The Cruel Marriage – LAST PART A/B

tcmII

Title : The Cruel Marriage

Author: Chinchi a.k.a Kim Sujin + ReeneReenePott

Cast:

  • Choi Minho
  • Jung Soojung
  • Choi Younghyeon (covered by Shanon William)
  • Bae Suzy

Minor cast:

  • Shim Syerin (OC)
  • Kim Heechul
  • Kim Soohyun
  • (Other still hidden in the story)

Genre: Romance, AU, sad, a little bit fantasy.

Rating: PG-16

Length: Sequel

Disclaimer: The story pure belonged to me, but all of the casts belong to themselves. Don’t be a plagiator or reblog my fanfic without permission–chinchi–

RESPONSE PLEASE and HAPPY READING!!

WARNING!!! : MEMILIKI KONTEN KERAS DAN KASAR, SEBAIKNYA JANGAN TERLALU DIRESAPI WEHEHE

TRAGEDY 12 A/B

“Krys, haraboeji mulai menanyakan, kapan kau akan membawa Younghyeon keluar dari sini? Pernikahan Minho itu besok, kita tidak bisa menunggu sampai Suzy resmi menjadi ibu Younghyeon. Bukankah sandiwara ini akan berakhir? Kau sendiri yang bilang ingin kembali pada Soohyun, terlepas dari semua yang terjadi,”

Krystal mencengkeramam lipstik yang sedang ia pegang erat-erat, pikirannya kembali kacau mengingat kata-kata Jessica semalam. Kalau dia boleh menyuarakan suara, persetan dengan semuanya! Persetan dengan sandiwara, jika ia bisa bersandiwara maka ia akan bersandiwara seperti ini selamanya. Dia memang tidak bisa menghakimi orang seperti apa kakeknya itu, dan tidak bisa mengira-ngira kenapa kakeknya melakukan ini semua padanya. Semua ingatan, kejadian, trauma, sakit dan kehancuran yang pernah dirasakannya memang masih terasa seperti luka yang menganga segar.

Sungguh, ia ingin berbicara dengan Syerin sekarang. Dulu, hanya gadis itulah penopangnya. Hanya gadis itu yang bersedia mendengar seluruh keluh-kesahnya, memberikan masukan dan kata-kata yang bisa membuatnya kembali tenang dan berpikir jernih. Namun setelah keberangkatannya ke Amerika beberapa waktu lalu hampir membuat Krystal frustasi. Bagaimana mungkin semua kontaknya terputus begitu saja? Nomor ponsel, email, sejejak kontak pun tak Syerin tinggalkan untuknya. Inikah apa yang pantas ia dapatkan setelah persahabatan yang terjalin hampir seluruh hidupnya? Dasar gadis sialan. Syerin bahkan tidak meninggalkan satu kontakpun pada Heechul. Apa mereka sudah berakhir?

Kim Myungsoo, her secret Knight. Krystal ingat betul, lelaki itu selalu ada untuknya dikala ia kesusahan. Tanpa banyak berkata, Myungsoo mendatanginya dan mengulurkan tangan, memberikan perlindungan padanya seperti seorang kakak. Ia hampir menangis mengingat betapa ia rindu berbincang dengan pria itu. Myungsoo selalu memberinya ketenangan, perasaan nyaman, tentram dan terlindungi. Dia tak pernah merasa khawatir bila ada Myungsoo. Dan sekarang pria itu juga raib entah kemana. Apakah ia marah dengannya?

Tok tok

Krystal menggerakkan kepalanya ketika mendengar suara pintu terbuka. “Krys? Sudah siap? Kita semua akan berangkat ke gereja. Younghyeon… sedang menunggumu di hotel,” suara lembut Jessica sama sekali tidak mengejutkan Krystal yang masih duduk sekaku patung di tempatnya semula. “Soojung-ah,”

“Jangan panggil aku dengan nama itu dulu, unnie, untuk sementara ini,” akhirnya Krystal berbicara. “Aku akan bicara pada haraboeji setelah upacara pernikahan,”

Jessica menghembuskan napas dan menutup pintu di belakangnya dengan pelan. Ia tahu apa yang mereka lakukan ini sangat jahat, meski semua ini demi Soojung. “Kau yakin? Haraboeji pasti akan marah besar. Dia belum pernah bertemu dengan cucunya, Krys, haruskah kau lakukan itu? Jika kau belum memaafkan haraboeji, setidaknya lakukan ini demi Hyeon—“

“Kemarahan haraboeji tidak akan sebanding dengan kebencian Hyeon padaku jika ia tahu bahwa aku ini ibunya, yang pernah meninggalkannya. Aku tak pernah memberikan kasih sayangku sebagai ibu padanya unnie, apa yang bisa membuatnya menerimaku?” potong Krystal dengan suara tercekat. Ia hampir menangis jika tidak cepat-cepat menguasai diri. “Aku tidak akan melanjutkan ini lagi, unnie,”

