(Not) A Virtual Marriage – Part 8

navm-therealgameseries

Title : (Not) A Virtual Marriage

Author : vanflaminkey91 (@alexandriavania)

Main cast :

  • Lee Taemin SHINee
  • Son Naeun A-Pink
  • Krystal Jung f(x)
  • Kim Myungsoo Infinite

Support cast : Kim Dayeon (Doyeon), Jung Eunji, Oh Hayoung, Kim Key

Length : chapter

Genre : Alternate Universe, romance, marriage-life, angst, friendship

Rating : PG13

Summary: Tentang pernikahan dua public figure yang perlahan terbongkar.

Inspired by: A ballad song by SHINee ‘Selene 6.23’ and TaEun’s We Got Married.

Note: Seluruh hal yang berkaitan dengan karir para K-Idol di dalam cerita ini telah disesuaikan, ada yang fiksi dan ada yang non-fiksi. Semuanya disesuaikan menurut alur cerita. No hate here.

 

Waktu adalah pengendali.
Waktu adalah bom.

 

(Not) A Virtual Marriage
©2015 vanflaminkey91

Rumah itu bisa dikatakan mewah. Luasnya yang nyaris menyaingi lapangan sepakbola berpadukan dengan tatanan barang yang sedemikian rupa menghasilkan keleluasaan yang luar biasa. Barang-barang di dalamnya tidak ada yang bernilai puluhan juta, minimal ratusan juta itupun hampir menyentuh nilai ‘miliar’. Nuansa putih dipadukan marun mendominasi. Rumah yang begitu simpel, namun lux. Mewah, tapi tidak seronok. Mewah, berkelas.

Rumah seluas itu hanya dihuni beberapa pembantu rumah tangga, dua asisten, satu supir, dan tentu sang nyonya besar. Ah, tidak lupa beberapa bodyguard dengan kemampuan kelas mafia dan salah satu di antaranya seorang wanita.

Sang nyonya besar yang usianya sudah hampir menyentuh setengah abad duduk di ruang tengah, kedua kaki saling tumpang tindih sembari mengistirahatkannya ke atas meja. Di pangkuannya terdapat laptop yang menyala. Kesepuluh jemari yang seolah anti keriput itu mengetik lincah, sepasang mata yang masih muda itu tampak awas mengamati tiap komponen di laptopnya—mengawasi bisnis, mengawasi bursa saham, mengawasi nilai tukar mata uang, dan mengamati saham sebuah agensi entertainment besar di Korea Selatan.

Bodyguard-bodyguard itu dengan setia menemaninya di area ruangan tersebut, kecuali satu-satunya bodyguard wanita di rumah tersebut.

“Myungsoo!” panggil sang nyonya besar menggelegar. Salah satu pria bertampang dingin yang sedang berjaga juga di area itu menoleh dan menghampiri nyonyanya. “Panggilkan—“

“Tidak usah, Eomma.” Dari arah samping muncul sesosok remaja cantik yang baru memasuki usia 18 tahun. Wajahnya innocent, namun tatapan matanya begitu misterius. Ia tersenyum.

“Ah, inilah bodyguard wanita kebanggaan eomma.” Tangan nyonya besar itu terulur meminta sang putri—sekaligus satu-satunya bodyguard wanita di rumah itu—duduk di sampingnya.

“Apakah saya masih dibutuhkan, Nyonya?” Pria muda bernama ‘Myungsoo’ memotong acara ibu dan anak tersebut.

Senyum lebar nyonya besar memudar sedikit, “Tetaplah di sini. Aku memiliki tugas…” Ia memandang kedua muda-mudi di hadapannya dengan tatapan tajam. “…untuk kalian.”

Mereka menunggu kelanjutannya.

“Bukan sekedar transaksi kokain yang menemui hambatan atau oknum yang kurang ajar.” Nyonya besar itu melirik ke arah laptopnya, diikuti pandangan sang putri yang terkejut melihat apa yang dilihat ibunya. “Ingat rencanaku soal ‘balas dendam’, Sayangku?” Ia melirik putrinya.

Sang putri tanpa ragu mengangguk.

“Inilah saatnya.”

Nyonya besar itu menyeringai tajam, menatap dalam pada sebuah artikel yang terpampang di laptopnya. Bukan artikel soal bursa saham atau anjloknya kurs mata uang tertentu, namun soal artikel bertemakan ringan.

Cube Entertainment Revealed The First Member of A-Pink, Son Naeun.

“Aku menyerahkan pekerjaan ini kepadamu.” Nyonya besar tersenyum penuh kepercayaan pada putrinya, lantas melirik pemuda yang masih berdiri menunggu keputusannya. “…dan tugasmu adalah menjaganya, Ahn Myungsoo.”

 

Paper VIII – The Celebrities’ Wedding Scandal

Kim Dayeon menautkan kesepuluh jemarinya sambil menumpukan dagu di atas sana. Wajahnya tak berekspresi, namun matanya mengandung jutaan makna. Pria itu—Kim Myungsoo—masih terduduk bingung di tempatnya.

“Kenapa?” Dayeon buka suara duluan. “Krystal menjelaskan kenapa orang itu melakukan ini semua—mencampuri kehidupan rumah tangga Taemin dan Naeun padahal mereka dekat, bukan?”

“Entah,” gumam Myungsoo sambil menghela napas panjang. “Aku pun tak mengerti.”

“Lalu apa rencanamu sekarang? Bergabung dengan Krystal?”

“Kau gila?” Myungsoo menyandarkan punggungnya di sandaran sofa apartemen Dayeon. “Tidak. Aku tidak lagi terobsesi untuk bersama Naeun.” Suara lelaki itu mengecil di ujung kalimat.

Dayeon menunggu lanjutannya.

“Lalu, memberitahu Naeun soal dalang di balik layar?”

“Tidak.”

Dayeon sedikit terkejut mendengarnya, “Mengapa?”

Kim Myungsoo tidak menjawab. Wajah dinginnya berhiaskan senyum penuh arti. Ia tak akan memberitahu siapapun, termasuk mantan kekasihnya itu.

“Aku tidak ingin mengkhawatirkannya yang sedang mengandung…” Suara pria itu nyaris hilang.

Dayeon terlihat kesal, “Kau bukan melindunginya, tapi menjebloskannya ke lubang hitam, kau tahu? Kau membiarkannya begitu saja, padahal orang yang selama ini menyebabkan masalah bagi Naeun adalah orang dekatnya sendiri! Pikirkan bagaimana perasaan Naeun…”

Tapi Myungsoo tetap diam.

Ia tidak bergeming.

“Kita hanya akan menghentikannya. Aku butuh bantuanmu, Dayeon-ssi.

*

Waktu tidak akan pernah bisa diulang.

Setiap manusia tidak akan menampik bahwa mereka pasti memiliki banyak waktu yang ingin diulang kembali, namun tak menyadari telah membuang banyak waktu lainnya hanya untuk memikirkan cara untuk mengembalikan ‘waktu itu’.

Di balik lindungan ‘tembok Berlin’, Son Naeun menyadarinya betul dan ia merasa bodoh. Pecundang. Pengecut. Ia melarikan diri dari Seoul dengan keadaan perut yang sudah lebih besar. Menyiksa diri dengan memutuskan kontak apapun dengan Taemin maupun Myungsoo, sang sahabat.

Dalam masa pelarian itu, tidak banyak yang dilakukannya selain menangis, merenungi nasib, menyesal karena berbagai alasan yang tidak jelas.

Ia tahu tidak ada yang salah dari pernikahannya. Pernikahannya dengan Taemin sudah ditulis di suratan takdir kehidupannya, lalu kenapa ia merasa takut?

Ia sudah memikirkan hal ini beberapa hari terakhir dan sekarang adalah puncaknya. Sambil ditemani secangkir teh hijau, Naeun menyandar pada bingkai pintu balkon apartemen tantenya di Jerman.

Kalau dipikir-pikir, ia yang memulai semuanya. Perasaan naif dan takut bahwa Taemin akan menyesal jika suatu saat pernikahan mereka terbongkar ke publik telah mengundang hal yang lebih menakutkan.

Ia kabur sejauh ini hingga ke Jerman pun tak menghindarkannya dari teror—yang kini sudah dianggap biasa olehnya. Kewaspadaannya membawa ia pada kedewasaan.

“Kami selalu menunggu saat kau akan memberitahu Taemin tentang keberadaan anaknya dan aku tak akan absen mengingatkanmu, Naeunnie.” Naeun menghela napas tanpa berbalik ketika mendengar suara tantenya menggema di belakangnya.

“Kenapa kami harus dinikahkan?” Youngra atau lebih senang dipanggil Elle terkejut mendengar pertanyaan barusan dilontarkan oleh keponakannya.

“Karena perjanjian kakekmu dan kakek Taemin…”

“Aku terlalu tua untuk dibohongi, Ahjumma.” Naeun akhirnya membalikkan tubuh dan Elle bisa melihat jelas tatapan sakit hati itu menguasai mata Naeun yang biasanya teduh. “Jika saja kalian tidak pernah menikahkan kami, ini semua tidak akan terjadi.”

