Eutanasia

Eutanasia

Author              : Faciikan

Main Cast        : Onew and Minho

Support Cast     : -none-

Length             : oneshot

Genre              : angst, bromance

Rating             : PG-13

Summary          : Dasar kau pria beruntung, Lee Onew

A.N                  : fault in our stars + Lana Del Rey on repeat + originally sappy me

 

eu·ta·na·sia /éutanasia/ n tindakan mengakhiri dengan sengaja kehidupan makhluk (orang ataupun hewan piaraan) yang sakit berat atau luka parah dengan kematian yang tenang dan mudah atas dasar perikemanusiaan

 

Ia menanggalkan jas hitamnya, melonggarkan dasi yang melingkar pada lehernya. Ia menatap lamat-lamat sepetak lubang pada tanah. Lubang itu berisi peti eboni. Pria itu mendecakkan lidah kemudian menggeleng. Tawa lirih keluar dari sepasang bibirnya. “Dasar kau pria beruntung, Lee Onew.”

            Sekali lagi ia tersenyum. “Selamat jalan, Onew. Semoga kau tidak lagi kesakitan.”


Jam empat sore bukanlah waktu yang normal untuk melatih daya tahan otot dengan lari-lari sepanjang tangga bangunan lima lantai dengan langkah dua-dua. Tapi nyatanya pria jangkung itu sedang melakukannya; lari-lari di tangga, bukan melatih daya tahan otot. Peluh mengalir deras ke dahinya, membuat rambutnya menempel pada bagian tersebut, paras rupawannya memerah.

            Tidak, ia tidak sedang dikejar mafia.

            Sesampainya ia di anak tangga terakhir, ia membungkuk untuk menyetabilkan nafasnya yang tersengal. Setelah ia mendapat ritme nafasnya yang biasa, ia membuka pintu yang menuju ke atap bangunan itu. Matanya meneliti atap gedung tersebut. Nampaknya hasilnya nihil, karena yang ia lihat hanya atap tersebut serta pemandangan kota.

            Kemudian ia mulai berjalan santai mengelilingi atap tersebut. Ia mendecakkan lidah dan menggeleng saat ia menemukan apa yang ia cari sedari dua puluh menit lalu. Sedang duduk bersila dengan buku di pangkuan, earphone tertanam di telinga, punggung bersandar pada sebuah atap kaca,  dan IV-line di punggung tangannya.

            Si pria jangkung duduk dengan tenang di sebelah pria yang membaca, alih-alih menyapa, ia justru memejamkan matanya, menikmati cahaya mentari sore yang hangat-hangat kuku di wajahnya.

            Rasanya ia baru memejamkan mata lima menit yang lalu ketika ia mendengar namanya dipanggil dan merasakan tubuhnya diguncang. Ketika ia membuka matanya, ia melihat wajah tirus itu sedang tersenyum padanya, dengan ekspresi jengkel yang dibuat-buat.

            “Minho ayolah!!”

            Ia pun memberi si pria lain sebuah senyuman lebar tiga jari. Ia pun menegakkan badannya dan berhadapan dengan pria itu. “Hey Onew.”

            Lelaki yang dipanggil Onew itu hanya mendengus, kemudian duduk bersandar kembali pada atap kaca tersebut. Ia bergumam. “Bagaimana bisa kau menemukanku.”

            Minho tertawa. “Kalau aku tidak tahu, mana mungkin aku sahabatmu?”

            “Ha-ha-ha. Memang kau sahabatku?” Onew memberi komentar retoris.

            Si pria jangkung hanya diam, tidak berniat membalas. “Awalnya kukira kau kabur lagi. Apa Dr. Miller tahu kau di sini?”

            Onew hanya mengendikkan bahu. “Kupikir Dr. Miller tahu, ia sudah tahu kalau tempat ini adalah pelarianku.” Jawab Onew. “Kabur lagi untuk apa, kalau hasilnya juga diseret dengan brutal kembali ke sini.” Kemudian ia tertawa, renyah dan merdu.

            Tawa itu mengingatkan Minho akan masa lampau ketika Onew masih menjadi tutor sebayanya semasa SMP dan kakak  kelas paling murah senyum semasa SMA. Tapi tentu saja, tawa itu tidak sama setelah Minho di perguruan tinggi, tawa itu menjadi sekedar faset atau bukan tawa yang tulus. Minho hanya menimpali dengan senyum simpul.