Jessica memandang Krystal sejenak, lalu ia menghela napas lelah. Soojung sudah berubah menjadi wanita dewasa sekarang, ia tak bisa membantah kebenaran kata-kata yang dilontarkan Krystal. “Hh, geurae. Kalau itu maumu. Kita berkemas sekarang,”

__

Bae Suzy sedang duduk di depan meja rias pengantin, dengan sebuah gaun putih panjang berekor, rambut yang tersanggul indah dan riasan wajah yang memesona. Ia hanya tinggal memasang cadar dan semuanya siap. Oh, ia sudah bisa merasakan bahwa tulangnya serasa remuk dari dalam selama proses panjang dan melelahkan ini. Menjadi seorang pengantin itu sangat melelahkan, ia harus bangun subuh-subuh untuk memulai riasannya, mengecek apa ada kekurangan dengan gaunnya, dan segala tetek benget yang bisa membuat otaknya langsung melayang tak lagi menerima cekokan informasi dan jadwal yang harus ia lakukan sepanjang pagi itu.

Pertama dia harus datang dan bersiap di sebuah hotel berbintang yang akan menjadi lokasi dijemputnya sampai ke gereja. Setelah dari gereja dia ke hotel lagi untuk mengganti baju dan membenahi make up. Sekitar jam dua siang dia harus sudah mulai rehearsal di gedung resepsi, dan jam empat dia harus sudah mulai upacara minum teh, baru jam enam sore resepsi pernikahan digelar.

Cih, kalau nanti di upacara di gereja berjalan dengan lancar. Aku tak yakin aku akan pulang dari gereja dengan status istri Minho.

Ini pernikahan jadi-jadian, sialan! Untuk apa aku berdandan seheboh ini sih? Dumelnya dalam hari. Matanya kembali menatap sebuah buket bunga yang akan dibawanya nanti, yang sekarang masih tergeletak dia atas meja rias. Lily of valley. Krystal pernah bilang dia sangat suka bunga itu. Dan sekarang dia yang mebawanya ke altar? Sungguh menggelikan.

Paman Jung sudah mencak-mencak padanya sedari subuh, dan benar-benar dihiraukannya. Tapi satu yang sudah dipersiapkanya, sebuah pistol dengan lima butir peluru yang ada di laci emja riasnya. Kiriman dari Paman Jung karena Krystal bersumpah tidak akan membunuh para Choi dengan pembunuh bayaran, atau tangan yang kotor.

Ahjumma, mau berapa lama bengong begitu? Appa sudah siap, ahjumma juga bersiaplah,” Suzy menegakkan punggungnya ketika mendengar suara Younghyeon dari daun pintu. Gadis kecil itu mengenakan sebuah gaun putih satin sebatas lutut dengan bando putih. Persis seperti Soojung.

“Younghyeon-ah,” panggil Suzy saat melihat Younghyeon sudah berbalik. Mau-tak mau, Younghyeon menurut, menatap Suzy dengan bingung dan sinis.

Wae?”

Mianhae,” ungkap Suzy sambil memandang Younghyeon. “Kau pasti tahu maksudku nanti. Mianhae,”

Younghyeon menyipitkan matanya kesal dan menghiraukan Suzy, membalikkan punggungnya bersiap keluar dari ruang rias pengantin.

Chamkkaman,” panggil Suzy lagi, dan kali ini sukses membuat Younghyeon kesal.

“Apa lagi?”

“Aku sudah bertemu ibumu,” katanya lagi. Kedua mata Younghyeon melebar, menatap Suzy nanar. “Kau mau bertemu dengannya?”

Younghyeon syok. “Omong kosong. Ahjumma, jangan mengada-ada. Ibuku sudah mati dan karena itu ayahku menikahimu. Kau pikir kau bisa mendapat perhatianku dengan ini? Cih, maaf saja,”

“Kau ingin bertemu dengannya?” tanya Suzy lagi. “Dia tidak pernah mati, Hyeon. Kau mau bicara dengannya?”

Younghyeon menatap Suzy jijik dan berkacak pinggang. “Ahjumma, aku tidak tahu apa tujuanmu. Jangan buat omong kosong seperti ini! Ibuku sudah tiada dan Daddy akan mengamuk kalau aku mengungkit-ungkit tentangnya. Kalau ibuku masih hidup dia harusnya berada di sampingku, bukannya pergi dan tak pernah menunjukkan wajahnya! Apa dia pantas disebut ibu?!” teriaknya dan langsung menghambur keluar dari kamar rias Suzy.

“Choi Younghyeon!” panggil Suzy tapi Younghyeon terlanjur menghilang.

