Memorabilia

Memorabilia

Main Cast : Kim Jonghyun| Lee Hana (OC)

Support Cast : Kim Kibum

Length : Vignette

Genre : romance, life, drama

Rating : PG-15

Riuh suara musik memenuhi ruangan yang dihuni puluhan manusia usia dewasa. Makanan yang banyak ditemani berbagai jenis minuman mulai dari yang netral sampai yang beralkohol dapat ditemui di tiap meja besar yang terletak di sisi maupun di tengah ruangan. Canda tawa, tangis haru, bahkan amarah yang bangkit mengingat waktu lalu mengisi ruangan luas yang merupakan ruangan utama sebuah bar terkemuka di kota itu. Dan salah satu pengisinya adalah seorang wanita yang memperhatikan kegilaan teman-temannya sambil duduk di depan meja bartender.

“Sendirian?” tanya seorang pria sambil melempar senyum hangat. Wanita itu menoleh lalu tersenyum lebar, “Kim Jonghyun, itu kau? Astaga, kau…kau tidak berubah!”

Pria bernama Jonghyun itu mengeluarkan senyum khasnya lalu mengambil posisi duduk di samping si wanita. Ia memesan segelas Sherry pada bartender muda yang langsung diiyakan dengan senyum pula. Dipandangnya wanita bergaun merah-hitam di sampingnya. Rambut wanita itu panjang terurai hingga menutupi punggung. Matanya masih sama, masih tajam seperti yang dulu dengan iris coklat gelap.

“Mau minum?” tawar Jonghyun.

Si wanita tersenyum sambil mengangkat gelasnya, menunjukkan bahwa ia masih punya separuh dari cairan bening yang dituangkan bartender di atas gelas berisi Kristal es. “Umur membuatmu sedikit kurang jeli, Jjong,” sindirnya.

“Hei, aku hanya bertanya. Itu formalitas,” elak Jonghyun langsung. Wanita berlipstik merah itu hanya tertawa lalu berkata, “Terima kasih, Tuan. Tapi saya sudah punya.” Dan Kim Jonghyun hanya bisa cemberut saat sadar si wanita kembali menyindirnya. Namun apalagi yang dapat ia perbuat. Masa lalu yang membentuk pribadi si wanita menjadi seperti itu.

“Jadi, bagaimana kehidupanmu sebagai dokter?” tanya si wanita. Ia membalik diri, kembali berhadapan dengan meja si bartender setelah bosan memperhatikan aksi teman-teman satu sekolah menengah atasnya dulu. Mungkin teman-temannya terlalu terbawa suasana hingga tak ingat umur.

“Kupikir tidak lebih baik dari kehidupanmu sebagai guru, Na. bisa kulihat dari pakaian mahalmu,” kali ini Jonghyun menyindir setelah menyesap pelan minumannya. Ukh, minuman itu seakan memberinya kekuatan untuk mengulang masa-masa sekolah mereka berdua. Dan benar saja, wanita bernama Lee Hana itu mencibir karenanya. Hana berkata, “Memakai bukan berarti membeli, Jjong.”

“Setidaknya kau tidak mungkin mencurinya dari toko. Good appearance, by the way.”

“Oh, ayolah Jjong. Kau mau membuat pertemuan kita penuh sindiran seperti yang lalu-lalu? Tidak ada salahnya jika kita bernostalgia mengenang masa sekolah kita dulu,” akhirnya Lee Hana mengalah. Kalimatnya mengundang senyum jenaka di wajah Jonghyun, membuat lelaki itu malah bertanya, “Apa yang ingin kita kenang?”

“Kita sekelas mulai dari Junior High sampai Senior High, Kim Jonghyun. Bukankah banyak yang perlu dikenang dari saat-saat itu?” Lee Hana menjawab. Ia menoleh, menatap Jonghyun dengan kedua mata tajamnya yang berubah sendu, “Kenyataan bahwa kau adalah cinta pertamaku misalnya.”

“Ah, aku ingat. Berkali-kali perombakan anggota kelas pun kita tetap sekelas bahkan sampai Senior High,” ujar Jonghyun sedikit canggung. Ia sudah menduga Hana akan membahas hal itu namun ia tak menduga akan secepat ini. Hana tertawa menanggapi reaksinya, lalu ia berkata, “Ayolah, Jjong. Kau tahu apa yang kupikirkan tiap kali kita sekelas?”

“Apa?”

“Mungkin kita berjodoh.”