            Melihat Minho yang diam dan tidak melanjutkan percakapan, Onew pun memulai topik baru. “Bagaimana wawancara magangmu?”

            Si pria jangkung hanya menghembuskan nafas, seketika lesu.

            “Tidak mungkin seburuk itu.” Onew menyikut lengan Minho. Tapi yang diajak bicara hanya membisu, sekarang wajahnya ditutupi oleh kedua telapak tangannya.

            Onew menepuk pelan punggung adik kelasnya itu. “Masih banyak kesempatan lagi ‘kan?”

            Minho menghadap Onew yang tersenyum menenangkan. Lalu ia menggeleng. “Yah, aku sudah melakukan yang terbaik, tapi tidak tahu apakah mereka akan menerimaku atau tidak. Mungkin aku terlalu kaku, maksudku, kau selalu tahu aku tidak pandai bicara di depan orang asing.”

            “Yah, mungkin saja begitu.”

            Minho memberi pria satunya pandangan sinis. “Bukannya kau seharusnya memberi aku semacam penyemangat?”

            Onew mendengus. “Untuk apa? Aku tidak akan memberimu perkataan sampah optimisme, Choi. Lagi pula aku tahu kau, Si Lelaki Seribu Cara.”

            “Ya, tentu saja.” Minho cemberut. “Si Lelaki Seribu Cara. Hey, omong-omong seribu cara, mereka menemukan paru-paru untukmu.”

            Wajah Onew berubah masam. Pria itu bergumam. “Mereka hanya akan membuang sia-sia sepasang paru-paru sehat jika mereka memasukkannya ke tubuhku.” Kemudian ia membuang muka, menatap jauh ke arah mentari.

            Si pria jangkung menatap nanar kawannya.

            Kadang ia bertanya pada dirinya sendiri kemana Onew yang penuh dengan keceriaan dan harapan. Kawannya dulu adalah orang paling murah senyum yang pernah ia temui—sebenarnya sampai sekarang masih murah senyum, entah senyum betulan atau tidak. Sekarang kebanyakan waktu, pria itu  hanya orang yang masam rupanya dan pahit hatinya.

            “Yah, terserah mereka mau memasukkan paru-paru itu atau tidak, sekarang aku sudah tidak peduli.” Katanya Onew memecah hening.

            Minho menoleh dan bertemu dengan bagian samping wajah Onew. Pipinya yang dulu penuh dan merona sekarang tirus dan pucat. Lemak bayi yang dulu tertimbun di sana direnggut oleh serangkaian senyawa kimia yang membuatnya justru tambah sakit. Onew yang imut dan disukai para gadis SMA kini hilang direnggut seonggok sel yang menggerogotinya.

            “Kau pernah membayangkan pisau, gunting, jarum, dan benang masuk ke dalam tubuhmu, Min?”

            Ia menggeleng, entah Onew tahu atau tidak.

            “Aku pernah dan aku juga pernah mengalaminya. Bagian saat pisau itu masuk tidak pernah ada di benakku, kau tahu, karena anastesi. Tapi setelahnya, perih luar biasa.” Kata Onew. “Dan aku telah mengalaminya belasan kali. Sudah berapa sayatan yang Dr. Miller dan kawan-kawannya buat di tubuhku? Menghitung dengan jari pun rasanya aku tidak sanggup.”

            Ia menghela nafas dengan pelan. Onew bukan tipe orang yang terbuka, secara blak-blakan memberi 101 fakta pada orang lain. Jadi, Minho memutuskan untuk mendengarkan, menjadi teman yang baik, menjadi confidante.

            Pria itu melanjutkan. “Belasan operasi, ribuan pil, ratusan liter infus. Mendengarnya saja sudah melelahkan.”

            “Kau tahu, aku sudah lelah luar biasa pada hal ini. Bagimu rutinitas membosankan adalah pergi ke kampus dan mengikuti kelas. Bagiku rutinitas membosankan adalah menelan belasan obat sebesar jempol tiap harinya bersama janji-janji palsu akan sembuh entah kapan.”

