RED LIGHT

redlight

Title: RED LIGHT

Author: vanflaminkey91 (@alexandriavania)

Genre: AU, mystery, tragedy, psychology, dark, friendship

Rating: PG17

Length: ficlet

Main Cast: Jung Soojung (Krystal), Kim Kibum (Key)

Support Casts: find it by yourself.

Disclaimer: this fan fiction is originally by @alexandriavania. Inspired by F(x)’s newest song, Red Light.

Summary: Ketika terdesak, remuk redam amarahpun tak lagi mampu berbalur kan serat kapas. Dentum bandul berapi itu menghempas keheningan senja

Aye aye it’s a red light light
I don’t even know what’s wrong with the current situation

RED LIGHT

Di mana-mana darah menggelimang. Di tiap pijakan kaki telanjangnya mengarah, hanya serabut-serabut merah kental itu yang terasa. Sepasang kaki kurus yang terus menapak sambil menahan agar tubuh tak terpeleset cairan amis yang menyeruak ke mana-mana.

Di saat itu indera penciuman terpaksa harus tumpul kalau tak mau muntah. Mata dipaksa buta kalau tak mau ngeri melihat orang-orang yang tadinya berinteraksi kini tergeletak tak berdaya di atas genangan darah mereka sendiri.

Birunya mega sudah ternoda oleh sekaleng cat merah, bergradasi dengan oranye tua. Suara-suara keras dan jeritan berbaur menjadi sebuah simfoni. Simfoni kehancuran.

“Aah!” Soojung benar-benar berhenti ketika kaki telanjangnya terantuk sesuatu. Ia menutup mata, menghindari percikan darah yang mungkin masuk ke matanya. Kedua tangan menahan bobot tubuhnya pada lantai. Ia meringis. Rambut pirangnya mendadak memiliki dua warna—pirang dan merah.

“Aish,” gerutunya sambil cepat-cepat bangkit. Tangan memegangi tembok, meninggalkan jejak tangan merah ketika ia menyeretnya. Tertatih bangkit, bergerak terus. Beberapa kali ia menghindari orang-orang yang berlarian—meski jumlah mereka sudah jauh berkurang daripada hari-hari lalu.

Mengapa manusia sekarang membunuh manusia lainnya?

Mengapa senjata-senjata itu digunakan untuk menembusi daging, merobek tulang, dan meremuk redamkan hati manusia lainnya?

Mengapa?

Soojung membiarkan untaian retorik itu memenuhi kepalanya sementara ia berusaha melarikan diri dari kematian di ujung tanduk. Ia sudah cukup jauh untuk menembusi kerumunan, menghampiri sebuah persembunyian. Ia mengkhawatirkan kakaknya, yang bersikeras untuk tetap tinggal di sana dan menyuruhnya pergi sejauh mungkin ketika ia bisa.

“Kakiku sudah hancur sebelah, Soojung. Harapan hidupku sudah tipis. Sekarang kau yang masih bisa bertahan, bertahanlah. Pergi. Pergi sejauh kau bisa dan lanjutkan keturunan keluarga Jung.”

Suara Sooyeon terngiang di benaknya. Suara yang membuatnya kembali lagi, menentang ucapan sang kakak.

Eonni! Eonni!” Soojung berhamburan masuk ke dalam sebuah tempat yang telah berubah menjadi reruntuhan. Ia dan Sooyeon berlindung di reruntuhan itu dan aman untuk beberapa hari, namun keadaannya sekarang terlihat lebih menyedihkan daripada saat terakhir Soojung melihatnya.

Eonni!” jeritnya bertautan suara bom di kejauhan. “Eonni, di mana kau?” Kedua matanya dipicingkan. Mencoba menerawang dengan cahaya minim kemerahan.

Tak lama matanya melotot. Seolah ingin mengeluarkan bola matanya sendiri.

