The Cruel Marriage – Part 10

tcmII

Title : The Cruel Marriage

Author: Chinchi a.k.a Kim Sujin + ReeneReenePott

Cast:

  • Choi Minho
  • Jung Soojung
  • Choi Younghyeon (covered by Shanon William)
  • Bae Suzy

Minor cast:

  • Shim Syerin (OC)
  • Kim Heechul
  • Kim Soohyun
  • (Other still hidden in the story)

Genre: Romance, AU, sad, a little bit fantasy.

Rating: PG-16

Length: Sequel

Disclaimer: The story pure belonged to me, but all of the casts belong to themselves. Don’t be a plagiator or reblog my fanfic without permission–chinchi–

RESPONSE PLEASE and HAPPY READING!!

TRAGEDY 10

Krystal tak habis pikir, dia bukan wanita munafik. Tapi dia juga bukan seorang yang bodoh, kalau tak bisa mengartikan tatapan yang diberikan Minho padanya selama makan malam. Dan sekarang, berakhirlah double date mereka di sini. Minho mengantar Suzy dengan mobilnya, dan ia diantar Soohyun dengan mobil pria itu. Kalau mau disimpulkan dengan kasar, jelas Krystal merasa terganggu dengan setiap tatapan Minho jika memandangnya. Pertama kali menatapnya, Minho seperti memandangnya lekat, namun sedetik kemudian berubah dingin hingga membuat Krystal seperti diguyur es.

Hari ini Syerin tidak bisa dihubungi sama sekali, padahal ia ingin cerita banyak. Akhir-akhir ini dia sudah bermimpi aneh tentang wanita yang mirip sekali dengan dirinya yang bersimbah darah, yang pertamanya ia simpulkan sebagai Soojung, saudara kembarnya. Tapi wanita itu bersikeras mengatakan bahwa dia bukan Soojung, malah berteriak kalau Soojung adalah dirinya. Tidak mungkin, kan? Namanya Krystal, bukan Soojung. Apa mimpi juga bisa salah?

“Krys, kenapa diam saja?” suara rendah dan tenang Soohyun membuyarkan lamunan Krystal seketika. “Kau banyak pikiran?”

Krystal mengubah posisi duduknya lalu menggumam. “Hmm, ya,”

“Minho hyeong akan menikah seminggu lagi. Kau sudah tahu kalau aku akan jadi pengiring pengantin nya?” ujar Soohyun dengan tenang namun sukses membuat Krystal melebarkan matanya. Apa?

“Oh ya? Dengan siapa?”

“Nanti ada sepupu perempuanku, namun masih muda sekali. Dia baru lulus SMA, namanya Kim Hyuna. Nanti kapan-kapan kukenalkan kau padanya,” jawab Soohyun lagi, tanpa sadar mengulum senyum sambil memerhatikan jalan. Sama sekali tidak menyadari tatapan sekaku patung dari mata Krystal, jatuh pada dasbor mobil. Krystal tidak tahu itu apa, tapi yang pasti ada yang tidak beres dengan apa yang sedang ia rasakan sekarang. Ia merasa… ada sesuatu yang salah. Ada sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Entah kenapa, dia merasa tidak rela.

Apa? Tidak rela?

Krystal kembali mengedipkan matanya, melupakan sekelebat pikiran itu. Dia tidak rela Minho mengkhianati saudaranya. Krystal harusnya menyimpulkan itu. Perlahan ia merilekskan punggung dan bahunya hingga bisa bersandar dengan nyaman, dan kembali tenggelam dalam lamunannya lagi, tak menghiraukan tatapan penasaran Soohyun yang sedari tadi ditujukan padanya.

Krystal langsung melompat keluar mobil begitu Soohyun selesai parkir. Gadis itu tidak berkata apa-apa, yang malah membuat Soohyun semakin penasaran. Soohyun baru saja ingin menarik tangan Krystal namun urung ketika sepasang lengan kecil menghambur duluan kepelukan Krystal. “Unni~!”

Tubuh Krystal menegang sejenak sebelum akhrinya berlutut dan mensejajarkan kepalanya dengan Younghyeon. “Annyeong, Hyeon-aa,

“Kenapa unni baru pulang? Appa tidak ada, halmoeni pergi, haraboeji pergi juga, Sicca unni sibuk, aku tidak punya teman bermain,” sungut Youghyeon sebelum Krystal mengacak poninya dengan sayang. “Karena unni sudah disini, bagaimana kalau kita bermain?”

“Krys unni juga sibuk, Hyeon-ah, jangan ganggu dia.” Krystal baru mengedipkan matanya ketika suara Minho terdengar dari belakang dan Younghyeon langsung raib darinya. Kepalanya mendongak tidak terima ketika merasakan Younghyeon direnggut dari tangannya. Matanya mengekori punggung Minho yang tengah menggendong Younghyeon menjauh. Selama sesaat dia merasakan marah…

“Krys,” panggil Soohyun pelan. Krystal tersentak dan berbalik menatap Soohyun.

“Ya?”

“Ada apa denganmu?” tanya Soohyun lurus-lurus. Oh, jangan sangka Soohyun tidak tahu. Pria itu jelas tahu apa yang terjadi pada Krystal. Dia tahu sedari makan malam tadi Krystal terus melirik Minho. Dan sekarang? Younghyeon sepertinya sudah menganggap Krystal seperti ibunya sendiri. Bagaimana Soohyun bisa tahan? Seharusnya Krystal tidak ada disini, supaya dia tidak pernah berhubungan dengan Minho lagi. Memikirkan itu saja sudah membuat rasa kesal melingkupi Soohyun.

Kening Krystal berkerut, bingung dengan sikap Soohyun yang tiba-tiba berubah. “Apa maksudmu?”