            Tiba-tiba saja Onew tertawa. “Tadi saat aku mengikuti terapi kelompok, mereka memutar sebuah film. Aku lupa judulnya, yang jelas anak-anak perempuan yang ikut menontonnya menangis tersedu-sedu. Ceritanya tentang sepasang kekasih yang sama-sama punya kanker. Akhirnya si pria meninggal.”

            Minho bergidik. Tidak ia bukan seorang gadis remaja yang sangat sensitif terhadap akhir kisah yang sedih. Hanya saja ia tidak menyukai roman picisan.

            “Kalau mati sebegitu mudahnya, aku juga mau.” Kata Onew tiba-tiba.

            Minho menatap pria di sebelanya nanar. “Hey…”

Minho tidak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Ia tidak pernah merasakan jarum sebesar kelingking orang dewasa menusuk punggungnya. Ia tidak pernah merasakan menelan obat sebesar jempol setiap hari. Sakit paling parah yang pernah ia rasakan hanyalah apendisitis; itu pun ibarat seujung kuku kelingking terhadap Samudra Atlantik dibanding apa yang Onew rasakan setiap hari. Minho tahu bahwa setiap hari bagi Onew adalah sebuah peperangan yang tiada habisnya dan ia tahu bahwa peperangan itu menghabiskan segala tenaga yang dimilika karibnya itu. Tapi ia tidak pernah berpikir Onew memiliki pikiran untuk mengakhiri hidupnya.

“Kalau kau berpikiran aku masih memiliki harapan untuk hidup normal, aku hanya bisa menyimpulkan kau orang yang sungguh naif.” Kata Onew sembari tersenyum.

Pria itu menatap kejauhan. “Pertama kali dokter mendiagnosaku dengan kanker saat umurku empat belas. Nama kanker itu keren sekali, Ewing’s Sarcoma di siku tangan kananku. Perihal mudah, kemo selama empat bulan, botak, muntah-muntah, dan pucat. Lalu menghilang. Tak tahunya aku memiliki gen kanker, alias aku adalah evolusi yang gagal.”

“Sekarang aku punya banyak macam kanker, ibaratnya aku adalah sebuah plasma nutfah kanker. Ah, keren sekali, memiliki kanker itu. Ada para Jin yang akan mengabulkan permintaanmu, seaneh apapun itu. Dan semakin kompleks penyakit yang kau punya semakin banyaklah kontribusimu terhadap riset biomedis.”

Minho menatap Onew nanar. Matanya yang bulat melotot enggan percaya.

“Bukan berarti aku ingin semua orang punya kanker. Itu akan membuat keunikannya hilang.” Tambah Onew, kemudian ia tertawa lepas.

Minho tidak membalas apa-apa, ia mencoba untuk memahami Onew yang sudah hilang asa.

“Kalau saja ibuku mau mendengarku mengoceh seperti yang engkau lakukan sekarang, aku ingin dia tahu kalau aku sudah lelah bukan kepalang. Lelah menjadi seonggok daging tak berguna yang hanya bisa menghabiskan stok infus. Lelah untuk menjadi pribadi terisolir nan kesepian di ruangan dua puluh meter persegi. Ketika aku sudah hilang harapan, sudah merasa saatnya sudah tiba, mereka selalu mencari cara yang baru yang lebih menyakitkan.”

Onew bukan orang yang mudah sedih. Saat ia masih sehat, ia adalah pribadi ceria dan pintar dan ceroboh dan bijaksana. Ketika ia mulai sakit ia adalah pribadi yang teguh dan sarkastik dan cerdik. Onew yang berada dihadapan Minho bukanlah Onew yang biasa. Ini adalah Onew yang terpuruk, yang tidak bisa ditolong oleh siapapun lagi.

“Aku pernah kabur. Itu bukanlah sebuah pembangkangan. Itu sebuah pernyataan. Aku kabur dari rumah sakit karena aku sudah menyerah pada hidupku. Sayangnya ibuku hanya menangkapnya sebagai aku takut jarum suntik.” Onew tertawa kecil. Kemudian ia memegang kepalanya yang plontos. “Ibuku menyeretku kembali ke tempat terkutuk ini dengan brutal dan mengisolirku. Kenapa tidak sekalian saja mengukungku dengan strait jacket, atau menaruhku dalam kondisi koma sekalian. Berliter-liter darah dari donor terbuang percuma, paru-paru sehat terbuang percuma. Tidak ada gunanya mengembalikanku ke keadaan semula.”

