeyeon apa, Jong?” Jinki tiba-tiba bertanya.

“Kakakku,” balas Jonghyun cepat. “Dulu kami memang tak pernah cocok dan akur, tapi lama-lama karena kami senasib kami jadi saling berbagi dan akhirnya kurasa aku menganggapnya kakak, mengingat usianya lebih tua dariku setahun.”

Lee Jinki mengangguk. Ia ingin mengutarakan kekhawatirannya, tapi ia rasa ini bukan saat yang tepat—apalagi Taemin sudah pulang ke rumah.

“Kau mau ke mana, Taemin-ah?” Jonghyun menghentikan Taemin yang melenggang santai melewati keduanya. Ia sudah berganti pakaian, lebih casual dan rapi. “Sebentar lagi eomma-mu pulang. Kita akan malam bersama Jinki dan Jessica.”

Taemin berbalik malas, “Tidak usah mengajakku makan malam dengan kalian semua, oke? Bisa-bisa aku ikutan tidak lurus seperti kalian. Menjijikkan. Annyeong!”

YA! Aku ini masih ayahmu, Kim Taemin!” Jonghyun bangkit berdiri. Ditatapnya sang anak dengan pandangan bercampur—sakit hati, sedih, kecewa, menyesal. “Bisakah kau sopan?”

“Sopan?” Taemin memutar bola matanya. “Aku hanya numpang rumah di sini! Aku membayar semua biayaku sendiri. Setiap uang yang kalian beri selalu aku kembalikan. Aku hanya numpang makan ketika aku memang malas keluar—meski rasanya seperti pasir, seenak apapun itu. Apa itu masih kurang sopan? Aku tak meminta lahir dari sepasang lesbian dan gay seperti kalian! Kalian yang tak sopan berbuat seenaknya di depan wajahku! Dengan santainya kau masih meminta kesopananku? Jangankan kesopanan, kasih sayangpun tak akan aku berikan!”

“Ya, kau tak meminta lahir dari kami! Tapi kami pun tak pernah menginginkan kau ada, Taemin! Kau hanya kecelakaan dan—“ Jonghyun terdiam secara mendadak. Ia baru menyadari apa yang diucapkannya pasti melukai hati sang putra. Jinki terkejut mendengar ucapan sang kekasih, sementara Taemin menatapnya datar—meski terlihat jelas gurat luka itu terpampang di matanya.

“Selamat sore, Tuan-tuan!” Taemin membungkuk pamit, lalu melenggang pergi dari sana. Wajah tampannya disaputi mendung. Hatinya berdarah, disebut sebagai ‘kecelakaan’ oleh ayahnya sendiri.

“Taemin! Taemin!” Jonghyun akan mengejar Taemin, ingin meminta maaf dan mengatakan ucapannya hanya ucapan orang marah, tapi Jinki menahan tangannya. “MWOYA, HYUNG? Aku harus—“

“Tenang, Jong, tenang! Biarkan Taemin sendiri. Ucapanmu tadi menyakitkan, aku sampai kaget. Lebih baik kau tenangkan diri dulu.”

“Aku tak bermaksud mengatakannya ‘kecelakaan’, Jin…”

“Ya, aku tahu.”

Jonghyun mengacak rambutnya frustasi, tanpa sengaja matanya bertemu dengan figura foto keluarganya. Ia bertatapan dengan wajah sang putra yang masih tersenyum bahagia di pangkuan ibunya.

Hati Jonghyun mencelos.

*

Di antara hamparan cahaya bulan, serabut udara dingin yang menusuk, dan taburan permata warna-warni yang dapat disaksikan dari puncak Namsan Tower—hanya di sanalah hatinya bisa tenang. Berhenti berkecamuk.

Taemin menatap jauh ke arah Seoul yang tampak cantik dengan kelap-kelip lampu di malam hari. Mencoba mencari pelipur lara untuk kekosongan hati dan jiwanya.

