(Not) A Virtual Marriage – Part 7

navm-therealgameseries

Title : (Not) A Virtual Marriage

Author : vanflaminkey91 (@alexandriavania)

Main cast :

  • Lee Taemin SHINee
  • Son Naeun A-Pink
  • Krystal Jung f(x)
  • Kim Myungsoo Infinite

Support cast : Kim Dayeon (Doyeon), Son Sae Eun, Oh Hayoung, Park Chorong

Length : chapter

Genre : Alternate Universe, romance, marriage-life, angst, friendship

Rating : PG13

Summary: Tentang pernikahan dua public figure yang perlahan terbongkar.

Inspired by: A ballad song by SHINee ‘Selene 6.23’ and TaEun’s We Got Married.

Note: Seluruh hal yang berkaitan dengan karir para K-Idol di dalam cerita ini telah disesuaikan, ada yang fiksi dan ada yang non-fiksi. Semuanya disesuaikan menurut alur cerita. No hate here. Disarankan untuk membaca dulu side story-nya: DANGER.

WARNING: Tanpa proses editing! Maaf jika terdapat typo(es), ketidaksinkronan, dan lainnya. Sekali lagi, ini hanya fiktif! :) 

Jangan lupa untuk cek: http://innocentdorks.wordpress.com/2014/12/22/comeback-stage-spoiler-not-a-virtual-marriage/

Tentang permainan.
Tentang konspirasi.
Dan,
Pengkhianatan.

(Not) A Virtual Marriage

Ckrek. Ckrek.

“Jadi, mulai hari ini, Son Naeun telah resmi dinyatakan vakum dari kegiatannya bersama A-Pink dan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya. Cube tidak akan mengatakan alasannya secara spesifik. Ini permintaan Son Naeun sendiri, tanpa embel-embel apapun. Son Naeun akan memfokuskan diri pada pendidikan dan akan kembali satu atau dua tahun lagi. Kembali ke A-Pink atau mengadakan solo career atau ke dunia akting, kami pun belum bisa memastikan.”

Ckrek. Ckrek.

Juru bicara dari Cube Ent baru saja duduk, sinar flash itu menghujan secara cepat. Di kanan dan kiri sang juru bicara, duduklah kelima member A-Pink yang mewakili Naeun dan beberapa jajaran staf yang bertanggung jawab—termasuk manajer A-Pink sendiri.

Chorong, Bomi, Eunji, Namjoo, Hayoung masing-masing sibuk menjawab pertanyaan. Bergantian. Mencoba menjelaskan alibi—alibi untuk menutupi kenyataan, melindungi anggota keluarga A-Pink yang hilang, Son Naeun.

Berbagai pertanyaan bertubi-tubi menghujam. Suara para kuli tinta sudah mirip dengungan lalat di tengah senja. Ruangan pertemuan antara agensi dengan publik tersebut seolah berubah menjadi studio foto.

Dan hiruk pikuk itu menutup suatu fakta. Fakta yang tersembunyi di balik sebuah gurat wajah sendu di dalam ruangan yang sama.

Fakta tentang segalanya.

PAPER VII – THE REAL GAME

“Tidak terasa, yah?”

Son Naeun melirik ke arah samping. Tatapannya turun pada secangkir teh hijau hangat yang masih mengepulkan asap, yang tengah diletakkan di atas meja bundar. Wajahnya tidak menyimpan minat. Hanya wajah cantik yang mendung, tidak lagi bersinar seperti beberapa waktu lalu.

“Satu bulan sudah sejak berita vakum itu. Kau masih jadi salah satu topik hangat yang diperbincangkan di seluruh dunia, kau tahu?”

“Hanya tidak sehangat pertamanya,” tambah Naeun pelan. “Bagaimana kabarnya?” Ia menumpukan siku tangan di atas kedua pahanya.

“Taemin?” Oh Hayoung menyandarkan punggung di kursi teras milik keluarga Son. “Dia baik-baik saja, kau tak usah khawatir.”

Diam sejenak.

Diam-diam secercah lega menyisip ke dalam relung hati Naeun mendengar Taemin baik-baik saja.

“Memang kau tak pernah memantau beritanya?” Hayoung tampak tertarik. Ia tahu Naeun memang berniat menjauhi Taemin, tapi apa gadis itu benar-benar seniat itu?

Naeun hanya menggeleng karena itu memang kenyataannya. Dia menjauhkan diri dari segala hal mengenai Taemin, bahkan nomor ponsel pribadinya pun sudah diganti demi mencegah Taemin yang akan menghubungi.

“Taemin tidak pernah datang ke sini?”

“Kalau datang pun, aku pasti kabur lewat pintu belakang, jadi ia tak pernah tahu aku ada di rumah ini,” balas Naeun sambil menatap lurus ke depan.

“Bagaimana dengan anakmu? Dia membutuhkan figur ayah, Eonni,” balas Hayoung hati-hati, takut menyinggung perasaan Naeun.

Son Naeun tidak langsung menjawab. Ia menundukkan kepala, membuat eye contact dengan buah hati yang dikandungnya. Meskipun tidak terlihat, tapi ia merasa bahwa anaknya itu sedang mencoba menenangkannya dengan tatapan lembut.

“Anakku anak yang kuat, Hayoung-ah.

Kelima jemari mengelus pelan perut yang mulai membesar. Ya, membesar seiring bertambahnya ukuran tubuh yang lain. Ia sampai harus memakai baju yang lebih longgar dari biasanya agar ia dan sang anak merasa nyaman.

“Aku membayangkan ketika perutmu sudah benar-benar besar, Eonni. Bagaimana kau akan terus menyembunyikannya? Taemin oppa pasti akan tahu juga.”

Naeun mengangkat alis, “Kenapa begitu yakin, Hayoung?”

“Ia sering ke sini, kan? Kau sudah sering cerita padaku dan A-Pink. Ketika perutmu membesar dan kau harus banyak istirahat, Taemin oppa akhirnya akan menemukanmu. Ketika hari itu datang, apa yang akan kau ucapkan?”

Terenyak.

Terenyak oleh barisan pertanyaan yang terlontar dari balik mulut Hayoung, Naeun tidak bisa menjawab.

“Akan kubuatkan kau cookies madu, Hayoung. Sekalian untuk member yang lain.” Naeun berdiri dengan cepat, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.

Hayoung terdiam di teras, menatap lurus ke depan.

*

Taemin berputar beberapa kali sebelum menghentikan seluruh tubuhnya. Menghadap ke arah cermin besar di hadapannya, menggerakkan tangan kirinya ke arah kanan atas kepala, memutar hingga kembali ke posisinya diikuti gerak tubuh yang lain.

Di sudut ruangan musik mengalun dengan keras mengiringi pergerakan Taemin yang tengah sibuk mengulangi latihannya untuk solo stage-nya dengan lagu Danger. Ini sudah keberapa kalinya ia melakukan promosi solo dan semangatnya tidak stabil.

Ia sangat semangat ketika di atas panggung, tapi di saat yang sama ia merasakan hal yang ganjil dengan dirinya sendiri. Seperti ada sesuatu yang hilang di dalam dirinya dan ia tidak mengetahuinya.

Krek.

Taemin tidak menghentikan gerakannya. Tidak meskipun matanya sudah menangkap siapa yang baru saja masuk sambil membawa botol air mineral yang permukaannya terselimuti oleh embun-embun—menandakannya dingin—dari cermin.

“Krystal.”

Taemin mengucapkan nama Krystal dengan nada rendah ketika sumber lagu satu-satunya di ruangan itu baru saja dimatikan oleh sang empunya nama.

“Apa?” Wajah Krystal tampak polos ketika mengucapkan kata yang terdengar menyebalkan—setidaknya bagi Taemin—itu. Bahunya terangkat sedikit, matanya melebar. Ia merasa tidak bersalah karena baru mematikan lagu. “Kau terlalu banyak berlatih. Beristirahat saja dulu.”

