The Cruel Marriage – SPECIAL SCENE

tcmII

Title : The Cruel Marriage

Author: Chinchi a.k.a Kim Sujin + ReeneReenePott

Cast:

  • Choi Minho
  • Jung Soojung
  • Choi Younghyeon (covered by Shanon William)
  • Choi Sulli

Genre: Romance, Fluff.

Rating: PG-16

Length: Sequel

Disclaimer: The story pure belonged to me, but all of the casts belong to themselves. Don’t be a plagiator or reblog my fanfic without permission–chinchi–

RESPONSE PLEASE and HAPPY READING!!

SPECIAL SCENE

A/N : Banyak yang bilang kalau Minstal momentnya kurang banyak. Aku juga ngerasa gitu sih. Jadi ya… ini special chapternya. Rentang waktunya sebelum Minho-Krystal punya si kembar, huehehe.


__

Perlahan Krystal tersadar dari posisinya nyamannya, membuka matanya dan menyadari kalau hari sudah pagi. Semakin ia mengedipkan matanya, semakin ia menyadari ada lengan kokoh yang melingkar di pinggangnya, dan dada bidang yang menjadi senderan kepalanya. Krystal tersenyum lebar, lalu memeluk dan menenggelamkan tubuhnya kedalam kehangatan itu. “Minho-ya…” panggilnya dengan suara serak baru bangun tidur.

“Hmm…” jawab pria yang makin mengeratkan pelukannya di tubuh Krystal, dengan nada mengantuk tanpa membuka kedua matanya.

“Sudah pagi. Kau harus bangun,” balas Krystal pelan, sama-sama masih mengantuk. “Bangun,” desahnya, namun tangan Krystal masih saja melingkar di tubuh Minho, enggan beranjak dari posisi nyaman mereka.

“Ini hari Minggu, Krys,” balas Minho sama malasnya, masih sangat enggan membuka mata. “Aku ingin tidur seharian,”

“Tapi Younghyeon—“ ucapan Krystal terhenti ketika tangan Minho bergerak merengkuh kepalanya, membawanya ke bawah dagunya sambil memeluknya seakan ingin menyelimuti seluruh tubuh Krystal dengan tubuhnya.

“Bangun siang juga tak ada salahnya, kan,”

Tok tok

MOOM?! DAAD?! I’M GOING FISRT OKAAAY?!?!? SULLI IMO SUDAH MENJEMPUT, NANTI KALAU PULANG AKU TELEPON YAA?! BYEE!!

Krystal langsung mengangkat kepalanya ketika mendengar teriakan Younghyeon. Dengan erangan ia melepas pelukan Minho dan bangkit dari tempat tidur, dan keluar dari kamar. Younghyeon yang mendengar suara pintu dibuka, langsung menghentikan langkahnya dan berbalik, sambil tersenyum manis. “Okay, have fun darl,” ujar Krystal serak, sambil memberikan putrinya sebuah pelukan dan kecupan selamat tinggal. “Take care, okay?

I will, mom. Sepertinya aku pulang sore, tidak apa-apa kan?” tanya Younghyeon sambil mengedipkan matanya, membuat Krystal mengacak rambutnya sayang.

“Asal tetap bersama Sulli imo. Dimana ia?” jawab Krystal sambil melangkah ke dapur. “Sarapan dulu?”

“Aku sudah buat roti bakar tadi,” jawab Younghyeon kalem, menunjuk ke piring kotor dan gelas bekas susu di bak cucian. Krystal tersenyum kecil melihat betapa dewasanya putrinya ini, meski baru berusia dua belas tahun.

Ting tong!

“Ah, itu pasti Sulli imo,” gumam Krystal saat itu baru mengeluarkan kardus telur dari dalam kulkas. Krystal dan Younghyeon akhirnya membuka pintu, dan Sulli sudah berdiri sambil tersenyum lebar.

Hello little girl,” sapa Sulli riang. “Annyeong, Krys unni,”

Annyeong Sulli imo~! Sudah ya mom, sana, temani Dad lagi,” Younghyeon melangkah keluar, lalu melambaikan tangan pada Krystal.

Annyeong Sulli-ya, aku titip Younghyeon ya?” ujar Krystal sambil tersenyum. Sulli mengangguk lalu menggandeng tangan Younghyeon.