“Kau jatuh cinta padanya? Kau jatuh cinta pada Choi Minho?” sembur Soohyun dengan nada rendah dan tajam, membuat tubuh Krystal langsung membeku di tempat.

“Jangan aneh-aneh. Tidak mungkin. Aku pacarmu, Kim Soohyun. Tentu saja aku tidak jatuh cinta padanya,” jawab Krystal dengan tegas. Namun ternyata suara yang keluar dari mulutnya malah terdengar lirih dan bergetar.

“Aku lihat tatapanmu padanya, Krystal-ah. Tatapanmu padanya tidak seperti tatapanmu padaku. Aku bisa merasakan itu,”

Krystal memejamkan matanya dan memalingkan muka. Lalu dia menatap Soohyun dengan tatapan tajamnya. “Kenapa kau meragukanku seperti itu?”

Tak disangka Soohyun mengerang dan menjambak rambutnya frustasi. “Aku sudah menyiapkan lamaran untukmu, Jung Krystal. Tapi—“

“Jangan. Jangan Jung, tapi Yoon. Soohyun-ah, tolonglah…”

“…apa?”

“Akan kujelaskan nanti tapi—AKH! SAKIT! Lepas, Soohyun-ah!” Krystal menjerit tertahan ketika tiba-tiba Soohyun menarik tangannya paska menuju kamarnya. Krystal hanya bisa meringis dan menempelkan kedua tangannya erat-erat di kedua sisi tubuhnya ketika Soohyun membanting pintu kamarnya dengan keras. Astaga, Krystal tidak pernah melihat Soohyun yang seperti ini.

“Jelaskan semuanya padaku, Krys. Sekarang.” perintah Soohyun. Suaranya agak serak karena amarah. Tanpa menatapnya pun, Krystal bisa merasakan kehadiran Soohyun di sudut menghadap pintu yang tegang, penuh kekesalan.

“Istri Choi Minho yang meninggal itu saudara kembarku, Jung Soojung,” ujar Krystal pelan. “Aku baru mengetahuinya setelah kelulusanku. Haraboeji menceritakan semuanya dan memintaku untuk…” Krystal mengambil napas sejenak ketika ia merasakan emosinya mulai tidak stabil. “Kakakku disiksa selama disini. Dia dibunuh oleh Nyonya Choi. Aku tidak bisa diam di tempatku seolah tidak ada yang terjadi, sementara keponakanku satu-satunya diasuh oleh keluarga yang telah membunuh ibunya! Aku tidak bisa… aku—“ nada Krystal makin tinggi hingga ia sampai tak bisa berkata-kata lagi dan sedetik kemudian Krystal sudah berada dalam pelukan Soohyun, air mata yang sedari tadi ditahannya langsung jebol.

“Krys, kau tidak bisa seperti ini. Kau penuh dengan dendam,” lirih Soohyun pedih. Tidak mungkin. dia sangat tidak ingin mempercayai kata-kata Krystal, bahwa bibinya yang lemah lembut bisa berperilaku kejam seperti itu.

“Lalu apa yang akan kau lakukan bila kau ada diposisiku? Diam saja dan menerima kenyataan? Kalau kau iya, aku tidak! Tidak akan pernah, TIDAK! Aku tidak pernah bertemu dengan saudaraku karena dia diculik dan entah kemana. Setelah tahu bahwa nasibnya seperti ini…” suaranya yang meninggi membuat air mata Krystal kembali tumpah, dan Soohyun hanya bisa membawa gadis itu dalam pelukan terdalamnya. Mengusap kepala gadis itu lembut seakan ingin memberi sedikit kekuatan, sedangkan ia sendiri tidak tahu apa yang bisa ia lakukan setelah mendengar kenyataan ini. “Aku ingin membuat mereka menyesal. Tapi aku berubah pikiran,”

Gerakan tangan Soohyun berhenti, namun sejenak kemudian tangannya beralih mengelus lengan Krystal. “Apa yang akan kau lakukan?”

“Membawa Younghyeon bersamaku. Mereka tak pantas mengasuh Younghyeon dengan tangan kotor seperti itu,” desis Krystal penuh dengan nada benci, tak menyadari tatapan sayu yang sarat kepedihan dari mata Soohyun. Sedih, kecewa, ternyata gadisnya penuh dengan perasaan berbahaya ini.

Namun, ternyata ada napas tertahan di luar kamar itu. Sepasang bola mata yang melebar, dan tubuhnya membeku mendengar kata-kata Krystal yang ternyata tembus sampai keluar kamar. Ia tak sengaja mendengar, ia baru ingin menemui Minho di ruang kerjanya namun mendengar lengkingan Krystal yang berasal dari kamar Soohyun. Kening gadis berambut coklat bergelombang itu berkerut dalam, ia terpaksa mendekat untuk mengetahui apa yang telah terjadi. Dan semakin dia mendengar, semakin shock yang ia dapatkan. Tubuhnya langsung lemas mendengar kalimat yang penuh kebencian dan sarat dengan dendam itu. Ya, wanita yang tak sengaja mendengar itu Bae Suzy, dan ia tak mampu berkata-kata lagi. Rencana menemui Minho batal total dan ia memutuskan untuk pergi ke kamarnya sendiri.

Beberapa menit kemudian, Suzy sudah berkutik dengan ponselnya, sambil berusaha berbicara sepelan mungkin dengan lawan bicaranya. “Ahjussi, aku sudah bilang, kau bisa percaya padaku. Kita tak harus menempuh jalur itu…”

“…”

“Aku tahu,”

“…”

AHJUSSI!”