Krystal mendekat, begitupun Taemin yang melangkah menghampiri wanita yang masih berstatus ‘kekasih’-nya itu. Ia menerima botol yang disodorkan oleh Krystal, lantas meneguknya sejurus kemudian.

Krystal memiringkan kepala, mata terarah lurus pada wajah Taemin yang sedang menghadap ke atas sementara air dingin yang dibawakannya tengah mengalir ke dalam kerongkongan pria itu. Tangan Krystal terlipat.

See? Kau sangat haus dan terlihat lelah. Istirahat saja barang 5 menit.”

Taemin menurunkan wajahnya, bersamaan dengan kosongnya botol air mineral itu. Ia melirik Krystal agak tak setuju, namun akhirnya mengangguk.

“Baiklah, 5 menit tak akan berpengaruh.”

Dan di sinilah mereka sekarang. Lantai teratas gedung SM Entertainment. Menatap citylight yang mulai bermunculan tamaram, berlatar langit gradasi biru keunguan, oranye tua, kuning tua, dan biru hitam. Angin di atas sini terasa kencang, menerpa seluruh tubuh Taemin yang berkeringat. Rambut pirang ala belah tengah yang dimilikinya bergoyang mengikuti arus angin.

Krystal menoleh pada Taemin dan mendapati dirinya merasakan desir hangat mengalir di dada ketika mata berhasil menelusuri wajah Taemin yang dihias oleh cahaya sunset di kejauhan.

Oppa, apa impianmu saat ini—yang ingin kau capai?”

Hening.

Krystal menurunkan tatapannya ke bawah, pelan-pelan. Gadis cantik itu menoleh kembali ke arah sunset yang semakin menyembunyikan diri.

“Aku punya impian.” Krystal diam sejenak, tidak terlalu berharap Taemin akan merespon. Sikap dingin pria itu akhir-akhir ini semakin parah. “Bahwa suatu saat nanti aku akan menikahi seorang pangeran. Mengadakan resepsi berbentuk pesta santai di atas gedung tinggi, ditemani sunset menuju malam. Hanya saja…” Krystal melirik Taemin. “…pangeran itu bukan kau.”

Taemin tertegun.

Ia tahu Krystal menyukainya. Ia bisa merasakan itu, tapi tidak merasakan cinta mengalir di setiap tatapan, sentuhan, maupun senyumnya.

Dan gadis itu belum menyadari perasaannya hanya sebatas obsesi.

Ia tidak terkejut mendengar pernyataan Krystal barusan, tapi ia tidak menyangka Krystal akan mengucapkannya segamblang itu.

“Selain itu impianku yang lain sederhana, karena menjadi bintang sudah kuraih saat ini, aku ingin yang sederhana.” Menghela napas sebagai jeda, lantas Krystal melanjutkan, “Suatu saat nanti aku, eonni, dan pasangan kami masing-masing akan bersama dengan orang tua kami dengan kebahagiaan yang berarti. Bukan kebahagiaan karena uang, popularitas, maupun harta benda, Oppa.” Senyum Krystal terkembang.

“Kau gadis yang baik.”

“Apa?” Krystal mengerjap. Senyumnya memudar sejurus berikutnya.

Ketika ia menoleh, bersamaan dengan Taemin yang juga menoleh.

Taemin menghadapkan tubuhnya ke arah Krystal, lalu tersenyum. “Semua orang punya impian. Aku sudah mendengar banyak impian dari banyak teman—termasuk yang terindah dari seseorang, beberapa tahun lalu, tapi belum pernah kudengar yang seindah impianmu sejak beberapa tahun berikutnya.”

“Siapa orang yang bermimpi indah menurutmu selain aku?”

“Kau bisa menebak siapa.”

Krystal terdiam heran, namun akhirnya mendapatkan jawaban ketika matanya bertemu dengan mata Taemin. Ia bisa melihat nama dan sosok itu di percikan mata kekasihnya.

“Naeun.” Suara Krystal terdengar parau.

“Ia berimpian bahwa suatu hari ia akan menjadi kebahagiaan bagi banyak orang. Dulu sekali aku mendengarnya. Di Gwangju, saat kami berdua belum mengenal kerasnya kehidupan.”

Krystal terdiam. Taemin bicara panjang lebar kepadanya hanya karena Naeun. Ia merasakan sesuatu baru saja menganga di hatinya, meski tidak begitu dalam.

Taemin tersenyum melihat diamnya Krystal, lantas mendekat. Menjulurkan tangannya untuk meraih dagu Krystal dan mengangkat wajah cantik itu menghadapnya.

“Kau berharga, Jung Soojung.” Mata Krystal dipenuhi tanya. “Kau cantik. Bertalenta. Baik. Luar biasa. Kau berharga dan kau pantas mendapatkan orang yang benar-benar mencintaimu, dan aku tidak bisa memberikan itu.”

Pernyataan Taemin memancing senyum pahit Krystal. Ia tidak melepaskan pandangannya dari mata Taemin, meskipun pria itu kini mendekatkan wajahnya dan menyatukan dahi mereka. Krystal tidak merasakan dadanya berdesir meskipun baru pertama kali menatap Taemin dalam jarak yang terlalu dekat seperti ini. Sebaliknya, ia merasakan amarah yang mulai membuncah, namun seolah teredam oleh mata itu.

Taemin menjauhkan wajahnya dan mengacak rambut Krystal sebelum melangkah pergi menjauhi Krystal yang terpaku di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun.

“Sebaiknya kau turun, kau bisa masuk angin. Aku harus latihan lagi.”

Baru ketika sosok dan suara Taemin benar-benar menghilang, Krystal bergerak. Menatap langit yang sudah gelap.

“Kau benar, Oppa. Kau memang tidak mencintaiku.”

*

Dorm F(x). Tidak lama setelahnya.

“Kau tampak kacau.” Victoria menurunkan majalah dari hadapan wajahnya ketika mendengar pintu dorm mereka terbuka. “Sebaiknya cepat mandi, Jung. Dua jam lagi kita berangkat ke MBC.”

Krystal mengangguk, tidak mengucapkan sepatah katapun.

Ia masuk ke dalam kamarnya dengan Sulli—kamar yang kadang tidak dihuninya ketika ia memilih tinggal di rumahnya dengan Jessica. Menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dan melirik jam dinding.

“Oh, kau Krys.”

Krystal melirik Sulli yang baru saja selesai mandi—ia bisa mengatakannya dari rambut Sulli yang basah dan kedua tangan sedang mengeringkannya dengan handuk.

“Kau benar-benar akan vakum, Sulli-ya?”

Sulli berhenti di depan cermin rias, menatap Krystal dari cermin, “Kita sudah membicarakannya, kan?”

“Tak apa, aku hanya bertanya.”

Sulli terdiam, lantas menyelesaikan sedikit urusannya dengan cermin sebelum menghampiri teman satu grupnya itu.

“Kenapa?”

“Tak apa.”

“Taemin oppa?”

“Tak perlu ditanyakan lagi.”

Sulli baru saja akan membuka mulut ketika ponsel Krystal bernyanyi dengan nyaring. Dengan malas Krystal meraih ponselnya, mengerutkan kening membaca nomor yang tak dikenalnya sedang melakukan panggilan masuk.

“Sulli-ya, kau kenal nomor ini?”

Sulli menggeleng, sehingga Krystal akhirnya menekan tombol ‘jawab’.

“Halo? Siapa ini?”

“Tidak penting siapa aku. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku mengasihanimu. Taemin oppa tidak mencintaimu dan kau bertahan untuknya. Tidakkah itu menyakitkan?