Hatinya sakit. Sangat sakit. Ucapan Jonghyun tadi sore membuatnya begitu sadar bahwa dirinya benar-benar terpuruk.

Ia menyimpan rapat-rapat seluruh tentang orang tuanya—termasuk kepada nenek dan kakeknya yang seharusnya tahu. Selain karena tidak ingin malu, ia juga masih menghormati keadaan orang tuanya. Salah satu alasan ia tidak pergi dari rumahnya. Itu. Ia tahu orang tuanya juga berusaha melindunginya—berulang kali Taemin memergoki pembicaraan mereka soal dirinya, tapi hati Taemin sudah membatu.

Ia tak bisa menyayangi mereka seperti anak lain menyayangi orang tuanya. Ia tak bisa.

“Kenapa harus orang tuaku, Tuhan?” bisik Taemin memegangi cincin baptisnya yang selalu ia kenakan ke manapun ia pergi. “Aku ingin mereka menjadi normal, tapi mereka tidak mungkin normal. Sampai kapanpun, bukan begitu?”

“Suatu saat kau akan mengerti bahwa kami tak bisa memilih jalan kami, Taemin.”

Suara sang ibu terngiang di kepalanya secara mendadak. Suaranya saat mereka bertengkar hebat yang pertama.

 “Kalian menjijikkan!!” Taemin saat itu masih berusia lima belas tahun. Ia baru pulang sekolah ketika memergoki Taeyeon dan Jessica yang sedang berciuman, tangan mereka saling menjelajah—di sofa ruang tengah. “Aku pulang dan kalian menyuguhkanku yang seperti ini, aku benci!”

“Taemin!” Taeyeon yang cepat bertindak segera menghampiri putranya, memegang tangannya. “Nak—“

“Mentang-mentang aku tahu, bukan berarti kalian seenaknya saja di hadapanku seperti itu! Aku benar-benar menyesal lahir dari wanita hina seperti kau, Taeyeon-ssi!”

Taeyeon merasakan hatinya luar biasa perih. Robek. Mendengar anaknya sendiri berkata seperti itu tentu sangat menyudutkannya—lebih perih daripada saat ia menyadari sahabatnya membenci dia karena ketidaknormalannya.

“Suatu saat kau akan mengerti bahwa kami tak bisa memilih jalan kami, Taemin. Bukan karena kami tidak ingin berubah demi kau, tapi karena—karena keadaan tidak pernah mengijinkan.”

Taemin menepis tangan Taeyeon, berlari ke kamarnya.

Tak lama kemudian terdengar suara pintu berdebam dengan sangat keras.

Taemin menyeka sudut mata kanannya yang menggantungkan setetes bening kesedihan. Betapa ia sangat merindukan masa-masa di mana ia dan ibunya berpelukan bahagia, saat ia dan ayahnya bermain bersama—merakit tamiya, dan lainnya.

Ia malu. Sangat malu.

Bukan karena malu saja, tapi karena dirinya adalah ‘kecelakaan’ bagi orang tuanya.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi, membuat Taemin menghela napas kesal.

Yobosseyo? Maaf, Minho-ya, hari ini saya tak bisa bekerja. Hmm, hmm… saudara saya sakit. Saya harus—benarkah? Oke, terimakasih, Minho-ya! Salam untuk kekasihmu! Hahahaha.”

Sepi lagi.

Hanya suara orang-orang di sekitarnya yang sedang berkunjung yang bisa membuatnya agak terhindar dari rasa sepi.

Taemin menghela napas. Lagi.

Dengan berat ia mundur menjauh dari tepi pagar, berbalik, berjalan untuk segera turun dari sana dan mengikuti ke mana kakinya mengarah. Ke manapun kecuali rumah.

“Huaaaa!”

Taemin tersentak saat seorang anak kecil berbalutkan pakaian hangat yang tebal jatuh tepat di hadapannya. Ia spontan berjongkok, membantu anak itu berdiri sambil menenangkannya.

“Sssh, sssh, tak apa? Apakah ada yang sakit?”