“…”

“Tidak, kau tidak bisa memerintahku—“ napas Suzy tercekat ketika sambungan telepon diputuskan sepihak. Matanya kembali berkaca-kaca karena kata-kata Krystal barusan membuatnya kacau. Bagaimana mungkin Krystal berpendapat kalau Soojung adalah saudaranya?! Soojung adalah dia sendiri! Dan setelah dipikir-pikir, Soojung dan Krystal adalah nama yang sama. Soojung merupakan bahasa Korea, sementara Krystal hanya terjemahan dalam bahasa Inggrisnya. Dia tidak bisa membiarkan ini terjadi. Bagaimana mungkin seorang ibu dengan setega itu memisahkan anaknya dengan ayahnya sendiri?!
Punggung Suzy membentur dinding dan kemudian ia merosot duduk ke lantai. Apa yang harus ia lakukan? Ia tak sedekat itu dengan Krystal. Apa wanita itu akan percaya dengan semua kata-katanya?

__

To: Heechul

Maaf aku baru membalas pesanmu, Heechul-ah. Kau tidak akan percaya kalau aku menceritakannya padamu. Dan… bukankah aku sudah bilang kalau aku belum bisa membalas kata-katamu? Masih banyak hal yang harus kupikirkan, dan itu harus mengesampingkan kehidupan pribadiku. Sekali lagi, maaf. Aku sangat menyayangimu sebagai temanku. Dan, maafkan aku untuk hal ini. Aku sedang butuh waktu untuk sendiri.

Syerin membaca sekali lagi pesan yang baru saja ia ketik sebelum meyakinkan diri sendiri untuk mengirimnya. Ia berharap, sangat berharap, Heechul akan mengerti. Ia tak bisa memikirkan hal apapun selain Jung Soojung, dan sejak awal dia juga sudah meragukan perasaannya pada Heechul. Apakah perasaannya sekadar sesama teman? Atau pria terhadap wanita? Syerin tidak bisa memikirkan itu sekarang.

Ini sudah hari ketiga semenjak terakhir kali ia menemukan cincin kawin Soojung di pekarangan bekas panti asuhannya dulu. Syerin masih yakin kalau tempat tua itu juga masih menyimpan barang lainnya yang tak kalah penting untuk Soojung. Mungkin gedungnya sudah berganti total, tapi Syerin merasakan sesuatu yang kuat dari sana. Dia sudah beberapa kali bertemu dan berbincang dengan Myungsoo terkait masalah ini, dan pendapatnya tetap sama meskipun Myungsoo sudah mengatakan bahwa tidak mungkin liontin itu ada di dalam gedung yang sudah dirobohkan dan diganti total seperti itu.

Maka hari ini, tanpa sepengetahuan Myungsoo atau siapapun Syerin kembali ke panti asuhan itu. Sekali lagi ia mendonatur dan berkeliling tempat itu untuk terakhir kalinya. Terakhir Tuan Jung tahu kalau ia berkeliaran di tempat bekas kebakaran tersebut, pria tua itu berang luar biasa. Entah makan apa mantan majikannya itu sampai bisa mengeluarkan makian dan cacian yang terpaksa harus ditelan Syerin bulat-bulat. Yang paling menohok Syerin adalah kata-kata pedas Tuan Jung yang benar-benar melukai hatinya.

“Aku tidak tahu apa motifmu, Shim Syerin, tapi kau bukan siapa-siapanya cucuku! Tak usah sok perhatian dengan niat tak masuk akalmu itu. Kau tak punya hak untuk turut campur dalam kehidupan cucuku!”

Andai saat itu Syerin mempunyai cukup keberanian untuk membalas kata-kata Tuan Jung, tapi nyalinya sudah terlanjur ciut dengan amarah pembuka yang terlebih dulu membuat perasaannya robek. Jika dia punya keberanian, dia akan balas berteriak membuka semua masa kelam keluarganya dan tanggung jawab yang wajib diembannya bahkan sampai saat ini.

“Lima hari. Kuberi kau waktu lima hari untuk mempersiapkan diri ke Amerika. Aku tidak tahu apa yang hendak kau lakukan, tapi sepertinya akan mengancam keselamatan cucuku dan aku tak akan membiarkan itu terjadi. Kau akan kukirim ke Amerika untuk melanjutkan gelar doktormu di sana. Dengan kapasitas otak sepertimu, aku sudah mendapat dua universitas di California dan New Jersey yang sudah menerimamu,”

Jantung Syerin berhenti berdetak saat Tuan Jung berkata tanpa jeda seperti itu. Menghembuskan napas berat untuk yang kesekian kalinya, Syerin menyandarkan tubuhnya ke batang sebuah pohon rindang yang berdiri kokoh diantara belukar.
Tiket pesawat menuju Washington sudah sampai ditangannya, dan besok ia akan terbang ke Amerika dan belum ada satu orangpun yang tahu selain Tuan Jung. Tentu saja Syerin tidak bisa menolak kepergiannya, dia jelas-jelas diancam oleh Tuan Jung. Makanya hari ini, dia harus bertemu dengan Soojung.

Kaki Syerin berganti menginjak akar pohon yang besar dan terkejut ketika segundukan tanah dan daun kering runtuh bersamanya. Syerin menunduk untuk memastikan kalau kakinya tidak terkubur semua, namun perhatiannya teralihkan dengan sebuah rantai emas seperti kalung yang kelihatannya sudah terkubur disana bertahun-tahun. Merasa mempunyai feeling yang kuat, Syerin menarik rantai emas itu dan membelalakkan matanya menyadari kalung yang ternyata memiliki liontin itu. Kalung yang persis sedang dicarinya sekarang. Kalung yang menyatakan kalau Tuan Jung berbohong tentang Soojung yang sedang membawa kalung identitasnya, kalung yang menyatakan kalau saudara kembar Soojung bukan Krystal, melainkan Soomin.

Beberapa menit berikutnya Syerin sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan telepon yang tersambung di telinganya. “Krystal-ah? Apa kau ada waktu?”