“Aku selalu mengharapkan pernikahanku kelak dihadiri banyak orang—sahabat-sahabat, keluarga besar—dan berlangsung dengan wedding dress impian, juga terjadi ketika aku sudah siap. Tapi apa kenyataannya? Pernikahan kami berlangsung ketika kami masih di bawah umur, disaksikan hanya oleh orang tua masing-masing, di rumah pula. Tanpa perayaan apapun.” Son Naeun terdiam sejenak, tenggorokannya seolah tercekat. Inilah pikirannya yang paling kuat, “…dan kami tidak saling mencintai.”

Elle tidak berkedip mendengar pernyataan Naeun. Merasa bodoh karena baru menyadari betapa menderitanya sang keponakan karena urusan ini.

“Kami tidak bisa memberitahumu dulu, Naeun. Setidaknya tidak dalam situasi seperti ini,” ujar Elle setengah bergumam. Kedua tangannya dilipat di depan dada. “Kau ingat putraku? Sudah berapa tahun dia menghilang dari pelukanku, Naeun? Belasan tahun. Aku tidak tahu dia ada di mana. Sosokmu sedikit banyak mengingatkanku padanya. Kadang dingin, kadang hangat. Satu lagi, pikiran kalian itu sama-sama susah ditebak.” Elle mendekati Naeun dan merangkul keponakannya.

“Aku ragu dia masih hidup.”

Elle tertawa mendengar perkataan Naeun yang terdengar sadis, “Instingku mengatakan ia masih hidup. Di suatu tempat.”

“Lalu kenapa kau dan Ahjussi tidak mencarinya lagi?”

“Karena kami yakin Tuhan akan membawanya kepada kami…” Suara Elle bergetar, matanya berkaca—teringat akan putra satu-satunya yang menghilang belasan tahun tanpa kabar yang jelas. Naeun mendaratkan tangan di bahu Elle, memberinya kekuatan.

“Jadi, kapan kau akan kembali ke Seoul dan mengatakan sejujurnya pada Taemin? Masalah ini harus diselesaikan bersama. Kau menyadarinya, kan?”

Son Naeun mengangguk, lalu melangkah menjauhi Elle hingga berhenti tepat di dekat perapian. Tangannya mengambil sebuah bingkai foto kecil di atas sana—foto remaja lelaki tanggung yang tersenyum begitu tulus, di sudut foto tertulis dengan jelas namanya.

“Dalam waktu dekat,” balas Naeun santai. Dan aku berharap Ahn Myungsoo akan kembali padamu dan ahjussi, doa Naeun tulus di dalam hati.

*

Pink Paradise, konser pertama A-Pink itu akan dimulai dalam beberapa hari lagi. Antusias Pink Panda begitu besar, namun tidak sedikit yang merasakan kesedihan karena A-Pink akan perform tanpa Son Naeun yang sudah dikatakan vakum dan tidak jelas nasib keberadaannya di A-Pink akan bagaimana. Kehadiran sang visual sangat dirindukan, sama seperti Hong Yookyung yang tidak akan pernah dilupakan.

Sebenarnya kelima member A-Pink merasakan hal serupa, bagaimanapun ini konser pertama mereka—momen yang sangat ditunggu-tunggu. Namun, bersikap profesional, mereka terus melakukan latihan-latihan serta persiapan lainnya untuk menyiapkan konser ini secara sempurna.

Maka tidak heran jika pagi itu, bahkan ketika matahari belum benar-benar keluar, kelimanya sudah berlatih di ruangan latihan—masih memakai make-up sisa schedule semalam yang menghabiskan waktu hingga jam dua pagi. Mereka hanya beristirahat sebentar, lalu kembali latihan sekarang.

“Aku membawakan kalian jjangmyeon sekalian sarapan. Istirahatlah, kalian sudah berlatih terlalu lama.” Manajer oppa membawakan beberapa box makanan yang sudah menguarkan harum jjangmyeon. Pasti masih panas.

Gomawo, Oppaaa~!”

Oppa jjang!

Sang manajer tertawa mendengar reaksi anak-anak didiknya, lantas keluar dari ruang latihan meninggalkan kelima gadis cantik itu bersama jjangmyeon yang detik berikutnya sudah mulai dipindahkan ke perut masing-masing.

Kelimanya duduk bersila, membentuk lingkaran. Di tengah-tengah dihamparkan kantung plastik bekas jjangmyeon serta lima botol air minum berbagai jenis. Di sudut ruangan, lagu ‘LUV’ mereka masih bersenandung.

Bomi menyuapkan jjangmyeon memakai sumpit, lalu bergoyang mengikuti irama lagunya.

“Aku merindukan Yookyung.”

Mideul suga eobseo hancham jinabeorin uri yaegi~ Suara Naeun menggema di ruangan itu.

“Juga Naeun.”

Bomi melirik Namjoo yang baru saja berkata sambil menaruh box-nya di depan kaki. Mereka berempat menyahuti ucapan Namjoo dengan anggukan dan gumaman setuju.

“Aku jadi takut. Kita bertujuh, lalu berenam, dan sekarang berlima.” Hayoung membuka tutup botolnya dan meneguk isinya.

Chorong yang duduk di sebelahnya lantas menaruh tangan di atas bahu sang maknae, menatapnya dengan tatapan tenang, “Tidak akan terjadi apa-apa dengan Naeun. Ia akan kembali. Setelah bayinya lahir dan keadaan stabil.”

“Entah apa yang akan dilakukan Naeun untuk menyembunyikan anaknya dari publik, terutama Taemin—ayah anaknya sendiri,” ucap Eunji seolah menyadarkan keempat yang lainnya dengan masalah berat Naeun.

“Jalan pikiran Naeun sulit dimengerti,” komentar Bomi yang paling pertama menghabiskan jjangmyeon, lalu ditatap keempat temannya jenaka, “Apa? Aku lapar!”

Chorong tertawa kecil, lalu berubah serius di detik berikutnya.

“Percayalah pada Naeun. Dia lebih tahu dibanding kita.”

Setelah perkataan sang leader yang penuh penekanan, yang lainnya seolah mengerti untuk tidak melanjutkan lagi pembahasan itu dan memilih membahas hal lain hingga semua jjangmyeon benar-benar habis.

Mereka memutuskan untuk free-time sejenak di dalam ruang latihan.

Keempatnya menghambur.

Chorong yang sibuk dengan laptop di pangkuan, tampak serius menatap layarnya. Bomi yang berlatih sendirian di depan kaca. Eunji yang menyanyi sambil menyumbatkan headset di telinga. Kedua gadis termuda yang asyik membicarakan sesuatu.

Jarum jam pada satu-satunya jam dinding di ruangan itu sudah berputar berkali-kali dengan atmosfir ruangan yang sama. Atmosfir penuh persahabatan dengan sedikit perasaan ‘kehilangan’, hingga suara memekik Chorong mengubah pagi itu menjadi kelabu.

“Ada apa? Ada apa?” Eunji, Namjoo dan Hayoung berlari menghampiri Chorong di sudut ruangan, sementara Bomi mematikan dulu lagu Fairytale Love dari tape-nya baru menghampiri Chorong.

“Ada apa?” Hayoung panik melihat wajah pucat Chorong, namun tidak butuh waktu lama bagi Hayoung mengetahui apa yang membuat Chorong panik—karena ia kini sama paniknya, begitupun Namjoo, Eunji, dan Bomi.

A-Pink Son Naeun dan SHINee Lee Taemin telah menikah diam-diam selama beberapa tahun terakhir? Dilansir dari kpopall.com, bukti yang kuat telah beredar di internet. Selembar bukti pernikahan kedua public figure, beberapa foto-foto, semuanya termuat di dalam sebuah blog yang misterius. Berikut adalah beberapa yang disadur langsung dari sumber.

Kelima gadis itu menganga melihat sederetan foto, terutama foto-foto candid pernikahan Taemin dan Naeun. Taemin dan Naeun terlihat sangat muda di situ, benar-benar masih kanak-kanak.

“Surat pernikahannya bukan resmi dari pemerintah? Itu buatan setempat, ya?” komentar polos Hayoung membuat keempat eonnie-nya melotot kesal. “Uh, maaf…”

“Kau pikir  boleh menikah di bawah umur oleh pemerintah, huh? Itulah kenapa mereka bisa menikah semuda itu, mereka tidak mendaftarkannya secara resmi. Surat yang dibuat hanya sebagai pengikat.”

“Darimana kau tahu, Eunji?” Bomi terkejut.

“Naeun cerita sendiri.”

“Sudahlah! Kalian ini,” seru Chorong mulai sadar akan keadaan yang terjadi. “Ini bahaya besar. Bukan hanya bagi Naeun dan Taemin, tapi bagi kita juga!” Cepat-cepat Chorong mengecek keadaan media sosial serta fancafe mereka.

Dan mimpi buruk itu—perlahan tapi pasti—terjadi di depan mata mereka dengan sangat cepat.

*

“Kau mau mengajakku ke mana? Aku ada schedule dalam waktu sekitar satu jam dan—“

“Ssst, Taemin oppa. Kau akan tahu kenapa.”

Krystal Jung menyetir dengan tenang, namun memasang wajah panik—panik yang dibuat-buat.

Taemin tak mengerti. Tadi tiba-tiba saja gadis itu membawa mobilnya sendiri dan mencegahnya masuk bersama keempat hyung-nya ke dalam gedung KBS untuk mengisi Music Bank tepat saat ia baru turun dari van SHINee. Sekarang ia dibawa lari oleh Krystal ke luar Seoul.

