Reason

Title                       : Reason

Casts                     : Choi Minho and Lee Taeyeon

Length                  : One Shot

Genre                   : Fluff, Romance

Rating                   : PG

 


Berbeda dari pengunjung kebanyakan, Choi Minho datang dengan langkah tenang yang penuh kendali. Ia bahkan sempat membungkuk menyapa perawat jaga, yang membalasnya gelagapan karena hal itu jarang ditemui dalam unit gawat darurat. Tanpa terburu-buru ia menanyakan di mana Lee Taeyeon ditangani pada seorang intern muda, yang mengerjapkan mata karena wanita yang disebutkan namanya itu menderita dislokasi dan luka bakar yang cukup parah.

Lelaki jangkung itu, pada akhirnya, berhenti di depan tirai putih yang telah ditunjukkan. Setelah menghela napas panjang, ia memperbaiki kerah jas hitamnya dan menyibak tirai dengan perlahan, berharap derit reilnya tidak mengganggu pasien-pasien lain yang mengerang kesakitan di ranjang-ranjang sebelah.

“Brengsek, kau datang sangat terlambat!” sembur gadis yang duduk di tepi ranjang, sebelah pelipisnya ditutup kasa dan ada satu lagi di bagian kaki; pergelangan kakinya yang lain dibebat perban. Minho lagi-lagi mengatur napasnya dan menutup tirai di belakang punggungnya.

“Jadi, apa lagi yang kau lakukan sekarang?”

“Polisi keparat itu—”

“Turunkan sedikit suaramu, Lee Taeyeon,” desah Minho sambil duduk di kursi plastik yang disediakan di samping ranjang. “Kita berada di rumah sakit, bukan jalan raya.”

Lee Taeyeon mengerucutkan bibir. Rambut cokelat terang nyaris emasnya diikat tinggi ke belakang, beberapa helai jatuh ke pinggiran wajah. Seperti kebanyakan pasien yang dilarikan ke unit gawat darurat pada tengah malam, ia mengenakan jaket kulit hitam, rok sebatas paha yang seduktif, serta, anehnya, sepatu keds yang kekanakan. Tapi Minho pernah mendengar sepatu berhak tinggi hanya akan membuat terlambat menekan pedal rem, jadi sepatu keds hadiah darinya itu selalu dikenakan si gadis pada tengah malam.

“Polisi-polisi keparat itu menemukan kami! Apa itu ulahmu juga?”

“Kau lupa kita baru saja candlelight dinner di restoran Italia kesukaanmu?”

Serangan balik Minho yang kalem itu kembali membungkam Taeyeon. Dilakukan nyaris tanpa sadar, gadis itu merapatkan jaket kulitnya, menutupi atasan formal dari satin lembut yang belum sempat dilepasnya sepulang dari kencan romantis mereka.

Minho melarikan telunjuk di pinggiran wajah Taeyeon, menyingkirkan helaian rambut itu ke belakang telinga, kemudian membelai jajaran tindik gadisnya. “Kupikir aku sudah mengantarmu pulang, Tae. Kecewa sekali kau malah kembali ke jalanan.”

“Minho, kau tidak mengerti,” erang Taeyeon frustrasi. “Ini adalah malam penentuan. Tingkah Key sudah di luar batas kesabaran, aku tidak bisa membiarkannya mengambil gelarku. Dan lagi, oh, kau harus melihat—”

“Kau seharusnya bilang ada balapan malam ini. Aku akan membuat rekan-rekanku berpatroli di bagian kota lain,” potong Minho, masih mengusap-usap pipi Taeyeon.

“Aku tidak sempat! Aku lupa ini tanggal sebelas. Benar-benar tidak kepikiran dan—” mata Taeyeon menyipit menemukan alis Minho yang terangkat tinggi. Ia mendengus. “Benar, aku terlalu antusias kau mengajakku dinner untuk pertama kali setelah sekian lama. Senang?”

“Senang sekali,” kata Minho dengan senyum lebar. “Jadi, apa yang terjadi kali ini? Kau belum menjelaskan detailnya.”

“Kau sudah hafal jalan ceritanya. Aku sedang berada di jalanan ketika mobil-mobil polisi itu mendadak mengejarku. Benar-benar mendadak! Aku tidak bisa berpikir apa-apa, karena kupikir salah satu dari mereka adalah kau. Kemudian seorang nenek mendadak menyeberang jalan dan aku hilang keseimbangan.” Taeyeon mengangkat bahu. “Kelanjutannya kau tahu sendiri.”

“Tae, sejujurnya sampai sekarang aku tidak mengerti,” kata Minho seraya memperbaiki posisi duduk dan membuka kancing jasnya, “kenapa kau tetap berkeras kebut-kebutan, padahal kau tahu hanya akan berakhir seperti ini.”

