The Help

Author             : Aidazzling

Twitter             : @Doobop_

Main Cast        : Lee Taemin

Support Cast   : Lee Jinki, Min Sejin (OC)

Length             : Vignette

Genre              : AU, Family

Rating             : PG

A.N                 : Karena ada yang saranin untuk bikin ff yang lebih panjang. Yeah, so this is it. Maaf kalo masih kurang panjang karena aku sangat buruk di ff chaptered ataupun oneshot. Happy Reading~

 

***

Sejak awal aku tak menyukai tempat ini.

Taemin menjatuhkan tubuh di atas ranjang dengan sepasang mata yang mengarah ke pintu kamar dan mengerang beberapa saat kemudian. Beratus kali pertanyaan-pertanyaan yang sama muncul di pikirannya. Mengapa ia harus di sini? Kenapa ia harus bertengkar dengan ibu? Kenapa ibu harus berpura-pura begitu marah hingga mengirimnya pergi untuk diasuh ayah entah sampai kapan?

Pintu kamarnya terbuka, mau tak mau membuat matanya bergerak mencari sosok di balik sana. Pemuda bermata sipit dengan nama Jinki datang untuk mengajaknya makan malam yang hanya dibalasnya dengan dengusan.

Masa bodoh dengan makan malam, pikirnya. Ia bisa menahannya hingga pagi kalau perlu. Tanpa perlu menyusul Jinki ke ruang makan dan bergabung bersama mereka. Sebenarnya ia bisa saja menerima makan malam jika yang berada di bawah sana hanya ayahnya. Karena seberapa brengsek pun pria itu dalam hidupnya, Taemin tak peduli. Toh sudah seharusnya ia tidak malu kepada orang seperti itu. Masalahnya di sini adalah seorang wanita dan pemuda itu—Jinki dan ibunya yang baru diketahuinya sebagai keluarga baru ayahnya.

Ponsel yang berada di sampingnya bergetar, menunjukkan kontak ibu di layar saat ia melirik sebentar. “Maaf Bu, aku sedang malas mengobrol.” Seolah ibunya dapat mendengar gumamnya lalu menekan tombol merah untuk menolak panggilan itu.

Kini Taemin beralih memandang langit-langit dengan pikiran kosong. Untuk sesaat ia menikmati kesendirian seperti ini—karena saat ia tinggal bersama ibu, pikirannya tak pernah sekosong ini selalu ada saja yang dipikirkannya. Bukan sekolah, tentu saja. Taemin bukan tipe anak yang terlalu memikirkan lembaga pendidikan yang menaunginya sebagai siswa atau berapa banyak PR mereka minggu ini.

Selama ia tinggal bersama ibu yang hanya bekerja sebagai guru taman kanak-kanak, diam-diam ia menyisipkan uang sakunya untuk keperluan yang muncul tiba-tiba. Ia pun pernah bekerja tanpa diketahui ayah atau ibunya, walaupun hanya beberapa bulan dan dipecat karena membuat masalah dengan pelanggan yang tak tau diri.

Ia menatapi seragam yang menggantung di lemari pakaian, kemudian kedua matanya bergerak ke arah meja belajar dengan buku-buku yang tersusun di rak. Semua peralatan menulis dan barang-barang lain yang dibutuhkan untuk ke sekolah ada di sana, membuatnya berpikir seolah orang di rumah ini benar-benar mempersiapkan kedatangannya. Mau tak mau ia menggangkat sudut bibirnya saat melihat foto kedua orang tuanya dengan dirinya ketika berumur tujuh tahun.

“Selamat pagi, Taem…”

Jinki muncul saat Taemin membuka pintu kamarnya, tapi Taemin—yang sudah siap dengan seragamnya—meninggalkan Jinki tanpa membalas sapaan pemuda itu.

“Selamat pagi…”

Hm.” Lagi-lagi Taemin tak berminat membalas sapaan dari ibu Jinki, memilih untuk menggigit sebuah roti isi di depan ayahnya yang membaca koran pagi.

“Sekolah dimulai pukul setengah delapan,” ujar ayahnya tanpa mengalihkan pandangannya dari koran.

“Aku tahu.”

Dengan roti isi yang masih digigitnya, ia melangkah keluar rumah dan hampir bertubrukan dengan Jinki di ruang tamu. “Sekarang belum pukul setengah delapan,” katanya.

Yeah, aku tahu.”

Taemin menarik kenop pintu dan melangkah meninggalkan rumah mereka, kedua kakinya terus mengambil langkah sebelum berhenti saat ia menangkap sebuah minimarket di pinggir jalan. Taemin mampir sebentar untuk mengisi perutnya dengan satu cup ramyun.