Younghyeon langsung berlari masuk ke lift. Ide yang buruk dengan ikut menyiapkan pernikahan ini. Apalagi dia berada di hotel yang disewakan untuk si Ahjumma itu. Kacau kacau kacau. Amarahnya sudah memuncak, jadi dia butuh asupan makanan di lounge bawah, tempat mengambil breakfast. Dia sedikit kecewa ketika Krystal berkata bahwa dia akan ke hotel sebelum penjemputan pengantin, dan itu masih lama waktunya. Younghyeon menarik napas sambil mengamati angka digital yang menunjukkan posisi lantai, dan bersiap menyingkir agak kepinggir ketika lift berhenti di lantai tiga. Pintu lift terbuka dan nyali Younghyeon langsung ciut melihat empat orang pria bersetelan jas masuk dan mengambil tempat di tengah.

“Nona Choi Younghyeon?” Younghyeon berjengit ketika salah seorang pria itu menghadapnya dan tersenyum sambil bertanya.

“Ayahmu akan menikah ya?” Dengan kaku Younghyeon mengangguk. Jangan bicara pada orang asing! Teriaknya dalam hati. “Calon ibu barumu sangat cantik ya?” tanya pria itu lagi, dan Younghyeon kembali mengangguk.

Tangan Younghyeon mulai bergetar ketika keempat pria itu melangkah mendekatinya. “Jogiyo, bagaimana anda bisa tahu nama saya siapa?” tanya Younghyeon polos ketika pria yang menanyainya itu seakan mengelilinginya.

“Tentu saja aku tahu kau itu siapa. Benar-benar cantik. Kakekmu akan bayar berapa untuk melepaskanmu ya?” pria yang diperkirakan berusia paruh baya itu melangkah mendekat dan mengamati wajah Younghyeon seksama. “Padahal kau hanya kesalahan masa lalu orangtuamu. Tapi sekarang hargamu pasti akan sangat mahal. Maaf nona, sepertinya kau takkan pernah melihat ayahmu lagi,”

Mata Younghyeon membulat ketika dua pria lain memegang tangannya, dia sudah siap berteriak namun sebuah saputangan membekap mulut hingga hidungnya, dan tiba-tiba semuanya gelap.

__

Unni! Astaga, kau bawa apa saja sih? Pantas Key oppa makin lama makin kurus, setiap hari bawa belanjaan seabrek begini ya?” celetuk Krystal tanpa pikir panjang ketika mengangkat langsung sebuah koper dan tas besar yang semuanya berisi pakaian milik Jessica ke bagasi mobil.

“Sudahlah jangan pikirkan bawaanku, pikirkan saja apa yang nanti akan kau katakan pada haraboeji. Dia pasti ngamuk kalau kau tidak pulang membawa cucunya,” balas Jessica cuek sambil ikut menenteng satu koper milik Krystal dan satu tas miliknya. “Hh, aku sama sekali tidak bisa percaya ini. Kau gagal dalam misimu,”

Krystal mengerutkan keningnya mendengar balasan Jessica, bibirnya mengerucut kesal. “Unni, itu kejam sekali! Kalau aku bukan ibunya, aku pasti bisa sukses. Masalahnya lain!”

“Iya, masalahnya kau ingat lagi,” balas Jessica dengan nada yang tetap sama. Krystal melengos, berusaha menghiraukan sambil mengatur letak koper di bagasi. “Haraboeji sangat dendam, kau tahu,” ujar Jessica tiba-tiba, dengan nada serius. Krystal menghembuskan napas dan masih belum menatap Jessica. “Dia tidak terima dengan perlakuan Tiffany terhadapmu,”

Bug!

“Tapi bukan itu masalahnya,” balas Krystal sambil menutup bagasi. “Dengan keadaanku, atau posisiku sekarang aku bisa menuntut balas. Tapi tidak melibatkan anakku,” lanjutnya sambil berjalan dan masuk ke kursi kemudi mobil, diikuti Jessica yang duduk di jok sebelahnya. Tak lama mereka sudah meluncur keluar dari kediaman Choi menuju hotel yang didiami Suzy, Krystal ditugaskan untuk menjemput Younghyen dan Jessica ditugaskan untuk menemani Suzy.

“Oke, kau benar,” ujar Jessica akhirnya. “Aku akan bantu kau bicara. Kau tidak bisa disalahkan,”

Gomawo,” bisik Krystal saat dia merasa matanya mulai perih. Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah masuk ke parkiran sebuah hotel, namun tetap melaju hingga ke lobinya. Tanpa berkata-kata, Krystal membuka kunci pintu mobil dan menatap Jessica.

“Oke, aku turun dulu. Kau ada apa-apa, telpon aku,” ujar Jessica sebelum menutup pintu mobil. Krystal menanggapinya sambil tersenyum tipis dan mengangguk, tetap mengawasi Jessica dari menutup pintu mobil sampai masuk pintu lobi. Baru saja Krystal menginjak kopling dan mengganti gigi, matanya menangkat dua sosok pria sedang membopong sesosok bergaun putih yang jelas kelihatan sudah pingsan, masuk ke sebuah mobil.

