SIDES

SIDES

By Bella Jo

–Her Side–

Aku membuka pintu rumah yang sudah kutinggali dua tahun ini dengan lemas. Pekerjaan yang menggunung memaksa tiap tulang dan ototku bekerja sinergis dengan cepat dan tepat. Alhasil aku hampir tak bisa merasakan tenaga tersisa dalam tubuhku. Namun saat mengingat sosok yang sebentar lagi akan kutemui senyum dapat terbit di bibirku dan energi hangat seakan mengisi ragaku.

“Aku pulang. Baby, are you home?”

Tak ada sahutan, seperti biasa. Namun lampu di ruang depan telah menyala, pertanda bahwa ia memang berada di rumah. Aku bisa menebak keberadaannya. Ya, pasti tak jauh berbeda dari hari-hari biasa.

“Kau masih bekerja di depan komputer?”

Aku mendapatinya di ruang baca yang malah tidak dengan lampu yang menyala. Ya, seperti biasa. Ia seperti mahluk malam yang disinari remang radiasi cahaya benda elektronik di hadapannya. Rambutnya sedikit berantakan dan kacamata bingkai hitam bertengger santai di batang hidungnya. Aku tersenyum saat ia hanya menggumam menjawab pertanyaanku. Tangannya masih sibuk mengetik kata-kata di laptopnya. Dan aku? Aku sangat suka melihat sosoknya saat sedang bekerja seperti itu.

“Sudah sampai bab berapa?” tanyaku sambil mencondongkan tubuh ke arahnya, mengintip isi lembaran yang tengah ia kerjakan. Kugenggam bahunya yang ringkih. Feromon menguar dari tubuhnya yang terlihat lelah. Tangannya meraih gelas berisi cairan coklat di atas meja lalu menyesapnya pelan. Bibirnya yang biasa kemerahan tampak pucat.

“Ah, baru bertambah satu bab dibanding kemarin,” jawabnya datar.

“Mau aku buatkan sesuatu?” tawarku.

“Mungkin tidak. Aku belum mau mati.”

Aku cemberut mendengarnya. Kulihat ada setumpuk piring kotor di sebelah komputernya dan beberapa botol wine kosong di atas nampan. Oh, baiklah. Ia masih mabuk. Seperti biasa.

“Beristirahatlah, kau pasti lelah,” ucapku sambil melingkarkan selimut ke tubuhnya. Ia tak menghentikan gerakannya, membiarkan diriku memeluknya berlama-lama.

“Berhentilah mencampuri urusanku.”

Baik, itu pertanda buruk bagiku. Sudah saatnya aku pergi dan tak lagi mendekatinya. Namun aku enggan beranjak. Memeluknya seperti ini terasa begitu benar sekaligus begitu salah. Menghirup aromanya yang begitu kurindu di setiap debar jantungku membuatku ingin terlelap dikuasai lelah. Namun kata-katanya sangat menyakitkan. Seperti biasa.

“Kau tidak mendengar kata-kataku barusan?” tanyanya datar. Gerakannya seakan aku tidak ada sama sekali, seakan dia tak bisa merasakanku sama sekali.

“Hmm.. Aku dengar…” jawabku, memaksakan senyum kembali tersungging di bibir, “…hanya saja aku merasa sangat nyaman bersamamu, sayang.”

“Tapi aku tidak. Lepaskan aku dan jalanilah malammu seperti biasa.”

Ya, seperti biasa. Malam-malamku yang kujalani tanpa dirimu.

“Aku mengerti,” kukecup pipinya singkat lalu beranjak menjauhinya. Kuambil botol wine yang masih berisi dan menenggak cairan di dalamnya cepat, seakan cairan itu adalah sisa-sisa nyawa yang harus segera kutenggak. Sama sekali ia tak melirik, tak peduli. Seiring dengan rasa nyeri itu yang semakin mengiris.

“Kau itu symptom tanpa obat penawar, kau tahu?” ungkapku sambil bersandar lemas pada dinding kelam yang ada di sebelahku. Ia mendengus, bergumam dan berkata, “Karena itulah kau harus meninggalkanku. Aku hanya akan menggerogotimu hingga tak ada yang tersisa dari dirimu.”

“Lucu sekali. Padahal aku hancur tanpa atau dengan dirimu. Bersamamu terasa begitu salah sekaligus begitu benar.”

Symptom yang ada tercipta dari kesalahan. Sama seperti ikatan di antara kita.”

“Tidak, sayang. Kau tidak pernah mengerti.”

Aku berjalan linglung ke arah pintu. Kepalaku pusing dan dunia seakan berputar-putar di sekelilingku. Dengan sengaja kuhempaskan guci yang ada di sudut ruangan, membuatnya jatuh pecah berserakan dengan suara yang keras. Ia menatapku. Akhirnya aku berhasil mendapatkan perhatiannya. Dia menyadari keberadaanku…

Hurry up and fall for me again. The symptom get me crazy, killing me slowly… And you know the cure is…

Aku tak melanjutkan kalimatku karena semua semakin terasa berputar di sekelilingku. Dinding serasa begetar dan perutku seakan diaduk hingga ingin mengeluarkan isi yang ada di dalamnya. Mataku dipenuhi genangan air dan aku segera beranjak keluar.

Kupikir aku benar-benar tak lagi menghadap kenyataan karena kulihat ia tersenyum sendu padaku sambil terduduk di kursi rodanya yang berwarna abu-abu.