Krystal terenyak. Ia seperti mengenal suara ini, namun seperti ada sesuatu yang menyebabkan si penelepon tidak benar-benar memakai suara aslinya.

“Apa urusanmu, hah?”

“Tidak ada urusan denganmu. Aku hanya ada urusan dengan ‘kekasih’-mu dan istrinya.

Mata Krystal melebar, “Apa katamu? Kau gila? Taemin oppa—“

Alis Sulli terangkat mendengar nama Taemin diucapkan Krystal di tengah amarah yang tampak sedang menuju level tertinggi.

”Katakan siapa kau dan apa maumu?!”

Tidak perlu marah, Krystal. Kita teman. Kalau kau penasaran, kau bisa bertemu denganku di kafetaria MBC, dua jam lagi sebelum kau tampil. Ketika aku melihatmu, aku akan meneleponmu.”

Sebelum Krystal sempat menyanggah, suara itu terdengar lagi dan kali ini Krystal yakin penelepon itu menahan tawa kemenangan. “Kau harus datang karena kau akan tahu bahwa selama ini kau dibohongi oleh orang yang menganggapmu adik itu. Kasihan.”

Krystal langsung memutuskan sambungan dan melempar ponselnya ke arah bantal. Matanya menatap horor benda itu seolah benda itu yang baru saja bicara kata-kata tadi kepadanya. Sulli ingin bertanya, namun Krystal keburu bangkit menuju kamar mandi.

Ia akan menemuinya.

*

Son Naeun duduk di dekat perapian.

Perasaannya hambar.

Eonni, ada telepon.” Son Sae Eun membuyarkan segala lamunan yang berkutat di pikiran Naeun, membuat Naeun melirik kepada adiknya yang membawakan telepon wireless rumahnya.

“Siapa?”

Sae Eun tidak menjawab, langsung menyerahkan telepon itu pada Naeun sehingga mau tidak mau Naeun menerimanya.

Yoboss—

Naeunnie! Akhirnya! Kupikir kau tidak akan menjawab teleponku!”

Kening Naeun berkerut dan matanya nyaris melotot, “Oppa?! Kenapa kau—Sae Eun.” Naeun mendengus. Kesal karena ia menjawab telepon dari Taemin dan teringat akan adiknya yang tidak memberitahu siapa yang mencarinya di telepon. Jika saja ia tahu, ia tak akan menjawab. Naeun melotot kesal pada Sae Eun yang menjulurkan lidahnya dari jauh.

Ia menghela napas. Tak apalah. Toh ia tak bisa memungkiri hatinya bersorak mendengar suara itu.

Aku kangen sekali denganmu! Aku berkali-kali mengunjungi rumahmu dan menelepon rumahmu. Mereka bilang kau tak ada di Gwangju. Senang sekali mengetahui hari ini kau ada di Gwangju dan—“

Oppa, pelan-pelan. Tidak usah berlebihan begitu.” Naeun menahan senyumnya setengah mengutuk diri yang malah ingin tersenyum karena Taemin itu.

Berlebihan?! Kau bilang itu ‘berlebihan’? Sebaiknya—“

TOK. TOK. TOK.

“Sae Eun! Bukakan pintunya! Sae Eun! Aish, ke mana anak itu? Oppa, aku akan buka pintu. Ada tamu. Nanti saja teleponnya.”

Tanpa menunggu balasan apapun, Naeun memutuskan sambungan dan menaruh sembarang telepon wireless itu sebelum menuju ke arah pintu rumahnya. Ia sempat melirik pada perutnya yang terlihat lebih buncit dari sebelumnya, lantas menyambar mantel di dekat pintu dan memakainya sebelum membuka pintu.

Aigo!

Naeun tersentak ketika sosok itu merangsek masuk ke dalam rumahnya dengan cepat.

“Dingin sekali di luar!”

“Taemin oppa?!” Naeun terkejut. Terkejut sekali. “Sae Eun! Kau tahu tentang ini?”

“Tidak! Sungguh!” Sae Eun muncul dari arah tangga. Wajahnya sama kagetnya dengan Naeun sehingga Naeun hanya bisa menghela napas. Sia-sia saja dia kabur ke Gwangju. Sekarang berdiri Taemin di hadapannya.

“Tidakkah kau mau memelukku, Naeun?” Tangan Taemin terentang, namun wajah Naeun berubah dingin. Terlalu dingin hingga membuat Taemin mendadak ketir.

“Aku sudah tahu kau akan ke sini, Oppa. Jadi aku dan orang tuaku mengurus surat perceraian ini. Aku hanya membutuhkan tanda tanganmu, Oppa.

Adalah kalimat yang diucapkan Naeun beberapa menit kemudian ketika mereka sudah duduk di ruang tengah dengan dua cangkir teh hangat di atas meja dan seberkas map berisi dokumen-dokumen terbuka lebar.

Taemin nyaris tersedak padahal ia sedang minum teh hangat itu.

“Ke mana appa dan eomma?”

“Mereka sedang pergi beberapa hari. Tak usah mengalihkan topik, Oppa.

Taemin menatap Naeun dalam. Wajah jenakanya berubah ‘mengerikan’ ketika tatapannya semakin dalam, namun Naeun tidak gentar. Ditatapnya balik Taemin dengan tatapan tidak kalah mengerikan. Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya. Ia bersyukur Taemin tidak menyadari pergerakan itu.

Taemin menyambar map tersebut. Merapikan dokumennya menjadi satu, menutup map tersebut, kemudian berdiri. Ia melangkah ke belakang Naeun.

“Sampai matipun aku tidak akan menandatanganinya.”

Lalu dokumen itu menghilang ke dalam jilatan api di dalam perapian. Naeun berjengit kaget melihatnya. Ia diam di tempatnya tanpa banyak kata, menatap tak percaya pada lembar surat perceraian yang mulai hangus dilahap si jago merah.

“Apa yang kau lakukan?!” Naeun berdiri. “Aku sudah mengurusnya dan—“

Naeun bungkam ketika Taemin meraih kedua tangan Naeun dan mendekapnya, mengunci tubuh gadis itu agar tidak bergerak sedikitpun.

“Aku hanya sebentar di sini dan ini yang kau berikan pada tamu?” Wajah Taemin mendekat. “Bukan tindakan yang terpuji, Nona Son. Apalagi sudah semalam ini…” Suaranya merendah, hembusan napasnya menyapu telinga Naeun.

Oppa!” teriak Naeun ketika Taemin menariknya hingga wajah Naeun berbenturan dengan dada pria itu. Tak lama kemudian sepasang tangan melingkar di tubuhnya dan bibir itu menyapu puncak kepala Naeun.

Naeun tidak melawan. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri—ia begitu marah pada Taemin, begitu benci melihatnya sedekat ini, namun di saat yang sama juga ia merindukannya dan menginginkannya.

Ia melingkarkan tangan di tubuh Taemin dan balas memeluknya erat.

Biarlah hari ini berakhir seperti ini.

Biarlah hari ini diakhiri dengan buncah perasaan yang menyatu.

Antara amarah, cinta, dan kesedihan.

*

“Apa? Belum pulang dari tadi malam?” Krystal mengulangi ucapan Minho yang menyambutnya di ruang ganti KBS. Minho sedang menjadi MC dan harusnya bersama dengan Taemin, namun Taemin digantikan oleh orang lain—Krystal terkejut akan hal ini, padahal dia ingin bicara dengan pria itu.

“Iya, dia tidak pulang semalam. Ada apa, Krystal-ssi? Kau tampak sangat marah.”

“Tak apa. Kamsahamnida, Oppa.

Krystal langsung melesat pergi dari hadapan Minho, berjalan cepat menuju toilet wanita. Ia masuk, mendorong pintu toilet dengan kasar, lalu berhenti tepat di depan cermin besar yang tersedia di depan bilik-bilik toilet.

