His Room

His Room

Main Cast : Kim Kibum| Lee Hana (OC)

Support Cast : Kim Jonghyun

Length : Vignette

Genre : romance, life, drama, sad

Rating : PG-15

a.n : Happy birthday my namja. maaf kali ini image-mu juga terzalimi. hahaha…. yah, thanks buat Lana yg udh ngingatin. semoga semua bisa menikmati

 

“Aku merasa dia agak berbeda…”

“Apanya?”

“Entahlah. Seakan-akan…dia menghindariku akhir-akhir ini…”

Kim Jonghyun mendesah ringan, tatapannya ia lempar pada pintu bercat biru muda yang tak jauh dari buffet ruang tengah. Pintu kamar itu dihiasi berbagai lukisan abstrak karya pemiliknya, Kim Kibum. Jonghyun hanya tak bisa mengerti apa yang diributkan gadisnya, juga tak mengerti apa mau Kibum sebenarnya.

“Hana-ya, Kibum memang tak mudah dekat dengan orang lain jadi tak perlu kau pikirkan,” hanya itu yang bisa dikatakan Jonghyun untuk saat ini. Lee Hana, gadis berambut panjang dengan mata bulat yang indah itu tak lagi bisa membalas kalimat tunangannya. Ia tahu jika ia kembali membantah maka hanya akan memancing rasa muak Jonghyun saja.

“Tak perlu cemas,” tambah lelaki berambut pirang kecoklatan itu lagi. Tangannya yang kekar merangkul hangat gadis itu, “Sudah sebulan kau tinggal bersama kami. Saat kita menikah nanti, dia pasti akan membiasakan diri.

‘Bukan itu masalahnya, Kim Jonghyun. Bukan itu!’

Namun Hana tak bisa menyuarakan isi hatinya. Ia cuma bisa tersenyum pasrah sambil melempar pandang ke arah pintu biru muda itu.

***

“Kau tampak sibuk.”

Tak ada sahutan dari lelaki muda yang diajak bicara oleh Hana. Gadis itu menghela nafas kecewa. Sudah beberapa hari, namun tak juga berubah. Awal perekenalan mereka, Kim Kibum bersikap biasa saja padanya. Biasa saja yang sama artinya dengan diam tak terlalu peduli. Namun lelaki itu masih sering memperhatikan Hana dan membantunya di kala senggang. Terutama untuk urusan rumah yang sebenarnya merupakan alasan Hana mulai tinggal seatap dengan kedua saudara itu, agar terbiasa saat Jonghyun menikahinya nanti.

“Aku bawakan coklat panas untukmu. Apa kau sudah memeriksakan diri ke rumah sakit?” tanya Hana lagi.

“Sudah. Letakkan saja di atas meja.”

Hana tak menyangka Kibum akan menjawab pertanyaanya. Bukan kalimat yang menyenangkan sebenarnya, namun cukup untuk memancing senyum di bibir Hana. Gadis itu melangkah riang ke arah Kibum yang sejak tadi membelakanginya, sibuk dengan lukisan di atas kanvas. Ruang kamar lelaki itu cukup luas dilengkapi jendela besar yang menghadap ke taman. Sangat cocok untuk melukis.

Gadis itu menepuk kedua bahu Kibum dan berkata, “Sedang banyak pikiran?”

“Ya.”

“Ingin berbagi denganku?”

Kibum menghela nafas lalu melirik si gadis yang setengah menunduk menatapnya. Hana bisa melihat langsung garis wajah Kibum yang tegas seperti Jonghyun, sepasang mata rubah berlensa hazelnut yang tajam sekaligus indah, bibirnya yang agak pucat, dan rambut hitam legam yang hampir menutupi matanya. Kibum adalah potret muda Jonghyun yang lebih serius sekaligus rapuh. Sosok adik yang menawan dan cerdas bagi seorang Lee Hana.

