Shoes

dumb

Shoes

Main casts : Kim Kibum and OC

Length        : 1.573 words

Genre         : AU, Slight humor, Romance

Rating         : PG

Disclaimer  : I don’t own any of the characters, they belong to themselves, but the plot is mine.

A/n             : Failed college!au, please have a mercy on me. Happy Birthday (again) Kim Kibum. Have a blast, baby!

This is how Kibum gets a girlfriend

 

“Tapi gadis itu masih SMA.” Jonghyun berusaha menenangkan temannya yang siap meledak. “Oh uh, mungkin masih SMP. Uhm, entahlah kurasa ia masih sekolah dan sepatu itu untuk crush-nya. Hei, gadis itu akan menyatakan cinta, Kibum!”

“Persetan dengan pernyataan cinta! Kau tahu bahwa aku yang memesannya duluan, kan? Sekarang aku BAWA uangnya-” ucapan Kibum terputus ketika mendengar Minho berdehem di sampingnya. “Maksudku Minho membawa uangnya dan kau menjualnya pada orang lain dengan alasan kasihan?!”

Kibum memijat pelipisnya. “Baiklah, ukuran berapa yang masih tersisa?”

“Lima sampai tujuh setengah masih ada.” Jawab Jonghyun sambil mengerutkan dahinya, agak tidak yakin. “Yeah.”

“Ambilkan sepasang ukuran lima untukku.”

-.-.-.-.-

Terlalu kecil.

Kibum tidak gila. Okay, Kibum tidak cukup gila untuk membeli sepatu dengan ukuran tiga setengah lebih kecil dari ukuran kakinya. Sepatu ini bukan untuk dirinya karena Minho akan membelikan sepatu— yang sama persis dengan sepatu yang ada di meja belajar Kibum sekarang— dengan ukuran normalnya sebagai hadiah ulang tahun dan kompensasi kegagalan di kelas structure. Di warehouse akhir pekan ini setelah Kibum menyelesaikan kelas stage performance.

Sepatu ini untuk junior Kibum. Gadis berkepala teal yang selalu tanpa sengaja sekelompok dengannya saat kelas public relation semester lalu. Gadis yang selalu terlihat gugup tapi datang dengan ide-ide segar untuk proyek kampanye mereka. And he wants her to be his birthday gift tomorrow.

Semester ini mereka kembali sekelas di kelas structure. Kelas yang terpaksa Kibum ulang setelah insiden underwear yang hilang dan membuatnya bolos kelas dengan dua kali kuis; karena peraturan sepuluh menit terlambat tidak boleh masuk yang diciptakan oleh dosennya. Siapa lagi biang keladinya jika bukan Minho— roommate sialan yang merampok semua undies Kibum dengan alasan tidak sadar bahwa itu milik Kibum— untuk dibawa field trip. Dan sialnya Kibum juga gagal menyelamatkan nilainya saat ujian akhir.

Sepatu ini bukan bentuk sogokan, Kibum meyakinkan dirinya. Ini hanya hadiah tambahan, kompensasi karena Kibum bukan tipikal lelaki romantis yang akan ‘sweet talk’ dalam rangka mengatakan perasaannya. He will straight to the point ‘I like you, would you be my girlfriend?’.

“Aku tak percaya kau akan menyatakan perasaanmu dengan tubuh bau ikan.” Kibum menatap Minho—yang bersandar di ambang pintu kamarnya— dengan galak. “Daripada membelikannya sepatu, seharusnya kau mengajaknya kencan dengan pantas.”

We already had several dates, Ho.” Kibum mendecak. “Yeah, they might be not the real ‘dating’ activities but I asked her out besides the projects discussion. Ah, don’t forget about the tutoring sessions, they’re included.

Smart mouth, Kibum. Tapi jika aku jadi gadis itu, sudah jelas aku akan menolakmu. You screwed all your dates.