Dan potong telinganya jika dia tidak mengenali gaun milik siapa itu. Dia sendiri yang memilihkannya untuk Younghyeon! Dan sosok gadis itu… astaga. Apa yang mereka lakukan pada Younghyeon?

Krystal tidak mungkin salah mengenali anak itu. Meskipun dia belum selama itu bergaul dengannya, tapi dia juga memiliki feeling seorang ibu. Dia bisa langsung mengenali anaknya sendiri dan merasa tidak enak dengan apa yang sedang dilihatnya. Ini tidak mungkin ada dalam skenario upacara pernikahan, itu sangat tidak logis. Mata Krystal tetap terpaku pada-pria-pria itu, terutama pada anaknya, takut-takut sesuatu terjadi.

Krystal mulai terserang panik ketika mobil yang membawa anak perempuannya mulai meluncur cepat, sementara tangan dan kakinya langsung mengambil gigi tiga dan menginjak gas dalam-dalam. Mobilnya ikut melaju kencang mengikuti mobil jeep hitam yang membawa Younghyeon, pikirannya mulai kalut ketika jeep itu mulai mengambil jalur keluar Seoul. Dia bisa gila jika orang-orang itu melakukan yang tidak-tidak. Oh Tuhan…

Tangan Krystal bergetar ketika dia meraih ponselnya yang berdering di atas dasbor, dan tanpa melihat siapa pemanggilnya, Krystal menjawab telepon itu. “Yoboseyo?”

“Krys, kau lihat Younghyeon?”

“Aku sedang mengikutinya, unni. Aku akan mendapatkannya secepat mungkin,” sahut Krystal singkat dan menutup teleponnya. Matanya terus mengawasi jeep yang menjati tujuan utamanya. Jeep itu nampak mulai jauh dan Krystal langsung ganti gigi empat.

__

“Krystal sedang bersama Younghyeon,” gumam Jessica, lalu menatap Suzy yang nampak cemas. “Jangan khawatir, Krystal tidak akan membiarkan anaknya lecet sedikitpun,”

Gamsahamnida,” bisik Suzy kemudian kembali duduk di kursinya. Pandangannya menerawang jauh, dan Jessica hanya menatapnya tanpa berkata.

“Kau sudah makan?” Suzy menggeleng tanpa menatap Jessica. “Kalau begitu aku akan ambilkan sarapan,”

“Aku tidak bisa makan, Jessica-ssi,” balas Suzy sambil menatap Jessica. “Sebaiknya kau mengambil sarapan untukmu saja,”

Jessica tersenyum kecil sebelum menutup pintu. “Aku akan ambilkan sesuatu untukmu juga,”

Suzy menghembuskan napas ketika dia kembali sendirian di kamar rias itu. Lima belas menit lagi Minho akan menjemputnya, bersamaan dengan Tuan dan Nyonya Choi. Lima belas menit lagi penjemputan itu akan direkam. Dan walinya belum ke sini. Suzy berdecih dalam hati. Tiffany pasti akan kembali serangan jantung jika tahu siapa walinya yang akan datang.

Jung Jinggo. Tiffany pasti aka histeris jika melihat pria itu lagi.

Pikiran Suzy kembali terpecah dengan sebuah pesan yang masuk ke ponselnya. Dari Paman Jung. Ekspresi Suzy langsung berubah menjadi kaku ketika membaca pesan itu. Apa?!

To: Suzy-ah

Keponakanku, sekarang kau bisa melancarkan dendammu. Aku tidak bisa datang ke rekamanmu, masih ada yang harus kuurus disini. Choi Younghyeon.

Bukankah aku hebat? Sekali mendayung dua tiga pulai terlewati. Kita benar-benar tim yang kompak sekali. Selesai aku mebereskan anak itu, aku akan membantumu mengurus para Choi itu. Tunggu aku.

SIALAN!

Suzy ingin sekali menendang sesuatu di sini tapi gaun yang dipakainya terlalu panjang. Giginya sudah mulai menggigiti bibirnya kesal, dia hampir memukul meja di depannya. Sialan sialan sialan! Apa yang harus dia lakukan?!

“Suzy-ah, sudah siap? Minho sudah menunggumu,” Suzy tersentak ketika mendengar suara Nyonya Choi dari belakangnya, sudah ada Soohyun yang berdiri tegap sambil mengulas senyum. Kentara sekali itu adalah senyum palsu, wajah kaku Soohyun tak bisa menyembunyikan kekacauannya dibalik tuksedo itu. Pandangan Suzy kembali pada Nyonya Choi, lalu mengangguk kecil.