“Aku…tidak tahu. Aku sendiri tidak begitu paham…,” Kibum berkata dengan suara beratnya. Sungguh, Hana merasa lelaki itu sedang tidak baik-baik saja. Namun di sisi lain Hana merasa sangat heran. Kibum selalu melakukan apapun dengan penuh keasadaran, tak pernah ia bingung akan apapun. Bahkan saat menghadapi penyakit jantung yang ia derita sejak kecil sekali pun.

“Kalau begitu, katakan padaku tentang apa,” hanya itu yang dapat Hana ucapkan setelah beberapa lama. Kali ini Kibum menatap intens dirinya. Pandangan mata yang sangat aneh bagi Hana. Sangat aneh karena tak pernah sekalipun ia merasakan kehangatan sekaligus kegelisahan dari tatapan seseorang seperti itu.

“Tentang dirimu, kupikir begitu.”

Dan Hana semakin tidak mengerti maksud kalimat singkat itu.

***

“Sudah minum obat hari ini?”

“Kau cerewet sekali.”

Hana kembali tersenyum. Akhir-akhir ini ia lebih senang jika Kibum yang menanggapi omongannya, entah kenapa. Tapi ia berusaha untuk tetap menjaga hati. Jangan sampai ia mengabaikan Jonghyun, mengingat umur Kibum tak berbeda jauh darinya. Ah, seharusnya Jonghyun menikahinya lebih cepat. Namun Hana tak bisa berhenti memikirkan Kibum, terutama kesehatan lelaki itu. Tubuh Kibum sangat rapuh sejak kecil, terlalu mudah sakit. Sebagai calon kakak ipar yang baik, tidak heran Hana mengkhawatirkannya.

“Apa yang kau lukis hari ini?”

“Aku tidak tahu.”

“Jadi? Goresan warnamu itu?”

“Oh, tolonglah ‘kakak ipar’. Pertanyaanmu terlalu banyak, menyakiti telingaku saja!”

Bibir Hana mengerucut. Namun ia segera kembali ceria dalam hitungan detik. Gadis itu bosan dibelakangi Kibum sejak tadi. Ia sudah berkali-kali melihat koleksi buku ataupun CD milik lelaki itu sejak tadi. Kamar Kibum ini sudah selesai ia jelajahi. Ia ingin mengobrol. Toh pekerjaan rumahnya sudah selesai dan Jonghyun masih belum pulang kerja juga. Pekerjaan Kibum sebagai pelukis dan penulis lepas tentu membuat Hana iri. Kalau saja ia adalah kekasih Kibum, pasti hidupnya lebih mudah.

Namun cepat-cepat ia hempas pikiran itu jauh-jauh.

Ia berdeham pelan lalu duduk di samping Kibum sambil pura-pura tertarik pada lukisan yang tengah dikerjakan. Seperti potret manusia, tapi masih belum jelas nyata. Kibum pasti punya caranya sendiri untuk membuat karya yang hebat. Tanpa ia sadari ia terlalu dekat. Dan entah sejak kapan nafas Kibum mulai tercekat.

“Sudah dapat jawaban dari pikiranmu kemarin?”

Gadis itu bertanya penuh semangat pada Kibum, bahkan pada jarak sedekat itu. Mata Kibum terbelalak sesaat namun ia segera kembali tenang. Sayang, wajahnya jadi tampak jauh lebih kusut. Namun Hana tak juga beringsut.

“Kau terlalu dekat,” gumam Kibum dengan suara berat yang datar.

“Hey, katakan padaku!”

Perlahan gerak tubuh Kibum mulai gelisah, matanya mulai menjelajah liar. Bibirnya ia gigit pelan sementara keringat mulai mengalir turun di keningnya. Hana menatap heran gerak-gerik calon adik iparnya. Ia tak mengerti apa yang Kibum lakukan. Terlebih sapuan warna yang Kibum usapkan di kanvasnya, semakin menyala sekaligus gelap.