“Kita mau ke mana, sih?” tanya Taemin bingung.

“Aku pun tak tahu. Hanya membawamu pergi sejauh mungkin dari Seoul untuk saat ini. Katakan kau mau ke mana.”

Meski masih bingung, Taemin melihat kesempatan, langsung mengatakan satu tujuan, “Gwangju.”

Krystal melotot, “Serius?”

“Kau yang membawaku kabur dan menanyakan tujuan. Kalau kau tanya, aku jawab ‘Gwangju’ karena—“

“Naeun.” Pegangan Krystal pada setir mengerat, buku-buku jemarinya memutih, namun ia cepat-cepat menyadarkan diri. “Kau tahu tidak itu jauh sekali ditempuh dengan mobil?”

“Kenapa kau membencinya?” Taemin tiba-tiba saja bertanya, tepat saat Krystal sudah bisa relaks. Pertanyaan Taemin tentu membuat Krystal berjengit kaget dan nyaris menabrak pembatas jalan. “Wow, wow, hati-hati!”

“Kau yang membuatku tak fokus!” gerutu Krystal.

“Jawab saja.”

Sialan memang anak ini. Krystal memaki dalam hati.

“Entahlah. Mungkin karena dia adalah istrimu?”

Sekarang giliran Taemin yang kena serangan jantung. Horor, pelan-pelan, Taemin menolehkan kepalanya pada Krystal yang tampak tenang. Taemin mendapati seringai itu—tipis, namun tajam.

“A-Apa katamu?”

“Cek saja di internet. Kau ketahuan sudah menikah, Oppa.” Krystal membalas mata bening Taemin yang kini dipenuhi berbagai gejolak. “Itulah kenapa aku membawamu lari. Menghindari kemungkinan buruk yang terjadi.”

“Kau tidak bohong, kan?”

Krystal tersenyum, lalu menginjak pedal gas lebih dalam, “Sekarang kita menghindar dari keramaian untuk sementara.”

*

Waktu. Hal paling aneh yang bisa menjungkir balikkan hidup manusia. Mirip seperti nasib dan takdir. Itulah yang ada di pikiran member A-Pink saat mereka sedang berkumpul dengan manajer mereka.

“Artikel konfirmasi sudah disebarkan oleh pihak kita.”

“Apa yang dikatakannya?”

“Kita tak tahu apa-apa dan mengatakan Naeun murni mau melanjutkan pendidikan.”

“Bukankah itu akan semakin mengundang kemarahan?”

“Kami mengatakan bukti-bukti itu bisa saja benar, bisa saja salah. Saat ini setidaknya kita harus menunggu Naeun kembali. Hanya dia yang bisa menyelesaikan ini.” Manajer mereka menghela napas frustasi, namun berusaha tegar di depan A-Pink.

“Taemin. Jangan lupakan dia.”

“Seharian ini dia tak bisa dihubungi. Manajernya bilang ia menghilang sesaat setelah SHINee turun dari van di depan KBS.”

“Arrrgh, kenapa pakai menghilang segala?!” Eunji mengerang frustasi. Kesal sendiri dengan segala yang terjadi kepada mereka, terutama Naeun.

“Dan ada kabar buruk lagi, Girls. Aku tak akan menyembunyikannya.”

Bomi yang daritadi terlihat paling tenang melirik sang manajer diikuti keempat lainnya.

“Konser kalian terancam batal. Banyak tiket yang sudah habis dijual telah dikembalikan. Kalian bisa melanjutkannya selama masih ada fans yang loyal dan mendukung. Bagaimanapun ada pro dan kontra di media massa. Ada fans yang berubah jadi anti dan ada fans tetap mendukung, bahkan ada juga yang mendukung pernikahan Naeun dan Taemin. Tapi kami tak mau ambil resiko jika ada yang terjadi pada kalian. Ini masalah serius.”

Kontan mereka terdiam. Kekecewaan jelas tergambar di wajah. Sedih, putus asa. Konser pertama mereka, konser impian mereka yang tinggal hitung hari.

Mereka menghabiskan sisa waktu dalam diam. Keadaan benar-benar menjadi kacau dan melelahkan. Namjoo dan Chorong fokus memerhatikan perkembangan media sosial selama mereka melakukan kegiatan hari itu—yang entah kenapa jadi penuh ketakutan karena saat akan meninggalkan gedung Cube tadi pagi, ban mobil van mereka tiba-tiba pecah saat baru berjalan sedikit. Untung tidak di saat mobil melaju kencang.

Sementara itu di media sosial segalanya terbentuk. Kubu yang membela A-Pink dan Naeun, kubu netral, dan yang paling panas—kubu pembenci.

*

“Son Naeun! Pulang sekarang juga!” Naeun menjauhkan telinganya dari telepon interlokal yang dilakukannya bersama sang ibu saat baru bangun tidur. Wajah setengah mengantuk itu berganti menjadi setengah panik mendengar nada bicara ibunya yang terdengar mengkhawatirkan, tapi ia masih sempat tersenyum sambil mengelus perutnya yang sudah besar. Merasakan kehangatan bayinya dari sana.

“Kenapa, Eomma? Ada apa?” Naeun berdiri, mendekat ke arah jendela. Sambil menyingkap tirai tipisnya, ia memicingkan mata akan sinar pagi yang memasuki matanya. “Di sana sudah siang, kan?”

“Pernikahanmu terbongkar di publik.” Pernyataan ibunya terdengar frustasi dan tak menjawab pertanyaan tak perlu dari putrinya. “Lebih baik kau cek melalui internet, Naeun!”

Kesadaran Naeun terisi penuh, “Apa?!”

Pembicaraan itu berakhir beberapa menit kemudian. Perempuan itu meluncur ke tempat tidur dan menyambar laptopnya agak terburu-buru. Tak butuh waktu lama bagi Naeun mencari informasi, menit berikutnya sudah banyak jendela tab yang dibukanya di browser. Semua bertema sama.

Pernikahannya dengan Taemin.

Ia menggeram marah. Surat fotokopian pernikahannya, foto-fotonya dengan Taemin, artikel yang dibuat oleh seorang blogger ber-usernama ‘virtualbreaker7’… ketiganya membuat amarah Naeun memuncak.

Tak lagi membuang waktu, Naeun menutup laptopnya dan membenahi benda itu. Ia bersandar pada sandaran tempat tidur. Menatap lurus ke arah langit yang terlihat dari posisinya sekarang.

Hatinya mencelos. Percuma saja ia lari. Ia tak bisa melindungi Taemin dari hal ini. Melindungi dirinya.

Dan sekarang… anaknya pun dalam ancaman jika ia kembali ke Seoul.

Tapi, apakah bijaksana jika ia tetap bersembunyi di sini sementara di Seoul teman-teman satu grupnya berkorban banyak karenanya?

Tangan Naeun mendarat di atas perutnya lagi. Tiba-tiba saja perasaannya menghangat. Ketenangan yang luar biasa ketika menyentuh anaknya yang belum lahir. Ia menatapnya. Teringat akan perut datarnya yang sedang pergi berlibur hingga anaknya lahir.

Teringat akan ayah anaknya.

Teringat akan kisah konyol ini.

“Maafkan eomma, Nak, tidak bisa menjadi pelindung yang baik…”

Sebutir air mata jatuh.

*

“Taemin, kami tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan. Pembelaan saja tidak cukup, selain mengakuinya dan membuat beberapa perubahan skenario. Popularitasmu turun dan membanting popularitas SHINee, Taemin. Ini tidak bisa dibiarkan karena saham kami ikut anjlok. Maafkan aku, bukan bermaksud ingin menyelamatkan SM dengan melakukan ini padamu, tapi ini demi kebaikan juga.” Pria itu menghela napas sambil menatap kasihan pada Taemin.

Hari ketiga setelah menyebarnya skandal yang luar biasa itu di tengah-tengah netizens. Lee Taemin akhirnya berhadapan dengan Lee Soo Man.

“Lalu, aku harus bagaimana?” Taemin menunduk frustasi.

Soo Man menatap puncak kepala Taemin yang terlihat karena sedang menunduk, dengan tatapan hangat seperti seorang ayah. Ia teringat saat pertama kali melihat Taemin dalam seleksi masuk sebagai trainee SM. Betapa pemalunya anak ini dan lihatlah dia sekarang. Percaya diri kuat. Taemin yang berbeda.

Tidak disangka sudah memiliki istri juga.

Soo Man tak mau mengungkit itu karena tahu itu urusan Taemin yang terlalu pribadi, jadi ia menghela napas, “Kau mencintai istrimu?”

Mendengar Soo Man memanggil Naeun dengan ‘istrimu’, Taemin mendongak. Belum pernah ada yang benar-benar mengatakan Naeun dengan panggilan ‘istri’ di hadapannya. Mendengar itu dari Soo Man membuat sesuatu dalam diri Taemin—entah bagaimana—tergugah, tergugah untuk mencari perempuan itu dan memintanya untuk bersama, selamanya.

“Taemin?”

“Ah!” Taemin terkejut, kemudian memegangi tengkuknya. “…entahlah, Sajangnim…

“Sudah kukatakan, anak-anak didikku tidak usah memanggilku ‘sajangnim’!” Soo Man tertawa, mau tidak mau membuat Taemin tersenyum. “Panggil saja ‘ahjussi’ tanpa ragu!”