Kibum mengerang sambil menjatuhkan kepalanya ke meja. Mulai dari insiden coffee talk yang membuat gadisnya bolos kuliah karena maag kambuh, nonton film— lain kali Kibum harus mencari sinopsis semua film yang sedang tayang, terlebih jika genre-nya action-thriller—yang berakhir dengan keluar studio di tengah film karena Kibum mual kemudian lari ke restroom terdekat untuk muntah, dan kejadian terakhir yang membuat Kibum malu setengah mati karena membuat gadis itu terlongong saat Kibum menceramahinya untuk menggunakan pembalut berbahan dasar kapas agar lebih sehat— Kibum tidak tahu harus marah atau berterima kasih kepada Ibunya tentang pelajaran kesehatan reproduksi yang beliau ajarkan sejak Kibum duduk di bangku sekolah menengah— ketika gadisnya mengajak mampir sebentar ke mini market setelah sesi tutor structure tingkat 4.

But you have strong will, Kibum.” Minho menepuk-nepuk punggung Kibum dengan prihatin. “Semoga beruntung, kawan.”

-.-.-.-.-

Hey,” Kibum menjatuhkan tubuhnya di bangku yang berdampingan dengan Areum; gadis incarannya. “Did you do well?

I wish,” Gadis itu mengacak rambutnya dengan kesal. “Aku tidak tahu cara mengerjakan part terakhir. Kuharap pekerjaanku di part-part sebelumnya bisa meng-cover nilaiku.”

The last part didn’t affect that much, believe me.” Kibum menelan ludah ketika melihat sepasang sepatu yang membungkus kaki gadis itu. “Uhm, kapan kau membelinya?”

“Kemarin sore datang.” Gadis itu menggerakkan kakinya. “Terlalu besar, jadi kelihatan seperti badut.”

Yeah.” Kibum tergeragap ketika Areum mendadak menatapnya. “Kenapa tidak beli yang sesuai ukuranmu saja?”

“Dibelikan, tidak bisa memilih.” Gadis itu menghela napas. “Sunbae mau?”

Kibum mengangkat alisnya. Gadis itu tertawa kecil kemudian menjelaskan bahwa ia bisa memberikan sepatu itu pada Kibum jika lelaki itu mau karena ia tidak bisa memakainya tanpa disumpal gulungan kaos kaki dan diikat erat agar tidak melayang. Kibum menggaruk pipinya sambil berkata bahwa ada temannya yang akan membelikan sepatu yang sama, bukan tolakan yang cukup halus karena cara bicara lelaki itu yang kelewat blak-blakan. Jadi, Kibum menelan bulat-bulat umpatannya ketika melihat bibir Areum sedikit melengkung ke bawah.

Sepanjang sisa kelas, mereka hanya diam sambil berkutat dengan modul di meja. Berulangkali Kibum mendecak, mengutuki kotak sepatu yang memenuhi ranselnya. Ia berpikir untuk menjual benda itu jika rencana keduanya nanti tidak berhasil, barter sepatu dengan gadis itu setelah pulang kuliah. Lebih tepatnya setelah kembali dari flat untuk mandi dan berdandan karena sepuluh menit lagi tubuhnya akan bau amis. Ia menyumpahi siapapun pencipta tradisi keparat yang mengharuskan anak fakultas ilmu bahasa menceburkan siapapun yang berulang tahun ke kolam ikan di taman kampus. Tidak ada yang bisa selamat— kecuali kau berulang tahun saat akhir pekan atau liburan— karena fotomu akan terpampang di mading fakultasmu ketika kau berulang tahun.

Sunbae, aku duluan.” Areum beranjak dari bangkunya ketika kelas berakhir. “Selamat ulang tahun, jangan sampai terkena flu.”

Kibum hanya tersenyum pahit. Yeah, meskipun ia cukup senang karena mendapat ucapan selamat ulang tahun dari Areum, namun tetap saja tidak mengurangi rasa khawatirnya pada angin musim gugur yang membuatnya terancam pilek. Setidaknya ada motor Minho yang bisa menyelamatkannya dari pandangan jijik para penumpang bis seperti saat tahun pertamanya diceburkan.