Eonni!” Pita suaranya bekerja keras. Air matanya mulai terkuras. Ia berlari, agak tertatih. Matanya berlumuran air mata pilu, menghampiri tubuh yang tergeletak lemas tak bernyawa. Soojung memangku kepalanya, memegangi wajah cantik berlumuran darah itu dengan ibu jari. “Eonni, tidak, Eonni… bangunlah, bangunlah…”

Tapi ucapannya tak pernah bersambut.

Wajah cantik itu sudah setengah dicoreng oleh darah, luka memanjang di pipi, dan mata yang terpejam. Satu-satunya yang tersisa hanyalah senyum tipis di sudut bibir.

Eonni!!

Dan ia menangis di sana. Tak peduli seperti apa ledakan-ledakan yang terjadi dan sebanyak apa mayat-mayat bergelimpangan.

*

Soojung mencoba berlari. Orang-orang yang membawa senjata itu mengejarnya di belakang. Berulangkali memuntahkan peluru, lemparan belati—Soojung berhasil menghindar. Didorongnya setiap orang bahkan mayat yang menghalangi.

Bayangan Sooyeon yang dibaringkannya pelan-pelan di atas hamparan pasir terus menghujani. Ia masih ingat betul bagaimana ia membaringkan Sooyeon, menutupinya dengan kain lusuh yang biasa digunakan mereka sebagai selimut kala malam menjelma. Mendoakannya. Meneteskan tangis di atas jenazahnya.

Ia akan membalas.

Ia akan membalas.

Ia akan kembali untuk membalas.

Ketika Soojung menoleh, ia melotot. Sebuah granat sekepalan tangan dilempar ke arahnya. Ia tak punya pilihan lain selain menaiki atap sebuah mobil dengan bantuan kotak-kotak yang sudah setengah hancur, susah payah.

BOOOM!

Soojung beruntung ia keburu melompat jauh. Sayangnya sesuatu yang tajam menghujan ke arahnya, melukai tangan dan kaki—tapi ia tak bisa berbaring lama-lama di sana. Sambil mengerang, Soojung bangkit. Berlari lagi.

“Aaaah!” Soojung berteriak ketika seseorang menariknya masuk ke dalam sebuah lubang di bawah. Ia sempat melihat merahnya langit sebelum semuanya menjadi gelap dan bunyi benda yang ditarik menutup pandangannya.

“Aaaa! Lepaskan!”

“Ssst, ssst.” Suara pria. “Tenang, tenang. Kau aman.”

“Siapa kau?!!”

“Aku akan melepaskanmu asal kau diam dan aku juga akan memberitahu siapa aku.” Maka Soojung berhenti meronta. Tak lama ia melihat nyala sebuah korek, kemudian pelita kecil itu berubah menjadi lebih besar saat berpindah ke sebuah lampu minyak.

Soojung kini bisa melihat—meski tak jelas—wajah seorang pemuda beralis tebal dengan tatapan mata teduh nan tajam.

“Aku Kibum. Hanya seorang yang berusaha menyelamatkan diri.”

“Perang ini…”

“Hanya sebuah perdebatan panjang antara keserakahan dan keegoisan.” Kibum menghela napas. “Dunia ini hanyalah sekantung koran bertuliskan ego tak berbatas. Manusia membunuh manusia. Sebentar lagi alam yang akan membunuh manusia.”

Soojung terdiam, “Lalu sampai kapan kita akan terus di sini?”

“Tidak. Kita keluar sekarang.”

“Apa?”

Pria dingin itu tak memberi penjelasan. Hal yang Soojung tahu selanjutnya adalah, ia sudah berada di luar—dalam genggaman hangat pria yang baru dikenalnya. Keadaan sudah lebih sepi dan mayat-mayat semakin banyak di sekitar mereka.

Tanah yang tadinya subur kini berbanjirkan darah. Tanpa alas kaki, darahpun merembes dari balik kulit kaki mereka.

“Soojung, diamlah di sini. Jika terjadi apa-apa, segera masuk ke dalam.”