Inilah kenapa Soo Man adalah favorit artis SM dibandingkan CEO SM lainnya.

“Lalu bagaimana dengan Krystal?”

“Aku tak mau membahasnya, Sa—ahjussi.

Soo Man terenyak. Ia baru menyadari, sepertinya masalah mereka lebih dari sekadar popularitas—namun lebih dalam lagi dan celakanya, menyangkut salah satu artis SM lainnya, Krystal yang juga akhir-akhir ini jadi pemberitaan karena statusnya sebagai ‘kekasih’ Taemin.

Image-mu di mata netizens sudah jelek. Kau dicap tukang selingkuh dan mempermainkan wanita, kau di-bash oleh banyak orang. Bagaimana kau bisa tetap seteguh dan sekuat ini, Anak Muda?”

“Aku?” tunjuk Taemin pada diri sendiri dengan telunjuknya. “Teguh dan kuat? Aku frustasi!”

“Aku melihat ketegaran itu,” balas Soo Man tegas. “Kau tahu, Taemin? Kekuatan dan ketegaran seorang pria berikatan langsung dengan wanitanya. Wanitanya seperti sumber energi dan sang pria adalah sumber pelindung. Saling melengkapi. Kurasa kau tegar karena cintamu pada Naeun dan Naeun padamu.”

Tidak ada yang bisa dilakukan Taemin selain membiarkan air matanya mengalir di depan CEO utama SM Entertainment itu. Rahangnya mengeras. Hatinya hancur.

Seandainya waktu bisa diulang.

*

“Bagaimana hasil kerjaku? Bagus, bukan?”

“Tapi aku juga terseret.”

“Tenang saja, Krystal. Kau di sini adalah pihak yang ‘tersakiti’, kan? Tidak akan ada yang menyalahkanmu. Semua menyalahkan Taemin dan Naeun.”

“Tapi aku masih tak mengerti kenapa kau melakukannya? Kau sendiri kena efeknya, kan? Bahkan kurasa lebih parah lagi.”

“Tak masalah bagiku.” Suara itu terdengar tenang. “I’m the bodyguard, aren’t I? Aku sudah pernah bilang bahwa aku seorang ‘bodyguard’ satu-satunya bodyguard wanita dari seorang bandar kokain bernama besar Korea Selatan, kan? Menjadi bodyguard dari bandar kokain harus lebih kuat dari mafia manapun. Aku tidak takut. Kekuatanku lebih besar dibanding mereka.”

“Ya, you’re the one.

*

‘Kami kecewa. Kami tidak menyangka akan begini akhirnya. Maka dari itu, mulai hari ini kami menyatakan akan menutup fansite ini.’

Jung Eunji menatap pucat pasi ke arah laptop. Tidak ada yang menyadari itu karena selain posisi mereka yang berada di dalam mobil menuju ke gedung Cube, member lain dan manajer mereka sedang sibuk membicarakan masalah ini.

“Jumlah fansite A-Pink menurun drastis. Mereka tutup, bahkan sebagian berubah menjadi hatersite A-Pink. Banyak album yang dikembalikan, bahkan dibakar.” Suara sang manajer terdengar di antara sayup-sayup suara kendaraan. “Dan keputusan Seung-sung sajangnim sudah final. Konser kalian dibatalkan.”

Sergahan kecewa dan frustasi menguap di dalam mobil.

“Apakah sedashyat itu?”

“Ya, sedashyat itu.” Manajer mereka melepaskan seatbelt karena mobil sudah berhenti di depan gedung Cube. “Bahkan saham perusahaan kalian menurun drastis, benar-benar drastis. Kabarnya hari ini, Nyonya Kyung-ah—pemegang saham terbesar perusahaan ini akan datang bertemu dengan CEO kita.”

“Siapa dia?” tanya Chorong mengerutkan kening.

“Dia pemegang saham terbesar, pengendali perusahaan kalian yang sebenarnya.”

Eunji tidak berkomentar. Masih sibuk memikirkan perkataan sadis yang ditulis salah satu fansite A-Pink yang shut down tadi.

Apakah impian mereka akan hancur? Betapa waktu adalah bom.

“Mana Son Naeun?! Dia harus bicara!” A-Pink menghela napas berat ketika baru turun dari mobil telah disambut oleh teriakan beberapa fans yang termasuk ke dalam golongan ‘berubah haluan’ dan di antaranya ada sasaeng fans. Manajer mereka terus menggiring A-Pink sementara security terus mencegah agar para orang anarkis itu tidak akan mencelakakan A-Pink.

Tiba-tiba dari arah belakang, sebuah sebongkah batu sebesar kepalan tangan anak-anak melayang bebas melewati security.

Jung Eunji yang berjalan paling belakang tidak menyadarinya, hingga benda itu mengenai bagian ubun-ubun Eunji. Begitu keras dan tajam.

Eunji menjerit kesakitan, tubuhnya limbung dan terjatuh. Sontak para member A-Pink dan manajer mereka menghampiri Eunji dan membantunya berdiri. Pandangan Eunji jadi kabur, berkunang-kunang, kepalanya sakit luar biasa.

Tertatih, ia mencoba berlari mengikuti ritme lari teman-temannya yang juga menyesuaikan diri.

“Eunji! Kau tak apa-apa?” seru Chorong panik ketika mereka sudah sampai di lobby gedung Cube dan mendudukkan Eunji di sofa yang tersedia untuk tamu. “Kepalamu berdarah!”

“Sebentar!” Bomi merogoh tasnya, merasa bersyukur hari ini membawa kotak P3K.

“Kepalaku sakit sekali, untung aku tidak pingsan, ajaib…” keluh Eunji mulai menjernihkan pandangannya yang sempat nyaris hilang.

“Mereka telah berlebihan karena melempari kita batu seperti ini!” Hayoung duduk di sebelah Eunji yang masih tergeletak lemas di sofa. Sang maknae tampak frustasi. Di saat-saat seperti ini justru Bomi—yang sedang membantu manajernya mengobati luka Eunji—dan Namjoo yang tampak tenang walau kekhawatiran terbaca di muka mereka.

“Mungkin kita memang harus bubar…” Bahkan Chorong pun putus asa.

“Chorong eonni, apa yang baru kau katakan?!” seru Namjoo kesal.

“Kau tak tahu? Banyak orang meminta kita bubar saja karena dianggap menyembunyikan Naeun dan faktanya! Kita dianggap pembohong. Kita sudah dibuang. Kalau membubarkan diri bisa meredam konflik, kita menyelamatkan satu keluarga.” Ketika semua menatapnya, Chorong melanjutkan, “Taemin, Naeun, dan anak mereka.”

“Semua karena mereka!” pekik Hayoung frustasi. “Kalau Naeun eonni tidak pergi begitu saja meninggalkan masalahnya pada kita, kita tidak akan begini!” Kemudian ia menangis, antara kesal dan marah serta sedih karena baru menyalahkan Naeun.

Bomi menghampiri Hayoung dan merangkulnya.

Chorong melembutkan pandangan seriusnya, “Hayoung-ah, Naeun adalah keluarga kita. Taemin adalah suaminya dan otomatis dia keluarga kita juga. Apakah begini sikap keluarga kepada anggota keluarganya? Kita sudah saling lama mengenal, Hayoung-ah. Apa kau mau menyerah begitu saja?”

“Kau juga, Eonni! Kau mau membubarkan diri, bukankah itu menyerah?”

“Itu berkorban namanya,” balas Chorong tenang. Semuanya terdiam. Wibawa Chorong sebagai leader memang berkata bahwa ia harus didengarkan. “Kita bisa berdiri bersama menopang Naeun dan Taemin. Kita ini satu keluarga. Sudah kewajiban bagi keluarga untuk saling melindungi, meskipun dengan cara menyakitkan…”

Park Chorong mengalihkan pandangan ke luar jendela besar di lobby, menatap kumpulan fans yang berubah haluan itu dengan sedih. Matanya berkaca-kaca, menahan tangis pecah di hadapan teman-temannya.

“Benar kata Chorong noona.

Oh, so drama. Kim Myungsoo tiba-tiba hadir di tengah-tengah mereka. Ia baru saja masuk dari pintu belakang gedung.

“Kenapa kau ke sini?” tanya Bomi curiga.

“Memberi dukungan pada kalian. Memangnya salah?” tanya Myungsoo balik, tajam. Bomi terkejut pada reaksi Myungsoo kepadanya. Tidak biasanya.

“Terimakasih atas dukunganmu, Myungsoo-ssi.” Manajer mereka buka mulut.

“Tidak masalah, Hyung… aku tidak menyangka ini akan terjadi secepat ini. Maksudku, astaga, siapa orang-orang tega itu? Orang yang berhasil menghancurkan hidup kalian?” Kim Myungsoo bergabung dengan A-Pink, duduk di sebelah Hayoung. Ia ingin sekali mengatakan kebenaran yang diketahuinya dari Krystal, namun ditahannya karena ia tidak ingin menghancurkan A-Pink semakin dalam jika memberitahu sekarang.

“Aku dan Dayeon mencoba mencari celah untuk meredam skandal ini, tapi karena efeknya sudah terlalu dashyat…” Myungsoo melirik ke arah kaca. “…kurasa Taemin dan Naeun harus menyelesaikannya sendiri. Bagaimanapun mereka harus menyelesaikannya, dan kita mendukung mereka. Kita bukan inti, kita tidak bisa menyelesaikan masalah yang bukan masalah kita dengan mudah.”