Kedua tangan mencengkeram pinggiran wastafel. Untung saja hanya ada dirinya di sana, jika tidak semua orang akan melihat kondisinya yang terlampau kacau.

Kejadian semalam di gedung MBC membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Lelah bekerja tidak dirasakannya. Matanya menghitam karena kelelahan yang bahkan tidak disadarinya. Ia terus menerus memikirkan apa yang terjadi semalam dan apa yang selama ini disembunyikan Taemin.

.

.

“Kau? Kau yang meneleponku?!”

“Jangan terkejut.” Dia tersenyum, tampak tidak peduli pada reaksi Krystal yang bisa dibilang sangat syok melihatnya. Ia menunduk, merogoh tasnya hingga sebuah amplop coklat besar terpampang jelas di depan mata Krystal. “Aku mencoba membantumu. Buka ini. Ini akan membuatmu tahu.”

Tanpa melepaskan pandangan darinya, Krystal menggeser amplop besar itu ke dalam jangkauan. Ia tetap menatapnya sambil membuka amplop, kemudian mengalihkan pandangan ketika berhasil mengeluarkan isinya.

Ia membaca sebentar isi lembaran kertas itu, lalu lawan bicaranya menyeringai ketika melihat wajah Krystal memucat.

“I-ini tidak mungkin…”

“Foto-foto di dalamnya akan memperkuat segalanya.”

Krystal mengeluarkan sisa isi amplop tersebut dan melotot semakin besar ketika mendapati beberapa lembar foto candid dengan kedua orang yang dikenalinya dalam balutan jas dan gaun pernikahan.

“Taemin… Naeun…?” Ia membolak-balik foto tersebut dan mengetahui bahwa foto ini foto lama.

“Sejak mereka masih berusia belasan tahun. Jauh sebelum Taemin mengenalmu. Naeun melangkahimu lebih jauh.”

“Aku…”

“Telepon aku jika kau setuju untuk bekerjasama membalaskan kebohongan Taemin dan Naeun padamu. Membalaskan segala ketidakadilan yang membuatmu terjebak dalam hubungan bodoh ini.”

Krystal tidak menjawab.

.

.

Jadi begini akhirnya. Akhir kisah cinta Krystal dan Taemin yang memang hanya berjalan timpang dengan salah satu sisi tidak memberikan perasaan sepenuh hati. Krystal tidak menyangka ia menyukai seorang pria beristri. Tapi siapa yang menyangka, kan?

Tidak habis pikir karena Taemin mengatakan ia berusaha mencintai Krystal dan menjadikannya kekasih. Apa maksud pria itu? Memainkan perasaannya karena tahu ia sangat menyukai Taemin?

Mendadak Krystal merasa ditelanjangi di depan cermin. Ditelanjangi oleh amarah, kenyataan, dan kepedihan luar biasa. Dadanya sesak akan perasaan merasa dibohongi.

Perlahan Krystal mengangkat wajah yang tertunduk hingga sejajar lurus dengan bayangan matanya di cermin. Di sanalah ia mendapatkan sesuatu yang baru. Tatapan matanya sendiri.

Begitu padat.

Begitu tajam.

Begitu menyimpan garis peristiwa yang dialaminya.

Tiba-tiba ia tersadar.

Ia menyeringai pahit.

*

Son Naeun menggerakkan seluruh tubuhnya di atas sofa. Meregangkannya hingga mencapai rasa lega yang diinginkan. Matanya menyipit ketika cahaya matahari pagi menerpanya dengan keji, ia harus mengerjap beberapa kali untuk bisa melihat ke sekeliling.

Ia melirik kain selimut marun yang terpaut di atas kedua kakinya dan setengah terkulai di lantai. Diangkatnya benda itu pelan-pelan.

“Aku yang memberikan itu untuk menghangatkan kau dan Taemin oppa.

Naeun menoleh terkejut sambil menggenggam selimut ke dekapannya, “Taemin?”

Sae Eun mengangguk santai dan mendekati Naeun, “Semalam dia ke sini, ingat? Dia pergi pagi sekali, tapi sempat membuatkanmu itu.” Dagunya menunjuk ke arah meja di dekat sofa.

Naeun melirik sepiring roti bakar lengkap dengan telur dadar yang tampak dingin, ditemani segelas susu.

Saat Naeun memutar kepalanya hendak bertanya pada Sae Eun, adiknya itu malah bicara. “Aku harus pergi, ada latihan softball satu jam lagi. Kau tak apa kutinggal, kan?”

Naeun mengangguk singkat sambil tersenyum, “Annyeong, Sae Eun! Baik-baik!”

Brak.

Pintu tertutup bersamaan dengan Naeun yang membenarkan posisi duduknya dan mulai menyantap sarapan yang dibuatkan Taemin untuknya.

Ngomong-ngomong apa kata Sae Eun tadi? Selimut untuknya dan Taemin?

Kening Naeun berkerut, hingga akhirnya mengendur lagi. Ah, ya. Taemin dan dirinya tertidur di sofa. Hanya tidur, tidak lebih dari itu. Taemin menjadikan dirinya sendiri selimut alami bagi Naeun.

Naeun melirik perapian yang sudah mati dan sisa-sisa kertas yang terbakar. Ah, surat perceraiannya.

Naeun terdiam.

Mendadak tertarik kembali pada realitanya.

Wae, Oppa? Kau menyayangiku? Ya, tapi sebagai adik, kan? Karena aku pun menyayangimu hanya sebagai kakak.” Naeun menarik napas banyak-banyak, “Terima saja keputusanku. Selamat malam, Oppa.

Naeun ingat betul suara yang barusan berputar di kepalanya adalah suaranya sendiri. Ia pernah mengucapkannya sebelum meminta Taemin memacari Krystal.

Krystal Jung.

Son Naeun mengernyit, merasakan hatinya sesak. Itu keputusannya. Taemin tidak bisa menjadi miliknya. Ia hanya bisa memiliki anaknya.

Memikirkan itu, Naeun memegangi perutnya. Merasakan kehidupan di dalam sana. Untuk kali pertama, senyum tulusnya mengembang lagi setelah akhir-akhir ini selalu menghilang. Ia merasakan dukungan yang hangat dari janinnya.

Ia tahu keputusannya benar.

Setelah menghabiskan sarapannya, Naeun berdiri. Melangkah mendekati jendela. Matanya menatap keluar, ke kehidupan yang terjadi di luar sana.

Matanya sempat terpaku pada sebuah keluarga kecil yang tengah menikmati jalan setapak.

“Naeunnie, bagaimana dengan gulali?”

“Aku mau juga, Appa!”

“Ahahaha, yasudah. Taemin oppa, belikan saja untuk jagoan kecil kita ini…

Perlahan tapi pasti, sebutir bening menjatuhkan diri lambat dari ujung pelupuk matanya.

*

Siang itu. Gedung SM Entertainment.

“Kau seperti mayat hidup, Taem.”

Suara itu mengagetkan Taemin yang sedang melangkah menelusuri koridor menuju ke tempat tujuannya.

Hyung! Mengagetkan saja!” Taemin menghela napas mendapati itu hanyalah Choi Minho.

“Krystal mencarimu kemarin. Kau ke mana saja, sih?”

“Apa?”

“Soojung,” ulang Minho tanpa perlu mengulang ucapan pertamanya.

Lee Taemin seolah tersengat oleh perasaan bersalah yang terlampau besar. Jelas ia tidak pulang semalaman. Ia menginap di rumah Naeun, menikmati kedekatannya dengan gadis yang dulu dianggapnya adik itu. Itu kejadian langka, yang mungkin tak akan pernah terjadi lagi.

Tak akan pernah terjadi lagi.

Hati Taemin dicubit untuk kedua kalinya di waktu yang sama.