“Buat apa kita keluar kalau akhirnya aku harus ke dalam lagi?”

“Aku hanya ingin melihat dunia luar bersama seorang teman.”

“Lalu kau mau ke mana?”

Pertanyaan tersebut menjadi pertanyaan yang tidak pernah terselesaikan. Soojung melepaskan Kibum pergi sambil memegang lampu minyak mereka—mungkin alat penerangan terakhir yang dapat digunakannya. Ia melihat Kibum berlari ke arah ledakan-ledakan yang terjadi setiap detik, di balik reruntuhan tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Lalu kau mau ke mana?”

“Sudah saatnya aku pulang. Meninggalkan dunia penuh ego ini. Kau tidak harus melakukan hal sama untuk meninggalkan dunia. Kau adalah kendali atas dirimu sendiri, Soojung. Dunia ini terlalu kotor, penuh dengki dan caci. Manusia membunuh manusia. Darah bergelimangan menggantikan air. Saat lautan dengki itu memenuhi, tak akan ada kata ‘maaf’ mampu meredam kerakusan. Apa yang kau lakukan, apa yang kau kendalikan, itulah kau. Jangan takut, karena yang harus kau takuti adalah dirimu sendiri—apakah dirimu akan tergenang oleh darah atau tetap bersih? Senang mengenalmu, Jung.”

Dan Kim Kibum tak pernah kembali dari balik reruntuhan itu.

Soojung memegangi lampunya dengan setia. Ia tak bergeming meski sekumpulan manusia berdengki itu kini mendekati. Ia menjatuhkan lampu minyaknya hingga pecah di dekat kaki, apinya menyengat pelan.

Memandangi kedipan bulan sabit di balik awan merah.

“Maaf, Eonni. Mungkin keluarga kita memang telah berakhir sampai di sini,” gumamnya lemah. Seukir senyum pahit tipis di sudut bibir bertanya.

Mengapa manusia sekarang membunuh manusia lainnya?

Mengapa senjata-senjata itu digunakan untuk menembusi daging, merobek tulang, dan meremuk redamkan hati manusia lainnya?

Sebuah ledakan terdengar begitu dekat dengan telinganya. Menyusul rasa sakit luar biasa yang hanya sekelebat bagaikan cahaya. Ia merasakan setiap serpih dagingnya bubar melepaskan diri dari onggok tulang. Setiap susunan tulangnya berpisah menjadi tajam dan menghitam. Kulit-kulitnya hangus. Pecah.

Gelimangan darah bertambah lagi, berbaur dengan serpih kaca dan hamparan api di lampu minyak yang hancur.

Hanya tersisa satu dari setiap untai serat yang telah menyatu dengan cairan itu. Senyum tipis tawar yang bertanya,

Mengapa?

*

Selamanya dunia ini tidak akan pernah bersih.

Selamanya pergolakan itu akan ada. Bukan hanya pada mereka, tapi pada sang cermin yang tertawa mengejek di balik tatapan polosnya.

END

©2013 SF3SI, Vania

signature

Officially written by Vania claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

11 thoughts on “RED LIGHT

  1. Remind me with the story friend of mine when I was in Dubai.He is from Syria,and I still remember how he’s telling me that he lost his family because of war,and now the rest of his family has to separate each other,because their house is gone already….The amazing feeling that I’ve got from him is,he such a very strong person and he believe one day,him and rest of his family will be together again.I miss him

  2. Waaaaaa bahasanya berat tp bagus, menggugah banget.
    Keren keren, kebayang pencerminan lagu red light ( gatau deh arti lagu sama cerita ini apa engga, tp kyk keliatan ngegambarin) dan gaza + tepi barat ( TT A TT )

    #keepwritinghwaiting

  3. Ini keren banget Thor… Feelingnya dapet banget..!!! Kata kata yang dipake juga bagus.. Jadi keinget film Hiroshima..😀 Aku speechless
    Keep Writing thor..😀 Fighting.. ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s