“…”

“Hm, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“…”

“Ya, ya. Ini penting. Sekarang ya? Di Coffee Bean dekat kantormu saja, aku sedang dalam perjalanan ke sana,”

“…”

“Tidak bisa ditelepon, Krys. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu. Tolong?”

“…”

“Hm, gidarilke,”

__

Sejak pertama masuk kerja di kantor cabang milik kakeknya, Krystal sudah menemukan tempat favoritnya untuk nongkrong. Kalau dia sudah stress dan pusing dengan keadaan kantor, dia akan langsung cabut ke sebuah coffee shop yang terletak persis di samping gedung kantor. Dan selama tiga bulan pertama ini, dia tidak bosan-bosan dengan iced americano yang super pahit itu. Krystal heran bagaimana Syerin bisa tahu kalau dia sering nongkrong di coffee shop ini dan mengajaknya ketemuan. Aneh, atau… tidak biasa?

Krystal tahu Syerin bukan pengangguran yang tidak punya kerjaan, terang saja karena selama ini Syerin bekerja dibidang finansial sebuah bank swasta ternama. Sama saja sepertinya, Syerin pasti juga menghadapi tugas-tugas dan pekerjaan menggunung, membuat mereka hanya bisa bertemu di akhir minggu untuk sekedar makan atau nonton bareng. Tapi, hari ini Krystal khusus meminta sekretarisnya untuk membatalkan makan siangnya dengan seorang bawahan kliennya dengan alasan sedang keluar kota. Krystal tahu dia aneh, tapi dia lebih merasa aneh lagi karena disuruh makan siang dengan seorang bawahan perusahaan membicarakan bisnis. Jadi, setelah Krystal menerima telepon Syerin, dia jadi semkain mantap untuk membatalkannya.

Krystal baru saja mendorong pintu kaca coffee shop ketika matanya sudah menangkap sosok Syerin yang tengah duduk di meja dekat kasir dengan sebuah cangkir di depannya. Matanya hanya jatuh menatap cangkir itu, dan segera terangkat ketika menyadari Krystal sudah ada di depannya. “Hei, Krys,”

“Syerin-ah, ada apa?” tanya Krystal langsung, agak khawatir merasakan atmosfer yang berbeda diantara mereka.

“Besok aku ke Washington,” ujar Syerin tanpa basa-basi, membuat Krystal yang hendak memesan minuman seketika mematung.

What?! Washington? As in Washington, DC, Amerika?!” Krystal belum menemukan kata-kata dan Syerin masih tetap diam, “Kau tidak bilang apa-apa padaku?! Kenapa—“

I forced to go there. It decided five days ago.” Perlahan Syerin mengangkat matanya dan menatap Krystal, “Aku akan melanjutkan S2 di sana,”

Pundak Krystal melemas. “Setidaknya beritahu aku, Shim Syerin. Kenapa kau bisa memutuskan secepat ini?”

“Kakekmu yang menyuruhku, Krys. Dan aku tidak bisa bilang ’tidak’, kau tahu sendiri seperti apa beliau,” jawab Syerin pelan, menyorongkan kopi di depannya yang masih hangat pada Krystal.

“Kau tahu kakekku? Bagaimana bisa?!” suara Krystal hampir memekik. Ia hampir saja terlonjak. Syerin sudah memberinya kejutan dengan meninggalkan Korea besok, sekarang Syerin bilang itu disuruh kakeknya? Bagaimana—

“Aku ingin menceritakan sesuatu padamu, tapi tolong jangan potong atau bertanya ditengah cerita. Please?” Syerin berdeham lalu menatap Krystal dengan pandangan memohon dan baru bisa merilekskan bahunya ketika Krystal mengangguk kalem. “Aku hidup dibawah keluarga yang mengabdi pada sebuah keluarga kaya. Mereka punya putri kembar. Aku tak pernah bertemu mereka karena mereka diasuh ibuku, dan ketika usia mereka baru sebulan, si kakak menghilang. Keluarga itu sangat terpukul dan bisnis mereka perlahan mundur. Keluargaku terpaksa pindah rumah, dan hidup sampai tujuh tahun kemudian kakakku juga menghilang.”

“Kabar terakhir sebelum aku pindah rumah adalah, mereka mengangkat seorang anak perempuan lagi. Begitu usiaku tujuh tahun sebagaimana mereka, keluarga mantan majikanku itu mengalami kecelakaan mobil saat berwisata ke sebuah gunung. Yang tersisa dari mereka hanya si anak angkat tersebut. Namanya Jung Sue Ji. Anak itu sekarang berada dibawah asuhan adik ayah angkatnya,” Syerin mendesah ketika melihat kening Krystal yang berkerut. “Aku mendengar keseluruhan kisah ini dari ibuku sebelum beliau wafat. Sementara sebelum ayah dan kakakku menghilang mereka berpesan padaku—“ Syerin menarik napas untuk melanjutkan kata-katanya, dan memberikan kekuatan pada suaranya yang mulai bergetar. “Bahwa aku harus menjaga si kakak yang hilang tersebut,” Syerin tertawa sekali lalu melanjutkan tanpa menatap mata Krystal yang bingung, “Dan aku baru tahu kalau ayahku yang membawa sang kakak pergi, dan kakakku yang menyebabkan kecelakaan pada keluarga itu, meski mereka merupakan kaki tangan adik ayahnya,” Syerin perlahan menatap Krystal dengan penuh rasa bersalah. “Nama saudara kembar itu adalah Jung Soomin dan Jung Soojung, Krys. Saudara kembar Soojung bukan Krystal, tapi Soomin,”

Krystal mengedipkan matanya beberapa kali menatap Syerin. “Apa?” lehernya tercekat. Dia pernah mendengar nama itu, Jung Soomin. Tapi… dimana? “Tidak mungkin,”

