Confessions : Fall For You (Key Ver.)

fall-for-reenereenepott

Confession – Fall For You (Key Ver.)

By ReeneReenePott

Key – Eunji (SHINee-APink) | Romance Fluff

Teen | Backsound: Colbie Caillat – Fall’in For You

Credit poster : Harururu98 by https://cafeposterart.wordpress.com

“Ingat, kau sama sekali bukan tipeku. Jadi jangan tanya kenapa tiba-tiba aku mengatakannya padamu, karena jelas aku tak tahu.”

__

10 September 2014

Lelaki dengan akte Kim Kibum dan sering dipanggil Key sekarang sedang pusing tujuh keliling, dan semua penyebabnya mengarah ke satu mahkluk, satu spesies, satu manusia dan satu perempuan bernama Jung Eunji. Bagi Key, Eunji adalah perempuan paling ajaib sedunia.

Dijaman sekarang, kebanyakan perempuan akan berlaku anggun selayaknya seorang lady, tapi bagaimana dengan Jung Eunji?

Gaya berjalannya seperti lelaki dan dia bahkan mengangkat kaki saat makan. Atau, dia sangat suka ikut tanding makan bersama segerombolan lelaki kelas berat.

Banyak perempuan mulai berubah tutur bahasanya menjadi lebih sopan dan santun, tapi bagaimana dengan Jung Eunji?

Dia sangat ahli dalam memaki dengan kata paling kasar dalam kamus dan aksen Busan. Dan, sekali memaki dua lantai bangunan pasti terdengar.

Kalau ke acara formal, para perempuan sangat suka mengenakan rok atau simple dress dengan sedikit riasan dan menata rambut. Tapi Jung Eunji?

Hah, sepertinya wanita itu sama sekali tidak punya rok atau simple dress. Riasan? Hah, dia hanya pakai krim untuk jerawat dan rambutnya hanya disisir rapi.

Iya, wanita. Jung Eunji adalah seorang mahasiswa jurusan teknik sipil semester lima yang berarti dia sudah cukup dewasa untuk menjadi seorang wanita sejati. Andai saja dia memiliki ciri-ciri seorang wanita sejati.

Tapi, Key harus mengakui kalau Jung Eunji memiliki banyak kelebihan disamping perilaku urakannya.

Misal, dia sangat gesit masalah mengumpulkan tugas. Dia mungkin bukan mahasiswa pintar, tapi Key akui dia mahasiswa yang rajin.

Atau, Jung Eunji tidak pernah mencontek. Wanita itu selalu jujur dan belajar dengan serius, tapi anehnya dia sama sekali jauh dari kata ‘nerd‘.

Dan terakhir, nampaknya Jung Eunji memang tidak benar-benar tertarik urusan lelaki. Lihatlah daftar mantan pacarnya. Pacar pertama guling bayi, pacar kedua Nintendo DS, pacar ketiga PS3, pacar keempat X-Box, dan pacar kelima adalah GTA San Andreas. Sekarang pacarnya siapa? DotA. Dan itulah yang membuat Key menghembuskan napas lega.

Sebenarnya, Key tidak sekelas dengan Eunji. Dia bahkan tidak berada diangkatan yang sama dengan wanita itu. Key mengenal Eunji ketika dia baru mau masuk kuliah, lalu mendapat tetangga baru. Mereka akhirnya berteman dengan Eunji yang berbeda setahun lebih muda darinya.

“Key! Key! Key! Keeeey. Hoi Kim Kibum. Aku sudah memanggilmu dari tadi, apakah kupingmu bermasalah?” Eunji memanggil Key dengan anarkis, membuat pandangan kosong Key terarah pada wanita yang sedang ingin melayangkan tinju mematikan ke bahunya.

“Ada apa lagi?” Tanya Key malas sambil mencopot salah satu headphone-nya.

“Aku ingin pergi bersama Minho dan Howoon ke warnet, tolong bilang pada ibuku kalau aku bakal pulang telat ya?” Eunji meminta pada Key dengan tatapan memelas dan senyum manis. Heol, Key rasa dia mau muntah sekarang.