Taeyeon menunduk memandangi kedua kakinya sendiri yang berayun-ayun di tepian ranjang. Keningnya mengernyit saat menatap perban di pergelangan kaki. “Kau sudah tahu alasannya.”

“Tidak, aku tidak mengerti.”

“Yang lebih penting, kau akan membawaku pulang atau membiarkanku membusuk di sini?” tanya Taeyeon sambil menjauhkan tangan Minho yang mulai menggelitiki tengkuknya.

“Mereka tidak akan membiarkanmu membusuk, percayalah. Tanyakan pada penjaga kamar mayat.”

“Astaga, kau lucu sekali.” Taeyeon memutar bola mata. “Bayar biayanya dan antar aku pulang, kumohon. Aku bosan di sini.”

“Kau tidak akan berada di sini kalau tidak sering jatuh, Tae,” kata Minho, meski tetap meletakkan kedua tangannya di tepi badan Taeyeon, lalu membantunya berdiri di atas satu kaki. Ia mengernyit saat Taeyeon mendesis kesakitan. “Kau tidak bilang kakimu terluka!” gumamnya sambil meletakkan kembali Taeyeon ke ranjang.

“Bukan karena tabrakan. Aku keluar dari mobil dan tersandung tepian trotoar,” dengus Taeyeon. “Sakit sekali. Trotoar sialan.”

“Dan apa ini,” gerutu Minho seraya mengangkat lengan jaket Taeyeon perlahan. “Kau juga mendapat luka bakar di sini dan menutupnya begitu saja? Bagaimana kalau tambah parah? Siapa yang ingin kau tipu?”

Taeyeon memberengut, membiarkan Minho menginspeksi tiap jengkal tubuhnya dari luka lecet maupun bakar yang diterimanya akibat tabrakan dengan tong sampah beberapa jam lalu.

“Kalau tahu begini, aku tidak akan memulangkanmu,” omel Minho. “Seharusnya kau diborgol di rumah dan tidak ke mana-mana sampai pagi. Apa pentingnya sih mengebut di jalan dibandingkan keselamatanmu?”

“Aku dapat uang dari sana, kok.”

“Yang segera habis untuk perawatan dirimu sendiri.” Minho menjentik dahi gadis itu. “Dan untuk mobilmu yang manja setengah mati itu.”

“Jangan menjelek-jelekkan Haneul!”

“Aku hanya bicara fakta, Tae.”

“Polisi sepertimu mana bisa mengerti,” berengut Taeyeon, lagi-lagi mengayunkan kakinya di udara. “Yang kalian lihat hanya konsekuensi dari balapan. Kau tidak akan pernah tahu sensasinya.”

“Aku memilih untuk tidak mencari tahu—kau sudah menjadi representasi yang bagus.”

“Kau harus lihat Lewis Hamilton.”

“Tae, dia pembalap F1. Kau street racer. Perbedaannya sangat besar,” desah Minho. “Aku akan mengurus administrasi. Tunggu sebentar di sini.”

Minho sudah hendak berdiri ketika Taeyeon menggumamkan sesuatu yang tidak tertangkap. Mendapati ekspresi keruh di wajah kekasihnya, ia kembali duduk dan memandangi kedua mata yang menolak membalas tatapannya tersebut.

“Kau bilang apa tadi?”

Nothing.” Tapi Taeyeon semakin merendahkan pandangan. Gadis yang tidak pintar berbohong, pikir Minho.

“Pasti tentangku,” desak Minho keras kepala dan meraih kedua tangan Taeyeon—yang segera dilepaskan karena buku-buku tangan gadis itu dipenuhi kasa dan plester. “Apa kau sedang mencoba berkata betapa menyebalkan punya pacar seperti Choi Minho?”

“Semacam itu, tapi…”

“Tapi?”

“Ya ampun, Minho!” pekik Taeyeon frustrasi. “Aku hanya heran kenapa kau tidak belum sadar juga alasanku tetap jadi pembalap sampai sekarang!”

Minho mengangkat kedua alis. “Aku memang tidak tahu—atau tidak ingat, jika kau pernah memberitahuku sebelumnya.”

“Malah kebalikannya,” balas Taeyeon. “Dulu kau yang memberitahuku.”

“Aku?”

“Kau lupa pernah bilang padaku kalau pembalap wanita itu sangat seksi?” Wajah Taeyeon mendadak merah padam. “Oh, sialan. Kenapa aku harus mengatakannya ini lagi?”

Kebingungan yang sempat meliputi Minho kembali terangkat. Lelaki itu tersenyum lebar dan, berhati-hati agar tidak menyentuh luka Taeyeon, sedikit memajukan badan untuk mengecup bibir kekasihnya.