Lalu ia berkata dengan lirih. “Siapa yang bakal tahu kalau aku akan hidup esok hari? Bisa saja aku mati malam ini karena pendarahan otak. Atau paru-paruku digenangi air. Atau liver dan ginjalku berhenti bekerja?” Kemudian ia terkekeh.

Minho merasa cukup. Dadanya sesak seakan terisi segalon air. Dengan pelan ia merengkuh tubuh Onew. Dibandingkan dengan tubuhnya yang tinggi semampai, atletis, dan kekar, tubuh Onew hanya seperti tulang dan kulit. Tapi ia tetap memeluk kakak kelasnya itu. Ia memeluk seerat mungkin. Hatinya membuncah dengan perasaan ingin melindungi Onew yang ringkih.

            Ia tidak sadar, tetapi air mata mulai membasuh pipinya dan nafasnya mulai tersendat.

Dude please… Kau hampir dua puluh tiga tahun, atlet basket pula.” Onew menepuk punggung Minho.

Minho bisa merasakan senyum Onew pada bahunya. Tidak tahan untuk terus-terusan berharu ria, Minho melepaskan pelukannya dari Onew. “Dude, you’re killing the vibe.”

Kemudian mereka berdua terkekeh bersama. Minho bersumpah ia tidak pernah melihat Onew tertawa lepas begitu tulus seperti saat itu. Ia merasakan kehangatan seketika harapannya membuncah, ia berharap Onew bisa sembuh.

“Tapi sungguhan, aku akan memastikan kau mendapatkan paru-paru itu. Pokoknya aku tidak akan membiarkanmu berseliweran tanpa paru-paru baru.” Kata Minho. Tangan kanannya ia letakkan menyilang di dada, layaknya orang bersumpah.

Onew meninju kecil lengan Minho. “Aku tidak akan kemana-mana. Lagi pula, siapa yang pernah berhasil kabur dari pengawasanmu?”


Penolakan Kronis pada awalnya adalah istilah yang digunakan untuk kondisi di mana organ transplan kehilangan fungsinya karena fibrosis pada pembuluh darah organ; sekarang istilah itu diganti dengan vaskulopati alograf kronis. Minho tidak pernah tahu istilah itu sampai ia terpaksa harus tahu, tiga tahun setelah transplantasi paru-paru Onew.

Minho tidak paham akan kejadian itu. Awalanya transplantasi Onew berjalan amat baik, hampir seperti mukjizat. Ia berpikir itu seperti campuran antara kecanggihan teknologi kesehatan dan kekuatan doa dari orang-orang yang mendoakan Onew. Kakak kelasnya hampir saja kembali seperti semula, setelah semua macam kankernya ternyata bisa disembuhkan. Kecuali betis kirinya yang harus diamputasi lantaran sarkoma dan diganti dengan kaki prostetik canggih, Onew hampir siap kembali ke masyarakat.

Minho mengendap-endap memasuki rungan Onew siang itu. Susah payah ia merayu Dr. Miller untuk mempersilahkannya masuk, hanya untuk menemukan Onew sedang tidur.

Atau yang ia kira.

Onew tidak tidur. Ia membuka mata pelan, mengeluarkan suara dengusan kecil ketika melihat senyum lebar Minho. Rasanya ia menghapusnya dengan penghapus papan kapur kotor.

“Hey, bagaimana kabarmu?”

Minho tahu bahwa itu adalah pertanyaan tanpa jawaban. Maka jawaban Onew adalah tawa renyah yang dibuat-buat. “Selain sakit di sekujur tubuhku, aku baik-baik saja.”

Minho tersenyum kecil. Ia menarik kursi dan menyeretnya ke sebelah ranjang Onew. Melihatnya sedikit miris. Onew terlihat seperti terlilit oleh kabel dan selang bak pohon yang terlilit tanaman rambat. Tidak ada bedanya antara memakai strait jacket dan posisi Onew sekarang.

“Aku menguping pembicaraan tim dokter dengan ibumu tadi.” Kata Minho pelan.

Jidat Onew mengerut. “Lalu?”