Kibum menjejalkan modulnya ke ransel, menghela napas sebelum keluar kelas dan disambut oleh teman-teman sekelasnya yang dengan senang hati menyelamatkan tas Kibum sebelum membuang pemiliknya ke kolam. Lelaki itu terbatuk setelah pendaratan brutal barusan. Ia cepat-cepat naik sebelum penghuni kolam mengamuk dan menggerogoti dirinya. Lebih tepatnya sebelum ada anak ikan yang masuk ke celananya seperti tahun kemarin.

Lelaki itu menyambar tasnya dari bahu Nicole yang mengucapkan selamat dan menyelipkan sebuah kotak ke saku depan ranselnya. Setelah cukup diacak-acak dan diberi ucapan selamat, Kibum melangkah ke parkiran kampus dengan sepatu empuk berdecit dan ucapan selamat ulang tahun dari beberapa anak fakultas lain. Ia susah payah menahan hidungnya yang gatal untuk mendapati sebuah motor asing menduduki wilayah parkir motor Minho. Kibum baru ingat jika kunci motor Minho tidak ada di kantong ranselnya karena Minho sedang praktek mengajar mulai awal bulan ini. Yang artinya Kibum harus naik bis untuk pulang. Wow, Life’s suck.

Sunbae mau pulang?” Kibum menggaruk pipinya kemudian mengangguk ketika mendapati Areum menghentikan skuternya di samping lelaki itu. “Ayo kuantar, kebetulan kelasku yang selanjutnya dibatalkan.”

“Uhm, bagaimana jika aku yang memboncengkanmu?”

Areum mengangguk. Ia mematikan mesin skuternya kemudian turun. Gadis itu mendadak melepaskan sepatunya dan menyerahkannya pada Kibum.

“Pakai sepatuku saja, bahaya jika berkendara dengan sepatu basah. Bisa-bisa pijakan Sunbae meleset dan kita jadi celaka.”

Kibum membuka ranselnya kemudian menyerahkan sepatu yang ia beli kemarin. “Barter? Temanku cukup bodoh untuk membelikanku ukuran sepatu yang salah.”

Areum terdiam sejenak, ia mengerutkan dahi sebelum akhirnya menerima kotak sepatu dari tangan Kibum dan mengganti sepatunya dengan yang baru. Pas. Memang benar, ini ukurannya.

“Lucu ya, sepatunya pas di kakiku.” Kibum menggerakkan tungkainya. “Bagaimana denganmu?”

“Sama.” Areum tertawa sambil mengikat tali sepatunya. “Sepertinya kita jodoh, Sunbae. Ha ha ha.”

Well, jika menurutmu kita jodoh. Berarti kau mau kan jadi pacarku?”

-.-.-.-.-

Terlalu besar.

Gadis itu tidak mungkin memakai sepatu unisex yang lebih besar tiga setengah dari ukurannya tanpa terlihat aneh. Ia tidak cukup gila untuk beralasan bahwa ia membeli sepatu ini karena menyukainya dan tidak ada ukuran lain. Atau mungkin berpura-pura cedera sehingga ia bisa memakai sepatu besar dengan alasan kakinya diperban. Apapun alasannya, ia tetap akan terlihat seperti badut.

Areum bertopang dagu sambil menatap sepasang sepatu di hadapannya, if only they have the same size.

Namun jika tidak memakainya ketika kelas structure besok maka gadis itu akan terlihat obvious. Untuk apa membawa dua sepatu ke kampus, padahal cuacanya masih cerah ceria karena hujan biasa turun pada malam atau dini hari. Ia juga tidak mungkin tiba-tiba menyorongkan sekotak sepatu dan mengucapkan selamat ulang tahun. Meskipun mereka satu kelompok di kelas public relation semester kemarin dan kembali bersua di kelas structure semester ini tapi ia tidak berani untuk memberikan hadiah yang terlalu mahal kepada Kibum secara terang-terangan.