“Kakiku, Hyung,” balas anak kecil itu setengah menangis. Taemin mengusap-ngusap kaki kanan anak lelaki itu, lalu merogoh sakunya.

“Ini, makanlah. Rasa sakitnya akan jauh berkurang.”

“Apa ini, Hyung? Bentuknya lucu,” balas sang anak kecil setengah terisak.”

Taemin tertawa geli, “Ini lollipop. Bentuknya memang lucu, makanya hyung beli tadi. Tapi lebih baik untukmu saja, oke? Berhentilah menangis, Jagoan!”

Benar saja, sebuah kata pujian mampu menghentikan tangis anak lelaki itu. Ia tersenyum lebar dan memeluk Taemin erat, “Kamsahamnida, Hyung!

“Yooji!” Taemin menoleh, ada wanita dan pria yang menghampiri mereka—pasti orang tuanya. “Oh, astaga, Yooji! Kau tak apa, Nak?”

Yooji tersenyum lebar, ia mengatakan sesuatu yang membuat kedua orang tuanya menoleh bersamaan kepada Taemin. Sang ibu tersenyum.

“Terimakasih banyak, ya.”

“Tak masalah bagiku.” Taemin berdiri, tersenyum sopan. Yooji dan orang tuanya berbalik, berjalan menjauhi Taemin yang akhirnya hanya mematung di sana. Memandang keluarga kecil itu penuh lumuran iri di mata.

Ia bisa melihat sang ayah memutar anaknya di udara, sedangkan ibunya tertawa-tawa bahagia melihat kedua permata hatinya. Taemin tersenyum ketir dari kejauhan. Merasakan dadanya sesak luar biasa, sakit, dan perih.

Ia merindukan keluarganya.

Ia merindukan kehangatan keluarganya.

Ia merindukan orang tuanya.

*

“Taemin-ah, suatu saat kau akan tumbuh menjadi orang yang besar. Memiliki istri yang cantik dan saling mencintai. Anak yang sempurna. Keluarga yang harmonis. Kau tak akan menjadi seperti kami. Kau akan menjadi orang besar di kemudian hari. Selamat malam, Nak.”

Kecupan di kening.

Taemin membuka matanya cepat. Napasnya berirama cepat dan tak karuan. Ia merasakan sudut matanya basah. Untuk beberapa saat ia terpaku memandang langit-langit kamarnya dalam keadaan gelap—hanya sedikit cahaya dari lampu di luar yang masuk ke kamar.

Beberapa detik kemudian, barulah ia bergerak. Ditariknya lampu di atas nakas hingga ruangan pun lebih terang daripada tadi, ia pun kembali berbaring dengan mata masih melotot.

“Arrrgh.” Ia mengerang, kepalanya sakit sekali. Tiba-tiba saja teringat bahwa ia habis mabuk-mabukan dan jatuh pingsan di atas sofa ruang tengah. Entah siapa yang membawanya ke kamar.

“Mimpi macam apa tadi?” gumamnya serak.

Mungkin itu bukan mimpi, tapi kerinduanmu pada orang tuamu. Hatinya tiba-tiba menimpali, Taemin jadi semakin kesal.

“Aish, sudahlah!” Ia mematikan lagi lampu kecil itu, kemudian berbaring—mencoba untuk memejamkan mata.

“Asssh!” Taemin bangkit. Kali ini terduduk. Rambutnya berantakan. Kepalanya terasa begitu berat. Alkohol adalah minuman yang luar biasa, gerutu Taemin di dalam hatinya. “Segelas air mineral akan menyegarkanku,” gumamnya susah payah menapaki lantai kamar.

Tahu rasanya pusing dan memaksakan diri berjalan? Taemin harus terjatuh beberapa kali untuk mencapai dapur. Ia sudah lama tidak minum seperti itu dan sekalinya minum—bahkan seperti orang kesetanan, teman-temannya di bar itu bilang—ia benar-benar sekarat.