Nyonya Choi membuat gerakan pada tangannya, memerintahkan Minho untuk masuk dan tim dokumenter yang sengaja dibawa untuk merekam adegan Minho menjemput pengantinnya. Suzy memperbaiki cadarnya, lalu berdiri tegap menghadap pintu, yang sudah disambut dengan senyum lebar Nyonya Choi dan sosok Minho. Buket bunga lili terulur padanya, membuat jantung Suzy berdegup semakin kencang dan jemari tangannya semakin bergetar.

Perlahan, Suzy membuka cadarnya, membuat Nyonya Choi mengerutkan kening. Apa-apaan? Bukankah cadarnya baru boleh dibuka sesudah pemberkatan? Pandangan Nyonya Choi tajam menumbuk pada Suzy, yang perlahan menatap Minho dengan tatapan aneh. “Minho-ya, mianhae.”

Jemari Minho menjadi kaku sambil menggenggam buket bunganya. Pandangan Minho terarah pada Suzy lurus, bingung dengan apa yang akan dilakukan wanita itu, karena kamera di belakangnya terus merekam adegan mereka. “Mwohae?”

“Aku tidak bisa menikah denganmu,” ujar Suzy mantap. “Aku tidak bisa, sebaiknya sudahi semuanya.”

“APA-APAAN INI, BAEK SUZY?! KAU GILA?!” jerit Nyonya Choi penuh amarah.

Mianhae eomonim…

“Perbaiki kebohongan itu, Suzy.” Ujar Nyonya Choi ingin, penuh dengan nada mengancam.

“Aku tidak bisa menikah dengan Minho, eomonim,” kata-kata Suzy yang tegas dan setengah membentak itu membuat emosi Nyonya Choi tersulut. Ia melangkah mendekati Suzy dengan tergesa dan…

PLAK!

Eomma!” seru Minho sambil menarik Suzy dekat dengannya.

“DASAR TAK TAHU DIUNTUNG KAU! AKU SUDAH MERESTUIMU DAN KAU MEMBATALKANNYA DISAAT HARINYA?!” marah Nyonya Choi. Suzy memegangi pipi kirinya sambil perlahan mengangkat wajah menatap Nyonya Choi yang mendelik padanya penuh amarah. “KAU PERUSAK!!”

“Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri, Eomonim?” balas Suzy lantang, menghiraukan Minho yang menatapnya bingung.

“Suzy-ah, ada apa? Kau jangan bertindak aneh seperti ini,” ujar Minho mengingatkan. “Kau mengecewakan kami semua, Suzy. Kau merusak pernikahan kita,”

Suzy gantian menatap Minho sambil mencopot cadar yang dijepit di sanggulnya dan melemparnya ke lantai. “Kau mau tahu pernikahan siapa yang dirusak jika kita menikah? Pernikahanmu sendiri Choi Minho! Apa kau ingat pernah menandatangani surat cerai dengan Jung Soojung, hah?!”

Napas Minho tercekat. “Soojung sudah mati, Suzy. Jangan mengada-ada.”

“Kau mau tahu alasan sebenarnya kenapa Soojung meninggalkanmu, hah?! Itu karena dia!” Telunjuk Suzy menunjuk persis di depan wajah Nyonya Choi yang membelalak. “Dia mengancam Soojung jika tidak pergi darimu, dia akan membakar tempatnya dibesarkan. Dan apa yang dia lakukan setelah Soojung menurutinya? Dia membakar panti asuhan Soojung agar wanita itu juga mati!”

Mulut Minho membuka dan dengan kaku ia menatap ibunya yang berdiri mematung dengan pernyataan Suzy. “Eomma…”

Nyonya Choi mulai panik dan sekejap kemudian ia berusaha menguasai dirinya. “Wanita jalang!! Berani sekali kau mengatakan itu padaku! Kau tidak punya bukti, kan?! Soojung sudah mati dan dia tak akan bisa mengatakan bagaimana dia mati!”

“KRYSTAL ADALAH SOOJUNG!!” jerit Suzy melepaskan semua emosinya. “Soojung tidak mati, Soojung masih hidup dan dia adalah Krystal…”

“Hahahaha!” Nyonya Choi tertawa keras lalu kembali menatap Suzy sinis. “Kau wanita gila, Soojung sudah mati! Kenapa kau terus-terusan mengungkit hal itu?!?! Kau dihantui olehnya?!?!”

“Suzy, hentikan semua lelucon ini,” ujar Minho sambil menarik lengan Suzy. “Kalau kau minta pernikahan ini diundur, aku akan mengaturnya,”

Suzy melepaskan tangan Minho lalu menatap Nyonya Choi lagi. “Kau mau tahu siapa waliku? Jung Jinggo. Kau pasti tidak lupa dengan pacar pertama yang merenggut keperawananmu, kan?” Seketika itu juga wajah Nyonya Choi berubah menjadi pucat pasi, jantungnya seakan copot jatuh ke dasar bumi. “Kenapa aku mendekati Minho? Kenapa aku memaksa untuk bertunangan dengannya? Karena aku suruhan Jung Jinggo untuk menghancurkan keluargamu, Tiffany!”