Minho berpikir untung mengurungkan niatnya. Harusnya hal ini dirahasiakan dari Onew. Kenapa pula hatinya itu justru mengkhianatinya dan malah ingin memberi tahu Onew? Tapi ia memilih untuk mengkhianati pikiran logis dan memutuskan untuk membeberkan hal tersebut pada Onew.

Minho menarik nafas panjang. “Ada dua kabar, baik dan buruk. Kau pilih yang mana dulu.”

“Buruk.”

Minho mengendikkan bahu. “Stanford melaporkan ada donor paru-paru yang mungkin cocok denganmu dan kau harus menghirup cyclosporine sampai mereka memutuskan langkah selanjutnya.”

Air muka Onew otomatis cemberut. “Aku—,”

“Kabar baiknya,” Sela Minho sebelum Onew melempar tantrumnya. “Dr. Heath berkata bahwa opsi terbaiknya adalah merelakanmu.”

Merekah ruah senyum Onew seperti bunga pada musim semi. Pipinya merona dan matanya membulat. Wajahnya berseri bagai seorang orang suci dengan kebahagiaan tak terperi. Opsi terbaik yang ditawarkan tim dokter adalah merelakannya pergi.

Banyak orang yang pastinya hendak menanyakan respons Onew yang terbalik ini. Tapi mereka tidak paham akan kenyataan tahun-tahun menyakitkan yang telah dialami Onew karena kemoterapi dan operasi. Bedanya, Minho mengerti akan alasan Onew. Maka ia tidak melakukan apapun kecuali mengangguk takjim.

Si pasien menatap kosong ke langit-langit putih. “Yah, semoga saja ibuku memilih opsi terbaik tersebut.”


Pagi itu adalah sebuah selebrasi.

Bunga-bunga merekah, burung-burung bernyanyi dan semua hal pada pagi itu terasa indah. Pagi yang cerah, sinar mentari yang hangat diwajah. Minho menyimpulkan bahwa pagi itu adalah sebuah selebrasi alam untuk menyambut Onew yang kembali ke tanah.

Pada pagi itu, Minho mengenakan setelannya yang paling necis. Termasuk sepasang cufflink mahal yang tidak pernah ia pakai seumur hidupnya.

Ia merasa aneh. Ia baru saja kehilangan senior, kawan, sahabat, dan tempat curhat terbaik sedunia tapi yang ia rasa justru bahagia. Ia tidak merasa sedih, tidak merasa melankolis.

Onew tidak meninggal dengan kematian yang disengaja dan tenang. Justru ia meninggal dalam kesakitan karena Sindrom Bronkiotis Obliterans dan peradangan pada fibroblast yang menggagalkan seluruh sistem pernafasannya. Kakak seniornya itu mati karena paru-paru anyarnya—yang seharusnya menyelamatkannya—justru balik kanan berkhianat dan mogok untuk berfungsi.

Dari sekian banyak buku yang pernah ia baca, jarang sekali Minho menemukan kematian diapresiasi. Kemanusiaan jarang menggambarkan kematian sebagai sesuatu yang indah. Tapi kematian Onew, adalah hal yang sakral dan amat sangat menakjubkan, karena Onew menerima kematian, menyambutnya, bahkan mendambanya.

Setelah prosesi pemakaman selesai, Minho memutuskan untuk tinggal setelah semua orang telah beranjak dari pemakaman.

Ia menanggalkan jas hitamnya, melonggarkan dasi yang melingkar pada lehernya. Ia menatap lamat-lamat sepetak lubang pada tanah. Lubang itu berisi peti eboni. Pria itu mendecakkan lidah kemudian menggeleng. Tawa lirih keluar dari sepasang bibirnya. “Dasar kau pria beruntung, Lee Onew.”

            Sekali lagi ia tersenyum. “Selamat jalan, Onew. Semoga kau tidak lagi kesakitan.”

 

@2013 SF3SI, Faciikan

sign-faciikan

Officially written by faciikan, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

51 thoughts on “Eutanasia

  1. Ah sial sial sial sial sial siaaaaaaaaaaallll

    Aku nangis. Makasih. Aduh aku nggak tau harus senang atau kesal. Serius.

    Aku senang, ini bener-bener another great story yang aku temuin disini. And thanks for reminding me; aku belum sempat-sempat berkunjung (lagi) makam almarhum teman sebangkuku. What a good friend i am.