Ia memang harus memutar otak agar rencana ‘menyelamatkan Kibum Sunbae dari pulang bertelanjang kaki’ berhasil. Menurut tradisi fakultas mereka, siapapun yang berulang tahun harus diceburkan ke kolam ikan yang terletak di taman kampus dan besok adalah jatah Kibum. They will save his bag and electronic devices, but not his shoes. Since they want to torture that shoes maniac.

Roommate Areum menatap gadis berambut pendek— yang sedang menatap kotak sepatu— itu sambil menghela napas. “Berikan saja saat pulang. Kau sudah merelakan uang tabunganmu untuk membeli sepatu itu. Lagipula kalian juga sudah kencan beberapa kali, kan?”

“Itu bukan kencan! Kami hanya membicarakan proyek kampanye kemudian Sunbae mengajakku makan.” Areum mengacak rambutnya frustrasi. “Ya ampun! Harusnya aku beli ukuranku saja dan pura-pura tidak tahu ulang tahunnya.”

Then you’ll end up ugly sobbing. Kau akan berkata ‘hu hu hu, harusnya aku menyatakan perasaanku agar aku tidak terus-terusan nyaris gila begini’, astaga Areum! Apa aku perlu turun tangan?”

“JANGAAAN!” Areum menjerit histeris. “Kau akan merusak semuanya, Minsol! Biar aku yang katakan sendiri.”

Well, jangan lupa belajar untuk kuis dan placement test besok.” Minsol mengernyit ketika melihat Areum yang tersuruk di sofa. “You asked me to remind you.

Areum mengerang kemudian membawa kotak sepatunya ke kamar. Ia harus berpikir ekstra untuk kuis, rencana pernyataan cintanya dan tabungannya yang nyaris amblas. Screw you, Kim Kibum.

00.25

07.09.2014

ps.

thanks Lana for being my (supportive) proof-reader and sorry for the inconvenience

©2013 SF3SI, Chrysalis

siggy chrysalis

Officially written by Chrysalis, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

21 thoughts on “Shoes

  1. aku habis ngebut baca fics sebelah, kurangkum aja sekalian comment bienvenue di sini ya, chrysalis-sshi ^^

    selalu aja fic2 nya chrysalis simple dan ninggalin senyum abis bacanya. Yang ini lucu dan unik.

    Yang di sebelah, entah karena lagi kesengsemnya akhir2 ini sama couple JongKey, abis baca yang di sebelah jadi kayak yang gemes banget pengen nyubit orang.

    keep writing, chrysalis

    1. woosh, santai aja ini bukan balapan nanti kalo ngebut bisa benjol(?)
      wah, kamu kebetulan aja kali bacanya pas yang lucu-lucu
      since I’m pretty rude person ya hahaha

      silakan cubit siapa saja tapi jangan aku ya nanti pipiku jadi makin bengkak hehehe
      makasih atas semangatnya
      makasih juga udah mampir😀

  2. IYEEEEE KIBUMMM IH UDAH LAMA BUANGET GAK BACA FIC DIA MWEHEHEHEHEEH😄
    Sweet ih… meskipun kamu malu-maluin banget, Bum. Serius deh, because of those damn undies?!?! gak tau deh itu Kibum atau Minho yang rada bego mwahahahahahah😄 DAN PEMBALUT BAHAN DASAR KAPAS ASTAGA!! Bum lo itu cowo, awkward gak sih nyeramahin cewe astaga -_-
    Sumpah lah kaaaak, sumpah lucu mwahahaha😄
    Suka sukaaa😄

  3. ternyata hahahha
    aduh coba didunia nyata seperti ini dan aku yg mengalaminya😄
    bingung mau nulis apa hahahha
    keren ceritanya ringan dan lucu aku jadi senyum senyum sendiri😄
    good job author

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s