“Tidak mungkin…” bisik Nyonya Choi, hampir tak bisa menelan ludahnya sendiri. “Dia tak mungkin bisa datang ke sini,”

“Kau lebih memilih Choi Siwon karena dia lebih kaya dan mapan dari Jinggo. Aku keponakan angkatnya dan dia mengajarkanku apa itu balas dendam. Dan setelah aku melaksanakan tugas itu…”

PLAK!

Suzy terdiam ketika tangan Minho mendarat di pipi kanannya. “Kau iblis, Suzy…”

Suzy tersenyum miring dan kembali berdiri tegak. “Kalau aku iblis, aku tidak akan menyuruhmu sekarang untuk pergi ke Sinsan-dong, karena anak dan istrimu ada di sana, disandera Jinggo,” ujarnya tenang sambil menatap Minho menantang.

Jantung Minho seakan copot dari tempatnya, pikirannya langsung kacau balau. “Andwae, andwae…

“Semakin cepat kau kesana, semakin cepat mereka diselamatkan. Karena yang kutahu, selama lupa ingatan Krystal tak pernah belajar bela diri,” ujar Suzy lagi, hanya memandang punggung Minho yang langsung bergerak cepat keluar ruangan. Setelah itu ia kembali memandangi Nyonya Choi. “Nah, Tiffany, sekarang aku tidak akan membalaskan dendam Jinggoo padamu. Tapi aku akan membalaskan dendam Soojung yang berusaha untuk kau bunuh,”

__

What the hell is this?

Krystal menginjak rem perlahan, mobilnya berhenti tepat di depan sebuah gudang kosong yang entah ada dimana tepatnya tempat ini. Sinsa-dong? Hanya itu nama yang dia ingat di daerah ini. Untuk apa mereka ke sini? Krystal membuka pintu dan langsung loncat, menutup pintu lagi lalu memandangi pintu gudang dengan seribu tanda tanya. Ada apa?!

DADDYYY!!!!!!!!

Krystal membeku ketika mendengar teriakan Younghyeon, tanpa berpikir panjang ia langsung lari masuk ke gudang, “HYEON-AHHHH!!!” namun kakinya berhenti ketika ia tak bisa melihat apa-apa di dalam sana.

Gelap.

BAM!

“Wah, wah, Choi Younghyeon, berapa banyak orang sih yang ada di sekitarmu? Sepertinya kita mendapat tamu tak diundang,” Krystal bergidik ketika mendengar suara berat dan menyeramkan itu dari belakangnya, dan ia baru melihat cahaya remang-remang menerangi gudang gelap itu. Pandangannya langsung jatuh pada sosok yang terikat di atas kursi, mulutnya tertutup sapu tangan, dan airmata mengalir deras dari kedua belah matanya.

“Younghyeon!!” Krystal hendak menghambur Younghyeon, namun kedua lengannya ternyata sudah ditarik dua orang pria. “Lepas! Apa yang akan kalian lakukan padanya?!” Pekik Krystal histeris sambil terus berusaha melepaskan diri.

“Tenang, nona. Younghyeon aman disini. Kau yang seharusnya tidak di sini,” pria itu berbicara pelan tepat di telinga Krystal, membuat Younghyeon menjerit dan menghentakkan dirinya di kursinya terus menerus.

Aku seharusnya tidak di sini? “DIA PUTRIKU BANGSAT! APA YANG AKAN KAU LAKUKAN PADANYA?!?!” pekik Krystal penuh dengan amarah, membuat cengkeraman di lengannya semakin erat. Tapi Younghyeon yang terikat di kursinya membeku dan menatap Krystal dengan mata membelalak.

Pria itu tertawa mengejek, lalu menarik Krystal mendekat padanya. “Jwonsonghamnida, aggashi, jangan mengaku-ngaku dan sok pahlawan ingin menyelamatkan gadis cilik ini. Saya tahu dia hanya punya ayah, dan akan segera menikah dengan keponakanku. Sayangnya gadis cilik ini bisa melancarkan tujuanku, jadi, tidakkah sebaiknya kau tutup mulut saja?”

Krystal menarik napas, seakan baru mengerti siapa pria di depannya ini. “Oho, keponakanmu Bae Suzy? Yang kau suruh mendekati Minho dan menghancurkan mereka semua? Tapi sayang sekali, mungkin rencanamu tak akan semulus itu,” Younghyeon menjerit lagi dan Krystal kembali sadar kalau Younghyeon masih ada di sana dan masih kesakitan. Krystal kembali memberontak. “Lepaskan aku!”

“Hei, hei, tenang nona. Kau akan menjadi penonton eksklusif di sini. Jangan banyak bergerak maka kami tak akan menyakitimu. Jadilah penonton yang baik,” Jinggoo menyuruh anak buahnya untuk membawa Krystal agak ke sudut, lalu mengeluarkan revolver dari sakunya.