Segelas air mineral dingin dari kulkas menyegarkan kerongkongannya. Pusingnya secara ajaib agak berkurang. Ia menaruh gelasnya setengah dibanting ketika merasa telah cukup. Taemin segera keluar dari dapur, jalannya tak se-sempoyong tadi.

Saat melewati ruang tengah, Taemin baru menyadari pintu depan rumahnya terbuka lebar. Instingnya mulai tidak biasa. Jangan-jangan ada yang menyusup?

Atau mungkin orang tuanya di luar?

Taemin menjawab penasarannya dengan menghampiri pintu. Hampir saja ia keluar, ketika dilihatnya sepasang manusia duduk membelakanginya tak jauh dari pintu.

“Taeyeon? Jonghyun?” Taemin tidak pernah memanggil mereka ‘eomma’ dan ‘appa’ semenjak ia memergoki mereka bukanlah straight. Tidak. Rasanya begitu haram menyebutkan itu kepada mereka.

“Apa yang telah kita lakukan, Jong?” Taeyeon bicara duluan.

“Entahlah. Sebuah kesalahan besar.”

Taemin terdiam mendengarnya. Kesalahan? Pasti dirinya yang lahir yang Jonghyun maksud kesalahan.

“Taemin bukan kesalahan.”

“Memang bukan,” balas Jonghyun. “Kita yang kesalahan, Noona. Seharusnya kita tidak usah menikah dan lebih berani mengatakan kebenaran—maka tak akan ada korban. Taemin tak akan jadi korban.”

“Aku mencintai Jessica dan kau mencintai Jinki. Memang seharusnya tak usah ada pernikahan itu dan tak seharusnya kita sampai ‘melakukan’-nya.”

“Sudahlah. Ini yang harus kita terima. Taemin membenci kita. Mungkin Tuhan ingin memarahi kita, Noona.”

“Ya, mungkin begitu.”

Noona, kau menyayangi Taemin, kan?”

“Tentu saja. Dia adalah segalanya. Alasan kenapa aku bekerja—bukan hanya karena ingin menghidupi diriku sendiri. Alasan kenapa aku masih bertahan.”

“Aku juga. Dia anak yang luar biasa.”

Dan Taemin tak ingin mendengar lebih jauh lagi.

*

“Kyaaaa, Taemin! Itu Taemin!” Seruan histeris para ‘penggemar’ Taemin di sekolah sudah terdengar. Sinyal bagi yang lain untuk tahu bahwa dia telah datang. Seperti biasa, Taemin menanggapinya dingin. Tak peduli betapa beringasnya mereka, ia akan selalu berhasil keluar dan kabur.

Seperti sekarang, ia sudah sampai di lantai di mana kelasnya berada. Tak ada yang membuntuti lagi karena memang kebanyakan penggemarnya adalah adik kelas yang tidak berani masuk ‘teritori’ senior mereka.

Ia menghela napas lega ketika tahu dirinya sudah bebas.

“Ow, Man! Betapa banyaknya penggemarmu! Memusingkan sekali.” Taemin memutar bola matanya ketika tiba-tiba Jongin berjalan di sampingnya. Sang sahabat memang kadang seperti hantu—pergi dan datang secara tiba-tiba.

“Taemin, itu kan Yongguk? Mau apa dia di pintu kelas menatapi kita seperti—“

“Apalagi kalau bukan cari gara-gara?” celetuk Taemin di saat mereka sudah sampai di depan pintu kelas.

Permusuhan Bang Yongguk dan Taemin memang bukan rahasia umum lagi. Mereka saling membenci karena Taemin pernah mempermalukan lelaki itu di tahun pertama mereka sekolah. Sikap dingin Taemin membuat kebencian Yongguk semakin kuat, apalagi ketika mereka berhadapan seperti sekarang.

“Baru putus lagi, ya, Yongguk-ssi?” Nada Taemin terdengar datar. “Pantas saja, mana mau yeoja itu lama-lama dengan namja beretikat buruk seperti kau?”

“Tak akan mempan sindiranmu, Taemin.”