“Bum…”

Kibum seakan tersentak. Kuas yang ia pegang patah menjadi dua dalam genggamannya. Hana semakin heran. Lelaki itu terdiam di tempatnya, menunduk kaku. Hana merasa panik seketika, mengira lelaki itu akan pingsan atau apa. Baru saja gadis itu hendak menyentuhnya, Kibum mengeluarkan suara beratnya yang terdengar dingin.

“Keluar.”

“Hah?”

“Keluar!!”

“Bum…”

Kibum bangkit dari duduknya, tampak marah dan frustasi. Dilemparkannya palet lukis yang penuh tinta minyak ke arah kanvas, menciptakan degradasi warna yang amat berantakan. Hana tertegun di tempatnya, shock berat menghadapi amarah Kim Kibum. Tubuh ringkih Kibum berdiri tegak dengan telunjuk mengarah kasar pada pintu.

“Keluar! Keluar dari kamarku sekarang juga!!!”

BLAAMM!!

Hana terduduk lemas di depan pintu kamar Kibum yang baru saja dibanting di depan wajahnya. Perlahan air mata mengaliri pipinya. Entah isakan itu terdengar atau tidak si pemilik kamar yang ada di hadapannya, Hana tak lagi tahu.

***

 

“Dia…hanya sedang labil. Dia butuh waktu untuk tahu benar bagaimana menghadapimu. Kau harus tahu, Kibum adalah salah satu orang yang takkan membiarkanmu terluka bahkan oleh dirinya sendiri.”

Tapi Hana sudah terluka karena sikap Kibum. Ia tak mengerti kenapa Jonghyun begitu membela adik semata wayangnya itu. Mungkin karena terus berdua saja sejak kematian orang tua mereka, namun itu sangat klise. Hana tak mengerti, sama sekali tak mengerti.

Namun Hana ingin berbaikan dengan Kibum, bagaimanapun caranya. Ia tak peduli siapa yang benar ataupun salah dalam hal ini. Ia hanya ingin berbaikan. Dengan niat itulah ia memasuki kamar lelaki itu dan mendapati Kim Kibum tengah tertidur pulas di atas kasur dengan taburan kertas, kanvas, dan tinta minyak. Wajahnya jauh dari damai tapi juga lelah. Hana mendapati beberapa bungkus obat pereda rasa sakit di dekat bantal.

Saat itulah hati Hana melunak. Kibum sudah cukup kesulitan untuk bertahan hidup selama ini. Hana tak bisa membebaninya dengan berbagai keharusan untuk bersikap baik. Hidup Kibum terlalu lelah untuk menghadapi hal-hal kecil yang terlalu dibesar-besarkan.

Hana melirik hasil medical check up yang dibiarkan begitu saja di atas meja. Hana hendak melihat hasilnya namun keinginan untuk membelai rambut Kibum yang halus lebih besar daripada itu. Akhirnya ia duduk di sebelah lelaki itu dan melakukannya. Bibirnya tersenyum saat wajah Kibum perlahan tampak lebih damai. Hana mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dan menghela nafas ringan. Ia merasa kenangan yang ia miliki di ruangan itu bahkan lebih banyak daripada di kamarnya sendiri.

“Aku pernah menyuruhmu keluar dari kamarku.”

Hana terkesiap. Ternyata Kibum telah membuka mata dan menatap lurus ke arahnya. Ekspresinya yang tampak lelah dan frustasi kembali terlihat. Hana menarik tangannya namun Kibum langsung mencegahnya.

“Ti..tidurmu nyenyak?” Hana mencoba mencairkan suasana. Entah kenapa ia merasakan sengatan panas dari tangan Kibum, panas yang menjalar sampai ke wajahnya.

“Tidak,” jawab Kibum singkat.

“Aku mengganggu?”

“Kau selalu mengganggu.”

Kibum melepas tangan Hana dan ia segera bangkit ke arah meja. Diremukkannya kertas hasil medical check up yang ada di sana dan dimasukkannya dengan paksa ke laci meja. Namun Hana tak bergeming, ia tetap duduk di sana.

“Kau ingin aku pergi?” Hana bertanya, kini dengan suara yang terdengar letih. Bahkan gesekan ranting dan dedaunan di luar sana seakan menambah sedih.