Kim Jonghyun yang biasanya banyak bicara hanya terdiam mendengarnya. Ia kembali menyeruput isi gelasnya, sedikit berdeham kemudian. Hana tersenyum kecil melihatnya, ikut menyesap minuman lalu berkata, “Menurutku pengalamanku sebagai seorang guru, kau terlihat gugup.”

“Guru kimia tidak akan begitu mengerti reaksi orang lain. Guru bukan psikiater,” elak lelaki berjas kelabu kilat itu. Hana hanya tertawa menanggapi, “Tapi guru menguasai psikologi pendidikan, sayang. Dan sebagai orang kimia, aku sangat mengerti REAKSI.”

“Sejak kapan…”

“Hmm?”

“Sejak kapan kau menyukaiku…?”

“Kau tahu, Jjong, kita tidak pernah membicarakan hal ini sebelumnya, bahkan setelah kau tahu perasaanku padamu tujuh tahun yang lalu. Dan alasannya adalah kau tak pernah bertanya. Kenapa kali ini kau tertarik untuk tahu?”

“Hana…”

Jonghyun menyadari mata dan hidung wanita di sampingnya mulai memerah. Ada gejolak emosi yang tampak dari sana namun Jonghyun tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Bagi Lee Hana sendiri pantang menampakkan gejolak rasa yang sudah lama tertahan di dalam hatinya. Ia ingat betapa lamanya lima tahun yang ia lalui untuk dapat memberanikan diri menyampaikan rasa pada Jonghyun. Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa pria itu masih menggantungkan harapannya sampai sekarang.

Benar kata orang, reuni adalah wahana yang sering dijadikan orang sebagai media pengingat masa lalu. Dan semakin terjebak di dalamnya, semakin sulit pula meyakinkan diri bahwa waktu tak dapat ditarik kembali ke masa itu. Namun hari ini Lee Hana ingin melepas semua bebannya akan cinta pertama.

“Ayo kita bermain, Jjong,” tantang Hana, “kau ingat bagaimana aku menyatakan perasaanku padamu dulu? Aku akan mengatakan isi pesan dariku saat itu dan kau akan mengatakan balasanmu padaku. Tiap jawaban yang benar berhadiah satu pertanyaan darimu. Apapun itu aku akan menjawabnya. Deal?”

Jonghyun memandang heran wanita itu. Tadi ia tampak resah namun kini sudah bersemangat lagi. Ia tidak mengerti isi pikiran wanita, terutama yang satu itu. Namun ia tak mau kalah, ia akan menang walau ia tak yakin masih bisa membuka memorinya akan saat itu atau tidak.

Deal.”

“Baiklah, kita mulai kalau begitu. Saat itu kukirim pesan padamu, ‘Jjong, sedang apa?’ Apa jawabanmu?”

Ih, kok menggenit pula bocah ini?“ Baiklah, Jonghyun mulai malu meratapi kebodohannya dulu dalam memilih kata. Hana tersenyum lalu membalas, “Padahal ada yang ingin kukatakan padamu. Mungkin lebih baik tidak jadi saja…”

Apa?”

Kau yang membuat nilaiku turun!”

Lho, kenapa aku? Kau tidak bisa konsentrasi karena terpikat wajahku yang tampan ini?”

Di satu sisi Hana cukup terkejut. Jonghyun dapat mengingat semua isi pesan mereka dengan tepat. Padahal itu sudah tujuh tahun yang lalu! Tujuh tahun! Namun di sisi lain Kim Jonghyun sangat malu. Ingin sekali ia masuk ke lubang semut mengingat betapa ia kelewat percaya diri dulu. Namun ia harus menjaga wibawa di depan Hana. Dia tidak boleh kalah. Alhasil cairan alkohol ringan di gelasnya yang ia jadikan pelarian.

Inilah bagian yang ditunggu Hana, karena setelahnya ia membalas, “Iya. Karena aku suka padamu.”

Kalimat itu dulu membuat jantungnya berdebar gila, terpacu amat cepat hingga ia tak yakin bisa berpikir jernih. Namun kali ini berbeda, ia dapat mengendalikan diri karena debaran tak lagi muncul sekuat itu di jantungnya.

Ini siapa?”