“Memangnya ponselmu dikemanakan Jung Eunji? Jangan memelas seperti itu, wajahmu jelek sekali,” sahut Key dingin tanpa melihat wajah Eunji yang cemberut.

“Kan aku sudah cerita kalau kemarin ponselku dilempar ke sungai sama Chorong. Aku tidak punya lagi, makanya, kau saja yah yang bilang ke ibuku? Aku harus langsung berangkat nih,” pinta Eunji lagi dan mulai membereskan tasnya. “Yah? Yah? Yah? Nanti aku rayu ibuku supaya membuatkanmu kimbab gurita lagi. Oke?” Key mendengus pasrah lalu mengangguk sambil mengibaskan tangannya, menyuruh Eunji cepat pergi. “Oke? Yesss gomawo Key-ah! Kau memang yang terbaik! Dadaaah~” dan Key hanya bisa memerhatikan punggung Eunji yang sudah melesat entah kemana.

“Ingat, jangan pulang terlalu malam! Atau aku akan menjemputmu dengan Herder ayahmu, Jung Eunji!! Yah!!” Teriak Key kemudian namun Eunji sudah tak terlihat. Dengan mendengus ia kembali mendudukkan diri di tangga hall kampus, kembali memasang headphone sambil menyelesaikan sketsa bangunan yang dikerjakannya.

Biarlah jika Eunji mengira kalau ia akan selalu menurut jika diembel-embeli hadiah balasan. Karena, meskipun tanpa balasan pun Key akan tetap mengabulkan apa yang diinginkan Eunji.

Karena, entah sejak kapan, Key sangat suka jika melihat senyum Eunji. Dan ia sudah bertekad membuat Eunji tersenyum sesering mungkin, tersenyum hanya untuknya.

__

“Eun, mau kemana lagi? Ini sudah hampir jam tujuh, tidak baik anak gadis pulang malam-malam,” tegur Minho pada Eunji yang menolak diantarkan pulang. “Lebih baik kau ikut aku, atau Howoon, dia bisa menemanimu naik bus,”

“Tidak usah, Minho-ya. Aku ada sedikit keperluan jadi aku pasti langsung pulang. Lagian sejak kapan aku jadi anak gadis yang harus dijaga kemana-mana? Kkk~” tolak Eunji dengan gurauan, sambil menyampirkan tas selempangnya ke bahu kanan. “Kalau Key mencariku, bilang kalau aku akan pulang secepatnya. Aku bisa pulang sendiri,”

“Eun, kau membuatku seakan aku bukan pria gentle,” singgung Minho masih ingin menahan Eunji pergi. “Atau kau kuantar ke tempat tujuanmu itu? Tidak jauh kan?”

“Sungguh, tidak usah Minho-ya. Daah, Howoon,” Eunji memotong perkataannya dan melambai pada Howoon yang sudah berjalan menjauh. “Nanti merepotkan. Sungguh, aku hanya sebentar. Bilang pada Key kalau aku pasti pulang,”

“Iyalah, kau pasti pulang tapi tidak tahu kan kapan pulangnya,” balas Minho, masih berat membiarkan seorang wanita sendirian di depan warnet dengan hari yang semakin gelap. “Beneran kau tidak ingin kuantar?” Eunji menggeleng. “Sama sekali?” Eunji mengangguk. “Hh, baiklah. Jaga dirimu baik-baik, Eunji,”

Neeeeh. Annyeong Minho-yaa~!” Eunji melambai pada Minho lalu berjalan pergi, meninggalkan Minho yang masih menatap Eunji dengan tatapan yang sulit diartikan.

Neh, annyeong. Hati-hati!!” Teriak Minho akhirnya, dan dia baru bisa men-starter motornya ketika Eunji membalas teriakannya dengan lambaian.