“Apa bahasa Inggris dari kata ‘soojung’? Apa bahasa Korea dari kata ‘krystal’? maaf aku baru memberitahumu sekarang, tapi kaulah Jung Soojung, istri sah Choi Minho, karena tidak ada surat tertulis tentang perceraian kalian,” sergah Syerin tidak sabar, namun sekelebat rasa bersalah langsung menyelubungi benaknya. Bagaimana Krystal bisa tahu? Dia masih lupa ingatan. “Kau ingat aku pernah mewantimu untuk segera berhenti dari rencana kakekmu itu? Karena aku tak mau kau menjadi penghancur kehidupan suamimu sendiri, Krys,”

Mata Krystal sudah membulat dan menatap Syerin seakan dia hantu. “Tidak mungkin. Tidak mungkin! A-aku bukan Soojung, A—“

“Aku ingin kau memiliki ini,” sahut Syerin sedih. Dia meletakkan dua buah kotak beludru ke hadapan Krystal, semuanya terbuka. Satu kotak berisi dua kalung berbandul, dan satunya yang lebih kecil berisi sebuah cincin emas dengan mata berlian. “Kalau kau tidak percaya padaku, sebaiknya kau simpan barang-barang ini. Aku harus pergi ke Kedutaan AS. Besok aku akan meneleponmu,”

Mata Krystal akhirnya terpaku menatap benda-benda yang ada di hadapannya sekarang, tidak menyadari kalau Syerin sudah pamit padanya dan pergi. Pikirannya campur aduk, kepalanya mulai terasa pusing. Tidak mungkin kakeknya berbohong padanya! Tidak mungkin! Dia punya saudara kembar yang sudah meninggal, ya, dia tahu itu. Tapi bukan…

Tiba-tiba Krystal teringat dengan mimpi-mimpinya tentang seorang wanita yang sangat mirip dengannya. Dia terus-terusan berkata bahwa dia bukan Soojung, dan memerintahkannya untuk segera berhenti dari rencana yang selama ini disusunnya. Apa wanita itu… Soomin?

__

Suzy berdiri sambil menggenggam tasnya, matanya masih terpaku pada sebuah lukisan sepasang pengantin yang berpose bahagia. Hari ini adalah hari terakhir fitting gaun pengantinnya bersama Minho, tapi pria itu pergi meninggalkannya duluan karena ada pertemuan mendadak. Kalau mau dibilang, Suzy iri dengan foto pasangan itu. Ekspresi mereka nampak bahagia, tidak dibuat-buat, karena Suzy bisa merasakan kasih sayang dan cinta yang terpancar dari mata mereka untuk satu sama lain. Apakah aku juga bisa berwajah seperti itu di pernikahanku nanti? Apakah Minho akan memberiku tatapan seperti itu di foto pernikahan kami nanti?

Lima hari. Lima hari lagi Suzy akan mengenakan gaun putih yang tadi dicobanya ke depan altar bersama Minho. Dulu, ia merasa tidak sabar akan segera menjadi Nyonya Choi. Dulu, dia memberikan hatinya setulusnya untuk Minho, meskipun pada akhirnya ternoda dengan rencana balas dendam yang akan ia jalankan. Namun semakin hari, Suzy merasa semakin ragu. Minho-kah pria yang tepat untuknya? Bahagiakah ia nanti bila bersama Minho? Kapan Krystal akan ingat bahwa ialah Soojung? Apa Minho menyadari ia akan segera melanggar hukum dengan memiliki dua istri?

Suzy masih menatap foto hingga ponselnya tiba-tiba berdering. Kaget, Suzy segera mengangkatnya. “Yoboseyo?”

“Suzy-ssi, aku sudah di depan. Minho hyeong memintaku untuk menjemputmu, jadi cepatlah keluar karena aku juga akan mengajakmu makan siang. Aku kelaparan,”

Jantung Suzy berhenti berdetak. Soohyun? “Soohyun-ssi?”

“Iya, ini aku. Cepat keluar,” klik. Suzy kembali membeku meski sambungan telepon telah terputus. Untungnya Suzy cepat sadar dan ia langsung berjalan keluar butik. Napasnya kembali tertahan ketika melihat mobil sport biru Soohyun sudah menunggunya. Ketika Suzy mendekat, kacanya turun. “Masuk,”

Suzy diam dan menurut saja mengikuti perintah Soohyun. Mobil Soohyun melaju dengan segera setelah Suzy menutup pintu, dan keduanya terjebak dalam kebisuan sepanjang perjalanan. “Krystal tidak ikut, Soohyun-ssi?” tanya Suzy pelan tanpa menatap Soohyun.

“Dia sudah makan siang duluan. Dan sebenarnya jam makan siang kantor kan sudah lewat,” balas Soohyun sambil melirik jam di dekat dasbor. Sedikit heran tiba-tiba Suzy menyinggung-nyinggung Krystal. “Kenapa? Canggung ya?” cetusnya blak-blakan, membuat Suzy kaget.

“Hmm…” terang saja, Suzy tidak bisa membantahnya. Tentu saja dia akan merasa canggung jika makan siang hanya berdua dengan Soohyun! Dia jelas belum begitu mengenal pria itu.

“Tidak usah merasa secanggung itu, Suzy-ssi. Aku yakin kita akan menjadi teman baik mulai dari sekarang,” senyum Soohyun sambil sekilas menatap Suzy yang ternyata sedang menatapnya.

Suzy tersenyum kecil. “Baiklah kalau begitu,”

__

Syerin baru duduk di sofanya lagi ketika bel pintu apartemennya kembali berbunyi. Siapa lagi sih? Syerin mendengus, merasa lelah dan malas untuk membuka pintu. Tapi siapa lagi yang ada di sini selain dirinya? Sebentar ia berpikir siapa kemungkinan yang mengganggunya siang-siang bolong begini. Heechul? Agak tidak mungkin, karena pria itu sudah tidak begitu menghubunginya akhir-akhir ini. Myungsoo? Tidak juga, dia tidak tahu dimana Syerin tinggal. Tuan Jung?!