Keduanya sontak tertawa mendengar jawaban Jonghyun. Ya, memang itu yang diketik lelaki itu pada Hana dulu. Dua kata yang penuh ketidakpercayaan menanggapi pernyataan sebelumnya. Tidak heran juga. Lee Hana adalah seorang wanita yang sejak Junior High dikenal sebagai gadis pendiam yang seriusan dan rajin belajar. Agak alergi lelaki sepertinya. Ia lebih memilih diam daripada harus bicara panjang lebar, namun mengatakan segala hal sesuai apa yang ia pikirkan. Dan Kim Jonghyun tidak pernah menyangka gadis yang bahkan tidak masuk daftar gadis-wajib-digoda miliknya itu malah menyukainya.

“Kau tahu, Jjong. Mengingat masa lalu ini amat lucu. Mungkin aku akan beringsut lalu perlahan menangis dulu, tapi ini hanya membuatku tertawa sekarang,” ujar Hana, tangannya menyeka lelehan air mata yang sempat keluar saking gelinya. Jjong tersenyum kecil sambil memainkan isi gelasnya, “Tapi semua jawabanku tadi benar kan? Penuhi janjimu.”

Hana memandangnya lalu bertanya seraya tertawa, “Sepertinya kau sangat penasaran akan sesuatu. Baiklah, kau punya empat kesempatan tapi aku takkan menjawab panjang lebar.”

“Oke, sejak kapan kau menyukaiku?”

“Sejak kelas satu Junior High dulu.”

Cukup terkejut, Jonghyun sampai lupa mengatupkan bibirnya. Maksudnya, Lee Hana yang selalu tidak bisa ditebak itu sudah sejak sangat lama menyukainya? Astaga, dia benar-benar memupuk dosa karena menggantung rasa gadis itu dulu. Dan penyesalan yang hinggap di hatinya membuat suaranya mengecil saat bertanya, “Apa yang kau sukai dariku?”

“Aku sendiri tidak tahu.”

Jonghyun cemberut, tidak seru pikirnya. Hana meliriknya sambil tersenyum simpul. Dengan isyarat tubuh ia memesan segelas minuman lagi pada bartender namun Jonghyun langsung menyodorkan gelasnya saat bertanya, “Sampai akhirnya kita berpisah saat kuliah, kau masih menyukaiku?”

“Masih.”

Terlalu singkat. Jonghyun ingin kejelasan namun Hana sudah mengatakan dengan jelas bahwa ia takkan memberi jawaban panjang. Ia ingin menanyakan hal yang lebih rinci, lebih pasti karena hanya tinggal satu kesempatan terakhir. Namun ia tidak apa lagi yang harus ia tanyakan. Semua terlalu rumit.

So, you like me or love me?” hanya itu yang mampu muncul di kepala Jonghyun saat ini. Wanita itu menatapnya dalam-dalam, rautnya seakan kecewa. Jonghyun tidak mengerti kenapa. Dengan senyum sendu Hana menjawab, “Neither of them. I loved you.”

***

Kim Jonghyun terbangun dari tidurnya. Peluh mengalir deras di kening dan pelipisnya sementara nafas dan darah di jantungnya mengalir begitu cepat. Mimpi itu… sudah dua minggu mimpi itu terus hinggap di benaknya. Ya, mimpi pertemuan terakhirnya dengan Lee Hana saat reuni Senior High School. Mungkin akan terdengar tolol jika ia mengatakan sangat ingin bertemu Hana saat ini. Terlebih saat tatapannya tertuju pada selembar kertas indah di atas nakas.

Undangan pernikahan.

Bertuliskan ‘Lee Hana and Kim Kibum’ di sisi depannya.

Kim Jonghyun menatap sendu kertas tersebut dengan gurat lelah di wajahnya. Hanya satu orang yang ia kenal dari dua nama itu. Yang satunya lagi hanya ‘Laki-laki yang berhasil mendapatkan Hana’ bagi seorang Kim Jonghyun. Namun itu berarti besar baginya. Itu berarti ia sendiri tak akan pernah menjadi ‘Laki-laki yang berhasil mendapatkan Hana’.

Lucu, sangat lucu.

Namun Jonghyun bahkan tak mampu tertawa saat ini. Yang keluar dari bibirnya hanya desah resah. Terlebih hari ini adalah hari yang tertera jelas dalam undangan tersebut. Masih dapat diingatnya ancaman Hana kalau ia tak datang. Namun ia bahkan tak yakin ancaman Hana mampu mendorongnya untuk hadir.

Bukan sesal namanya jika tak datang terlambat.