“TIDAAAAK! LEPASKAN AKU BANGSAT!!” jerit Krystal frustasi ketika mata revolver itu diarahkan ke Younghyeon.

BUGH!

“Diam kau, jalang!!” Krystal tersungkur ketika perutnya dihantam benda keras, yang ternyata salah satu tangan anak buah Jinggoo.

“Sepertinya, kita harus menghubungi ayahmu dulu ya, nak?” ujar Jinggoo dengan seringai jahat sambil mengeluarkan ponsel dengan tangan yang satunya. Nada dering tersambung, ia langsung mengaktifkan speaker begitu suara berat Minho terdengar.

__

Yoboseyo?”

Kedua mata Minho masih fokus menyetir, kecepatannya tetap dan stabil ketika ia sudah masuk daerah Sinsa-dong sesuai petunjuk Suzy padanya.

“Choi Minho?” lalu Minho mendengar jeritan setelah suara pria itu. Tunggu, suaranya familier, YOUNGHYEON?!

“Siapa ini?” tanya Minho mulai panik, ketika suara jeritan itu semakin keras terdengar. Hatinya seperti diremas-remas seiring dengan keyakinannya bahwa suara itu suara Younghyeon.

“Aku wali Suzy. Bisakah kau ke sini sebentar? Putrimu… akan memberikan sebuah pertunjukan untukmu,”

Dan disusul jeritan lagi.

“JANGAN DATANG!! TELEPON POLISI!!”

BUGH!

“Diam kau jalang!!”

Itu suara… KRYSTAL?!?!

“Dimana kalian?!” tanya Minho dengan rahang mengeras, buku jarinya mengepal erat menggenggam setir mobilnya.

“Gudang kosong di samping sawah. Lebih baik kau datang dalam lima menit. Tapi kalau kau membawa polisi bersamamu,” suara itu tertawa sejenak lalu melanjutkan, “Kau tak akan melihat putrimu lagi,” klik.

Shit,” geram Minho lalu menginjak gas dalam-dalam. Dia masuk ke satu perempatan dan menemukan mobil Krystal terparkir sembarang di depan sebuah gudang. Minho langsung mengerem kuat dan loncat dari mobilnya, lalu menghambur masuk ke dalam gudang itu.

“Kalau sampai tanganmu menyentuh putriku, aku akan membunuhmu!!” teriak Krystal sambil terus memberontak dari cengkeraman anak buah Jinggoo. Mendengarnya, Minho membeku, kepalanya berputar dan melihat Krystal memandang Jinggoo penuh benci. “LEPASKAN AKU SIALAN!!”

Younghyeon menangis keras, rambutnya acak-acakan dan wajahnya basah, namun dia tak bisa mengeluarkan sepatah katapun karena mulutnya masih disumpal dengan sapu tangan. “Oho, Choi Minho, akhirnya kau datang juga. Maaf, kita sedikit ada gangguan. Hiraukan saja wanita itu, dia tak akan memengaruhi urusan kita,”

Hati Minho sakit melihat kondisi Krystal sekarang. Wajahnya kotor dengan air mata, tangannya lebam dimana-mana, dan dia yakin wanita itu juga menerima beberapa pukulan di tubuhnya yang lain. Namun ia memalingkan wajah dari wanita itu, dan menatap Jinggoo dingin. Tangannya mulai bergerak meraih pistol yang sempat dipersiapkannya tadi. “Apa yang kau inginkan? Lepaskan putriku,”

Jinggoo langsung tertawa smabil memegangi perutnya. Younghyeon terus menjerit dan memberontak, tapi tak ada yang berani bergerak ketika mata revolver maish terarah padanya. “Yang kuinginkan? Wah wah. Jadi tidak membuang waktu, ya. Yang kuinginkan,” Jinggoo menatap langtai lalu berganti menatap Minho perlahan, “Adalah kehancuranmu, Choi. Pertama adalah putrimu, dan ketika kau melihat putrimu mati dihadapanmu, aku juga akan membunuhmu,”

Darah Minho mulai mendidih, dia siap menerjang ketika seorang anak buah Jinggo malah menahannya. Krystal menghembuskan napas ketika tangan kanannya terbebas, tapi sedikit syok ketika pria itu gantian menahan Minho. “SIALAN KAU! LEPASKAN!!” teriak Minho ketika anak buah Jinggo mencengkeram lengannya dan mendorongnya ke dinding.

Younghyeon menjerit lagi, terlebih ketika Krystal berhasil melepaskan cengkeraman di tangannya dan berlari ke arah Yeounghyeon, berusaha membuta ikat tali yang membelit tubuh gadis cilik itu.

DUAR!

