SHINee Cafe [Prologue]

SHINee Cafe

Title                             : SHINee Café

Genre                         : Romance, Shounen-Ai, Friendship and Life

Main Cast                : Lee Taemin

Support Cas           : Jonghyun, Minho, Key dan Onew

Length                       : Sequel

Rating                        : Adult

Summary                 :

“Aku menyukaimu… sebagai teman dan jika kau meminta lebih… aku akan lakukan apapun demi ibuku. Aku tidak punya waktu lagi. Aku tidak percaya ada keajaiban seperti uang jatuh dari langit, jadi aku akan lakukan apapun untuk mendapatkan uang. Apapun.”

__________________

Ini adalah akhir pekan yang panas, dengan matahari yang bersinar terik di luar dan keramaian di mana-mana. Setidaknya sekarang mereka berada di dalam gedung yang sejuk, berjalan beriringan, juga dengan sebuah es krim masing-masing di tangan mereka. Yang memakai gaun terus bicara sepanjang langkah mereka yang lambat dan tenang, sedangkan yang memakai kaus putih dan celana katun diam.

“Kau tahu, di mall ini ada sebuah kafé yang bernama café SHINee …?”

Aku harus bagaimana?

“Kafe itu pekerjanya hanya laki-laki ….”

Aku harus cari kerja di mana lagi?

“Mereka itu benar-benar tampan, setidaknya itu yang kudengar ….”

Mencari kerja part time dengan gaji tinggi ….

“Dengan pelayangan VVIP ….”

Dengan ijazah SMA ….

“Sayangnya kau juga harus jadi pelanggan VVIP ….”

Juga pengalaman kerja yang cukup ….

“Dan juga hanya seorang wanita ….”

Apakah ada pekerjaan seperti itu?

“Dan kau seorang pria ….”

Apa aku masih punya harapan?

“Taemin-ah?”

Eommonim ….

TAEMIN-AH!!” teriak wanita itu akhirnya. Menatapnya dengan kesal.

“Ya?” Taemin menoleh dengan terkejut.

“Kau tidak mendengarku bicara dari tadi?” kini suaranya penuh tekanan.

“Em… de–dengar, kok. Hanya…”

“Sudahlah,” seru gadis itu tiba-tiba sambil mengibaskan tangan, lalu menoleh ke arah kanan, ke arah sebuah pintu kaca yang bertuliskan ‘café SHINee’ berwarna aqua yang berkilauan. “Dan lihatlah! Pintu kaca yang tertutup itu hanya bisa dimasuki orang-orang tertentu, entah pekerja atau pelanggannya adalah orang-orang yang istimewa. Andai aku lebih kaya aku pasti bisa memasukinya. Itu adalah impian banyak gadis-gadis seperti kami.”

“Memasuki sebuah kafe dengan sekumpulan pria?”

“Bukan hanya pria. Mereka pria-pria penuh pesona. Andai kau tahu saja, mereka bukan pria sembarangan. Andai kau bisa menjadi bagian dari mereka, aku pastikan kehidupanmu akan terjamin, bahkan mungkin masa depanmu.”

“Masa depanku?” tanya Taemin dengan terkejut.

“Ya, karena mungkin saja kau bisa menikahi salah satu anak orang-orang terkaya di Seoul.”

“Aku… Bagaimana caranya bekerja di sana?”

“Apa? Hahaha! Kau bermimpi, Lee Taemin,” serunya keras. “Sudah aku katakan, mereka bukan pria sembarangan. Itu artinya tidak sembarang pria bisa bekerja di dalamnya. Selama yang kutahu, hanya ada empat orang pekerjanya.”

“Empat?” Taemin semakin terkejut.

“Itu artinya begitu sulit karena peluangmu semakin kecil. Bahkan tidak ada yang tahu bagaimana mereka direkrut. Sejauh yang kudengar, dua di antara mereka adalah seorang aktor dan penyanyi.”

“Seistimewa itu? Tidak mungkin!”

“Ya, sayangnya tidak ada seorang pun pelanggan VVIP yang boleh mengungkapkan identitas mereka pada khalayak umum. Kau tahu, mereka itu seperti pangeran, yang hanya orang-orang di dalam kastillah yang bisa melihat mereka.”

“Jika melakukan itu ….”

“Jika melakukan itu mereka akan dicoret dalam daftar pelanggan. Tapi sejauh ini tidak ada yang melakukan hal bodoh seperti itu.”

“Oh, begitu,” jawab Taemin dengan muram, menunduk, dan melihat es krimnya yang sudah sepenuhnya lumer di dalam gelas.

