BREATH

BREATH

Author             : Haelee15

Main Cast        : Kim Jonghyun

Length             : 1170 wc

Rating              : T

Genre              : Angst, Romance

 

“Tak ada keinginan untuk menyudahi apa yang telah kita mulai. Terlalu banyak kenangan manis. Aku tidak sanggup untuk merelakanmu. Setidaknya, biarkan aku mendengar suara nafasmu untuk terakhir kali.”

Kutatap smartphone itu nanar. Layarnya berkedip – kedip malas disertai getaran yang membekukan telapak tanganku, tanda ada telepon masuk—dari orang itu. Setengah hati saat menekan tombol hijau bersimbol telepon tahun 90’an, lalu mendekatkan benda persegi panjang itu ke telinga kanan.

“Halo?” suaraku serak. Mulutku kering tak ada saliva. Terlalu takut dan cemas akan apa yang dikatakan seseorang di seberang telepon sana.

“……” hatiku mencelos. Air mata mulai menggenang, mengaburkan pandangan. Semua probabilitas dan pemikiran negatif tentang sesuatu yang akan terucap nanti oleh si penelepon berkeliaran bebas di otakku. Membuat tempurung kelapa ini seakan pecah oleh pening.

Cafetaria jam empat sore? Baiklah, aku akan kesana.”

Tepat setelah aku menyetujui ajakannya, dia memutuskan sambungan telepon begitu saja. Dua detik kemudian, aku menangis keras. Mengutuk diri sendiri yang telah dengan tololnya menyanggupi pertemuan nanti.

.

Delapan puluh dua menit kemudian, aku duduk menunduk menatap cangkir kopi moka di meja, dihadapan seorang pria berjaket abu – abu. Saling mendiamkan, tak mampu membuka percakapan ditengah atmosfer kaku dan canggung yang begitu kental. Bahkan hingga dua minggu yang lalu kami masih bercengkrama penuh tawa, sangat dekat, dekat sekali. Tapi, semua kedekatan itu musnah dalam sekejap. Sejak tujuh hari lalu, setelah dia mengatakan hal itu.

“Suaramu serak sekali, di telepon. Apa kau sakit?” tanya pria itu memulai percakapan.

Ya! Aku sakit, sakit hati! Sakit hati dikarenakan seorang pria kolot yang membuang seseorang yang mencintainya hanya untuk tradisi kuno keluarganya! Aku sangat sakit karena itu. Aku tidak rela dan tidak bisa! Dasar bodoh!’ Segala bentuk umpatan kasar dan tak beretika hendak meluncur dari bibir keringku. Tapi semua kalimat kasar itu menguap begitu saja ketika aku menyadari bahwa dengan berkata seperti itu tidak akan merubah keadaan. Tidak akan membuatnya membatalkan keputusan bulatnya.

“Aku tidak sakit.” Jawabku seadanya—dikarenakan seluruh kosa kata di otakku mendadak hilang akibat tatapan bengisnya yang menusuk hatiku–. Aku gugup, takut, marah, kecewa dan tidak terima.

“Baguslah kalau begitu.” Lelaki itu mendesah, seakan jawabanku melegakan hatinya, sejurus kemudian senyum manisnya terukir di wajahnya.Senyum yang selalu untukku. Lengkungan bibirnya yang (pernah) sangat mempesona, kini terasa menyakitkan dan pedih. Seperti luka besar disiram air mendidih. Ia melanjutkan, “Aku akan menikah…”

Dia menggantung kalimatnya. Membiarkanku mencerna kalimat yang tidak ingin aku cerna dan pahami. Dia bodoh. “…dengan gadis lain.”

Aku membiarkan kepalaku mendongak menatap manik cokelat pekatnya yang menawan—dengan tatapan sedih dan memohon. Terkejut.

Are you struggling a lot for our love?” tanyaku parau menahan emosi berlebihan yang meletup – letup. Air mata yang melesak turun dari peraduannya membuat pandanganku mengabur.

Yes, I am. But, they don’t want to listen and understand. Takdir memang tidak mengizinkan kita berada di jalan yang sama. Aku menyesal.”

Aku kembali diam. Dia benar dan aku egois. Aku tidak seharusnya memaksakan takdir yang tidak digariskan untukku. Tidak benar jika aku merenggut sesuatu yang bukan milikku.

Hanya suara hembusan nafas yang terdengar berat yang mengisi kekosongan tanpa percakapan lebih lanjut diantara kami.

“Maafkan aku, honey. Aku sangat menyes—“

“—Tidak, jangan panggil aku honey lagi! Apapun panggilan sayangmu untukku. Keputusanmu sudah bulat dan kau tidak boleh memanggilku seperti itu lagi. Dan, kau tidak perlu menyesali sesuatu yang tidak butuh untuk disesali. Gadis itu memang takdirmu, bukan aku.”

Kuteguk paksa salivaku sendiri. Terasa semakin kering dan mencekik. Munafik! Akulah yang munafik. Omongan dan sikap tegar –meski masih dihiasi air mata— namun, menjerit seperti bocah dua tahun di hati.