Perkataan Myungsoo sangat benar bagi mereka semua. Memang rasa solidaritas sebesar apapun dan drama yang dibumbui rasa persahabatan tak akan mampu dan cukup menolong Taemin-Naeun, mereka harus menolong diri mereka sendiri juga.

Baru saja Bomi hendak menimpali, ia berhenti berkata karena perhatiannya dan juga A-Pink, Myungsoo, serta sang manajer teralih pada pintu masuk yang terbuka. Atmosfir berubah drastis ketika seorang wanita berusia setengah abad dengan penampilan sederhana, namun meninggalkan kesan chic dan glamour melangkah anggun ke dalam. Di belakangnya, mengikut tiga bodyguard prianya.

“Nyonya Kyung-ah,” ujar manajer A-Pink pelan, membuat mereka menatap sang manajer sejenak lalu mengikuti ke mana Kyung-ah pergi. Ia menuju lift. “Pengendali Cube yang sebenarnya… ia orang kaya. Punya dua kapal pesiar, satu jet pribadi, mansion mewah di Eropa, dan rumah besar di Incheon.”

Kyung-ah memang superior. Awet muda. Cantik. Berwibawa. Blazer merah, sepatu merah, dan aksesoris merah seolah memperkuat power-nya. Ketika ia dan para bodyguard prianya masuk ke lift, Kyung-ah membuka kacamata hitamnya.

Menatap tepat ke arah mata Bomi karena posisi mereka memang satu garis. Tatapan Kyung-ah begitu tajam. Sangat tajam hingga lift menutup. Bomi langsung merinding ngeri.

“Mengerikan.”

*

“Lee Taemin…” Lee Jinki memeluk sang maknae erat-erat, memberikan kekuatan kepadanya. Mereka baru saja menyelesaikan schedule, namun tanpa Taemin. Ia menunggu di ruang ganti.

“Para wartawan itu sudah meninggalkan gedung ini belum?” tanya Taemin sesaat setelah Jinki melepaskan pelukannya dan Jonghyun, Minho, serta Key mengatakan kata-kata penyemangat.

“Belum. Sepertinya kita harus keluar dengan trik.” Jinki membuka box makanan. Bisa ditebak apa yang dikeluarkannya. Sebuah paha ayam yang masih panas. Key melotot kesal pada hyung-nya yang benar-benar tidak tahu situasi. “Apa, Key? Aku lapar! Untuk membela Taemin perlu mengisi amunisi!”

Keempat dongsaeng Jinki itu menatapnya dengan tatapan pasrah.

“Jadi, apa rencanamu?”

“Entah, Jonghyun hyung. Aku bahkan tidak bisa menghubungi Naeun…”

Minho duduk di sebelah Taemin, “Aku masih tak menyangka kau menikah dengan Naeun. Aku mau bilang chukkae, walau sudah bertahun-tahun terlambat mengucapkan.” Ia tertawa.

Taemin tersenyum lemah.

“Bagaimana Krystal?” tanya Key, membuat Jinki melirik Taemin penuh arti. Jinki nyaris terkekeh jika saja tidak ingat situasinya sedang serius.

Krystal. Taemin baru ingat, Krystal menghilang juga akhir-akhir ini.

“Entah.. kontaknya tidak bisa di—“ Ucapan Taemin terhenti ketika matanya sedang menatap layar ponselnya yang tadi mata tiba-tiba menyala. Seseorang tak dikenal meneleponnya. Ia nyaris tak mau mengangkat ketika ingat, bisa saja itu Naeun, kan?

Yobosse—“

Oppa, ini Naeun!”

“Naeun?!”

Beberapa saat hanya hening di seberang sana, Taemin memberanikan diri bicara duluan. Tidak sanggup menahan rasa rindu yang membuncah di dadanya. Betapa ia merindukan suara ini, suara yang menjadi candu di malam hari dan kenangan di pagi hari selama beberapa bulan terakhir.

Betapa Taemin sangat khawatir akan Naeun, sangat merindukannya. Ia sekarang betul-betul sadar bahwa ia tak menganggap Naeun adik, namun sebagai wanita. Wanita miliknya.

Namun rasa bahagia dan speechless itu berakhir menjadi freeze ketika Naeun mengucapkan sesuatu yang tak disangka-sangka di seberang sana dengan suara seperti melawan isak tangis.

Kita hadapi bersama, ara? Dengan anak kita.”

Taemin mematung.

Ponselnya meluncur begitu saja dari genggamannya.

*

“Kenapa aku harus membubarkan mereka, Nyonya Kyung?” Seung-sung tampak tidak setuju. Wajahnya mengeras, namun tak bisa apa-apa karena wanita di hadapannya memegang kendali besar di Cube.

“Jika kau mau aku menyelamatkan Cube? Terserah, sih. Sahammu memang anjlok dan aku sebagai pemilik saham terbesar merugi paling besar. Kau pikir begitu? Hingga meragukan permintaanku? Dengar Seungsung-ssi, kekuatanku jauh lebih besar dari ini semua.”

“Baiklah.” Seung-sung membuang napasnya berat.

.

.

Eomma.

Kyung-ah memutar kursi kerjanya dari yang menghadap jendela langsung ke arah kebun rumahnya, menjadi ke arah pintu. Senyum tipisnya mengembang melihat perawakan seorang gadis yang sangat dikenalnya meski dalam balutan hoodie rapat dengan topeng Joker melekat di wajah.

“Kalau kau mau menyamar, jangan gunakan topeng mencolok begitu. Ini bukan Halloween, Sayang.” Kyung-ah bangkit berdiri, perlahan dan pasti, ia mendekati putrinya.

“Saham Cube sudah menurun. Bukankah itu yang eomma inginkan? Sebentar lagi Naeun dan Taemin juga mungkin akan bercerai. Bolehlah aku berhenti?” Di balik topengnya, sang putri berbicara dengan tegas—seolah ingin memutuskan sesuatu.

“Mengapa?” Suara ibunya terdengar mengerikan, namun tetap halus. “Kau merasa kasihan? Sejak kapan kau bisa merasa kasihan? Aku tak ingat pernah mendidikmu demikian, hmm?”

“Karena aku lebih manusiawi darimu, Eomma.” Tanpa nada gentar, ia mengatakan isi hatinya kepada sang ibu. “Aku sudah mengerjakan yang kau inginkan. Memancing Krystal untuk menambah kemungkinan berhasil, menyebarkan bukti-bukti pernikahan Taemin dan Naeun. Tapi lama-lama aku merasa…”

Telunjuk panjang ibunya menempel di bagian bibir topeng Joker, pegangan di bahu putrinya mengerat.

“Ssst, ssst… Tidak sekarang, Nak. Tidak di saat yang tepat. Permainan ini belum selesai, kau tahu itu.”

Jika ibunya sudah berkata demikian dengan nada rendah, tak ada yang bisa dilakukan olehnya untuk membantah. Akhirnya ia hanya meloloskan satu tarikan napas berat.

“Ahn Myungsoo sudah kukirimkan ke bandara Incheon. Inilah terakhir kali aku ikut campur.” Ia melepaskan pegangan ibunya dari bahunya, lantas berbalik menuju ke arah pintu. Langkahnya begitu berirama dan tegas.

“Kau tak mau bermain dengan ibumu sendiri, kan?” Kyung-ah tahu-tahu sudah memegang sebuah pistol yang dikeluarkannya dari balik laci meja. Topeng Joker itu berhenti di ambang pintu. Ia tersenyum kecil di balik topengnya.

“Bukankah aku seorang ‘bodyguard’?” Tanpa berbalik, ia melepaskan topengnya, menjatuhkan benda itu di dekat kakinya sebelum melangkah menjauhi pintu dengan pasti. Kyung-ah tersenyum, menarik pelatuk pistol itu.

DOR!

Lubang sebesar pelurunya terbentuk di sebuah figura besar di dinding kamar kerjanya. Figura berisi foto keluarganya, tepat di dahi seorang pria.

*

Bandara Incheon. Pagi menjelang siang. Beberapa minggu kemudian.

Son Naeun yang baru saja turun dari pesawat tidak memedulikan tatapan orang-orang yang tiba-tiba saja jadi teralih kepadanya. Mereka—baik yang fans atau non-fans—terlihat begitu serius dengan keberadaannya, namun sikapnya acuh tak acuh. Naeun bersyukur akan hal itu.

Mungkin mereka melihat perut Naeun yang beberapa bulan lalu dikabarkan vakum masih dengan perut rata. Sekali lagi, Naeun tak peduli.

Waktu, sekali lagi menjadi penentu. Naeun menyempatkan diri untuk duduk karena perutnya yang besar telah membuatnya cepat lelah akhir-akhir ini. Ia menghela napas berat. Tahu akan apa yang menanti di hari-hari ke depannya.

Hiruk pikuk di Bandara Incheon sama saja seperti kebanyakan bandara. Ribuan pasang kaki bolak-balik di sini, mengikuti ritme metropolitan yang dinamis.

Saking lelahnya ia tidak menyadari, dari sekian pasang mata yang menatapnya dengan berbagai pandangan, ada satu pasang mata yang menatapnya sejak turun dari pesawat hingga duduk seperti ini. Tatapannya tak terbaca.