Sial, sakitnya.

“Baiklah, Hyung. Aku akan menemuinya nanti.”

Tapi hingga sore tiba dan Taemin sudah berkendara ke mana-mana memenuhi jadwalnya untuk promosi Ace, ia tidak sempat menemui Krystal. Krystal pun agaknya sulit dihubungi.

Lebih-lebih Naeun.

Ponsel gadis itu sudah ganti nomor. Rumahnya tidak lagi mengangkat telepon.

Taemin menghempaskan tubuhnya ke sandaran jok van SHINee dengan frustasi. Wajahnya kusut, lebih kusut dari bajunya.

Kepalanya ia sandarkan pada kaca jendela, menatapi setiap bagian jalan kota yang dilaluinya. Hingga tanpa disadarinya kedua mata mulai terpejam. Membawanya melayang ke antara debu bintang di atas tamaram langit.

*

Sekarang kau harus waspada.

Aku sudah memberikan satu orang fotokopian surat pernikahanmu dan bahkan dengan foto-foto pernikahanmu. Kabar baiknya, foto-foto itu hanya hasil candid ibuku.

Oh, ya, mau tahu siapa yang telah memiliki kopiannya selain aku?

First clue, Lady: sang bunga mawar dengan kelopak yang hancur karena jatuh.

Berhati-hatilah dengan bunga mawar, duri yang dimilikinya akan menusuk lebih dalam ketika diberikan banyak tekanan.

Selamat siang.

Nyonya Son menatap putrinya yang sedang menatap kosong ke arah meja di tengah-tengah mereka dengan  prihatin. Beliau melipat surat yang baru dibacanya tanpa melepaskan sedikitpun pandangan dari Naeun.

“Siapa orang-orang ini?” keluh sang ibu yang disoraki di dalam hati Naeun karena kesamaan pertanyaan.

“Aku tak mengerti. Pernikahan kami rapat. Tidak ada yang tahu selain pihak keluarga dan A-Pink juga manajerku, itupun karena insiden. Mereka tak akan melakukan ini semua.” Naeun memijat keningnya sendiri yang terasa lebih pening.

“Kau mencintai Taemin?”

Naeun terdiam ketika sang ibu menodongnya dengan pertanyaan seperti itu.

Naeun tertawa, “Tentu. Dia kakakku, kan?”

“Cintamu bukan dalam level kakak-adik, Naeun. Aku bisa melihatnya.”

Naeun tidak menjawab lagi ucapan ibunya selain hanya tercenung sedih. Apakah ia sudah mencintai Taemin? Ia merasa tidak demikian. Bahkan selama ini ia menganggap anaknya hadir karena memang sudah harusnya begitu, bukan karena cinta.

“Apakah ini karena kesalahan kita sendiri, Yeobo?” Sang Ayah yang sedaritadi diam akhirnya buka mulut, membuat ibu dan anak itu menoleh pada sang kepala rumah tangga. Wajahnya yang berhiaskan beberapa keriput tampak menggurat sedih.

“Kesalahan apa, Eomma, Appa?” Bergantian, Naeun menatap keduanya.

Bungkam.

Bungkamnya orang tua Naeun membuat Naeun gemas, “Apa yang kalian sembunyikan?!”

Ibunya hanya tersenyum sedih, “Suatu saat kau akan mengetahuinya sendiri.”

Diam. Naeun menatap ibunya begitu dalam dan dibalas dengan sang ibu oleh tatapan terluka, seolah penuh penyesalan yang tak bisa dibendungnya. Apa? Apa yang tak ia ketahui?

“Kalau begitu hanya ada satu jalan untuk keluar dari kegilaan ini.” Son Naeun berdiri dari duduknya.

Kedua orang tuanya mendongak, mendapati tatapan keyakinan dan semangat yang membara dari sepasang mata hitam itu.

“Aku akan mengikuti permainan peneror sialan ini dari jauh dan menjauhi Taemin oppa sejauh mungkin sambil memecahkannya sendirian.”

Naeun pergi ke kamarnya tanpa menoleh lagi.

*

Bunga mawar. Kelopak yang hancur. Duri.

Apa-apaan ini semua?

Son Naeun menggerutu di dalam hati selama menunggu panggilan teleponnya diangkat oleh Chorong. Pembawaan Chorong yang tenang membuat Naeun yakin bahwa Chorong bisa membantunya dalam masalah ini, apalagi karena Naeun tidak sedang tenang sekarang.

Perempuan itu mengayunkan kakinya, membawa dirinya ke dekat jendela.

Yobosseyo?”

Eonni!” Naeun memekik senang. “Aku memerlukan sedikit bantuanmu…”

Dan berlalulah demikian selama beberapa menit ke depan. Naeun menceritakan isi surat yang diterimanya siang tadi, tak lupa menceritakan juga saat Taemin mengunjunginya beberapa hari yang lalu.

“Kita harus cari tahu siapa bunga mawar dengan kelopak hancur yang durinya bisa menusuk dalam ketika semakin banyak tekanan. Tidak bisa dibiarkan. Apa yang kau mau aku lakukan untukmu selain memecahkan ini?” Mendengar suara Chorong yang begitu hangat membuat Naeun tersenyum mau-tidak-mau.

“Tidak usah, Eonni. Kabari saja perkembangannya di Seoul. Salam untuk yang lain. Katakan aku merindukan kalian!”

Pembicaraan itu diakhiri dengan Naeun yang memandangi cahaya bulan yang tamaram, mengobati sedikit luka yang dirasakannya mencengkeram.

Terngiang lagi ucapan sang ibu.

“Cintamu bukan dalam level kakak-adik, Naeun. Aku bisa melihatnya.”

Mungkin kau salah, Eomma.

*

Beberapa bulan kemudian. Bulan di penghujung tahun.

Hilang sudah ikatan kasat mata yang ada di antara Lee Taemin dan Son Naeun. Tidak ada lagi panggilan telepon yang dilancarkan Taemin dan tak pernah diangkat Naeun. Tidak ada lagi mengirim email yang langsung dilempar ke delete oleh Naeun. Tak ada lagi mengunjungi rumah Naeun.

Naeun menghilang. Benar-benar menghilang. Ia tak ada di Gwangju, bahkan di bagian Korea Selatan manapun. Kontaknya benar-benar seperti tak digunakan.

Satu-satunya cara Taemin mengetahui kabar Naeun adalah dari Sae Eun atau orang tuanya. Mereka selalu menguatkan Taemin dan mengatakan Naeun butuh waktu sendiri dan ia baik-baik saja.

Hanya satu yang mereka sembunyikan.

Kehamilan Naeun yang sudah semakin ‘tua’.

Kini, Taemin dan Krystal melanjutkan kepalsuan itu di hadapan publik. Menebar kemesraan kaku yang sebenarnya terlalu obvious jika seseorang mengamatinya baik-baik. Tapi ada yang berbeda sekarang.

Ekspresi Krystal tidak lagi memiliki kesedihan di balik senyum lebar bahagianya. Ekspresi yang ada sekarang lebih kuat, lebih dalam. Seolah Krystal memenangkan sesuatu yang sangat hebat. Setiap tangannya menggamit tangan Taemin, ekspresi bangga penuh maksud itu selalu muncul.

Tak satu orang pun tahu apa yang dipikirkannya.

Taemin sendiri tidak menaruh curiga. Ia mencoba mengobati luka hatinya dengan melupakan Naeun dan berusaha mencintai Krystal agar ia bisa mengikuti keinginan Naeun untuk bercerai. Sayangnya api itu tak pernah memercik di hatinya ketika bersama Krystal, selain api rasa bersalah.

Malam ini. Di rumah Jessica dan Krystal, Oppa. Don’t be late! Aku memasak untukmu!

“Dari Krystal?”