“Lalu mau apa sekarang?”

“Memberitahu.”

Mwo?”

Yongguk menunjukkan smirk yang membuat Taemin maupun Jongin ingin sekali meninjunya hingga berdarah. Pria itu merogoh sakunya dan membuka ponselnya. Ia mengutak-atik sesaat, kemudian menunjukkannya tepat di depan wajah Taemin dan Jongin.

Seketika itu wajah Jongin berubah kaget.

Taemin pucat pasi. Rahangnya mengeras. Kedua tangannya mengepal. Ia hendak menyambar ponsel yang sedang memutarkan sebuah video di tangan Yongguk, namun Yongguk lebih cepat.

Bastard!! Pengecut!”

Jongin segera meraih kedua tangan Taemin dan menahannya agar tak melayangkan satu tinjuan pun, meski Taemin meronta-ronta. Ia tahu sahabatnya bisa saja diskors jika kembali ketahuan berkelahi.

“Sekali klik, ini akan menghancurkan reputasimu, Taemin.” Yongguk bersandar dengan santai, memerlihatkan layar ponselnya pada Taemin hingga Taemin bisa melihat dengan jelas bagaimana jemari Yongguk mulai melakukan aksinya.

Hati Taemin mencelos ketika tulisan itu terlihat jelas di ponsel Yongguk.

‘Video Anda berhasil diposting, terimakasih’.

“Brengsek, kau, Yongguk!” Jongin tak mampu menahannya dan pukulan bertubi-tubi menghantam Yongguk, kerumunan murid-murid segera terbentuk di sana. Guru-guru berdatangan.

Riwayat Taemin mungkin telah berakhir.

*

Media sosial bagaimanapun adalah sesuatu yang berbahaya. Sangat berbahaya. Ia menyebar dengan cepat. Bukan hanya lingkungan sekolah yang mengetahuinya, semua kalangan mengetahuinya—termasuk Jonghyun dan Jinki.

“Aku mendapat link ini dari teman, Jong! Videonya menyebar dengan cepat.” Jinki menghampiri Jonghyun di ruang prakteknya. “Kau harus membukanya, ini benar-benar gawat.”

“Aku juga, Jin.” Jonghyun memegang ponselnya dengan lemas. Caption-nya benar-benar membuatku terkejut.

‘Direktur utama perusahaan elit main mata dengan bawahan sesama jenisnya. Mereka adalah Jessica Jung dan Kim Taeyeon. Kim Taeyeon sendiri orang tua salah satu murid dari Seoul Performance High School, Kim Taemin yang memiliki pengaruh besar di sekolahnya. Video ini asli dan bukan merupakan editan.’

Jinki dan Jonghyun membacanya berulangkali.

“Sudah kau tonton?”

“Aku tak mau menontonnya, Jin.”

“Aku sudah.”

“Isinya?”

“Taeyeon dan Jessica. Mereka sedang… yah, kau tahulah. Di ruang kerja Jessica. Kurasa rekaman ini diambil dari balik kaca. Rekamannya setengah terhalang tirai.

“Aish, bagaimana ini? Aku harus menghubungi Taemin.”

“Aku sudah menghubungi anakmu, Jong. Tapi ia tak mengangkatnya. Ia pasti dalam masalah sekarang.”

Jonghyun tahu itu.

*

“Kami tidak mengeluarkanmu, Taemin, karena bukan kau pelakunya. Yongguk akan kami beri sanksi tegas, namun kau tetap harus diskors. Bagaimanapun juga masalah ini perlu penyelesaian.”

“Arrgh!” Taemin menendang sebuah kerikil yang ditemuinya. Tak mengindahkan tatapan-tatapan dari setiap orang yang ditemuinya di lingkungan sekolah. Tak ada lagi tatapan mengagumi, tatapan memuja. Semuanya berubah menjadi hitam. Tatapan jijik dan tak percaya telah melumurinya. Termasuk bisik- bisik yang menyakitkan.

“Jangan-jangan dia sendiri adalah gay! Ibunya saja lesbian.”