Satu hal yang pasti dari pemuda berwajah dingin dengan topi hitam di kepalanya itu adalah, sesuatu mengarah ke arah Naeun di balik koran yang ditata sedemikian rupa olehnya. Jika benda itu ditarik pelatuknya, entah bagaimana nasib Naeun setelahnya. Benda yang bisa lolos dari pemeriksaan ketika ia masuk. Luar biasa.

Ketika ia hendak menariknya, Naeun menoleh. Tepat ke arahnya. Pria itu sempat tertegun. Ia mengira ketahuan, namun tidak. Naeun hanya melihat sebentar, lalu cuek lagi. Tapi yang berubah justru dirinya. Ia jadi ragu untuk melakukan hal itu. Jarinya yang sudah siaga menarik pelatuknya bergerak maju-mundur, dan tetap tak menyentuh permukaan pelatuknya sedikitpun.

Naeun sendiri tidak merasa terancam. Ia santai saja mengipasi diri dengan jari-jarinya, mengerucutkan bibir, bahkan memikirkan masa depannya.

Hingga Naeun memutuskan pergi dari sana, pemuda itu diam. Membiarkan targetnya pergi menjauhinya ke arah pintu keluar. Ia hanya mengikuti punggungnya, tak bergerak untuk mengikuti hingga Naeun menghilang dari pandangan.

Napasnya mencelos. Ia membanting dirinya sendiri di sandaran kursi.

*

Di ruangan itu, hanya ada beberapa orang. Hong Seung-sung—sang CEO, manajer-manajer A-Pink, dan A-Pink sendiri. Suasana begitu tegang, terlebih karena masing-masing di ruangan itu sudah mengerti apa yang akan dibicarakan CEO mereka.

Seung-sung memerhatikan satu persatu wajah kelima gadis itu. Ia tahu perjuangan mereka selama menjadi trainee. Bagaimana mereka begitu bersemangat untuk meraih mimpi dan sebentar lagi mimpi yang sudah diraih itu akan direnggut paksa, seperti mimpi pada umumnya—menguap ketika mata membuka.

Ia tak bisa berbuat apa-apa, padahal ia tahu ia punya kekuatan. Ia yang mendirikan Cube, termasuk A-Cube, anak perusahaan yang menaungi A-Pink. Sayangnya, Kyung-ah memegang saham terbesar pada Cube—induk perusahaan—yang membuatnya bisa mengambil resiko jauh lebih besar bahkan pada artis Cube seperti 4minute, B2ST, G.NA, Rain dengan anak-anak asuhan A-Cube lainnya, bukan hanya artis dari A-Pink saja. Resiko itu tak mungkin diambilnya, ia tak mau mengambil lebih banyak mimpi mereka.

“Saya rasa kalian semua sudah tahu apa yang akan dibicarakan di sini…”

“Kami mengerti, Sajangnim. Kami tidak akan menuntut apa-apa,” ucap Chorong tegar. Mewakili teman-temannya yang berdiam diri. “Lucunya, para wartawan itu sudah membubarkan kami melalui artikelnya. Jadi, kami sudah tidak terkejut akan keputusan Anda, Sajangnim. Kami sudah memersiapkan diri.”

“Tidak salah kau dipilih menjadi leader, Park Chorong.” Seung-sung tersenyum, merasa sedih melihat ketegaran Chorong—sekaligus bangga. “Maaf, saya telah berusaha menyelamatkan kalian, tapi… tidak bisa. Tidak hanya kalian yang akan kena jika keputusan ini tidak dibuat segera. Ini sudah beberapa minggu berlalu. Popularitas kalian sudah sangat menurun. Keadaan kalian sudah dalam taruhan.”

Di luar ruangan besar tersebut, seorang gadis melangkah dengan percaya diri menuju ke arahnya. Rambutnya yang agak berantakan sudah ia rapikan lagi. Seseorang mengekor di belakangnya.

“Aku tak menyangka kau kembali hari ini, Naeun.” Kim Myungsoo yang rupanya datang lagi ke sini untuk mendukung A-Pink. Ia benar-benar kaget. Sekaligus senang. “Bagaimana kabarmu dan anakmu?”

“Kabarku seburuk kabar A-Pink dan kabar anakku baik saja, Oppa.” Naeun tersenyum manis. Terlihat tanpa beban. Itu yang membuat Myungsoo terkejut.

“Bagaimana reaksi sasaeng di luar? Jumlah mereka sudah jauh berkurang daripada hari-hari pertama masalah ini menguar. Kau melewati mereka?”

“Tidak ada alasan untuk menghindari masalah lagi, Oppa.” Naeun menghentikan langkahnya di dekat sebuah meja. Ia tertarik pada sebuah koran yang dibiarkan tergeletak begitu saja. “Aku sudah lari terlalu lama. Aku yang memulai semuanya. Aku yang akan menyelesaikannya.”

Myungsoo terperangah. Betapa beberapa bulan masa ‘pengasingan diri’ seorang Naeun telah mengubahnya.

“Orang ini harus dilawan, Oppa.

Myungsoo mengerutkan kening.

virtualbreaker7. Orang itu.” Naeun mengulanginya lebih jelas. Myungsoo mengangguk-angguk.

“Jangan masuk, Naeun. Mereka masih rapat.” Myungsoo memeringatkan Naeun yang seperti baru sadar ia tidak bisa seenaknya nyelonong masuk. Jadi ia menunggu di seberang pintunya, duduk di sana ditemani Myungsoo. Sementara beberapa pegawai Cube yang melewati dan melihatnya menyapanya senang. Bahkan beberapa artis Cube dan A-Cube yang hari itu entah mengapa ada di sana, sempat temu kangen dan support dengannya. Ada yang menanyakan soal anaknya dan hubungan dengan Taemin.

Naeun terkejut. Terkejut karena dirinya bisa setenang itu.

“Lama sekali,” gerutu Naeun sambil membuka koran yang diambilnya dan melotot kesal ketika membaca headline news koran gosip itu.

A-Pink Terancam Bubar, Reaksi Anda?

Sial.

Pintu terbuka. Seung-sung keluar dari sana dengan muka frustasi, namun berganti jadi cerah ketika melihat Naeun tengah menatapnya. Naeun berdiri, membungkuk hormat pada Seung-sung.

Aigooo, lihat! Sebentar lagi saya punya cucu dari anak didik saya, huh?” Ia tersenyum kepada calon ibu muda itu. Perasaan sedihnya sempat hilang, meski akhirnya kembali lagi karena ingat orang di depannya adalah masalah utama yang sedang hangat diperbincangkan.

“Beritanya sudah menyebar!” Myungsoo memegang ponsel. “Anda sudah memutuskan?”

“Ya, dan manajer kami sudah memberitahu bagiannya untuk update website kami. Ini keputusan berat, kau tahu?”

Mereka berbincang sebentar hingga akhirnya Seung-sung pergi meninggalkan mereka. Naeun masih asyik membaca berita yang diberitahu oleh Myungsoo, berita dari website resmi Cube.

A-PINK RESMI DIBUBARKAN. Para member akan melakukan solo career di kemudian hari. Terimakasih telah mendukung dan memberikan cinta kalian kepada kami. Kami meminta maaf atas segala kesalahan yang telah terjadi.

“Sedih sekali membaca ini,” gumam Naeun sambil mengembalikan ponsel Myungsoo dan memutuskan untuk masuk sekarang saja karena A-Pink dan manajer mereka tidak keluar juga.

Di dalam, keadaan begitu menyedihkan. Kelima member A-Pink yang membelakangi pintu bungkam dalam pikiran masing-masing. Semuanya menahan air mata yang hampir jatuh. Tiba-tiba merasa kesepian dan sendirian.

“Naeun, kau harus kembali,” ucap Chorong putus asa. “Ini menyedihkan sekali…” Ia meng­-scroll touch screen-nya, membaca berulangkali pengumuman resmi dari Cube. “Terimakasih atas kerjasama kalian selama menjadi A-Pink…” Ia akhirnya menoleh pada keempat member lainnya yang balas menatap.

Pandangan mereka begitu berat dan pedih.

“Aku sudah kembali.”

Semua yang ada di ruangan itu melotot dan saling berpandangan, kemudian menoleh. Mereka berteriak senang dan langsung berlarian memeluk Naeun erat.

Naeun terkejut. Ia kira akan mendapat penolakan dari mereka semua. Tidak tahunya mereka malah menangis di bahu satu sama lain, mau tak mau membuat Naeun ikut menangis.

“Maafkan aku, maafkan aku…” Naeun terus mengucapkannya tanpa henti.

“Kau tidak salah. Kita adalah keluarga. Saling menanggung.” Ucapan Hayoung membuat Naeun benar-benar menyesali tindakannya untuk kabur.

Aigooo, kita akan punya keponakan!” seru Bomi berusaha mencairkan suasana, sambil menyusut air matanya sendiri. Eye smile-nya tumbuh begitu lebar, meski ada kepahitan di sana.

Myungsoo tersenyum di ambang pintu, menyaksikan orang yang dicintainya memiliki teman-teman yang setia membuatnya lega.

Juga pastinya memiliki pendamping hidup yang mencintainya juga.

Perlahan, Myungsoo keluar dari sana. Menutup pintu di belakangnya sebelum menjauhinya.