__

Zzzzrrrreeeesssssssss

Key sedang menonton drama di televisi ketika tiba-tiba suara hujan mengguyur tiba-tiba, membuatnya melayangkan tatapan horor dan panik. Ia mengintip ke jendela rumah sebelah—rumah Eunji, dan kamar wanita itu masih gelap. Sialan! Berarti dia belum pulang!

Tid tid tid tid~ tid tid tid tid~ (bayangkan klakson Persib Bandung yak NYAHAHAH)

Tiba-tiba ponsel Key berbunyi, dan dengan kasar dia mengangkatnya. “Halo? Minho?”

“Yah, aku tidak tahu kalau akan hujan. Tadi Eunji tidak mau kuantar pulang dan malah pergi entah kemana,”

Mendengarnya, Key menjatuhkan kepalanya ke kepala sofa yang didudukinya. “Arghhhhh~”

“Tapi dia kan sudah wanita dewasa Key, harusnya memang harus sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Kau jangan sekhawatir itu lah,” ujar Minho lagi dari seberang.

“Masalahnya, Minho-ya. Kau tidak tahu seberapa bodohnya dan seberapa cerobohnya dia. Dia anak paling bodoh yang pernah kutemui astaga,” erang Key kesal. Lalu mulai beranjak mencari kunci mobil dan jaketnya. “Kalian tadi di mana?”

“Dia sudah dewasa Key, bukan anak SMA lagi,” tegur Minho lagi, dan kali ini Key sudah tidak ingin Minho bicara lagi.

Dengan kesal ia menutup teleponnya secara sepihak, sebelum benar-benar keluar rumah dan melaju di jalan dengan mobilnya.

__

Eunji memanyunkan bibirnya dengan dramatis ketika melihat guyuran hujan menimpa jalanan. Dia pikir malam ini tidak akan hujan, tapi kenyataan selalu berkata sebaliknya. Dasar berita cuaca sialan. Dengan pelan dia meniup cokelat panas yang mendadak dia beli demi mengusir hawa dingin. Sedari tadi dia menunggu sambil duduk di halte namun kenapa tidak ada bis yang lewat ya?

Oke, ini sudah malam, tapi dia juga punya urusan penting. Begitu penting sammpai Eunji rela berjalan sendiri ke toko CD yang baru pertama kali ia kunjungi seorang diri. Ini semua untuk si bodoh nan arogan tetangganya itu, siapa lagi kalau bukan si Key. Lelaki itu akan berulang tahun seminggu lagi jadi dia harus jauh-jauh hari menyiapkan kadonya. Untung saja dia mendapatkan apa yang diinginkannya, kalau tidak mungkin rambut si kasir tadi sudah botak ia jambaki.

Sekarang yang akan Eunji pikirkan adalah bungkus kado. Dia sudah mendapatkan sepasang sepatu dan sebuah CD Bon Jovi, dan sekarang waktunya memikirkan bungkus kado.

Sambil menatap hujan yang tak kunjung reda Eunji mulai berpikir dalam hati apakah dia menggunakan kertas kado atau paper bag

Tin! Tin tin!

TIIIINNN!!!!

Eunji tersentak dari lamunannya mendengar klakson mobil yang berisik dan nampaknya ditujukan padanya—mengingat ia sendiri yang berdiri di halte itu. Matanya melebar melihat siapa yang duduk di belakang kemudi karena kaca depan jelas tidak di-fiber gelap.

Kenapa lelaki itu bisa ke sini? Pekik Eunji panik dalam hati.

Matanya hanya bisa mengawasi ketika Key turun dari mobil sambil membuka payung, melangkah cepat hingga sampai tepat berdiri di depannya. “Yah, Jung Eunji, kau sadar jam berapa ini?!” Sembur Key tanpa basa-basi membuat kepala Eunji menunduk. Kalau tidak dalam situasi dia sedang menyembunyikan hadiah ulang tahun Key, Eunji tak akan jinak seperti ini. Dia pasti akan menendang tulang kering Key sampai lelaki itu terpaksa berjalan pincang sampai besok lusa.