Lee Jinki—seperti biasa—mengintip pesan masuk yang sedang dibaca Taemin di layarnya. Taemin melirik Jinki dan mendapati Jonghyun mengekor di belakang Jinki.

“Kau sudah tahu siapa.” Taemin memasukan ponselnya ke dalam saku, lalu berdiri. Ketika ia akan meninggalkan kedua hyung-nya, ia malah tersenyum menyapa Taeyeon yang berjalan mendekat ke arah mereka.

“Hai!”

Taemin memeluk Taeyeon, begitupun Jinki dan terakhir Jonghyun. Jonghyun agak tersipu, namun cepat-cepat disembunyikannya. Taemin melihat itu dan melirik Jinki yang tampak tidak menyadarinya.

“Bagaimana kabar Na—“ Mata Taemin melotot ketika Taeyeon hampir mengucapkan nama Naeun. “—Krystal?”

Taemin melirik lagi Jinki dan juga Jonghyun. Lega karena mereka tampaknya tidak menyadari. Taeyeon tahu soal Naeun, tapi tidak tahu mereka sudah menikah. Tapi Jinki dan Jonghyun tidak tahu soal Naeun sama sekali. Mereka hanya tahu mungkin Taemin pernah menyukai Naeun, tapi sudah move on ke Krystal.

“Dia baik saja, Noona.

Taeyeon menepuk bahu Taemin penuh simpati.

“Jessica benar-benar keluar?” Taemin harus berterimakasih pada Jinki yang membuat perhatian Taeyeon teralih.

“Iya… dan beritanya mulai menyebar.” Taeyeon tersenyum lemah. Ia membayangkan SNSD tanpa Jessica. Segalanya akan terasa berbeda. Seperti baru debut lagi, segalanya tidak akan sama seperti dulu.

“Sudahlah, itu keputusan terbaik yang sudah dicapai.”

Kemudian Taemin berpisah dengan Taeyeon yang ‘ditahan’ oleh Jinki dan Jonghyun. Mereka berbincang seru, sementara Taemin melangkah dengan berat.

Ia mengeluarkan ponselnya dan menyalakan benda itu, membiarkannya dalam mode locked sehingga ia hanya memandangi wallpaper beserta pattern-locknya.

“Naeun, kau ada di mana sekarang?” bisiknya pada wallpaper yang tersenyum.

*

“Aku tidak akan mengganggu. Aku ada di dapur, makan di sana sambil melakukan aktivitas lain. Kalian nikmati saja di balkon, oke?”

Itu kata Jessica setengah jam yang lalu. Saat ini Taemin sedang duduk di teras balkon rumah Jung Sister, menatap ke arah pemandangan yang indah saat malam. Lautan lampu yang memukau mata.

“Maaf menunggu lama. Aku harus menghangatkan semua ini.” Krystal memindahkan beberapa porsi menu yang terdiri dari western, Korean, Chinese ke atas meja yang sengaja dipindahkan ke sana.

Ia bolak-balik menaruh segala yang diperlukan—nasi, dua botol soda, dua gelas tinggi, dan lainnya.

Tak lama kemudian ia selesai dan sudah bisa duduk berhadapan dengan Taemin.

“Woah, kau memasaknya sendirian?” Taemin melihat menu-menu yang terhidang dengan semangat tinggi. Ia menatap bebek peking, bulgogi, kimchi, sosis bakar dengan saus steak, tidak lupa ada salad dan pudding yang terlihat segar. “Aromanya luar biasa!”

Krystal tersenyum.

“Rasanya juga!” Komentar itu keluar ketika Taemin mencicipi semuanya dalam satu comotan. Bersemangat, ia mulai makan. Begitupun Krystal.

Diam-diam Krystal menatap Taemin yang begitu lahapnya makan—mengurangi kesan romantis. Tapi ia memang tak bertujuan membuat acara kecil ini romantis, ia hanya ingin menjadikannya malam berkesan sebelum permainan sesungguhnya dimulai.

Dan itu akan dimulai malam ini.

“Krystal?” Taemin menyadari Krystal tengah melamun. “Kenapa?”

“Ah, tak apa… hanya saja menikmati suasana yang akrab ini.”

Mereka menikmati hidangan yang tersedia sambil sesekali tertawa. Berbagi kisah dan cerita. Tidak pernah Krystal bayangkan mereka bisa juga seperti ini. Suasana akrab yang dibangun hanya dengan hidangan sederhana.

“Hidangannya benar-benar luar biasa, Jungie!” Taemin menyandarkan tubuh di sandaran kursi, menatap Krystal penuh respect. “Suamimu kelak akan sangat bahagia.”

Krystal tidak mengubah ekspresinya terlalu banyak. Ia hanya tersenyum lebar, namun dingin. Penuh makna tajam di baliknya. Mungkin Taemin tidak menyadari ucapannya, yang jelas Krystal tahu hatinya retak dan sebentar lagi semakin pecah.

Oppa, kau mengatakan bahwa kau tidak akan menjadi suamiku, kan?”

Taemin berhenti ceria. Wajahnya memucat. Ia menyadari ucapannya.

“Krystal, maksudku—“

Krystal mengibaskan tangannya dengan santai, lalu meraih botol soda. Menuangkan di kedua gelas yang sudah setengah kosong, “Tak apa. Aku bukan Krystal yang dulu. Cinta itu membebaskan, bukan? Aku tidak masalah lagi dengan itu.” Hanya saja kau akan tetap mendapatkan balasannya, Oppa.

Taemin terpaku.

Ada sesuatu yang salah. Ia menyadari itu. Memang bagus jika Krystal begitu, tapi itupun jika tulus, benar, kan? Taemin merasakan ketidaktulusan yang samar di balik pernyataannya barusan.

Krystal meneguk isi sodanya dengan santai, menatap balik Taemin dengan keyakinan penuh.

“Krys—“

“Taemin-ah! Bisakah kau bantu noona sebentar?” Jessica muncul di ambang pintu tepat ketika Taemin sudah menemukan kata-kata yang tepat. Di saat itu juga ponsel Taemin berbunyi, tanda sebuah pesan masuk datang.

“Ada apa, Noona?” tanya Taemin sambil membuka pesan masuknya. Krystal mengamati ponsel Taemin dan mendadak sesuatu terlintas di benaknya.

“Ada sedikit masalah dengan kompor listriknya. Mungkin kau mengerti?”

Lupa akan ponsel yang masih dalam keadaan ready to use, Taemin bangkit berdiri dan menghampiri Jessica. Kedua orang itu menghilang menuju dapur.

Krystal tertawa kecil. Entah kenapa malam ini ia beruntung sekali dan Taemin terasa begitu sial.

Dengan lincah kelima jemari kanannya menyambar ponsel tersebut sebelum benda itu kembali menjadi mode locked. Folder pertama yang dicek adalah message, dan entah kenapa Krystal mengarah pada archives karena jumlah di dalam kurung yang membuntutinya terlihat begitu membludak.

Ia menyeringai pahit, seperti dugaannya. Archives Taemin berisi pesan dan percakapan dengan Naeun. Tanpa pikir panjang segera dikirimnya archives itu ke ponselnya sendiri. Ia sesekali melihat apakah Taemin sudah kembali atau belum, namun ia mendengar suara Jessica.

“Astaga, apa aku harus telepon ahlinya saja?”

“Tunggu, Noona! Sepertinya aku tahu…”

Saat Krystal sedang melihat folder images, percakapan bodoh itu terdengar begitu saja. Ia menyimpulkan Taemin akan lama. Dipindahkannya beberapa foto Taemin yang sedang bersama Naeun. Tidak lupa juga difotonya juga wallpaper Taemin.

Ia merapikan segalanya tepat waktu.

Karena ketika Taemin kembali, ia sudah santai memandangi citylight dengan berbagai ide menjaring di otaknya.