“Katanya ayahnya juga gay, loh. Wah, gen tidak normal!”

“Dia pasti gay juga.”

Taemin mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia benar-benar membenci dirinya. Membenci kehidupannya. Membenci orang tuanya.

Hanya Jongin yang masih mau bersamanya, tapi ia pun tak bisa membantu banyak-banyak.

Baru saja Taemin melangkah keluar gerbang sekolah, ia berhenti karena sebuah mobil yang sangat dikenalnya baru saja menampakkan diri tepat di hadapan batang hidung Taemin.

“Jinki ahjussi?”

Kaca mobil perlahan turun, “Masuklah, Taemin!” Itu Jonghyun, duduk di kursi penumpang. Wajah Taemin jadi gelap.

Tanpa menoleh lagi, ia pergi dan meninggalkan Jonghyun beserta Jinki. Tak peduli mereka mengejarnya. Ia segera memberhentikan taksi yang lewat dan meminta taksi itu menghindari mobil di belakangnya.

“Sudah tidak kelihatan?”

“Tidak, Tuan.”

“Baiklah, terimakasih, Pak. Sekarang bawa saya ke Namsan Tower.” Dilihatnya sang supir taksi mengangguk. Taemin menyandarkan punggungnya pada sandaran jok. Dikeluarkannya beberapa benda kesayangan yang selalu menjadi teman sejatinya—kertas, pensil, dan ponsel beserta headset-nya.

Memasang lagu, menggoreskan pensil dan mengukirkan sesuatu di kertas. Taemin merasakan hatinya kosong—sekosong jiwanya.

“Mungkin dia juga gay. Lihat saja ibunya yang lesbian. Katanya ayahnya juga gay. Tidak menyangka, ya. Wajah tampan seperti itu ternyata anak sepasang orang tidak normal.”

Taemin berusaha mengusir suara-suara yang didengarnya di sekolah. Rahangnya mengeras. Kini tidak ada lagi alasan yang bisa membuatnya menyayangi Jonghyun dan Taeyeon.

Taemin tahu itu.

Ia membenci orang tuanya.

To be continued.

©2013 SF3SI, Vania

signature

Officially written by Vania claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

24 thoughts on “My Homosexual Parents [1.2]

  1. Saya menangis membaca fanfiction ini. Fanfiction ini bagus, karena berhasil membawa emosi pembaca hanyut masuk kedalam skenario ceritanya. Mungkin agak berlebihan tapi bisakah saya berharap orang tua Taemin benar – benar bisa saling mencintai satu sama lain? Dengan kata lain melihat keduanya sebagai wanita dan pria yang saling mencintai satu sama lain dan hidup normal dengan putra semata wayangnya ^^ saya tunggu sambungan dari fanfiction ini ^^

  2. Kenapa Naeun:’?! Sebenernya sih Oke.. Tp sedikit menjijikkan apalagi bagian jongnew.. Err, part 2 nya ya:) kalo bisa naeun nya diganti aja:D

  3. sebenernya aku gak terlalu suka sama cerita yaoi atau yuri tapi menurut aku ff ini menarik pas dibaca sampe akhir
    kesian liat taemin begitu
    ditunggu part selanjutnya

  4. For some reason, i was intrigued to know more. Semoga part 2 nya datang secepatnya ya!

    Ps: i’m sorry for my lack of words. Aku cuma nggak tau lagi mau ngomong apa. Yang jelas, aku sudah suka latar belakang ceritanya, and i’m willing to read more. I have nothing against LGBT, in fact, i support them. Althought not directly, but still. Oh Tuhan, bahkan ps-nya lebih panjang dari pada comment-nya sendiri. Whatever.