Ponselnya bergetar, bahkan di pagi hari seperti ini ibunya sudah menelepon. Enggan memang untuk menjawab panggilan tersebut, namun akhirnya ia meletakkan sepasang sumpit kayu dan menekan tombol hijau di layar ponsel. Taemin berganti posisi, ia menyenderkan punggungnya dengan pandangan lurus ke depan.

“Halo?”

“Taemin? Kenapa tidak menjawab panggilan ibu sejak kemarin? Ibunya memang bukan tipe orang yang suka berteriak, terlebih kepadanya. Namun entah mengapa kini telinganya terasa sakit. “Taemin?”

“Aku sedang berangkat ke sekolah baruku bersama Jinki.” Kalimat tersebut keluar begitu saja dari mulutnya. Rasanya ia dapat melihat ekspresi ibunya sekarang.

Benarkah? Itu bagus.’

“Ibu Jinki menyiapkan sarapan yang enak pagi ini, dia juga memberiku bekal yang sama seperti milik Jinki.” Taemin merasa kedua matanya terasa panas dan mungkin saja sudut matanya mulai berair.

“Aku harus pergi, Jinki sudah memasuki gerbang sekolah. Sampai jumpa, Bu.” Tangannya sedikit bergetar saat menekan tombol merah untuk segera mengakhiri panggilan mereka. Dadanya begitu sesak dan di saat yang sama dia merasa air matanya akan segera menyeruak keluar.

Mendengar suara ibunya yang terdengar penuh dengan kekhawatiran lebih terasa menyesakkan dibandingkan mengumbar kebohongan padanya. Taemin tahu itu. Kemudian ia duduk di sana dengan memandangi ramyun yang hampir dingin, rasa laparnya sudah hilang begitu saja.

Taemin melirik jam digital di layar ponselnya. Kurang dari setengah jam bel pelajaran pertama dimulai dan akhirnya ia memutuskan untuk beranjak. Dalam perjalanan menuju halte bus dengan langkah santai, ia mengeluarkan sebuah kertas dari saku blazer yang ia kenakan. Gambaran garis-garis yang terlihat membentuk sebuah peta asal-asal tersebut menunjukan jalan menuju halte dan dari halte ke sekolah.

Entah apa ini yang disebut kebetulan, Taemin belum mencapai halte bus dan dia berada beberapa langkah dari tempat tersebut saat menemukan sosok familiar di sana. Jangan mengatakan Taemin begitu pelupa, karena ia tak akan mungkin melupakan orang tersebut walaupun mereka baru saja bertemu kemarin.

Ia memang tak dapat menghindar, terlebih ketika pemuda itu sudah menangkap kehadirannya. Jadi, tanpa perlu membalas sapaan darinya, Taemin kembali melangkah mendekati halte bus. Begitu ia sampai di sana, pemuda tersebut menyambutnya lagi dengan senyuman.

Mereka diam, seolah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing hingga bus yang ditunggu berhenti di halte. Jinki berdiri hendak segera masuk saat menyadari Taemin tak beranjak dari tempatnya berdiri, ia lantas berbalik.

“Tidak naik?”

“Aku akan menunggu bus berikutnya.” Apa yang diharapkan Taemin –agar Jinki segera masuk ke dalam bus dan tak banyak berbicara lagi dengannya, sayangnya tak terkabul. Jinki justru mendekat dan menunjukkan wajahnya yang penuh tanya. “Kenapa? Kau akan terlambat jika menunggu bus selanjutnya.”

Taemin melempar pandangan ke arah lain, dia tak ingin menerima tatapan dari Jinki. “Bukan urusanmu,” balasnya.

Well, itu menjadi urusanku karena appa menyuruhku untuk menjagamu.”

Appa.

Menjagamu.

Sejak keputusan ibunya untuk memulangkan dirinya ke Korea membuatnya sensitif dengan kata ‘Appa’, terlebih karena sudah lama sekali ia tak mendengar kata itu. Bahkan sejak kemarin ia belum dapat mengucapkan kata tersebut pada ayahnya.

“Kau bukan temanku, bukan juga saudaraku, terlebih kakakku.” Taemin akhirnya menonggak—menatap wajah Jinki—di tempatnya.

“Kita tak akan pernah punya hubungan apapun, jadi silahkan untuk tidak mempedulikanku.”

Jinki tak bergeming, namun bukan berarti ia mendengarkan setiap kata dari Taemin yang memaksanya untuk ‘berhenti mempedulikannya’. “Jangan terlambat di hari pertamamu, Taem.” katanya sebelum menaiki bus yang akan membawanya ke halte dekat sekolah mereka.