“Hanya karena itu?” bisiknya di hadapan Taeyeon yang masih membeku. “Aku senang kau melakukannya untukku, tapi sayang sekali, sekarang kriteria seksi bagiku sudah ganti.”

Mata Taeyeon mengerjap. Minho mengeluarkan kotak dari saku jasnya dan membukanya di hadapan Taeyeon.

“Kini aku menganggap istri polisi sangat seksi.”

Taeyeon menggigit bibir, yang segera pecah menjadi senyum lebar ketika Minho menyelipkan cincin platina itu ke jari manisnya.

“Aku membencimu, Choi Minho.”

“Harusnya kau bilang ‘I do’.”

Gadis itu menguburkan wajah ke lekuk leher dan pundak Minho. “I do, idiot.”

..::END::..

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

19 thoughts on “Reason

  1. Huwaaaa….akhirnya aku bisa kasih Oxygen lagi di sini. Aku Reader lama yg baru balik lagi. Ceritanya? Ud pasti sweet kayak gulali yg muaniiiis bgt deh. Tp walaupun disini cast ceweknya taeyon, aku malah ngebayangin itu taemin wkwkwk. Habisnya aku 2min shipper tingkat akut nih hehee. Aku suka suka suka bgt deh pokoknya🙂

  2. OH MY GOODNESS, FOR GOD’s SAKE! CHOI MINHOOOO!!!!
    Why do you have to be so handsome wearing such a simple black suits, my dear ?!!!
    Well, ide ceritanya bagus. Bikin senyum-senyum sendiri, sukses besar! Apalagi tentang pasangan polisi dan street racer, duh. Sukaaa! Tapi di beberapa bagian ada penulisan yang agak kurang enak, kaya

    “Oh, sialan. Kenapa aku harus mengatakannya ini lagi?”

    Mungkin bisa ditulis tanpa ‘ini’ atau dihapus ‘nya’-nya.
    After all, bagus ko ceritanya. Idenya oke, good job!😀

  3. AIYEEEEEEEEE MINHOOOOOOOOOO ARGRGRGHHHH
    Taeng, jangan nakal napa. Eh, tapi kalo ga nakal yaaa ngga bakal dinakalin yah ekkkk😄
    Huwah, polisi punya cewe street racer. Kalo dibuat komedi kayaknya mirip kayak 22 jump street #NGEKNGOK

    Mau gimanapun, Minho tetep seksi pake apa aja. jas lab ala dokter, seragam tentara, polisi atau eksekutif muda pun ttep hot. EARRGHHHH (oke ini oot)
    Suka ceritanya. Simple but… you know how i feel. TAEEENGG~~~~😄
    like like like!! ^^

    1. ummm sebenernya ini girl!taemin sih n_n;; i have no feeling kalo buat anggota band lain, huhu. Salahkan jiwa 2min shipper yang menjerat kuat ini. Tapi kalo reene nganggap ini taeyeon yang asli gapapa sihh.

      Makasih yaaa😀 dan demi apa kalo minho jadi polisi itu pasti hot banget huhu

  4. Duuh, Minho, why you have to be such a gentle, sweet, cool and charismatic in the same time?!?! Huh, should we blame Zaky for writing you like that?

    Aaah, ini sweetness overload, Zaky. suka pake banget..

    1. salahkan minho! salahkan minho untuk jadi gentle, sweet, cool, charismatic, hot, and perfect. Aku cuma… mencoba menulis apa adanya tapi kalo dia sempurna mau gimana lagi sih;;

      Makasih yaaa😀

  5. aku udah lama gak baca ff shinee dan yang satu ini bener2 menarik hehehe

    ah aku selalu suka sama karakter minho yang jadi cowok gentle slightly brengsek tapi tampan tapi ya gimana dong hahahaha xD

    aku juga gak nyangka akhirannya bakalan secheesy ini hahaha xD

    oke, setuju dengan komentar kamu yg bilang taeyeon itu setan kecil sementara minho beruang besar yang hangat :3

    terima kasih utk fanficnya yang menghibur ini. salam kenal ya, Zaky…? aku dira, 93L🙂

    nice fic and keep writing!

    p.s: walaupun namanya Taeyeon, aku bahkan gak ngebayangin wajahnya taeyeon sampe selesai cerita baru yang ngeh gitu kalo namanya Taeyeon. hihihi sukses membuat pembaca tidak membayangkan Taeyeon snsd meskipun namanya sama🙂

  6. belum pernah terpikirkan olehku sebelumnya kalau choi fucking minho cocok jd police officer. anyway aku suka bacanyaa, ringan dan gak bikin ‘diabetes’ karena scene yg terlalu manis, hehe.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s