“Tenang saja, unni. Hyeon akan kembali utuh dan selamat, tenang saja,” Sulli tersenyum lebar. “Unni habiskan saja waktu berdua dengan Minho oppa. Kalian kan sudah terlalu lama berpisah,”

Krystal hanya bisa menanggapi Sulli dengan senyum malu. Memang benar, ini semua adalah ide gila Minho. Pria itu terus-menerus protes ketika Krystal lebih memerhatikan Younghyeon daripada dirinya. Jadi, Minho meminta Sulli untuk mengajak Younghyeon keluar seharian—sementara mereka kencan berdua. Tapi Krystal tidak yakin apa mereka benar akan keluar untuk kencan atau berduaan seharian di rumah. Tahu, kan, seorang Choi Minho. Kebo nya minta ampun.

Annyeong,” Younghyeon dan Sulli melambaikan tangan sambil menjauh, yang dibalas Krystal juga dengan lambaian tangan. Setelah mereka benar-benar lenyap dari pandangan, barulah Krystal kembali masuk dan menutup pintu. Dan ketika itulah, ia merasakan sepasang lengan melingkari pinggangnya.

“Jadi si princess sudah pergi?” Krystal terkekeh lalu mengacak pelan rambut Minho yang bersandar pada bahunya.

“Ayo kita sarapan dulu. Kau tidak biasa bangun dengan perut kosong,” jawab Krystal tak begitu menanggap pertanyaan Minho. Minho tak menjawab, tangannya masih melingkari pinggangKrystal. “Yah, lepaskan aku. Aku harus menyiapkan sarapan,”

“Kau tetap bisa menyiapkan sarapan, kok,” tanggap Minho pelan. Semburat pink mulai naik ke pipi Krystal, tangannya hanya bisa mengelus pelan lengan Minho yang melingkarinya sementara mereka berdua berjalan sambil berpelukan ke dapur.

Tapi, apakah Krystal bisa konsentrasi menggoreng telur jika ia terus merasakan napas hangat Minho yang menerpa lehernya?

“Kau tidak berubah,” ujar Minho tiba-tiba.

“Hm?” tanggap Krystal tidak mengerti, terlalu sulit baginya mengabaikan Minho yang memeluknya sambil memasak. Hanya hal sepele seperti menggoreng telur dan membakar roti, tapi karena itu Choi Minho, jadi lain masalahnya. “Apa iya?”

“Mm-hm,” jawab Minho dengan suara rendah dan seraknya, menandakan dia masih memiliki keinginan besar untuk tidur. “Yah, bukan sama sekali tidak berubah sih. Kau berubah, tapi aku makin suka itu,”

“Contohnya?” pancing Krystal, sambil meletakkan dua buah telur mata sapi ke atas piring dan mengangkat roti bakar.

“Hmm… contohnya, kau makin seksi,” bisik Minho, membuat Krystal melotot. Wajahnya langsung memerah seketika.

“CHOI MINHO!”

“Kenapa Krys? Memangnya salah aku menganggap istriku sendiri seksi?”

__

Ini memang bukan kegiatan yang romantis, tapi entah kenapa Krystal suka sekali, terutama bila bersama Minho. Dirinya yang bergelung di pelukan Minho, duduk berdua di sofa sambil menikmati film. Mata Krystal yang tadinya terfokus pada layar televisi perlahan menoleh menatap Minho di sampingnya. “Ada apa?”

Minho tersenyum menatap Krystal lalu menggeleng. Krystal kembali menonton film, namun Minho masih mengunci tatapannya ke wajah Krystal. Masih merasa di perhatikan, konsentrasi Krystal kembali buyar dan kembali menoleh menatap Minho. “Ada apa?” Sekali lagi Minho menggeleng, kali ini dengan senyum jenaka terlukis di bibirnya. “Kalau tidak ada apa-apa, berhentilah menatapku,”

“Tak bisa,” gumam Minho, namun terdengar jelas oleh Krystal, dan wanita itu merenyit. “Berapa lama kita tak bertemu? Sepuluh tahun? Atau sebelas tahun ya?”