Buru-buru Eunji melirik jam tangannya, lalu berdecih pelan. Dia sudah tidak bisa berkutik kalau Key sudah memberinya tatapan seperti ini. “Yah, Jung Eunji, apa yang kau lakukan malam-malam begini? Hujan lagi,” Key memang tidak membentak, tapi itu cukup membuat Eunji merisleting mulutnya untuk tak mengeluarkan sepatah katapun. “Yah, kenapa diam saja?!” Masih tidak direspon, akhirnya Key menarik tangan Eunji supaya gadis itu cepat mengikutinya masuk ke mobil. “Masuk,”

Tidak punya pilihan lain selain kabur dan menembus hujan, Eunji akhirnya menyerah. Dia akhirnya duduk di kursi penumpang, masih terdiam dan baru hendak berbicara ketika Key sudah berada di sampingnya. “Aku sudah bilang, ijinkan aku pada eomma. Kenapa kau rewel sih?” Ujar Eunji setengah keki. “Aku bukan anak kecil yang selalu dikhawatirkan keberadaannya. Kalau aku pulang malam, itu juga tidak aneh. Aku sudah dewasa, bahkan sudah punya ijin keluar masuk pub,”

Key mendesah. Mendengar dari nada bicaranya, dia tahu Eunji marah. Dan mendengar dari kalimat yang dilontarkan Eunji, dia tahu dia sudah keterlaluan. Sambil melajukan SUV silver-nya, Key berpikir keras.

Eunji benar, dia sudah dewasa. Umurnya sudah dua puluh dua tahun ini. Dia sudah boleh main ke pub malam atau bar untuk melepas stress. Dia juga sudah umurnya mulai hunting laki-laki untuk diajak menjalin hubungan yang serius. Dia juga sudah memiliki aturan hidup dan kepentingannya sendiri, juga sudah—

Astaga. Key merutuk dalam hati. Kenapa aku selalu menganggap dia sebagai seorang gadis SMA yang polos dan ceria?

“Tapi kau lemah kalau sudah terkena alkohol, kan, Ji? Jangan mengada-ada,” Balas Key akhirnya, sedikit memelankan laju ketika sudah sampai di kawasan perumahan mereka.

“Itu hakku untuk minum atau tidak,” balas Eunji mulai sengit.

“Dengar, Key-goon. Aku terkadang merasa kalau kau memperlakuanku seperti anak kecil. Aku tahu kau menyayangiku sebagai adikmu, tapi waktu berlalu, Key. Aku sudah dewasa dan bisa menentukan hidupku sendiri sekarang. Tidak perlu kau sekhawatir itu terhadapku. Terimakasih atas tumpangannya,” Eunji membuka pintu ketika mobil sudah sampai di depan rumahnya, menutupnya cepat dan buru-buru masuk ke rumah.

Sementara Key, masih terpaku dengan kata-kata yang dilontarkan Eunji dengan kasar untuk pertama kalinya terhadapnya. Sialan. Eunji marah padanya. Jung Eunji marah padanya!

Sungguh, itu hal yang paling Key benci sekarang.

__

“Ho, aku sudah menduganya. Pantas saja selama ini kau terlalu overprotektif padanya, bung,” Minho berujar maklum ketika mendengar sesi curhat Key dadakan selepas mata kuliahnya. “Tapi bukankah kau memang terlalu berlebihan, sampai dia marah seperti itu?”

“Aku tahu, aku tahu,” sahut Key tanpa semangat. Matanya meninju lantai sementara tubuhnya lunglai tergeletak di atas meja. “Tapi aku tak tahu kenapa aku bersikap seperti itu padanya. Aku tak tahu,”

Lalu Minho menatapnya dengan pandangan oh-god-you-don’t-say-please. “Key, astaga. Kau tak menyadarinya? Kau sudah setua ini dan kau masih belum sadar juga?”

Key memutar bola matanya. Tolonglah, dia tak setua itu kali. “Apa?”