“Aku ingin kau tak pernah lagi memasuki kamar ini,” jawab Kibum, bahkan tanpa perlu repot-repot membalik badan.

“Kenapa? Kau…membenciku?”

“Kau anggap aku apa?”

Kening Hana mengerut. Kibum berbalik, menatapnya dengan tatapan sendu. Bibirnya dan kulitnya yang pucat seakan meminta jawab jujur si gadis. Keduanya sudah lelah. Semua terasa sulit, terlalu rumit. Tak satupun di antara mereka yang mengerti pikiran satu sama lain.

“Kau…Kim Kibum.”

Jawaban yang aneh. Kibum menghela resah karenanya. Sejurus kemudian lelaki itu kembali bertanya, “Kenapa kau repot-repot peduli padaku? Karena aku adik tunanganmu?”

“Tidak. Tentu saja karena kau Kim Kibum.”

Ada nyeri yang terasa di hati. Kibum segera membalik badan menghadap mejanya, memunggungi Hana yang tak kunjung mengerti. “Keluar,” katanya, “dan jangan pernah masuk ke sini lagi.”

“Tapi..kenapa?”

“Bahaya…terlalu bahaya…”

“Aku?”

“Kau menghirup terlalu banyak oksigen di kamar ini. Dan entah kenapa jantungku terasa lemah tiap kali melihatmu bergerak lasak kesana-kemari.”

BLAAMM

Lagi-lagi pintu itu dibanting di depan wajah Hana. Tanpa mereka ketahui keduanya duduk merosot saling membelakangi, dengan sang pintu sebagai dinding pemisah fisik dan tembok batu sebagai pemisah pandang.

Setetes air mata kembali jatuh. Kali ini dalam bisu tanpa suara.

Sementara pasang mata yang lain melempar pandang pada hasil lukis yang hampir jadi, terbungkus kain putih yang kian transparan diterpa cahaya redup mentari.

***

“Kami akan menikah minggu depan.”

“Selamat kalau begitu.”

“Jawabanmu datar sekali.”

“Kupikir aku tidak perlu bernyanyi hanya untuk kalimat selamat.”

“Ya sudah. Terima kasih.”

Hana memaksakan segaris senyum di wajahnya saat melihat tingkah sepasang kakak beradik yang ada di hadapannya. Wajah Kibum yang semakin pucat mengusik pikiran Hana, lebih dari pikirannya akan pernikahan minggu depan. Jonghyun tertawa lepas hari itu, namun jantung Hana terasa berat tiap kali melihat senyum Kibum yang tak ditujukan padanya.

Apa ini? Apa yang terjadi padanya?

“Kita harus merayakannya! Hana-ya, aku dan Kibum ingin pergi minum berdua. Kau bisa jaga rumah untuk malam ini kan?” Jonghyun tersenyum ceria saat mengatakannya. Hana menjawab dengan senyum. Namun perlahan senyum itu pudar saat ia sadar Kibum menatap ke arahnya.

Keduanya membuang pandang, berharap rasa yang ada kian hilang.

Hana hanya melambai ringan saat keduanya pergi. Ia menatap ruang tengah yang biasa ia huni untuk menonton televisi. Namun matanya tertuju pada pintu biru muda yang ada di dekat buffet. Kedua lelaki itu sedang pergi. Tak apa bukan jika Hana masuk ke sana saat ini?

Ruang itu banyak berubah. Masih berantakan, namun tidak dengan kasurnya. Semua tempelan dinding lenyap entah ke mana, seakan-akan si empunya ruangan juga akan hilang begitu saja. Ia teringat kalimat Kibum saat terakhir ia berada di kamar ini. Kalimat itu membuat perasaan Hana semakin berat dan ia tak tahu harus berbuat apa.

Apa keputusannya untuk menikahi Kim Jobghyun tepat?

Kenapa ia merasa lebih berat saat Kibum yang menjauhinya?