Syerin langsung cepat-cepat membuka pintu dan membeku seketika. “Jessica Jung?!” pekiknya tertahan, menatap wanita yang sedang tersenyum penuh arti padanya sekarang.

“Aku tidak heran kau tahu namaku. Pasti Krystal yang menceritakannya padamu, kan?” Syerin masih membeku beberapa saat di ambang pintu dan Jessica melanjutkan kalimatnya. “Tidak mempersilahkanku mausk?”

Tersadar dari keterkejutannya, Syerin buru-buru menggeser tubuhnya dan Jessica masuk begitu saja ke apartemennya. Maish setengah kaget, Syerin hanya bisa mengikuti Jessica yang ternyata melangkah dan duduk di sofanya. “Ada… apa?”

Jessica tersenyum lagi setelah memandang sekeliling apertemen yang ternyata sudah bersih dan rapi itu. Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat yang sedari tadi ia pegang ke atas meja pada Syerin. “Haraboeji murka, Syerin-ssi. Keberangkatanmu dimajukan sore ini,”

Kini kejutan lain mengagetkan Syerin lagi. “A-apa?!”

“Ini memang salahku yang membiarkanmu berkeliaran tanpa pengawasan. Apa yang sudah kau katakan pada Krystal siang tadi? Haraboeji sangat murka karenanya. Jadi, kau sekarang tak punya alasan lagi untuk menetap di Korea,” ujar Jessica dengan pelan dan tajam, langsung pada intinya. Dia bahkan tidak mengucapkan salam sama sekali.

“Keluargaku sudah tidak lagi bekerja untuk keluarga Jung. Kenapa aku harus mengikuti perintahnya yang tidak masuk akal? Aku terima jika ia memaksaku untuk pergi ke Amerika, tapi kenapa?”sembur Syerin seketika berdiri.

Tiba-tiba pandangan Jessica berubah tajam. “Karena kau sudah mau ikut campur dengan urusan cucunya, Shim Syerin. Kalau kau mau hidup tenang, seharusnya kau tidak usah ikut campur dalam urusan Krystal,”

“Aku hanya…”

“Penerbanganmu empat jam dari sekarang, dan aku bertugas untuk mengantarmu. Dua jam lagi kau harus sudah siap dan aku akan kembali ke sini,” ujar Jessica tegas sebelum bangkit dan pamit keluar dari apartemen Syerin, meninggalkan si empunya tempat tinggal kembali membeku di sofanya.

__

Krystal menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya keras-keras. Meeting lagi meeting lagi. Apa seluruh hidupnya nanti akan didedikasikan hanya untuk meeting? Otaknya sudah lelah dan mulutnya sudah pegal seharian berargumen dengan para petinggi jabatan dan pemegang saham. Lihat, hari ini dia sudah berhasil memanen tomat, membuat satu set pakaian, menyediakan banyak stok gula untuk pancake, dan pabrik olah susunya sibuk sepanjang hari. Iya, Krystal juga main Hay Day. Setiap habis meeting dia langsung mengecek perkebunannya di Ipad. Memangnya hiburan apa lagi yang bisa ia dapatkan di sela-sela pekerjaan ini? Nggak mungkin main Cookie Run, kan? Dia bisa kecanduan seharian kalau main itu, semua pekerjaannya akan terbengkalai dan paling parah haraboeji pasti bakal ngoceh.

Memeriksa jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya, Krystal menarik napas lagi. Astaga, sepertinya pulang nanti dia butuh pijat refleksi. Mana sehabis ini dia akan rapat dengan… Astaga! Kenapa dia bisa hampir lupa? Tadi sekretarisnya sudah mengingatkan kalau ada pertemuan dengan direktur utama Choi Corp. CHOI CORP! Astaga, salah satu klien besar haraboeji. Bisa digantung di pohon toge jika Krystal mengacaukan pertemuan ini. Matanya membelalak ketika sadar bahwa ia sama sekali tidak menyiapkan bahan meeting. Astaga.

Sepertinya dia benar-benar akan digantung di pohon toge.

Krystal loncat dari kursi dan menggeletakkan Ipad-nya sembarang di atas meja. Lima belas menit lagi! Sialan. Krystal ingat ada satu berkas padanya yang sangat penting, dimana ya? Sesaat kemudian lemari laci, meja dan semua yang berisi kertas sudah terobrak-abrik.

Tok tok

“Ya?” Krystal menjawab tanpa menghentikan proses pencariannya. Dia bisa disuruh hormat bendera seminggu kalau sampai menghilangkan berkas keramat itu. “Masuk,”

“Sore, Nona—loh, apa yang anda lakukan?” Jang Nara—sekretaris Krystal—kebingungan mendapati bosnya sedang mengobrak-abrik ruangan dengan tergesa. Ditangannya sudah terdapat setumpuk berkas bahan meeting yang akan dilaksanakan kurang dari sepuluh menit lagi.

“Aku mencari berkas akomodasi bahan dan peninjauan dari tahun 2012. Dimana ya?” sahut Krystal sambil lalu dan tetap fokus pada pencariannya.

“Tapi nona, bukankah anda sudah memerintahkan saya untuk menyimpannya? Ini sudah saya bawakan, nona sendiri yang bilang takut teledor,” jawab Nara polos sambil mengangkat sebuah map yang ada dipaling atas berkas yang sedang dipegangnya.

“Apa?!”

“Iya, ini sudah disini. Sekarang kita harus bergegas, lima menit lagi Direktur Choi Corp akan datang,” desak Nara supaya bosnya segera merapikan diri. Namun yang ada Krystal malah mendengus.