  2. Menampilkan sisi lain dr sbuah kematian (?) *gaje*
    kemanusiaan jarang menggambarkan kematian sebagai sesuatu yang indah.
    Thats true.
    Ahh entahlah mau komen apa,, mngkin mengharu biru (?) sebutan yg cocok utk ff ini. Onew minho. Pmilihan perannya cocok, mreka pantas dgn peran masing2

  3. Menampilkan sisi lain dr sbuah kematian (?) *gaje*
    kemanusiaan jarang menggambarkan kematian sebagai sesuatu yang indah.
    Thats true.
    Ahh entahlah mau komen apa,, mngkin mengharu biru (?) sebutan yg cocok utk ff ini. Onew minho. Pmilihan perannya cocok, mreka pantas dgn peran masing2. Diksi yg brsyarat. Dan typo yg sma skali g aku temuin. Keep applause for this story🙂

  4. Kereeen! Fiction yg pake bahasan medis kaya gini emang paling top deh~
    All of the words were well-synchronized, and so does the plot, diction, and how the story flows. It’s touching, really :”)
    Keep writing! =))

  5. selalu ada dua sisi pro dan kontra terhadap medis, salah satunya ya eutanasia ini. I mean Onew suffer so much, so let him go is logic option, but in the other hand, it seem so wrong to do it because there is survival chance. karakter Minho yang fisiknya lebih kuat ternyata emosional kalau berada di dekat Onew.
    btw, faciikan (?, manggilnya apa ya?) istilah yang dipake kedokteran banget? basic medis emang?

    1. I really like the idea of skeptical!Onew, it’s intriguing. and Onho, lots and lots of Onho :*
      nope, aku nggak basis medis, cuma kebanyakan nongkrong di wikipedia
      thank you so much for reading hun :*

  6. Selamat menempuh hidup baru onew :”)
    Gilaaaa… keren bgd nih ff. Aku hampir menitikan air mata. Pd kenyataannya kehidupan tdk seindah film film roman picisan. Itu hanyalah fiktif belaka. Cerita yg diperuntukan untuk orang2 yg putus asa. Di cerita ini onew kaya putus asa tp sebenernya gak jg. Dia realistis dan siap nerima kematiannya. Daaann.. aku suka karakter mereka. Brothershipnya dapet. Oh iya author keren bgd tau istilah2 medis kaya gitu. Author searching kah apa emang udh tau? *kepo mode on.
    Pokoknya thumbs up bwt author. Good job, nice story (y)

  7. Huwaaaaaaa seddiiiihhhhhh😥
    Sumpeh ini ff bagus banget dahhh….
    Top banget. …..
    Feelnya dapet banget..nd itu jadinyaoneww tuh meninggal gara” dibuat meninggal atauemgg saatnya tiba??
    Kok aku rasa gak ngerti yya???

  8. Well… I’m crying… Oh damn so sad…
    Keren banget, emosi nya nyampe ke hati (?) apalagi bahasa medis nya full gitu berasa author nya jg dokter…
    But… Please… Oh I don’t like sad ending…
    Love love yah buat author. Klu bisa next story panjangin dikit yah?

  9. You’re rock kaak!
    ish, jujuuur, istilah medisnya bertaburan dmna2. Pinter bangeet mengaitkan satu penyakit ke penyakit lain. Dan luas pengetahuannya bikin ngiriii.. +o+

    Boleh aku bilang kalau aku lagi lapar ff yg berbau medis gini? Hihihi…bikin lagi kaaaak…😀

  10. aaaaaaa!!…keren sumpah ne ff…

    duo onho yang ah-speechless…
    udah jarang bc ff disini..tau2 ada ff yg SEBEGINI WOW!..

    saat onew curhat bikin nangis T.T
    istilah2 medisnya aku angkat tangan hehe

  11. Ini apa ?

    Cantik.
    Tertulis dengan indah.
    Anggun.

    Aku tidak menangis, tidak meski ini sakit.

    Aku tersenyum.
    Karena semua yang tercetak menunjukkan keindahannya.