Hana tak punya jawaban untuk pertanyaannya saat ini, sama sekali tak ada. Entah kenapa ia teringat pada hasil pemeriksaan kesehatan Kibum yang belum sempat ia lihat. Saat tangannya meraba-raba isi laci, matanya menangkap satu objek yang menarik. Sepetak kanvas yang ditutupi kain putih tampak berdiri di sudut ruangan. Seketika Hana tertarik. Tak pernah sekalipun Kibum menutupi hasil lukisannya. Apa berarti yang ini spesial?

Sambil berusaha merapikan kembali kertas yang telah remuk di genggamannya, ia berjalan ke arah lukisan bertudung putih itu. Pikirannya berusaha mengingat-ingat kapan terakhir Kibum memeriksakan kesehatan dan jawabannya ialah dua minggu lalu. Bersamaan ia menarik lepas kain putih tersebut dan melirik kertas hasil pemeriksaan Kibum yang berhasil ia rapikan

SRAAAKK

“Bukankah sudah kubilang jangan pernah masuk ke kamarku lagi?”

Tiba-tiba saja Hana merasa tangannya ditarik dengan kasar sementara kertas yang tadi digenggamnya kini sudah berpindah tangan dalam bentuk remukan dan dilempar begitu saja ke atas lantai. Tubuhnya dihempas ke tempat tidur. Ia masih sempat berusaha melirik hasil lukisan yang tadi hendak dilihatnya namun segera terhalang tubuh kurus yang menindihnya.

“Ki…Kibum?”

“Aku sudah pernah bilang sebelumnya. BA-HA-YA.”

Kedua tangan gadis itu digenggam Kibum terlalu erat, membuat Hana meringis. Lelaki itu memandangnya dengan tatap dingin dan terluka sambil berkata, “Apa kau tak pernah belajar bahwa memasuki kamar lawan jenis itu berbahaya?”

Hana terkesiap saat Kibum merangsek ke arahnya, mencium paksa dirinya. Setitik air mata muncul di sudut mata Hana, sementara tubuhnya terus meronta paksa. Saat sebuah tamparan mendarat di pipi Kibum, lelaki itu menambahkan, “Kau perlu tahu betapa bahayanya memasuki kamar seorang lelaki di dalam rumah yang sepi. Kau tak bisa mempercayai siapapun bahkan aku, calon adik iparmu sendiri!”

Saat Kibum kembali melancarkan aksi paksanya, hanya satu nama yang bisa disebut bibir Hana, “Jonghyun! …Jjong!!”

“Dia tak akan pernah datang menolongmu di saat seperti ini. Semua salahmu sendiri.”

“Tidaaaaaaakkkkk!!!!”

BLAAAMM

Gadis itu lari meninggalkan Kibum yang tersaruk di lantai. Tenaga Hna yang berhasil terkumpul cukup kuat untuk menjatuhkan lelaki itu dari tempat tiidur. Hana berlari penuh derai air mata. Saat ia berhasil keluar dari apartemen mungil itu ia menubruk Kim Jonghyun yang tampak kaget karenanya.

“Hana? Ada apa denganmu?”

Namun Hana hanya bisa menangis histeris dalam pelukannya. Berbotol-botol soju yang tadinya berada dalam kantung pelastik yang digenggam Jonghyun jatuh pecah begitu saja. Lelaki itu hanya diam menenagkan, berharap waktu akan memberikan jawaban atas semua kebingungannya.

Sementara dalam kamar yang ditinggalkan, Kibum tertawa di sana. Tawa yang terdengar gila namun akhirnya bercampur dalam isak tangisan.

“Lihat! Kau kembali padanya. Kau terlalu keras kepala, tak pernah mengindahkan semua peringatanku… Dan kini kau berlari begitu saja setelah aku memaksakan semua kehendakku. Apa-apaan?!”