“Kau kenapa? Tiba-tiba ingin bekerja di kafe itu.”

“Chaerin, aku sebenarnya … em, sedang butuh uang,” aku Taemin dengan berat hati.

“Jadi dari tadi kau melamun hanya karena uang? Ya, ampun. Kau tahu aku punya banyak. Kau tinggal katakan berapa dan aku akan memberikannya padamu,” seru Chaerin sombong.

“Aku akan meminjamnya. Aku butuh lima ratus ribu won.”

“Sebanyak itu?” pekik Charin tiba-tiba, lalu tiba-tiba ia tampak malu. “Kalau sebanyak itu … aku … kau tahu aku mahasiswi yang belum bekerja. Dan aku yakin ayahku tidak akan memberikannya. Memangnya untuk apa?”

“Ibu… ibuku sakit. Dan para rentenir mulai mengejar-ngejarku,” jawab Taemin semakin muram.

“Omo! Kau tidak pernah cerita apa-apa padaku selama ini. Kau anggap apa—“ cerocos Chaerin.

“Maaf,” sela Taemin takut.

Chaerin terdiam begitu lama dengan kening mengerut dalam, hingga akhirnya ia bersuara, dengan gaya yang berbeda dari biasanya, terdengar berat dan serius, “Taemin-ah, aku benar-benar mencintaimu. Tidak peduli kau pernah menolakku, aku tetap ingin berada di dekatmu, tapi aku merasa tidak tahan jika terus-menerus menjadi sahabat dan tidak bisa apa-apa ketika begitu banyak wanita saling menyerobot dan berusaha mengambil hatimu. Jika kau mau jadi pacarku, aku akan melakukan apa saja untuk meyakinkan ayahku agar mau memberikan uang itu padaku.”

Kali ini Taemin terdiam dan orang-orang masih berlalu lalang di sekitar mereka. Di saat seperti itu seorang gadis muda keluar dari pintu yang sejak tadi mereka lihat, dengan segala hal yang mahal yang melekat pada tubuh indah dan wajah cantiknya, tapi kali ini ia tidak peduli, begitu juga Chaerin. Mereka masih terdiam dan terus terdiam, hingga akhirnya Taemin berkata, “Baiklah. Tapi aku tidak yakin kau akan mau meneruskan ini jika…”

“Jika?” tanya Chaerin penasaran.

Akhirnya Taemin mendekat hingga hampir tanpa seka, lalu mendekatkan bibirnya yang tebal dan merah ke arah telinga Chaerin yang kecil, membisikkan sesuatu yang tidak bisa didengar siapapun kecuali mereka, dan membuat mata Chaemin hampir melompat dari rongganya, dan membuat ia ingin tertawa dan marah di saat yang sama.

“Kau bercanda? Kau tinggal berkata kalau kau tidak menyukaiku!” seru Chaerin tersinggung.

“Aku menyukaimu… sebagai teman dan jika kau meminta lebih …. Aku akan lakukan apapun demi ibuku. Aku tidak punya waktu lagi. Aku tidak percaya ada keajaiban seperti uang jatuh dari langit, jadi aku akan lakukan apapun untuk mendapatkan uang, apapun,” balas Taemin serius.

“Kau ini—“

Tapi sebelum sempat Chaerin melajutkan kalimatnya, Taemin sudah meraih tangan gadis itu dan meletakkannya di dada. “Kau merasakannya? Tekan dan rasakan.”

“Argh!” Chaerin menarik tangannya kasar dan berkata pula dengan keras, “Jangan permainkan aku!”

Tapi Taemin tidak bicara apa-apa lagi. Dia hanya menarik lengan Chaerin dan membawanya ke tempat penuh dengan pakaian lalu memasukkannya juga dirinya ke dalam ruang ganti yang tertutup. Di sana ia membuka kaus, dan memperlihatkan tubuh atasnya pada gadis itu.

“Jika kau masih tidak yakin, aku bisa membuka celanaku,” seru Taemin.

Tapi Chaerin hanya menggeleng sambil menutup mulutnya dan tiba-tiba saja pergi dengan berlinang air mata.

Maaf, Chaerin. Aku hanya ingin berusaha jujur padamu. Aku tidak mungkin mencintaimu.

To Be Continued…

©2013 SF3SI, Lee Hana

leehana-signature

Officially written by Lee Hana, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

4 thoughts on “SHINee Cafe [Prologue]

  1. baru prolog udah seru. saya lanjut baca part 1 nya deh. ketinggalan saya haha. mian saya reader baru disini. bangapta author-nim^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s