Dan Jonghyun kini sadar takkan lagi bisa mendapatkan Hana walau ia berharap. Wanita itu hanya bagian dari memorabilia yang tak terlupakan, satu sosok yang menciptakan symptom tanpa penawar bagi Kim Jonghyun.

Neither of them, I loved you.

“But I’ve just realized, I love you.

Dan ia bahkan malu menatap langit dan dinding yang menjadi saksi akan berjalannya waktu. Karena bukan sesal namanya jika mampu menang melawan alur waktu.

-Fin-

November 24th 2014

6.21 p.m.

©2011 SF3SI, Bella Jo

                                                            bella-jo-signature

Officially written by Bella Jo, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

20 thoughts on “Memorabilia

  1. Aduh ini miris banget ya. Kayak di lagu lagu aja, ditinggal mantan yang sebentar lagi bakal married sama orang lain. Eh tapi kan lee hana ini bukan mantannya Jonghyun, ya.

    Em, ceritanya simpel. Lebih ke life gitu. Aku sih sebenernya malah berharap banget kalo akhirnya jonghyun bisa sama hana akhirnya. Tapi…………kalo enggak dapet kim jonghyun, kim kibum juga asyiik hueheheheheheh.

    Makasih ceritanya🙂

    1. kalo dilihat dari sisi masa lalu hana n masa sekarang jonghyun mmg iya miris banget. tapi kalo dari sisi masa sekarang Hana, justru ini jadi happy end. lebih baik sama yg pasti daripada yg php. kekekeke….
      pengennya dapet dua2nya sih. hehehe

      makasih juga udah mampir~

    1. kalo endingnya mereka jadian malah kasihan di pihak hana^^
      suka kelamaan sama orang ga baik, nanti menggerogoti badan kayak penyakit gula. apalagi kalo ga berbalas.
      cup cup… jangan sedih~

      makasih udh mampir~

  2. written in past tense ‘I loved you’, nyeseek
    aku suka penceritaan Jonghyun-Hana yang kelihatan ringan dan simpel membahas masalah ‘suka-sukaan’ mereka
    such a slice of life

    1. wah, ada kk qL^^
      kalimat itu point utama dalam cerita ini sih…
      lagi pengen aja buat cerita yg kesannya dewasa, bukan dalam arti hubungan yg gimana gitu, tapi menghadapi segala sesuatunya dengan tenang🙂

      makasih udh mampir kaka~

  3. eaaaa ya ampun, kasian banget ini dua-duanya—atau mungkin cuma jonghyun, karena hana udah ada di pelukan orang lain. tapi bagaimanapun kalo bahas yg semacam ini akhirannya pasti nyesek ya, huhu. Nice fic😀

    1. eaaaa… ada kk zaky nih~
      dua2nya kasihan, tapi dengan cara yg beda^^
      iya, kalo bahas yg kayak gini kadang butuh tabubf oksigen biar ga nyesek banget. hehehe

      makasih udh mampir~

  4. Liat castnya kirain sequel dari his room.. taunya bukan yya~
    Ahh.. kibum cuma lewat nama.. kirain bakal apa gitu…
    Kesian ih hana.. digantungin begitu..
    Jjong juga lagi.. ditembak malah bales ‘ini siapa?’ Ya ampun…
    Tapi jjong juga kasiann.. ujung”nya gk nikah. Ya ampun…
    Sebenarnya jjong suka gk sih ama hana? Kayanya sih suka yya~
    Aduhh..

    1. wah, kalo his room mending tidak berlanjut, yg ada nanti hanya tragedi #hugKibum
      hihihi… ini gambaran cowok2 PHP zaman sekarang^^ reaksi Jjong seakan2 dia ga percaya n berasa lagi dikerjain gitu. hahaha… mungkin ga sama hana, Jjong nikah sama yg lain kali yaaa… Jjong suka ga suka ga suka ga suka sama Hana… #apaansih

      makasih udah mampir~

  5. Ini pertama kalinya baca fanfic lagi. Ceritanya bagus dengan ending yang sulit ditebak hahaha..

    Dan sepertinya kemampuan menulis author fanfic sekarang ini meningkat ya.. Jadi enak dibacanya.

    Pertahankan !
    Terimakasih untuk ceritanya.🙂

    1. wah, udah berapa abad ga baca fanfic lagi? selamat datang di dunia fanfiction kembali~

      makasih banyak^^ jadi terharu nih
      tapi masih ada banyak author yg lebih TOP disini, hanya saja kami punya gaya kami masing2🙂

      sama2~
      makasih juga udh mampir~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s