Namun tak ada kata seru yang terdengar kasar ataupun tegas di tiap kalimatnya. Hanya ada lirih dan sedih. Kedua mata rubahnya yang mulai dipenuhi kantung mata memandang lelah pada lukisan yang terpampang di sudut ruangan. Lukisan potret diri Lee Hana, dengan warna merah dan hitam yang dipadukan serasi, penuh emosi. Sapuan warna yang menyebutkan rasa iri dan putus asa yang tak dapat terbendung lagi. Hanya cahaya rembulan yang datang menghampiri. Sementara si empunya membiarkan ruangan itu gelap tanpa cahaya yang menemani.

Air mata itu jatuh, entah untuk yang ke sekian kali. Rasa sakit di dadanya datang, entah kapan akan pergi. Sementara remukan kertas itu menampakkan diri dengan cetakan POSITIVE AIDS di salah satu sisi.

Lagi, air mata itu jatuh kembali. Lelaki itu hanya bisa mengutuki takdir yang tak kunjung selesai menyiksanya, tak kunjung selesai membuat setiap bagian dari dirinya remuk redam. Seandainya saja dulu pihak rumah sakit sialan itu tak seenaknya saja menggunakan jarum suntik sisa saat menanganinya, ia tak akan menderita separah ini.

Kini ia tahu cintanya tak kan pernah berbalas, walau setengah mati ia berusaha melindungi gadis itu dari dirinya sendiri. Ya, Kim Kibum takkan membiarkan gadis itu terluka, takkan pernah. Namun ia punya caranya sendiri. Ia akan melindungi Hada dari apapun, termasuk dari dirinya sendiri.

Dan waktu tetap mengalir dalam detik.

Bersamaan air mata di tiap titik.

Dan ruang kamar itu menjadi saksi malam ini. Saksi bagi dua hati yang tersakiti.

 

-FIN-

Sept 23rd 2014

8.14 p.m

 

©2011 SF3SI, Bella Jo

                                                            bella-jo-signature

Officially written by Bella Jo, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

22 thoughts on “His Room

    1. hmm… sekali-kali tega kan ga apa2. soalnya aku selalu posting tulisan ttg kibum yg hangat, manis, n cute. i love his dark side, makanya pengen buat yg beda d ultahnya.

      makasih y udh mampir^^

  1. ._. *loading………*
    .
    .
    .
    .
    .
    APAAAAAAA?! Wah teganya ;A;

    Oke dr awal udh rada penasaran emang si key kenapa sih sampe segitunya, dan ternyata……… aids ya ampuuunn… pantes dia bilang dia berbahaya

    Btw,

    Tidak bergeming >> bergerak
    Bergeming >> diam

    Ditunggu fd selanjutnya yg tidak menistakan key🙂

    1. butuh waktu loading yg lama y kk. hehehehe…
      hmmm… aku tega karena aku cinta dia, kk #plaaakkk

      aku lagi stuck banget g tau mau bikin penyakit apa yg emg serius. hanya aids yg terpikirkan n jadilah Jreng jreng~

      makasih banyak atas saranny, y, kk🙂
      pasti aku perbaiki lain kali^^

      hihihi… semoga yg selanjutnya bner2 g menistakan key. kekeke… makasih udh mampir y, kk~

    1. hehe… yg lain kan udh ngasih ff yg warming with fluffy feeling^^
      ini cuma untuk membuat beda di harinya yang spesial^^
      lain kali aku perbaiki deh biar g nista lagi.

      makasih udh mampir^^

  2. Ha ha ha I just think this kind of fic is not good to start your day with
    nggak ngerti hahaha sejenis salah gitu aku pagi-pagi baca ini
    berasa sedih dan gloomy *ya entah kenapa today is not my good day too, kebetulan sekali*

    I’m okay with Kibum’s sickness
    but I did cry about his mental exhaustion
    sedih banget liat kibum harus nahan ini itu dan menyakiti orang lain biar dia merasa tenang
    but it leads to nowhere karena pada dasarnya kibum akan jauh lebih sakit dari sebelumnya
    hhhh, wow like I wish kibum get all the fluffy-warm-and-fuzzy fanfics on his birthday but you then chose this one
    like I know you always embrace the great and strong character of kim kibum
    this ain’t a flaw though but . . .
    forget it, I just have a little something about kibum and mental exhaustion
    anywayyyy,
    I’m glad that you gave him a little piece of appreciation
    hahaha aku pikir waktu itu yang nulis kibum cuma aku doang aku udah mau nangis sebelum lana bilang zaky sama kamu juga nulis
    makasih atas ceritanya, bel😀