*

Kepulangan Naeun tentu saja sudah menyebar ke media massa dan membuat netizens kembali panas. Mereka mulai melancarkan serangan dan bully bagi Naeun lewat media sosial. Betapa kejamnya media sosial. Menghakimi orang lain seolah mereka hakim yang suci dan benar.

Namun, Naeun tak peduli. Ia sudah banyak berubah sekarang.

Hari ini, sehari setelah kepulangannya, Naeun bersama A-Pink mempersiapkan diri di dorm mereka yang diberikan oleh Seung-sung secara cuma-cuma meskipun mereka sudah ‘bubar’ secara teknis—untuk konferensi pers malam ini bersama Taemin dan SHINee. Hari ini adalah konferensi pers yang besar. Naeun harus siap.

“Kapan kau akan melahirkan, Naeun?” Eunji penasaran.

“Dua bulan lagi mungkin?” balas Naeun santai. Ia baru selesai mempersiapkan diri dan tengah menyisir rambut panjangnya.

“Bagaimana rasanya hamil?” Namjoo mendekati Naeun dengan antusias.

“Rasanya seperti kau membawa sesuatu di dalam perutmu. Hahahaha.” Naeun tertawa renyah, mengundang iri teman-temannya yang melihat betapa bebasnya Naeun padahal ia orang yang sesungguhnya sedang bermasalah.

“Taemin!”

Naeun terkejut bukan main, Eunji dan Namjoo juga—ketika Bomi berseru dari arah pintu masuk. Ah, Taemin sudah datang.

Namjoo melirik jenaka pada Naeun, “Sudah siap bertemu suami?” godanya membuat wajah Naeun bersemu merah—tanpa disadari. Eunji hanya tersenyum melihat dongsaeng-nya.

Ia benar-benar jatuh cinta.

Taemin tersenyum kepada Bomi, lantas diantarkan masuk ke dalam setelah melepas sepatu. Ia menyapa dan disapa oleh Hayoung dan Chorong di ruang tengah sebelum akhirnya menuju ke arah kamar Naeun dan Eunji.

“Hai, Oppa!” Namjoo keluar dari pintu menghalangi jalan masuk Taemin. “Sudah siap melihat anakmu?

Mata Taemin membulat. Ia masih saja kaget mendengarnya. Ada perasaan aneh berputar-putar di hatinya. Rasa senang dan terharu.

Mwoya? Memangnya sudah lahir?” Wajahnya semeringah, penuh minat. Namjoo nyaris meledak dalam tawa ketika ia ingat bukan saatnya untuk tertawa. Lebih baik membiarkan mereka temu kangen dulu.

Pabboya!”

Suara Naeun dari balik tubuh Namjoo membuat Taemin terkesiap. Wajahnya jadi semakin terlihat bodoh. Namjoo tersenyum simpul, pelan-pelan mundur ke belakang hingga Naeun melangkah maju mendekati Taemin.

Taemin melihati Naeun. Terpaku di sana. Otaknya nyaris tidak sadar saking banyaknya data yang diolah di kepalanya.

Naeun di sini.

Naeun di depannya.

Naeun-nya kembali.

Naeun dan anaknya.

Taemin mengarahkan pandangannya pada perut Naeun, kemudian menatap lagi wajah cantik Naeun yang terlihat lebih bengkak daripada dulu. Ia merentangkan tangan, merengkuh Naeun dan anaknya ke dalam pelukan hangat. Tanpa kata dan tanpa basa-basi. Air matanya mengalir begitu saja, tumpah di atas puncak kepala Naeun.

Ia mencium puncak kepala istrinya begitu dalam. Mencoba menyelami tiap helai rambut Naeun dan merasakan kebahagiaan luar biasa membuncah di dadanya.

“Naeun, aku merindukanmu,” bisiknya bergetar. “Berbulan-bulan tanpamu menyakitkanku…”

Merasa itu privacy, kelima member A-Pink diam-diam pergi dari sana. Membiarkan mereka menumpahkan seluruh tangis dan kerinduan di depan kamar Eunji dan Naeun.

“Aku juga merindukanmu.” Naeun menghapus air matanya ketika pelukan Taemin sudah lepas. Taemin tersenyum simpul dan menghapuskan air mata Naeun dengan ibu jarinya. Kemudian tangannya turun menyentuh lembut anak di dalam kandungan Naeun. Tangannya bergetar, hatinya mencelos. Ia merasakan kehangatan yang aneh. Ia merasakan detak kehidupan anaknya. Darah dagingnya.

“Naeun, saranghaeyo…

Naeun hendak membuka mulut, namun dibungkamnya kembali kedua bagian bibirnya. Ia hanya membentuk senyum lebar, “Gomawo, Oppa…

Hati Taemin serasa tertohok mendengar pernyataan cintanya hanya dibalas ucapan terimakasih. Ia memandang Naeun pahit dan mengalihkan perhatian pada anaknya.

Tak perlu pernyataan cinta balik. Ia berpikir begitu.

Dengan adanya Naeun dan anaknya saja ia sudah bahagia. Ia yakin Naeun akan belajar mencintainya. Ia yakin.

*

Hiruk pikuk para kuli tinta dari berbagai media massa terasa begitu kental di ballroom yang besar itu. Seluruh kursi terisi penuh, bahkan ada yang berdiri di tepian. Di depan panggung diletakkan banyak stand mics dengan logo-logo berbeda.

Satu-persatu pihak yang mengadakan konferensi pers mulai masuk. Cahaya kamera mulai menyambar di sana sini. Pihak yang pertama masuk adalah SHINee dengan Jinki di depan, mengisi kursi paling ujung kiri, diikuti Jonghyun, Minho, Key, dan terakhir Taemin. Ketika Taemin masuk, sinar blitz semakin banyak dan kasak-kusuk semakin kencang.

Berikutnya A-Pink. Naeun muncul terlebih dahulu. Keberadaannya setelah berbulan-bulan tak ada kabar dan sekarang muncul sedang hamil tua membuat kamera-kamera itu semakin gila dan segala suara semakin terdengar. Percaya diri, Naeun berjalan menatap setiap mata di sana dengan tajam. Ia duduk persis di sebelah Taemin, di tengah. Mereka berpandangan, saling melempar senyum—seperti sengaja mengumbar kemesraan. Beberapa fans pendukung maupun yang telah berubah haluan di depan pintu lobby berseru. Ada yang mengejek ada yang senang sendiri.

Di sebelah Naeun adalah Chorong, diikuti Eunji, Bomi, Namjoo, dan Hayoung. Terakhir perwakilan SM dan Cube.

Naeun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Matanya terpaku pada jam besar berornamen kuno yang dapat dilihatnya dengan jelas dari sini. Ia tertegun.

Waktu. Sekali lagi waktu yang membuatnya sampai di kursi ini sekarang. Waktu adalah bom.

Taemin meliriknya intens. Tatapannya yang dalam itu diabadikan banyak media massa yang haus akan berita hingga membuka pribadi seseorang hingga kotak rahasia terdalamnya terbongkar. Ia menggenggam tangan Naeun di bawah meja, dilindungi taplak yang begitu besar menutupi bagian bawah meja.

Naeun cepat menoleh. Ketika tatapan mereka bertemu, mereka melempar senyum.

Beberapa kata sambutan oleh pihak SM dan Cube disampaikan, berikut dengan beberapa seremonial. Setiap member A-Pink dan SHINee memberikan pernyataan.

Tibalah ketika Naeun diberikan mic oleh Chorong. Ia memegang mic dengan santai. Sebelum berkata-kata, ia memerhatikan setiap pasang mata di sana yang hening menunggu jawabannya.

“Pertama, selamat malam semuanya. Naneun A-Pink Son Naeun imnida.” Pembukaan yang kelewat tenang dengan penekanan pada kata ‘A-Pink’. “Sungguh malam yang luar biasa karena saya bisa hadir di sini untuk memberikan pernyataan pembelaan yang seharusnya tidak perlu dilakukan.” Suaranya terdengar tajam, ekspresinya datar. Ketika ada yang mengangkat tangan, Naeun menatapnya datar, “Tidak ada pertanyaan. Biarkan saya bicara.”

Terdengar bisik-bisik di berbagai sudut, hingga Naeun membuka lagi mulutnya.

“Kenapa saya katakan ‘tidak perlu’? Karena saya adalah manusia biasa yang punya hak untuk menikah dengan siapapun juga, termasuk dengan Lee Taemin. Bukan begitu?” Ia melirik Taemin yang mengangguk. “Saya punya hak asasi manusia, sama seperti Anda. Perilaku anarki dan bullying yang Anda—terutama para haters yang berdiri di luar sana…” Ia menunjuk mereka dengan kelima jemarinya. “…telah melanggar hak saya sebagai manusia. Apakah Anda menyadari? Bahkan hak teman-teman saya dari A-Pink dan SHINee.” Ia memandangi satu-satu member kedua grup tersebut.

Mata Naeun tidak lagi teduh, mata itu penuh api kemarahan.

“Anda hanya bisa melakukan judge, hingga melukai teman saya, Eunji dengan batu. Jangan kira saya tak tahu. Saya tidak ada di mana-mana, saya mengawasi semua ini dari jauh.” Naeun menghela napas. “Kami menikah karena alasan keluarga. Jika kalian mau tahu, keluarga kami sudah saling kenal. Sekarang saya tanya, jika kami bukan artis, apakah Anda mau mengurusi hidup kami? Pernikahan kami?”