__

“Suzy, kuharap kau berpikir jernih, kau…”

Suzy menyunggingkan senyum miring namun memiliki arti yang kosong. Kedua tangannya lurus menggenggam revolver dengan mantap, mengarahkan moncongnya ke arah Nyonya Choi dengan jari yang membeku. “Aku sudah berjanji padanya, Nyonya. Aku sudah berjanji pada Soojung,”

“SOOJUNG SUDAH MATI! JANGAN MENGADA-ADA!” pekik Nyonya Choi, ikut membeku dengan todongan revolver padanya.

BRAK!

“Suzy—HENTIKAN!” suara berat itu membuat Suzy menoleh, mendapati tatapan panik dan sarat keterkejutan dari bola mata Soohyun yang beru masuk ke ruangan itu. Soohyun melangkah mendekat, namun Suzy malah mengganti todongan revolvernya.

“Berhenti, Kim Soohyun-ssi. Aku belum selesai,” ia menatap Nyonya Choi lagi dan mengarahkan revolvernya lagi. “Soojung akan sudah mati jika kau memang memastikan kalau panti asuhan yang kau bakar itu tidak menyisakan korban yang selamat,” ia menghela napas, mencari kata-kata lagi. “Soohyun-ssi, mungkin kau harus tahu ini. Krystal adalah Soojung. Kau mengerti kenapa aku tidak protes ketika melihat mereka jalan bersama? Karena itulah yang seharusnya terjadi. Aku tak bisa mengingkari fakta,”

“Suzy, kau benar-benar sudah gila. Soohyun-ah, panggil ambulans!” pekik Nyonya Choi, mengumpulkan keberanian untuk beranjak dari tempatnya berdiri.

DOR!

Nyonya Choi berjengit ketika Suzy menembak ke arah kakinya. “Aku tidak gila, Nyonya. Aku bisa mengumpulkan data forensik dan bukti ilmiah kalau Krystal adalah Soojung,”

“TIDAK, aku sudah bilang itu TIDAK MUNGKIN,”

“Suzy-ah, kita bisa bicarakan ini baik-baik,” tegur Soohyun hati-hati, berharap Suzy mau menatapnya dan menurunkan tangannya. “Turunkan dulu revolver itu dan kita semua bisa duduk membincangkannya,”

Namun kata-kata Soohyun dibalas dengan tawa kosong Suzy. “Hahaha. Membincangkannya? Kau pikir penyebab semua ini karena dia membincangkannya? Tidak. Dia memulai ini dengan pertumpahan darah, jadi aku akan mengakhirinya juga dengan pertumpahan darah,”

“Jadi ini tujuanmu mendekati Minho? Membunuh kami semua?!” pekik Nyonya Choi tertahan, emosinya hampir meledak.

“Awalnya, iya, semua. Sekarang? Kematianmu sudah cukup. Selamat tinggal, Nyonya,”

Brak!

“Tiffany?—APA?! TIDAK!!” Suzy menarik pelatuknya dengan fokus, tak menyadari kalau Tuan Choi juga memasuki ruangan itu dan sangat terkejut melihat istrinya akan ditembak mati. Ia melangkah lebar-lebar memeluk istrinya, lalu merasakan sebutir peluru masuk ke rongga tubuhnya.

DOR!

DOR!

“TIDAAAAAAAAAAAKKK!!” jerit Nyonya Choi ketika mendapati tubuh suaminya yang memeluknya semakin lemah setelah menerima tiga tembakan. Tubuh Tuan Choi jatuh ke lantai, kaku dengan mata tertutup dan Nyonya Choi yang merangkulnya erat. “Siwon-ah, buka matamu!!”

Jari Suzy membeku, matanya membelalak syok dengan hasil perbuatannya. Mulutnya tak bisa berkata, revolver yang ia genggam terjatuh bebas ke lantai, matanya terpaku dengan sosok Tuan Choi yang diambang kematian dihadapannya.

Kepala Tuan Choi bergerak, menatap istrinya dengan sorot memohon. “Kumohon, restui Soojung dan Minho. Mereka… uhuk, saling mencintai,” dan sesudahnya, mata Tuan Choi tertutup untuk selamanya.

Mata Nyonya Choi membeliak nyalang, ia menatap Suzy penuh dengki. “KAU! KAU HARUS MEMBAYAR INI SEMUA!! PANGGILKAN POLISI!!”

To Be Continued in LAST TRAGEDY B/B

A/N : Pertama, maaf dengan keterlambatannya. Saya sedang AMAT SANGAT SIBUK (well, ada banyak kegiatan osis dan tugas sekolah) jadi tolong, harap sabar menunggu.

Karena setelah dipikir-pikir endingnya akan sangat amat panjang, part ini makanya saya split jadi dua. Maaf ya kalau terkesan jadi manjangin cerita.

Terimakasih atas perhatiannya, partisipasi dan review sangat ditunggu ^^

©2011 SF3SI, reenepott

signaturesf3si

Officially written by reenepott, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “The Cruel Marriage – LAST PART A/B

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s