“Kau menyukai Eunji, bodoh. Kau suka pada anak itu sebagai seorang wanita. Sekarang aku mengerti kenapa kau bolot sekali,” decak Minho sambil menggelengkan kepalanya, “Kau ini berlagak almighty, tapi soal beginian payah sekali. Ckck,”
Dan sejenak Key terdiam. Suka? Pada wanita sembrono begitu? Apa dunia sudah terbalik?

“Jangan pura-pura jaim, Key. Kalau suka akui saja, dan cepat kejar Eunji. Setahuku, biar serampangan begitu pria juga berentet yang menyukainya. Kau tahu Seo Inguk? Seangkatan kita yang anak hukum itu? Dia mulai mendekati Eunji, tahu. Jangan kalah dong,” cerocos Minho lagi bagai kran air, dan akhirnya Key mengerang kesal.

“Bisakah kau diam? Aku mulai pusing kau bicara terus dari tadi,” sembur Key bete, membuat Minho terpaksa bungkam sebentar. Sepertinya Key benar-benar bete gara-gara dia menceritakan si Inguk itu kali ya?

“Yah, aku kan hanya memberitahumu. Hey, ke kantin saja yuk! Lapar, nih!”

__

23 September 2014

Tidak ada kejutan.

Tidak ada kado dadakan.

Tidak ada misscall.

Tidak ada telepon. (Atau sama saja? Tapi buat Key itu beda titik.)

Tidak ada kartu ucapan.

Bahkan pesan singkat yang tinggal diketik dalam hitungan detik pun tak ada?!

Jika tidak mengingat dia baru membeli gadget ini setahun lalu, dia sangat berniat untu melemparnya ke dinding. Harusnya Eunji memberinya selamat atau apa. Meskipun mereka sedang bertengkar, dulu mereka selau mengucapkan selamat ulang tahun lalu diikuti acara saling minta maaf.

Sekarang kemana anak itu?!

Bip bip!

From : Saranghanneun Uri Eomma~

Bum-goon, bisa tidak kalau hari ini kau antar Eunji pulang? Orangtuanya ada urusan mendadak di luar kota, jadi Eunji bisa akan menginap dirumah kita. Sekalian merayakan ulangtahunmu bersama. Gamsa addeul-aa~

Haha. Jadi hari ini dia benar-benar harus bertemu Eunji. Memutar tumitnya, Key berjalan menju kantin, tempat dengan peluang terbesar menemukan Eunji. Dan ternyata dia benar. Eunji duduk disebuah meja di kantin, sedang menikmati ramyun dan tertawa dengan seorang pria… Seo Inguk?!

Dengan langkah kaku Key mendekati kedua orang itu. “Yah, Jung Eunji,” panggil Key dengan nada sedikit aneh. “Hari ini kau pulang denganku. Orangtuamu pergi, jadi cek ponselmu,”

Eunji mengangkat kepalanya dan langsung bertemu pandang dengan Key yang menatapnya dingin. Gugup seketika, Eunji menundukkan kepalanya lagi. “Eoh, arro,” jawabnya sekenanya. Dia tahu itu, tapi tidak menyangka Key benar-benar menjemputnya. “Kapan kau pulangnya?”

“Sekarang, bodoh. Kutunggu kau diparkiran,” jawab Key singkat lalu berjalan menjauh, membuat Eunji mengerutkan keningnya. Kenapa Key jadi marah-marah begitu sih?

“Eun, dia pacarmu?” Pertanyaan pria bernama Seo Inguk di depannya membuat Eunji mengalihkan pandangan.

“Eoh? Ng, Inguk-ssi, kurasa aku harus pergi. Terimakasih atas ramyunnya! Annyeong~!” Ujar Eunji tiba-tiba dan langsung melesat meninggakan Inguk yang sedikit kecewa di tempat duduknya.