“Maaf, aku lama.”

“Tak apa, Oppa.” Krystal tersenyum.

Senyum getir.

*

Malam semakin larut saja. Udara demikian dingin tidak menghambat pekerjaan baru Krystal malam ini. Sepulangnya Taemin, ia langsung mengambil laptop dan memindahkan seluruh yang baru saja ‘dicurinya’ dari ponsel Taemin ke dalam laptop.

Dadanya sesak, namun anehnya tidak sedikitpun ia merasa cemburu. Ia merasa sakit saja, tapi berbeda dengan cemburu.

Betapa mesra foto-foto mereka. Krystal mempelajari tatapan Taemin terhadap Naeun. Ada sesuatu yang dalam di sana, yang tidak pernah dirasakan olehnya.

Betapa beruntung Son Naeun itu. Krystal berkali-kali mengucapkan kalimat yang sama. Ia masih tidak habis pikir mereka sudah menikah. Menikah betulan, bukan hanya menikah virtual seperti di WGM. Lalu, kenapa secara kebetulan mereka bisa ikut WGM? Kenapa pihak WGM tertarik memasangkan mereka?

Apa yang terjadi?

Krystal menghembuskan napas lelah ketika telah memindahkan file terakhir, yang paling penting. Scan fotokopian bukti pernikahan Taemin dan Naeun, juga beberapa candid pernikahan mereka. Ia melakukannya tadi siang.

Kini, ia membuka email. Mengetikkan sebaris alamat email di sana, lalu mengklik ‘attachment’.

Sambil menunggu seluruh file ter-attach, ia menuliskan sesuatu di badan email-nya.

Bukankah pekerjaanku begitu rapi dan baik? Kuharap kau tidak akan mengecewakanku, dan aku tidak akan mengecewakanmu. Tapi, omong-omong kau belum pernah mengatakan kenapa kau melakukan ini semua terhadap mereka.

Kalau boleh tahu, mengapa?

Krystal melirik jam dinding. Sebentar lagi hari berganti. Udara semakin menusuk ke dalam tulangnya. Tik-tok jam dan dinginnya malam tidak membuat hatinya tenang, ia malah semakin penasaran dengan alasan itu. Alasan yang membuat orang ini membantunya.

Gadis bermarga Jung itu melirik layar laptop dan bersorak di dalam hati ketika seluruh file telah ter-attach. Ia membaca ulang pesan yang dituliskannya dan jemarinya dengan lincah mengarahkan kursor ke arah tombol ‘send’.

Dibacanya berulang kali, seperti merasa kurang dengan pesan yang tertulis. Hingga akhirnya jemari itu memutuskan untuk memindahkan kursor pada badan email dan menambahkan beberapa patah kata.

Apakah Kim Myungsoo Infinite terlibat?

Sending message…

*

krysjung94 is online.

virtualbreaker7 is online.

<krysjung94> sudah kau terima?

Sent.

<virtualbreaker7> tentu.

Sent.

<krysjung94> well, virtual breaker, huh?

Sent.

<virtualbreaker7> kenapa? Ada masalah? Setidaknya jika sampai ini semua terlacak, mereka tidak langsung tahu nama asliku. Ingat, identitas asliku hanya kau yang tahu, Krys.

Sent.

<krysjung94> apa rencanamu berikutnya?

Sent.

<virtualbreaker7> aku sedang menyusun artikel. Tenang saja, dalam beberapa hari akan meledak bagai bom waktu.

Sent.

<krysjung94> di tengah kesibukanmu pun kau masih bisa melakukannya. Aku tak habis pikir. Aku juga tak bisa bayangkan jika Naeun dan Taemin tahu siapa di balik ini semua.

Sent.

<virtualbreaker7> ayolah, kau tak jadi berubah pikiran kan?

Sent.

Read.

Krystal Jung terdiam di tempatnya. Ia mendongak, mengalihkan pandangan dari laptop-nya ke arah jendela besar yang sengaja tidak ditutup tirainya. Ia ingin ditemani citylight malam ini, barangkali di detik itu adalah kebebasan terakhirnya.

Ia tahu betul apa yang akan dihadapinya jika ia ketahuan bekerjasama dengan virtualbreaker7 ini. Orang yang tidak sangka akan membantunya memberikan Taemin pelajaran.

Tapi, apakah ia puas dengan ini semua?

<virtualbreaker7> oh, ya, soal Myungsoo… tadi kau bertanya, kan?

Sent.

Read.

Krystal terdiam sejenak, sebelum mengetik lagi.

<krysjung94> ya.

Sent.

<virtualbreaker7> kau akan tahu sendiri. Ingat, ini permainan. Meskipun kau bersamaku, tapi kau harus tetap menebak segalanya sendirian. Tenang saja, aku tak akan menjebakmu, hanya mengajakmu sedikit bermain.

Sent.

virtualbreaker7 is offline.

“Apa-apaan?” gerutu Krystal kesal, namun hatinya bertanya.

Sedikit bermain?

*

Dia mengalirkan air mata, tepat di depan pandangan Chorong di dalam bingkai laptop yang sedang menyala. Pembicaraan via webcam tak disangka-sangka kan menguras begitu banyak emosi Son Naeun malam itu.

Ia duduk sendirian di kamarnya, menghadap wajah Chorong yang terpampang jelas di layar laptop berukuran 1336 x 768 pixels itu.

“Kau ada di mana sekarang, Naeun?” Suara lembut Chorong menusuk ke dalam kalbu, Naeun menghentikan isaknya.

“Bukan di manapun di Korea, Eonni…” bisiknya parau.

Park Chorong menghela napas, mengambil sebagian rambutnya yang mengurai ke depan, lantas menyelipkan di telinga. Ia meraih secangkir teh di dekatnya, lalu meneguk isinya dengan tenang.

“Kapan kau akan memberitahu Taemin, Naeun? Bagaimana pun dia ayahnya, cepat atau lambat dia pasti akan tahu.”

“Aku pun tidak tahu, Chorong eonni.

Diam.

Keduanya sama-sama kalut dengan pikiran masing-masing. Diam-diam Chorong mengamati Naeun yang sudah tampak lebih berisi sekarang. Keadaan fisiknya jika dilihat Taemin sekarang, pasti akan sangat disadari olehnya.

“Dia ayahnya, Naeun.”

“Aku tahu.”

“Naeun…”

Eonni, biarkan aku sendiri. Setidaknya aku di sini bersama kerabatku, kok. Aku hanya butuh ketenangan. Terimakasih sudah mendengarkanku. Selamat malam, Eonni. Semangat untuk promosinya!”

Segera saja Naeun memutus hubungan dengan Chorong di Korea Selatan sana. Matanya telah lelah menangis dan rasanya sudah berat sekali. Ia sudah seperti orang gila akhir-akhir ini.

Kau harusnya bangkit. Melawan orang-orang yang begitu tega ini.

Tiba-tiba saja terlintas nama Myungsoo di benaknya. Sudah lama sekali ia tak mendengar suara Myungsoo. Bukan berarti ia rindu padanya atau apa, ia hanya membutuhkan figur Myungsoo sebagai teman dan kakaknya.

Tapi bukankah ia menganggap Taemin demikian? Kakak dan teman?

Hanya saja, kenapa terasa menyakitkan menjauh darinya?

Son Naeun terkesiap.

Ada satu hal yang memaksanya untuk sadar dan bangun.

Anaknya.

*

Alunan live music menggema di seluruh bagian kafe. Denting sendok stainless steel yang beradu dengan bibir cangkir terdengar di mana-mana. Belum lagi sendok dan pisau yang digunakan untuk memakan berbagai jenis hidangan yang disajikan.

Aroma kopi menguar ke mana-mana, bercampur teh yang juga menjadi menu utama di kafe ini selain kopi.