Yeah, I know. It’s me.

***

 

–His Side–

“Bum…”

Aku memasuki ruangan remang itu perlahan. Hanya televisi yang mengeluarkan cahayanya, bisu tanpa suara. Kulihat ia tertidur dengan posisi duduk di salah satu sisi meja. Tangannya memegang kaleng bir yang telah kosong sementara kepalanya terpaku lelah di atas meja. Aroma alkohol menguar dari dirinya, bersamaan dengan feromon yang begitu kusuka. Ya, wanitaku tengah tertidur pulas di depan televisi dengan pakaian minim dan wajah berantakan. Riasan wajahnya belum dihapus, meninggalkan bibir merah ranum yang begitu ingin kukecup.

Namun aku tak lagi bisa melakukannya sekarang.

“Bum…”

Lagi-lagi ia menyebut namaku dalam tidurnya. Keningnya berkerut. Ya, sesuai katanya, aku adalah symptom baginya. Bahkan aku menghantuinya hingga ke alam mimpi. Walau sebenarnya tak satupun dari kenyataan ini yang kuinginkan.

Aku menggeser tubuhku dengan susah payah hingga dapat berada tepat di sampingnya. Kursi roda kudorong menjauh, menyisakan ruang yang leluasa bagiku dan dia.

Ia menggeliat pelan saat kusandarkan selimut abu membungkus dirinya. Saat matanya terbuka menatapku, aku tertegun. Ia tersenyum lemah dan air mata kembali menggenangi wajahnya.

Bum… Hurry up…and fall for… me…again…” bisiknya serak. Tak lama kemudian ia kembali tak sadarkan diri.

Timbul emosi yang membuncah dan memenuhi dadaku. Kusentuh kulit wajahnya yang halus, merasakan tiap bagian dari lekuk wajahnya. Saat kutarik tubuhnya agar bersandar padaku, bisa kubayangkan tiap memori yang kami jalani di hari lalu, tiap kenangan akan diriku yang bugar berlarian bersamanya menjalankan tiap aktivitas bersama. Namun air mata tak kunjung jatuh. Semua tertahan oleh tubuh ini.

Stop falling for me, baby… Satu bulan, waktuku hanya tinggal satu bulan. Kau harus membenciku agar kau tak menangisi kepergianku nanti seperti anak kecil,” bisikku. Kuraih tangannya. Baru kusadari entah sejak kapan tangannya seringkih ini. Cincin yang kusematkan saat upacara sakral dua tahun lalu masih tersemat di sana. Kukecup tangannya perlahan, merasakan hangat dirinya bertemu dingin bibirku.

I’ve always fallen for you without you beg. But you don’t need to know that.

Setelahnya aku terbatuk hebat. Darah merah yang begitu kubenci kembali keluar di tiap batukku. Syukurlah ia tak dapat mendengarnya karena masih dalam pengaruh alkohol. Syukurlah, karena aku tak mau ia tahu bahwa aku masih mencintainya, tak membiarkannya sendiri di tiap malam yang kami jalani bersama. Ia hanya perlu hidup tenang bersama tiap komponen kehidupannya seperti biasa. Tanpa aku, itu tak apa.

“Karena setelah aku pergi, kau hanya perlu menjalani hidupmu dengan tenang dan penuh senyum. Seperti biasa. Walau tanpa aku di sisimu, sayang…”

Kembali kueratkan genggaman tanganku yang bertaut dengan jari-jarinya. Kutarik tubuhnya semakin rapat, merasakan aromanya yang begitu kusuka. Aromanya begitu memabukkan hingga aku tak ingin melepasnya di tiap tarikan nafasku. Ya, walau aroma ini akan segera digantikan dengan aroma tanah yang dingin satu bulan lagi.

Bum… I love you…

Kudengar igauannya. Kali ini setetes air menitik dari mataku. Ya, perasaan yang hangat ini ingin kurasakan selamanya. Seandainya saja Tuhan mengizinkan, namun mungkin takkan pernah.

I love you too, but you don’t need to know.”

Hiduplah seperti biasa, bahkan walau tanpa aku di sisimu.

__FIN__

Jun 3rd 2015

05.51 pm

©2013 SF3SI, Bella Jo

bella-jo-signature

Officially written by Bella Jo, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

7 thoughts on “SIDES

  1. HAHAHAHAHAHA NANGIS DI TENGAH MALAM SAMBIL BACA INI TUH….. HAHAHAHA NYESEK PARAH :”)
    AKU NANGIS DAN DADAKU NYESEK NGEBAYANGIN BERADA DI SITUASI MEREKA. YANG SELALU MENEBAK NEBAK…
    HUWA BETEEEEEEEEEEEEEEEEEE
    KAK BELLA BIKIN AKU MEWEK T~T AKU GA TAU MAU NGETIK KOMENAN APA LAGI. INTINYA AKU NYESEK. NANGIS. KESEL. GALAU. PARAH.

    LOVE #BELLAJOHATERTEAM ♥

    1. WADUH! EMBER MANA EMBER??!! #capslockJebol
      cup cup cup… ini cuma cerita kok, ga kejadian sebenarnya. kekeke….

      wah, aku juga bingung mau bilang apa lagi kalo kamunya nangis mulu nih. kekeke… cheer up~

      makasih udah mampir~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s