Hening. Bisik-bisik yang tadinya semakin kencang kini mendadak senyap.

“Anda para sasaeng dan haters! Bagaimana pendapat kalian?”

Mereka yang di luar sana diam. Para fans yang masih mendukung tampak senang.

“Terimakasih untuk Pink Panda dan Shawol yang masih setia mendukung kami, bahkan hingga hari ini…” Naeun tersenyum pada mereka yang juga ada di luar. “…dukungan kalian adalah kekuatan kami.”

“Intinya malam ini saya mau menegaskan kepada kalian semua, termasuk Anda—seorang blogger ber-akun virtualbreaker7. Anda boleh menghancurkan hidup kami, siapapun Anda. Namun, jangan kira kami—terutama saya—akan diam. Saya akan mengejarmu. Saya akan menghadapimu.” Naeun mengangkat sudut bibirnya. “Selamat malam.”

Ditaruhnya mic di atas meja dengan tegas. Lalu duduk dengan tegak sambil menghela napas.

Taemin akhirnya mendapat bagian untuk bicara.

“Selamat malam. Malam ini saya tidak akan bicara banyak.” Ia menarik napas dalam-dalam sambil merangkai kata di dalam otaknya, “Ada banyak yang ingin saya ungkapkan, tapi biarlah Anda yang menangkapnya sendiri. Saya hanya ingin menyampaikan, saya benar-benar mencintai Son Naeun. Krystal Jung tidak pernah benar-benar menjadi kekasih saya, tapi saya menyayanginya—sebagai seorang adik. Ia gadis baik, ia pantas mendapatkan pria yang lebih baik dari saya. Saya hanya ingin mengonfirmasi bahwa kami memang sepasang suami-istri. Saya tak akan memedulikan apa yang akan kalian lakukan, tapi saya akan melindungi istri saya seperti bagaimana suami melindungi istrinya. Terlebih sebentar lagi saya akan memiliki seorang anak. Saya meminta maaf telah mengecewakan banyak pihak, terutama Shawol. Saya sangat mencintai kalian, namun mohon mengerti bahwa saya memiliki hidup juga. Jadi, mulai hari ini saya menyatakan vakum entah sampai kapan. Jika ini hari terakhir saya menjadi idola, maka terjadilah.”

Ketika mic ditaruh, semua orang memandang Taemin terkejut—termasuk SHINee dan pihak SM. Taemin menghela napas. Ia sudah lelah. Biarlah. Toh, Soo Man sudah mengijinkannya.

Sisa sesi digunakan untuk A-Pink dan SHINee menerima pertanyaan kecuali Taemin dan Naeun yang hanya saling menguatkan dalam diam. Di bawah meja, jemari mereka bertautan erat. Sementara tangan Naeun yang satu lagi berada di atas perutnya.

Apapun yang terjadi, terjadilah.

.

.

Kim Myungsoo tersenyum di depan televisi—menyaksikan ketegaran yang luar biasa pada pasangan itu. Entah kenapa Myungsoo merasakan hatinya seperti robek melihat pujaan hatinya telah sepenuhnya jatuh pada rengkuhan orang lain, tapi ada di sisi lainnya perasaan lega dan senang.

“Kau pria baik, Myungsoo-ya,” ujar Woohyun bergabung dengan Myungsoo duduk di sofa. Ia menepuk sahabatnya, memberikan support-nya.

“Aku menyayanginya, Woohyun.”

“Ya, aku paham.”

Myungsoo tersenyum pada Woohyun dan melirik lagi televisi. Saat itu kamera tepat mengarah pada Naeun. Myungsoo bisa dengan jelas melihat ekspresi itu—ekspresi yang sama dengan ekspresi miliknya ketika bersama Naeun.

Ekspresi cinta.

Myungsoo tahu ia tidak akan pernah menang dari Taemin.

Dan ia tak akan pernah berusaha mengalahkannya.

*

Acting yang bagus.”

“Jangan mencibir.”

“Kau anakku, masa aku mencibirmu?”

Ia tertawa renyah, “Bukankah aku bilang bahwa aku ini ‘bodyguard’? Aku keras seperti baja dan lunak seperti serpihan kayu. Tapi tak ada yang lebih mendeskripsikanku dibanding cermin, karena aku cerminmu, Eomma.

“Akhirnya kau mengakuinya, bodyguard kecilku.”

“Aku sudah membelamu dalam banyak pergaulan keras para mafia itu. Tapi bukankah aku sudah bilang aku ini cermin? Refleksimu, Eomma. Jadi aku harap ketika aku berusaha berbuat benar, kau akan mengikutinya.”

“Mau membuat eomma berhenti di tengah permainan?”

“Tidak. Aku tak akan bisa, kan?”

“Tidakkah kubilang bahwa kau adalah ‘bodyguard’ kecil Eomma selamanya?”

“Dan juga cerminmu. Selamanya.”

To be continued.

 

Preview Paper IX – The Master and The Puppets

“Krystal, aku tak pernah mencintaimu.”

“Aku tahu.”

“Kenapa kau tak pernah membebaskanku? Kau lihat, aku ayah dari seorang anak sekarang.”

“Maksudmu dengan ‘tak pernah membebaskan’ ?”

“Kau terlibat dalam ini semua, kan?”

*

“Jadi, ini rumah baru kita, Oppa?”

“Ya. Kau bebas mengundang A-Pink kapanpun ke sini. Di sini nyaman, bukan? Jauh dari hiruk pikuk kota.”

*

“Semoga berbahagia selalu dengan Taemin, Naeun.”

Oppa?”

“Ya?”

“Kau… baik-baik saja?”

“Apa, sih? Tentu saja aku baik-baik saja. Hahaha. Aku sudah merelakanmu. Bukankah cinta tidak harus memiliki? Tapi perlu kau tahu, aku… aku masih mencintaimu.”

*

“Naeun! Kau baik-baik saja? Ya, Tuhan! Apa yang dia lakukan padamu?!”

Sa-sa-sasaeng itu….”

“Dia sudah ditangkap oleh yang berwajib. Oh, Naeun, aku sangat lega aku pulang tepat waktu… kalau tidak aku bisa kehilanganmu dan anak kita.”

*

“Menyetir lebih cepat, Hyung! Dia mau melahirkan!”

“Sabar, Taemin. Kalau kau panik begitu, aku juga jadi panik!”

“Myungsoo hyung, cepaaat!”

“Astaga, Taemin, tolong tenang! Tidak lihat Myungsoo sedang menyetir?!”

*

Oppa, kenapa kau tidak kembali ke orang tuamu?”

“Karena jika aku kembali, ibumu akan membunuh mereka…”

Jinjja?”

“Bukankah kau di pihaknya?”

“Aku tidak di pihak siapapun. Aku cermin. Refleksi dari kalian semua. Di dalam kasus ini, kita berdua adalah the puppets dan ibuku adalah the master. Namun yang membedakanku denganmu adalah, aku tak sudi dimainkan seperti boneka, maka dari itu aku mengambil peran cermin.”

*

Note:

Wohooo! Cepatnya part 8 jadi! Di sisa-sisa hari libur aku sengaja menyelesaikannya cepat agar ide yang ada gak cepet menguap karena part ini juga part penting. Oh, ya, penasaran siapa sih si virtualbreaker7 alias si cermin2 (?) bodyguard cewek ini? Sabar ya :p

NAVM akan segera tamat! Part 12 deh kira-kira kurang lebih. Antara part 11 atau 12. Ayo, partisipasi kalian bisa menentukan bagaimana endingnya loh. Bisa jadi sad, bisa jadi happy, bisa gantung.

Last, terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca!🙂

©2013 SF3SI, Vania

signature

Officially written by Vania claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

10 thoughts on “(Not) A Virtual Marriage – Part 8

  1. aaah min ini keren banget!!
    pliis aku mohon banget ini jdnya happy ending.. bakal kecewa berat kalo jdnya sad ending atau malah ngegantung hehehe…

    cepetan update lg yah ^^

  2. WOOOHOOO ini yg gw tunggu tunggu wkwkwkwk Seru bgt cerita.. DAEBAK ditunggu bgt next part nya. happy ending dong jangan sad ending😦

  3. Huwaaa penasaran banget banget loh ini, happy ending please terus anak nya taem sama naeun semoga lahir selamat kalo bisa kembar hihihi
    fighting!

  4. Eon, kyknya ini ff bisa jadi naskah drama sumpah keren banget. Aku suka dengan gaya bahasa eon yang termasuk berat tapi mudah di mengerti. Pengen banget bisa bikin ff yg bagus kayak begini!
    Daebak! ^_^
    Keep writing! Jangan lama-lama part 9 nya, udah greget bangeeet hihihi

  5. Wow!!! Super!! Gak nyangka bgt ada yg bisa buat fanfic taemin naeun sebagus ini! alur ceritanya dpt, aku dpt feel dan ngerasa ikut dlm cerita ini. Kisah hidup mereka dlm cerita ini bnr2 diluar dugaan pembaca. Singkatnya cerita ini beda dari author2 lain yg nulis fanfic taeun lainnya. Pokoknya speachless! Ah keren bangettt!!! Aku bener2 nunggu part selanjutnya secepatnya yaa author!! 😊

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s