“Huh, kalau begitu bilang dong dari tadi. Saya benar-benar lupa,” dengus Krystal kesal sendiri dengan kepikunannya. “Apa saya sudah rapi?” Nara mengangguk dan Krystal pun melangkah keluar ruangan.

Untungnya, Krystal dan Nara sampai terlebih dahulu dari si direktur. Tapi Krystal sempat terkejut, karena direkturnya ternyata adalah Choi Minho! Yah, soalnya dia sempat berpikir Choi Siwon-lah yang akan datang. Krystal tidak tahu kalau anaknya sekarang yang telah menggantikannya. Meeting berlangsung dengan lancar meskipun Krystal merasakan sesuatu yang aneh setiap ia menatap Minho, dan sering sekali mereka tertangkap saling menatap. Biasanya Krystal akan mengalihkan pandangan duluan, dan mengalihkan kembali fokus dengan topik yang sedang dibahas. Namun beberapa menit kemudian, pandangannya dan pandangan Minho akan kembali bertemu.

Krystal tidak tahu kenapa sepertinya mudah sekali menemukan tatapan Minho padanya. Meeting sudah selesai dan berakhir dengan baik dan memuaskan, namun Krystal melangkah keluar ruang meeting dengan seribu perasaan aneh yang entah kenapa berkecamuk mengganggunya. Ia memutuskan untuk langsung ke toilet untuk mencuci muka. Agak lama ia mematut dirinya di depan cermin.

Segalanya akan lebih mudah kalau Jess unnie mendampingiku tadi. Dia bisa mengalihkan perhatianku dari pria itu, tapi entah apa dia bisa mengalihkan perasaan yang sedang kurasakan sekarang ini.

Krystal memoles lipgloss di bibirnya sebelum melangkah keluar toilet. Matanya membulat ketika melihat seseorang juga melangkah ke arahnya dalam jarak yang sangat dekat. Krystal tidak sempat mengubah arahnya dan ia malah memekik ketika membentur tubuh itu. Ia menunggu dirinya jatuh, namun ia justru merasa sedang berada dalam sebuah dekapan hangat.

“Akh!”

“Krystal-ssi? Kau tidak apa-apa?” suara berat yang khas terdengar lembut di telinganya. Krystal bisa merasakan napas yang menerpa sebelah wajahnya, sebelum membuka mata.

“M-Minho-ssi!” pekiknya. Tubuhnya terlalu membeku untuk melepaskan diri dari dua lengan kekar Minho yang menyelubunginya.

Bukan, bukan Minho-ssi! Minho-ya…

My Minho. My dearest love.

My sweetheart…

Pandangan Krystal tidak fokus ketika ia menatap mata Minho. Sekelebat bayangan muncul dalam ingatannya, sekelebat rasa hangat dan nyaman yang serupa seperti saat ini kembali terkuak.

Dia pernah merasakan dekapan hangat ini.

Dia pernah menyerahkan dirinya dalam dekapan ini.

Dia sangat mencintai pria yang mendekapnya sekarang ini.

Kenangan-kenangan berputar-putar dikepalanya, makin lama membuat kepalanya terasa berdenyut-denyut, makin kuat hingga ia tak bisa menahannya lagi, dan semuanya menjadi gelap. “AAKH!”

“KRYSTAl-SSI!!”

__

“Kemungkinan besar Nona Yoon sedang mengalami pemulihan kinerja otak. Berdasarkan dari hasil CT scan yang kami dapatkan, Nona Yoon memang pernah mengalami kejadian traumatik dan pukulan yang keras, yang membuat beberapa syaraf di dalam otak tengah mengalami pergeseran. Delapan puluh persen kemungkinan Nona Yoon kehilangan sebagian ingatannya. Namun karena sekarang nampak tanda-tanda pemulihan, bisa juga berarti ini salah satu proses pemulihan ingatan Nona Yoon yang sempat terhilang,”

Punggung Minho menjadi kaku seketika. Lupa ingatan? “Amnesia?”

Dokter yang sedang menjelaskan keadaan Krystal di depannya mengangguk. “Meskipun, memang proses ini terbilang cukup lambat. Lukanya sendiri bisa diperkirakan sekitar, sepuluh sampai sebelas tahun lalu,”

Minho mengerang frustasi. Apa tadi dia tidak salah dengar? Krystal Yoon adalah seorang penderita amnesia!

“Minho oppa!” Minho mengangkat kepalanya ketika mendengar suara Suzy yang mendekat. “Apa yang terjadi pada Krystal? Aku langsung ke sini setelah mendapat pesanmu,” lanjutnya dengan napas terengah, lalu duduk di kursi lorong rumah sakit di samping Minho. “Aku juga sudah menelpon Jessica Jung, dia sedang dalam perjalanan,”

“Jessica Jung?” tanya Minho heran. Suzy menatapnya bingung.

“Tentu saja, Jessica kan saudaranya! Memangnya apa yang terjadi pada Krystal?” tanya Suzy dengan raut wajah cemas, membuat Minho tertegun. Suzy tidak pernah nampak peduli ataupun ingin mengenal Krystal dengan baik. Kenapa tiba-tiba wanita ini seperti menjadi orang yang paling mengkhawatirkan Krystal sedunia, sih?

“Aku bertemu denganya di depan toilet, dia hampir terjatuh dan aku menolongnya. Tiba-tiba dia berteriak lalu pingsan,” jelas Minho tanpa memandang Suzy. Matanya terpejam dan ia menumpukan tangannya di kedua pahanya, merasa terlalu lelah.

Suzy menyipitkan matanya. Krystal kaget karena Minho tiba-tiba muncul? Tapi kenapa sampai pingsan? “Dia langsung pingsan?”