Sebenarnya ia tak peduli dengan kehadiran, jadi datang terlambat pun tak menjadi masalahnya. Itu sebabnya Taemin benar-benar menunggu bus selanjutnya datang. Persetan dengan hari pertamanya.

Jadi, Taemin berada di depan sekolah mereka saat gerbang telah tertutup. Tapi, tenang. Ia punya cara agar dapat masuk ke dalam sana.

Memanjat pagar sekolah.

Taemin ahlinya dalam hal ini, ia sudah sering datang ke sekolah lamanya tanpa melewati gerbang masuk dan selalu berhasil. Begitupun kali ini. Taemin memang berhasil memanjat pagar, menembus kawasan sekolah mereka namun ia tak pernah mengatakan dirinya selamat dari saksi mata.

Seorang gadis memandangnya, rambutnya dikuncir satu tinggi, seragamnya rapih, tipikal anak sekolah. Entah apa yang dipikirkan olehnya. Mungkin ini pertama kalinya dia melihat siswa memanjat pagar sekolah. Taemin pikir, mereka akan terus membeku seperti itu setidaknya sampai seorang siswa lain datang.

“Taemin!”

Jinki berlari kecil ke arahnya. Dia menyuruh Taemin untuk segera masuk sehingga menyisakan dia bersama gadis itu. Untuk apa Taemin peduli? Namun untuk hari pertamanya, mari kita lihat suasana kelas barunya.

Seorang wanita berperawakan pendek dan berisi melirik tajam ke arahnya di ambang pintu, dia bertanya tentang keberadaannya dengan suara yang lantang sebagai ucapan selamat datang. Wanita itu mendekat begitu Taemin mengatakan bahwa dia adalah siswa baru di kelas tersebut.

“Jika seperti itu maka kau harus di hukum.”

“Tapi ini hari pertamaku.”

Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada, berusaha terlihat mengesalkan di depan Taemin saat ia sedang meminta dispensasi karena ini hari pertamanya.

“Aku tak peduli, seharusnya kau datang sebelum pelajaran pertama dimulai.”

Sementara Taemin mengumpat tentang keputusan bodoh untuk kembali bersekolah, atau pindah ke sini, juga tentang si wanita yang dengan segera menyuruhnya untuk melakukan hukuman. Kemudian seorang gadis muncul di sampingnya, dia berbalik menatap Taemin yang bertanya-tanya kehadirannya di sini.

Saem, tadi aku menyuruhnya untuk membantuku di perpustakaan namun dia akhirnya melarikan diri karena takut terlambat di hari pertamanya.”

Taemin melongo sesaat, bertanya-tanya apa si gadis berbohong untuknya dengan alasan yang salah karena itu tidak seperti dirinya sama sekali.

Si wanita gempal itu meliriknya kembali, menilai dirinya dari ujung sepatu hingga rambutnya. “Ikat dasimu dengan benar,” ujarnya sebelum membiarkan mereka berdua masuk.

Ini bagus, tak ada kegiatan perkenalan diri di depan kelas. Namun, gadis di sampingnya ini menahannya dengan kakinya yang pendek menatap Taemin yang lebih tinggi darinya.

“Bantu aku membawakan ini.”

Taemin meneliti wajah gadis ini. Wajah biasa tanpa riasan dan tak ada yang menarik, maka matanya bergerak turun ke papan nama yang tersemat di seragamnya. Min Sejin. Sekali lagi, Taemin menatap wajah itu yang tengah menunggu.

“Aku sudah membantumu, sekarang kau harus membantuku.”

21.59

19.01.15

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

8 thoughts on “The Help

  1. Hai, Sonya~
    Makasih udah baca dan memberikan komentar kamu di ff aku. Oh, untuk perihal sekuel to be honest aku gak ahli buat cerita sequel, apalagi sekarang my pc is dying. Pernah ada niat buat bikin sequel ini, tapi masih mikir-mikir hehehe.

  2. Ai? Dazzling? Aida? Gimana manggilnya.. Haiiii ketemu lagiii
    Entah gimana seneng banget waktu liat namamu sbg author, keren dan keren dan keren, tp bakal tambah keren lg kalo dibikin sequel’3′ ayolah ayolah pengen liat bromance Kakak Jinki dan Dedek Taemin.-.

    1. Ai boleh, waah pada pengen bikin sequel yaa? nanti deh kalo ada kesempatan aku coba bikin lanjutannya setelah liburan selesai dan pc aku udah dibenerin.
      Makasih udaah bacaa~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s