Krystal memejamkan matanya, lalu menghembuskan napas berat. Dia selalu berubah menjadi emosional setiap mengingat kejadian yang tak berujung sakitnya itu. “Jangan bahas itu lagi, tolong,”

“Bukan begitu, sayang. Kau hanya tak tahu betapa aku merindukanmu,” bisik Minho sambil melingkarkan tangannya di pinggang Krystal dan merendahkan kepala, agar bisa bersandar pada bahu wanitanya sambil menghirup aroma di lehernya. “Lagian, kau lebih menarik daripada film itu,”

Krystal tersenyum kecil, lalu mengelus lengan Minho yang melingkari tubuhnya. “Ya, ya. Aku juga merindukanmu, Minho,” balas Krystal sambil mengelus rambut Minho lembut. “Mau menceritakan tentang Hyeon padaku? Aku tak pernah melihat semasa balitanya,”

Minho mengedip, matanya menerawang memandang televisi. “Hm? Hyeon? Dia…” Minho menghembuskan napas hangat ke leher Krystal, membuat wanita itu sedikit bergidik geli. “Dia sangat mirip denganmu, kau tahu? Dan memang sama sepertimu, tidak suka wortel.”

Krystal membelalak dan terkekeh geli. “Like mother like daughter, eh?”

“Terkadang aku memang melihat sosokmu dalam dirinya, Krys. Kalian sangat mirip, dalam urusan kepribadian,” lanjut Minho sambil tersenyum, mengenang kembali masa kanak-kanak putri semata wayangnya. “Kau tahu kata pertama yang diucapkannya? ‘Ma-ma’. Padahal dia tak pernah diurusi oleh babysitter sekalipun. Tapi kekuatan seorang ibu memang tak tertandingi, eh?” Minho terkekeh, namun Krystal hanya terdiam sambil berusaha membayangkan rupa Younghyeon kala itu. “Dia pertama kali berdiri saat umur sebelas bulan, dan dua minggu kemudian sudah mulai berjalan. Langkah pertamanya sebanyak tiga langkah,”

Krystal hampir menangis mendengarnya. Betapa dia ingin melihat dan terlibat dalam melihat pertumbuhan Younghyeon. “Apa dia berambut panjang saat itu?” bisik Krystal rendah, berusaha mengontrol emosinya yang tiba-tiba kembali bergejolak.

“Mm-hm. Rambutnya bergelombang, Krys. Seperti rambutku kalau sedikit panjang. Namun halusnya seperti rambutmu,” balas Minho sambil mencium rahang krystal dan kembali memeluk wanitanya erat. “Dia mulai menanyaimu saat mulai masuk TK,”

“Namun saat itu aku tidak ingat sudah punya anak dan malah menikmati hidupku sendiri,” gumam Krystal merasa bersalah, membuat Minho mengangkat kepalanya sambil menatap Krystal lekat.

“Kau bisa melihat foto-foto masa kecil Hyeon, namun albumnya masih ada di rumah umma. Kalau kita ke sana, kita ambil saja, ya?” usul Minho lembut sambil mengelus pipi Krystal, berusaha memberi isyarat kalau Krystal sama sekali tak perlu merasa bersalah.

Krystal hanya bisa tersenyum lemah, namun mendengar Minho menyinggung soal rumah ia teringat sesuatu. “Minho, siapa yang tinggal di rumah itu sekarang?”

Minho mengendikkan bahunya acuh. “Entahlah. Mungkin Soohyun, atau tidak ada. Aku meminta Sulli menempati rumah itu, karena rumah orang tuanya di Tokyo,” jawabnya dan kembali memeluk Krystal erat.

“Aku rasa kita yang harus menempati rumah itu. Kau anak lelaki satu-satunya,”

“Tapi rumah itu memiliki banyak kenangan buruk, terutama tentangmu. Kau yakin mau tinggal di sana?” sergah Minho cepat, membuat Krystal tertegun sejenak.

“Tapi kalau bukan karena kenangan itu, aku tak mungkin ingat lagi tentangmu,” balas Krystal pelan, “Pertama kali memoriku kembali, itu waktu aku berada di ruang kerjamu,” lanjutnya dengan tangannya yang terus mengelus rambut Minho.

“Baiklah. Tapi kita akan mengurusnya nanti. Sekarang aku terlalu sibuk,”

“Sibuk apa?” tanya Krystal heran, menunduk menatap kepala Minho yang bersandar di bahunya.