    1. ehhhm… yups, you’re right. it’s not good for starting your day. but it’s still the one i gave for him. kekeke

      i know you’ll be okay about the sickness, no wonder. and that’s true, the main point of this story is his mental exhaustion. i think there’s something more about his character, something special. and because i’mm too busy preparing something else, this one is the only one i could finish in time.

      sebenernya Lana ngingetin di malam sebelumnya n di situ baru teringat abis itu langsung ber-astaga!- ria karena masih banyak deadline yang harus diselesaikan selain ini.
      kk sih setia banget di tiap ulang tahun. hihihihi

      makasih udh mampir, kk~

  3. BELA KAMU APA-APAANNNNN!!!!
    Habis aku baca Americano sama Bienvenue sama Shoes, tahu-tahu disodorin ginian
    Tega sekaliiiiii ;_;

    Dibandingkan dengan fiksi kamu yang lain, narasi yang ini tuh semacem kurang kena gitu, iya gak sih? Well, aku sih udah bisa dapetin feel kelelahan dan frustasinya Bum, tapi apa ya…. ada yang kurang gitu. Mungkin karena kamu nulisnya mepet-mepet kali ya?
    Heuh… aku tuh padahal lagi nulis yang mirip-mirip kayak gini loh, hahah jadi perlu di koreksi lagi kayaknya.

    Maaf ya baru mampir sekarang
    btw… ff model gini buat birthday tuh… heuh… Q_Q
    kkkkk
    Thank you btw❤❤

    1. hahaha… biar beda lho Lan…
      sumpah, aku harus memaksakan otakku berpikir berkali2 lebih cepat utk idenya n verita ini ditulis satu hari dgn jadwal kuliah super mepet ditambah praktikan laboratorium yg pada nungguin *oke, aku mulai lebay*
      jadi, mohon maklumi aja kurang lebihnya karena aku bahkan g bgtu sempet ngedit2nya

      aku tunggu deh karya kamu. kamu kan kl nulis gmanaaaa gitu. kekeke
      makasih udh mampir❤❤

      1. hahaha… ketahuan deh. iy, ini terinspirasi dari audy 21-ny kk orizuka. tapi lebih k sisi hurt and mental exhaustion karena aku ngerasa ada sesuatu yg kurang dgn mental exhaustionny rex. allright. thanks udh mampir

  4. hah?

    udah ngerasa kibum suka sama si hana. kirain ngejauh gitu cuma gara gara dia pacar kakaknya, ternyata gara gara kibum punya aids

  5. Gileeee…if kind of that happen on me,udah bunuh diri kali😉
    Di antara rasa sukanya sama Hana,Kibum tetap berusaha kuat di hadapan siapa pun tapi tetap ngejaga semua orang termasuk perasaan semua orang yang dia sayang.Hhhhh…terharuuuuu…Key gak terdzalimi kok,tapi inspirasi.
    Love you Thor …. Mmmmmmuuuaaaccchhhh

  6. o-okay…. ini ff emosional banget. ciyus.

    jujur pas bagian awal itu sama sekali ga ngerti dan ga masuk ke otak. pas bca bawahnya baru ngerti-,-

    udah nebal sih kalo kibum suka HAHAHAHA. tapi ga nyngka bakal seganas itu, sampe nindih/?

    dan…..ga nyangka juga kena aids. hidup memang pedih bum, baryaw/?

    huahua kaget juga sih pas tau tau kibum ada dikamar pas hana mau nyoba buka lukisan D:

    Keren kok, feel na dapet, emosi nya dapet, tapi sayang typo nya qaqa D:

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s