  5. Kak Vaniaa~ *bener kan?* Hehehe, lama gak main ke sf3si langsung disuguh ff kece wahaa xD Kasian tem tertekan gitu : ( Penasaran apa yg bakal dilakuin ortunya tem, next ditunggu kak ; )

  6. taemin kasian gitu yah. ancur reputasi di sekolahnya.

    dari judulnya aja ini udah ‘wah’. aku kira cuma bapaknya aja yang gitu. ternyata ibunya juga. di tunggu yah kak cerita selanjutnya

  7. as expected from vania, really different stories.
    FF nya realistis banget dan aku berharap endingnya juga realistis. Merubah sexual orientation pasti ga mudah dan Taemin harus jadi korbannya.
    Waiting for next chap

  8. setelah tertunda beberapa hari, akhirnya selesai juga aku baca ff ini bhaha.
    sumpah ya ga kebayang kalo jadi taemin aku bakal gimana.. but it’s such a pleasure when i found out taemin melampiaskan perasaannya dengan menggambar sambil pasang headset. ini aku banget bhaha xD
    oke penasaran sama part 2nyaaa;;

  9. walaupun agak kaget keran pasangan jonghyun itu jinki, tp tetep suka. maksudku taemin-nya straight. rasanya, gimana ya? kayak penyegar dari semua cerita Yaoi Taemin dan klo dia dating kai. entah kenapa cerita ini bikin aku yakin klo taemin juga straight.
    hahahah i’m talking nonsense

  10. gak kebayang banget kalo jadi taemin….
    aduhh… baby taem yg kuat ya……
    untung babang konci gak dibawa ke jalan sesat disini😛
    chapter selanjutnya ditunggu ya thorrr*kedipbarengbangkonci*

    oh ya min, kalo disini bisa freelance gak? pengen ngirim ff tapi sampe sekarang bingung mau dikirim kemana

  11. Aduh, ngenes juga sih jadi Taemin. Tapi entah kenapa perasaan Taemin itu nggak nyampe ke aku, ya?

    Sebenernya cerita real kayak gini emang banyak. Tapi klo kedua orang tuanya yang LGBT justru yang jarang. Awalnya aku bingung apa yang salah dari ff ini, tapi akhirnya, setelah semedi lama, aku nemuin fakta bahwa kedua orang tua Taemin tampak tidak terlalu terganggu sama perubahan sikap Taemin. Ketika mereka bilang sayang, harusnya mereka menghormati. Misal, nggak ajak pasangan mereka ke rumah dan berpura-pura baik-baik saja, seperti pasangat straight pada umumnya. Lagi pula kedua orang tua Taemin kelihatan terlalu tenang.

    Sori, ya, kalau aku salah karena ini cuma pendapat dari apa yang aku tangkap. Semoga happy ending dan penasaran juga endingnya gimana. Semangat, Kuku!

  12. GILAAAAAA!! sakit banget… T.T plis lanjutannya,.. Bisa matu penasaran nih nunggunya! Okay stop it!

    Jujur ini ff gila yang pernah ku baca. Keren, kreatif, aneh, agak menjijikan, dan bnyak lagi. Tapi boleh ga ada fokus ke naeunnya?? Misalnya naeun jadi ngebuat taemin lebih tenang gitu.. Whatever, Writer do your best okay? Fighting unni!

  13. wahh ka sebener nya aku tertarik banget lho baca nya.
    tapi pas muncul naeun jadi -_______- errrr
    maaf tapi aku ga suka naeun -___-
    ini bagus. tapi alangkah baiknya kalau naeun tidak di keluarkan lagi dari ff ini awkawkkawkaw

  14. Lah ini keren bgd…
    Kukira Taemin yg gay..
    Ternyata ortunya..
    Eung, gimana yah taem, cinta memang tak bisa dipaksakan..
    Tapi baguslah, taeyeon sama jjong masih ngerasa ada tanggung jawab sama taemin..
    Tapi anak mana yg bisa nanggung masalah berat kayak gini..
    Stay strong, taeminnie..

  15. Dari judulnya udah menarik yah walaupun pasti ada yaoi dan yuri sih rada malas. Tapi pas dibaca seru kok.. Kasian sama taemin kehidupannya rumit
    OK kutunggu lanjutannya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s