“Dia tidak mengelak saat kutanya apa cowok itu pacarnya…” Gumam Inguk sambil membenahi diri untuk segera pergi juga. “Kurasa aku harus menyerah,”

Sementara itu, Key menunggu Eunji di dalam mobilnya dengan bungkam. Dia tahu dia tidak seharusnya merasa marah pada Eunji, dan dia juga tak berhak jika menyuarakan kalau dia tidak suka jika Eunji dekat-dekat si Seo Inguk itu.

Duk

Bugh!

“Aku tak mengerti, apa kau tak bisa bersikap manis sedikit saja, terutama pada orang yang tak kau kenal?” Cerocos Eunji tanpa basa-basi.

“Aku mengenal Inguk,” jawab Key sekenanya, ia mulai menyalakan mesin mobil lalu berkendara keluar kompleks kampus.

“Dan sekarang kau marah padaku,” ujar Eunji lagi. “Kau kenapa sih? Kenapa kau akhir-akhir ini selalu saja marah padaku? Apa aku berbuat salah?”

“Diamlah, jangan buat aku memukul kepalamu,” sahut Key dengan mata terfokus ke jalanan, berusaha sekuat tenaga untuk tidak berteriak di dalam mobil. Bukan karena tidak bisa meneriaki seorang wanita—apalagi Jung Eunji—tapi wanita itu akan balas berteriak lebih spektakuler darinya.

“Kalau aku tak berbuat salah apapun, bisakah kau bersikap manis sedikit? Wajahmu benar-benar akan kutimpuk kalau terus-terusan memasang ekspresi seperti itu,” cerocos Eunji lagi, menggenggam safety belt-nya ketika merasakan Key mempercepat lajunya. “Kau tahu kan kau akan kutimpuk pakai apa,”

“Tadi kau ngapain sama si Inguk?” Tanya Key tiba-tiba, membuat Eunji terperangah.

“Kami hanya makan bersama,” jawab Eunji sekenanya, sedikit bingung dengan peralihan pembicaraan yang tiba-tiba.

“Kudengar dia sedang mendekatimu, ya?”

“E-ehhh?! Tidak ah. Jangan aneh-aneh deh,”

“Aku kan pria. Aku bisa tahu apa tujuan si Inguk dari tingkah lakunya,”

“Kalau begitu, apakah menurutmu orangnya baik?” Sambar Eunji mulai dongkol, memilih untuk mengikuti permainan kalimat Key.

“Jadi kau berencana untuk menerimanya?” Geram Key ketika memasukkan kopling untuk berbelok memasuki kompleks perumahannya dan perumahan Eunji.

Seketika itu juga Eunji mengedip-ngedipkan matanya. Suara Key tiba-tiba seperti itu, jangan-jangan… “Kau cemburu?” Tembak Eunji tepat sasaran. Key terdiam, dan ia hendak tertawa ketika tiba-tiba Key menjawab.

“Ya. Aku sangat cemburu. Aku tidak suka kau bermain dengan lelaki lain sampai sedekat itu. Aku sering merasakan itu—hampir selalu merasakan itu sampai aku sadar kalau aku menyukaimu.” Key menghembuskan napas pelan, menyadari atmosfer tegang yang melingkupi mobil itu. “Ingat kan, aku pernah bilang kau sama sekali bukan tipeku. Jadi jangan tanya kenapa tiba-tiba aku mengatakannya padamu, karena jelas aku tak tahu.”

Eunji tak bersuara. Wanita itu mengalihkan pandangannya keluar jendela dan terus bungkam sampai Key berhenti di depan rumahnya. “Aku minta maaf. Anggap saja kau tidak mendengarnya,” ujar Key pelan lalu mematikan mesin mobilnya, hendak keluar ketika Eunji tiba-tiba bersuara.

