#selfie [2.2]

#selfie – 2/2

 

Author             : Faciikan

Main Cast        : Minho and Choi Yujeong

Support Cast    : Ahn Sohee

Genre               : comedy, family, oppaMinho!au

Length             : two shots

Rating              : General

Summary         : “Kalau ini soal Minho yang ditawari jadi model lagi, aku tidak mau mendengarkan.”

A.N                  : I totally suck at humor istg

Aku masih buntu bahkan tiga hari kemudian saat dipaksa adikku menemaninya ke toko buku. Ia murid junior, baru kelas sepuluh, umurnya bahkan belum genap enam belas. Tapi ia sama seperti kakaknya, murid yang cerdas. Jadi hari itu, ia menyeretku ke toko buku untuk membeli beberapa buku latihan soal dan buku persiapan TOEFL.

            Aku sibuk berada di bagian novel dan tidak menghiraukan adikku. Aku membiarkannya memilih buku latihan soal paling sesuai. Kalau diperhatikan, masalah buku, kami sangat mirip. Kalau sudah menyangkut buku, kami menghormati satu sama lain, membiarkan yang lain mengelana dalam pilihan bacaan masing-masing. Rasanya saat kami berdua tenggelam dalam euforia yang diberikan buku, kami menjadi sepasang kakak beradik paling akur yang pernah diketahui umat.

            Aku memilih tiga novel, cukup untuk bacaan selama seminggu penuh. Aku mengecek jam dan melihat bahwa kami sudah menghabiskan lebih dari empat puluh lima menit. Kupikir Yujeong sudah siap membayar—pilihan buku latihan soal ‘kan terbatas; tapi tidak, ia masih di situ, dengan buku TOEFL TBT di satu tangan dan versi iBT di tangan yang lain; menimbang, membandingkan.

            Aku mengamatinya sesaat. Ia sibuk membolak-balik kedua buku. Entah karena iseng atau apa, aku mengeluarkan ponselku dan membuka fitur kamera. Aku berhati-hati, memastikan Yujeong tidak memperhatikanku. Aku mencoba mengambil sudut yang bagus, sudut yang membuat adikku tidak tampak seperti induk anjing laut, wanita paruh baya, atau Badai Katarina. Walaupun sebenarnya, adikku itu cantik, wajahnya hampir mirip kakaknya.

            Aku tersenyum melihat hasil jepretanku. Tidak sebagus kalau pakai SLR atau HD-camera, tapi lumayan untuk ukuran kamera ponsel. Yujeong juga terlihat cantik, kulitnya yang lumayan tanned terlihat elok karena cahaya lampu yang kekuningan. Apalagi kacamata yang menggantung dan dua buku tebal yang sedang ia amati; menyiratkan kesan pretty but smart.

            Kemudian aku buka blogku, membuat postingan baru. Aku hanya memberi tanggal hari itu sebagai judul, lalu memasukkan foto yang baru kuambil itu sebagai isi. Aku tidak repot-repot memberi touch-up atau apapun itu, aku mengunggahnya mentah-mentah. Kemudian aku memberi caption: Choi Yujeong, she IS pretty.

            “Ih, kau menyeramkan, senyum-senyum sendiri seperti itu.” Ia menyikutku, buru-buru kumasukkan ponselku ke dalam kantong. Kalau ia sampai melihat foto tadi, bisa datang tsunami tiba-tiba.

            “Kau lama sekali sih,” Aku balas menyikutnya. Perhatianku teralihkan tas belanjanya, “Kau serius akan mempelajari sebegitu banyaknya?”

            Ia mengendikkan bahu, “Kalau kau peringkat lima paralel dulu, aku akan jadi peringkat satu. Ingat itu!”

            Aku hanya mencibir dan mengolok-olok, menurunkan semangat adikku untuk jadi nomor satu. Aku mengakui adikku pintar, cerdas, rajin pula; tapi peduli setan tentang betapa ia mencoba, tidak akan ia mengalahkan kakaknya yang satu ini.


Jujur saja, blogku tidak terlalu populer ketimbang blog Sohee yang ramai membicarakan mode. Atau  blog ibuku yang sering mempublikasikan resep-resep enak dan sehat. Bahkan blogku hanya sedikit di atas blog Yujeong yang kerap memberi solusi tentang soal-soal mata pelajaran. Tapi, kali ini, blogku mendapat kunjungan yang lebih ramai ketimbang biasanya.

            Malamnya, sebelum tidur, aku mengecek blogku. Tidak kusangka penyuka post terbaruku—aka foto Yujeong—sudah mencapai puluhan orang. Ada belasan repost dan komentar juga. Kebanyakan memuji jepretanku dan kecantikan Yujeong. Aku tersenyum senang, entah kenapa. Mungkin karena ini pertama kalinya aku mendapat respon yang begitu antusias.