“Sibuk denganmu,” jawab Minho sok romantis, membuat Krystal jengah dan mencubit pinggang suaminya. Minho mengaduh pelan lalu terkekeh, menahan kedua tangan Krystal sebelum menyubitinya lagi lalu gantian membawa wanitanya ke dalam pelukannya.

“Ya ampun Choi Minho, sejak kapan kau belajar menggombal seperti itu?” dengus Krystal namun akhirnya tersenyum, dan baru menyadari kalau film yang tadinya mereka tonton kini sudah menunjukkan bagian credit-nya.

__

“Sayang, tolong ponselku, dong,” Minho bergumam lemah saat mendengar dering lemah ponselnya, yang tergeletak di night stand dekat istrinya berbaring. Selesai menontong film, mereka berdua kembali lagi berduaan di dalam kamar, kedua mata Minho sudah kembali terasa berat. Krystal membalikkan tubuhnya lalu meraih ponsel Minho, membukanya sebentar. “Ada pesan ya?”

“Ya, dari operator,” Krystal terkekeh ketika mendengar Minho mendengus lalu menarik pinggangnya mendekat. “Well, aku bongkar ponselmu ya…”

“Silahkan saja,” gumam Minho sambil tetap memeluk istrinya dari belakang. Krystal asik melihat-lihat galeri, membuka-buka apakah suaminya pernah memanfaatkan salah satu aplikasi iOs-nya. Ternyata, tidak ada Facebook, Twitter, atau Instagram. Apalagi Path atau sejenisnya. Aplikasi yang aktif selain Line dan beberapa aplikais penting lainnya hanya COC, a.k.a Clash of Clans. Krystal hanya terkekeh sendiri lalu lanjut mencoba mengobrak-abrik isi Line dan SMS-nya.

Dan seketika itu kening Krystal mengkerut. “Mwoya igae? Woori? ‘Oppa, bagaimana kalau bar tempat kita pertama bertemu? Malam ini, please?’ Lalu apa lagi ini? Jaekyung? ‘Oppa, mau menemaniku malam ini? Aku kesepian…’ Yah, apa yang kau lakukan, Choi Minho?!” tanpa sadar suara Krystal mulai meninggi seiring dengan kepalanya yang berputar mencoba menatap Minho yang masih asik bergelung memeluknya.

“Coba kau cek tanggalnya, sayang. Itu pesan sekitar setahun atau dua tahun lalu,” balas Minho tenang. Tapi tetap saja, si istri mana mungkin tenang?

“Iya sih, sekitar satu setengah tahun lalu. Itu sebelum aku kembali dari Amerika, kan? Jadi selama ini kau begini, Minho? Kencan buta karena aku tidak ada, iya, begitu?!” nada Krystal mulai terdengar jengkel dan mulai mencubiti perut dan tangan suaminya gemas. “Dasar lelaki yah, tidak ada pawangnya saja, langsung deh cari mangsa,” dumel Krystal benar-benar jengkel ketika melihat nama-nama wanita lain yang mengirimi Minho pesan.

“Kan aku tidak tahu kau ada dimana, kalau aku tahu kau masih ada disekitarku aku juga akan mencarimu,” balas Minho akhirnya jadi bangun karena cubitan-cubitan Krystal tak sekedar cubitan iseng. Tapi cubitan setengah marah, jadi ada rasa sakitnya. “Lagipula aku hanya sekedar makan malam sekali-dua kali dengan mereka. Dan kalau dilihat-lihat yang cari mangsa, apa yang kau lakukan, eh? Pacaran dengan Soohyun juga, kan kau?”

“Itukan karena aku tidak ingat aku sudah punya suami! Argh Minho stop!” Krystal mulai terkikik saat Minho mencubit-cubit kecil di pinggangnya. Masalahnya, pinggangnya adalah hal yang paling sensitif. Tak usah dikelitik, tapi di elus saja sudah membuat Krystal merenyit. “Oke, oke, aku tidak protes lagi! Argh! Minho~!”

“Kau yang mulai duluan. Kalau dilihat-lihat, dulu kau nempel sekali ya sama Soohyun? Apa yang sudah kau lakukan dengannya? Pelukan? Atau ciuman?” gumam Minho dengan suara rendah namun berusaha mengintimidasi meskipun dengan seringai. Tangannya masih usil mengerjai Krystal, bibirnya mulai menelusuri rahang Krystal yang membuat wanita itu berusaha mengelak dari pelukan Minho. Tapi, pria selalu lebih kuat dari wanita.