“Kau mau melepaskanku untuk dia? Terima kasih, kau memang gadis yang pengertian. Kuharap setelah ini kita tetap berhubungan dengan baik tanpa dendam atau benci sedikitpun. Apa kau bisa berjanji untuk itu?”

Aku mengangguk. Dan kembali merutuki diri karena begitu mudah menyanggupi janjinya.

Dia mengulurkan tangannya. Tersenyum seperti malaikat tanpa sayap yang tak berdosa. Sedang aku, menatap bergantian uluran tangannya dan matanya bingung. Senyumnya semakin merekah. “Terima kasih. Aku senang kau menerima keputusan ini dengan baik.”

Dia menarik tangan kananku dan menjabatnya kuat – kuat. Genggaman tangan yang sama, sungguh menghangatkan dan menyengangkan. Tapi di situasi ini, aku membencinya.

Oh Tuhan…

Benda lembut apa itu yang mendarat sekilas di pipiku? Benda memabukkan jenis apa yang telah mencuri degup jantungku itu? Betapa lancangnya lelaki ini, masih berani mencium pipiku setelah apa yang telah dia katakan.

“Suara degup jantungmu itu sangat keras, bahkan tadi aku bisa mendengarnya, hehehe.” Ucapnya diakhiri dengan senyum bodoh sambil mengacak rambut belakangnya. Aku tertegun, masih menatapnya tak percaya.

“Aku harus pergi. Terima kasih dan maaf. Daaah.” Dia beranjak dari duduk dan melambaikan tangannya. Aku kembali terkejut. Secepat itu dia pergi? Bahkan dia tidak menyadari gelombang perih yang memporak – porandakan ruang hatiku.

“Tidak, Jonghyun!” aku memeluknya dari belakang dan menangis di punggungnya. Dekapan protektif yang pertama kali aku berikan untuknya. Tidak. Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa berjanji. Aku tidak bisa—merelakannya pergi.

Tatapan aneh dari ekor mata para pengunjung kafetaria mengarah pada kami berdua. Tapi aku tak peduli, urat maluku sedang tidak aktif dalam keadaan tak menyenangkan seperti ini.

“Jangan pergi. Aku tidak bisa.”

Cukup banyak detik yang berlalu tanpa jawabannya. Terlalu lama. Lelaki itu tidak menjawabku dengan cepat—yang faktanya, dia hanya berdiam diri selama tiga detik. Tiga detik terlambat yang pernah kulalui.

“Jangan menangis. Aku sangat menyesal mengakhiri semua ini. Jika bukan karena orangtua—“

“Tidak, tidak, cukup! Aku tidak bisa, Hyun. Jangan tinggalkan aku sendirian. Jangan membuatku berjanji pada apa yang tidak bisa kutepati. Jangan pernah berpikir aku mampu merelakanmu. Aku tidak bisa. Aku tidak mau. Tolong, Jonghyun. Aku,..aku akan hancur tanpamu.”

“Lepaskan pelukanmu. Aku tau ini sangat berat, bagi kita berdua. Tapi, aku percaya kau gadis yang kuat dan tegar. Tolong jangan buat aku menyesal lebih jauh karena aku telah menciptakan kesan yang buruk di akhir pertemuan ini.” Jonghyun mencoba melepas pelukanku dengan kedua tangan kekarnya, tapi tidak bisa. Aku tetap mempertahankan posisi, tidak berniat melepas pelukan ini dalam waktu singkat. Biarkan aku memeluknya, biarkan aku mendekapnya protektif, untuk kali ini saja.

“Kau tidak boleh percaya bahwa aku gadis yang kuat dan tegar. Aku tidak seperti itu, aku sangat lemah dan rapuh, tanpa dirimu. Tetaplah disisiku, kumohon.” Punggung lelaki itu mulai basah akibat rembesan air mataku disana. Sesenggukanku yang mewarnai percakapan membuatku semakin jatuh.

“Mendengar suara nafasmu saja sudah membuatku sakit. Maafkan aku.”

Dia melepas pelukan dengan paksa. Dan berjalan menjauhiku tanpa berbalik badan dan berkata suatu apa pun lagi, meninggalkanku yang mematung di tengah kafetaria yang ramai dan pengap.

“Hyun…”

When tears fall, even my smallest cherished memories don’t know what to do

Because it hurt so much, we promised to let each other go

When I keep thinking about you

When it’s so hard that I can’t take it

 

Please let me hear at least your breath

 

– Final –

A/n : Hi hi hiiii~~ Gue kambek bawa SongFic pertamaaa. Gomen kalau membosankan dan gantung, but I promise, FF ini bakal ada seri afterlife-nya yg juga berdasarkan lirik lagu. Hahahaaaaaa

Thankyouuuu, GBU all. Love/?

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

10 thoughts on “BREATH

  1. Cemeeeenn! Jonghyun payah bener deh.. kasian sih ceweknya, tp entah kenapa aku sebel tuh cewek pake acara meluk jonghyun dr belakang.. be strong girl!
    Feelnya lumayan dapet kok.. nice🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s