“Kepalanya sakit,” balas Minho singkat. “Yang kurasakan saat itu dia sepertinya kesakitan. Makanya langsung kubawa ke rumah sakit,”

Suzy mengalihkan pandangannya dari Minho dan berdiri melihat seseorang yang baru keluar dari lift. Napasnya tertahan, dan meskipun ia ingin bersikap senormal mungkin di depan orang ini, ia tetap saja tak bisa berhenti merasa gugup. “Soohyun-ssi,”

“Apa yang terjadi pada Krystal?” tanyanya tanpa basa-basi dengan raut wajah serius. Garis wajahnya nampak keras dan pandangannya terjatuh pada Minho yang duduk dan nampak sedang berpikir keras. “Hyeong yang terakhir kali bersamanya, kan?”

“Aku tidak tahu, Soohyun-ah. Dia kesakitan dan aku hanya membawanya kesini,” jawab Minho tanpa emosi. Ia kembali menegakkan punggungnya, tidak ingin terlihat sedang kebingungan. “Aku baru berbicara dengan dokternya tadi. Dia baru di CT scan,”

“Kenapa Krystal butuh di CT scan?” tanya Soohyun dengan alis berkerut. Apa Minho semeyakinkan itu untuk dianggap sebagai salah satu kerabatnya? “Dokternya bilang apa?”

“Dokternya tidak menemukan kesalahan apapun pada tubuhnya. Setelah di scan, ternyata dia sedang mengalami proses pemulihan ingatan,” Minho mengangkat kedua bahunya. “Aku tidak tahu kalau Krystal seorang amnesia,”

Soohyun terhenyak seketika. Ia juga tidak tahu itu. Bagaimana mungkin? “… hyeong, kau bercanda?”

Suzy menatap Soohyun tak percaya, lalu gantian menatap Minho yang juga menatap Soohyun. “Apa aku nampak seperti sedang bercanda?” balas Minho datar. “Apa kau tidak pernah tahu sebelumnya?”

Soohyun menggeleng. Pikirannya melayang, pantas saja. Krystal tak pernah membahas masa SMA-nya. Dia tidak pernah membahas dia pernah bersekolah dimana, dia juga nampaknya tak membahas teman-temannya masa SMA. Pantas saja. Sikap Soohyun yang diam saja dianggap sebagai jawaban ‘iya’ buat Minho. Ketiganya diliputi keheningan sampai seorang perawat keluar dari kamar rawat Krystal.

“Nona Yoon sudah sadar, namun dia belum mau bicara. Ada yang ingin pertama menemuinya?” tanya perawat itu sambil menatap Minho, Suzy dan Soohyun satu-persatu.

“Saya,” jawab Suzy cepat. Perawat itu hanya mengangguk sebentar sambil tersenyum tipis dan berlalu, sementara Minho dan Soohyun langsung menatapnya dengan kening berkerut. “Aku hanya memastikan. Kami kan sesama perempuan. Mungkin dia mau bicara padaku,”

“Jangan bercanda. Kalian bahkan tidak dekat,” tukas Soohyun kalem. “Aku pacarnya,”

“Tapi tak tahu bagaimana kondisinya. Aku sama-sama perempuan sepertinya, jadi pertama biarkan aku yang melihatnya duluan. Lagipula, Jessica belum sampai ke sini kan,” sahut Suzy ketus dan langsung masuk ke kamar rawat, Soohyun mendengus sambil memalingkan mukanya.

Suzy menutup pintu di belakangnya dengan perlahan dan langsung mendapati Krystal yang sedang terduduk di ranjangnya, matanya nampak berkaca-kaca. Suzy terkesiap pelan, lalu menelan ludahnya menyiapkan diri. Dia akan membuat tes kecil-kecilan. Berdasarkan yang tadi didengarnya dari Minho, Krystal mengalami lupa ingatan. Suzy sudah menduganya, ia tahu jelas Krystal adalah Soojung tapi sikapnya sama sekali menggambarkan kalau dia bukan Soojung. “Soojung-ssi…”

Krystal mendongak. Matanya terlihat merah dan sendu, membuat Suzy terenyuh melihat kondisinya. “Siapa?”

“Aku Bae Suzy. Kau… Jung Soojung?” tanya Suzy lagi, merasa ragu kenapa Krystal merespon ketika ia memanggil nama Soojung.

Krystal menatapnya dan mengedipkan matanya. “Ya, aku Jung Soojung. Bagaimana kau tahu namaku?”

To Be Continued…

JENG JENG JEEEEENGGGGGG

Nggak tahu kenapa aku mau tereak. KYAAAAAAAH. Pertama aku mau minta maaf, yang bakal ngira FF in bakal berakhir di part 10. Rencananya sih memang begitu, tapi salahkan otak sinetronku. Kayaknya ada pertambahan 2 part. Maaafffffff TTTTT^TTTTTT Ini entah aku yang banyak bacotnya atau emang kebanyakan scene. Tapi nulis kisah Minstal yang ini asik banget, gak mau berhenti… #diinjek. Maaf kan, Maaf kan, MAAFKAAAAAAANNN TT^TT

©2011 SF3SI, reenepott

signaturesf3si

Officially written by reenepott, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

9 thoughts on “The Cruel Marriage – Part 10

  1. kyaaaaaa……ku kira ini udh part end.masih ad 2 part lge,,
    part ini bgitu menguras emosi, penasaran reaksi krystal pas mlihat minho setelah dia ingat dirinya adlah soojung…sangat d tunggu next partnya berharap ga lama

  2. waah ya ampun aku ga nyangka part 10nya udah ada..
    ihh ya ampuun aku suka bangeet sama ff ini aku kira ini udah mau end tapi ternyata belom tapi gpp deh yang penting kelanjutannya jangan lama lama eon aku ga penasaran banget nih sama kelanjutannya~
    next partnya sangat di tunggu jangan lama lama ya eon..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s