“Selayaknya pacaran saja, ahaha! Minho stop! Ahaah…” Krystal melepas ponsel Minho entah kemana, sekarang ia hanya bisa berkonsentrasi berusaha membuat Minho berhenti mengusilinya.

“Waktu kita pacaran, kita sampai dapat Younghyeon, lho. Kalau kau dengan Soohyun? Apa yang kalian lakukan, hm? Coba katakan,” Minho hampir terkekeh melihat ekspresi Krystal, antara kesal, geli, dan malu. “Coba, apa yang kalian lakukan?” ujar Minho lagi, menempelkan bibirnya di pelipis Krystal.

Krystal menelan ludahnya. “Sudah kubilang, seperti orang pacaran saja,” Krystal kembali merengek ketika tangan Minho kembali menjahili pinggangnya, dan akhirnya ia menyerah. “Baiklah, baiklah. Kami berpelukan,” jawab Krystal sambil mencoba menahan tangan Minho.

“Seperti ini?” Minho akhirnya melingkarkan tangannya ke sekeliling tubuh Krystal, membuat Krystal terkesiap. Awalnya Krystal ingin mendorong dada Minho, namun ketika mendengar suara Minho seperti itu, ia membiarkan saja.

“Ya…”

“Lalu apa lagi?” tanya Minho lagi, masih dengan posisi memeluk Krystal erat.

“Ng… cium,” bisik Krystal sambil memejamkan matanya.

“Cium apa?”

Krystal menarik napasnya dalam. “Pipi, kening…” napasnya terhenti ketika Minho tiba-tiba mencium pipinya penuh hasrat, lalu beralih ke keningnya. “Lalu… hidung,”

Minho terkekeh pelan, “Hidung? Seintim itu?” dan Krystal hanya bisa mengangguk pelan. Dengan pelan ia mengecup pelan hidung Krystal lalu mengelus wajahnya. “Apa lagi?”

Kali ini, entah kenapa, Krystal merasa gugup. “Bibir…” dan belum sempat Krystal bernapas, Minho sudah mengunci mulutnya, mencium Krystal dengan penuh keinginan dan perasaan. Krystal langsung terbuai dengan ciuman yang pelan namun pelan itu, ikut membalas ciuman Minho, malas mulai berani ikut ambil andil. Ciuman mereka semakin panas, dimana Minho tak ingin melepas krystal dan demikian pula sebaliknya. Krystal membuka mulutnya sedikit dan Minho langsung menjelajah isi mulutnya, tangannya kini mulai mengelus seluruh tubuh Krystal.

Minho menarik napas lalu melepas bibir Krystal, masih memejamkan matanya namun menempelkan kedua kening mereka. “Krys, aku merindukanmu. Bolehkah?” ujarnya dalam dan serak, perlahan membuka matanya dan menatap Krystal yang juga setengah terpejam.

Krystal setengah menyeringai. “Memangnya kau menerima kata tidak?” balasnya setengah berbisik sambil menarik napas dalam karena ciuman yang menghabiskan persediaan oksigen dalam paru-paru tadi.

Minho menyeringai senang, lalu meraih bibir Krystal lagi, kali ini tangan Krystal ikut melingkari tubuh Minho, seperti bentuk penyerahan diri dan kesediaan seutuhnya.

FIN

A/N : STOP SAMPE SINI YAK EHEHEHEHE. MENDINGAN MEREKA BERDUA JANGAN DIGANGGU.

ANE UDAH GA KUAT NULISNYA LAGI, BENERAN SUMPAH UDAH MANDEK. MAAF KALAU ANEH DAN BOBROK, AUTHORNYA AJA BOBROK SETENGAH MAMPUS EHEHEHE.

Makasih udah mau baca. Apresiasinya ditunggu!😄

NAH. SAMPE DISINI UDAH BENERAN TUTUP BUKU YAK. ANE GAK BISA NGASIH SPECIAL SCENE LAGI. SEKALI LAGI MAKASIH YAA!!

©2011 SF3SI, reenepott

signaturesf3si

Officially written by reenepott, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

4 thoughts on “The Cruel Marriage – SPECIAL SCENE

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s