    Cerita, alur, dan bahasa.
    Beautifully writen❤

  12. Dan aku suka cara author menggambarkan kondisi disetiap part,ya ampun…. seberapa besar berusaha seneng tetep aja I feel sad huhu
    Ya gimanaaaa si onew cerita kaya yang ga ada beban -_- .btw haloooo,kayaknya baru pertama ketemu ya.
    Halo facikaaaaan,salam lima jari🙂

  13. omg ini….aduh ya aku suka kamu angkat tema ini. jadi ngingetin aku atau mungkin yg lain juga untuk lebih bersyukur sama kesehatan yg dikasih sama Allah.
    makasih ya facii :’D
    btw ga kebayang deh kalo onew penyakitan dan tirusnya kaya apa. ngeliat onew tirus dikit aja udah sedih :” huhu

  14. keren…
    sampe aku sadar penderitaan orang sakit gimana
    sampe keingat saat jarum bius berada di punggung ku ah ngeri
    tapi entah kenapa aku ngerasa author merasakan penderitaan onew
    tapi keren kok
    ah gak tau ngomong apa
    good job:D

  15. Onho. Why onho. Kenapa dimana2 yg melankolis skeptis pasti onho. Like Jinki breaks his shell and there always be Minho beside him. His being soft-hearted-bitch itu kayaknya yg jadi faktor utama daya tarik onho ya. Okay, lupakan karena aku malah menjawab pertanyaanku sendiri.

    Aiya, euthanasia sama aborsi itu kayaknya sebelas dua belas ya kontroversinya. Apalagi kalo menyangkut filosofi moral yah yang ada bakal nggak kelar-kelar. But at least, orang yg disuntik mati nggak bakal merasakan penderitaan lebih lama karena sama aja kan kaya neraka dunia. Hahaha meskipun aku nganggep jinki di sini punya alasan yang cukup logis dan dia hanya jujur bukannya skeptis.

    Ah daripada nyampah nggak jelas aku udah dulu deh. Maaci atas ceritanya fafa🙂

  16. good fanfic, gimana kamu bisa tahu tentang semua bahasa kedokteran itu, tapi gomawo berkat fanficmu aku jadi bisa belajar lebih tentang ilmu kesehatan terutama jantung🙂

  17. Mewek…inget sahabat yang nyemplungin aku berenang bareng SHAWOL buat dapetin cinta nya SHINee.Bertahan sama sirosis hatinya selama 4 tahun dan tetep aja kuatin diri nonton in SHINee.
    Hhhaaahhhh….tambah mewek,Tp ucapan Minho justru nyadarin aku kl emg lebih baik mereka utk pergi.Thank you faciiikan…love you

  18. wow. jujur, idenya terbilang ‘biasa’, tapi penggunaannya katanya yg bikin jd ‘luar biasa’. kalimatnya mendetail dan….manisㅠㅠ kamu author fav aku. jjang!

  19. i just search about angst fanfiction. and i got this.
    pertama sih rada bingung ya, hehehe. gue kira minho sengaja bunuh onew gitu. ternyata……
    overall bagus nih ceritanya, mungkin karna bahasanya terlalu medis jadi rada belit hehehehe.

  20. sementara banyak orang yang bilang eutanasia itu pembunuhan disengaja, aku pikir mereka lupa sudut pandang pasien yang sudah capek hidup dalam penderitaan—well, I mean, yang mau dia hidup kan keluarganya, bukan dia.

    dan baru kali ini aku tau fanfic yang memasukkan kematian dan kebahagiaan sekaligus. Maksudku, aku bahkan nggak sedih (um, sorry but yeah) dengan kematian Onew di sini. Setidaknya dia mendapatkan apa yang dia mau.

    Soooo aku bakal nunggu fic selanjutnya dari faciikan dengan sabar🙂

    1. Iya tuh, masalahnya sama orang yang sakit keras, begitu mereka sembuh, mereka nggak bisa balik ke masyarakat seperti biasa.

      Iya yang sabar ya… Tunggu ku kembali dari perang

  21. kereeeeennn bgtttt!! feel nya bener2 berasa, karakter minho&onew bener2 pas dan walaupun banyak istilah medis, baca nya nggak capek malah enjoy bgt karena penjelasannya rinci dan mudah dimengerti. keep writing yaaa thor!^^

  22. hueeeeee onew
    keren bgt ffnyaaaaaaa
    selalu suka ff ttg persahabatan onew minho gini, dan nambah ilmu juga nih karena istilah medis yg belum pernah didenger tapi dijelasin
    keep writing thooooooor

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s