“Yah, Bodoh, aku belum bicara! Aku tidak tahu kenapa kau marah-marah padaku seperti itu, sebelum kau bilang begitu. Tapi sebelum kau marah padaku karena hal itu, harusnya kau berpikir: kenapa aku mau dibawa kemana-mana olehmu? Kenapa aku mau merepotkan diri membawakanmu bekal yang kau tinggalkan? Kenapa aku tidak pernah protes ketika kau mengantar-jemputku kemana-mana padahal aku melarang ayahku melakukannya? Dan apakah kau pernah melihatku membungkus cokelat untuk pria dan memarahimu saat kau menghabiskan cokelat buatanku? Dan kalau kau sudah mengerti, kau harusnya tahu jika Inguk sunbaenim berniat menembakku, aku akan jawab apa!” Suara Eunji makin meninggi sebelum ia membuka pintu mobil dan langsung keluar, lalu menutup pintu mobil dengan penuh emosi.

Key mematung di kursinya. Sedetik ia sadar. Eunji orang yang independen, dia tidak pernah tahan jika harus mengikuti seseorang tanpa melakukan apa-apa. Jika ia mengatakan tidak, maka tidak akan pernah ada kata iya yang keluar. Eunji selalu melakukan semuanya sendiri, tapi jika ada Key, Eunji berubah. Dia selalu anteng bila Key menyeretnya makan malam dipinggir jalan, atau menemaninya membeli CD album, atau kemanapun yang dia inginkan. Eunji juga setuju saja dengan semua yang ia katakan, dan terkadang dia bersikap manja.

Key juga baru sadar kalau Eunji hanya membuat satu loyang cokelat saat Valentine, dan selalu Key yang menghabiskan semuanya. Eunji tidak pernah memarahinya, malah bertanya apa cokelatnya enak atau tidak.

Sebuah senyum melengkung di bibirnya, entah kenapa semua amarahnya menguap. Jadi Eunji juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Dengan terburu Key membuka pintu mobilnya dan berlari masuk ke rumah.

“Yah, Jung Eunji! Dimana kau?!”

Shikeurro!! Cepat duduk di meja makan kalau kau ingin mendapat makan siang!”

Dengan senyum lebar, Key menduduki salah satu kursi di meja makannya, sambil meraih segelas air putih. Entah kenapa, hatinya riang sekali sekarang. Jung Eunji benar-benar…

Bukankah segalanya terasa jelas dan lega setelah kau berani mengungkapkannya?

FIN

A/N : He-heloooo~ hope you like this yah hoho. Idenya kesamber pas lagi semedi di kamar mandi loh #JEDERRRR

Theeeenn ini yang versi Key-Eunji. Aku gak tahu apa member yang lain bakal aku tulis apa enggak, tapi aku lagi nyoba nulis yang Jonghyun :3 doakan cepet kelar yaw :3

At last~ feedback dan like sangat ditunggu~😀

©2011 SF3SI, reenepott

signaturesf3si

Officially written by reenepott, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

13 thoughts on “Confessions : Fall For You (Key Ver.)

  1. hey, renee… udh lama banget kita tak bersua, hahahaha
    waktu baca postinganmu ini, aku ngerasa rindu banget. soalnya ff2 dulu rata2 memiliki alur seperti ini. simple but sweet, tanpa perlu dipikir2 banget isi ceritanya. hahaha… jadi pengen banget bisa bikin cerita kayak gini lagi. cerita ini membangkitkan memori, Ren ^^
    hmm…. aku ga mau komen penulisannya karena aku masih serasa nostalgia. tapi mungkin alurnya agak kecepatan. tapi mungkin memang sengaja ya? hehehe

    oke, ganbatte ren~

    1. anyyong anyyong!! Udah lama juga ga liat kakak wahaaa😄
      Aduh jadi malu kakak baca tulisanku yang rada semprul ini-,- ini gara-gara wgm taemin tapi gara-gara udah lama gak bikin cerita beginian jadi kaku lagi._.
      well yes. aku juga ngerasa gitu… mau dirombak tapi gatau mau dirombak jadi kayak mana:/ yasdudahlah begini saja.. #derr kayaknya ada faktor ngebet pengen beres ._.aa nyehehe
      makasih kak!!😄

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s