Kim Myungsoo mereguk kenikmatan green tea bercampur sensasi mint yang mengalir ke dalam kerongkongannya sambil memandangi wanita di hadapannya yang tengah santai mengunyah potongan tiramisu.

“Jadi, apa yang mau kau bicarakan, Krys?”

Krystal mengunyah potongan terakhirnya. Menatap Myungsoo sebentar. Ia mengalihkan tatapannya kemudian ke arah permukaan cappuccino yang sudah setengah cangkir, lantas mengambilnya—meneguk dan menikmati rasanya.

“Aku hanya ingin tahu kau terlibat atau tidak.”

“Apa?” Mendadak Myungsoo merasa idiot karena tak mengerti maksud pembicaraan Krystal.

“Permainan ini, kau ikut?”

“Jelaskan.”

Krystal menyelidik Myungsoo dengan matanya dan tidak menemukan kebohongan, selain keganjilan dan keheranan di balik iris hitamnya. Menghela napas, ia menceritakan soal sosok virtualbreaker7 yang sangat dikenalnya di kehidupan nyata bahkan soal bukti-bukti pernikahan Taemin-Naeun.

Myungsoo terdiam. Sibuk mencerna apa yang baru diceritakan Krystal.

Ia terkejut. Sangat terkejut. Ia tahu Naeun mengandung anak Taemin, tapi tidak pernah tahu mereka sudah menikah sungguhan. Ini di luar dugaannya. Ia mengira Naeun dan Taemin hanya melakukan sebuah ‘kecelakaan’ di luar ikatan.

“Aku tidak tahu dan baru mengetahuinya barusan.”

“Yang benar?” tanya Krystal terkejut. “Dia sempat mengirim pesan lagi kepadaku tadi pagi, mengatakan ‘Myungsoo’ terlibat, dan aku akan terkejut akan satu hal… kau benar-benar tak terlibat?”

“Kurasa tidak. Sungguh!”

Lalu, siapa ‘Myungsoo’ ini? Myungsoo yang terlibat ini? Siapa?

Melihat keraguan di wajah Krystal, Myungsoo menghela napas.

“Krystal.”

“Kita bertemu lagi di sini, Oppa. Sebagai dua orang yang membicarakan hal kelewat serius dan terjebak dalam permainan aneh yang ‘anehnya’ aku terlibat.”

So, this is the real game?” potong Myungsoo. “Permainan yang sebenarnya? Yang dirancang oleh si virtualbreaker7 itu, hah? Aku tidak terlibat apapun dengannya. Tidak sama sekali. Kurasa Myungsoo yang dimaksud adalah Myungsoo yang lain.”

Krystal terdiam, kemudian tersenyum.

“Kau mencintai Son Naeun?”

“Sangat.”

“Begitupun seperti aku kepada Taemin oppa.

Mata Myungsoo memicing curiga, “Kau mengajakku ikut ‘bermain’ dalam konspirasi kalian?”

“Bukan konspirasi kami, tapi konspirasi dia dan permainan kami.”

Myungsoo terdiam. Krystal tidak menunggu jawaban Myungsoo, ia bangkit berdiri menyambar tasnya.

“Aku menunggu kabarmu.”

Ketika Krystal membalikkan badan, Myungsoo cepat-cepat merogoh sakunya dan menemukan benda yang dibutuhkannya sekarang juga. Ia mengamati Krystal yang akhirnya menghilang di balik pintu keluar.

Tercenung sebentar melihat ke arah layar ponselnya, sebelum akhirnya menghidupkan benda itu. Ia melakukan beberapa gerakan sebelum menempelkannya di telinga.

Tak perlu terlalu lama ia mendengar nada sambung di ponselnya karena Dayeon bukan gadis yang lama dalam urusan dihubungi.

“Halo? Dayeon? Bisakah kau ke tempat biasa sekarang juga? Ada pekerjaan yang harus kita lakukan. Oke, terimakasih. Sampai bertemu!”

Tuuut. Klik.

Myungsoo meraih cangkir green tea-nya, menghabiskan tetes terakhirnya sebelum memasukkan ponsel ke dalam saku dan melesat pergi dari sana.

This game has been started.

To be continued.

 

Note: maafkan karena perbedaan yang besar dengan yang dikatakan di part 6 soal part 7 ini. Aku memfokuskan banyak adegan penting di part ini dan beberapa yang gak penting gak aku masukkan. Terimakasih atas kesabarannya menunggu!

*

Preview Paper VIII – The Celebrities’ Wedding Scandal

A-Pink Son Naeun dan SHINee Lee Taemin telah menikah diam-diam selama beberapa tahun terakhir? Dilansir dari kpopall.com, bukti yang kuat telah beredar di internet. Selembar bukti pernikahan kedua public figure, beberapa foto-foto, semuanya termuat di dalam sebuah blog yang misterius.

*

“Son Naeun! Pulang sekarang juga!”

“Kenapa, Eomma? Ada apa?”

“Pernikahanmu terbongkar di publik. Lebih baik kau cek melalui internet, Naeun!”

“Apa?!”

*

“Taemin, kami tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan. Pembelaan saja tidak cukup, selain mengakuinya dan membuat beberapa perubahan skenario. Popularitasmu turun dan membanting popularitas SHINee, Taemin. Ini tidak bisa dibiarkan.”

“Lalu, aku harus bagaimana?”

*

‘SON NAEUN ADALAH PEMBOHONG!’

‘Son Naeun pengecut! Ternyata ini alasan dia vakum!’

‘Kami kecewa. Kami tidak menyangka akan begini akhirnya. Maka dari itu, mulai hari ini kami menyatakan akan menutup fansite ini.’

“Jumlah fansite A-Pink menurun drastis. Mereka tutup, bahkan sebagian berubah menjadi hatersite A-Pink. Banyak album yang dikembalikan, bahkan dibakar.”

“Apakah sedashyat itu?”

“Ya, sedashyat itu.”

*

“Eunji! Kau tidak apa-apa?”

“Kepalaku sakit sekali.”

“Mereka telah berlebihan karena melempari kita batu seperti ini!”

“Mungkin kita memang harus bubar…”

“Chorong eonni, apa yang baru kau katakan?!”

*

A-PINK RESMI DIBUBARKAN. Para member akan melakukan solo career di kemudian hari. Terimakasih telah mendukung dan memberikan cinta kalian kepada kami. Kami meminta maaf atas segala kesalahan yang telah terjadi.

“Naeun, kau harus kembali.”

“Aku sudah kembali.”

*

“Kita hadapi bersama, ara?”

*

“Saham Cube sudah menurun. Bukankah itu yang eomma inginkan? Sebentar lagi Naeun dan Taemin juga mungkin akan bercerai. Bolehlah aku berhenti?”

“Tidak sekarang, Nak. Tidak di saat yang tepat. Permainan ini belum selesai, kau tahu itu.”

*

See you in the next chapter!🙂

©2013 SF3SI, Vania

signature

Officially written by Vania claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

10 thoughts on “(Not) A Virtual Marriage – Part 7

  1. Eoniiiii lamaaaa bangeeeet nungguin ini bolak balik dan akhirnya bisa baca part baru huhuhu, makin penasaraaaan neun eoni taemin oppa fighting. Semoga update nya cepet yaa eon ^^

  2. OMG akhirny kluar juga ud lama banget nunggu ny

    d tunggu yha next chapternya jangan lama” lagi ud gak sabar
    (Not) A Virtual Marriage banyakin ya ceritanya jangan cepat habis !!!!

  3. aduh,, critanya mkin sru jha nhy. Naeun sbnr.x ad dmna sih? Mkin pnsran jha deeh. Taemin dan naeun jg cpet” deh kmbli brstu.. D tnggu klnjtan.x eon. Fighting

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s