            Tapi kejutan yang sebenarnya datang dua hari kemudian.

            Itu hari Sabtu, satu keluarga di rumah menikmati pagi. Ayahku sedari tadi menonton berita pagi, memberi komentar di sana-sini. Ibuku di dapur, menghias kue yang merupakan resep teranyarnya, dan kami yang akan jadi kelinci percobaannya. Kurasa aku tidak akan keberatan, aku sayang ibuku dan karena biasanya masakan ibuku memang enak. Adikku ada di teras, sebuah buku latihan soal matematika di pangkuannya. Beberapa buku lagi di sebelah kanannya sementara di kiri ada semangkuk salad buah dan gelas berisi teh hijau. Aku? Aku ada di tangga, duduk bersama tablet dan salad buah.

            Jam sembilan pagi, telepon rumah berdering nyaring.

            Tidak ada dari kami yang berniat mengangkatnya. Kakakku Minseok sudah menelepon pagi-pagi tadi saat sarapan, jadi tidak mungkin ini Minseok. Siapa pula yang berani mengganggu keluargaku pagi-pagi begini?

            Pada bunyi yang ketiga, akhirnya ayahku berdiri dengan malas dan mengangkat telepon itu.

            “Yoboseyo, Keluarga Choi di sini.”

            Aku melihat ayahku sekilas. Sepertinya bukan telepon penting karena beliau hanya mengangguk-angguk, tidak terlihat memperhatikan. Aku memperhatikan lagi, tiba-tiba ayahku menegakkan kepala. Keningnya berkerut dan ekspresinya terkejut. Tidak lama, beliau menutup telepon.

            Kemudian beliau berjalan ke arahku. Ia menepuk pundakku dan menyuruhku memanggil Yujeong dan duduk bersama beliau di ruang tengah. Aku dan Yujeong saling berpandangan, tidak mengerti. Ayah kami jarang memanggil kami berdua seperti ini.

            “Minho, apa yang terakhir kau unggah ke blog mu?” Beliau bertanya padaku, wajahnya serius sekali.

            Aku memiringkan kepala. Kemudian teringat pada foto yang kuunggah dua hari lalu. Kemudian aku menjawab, “Foto Yujeong?”

            Segera adikku memandangku curiga. “Kau mengunggah fotoku? Foto macam apa? Pasti foto memalukan!”

            Adikku mulai mendaratkan pukulan-pukulan kecil ke sekujur bahu dan lenganku. Aku berusaha menghentikannya, tapi tidak berguna. Kami berakhir dengan pertengkaran seru, aku yang melindungi diri dari pukulan Yujeong yang bertubi-tubi.

            “Choi Minho, Choi Yujeong!” Ayah kami mendaratkan pandangan penuh arti pada kami, bibirnya membentuk kurva lengkung ke atas, meminta perhatian. “Appa baru mendapat telepon, dari sebuah agensi model.”

            Yujeong memutar bola matanya. Ia menyilangkan tangannya, berpikir bahwa saat ini adalah kesekian kalinya aku mendapat tawaran untuk menjadi model. Salahkan orang tuaku yang mewariskan gen super tampan padaku. Fun fact, aku sudah mendapat tawaran dari berbagai macam agensi bakat—mulai dari agensi model, sampai agensi kelas berat yang menerbitkan berbagai macam pekerja industri hiburan—semenjak SMP.

            Sepertinya adik perempuanku ini tidak mau lagi mendengarkan. “Kalau ini soal Minho yang ditawari jadi model lagi, aku tidak mau mendengarkan. Mau dia menolak, mau dia menerima, coba-coba dulu, aku tidak peduli. Appa dan Minho oppa bisa membicarakan ini tanpa aku.”

Adikku sudah berancang-ancang akan berdiri ketika Ayahku berkata, “Yang ditawari jadi model itu kau, Choi Yujeong.”

            “Aku tidak—wait, WHAT?” Yujeong menyipitkan mata, menelisik dengan hati-hati wajah Appa. Entah apa yang dicarinya, kebohongan mungkin? Tapi bukan Ayahku namanya kalau main-main dengan ekspektasi anaknya.

            “Kau tahu model Irene Kim? Ya, itu tadi agensinya yang menelepon Appa. Bilang mereka tertarik menjadikanmu seorang model setelah melihat fotomu di blog Minho.” Appa menjelaskan dengan halus pada putrinya yang satu itu. “Appa tidak akan melarang Yujeong kalau mau jadi model. Mereka bilang kau bisa datang ke kantor mereka kapan pun untuk di—apa itu namanya?—entahlah.”

            Putri ayahku hanya mengedipkan mata beberapa kali. Kemudian ia duduk dengan manis, pantat rata pada sofa. “Appa tidak salah dengar?”

            Ayahku mengeluarkan nafas berat, “Sejauh yang Appa dengar, nama Yujeong dan Minho itu bedanya jauh sekali.”

            Yujeong terdiam. Sepertinya ia benar-benar tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk merespon. Aku melihat ke arahnya dan melihat perubahan drastis. Pertama aku melihatnya kehilangan warna, seperti kulitnya yang agak tanned itu diberi filter hitam-putih. Lalu perlahan-lahan, warna itu kembali, lebih cerah, lebih kontras. Lalu ada warna peach, merah muda, dan merah yang mewarnai pipinya. Warna-warna hangat itu makin jelas, warna merahnya apalagi, mempermalukan warna tomat ceri di kulkas.


“Jadi, bagaimana dengan adikmu?” Tanya Sohee. Ia memulai pembicaraan sambil menunggu pesanan kami datang.

            Aku menatap Sohee tidak mengerti. Ia hanya tertawa, lalu melepaskan genggaman tanganku, kemudian ia menyandarkan diri pada kursinya. “Masih ingat? Jembatan Banpo… kita bicara, adikmu?”

            “Ah itu.” Aku melihatnya mengangkat cangkir dan menyesapnya perlahan. Matanya masih melihat padaku penasaran. Ia berkedip beberapa kali, benar-benar imut, tapi aku tahu itu hanya satu dari sekian cara untuk memancing jawaban dariku.

            Ia meletakkan cangkirnya. “Ayolah aku penasaran!”

            “Well, ia sudah baikan. Dan setiap kali mengambil gambar tidak lagi mengolok-olok dirinya sendiri.” Aku memberi kesan menggantung pada kalimat terakhirku. Sohee sedikit mencondongkan wajahnya, punggung tidak lagi menempel pada kursi. “Yah, dia sudah kembali, plain old Yujeong, apalagi?”

            Sohee menyipitkan mata, sama sekali tidak percaya denganku.

            “Baiklah,”Aku menyerah. “Ia sudah tidak mengatakan dirinya seperti induk anjing laut, atau walrus terdampar, atau sapi obesitas. Ia juga sudah tidak menghindari makan dan tidak mengurung diri lagi. Pokoknya ia sudah berubah.”

            Sohee menyandarkan tubuhnya ke kursi, kemudian ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Tampaknya masih tak percaya. “Seems like something left off.”

            “Okay, here we go.” Aku menghela nafas. “Yujeong benar-benar bukan Yujeong lagi setelah mendapat tawaran jadi model itu—walaupun ia menolaknya karena tetap ingin jadi antropolog forensik. Kau tahu, saat kami kumpul keluarga besar kemarin, banyak dari sepupu-sepupuku yang berfoto-foto ria. Mereka sibuk menghiasi Instagram dengan selfie. Tidak satu dua yang meminta berfoto bersama Yujeong. Kau tahu setelah mereka mengambil foto Yujeong bilang apa? Ia berkata, ‘Jangan diunggah ke media sosial ya, takut ada telepon dari agensi model lagi.’”

            Mata pacarku membulat dan ia mulai tertawa lepas. Ia menatapku tidak percaya tapi ia mengangguk-angguk takjim.

            “Dari pada low self-esteem sepertinya Yujeong menjadi too much self-esteem. Aku harus membuatnya merasa buruk pada dirinya sendiri lagi. Yujeong yang selalu bilang bahwa tubuhnya mirip seperti kuda nil jauh lebih baik dari pada Yujeong yang merasa lebih cantik dari Miranda Kerr dan semua macam model VS.”

            Sohee masih tersenyum-senyum walau ia sudah tidak tertawa. Aku mengedikkan bahu dan ikut tersenyum. Kurasa aku harus menurunkan sedikit rasa percaya diri Yujeong, tapi itu urusan nanti, pacar lebih penting.

-freaking.fin.and.thank.you.very.much.ily-

@2013 SF3SI, Faciikan

sign-faciikan

Officially written by faciikan, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

9 thoughts on “#selfie [2.2]

  1. aku bahkan lupa sedang menanti fic part 2nya pas tiba2 pagi ini mampir dan ngeliat fic ini. Aku musti bengong dulu buat ngingat2 fic part 1nya. Aku suka cara ngambil sudut pandangnya yang dari sudut pandang minho…

  2. hey long time no see
    ahaha aku pikir bakal ada sesuatu uhm, I mean aku merasa okay dan senang karena self image yujeong cepet banget berubahnya ha ha ha
    aku pikir ceritanya bakal lebih panjang dan yah . . .
    mungkin aku sendiri yang mikir terlalu berat karena uhm sejujurnya aku merasa emang perubahan self-image itu tergantung orangnya sendiri sih cepet atau enggaknya
    so, uhm, thanks for the story😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s